Anda di halaman 1dari 22

IV.

CARA PENGENDALIAN KOROSI


A. Lapis total
Adalah :
- Pelapisan logam dengan bahan baku logam
- Dengan ketebalan tinggi
Syarat :
- Merupakan lapisan yang kontinyu
- Kedap air, oksigen dan bahan-bahan yang korosif
- Melekat baik
- Tidak mudah bereaki dengan lingkungan maupun dengan logamnya
sendiri.
- Tahan pukulan, gesekan, tegangan, perubahan suhu yang mendadak
- Estetikanya baik
Ada 2 jenis:
1) Lapisan organic:
a) Lapisan bitumen : - bahan aspal
Biasanya untuk pipa-pipa didalam tanah atau diletakkan dipermukaan tanah
Titik lebih rendah tidak cocok untuk pemakaian pada suhu tinggi.
Jenisnya:
- Coal tar pitch yang tidak larut dalam minyak
- Aspal alam: - tidak mudah teroksidasi udara
- Dapat diperbaiki sifatnya
- Aspal tiupan (blown asphalt): terbuat dari residu yang ditiup pada 204
206 oC
21
- Campuran aspal alam + aspal tiupan sifat fisiknya lebih baik.
Cara pelapisan:
- Oles
- Semprot
- Celup
b) Lapis karet dan yang seperti karet:
Karet:

- Alam
- Tiruan
- Alam yang sudah dimodifikasi dengan ditambah konstituen
konstituen seperti:
- Karet yang diisomerisasi dan menambha HCl atau SnCl4
- Chlorinated rubber
Karet tiruan:
- Turunan butadiene:
Neoprene
Buna type
- Karet Olifin
Buthyl rubber
Vistanex
- Karet Polysulfide
Karet modifinasi,sifat:
- Keras
- Getas
22
- Tidak melekat baik
- Tahan bahan kimia
- Tidak tahan panas
- Kedap air
- Tahan abrasi
Karet tiruan :
- Merupakan polimer atau copopolimer
- Sebagai pelapis berbentuk lembaran
- Tahan regang, tahan abrasi, dan elastis
- Larut dalam pelarut oraganik
Cara pelapisan :
- Logam harus bebas minyak dan bersih
- Memakai bahan perekat
- Lembaran karet ditempelkan dengan tangan

- Tidak boleh ada gelembung udara dalam lapisan


- Benda jangan bertepi tajam
- Untuk meratakan penekanan dapat dipakai steam.
c) Lapis plastik
Jenis thermoplastic:
- Plasticized PVC
- Punton(chlorinated polyether)
- Nylon
- Cellulose acetate butyrate (CAB)
- Polythene (high and low density)
23
- Polytetra fluoroethylene (PTFE) dari poliytri fluoro
monochloroethylene (PTFCE)
Cara pelapisan:
- Pencelupan ke dalam plastisol cair (untuk PVC)
- Pencelupan kedalam bentuk serbuk halus (polythene, nylon, CAB, penton
dan beberapa jenis PVC)
- Penyemprotan elektrostatis (seruk epoxy, PVC dan nilon)
- Penyemprotan (nylon, CAB, penton, dan high densty polythene)
- Pelapisan hampa udara (serbuk penton, kadang-kadang nylon)
- Semprot api (flane spraying) ; butuh skill tinggi
2) Lapis Anorganik
Lebih halus, tahan suhu lebih tinggi dari organic tetapi kurang tahan terhadap
abrasi:
a) Vitrons enamel
Jenisnya:
- Enamel yang tahan asam dan bahan kimia, mengandung sodium silikat dan
titanium oksida
- Zirconium blue cover enamel
- Enamel yang mengandung
Sifat:
- Permeabilitas tinggi terhadap bahan yang korosif

- Sifat mekanis, thermis, dan ketekanan terhadap lingkungan korosif.


