Anda di halaman 1dari 5

Jurnal 2

a. Latar belakang

Dengan semakin dinamisnya kondisi ekonomi dan lingkungan bisnis


suatu

negara,

terntu

perbankan.

Efisiensi

manajemen

risiko

saja

akan

berpengaruh

suatu

bank

setidaknya

yang

baik,sehingga

terhadap

harus

selain

bisa

kinerja

diikuti

oleh

mendapat

keuntungan yang maksimal, suatu bank juga dituntut untuk bisa


mengendalikan risiko-risiko yang ada. Salah satu jenis industri
perbankan yang juga mengalami berbagai risiko dalam usahanya
adalah perbankan syariah, yang dalam satu dasawarsa terakhir ini
mengalami perkembangan yang cukup pesat. Statistik perbankan
syariah Indonesia mencatat bahwa dari tahun 2004 hingga tahun
2009, pertumbuhan aset perbankan syariah, jaringan perbankan
syariah mengalami peningkatan yang signifikan.
Penelitian yang secara langsung mengukur

efisiensi

perbankan

berbasis manajemen risiko khususnya pada perbankan berbasis


manajemen risiko khususnya pada perbankan syariah di Indonesia
masih sangat terbatas. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah
untuk

mengukur

tingkat

efisiensi

perbankan

syariah

dengan

menggunakan pendekatan manajemen risiko.


b. Identifikasi masalah
Ide penelitian yang diterapkan penulis yaitu melihat hubungan efesiesnsi
bank dengan pendekatan manajemen resiko yang dikur dengan risiko
operasional, risiko Likuiditas, risiko pembiayaan
c. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat efesiensi perbankan
syariah dengan menggunakan pendekatan manajemen resiko

Literature

Model
Tenik analisis data yang digunakan adalah dengan meode data envelopment
analisis (DEA). Teknik analisis data yang dilakukan mengacu pada pnelitian
yang dilakukan oleh Chang_kou (2008), namun berbeda dalam hal : objek,
variable input dan output dan periode tahun. Langkah awa dalam analisis
DEA dimulai dengan enentukan variable keputusan, berupa input dan output
yang akan diperhitungkan dalam proses analisis. Input yang digunakan dalam
penelitian ini adalah resiko operasional, resiko likuiditas dan resiko
pembiayaan. Sementara output tang digunakan adalah total pembiayaan dan
pendapatan bagi hasil. Jadi dalam penelitian ini terdapat 5 (lima) variable
yang digunakan. Selanjutnya semua data variable dimasukan kedalam
formulasi DEA untuk memperoleh nilai efesiensi

Hasil

Hal ini mengidentifikasikan bahw dari tahun ketahun pendapatan operasional


masing-masing bank lebih besar dibandingkan dengan beban operasionalnya

Hal ini mengidentifikasikan bahwa kemampuan bank dalam memenuhi


kebutuhan likuiditasnya semakin baik dari tahun ke tahun

Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan ketiga bank dalam memperoleh


kembali cicilan pokok atau bunga pinjaman yang diberikan lebih baik.
Keterkaitan input risiko terhadap tingkat efesiensi perbankan syariah dalam
pengukuran efesiensi perbankan syariah, menunjukan bahwa input yang
berua resiko tersebut cenderung tidak mempengaruhi besarnya tingkat
efesiensi

perbankan

syariah.

Sehingga

turun

naiknya

risiko

tidak

mempengaruhi tingkat efesiensi bank syariah secara mutlak. Ketika tingkat

risiko naik, belum tentu tingkat efesiensi turun, demikian juga sebaliknya.
Dalam penelitian ini, output yang berupa total pembiayaan dan pendapatan
bagi hasl berpengaruh positif terhadap besarnya tingkat efesiensi masingmasing bank yang diteliti. Hal ini sesuai dengan fakta yang ada yang
menunjukan bahwa peningkatan output dari tahun ketahun selama periode
penelitian diikuti dengan peningkatan efesiensi dari bank tersebut.

Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa selama


periode penelitian ini (2005-2009), perbankan syariah yang paling
efisien adalah Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat dengan skor
100%. Sedangkan Unit Usaha Syariah Permata menjadi bank yang
paling tidak efisien dengan skor rata rata 1,96% selama periode
penelitian ini.
Dari kelima variable input dan output yang digunakan sebagai komponen
penentuan nilai efesiensi pada setiap bank syariah serta unit usaha syariah
yang menjadi sampel diketahui bahwa variable input (risiko operasional,
risiko likuiditas dan risiko pembiayaan) memiliki peluang perbaikan yang
bervariasi. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap sampel bank uang diteliti
mempunyai peluang untuk melakukan perbaikan pada variable input yaitu
berupa risiko untuk mencapai hasil yang maksimum.
Sedangkan output yang terdiri dari pendapatan bagi hasil, dan total
pembiayaan nilainya juga bervariasi. Adanya tingkat potential improvement
tersebut mengindikasikan bahwa pencapaian iutpu belum maksimum,

sehingga ada peluang perbaikan output minimal sebesar angka potenstial


improvement tersebut.