- Kedap air oksigen.
Cara pelapisan:
24
- Basah
- Kering
Bedanya terletak pada cara menghaluskan frit dan bentuk bahan yang
dilapiskan ke permukaan logam
Sifat lapisan:
- Tidak beracun
- Tidak berbau
- Tahan bahan kimia
- Tahan panas
- Dipadu dengan logam yang tahan mekanis, lebih baik pada lingkungan
asam atau basa pada suhu tinggi, contoh: tangki dengan kapasitas < 10000,
tangki-tangki reaktor dan pipa-pipa dan cerobong asam.
b) Semen
Portland cement + konstituen-konstituen lain agar tahan bahan kimia.
Jenis:
Konstituen utama :
C3S (3CaO.SiO)
C2S (CaO.SiO2)
C3A (3CaO.Al2O3)
C4AF (4CaO. Al2O3. Fe2O3)
Sifat:
- Produk hidrosinnya alkalis (pH: 12-14)
- Koefisien muainya 1,0.10-5/oC hampir seperti baja (1,2.10-5/oC)
- Murah
25
- Mudah dipasang dan diperbaiki
Hanya keburukannya:
- Getas

- Mudah retak dan terkelupas oleh gangguan mekanis dan atau perubahan suhu
mendadak.
Pemakaian:
- Untuk lapis semen yang alkalis
- Isolator panas maupun listrik
- Baik untuk lingkungan laut ataupun air mineral
Contoh: untuk tangki/bak air panas dan dingin secara pelapisan.
- Cor sentrifugal (pipa-pipa)
- Penerapan (untuk permukaan dasar x luas)
- Semprot
B. Proteksi katodik (cathodic protection)
Ada 2 cara:
- Dengan anoda karbon
- Dengan arus tandingan
1. Perlindungan Dengan Anoda Karbon
Berdasarkan deret volta:
Besi dilindungi dengan bahan karbon:
Zn
Al
Ng
Pemilihan jenis anoda berdasarkan pada:
26
Keadaan lingkungan dan faktor ekonomis + mudah dipasaran.
Lingkungan dengan:
- Tahanan jenis rendah dipakai bahan anoda yang kurang efektif: Zn
- Tahanan jenis tinggi anoda karbon lebih reaktif: Ng + paduannya Al
2. Perlindungan Dengan Arus Tandingan
A : ring/bahan yang akan dilindungi
B : sumber arus searah
C : anoda yang dikarbonkan
D : media sebagai elektrolit
Gambar perlindungan dengan arus tandingan

Jenis anodanya:
- Anoda yang tak termakan:
Mulia: Ti berlapis platina
Semi mulia: grafit,carbon
- Anoda yang termakan:
Logam murah : besi tua
Beda anoda karbon dan anoda pada sistem anoda karbon ialah bahwa anoda
ini tidak harus lebih reaktif dari bahan yang akan dilindungi.
Sumber arus bisa berupa:
- Baterai
- Accumulator
- Penyedia arus searah (DC power supply)
- Sel surya (paling akhir diketemukan)
A
D
B
C
27
Hal-hal penting untuk diperhatikan:
- Sumber DC harus menyediakan arus yang benar-benar searah, rata, dan
mantap
- Sumber arus dapat diatur sesuai kebutuhan.
- Sumber arus dapat menampung arus yang mungkin lewat.
C. Inhibitor
1) Jenis inhibitor
Ditinjau dari jenis zatnya:
- zat organik: amin, keton, dsb
2) Pemilihan inhibitor
Harus diketahui lebih dulu:
- Inhibitor jenis A membentuk lapisan molekul tunggal sebagai lapisan
pelindung ataukah
- Inhibitor jenis B mengurangi keagresifan dari media terhadap logam.

3) Pemilihan Inhibitor
Harus diketahui lebih dulu :
- Inhibitor jenis A membentuk lapisan molekul tunggal sebagai
lapisan pelindung ataukah
- Inhibitor jenis B mengurangi keagresifan dari media terhadap
logam
Kalau diinginkan kedua-duanya dipakai inhibitor AB membentuk lapisan
dan penurunan keagresifan media.
Inhibitor jenis A (umum dipakai):
28
- Jenis I A: hanya memperlambat korosi tanpa menghentikan sama sekali;
dipakai sebagai penghambat korosi baja dalam H2SO4 dan HCl
- Jenis II A: memperpanjang periode inkubasi reaksi; dipakai sebagai pengebal
logam (metal immunizer); senyawa antrakwinon terhadap reaksi antar Cu dan
S
- Jenis III A: membuat permukaan logam menjadi pasif, zat pasvator: fosfat
yang larut dalam air, silikat, dan nitrit.
Inhibitor jenis B:
- Jenis I B: memperlambat laju korosi tapi tidak menghentikannya sama sekali;
sulfite yang bereaksi dengan O2 yang terlarut dalm larutan. Cara pemberian:
dalam setiap periode tertentu ditambah karena reaksinya terbatas pada
waktunya.
- Jenis II B: menghalangi pembentukan senyawa yang mengakibatkan korosi
logam dengan media tertentu, zat organik yang menghambat oksidasi
senyawa hidrokarbon.
Hidrokarbon kalau teroksidasi akan membentuk asam organik korosif.
4) Faktor-faktor yang mempengaruhi inhibisi
Faktor-faktornya:
- Kosentrasi inhibitor
- Temperatur
- Kecepatan reaksi
Log P = a + bt

Dimana:
P = laju korosi
29
a,b = konstanta
t = temperatur
konsentrasi laju korosi
temperatur laju korosi
5) Mekanisme Inhibisi
a) Teori adsorpsi fisik
Dengan teori ini maka inhibitor teradsorpsi dan membentuk film pada
permukaan logam.
Contoh:
- Aksi inhibisi amin atau keton dalam media asam:

Gugus organic yang bermuatan positif akan teradsorpsi fisik pada logam yang
bermuatan negative
Korosi dihalangi karena H+ tak adapat lewat dan diamankan
- Aksi inhibisi kromat pada besi:
Oksida krom yang terbentuk turut serta dalam pertumbuhan film.
Film pelindung dalam hal ini berupa suatu oksida logam.
Lain halnya pada contoh pertama, dimana flm diendapkan pada logam,
sedangkan disini film tumbuh mungkin mengisi pori-pori logam.
30
b) Teori Khemisorpi
Jenis ikatan yang terjadi ikatan kimia adsorpsi bersifat molekul tunggal dan
tak reversible memerlukan energy pengaktifan.
Contoh:
R.NH3+ R.NH2 + H+
R.NH2+Fe R.NH2 + Fe
Dalam hal-hal tertentu logam dapat berfungsi sebagai donor electron dan
inhibitor sebagai akseptor electron.
Dalam hal ini khemisorpi molekul terhadap logam, pelarutan logam pada bagian

anoda berkurang dan voltage lebih hidrogen dari logam pada katode bertambah,
sehingga inhibisi dapat dipertahankan.
c) Teori pasivasi
Pasivasi adalah proses pembuatan sifat suatu unsur secara elektro kimia, yang
mula-mula aktif dalam deret Volta yang kemudian bergeser kea rah logam yang
kurang aktif (lebih mulia). Perubahan potensial ini dapat dicapai dengan
penambahan inhibitor yang dapat menghasilkan arus katoda setempat yang
besar, sehingga daerah anaoda yang berdekatan menjadi pasif.
Oleh sebab itu, biasanya logam-logam transisi inilah yang korosif. Bila pita-d ini
terisi sebagian besar, maka logam akan menjadi pasif.
d) Pembentukan Sepitan (Chelate)
Bila inhibitor bersifat sepitan, maka:
- Teradsorpsi secara fisik
- Terkhemisorpi karena mempunyai donor electron
- Memebentuk sepitan (senyawa cincin) dengan logam pada 2 tempat
31
Pembentukan senyawa cincin akan menstabilkan logam yakni pada
permukaannya dan mengurangi permukaan yang terlanjang atau terbuka.
Senyawa cincin ini mereduksi laju korosi
Contoh:
Azobenzena
(tak dapat membentuk senyawa sepitan)
O-hidroksiazo benzene
(membentuk senyawa sepitan)
Fungsi perlindungannya menggunakan jenis-jenis logam:
- Lapis logam mulia
- Lapis logam karbon
a) Lapis logam mulia
Logamnya:
(Senyawa Sepitan)
32
- Betul-betul dapat melindungi

- Bersifat katodik daripada logam aslinya


b) Lapis logam karbon
Logamnya:
- Lebih anodic dari logam yang dilindungi sehingga akan rusak lebih dulu: seng
Hal-hal yang harus diperhatikan:
a) Tujuan melapisi:
Ada 3 kelompok
- Kelompok I : hanya untuk menambah daya tahan korosi
Contoh:
Lapis seng untuk kawat baja jalur komunikasi
- Kelompok II : disamping untuk menambah daya tahan korosi juga diinginkan
sifat tertentu:
Lapis Ni+Cr untuk relay tilpon (memperbaiki sifat tahan aus/
water resistance)
- Kelompok III : hanya untuk mendapatkan sifat tertentu: lapis Cr pada silinder
dan bagian lain dari mesin motor bakar untuk memperbaiki sifat tahan aus dan
lubrikasi dari permukaannya
b) Fungsi dari benda yang dilapis:
Perlu diperhatikan faktor-faktor:
- Lingkungan
- Umur pelayanan (service life)
- Logam dasar yang dilapisi
- Bentuk dan ukuran fleksibel
33
- Efek fabrikasi
- Faktor mekanik
- Efek pergerakan lingkungan
3) Pengerjaan lapis listrik
a) Tahap I: Proses persiapan
Tujuannya: - menghilangkan semua kotoran
- Mendapatkan keadaan fisik yang baik dari permulaan
Jenis kotoran yang mungkin dijumpai:

- Kotoran organik
- Kotoran anorganik/oksida
- Kotoran lainnya
Klasifikasi pemilihan teknik persiapan:
- Cara mekanik
- Pembersihan dengan pelarut (solvent)
- Pembersihan dengan alkali baik celup atau elektrolisa
- Pembersihan dengan asam (picking)
b) Tahap II: Proses lapis listrik
Caranya:
Benda kerja: - dijadikan katoda
- Dicelup dengan larutan lektrolit yang mengandung garam dari
logam pelapisnya
Kemudian sistem diatas diberi arus.
Kondisi operasi yang direncanakan:
- Rapat arus
34
- Waktu
- Temperatur
- Komposisi larutan elektrolit
c) Tahap III: Pengerjaan akhir
Setelah selesai dilapis, benda kerja dibilas (dicuci bersih) dan dikeringkan
Kadang-kadang perlu juga dilakukan proses lebih lanjut seperti dipasifkan
atau diberi lapis pelindung sperti laquer
f) Pengecatan
1) Sifat-sifat cat yang harus dimiliki cat:
- Mudah dipakai
- Mempunyai sifat adhesi yang kuat terhadap substrat
- Tahan terhadap air
- Tahan terhadap zat kimia
- Tahan terhadap pukulan
- Tahan terhadap cuaca

Seperti:
- Etilen glikol
- Gliserol
- Senyawa-senyawa asam lemak, anhidrida asam ptalat.
- Amino resin:
- Resin yang mengandung gugus alcohol
- Cat dengan bahan ini biasanya tahan zat kimia
- Mengalami pengeringan dengan senyawa amina, polyamide
35
- Epoxy resin
- Yang banyak dipakai vinyl asetat dan vinyl khlorida
- Tahan terhadap air dan zat kimia
- Chlorinated rubber:
- Dibuat dari karet alam yang mengalami proses khlorinasi pada ikatan
ranngkapnya
- Sebagi pengikat biasanya dipakai chlorinated rubber dimodifikasi dengan
alkyl resin
- Tahan terhadap air dan zat kimia
c) Extender
- Untuk menekan harga cat
- Untuk mengurangi pengendepan pigment pada waktu cat disimpan
Contoh:
- Asbetine
- Barit
- China elay
- Talc
d) Solvent
- Untuk mengurangi harga cat
- Untuk mengatur viskositas
- Contoh: senyawa-senyawa ester, keton, hidrokarbon
e) Komposisi cat
Untuk mendapatkan hasil perlindungan yang baik, cat harus mengandung

pigment anti korosi didalam media pengikat yang cocok untuk lingkungannya.
36
Biasanya cat tidak hanya mengandung satu pigment saja tapi juga mengandung
beberapa jenis pigment.
Campuaran pigment Perbandingan
ZNO/Z TC/X 2 2 1
BLS/ZC /X 3 2 1
BLS/BC /X 2 2 1
BLS/LC /X 3 1 1
ZNO/ZC /X 3 1 1
BLS/CWL /X 2 2 1
ZNO: Zinc Oksida
ZTC: Zinc tetra hidroxy Chromate
X: Asbetine
BLS: basic lead sulphate
BC: Barium Chromate
LC: Lead Chromate
ZC: Zinch Chromate
CWL: Chromate White lead
37
3) Cat sebagai Lapisan Pelindung :
a) Kemampuan cat sebagai zat pelindung.
3 faktor penyebab korosi secara elektrokimia :
- Lingkungan yang basah
- Adanya oksigen
- Perbedaan potensial system oleh sifat logam.
Sebenarnya cat masih belum mampu memisahkan logam dari lingkungan,
karena
cat masih dapat ditembus oleh molekul air dan oksigen.
Tembusan ini melalui lapisan cat yang mengakibatkan terjadinya produk korosi
dibawah lapisan cat.
Proses ini bertahap :

- Tahap I : proses tembusnya molekul air dan oksigen melalui lapisan cat.
- Tahap II : proses penurunan sifat adhesi dari lapisan cat.
- Tahap III : proses reaksi korosi dibawah lapisan cat.
Udara lingkungan yang bersifat asam akan mempercepat proses korosi.
Proses dapat dihambat dengan langkah-langkah :
- Permukaan disiapkan yang baik.
- Metode pengecatan yang baik.
- Penggunaan cat yang sesuai.
4) Mekanisme Perlindungan Korosi Pada Cat.
Jenis pigment menentukan system mekanisme pelingdungnya, misal :
- Cat dengan jenis pigmen inert :
Mekanisme perlindungannya ditentukan oleh sifat media pengikutnya.
- Cat dengan pigmen senyawa khromat :
38
Molekul air yang akan menembus lapisan cat akan melarutkan sebagian
senyawa
khromat yang terdispersi dan membentuk senyawa kompleks besi khromat.
Senyawa ini akan membentuk suatu senyawa tipis dengan adhesi yang kuat.
- Cat dengan pigmen serbuk seng :
Seng merupakan logam berat yang lebih anodic dari besi, dengan demikian seng
merupakan anoda karbon bagi system perlindungan korosi ini.
Seng yang sudah dokorbankan akan merupakan lapisan yangb sulit ditembus.
- Cat dengan pigmen red lead :
Pigmen red lead juga akan larut sebagian membentuk lapisan hidroksida yang
akan melindungi besi dan korosi.
g) Pelapisan Dengan Semprot Logam.
1) Mekanisme proses :
a) Tahap pencairan logam umpan.
- Dipengaruhi oleh kecepatan umpan dan suhu nyala api.
- Suhu nyala api dipengaruhi oleh kecepatan alir gas bahan dan oksigen.
- Suhu logam cair yang terlalu rendah akan mempersulit tahap atomisasi.
- Kalau terlalu tinggi akan cepat merusak alat semprot dan komsumsi bahan

bakar boros.
b) Tahap atomisasi logam cair
- Atomisasi logam cair dipengaruhi oleh viskositasnya.
- Viskositasnya dipengaruhi oleh temperatur
- Sehingga diusahakan agar dapat bekerja secara optimal.
c) Tahap perlemparan partikel halus.
- Partikel logam halus hasil atomisasi dapat dianggap berbentuk bola.
39
- Bola-bola ini berhamburan dan mendapatkan kinetik energi dan udara dari
gas pembakaran.
- Besarnya kinetik energi yang didapatkan oleh bola-bola ini tergantung dari
kecepatan aliran dari gas/udara.
d) Tahap tumbukan partikel dengan benda kerja.
- Bila partikel sampai pada benda kerja dalam keadaan cair dengan kecepatan
tinggi partikel tadi akan pecah dan terhambur keluar.
Jadi akan ada ketinggian material.
Hal ini dapat disebabkan oleh aliran udara atau gas yang besar tetapi dapat
juga oleh terlalu dekatnya benda kerja dengan torch.
- Kalau kecepatan tumbukan rendah --- hasil tumbukan lemah sehingga ikatan
yang terjadi lemah juga.
- Bila partikelnya yang membentuk berupa padatan, kemungkinannya adalah
partikel tadi dipantulkan kembali atau melipat pada lapisan sebelumnya
tetapi ikatan itu tidak kuat karena partikel yang padat telah sangat berkurang
sifat plastisnya.
2) Sifat Fisik Lapisan
a) Bentuk Butiran.
Setelah material yang dilapisi partikel halus yang cair akan membeku dan
membentuk pipih ( flake ), sehingga hasil akhirnya sebelum pengerjaan
tambahan ( sprayed coating ) seperti gambar.
40
Lapisan ini jelas belum tertutup rapat, artinya masih berpori, tetapi dengan
penambahan tebal lapisan pori-pori tersebut akan tertutup rapat sehingga

serangan korosi dapat dicegah.


Contoh :
Pelapisan aluminium pada daya, tebal 0,02 0,03 mm telah dapat menahan
serangan korosi pada daerah yang beratmosfer korosif.
Ketebalan lapisan pelindung sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang bentuk
benda yang dilindungi.
Bentuk yang berpori dari lapisan, dalam hal tertentu sangat dikehendaki, yaitu
untuk bagian yang memerlukan pelumas.
Minyak pelumas akan terhisap oleh lapisan yang berpori tersebut, sehingga
lebih tahan terhadap kealusan.
b) Ikatan Artar Partikel.
Partikel yang pipih dari larutan tadi ternyata mengandung oksida dengan kadar
0,5 3% yang didapatnya waktu dalam proses penyemprotan.
Jadi ikatan antar partikel adalah sementasi di antara oksida-oksida ( oxide
sementation )
c) Kekerasan.
Kekerasan lapisan dipengaruhi oleh partikel-partikel logam, ikatan diantara
partikel, porositas dan kadar oksida dalam lapisan.
Kekerasan butiran/partikel jauh lebih besar daripada kekerasan lapisannya
sendiri.
41
d) Pengerutan
Pada waktu pendinginan lapisan dan logam yang dilapisi akan berkerut.
Pengerutan akan menimbulkan stress antara pelapis dan bahan yang dilapisi
karena koefisien kontraksinya yang berlainan.
Akibat kalau stress yang terjadi terlalu besar adalah terjadinya keretakan,
sehingga lapisan logam terlepas dari bahan yang dilapisi.
Untuk menhindari ini digunakan lapis logam yang mempunyai sifat pengerutan
yang kecil, terutama untuk lapisan logam yang tebal dan pelapisan begian
dalam silinder.
3) Pembersihan dan Preparasi Permukaan.
Permukaan logam yang akan dilapisi harus dibersihkan dan dipreparasi dulu

supaya ikatan antara lapisan dan yang dilapisi menjadi kuat.


Perbersihan dilakukan terhadap lapisan lemak, minyak dan pengotor lain yang
terperangkap.
Selesai pembersihan, pekerjaan selanjutnya adalah :
- Treading groaving untuk bagian yang bisa di mesin.
- Ronghening adalah kelanjutan dari pengerjaan treading dan groaving.
Untuk bagian-bagian yang sukar dimesin karena terlalu besar dapat dilakukan
dengan penyemprotan abrasip, elektrik bonding atau melidenum spray bonding.
42
4) Pengaturan Operasi Penyemprotan
Kondisi/hal-hal yang perlu diperhatikan agar hasilnya baik.
- Bagian-bagian yang sudah dipersiapkan harus segera disemprot untuk
memperkecil terjadinya oksidasi atau kontaminasi.
- Kalau mungkin, gerakan dari benda kerja dan alat semprot dapat diatur secara
mekanis, untuk mendapatkan uniformitas dan pengulangan yang baik.
- Pengecekan tebal lapisan harus diteliti pada waktu proses pelapisan.
- Alat pengukur ketebalan sebaiknya disediakan.
- Kecepatan umpan dari kawat atau bentuk logam harus diatur yang tepat untuk
mencegah ketebalan yang berbeda-beda.
- Panas yang berlebih dari kawat atau bubuk harus dihindarkan
Pemanasan dilakukan beberapa derajad diatas titik leleh logam umpan.
- Jarak toreh benda kerja harus diatur dan hal ini sangat dipengaruhi oleh type
alat semprot dan macam logamnya sendiri.
Bila terlalu dekat, benda kerja menjadi panas, dan alat semprot cepat rusak
sedangkan bila terlalu jauh partikel yang cair akan cepat mendingin sehingga
memadat, yang berakibat ikatan partikel lemah, demikian pula makin jauh
jaraknya berarti logam yang teroksidasi semakin besar dan kinetik energi yang
rendah akan menhasilkan tumbukan yang lemah.
- Logam yang dilapisi tidak boleh terlalu panas untuk mencegah oksidasi dari
udara, tetapi juga tidak boleh terlalu dingin, sebab logam cair. Kalau terkena
benda yang dingin akan meledak.
43

5) Peralatan Proses
Ada 3 type :
a) Alat semprot dengan umpan kawat ( wire gun )
- Umpan logamnya ducatile dan berbentuk kawat,
- Missal : Al
Cu
Bronze
Pb
Mo
Ni
Sn
Zn
Baja C rendah
Baja C tinggi
Stainlees Steel
- Peralatan :
- Compressor dilengkapi dengan oil dan moinsture filter dan tangki bfilter
dan tangki udara tekan.
- Tabung oksigen dan bahan bakar
- Acetylene atau propane lengkap dengan regulator flow meternya.
- Penyanggah kawat
- Alat semprot
Keuntungan dari penyemprotan model ini adalah pengaturan aliran gas
bakar dan oksigen yang lebih bebas.
44
b) Alat semprot dengan umpan bubuk ( powder gun )
- Peralatannya :
Hampir sama dengan type pertama hanya pemakaian udara tekan lebih kecil
bahkan kadang-kadang tidak diperlukan
- Umpan :
Berupa bubuk/serbuk/powder karena sekar dibuat kawat (brittle) misalnya :
- Paduan Ni base

- Cobalt base
Keduanya mengandung Cr, Br, Si
- Al
- Sn
- Zn
- Tujuan Utama :
Memperkeras permukaan ( hard facing ) dan untuk ketahanan terhadap
korosi dan abrasi.
- Kesulitan utama alat ini :
Regulator dari gas yang tidak diijinkan adanya fluktuasi tekanan gas pada
alat semprotnya
c) Alat semprot plasma ( plasma gun )
Plasma adalah suatu arus yang panas sekali ( liminous ) dari gas yang
terionisasi yang dihasilkan dengan cara melewatkan suatu gas di dalam busur
listrik.
Temperatur : 15.000 16.000 oC
45
Karenanya benda yang akan dilapisi menjadi sangat panas dan perlu
didinginkan.
Peralatannya :
- Heat Exchanger untuk mendinginkan alat semprot.
- Power supply
- Alat control nyala api
- Alat semprot plasma
- Tabung N2 dan H2
Keuntungan alat ini :
- Oksigen dan acetylene tidak ada
- Gas hasil pembakaran juga tidak mengandung oksigen dan acetylene.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
- Kecepatan alir yang masuk
- Penambahan umpan bubuk yang harus uniform dan terus-menerus
- Sudut serta lokasi dari umpan itu jatuh didalam nyala plasma.

46
6) Bahan Logam Pelapis
- Hubungan antara berat kawat dan tebal lapisan
- Hubungan antara kecepatan semprot untuk masing-masing bahan
Lihat Tabel
Tabel : Berat kawat yang diperlukan per sqft dari 0,001itu tebal lapisan
Bahan Berat ( lb )
Al 0,014
Al Bronze 0,048
Cu 0,048
Baja 0,041
Stainless Steel 304 0,046
Stainless Steel 420 0,044
Zinc 0,050
47
Tabel : Kecepatan semprot untuk masing-masing kawat
Kawat Diameter kawat ( in ) Kecepatan semprot ( lb/ h )
Al 0,091
0,125
0,188
5,4
10,7
15,8
Al Bronze 0,091
0,125
0,188
11,0
14,0
24,0
Cu 0,040
0,057
0,091

5,0
5,3
14,0
Baja 1025 0,125
0,188
12,5
18,4
Stainless Steel 304 0,091
0,125
0,188
8,0
13,0
17,8
Stainless Steel 420 0,091
0,125
0,188
0,057
0,125
0,156
0,188
7,6
11,5
17,0
11,4
40,7
49,9
61,0
48
7) Finishing.
Tahapan traktir adalah finishing, terdiri dari :
a) Sealing
Tanpa memandang tebalnya, lapisan semprot logam adalah berpori sehingga

masih mungkin untuk diserang korosi.


Untuk menutup pori-pori tersebut dengan cara menyikat menggunakan sikat
kawat, shoot peaning setelah penyemprotan atau umumnya dipakai sealer.
Bahan sealer biasanya adalah :
- Lilin
- Vinyl copolymer
- Vinyl alkids
- Bitumastic sealer
- Silicon base material yang tahan sampai suhu 600-700 oC
b) Untuk menutup pori-pori tersebut juga bisa dengan diffusi yaitu memanaskan
logam atau bagian logam yang terlepis suhu titik leleh dari logam pelapis.
Proses diffusi tidak boleh terlalu lama, sebab logam pelapis dapat terdiffusi
lebih jauh, sehingga kualitas menurun yaitu Hardutss dan ketahanan korosinya.