Anda di halaman 1dari 12

Hujan Asam1

Pendahuluan
Asam adalah semua bahan kimia yang melepaskan ion hidrogen
+
(H ) jika dilarutkan di dalam air. Contohnya adalah HCl (asam khlorida),
HNO3 (asam nitrat), H2SO4 (asam sulfat) dan H2CO3 (asam karbonat).
Semakin tinggi konsentrasi ion hidrogen dalam larutan, semakin asam
larutan tersebut.

Skala numerik nilai pH umumnya digunakan untuk menyatakan


konsentrasi ion hidrogen. Semakin rendah nilai pH suatu larutan semakin
asam larutan tersebut. Larutan dengan nilai pH kurang dari 7 disebut
asam, dan larutan yang memiliki pH lebih besar dari 7 disebut basa atau
alkali.

Air dan carbon dioxide di atmosfer dapat bereaksi membentuk


larutan asam lemah asam karbonat (H2O + CO2 H2CO3). Sehingga,
secara alami air hujan memiliki pH sekitar 5,6.

Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH


di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6)
karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan
memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat
bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang
dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.
Hujan asam dilaporkan pertama kali di Manchester, Inggris, yang
menjadi kota penting dalam Revolusi Industri. Pada tahun 1852, Robert
Angus Smith menemukan hubungan antara hujan asam dengan polusi
udara. Istilah hujan asam tersebut mulai digunakannya pada tahun 1872.
Ia mengamati bahwa hujan asam dapat mengarah pada kehancuran
alam.
Walaupun hujan asam ditemukan di tahun 1852, baru pada tahun
1970-an para ilmuwan mulai mengadakan banyak melakukan penelitian
mengenai fenomena ini. Kesadaran masyarakat akan hujan asam di
Amerika Serikat meningkat di tahun 1990-an setelah di New York Times
Hujan Asam2

memuat laporan dari Hubbard Brook Experimental Forest di New


Hampshire tentang of the banyaknya kerusakan lingkungan yang
diakibatkan oleh hujan asam.
Hujan Asam merupakan salah satu fenomena alam yang sering
terjadi atau sedang hangat dibicarakan selain pemanasan global. Hujan
Asam ini juga memiliki banyak dampak negatif bagi kelangsungan hidup
suatu organisme. Bagaimanakah terjadinya hujan asam itu ?

Sumber
Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari
gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut.
Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas
manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan
bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia).
Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga
ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan
terdeposit ke tanah.
Hujan asam karena proses industri telah menjadi masalah
yang penting di Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan
daerah-daerah di arahan anginnya. Hujan asam dari pembangkit
tenaga listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak hutan-
hutan di New York dan New England. Pembangkit tenaga listrik ini
umumnya menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.

Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan


pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi
dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat
ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam
sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air
hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman
tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan
Hujan Asam3

dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar
dilaksanakan.
Pembangkit listrik tenaga batu bara, peleburan bijih logam, dan
industri di negara maju umumnya memiliki smokestack (cerobong asap)
yang tinggi untuk mengemisikan gas SO2, NO dan partikel tersuspensi di
atas lapisan inversi suhu, sehingga lebih efektif diencerkan oleh angin.
Sehingga cerobong asap yang tinggi mengurangi pencemaran udara lokal,
tetapi meningkatkan pencemaran udara regional.

Pembentukan hujan asam

Secara sedehana, reaksi pembentukan hujan asam sebagai berikut:

Bukti terjadinya peningkatan hujan asam diperoleh dari analisa es


kutub. Terlihat turunnya kadar pH sejak dimulainya Revolusi Industri dari
6 menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain diperoleh dari organisme yang
dikenal sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-
tahun, organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam lapisan-
lapisan sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan meningkat
pada pH tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar
kolam akan memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita
melihat ke masing-masing lapisan tersebut.
Sejak dimulainya Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida
dan nitrogen oksida ke atmosfer turut meningkat. Industri yang
menggunakan bahan bakar fosil, terutama batu bara, merupakan sumber
utama meningkatnya oksida belerang ini. Pembacaan pH di area industri
terkadang tercatat hingga 2,4 (tingkat keasaman cuka). Sumber-sumber
ini, ditambah oleh transportasi, merupakan penyumbang-penyumbang
utama hujan asam.
Masalah hujan asam tidak hanya meningkat sejalan dengan
pertumbuhan populasi dan industri tetapi telah berkembang menjadi lebih
luas. Penggunaan cerobong asap yang tinggi untuk mengurangi polusi
lokal berkontribusi dalam penyebaran hujan asam, karena emisi gas yang
dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi udara regional yang memiliki
jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam terjadi di daerah yang
jauh dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegunungan cenderung
memperoleh lebih banyak karena tingginya curah hujan di sini.
Terdapat hubungan yang erat antara rendahnya pH dengan
berkurangnya populasi ikan di danau-danau. pH di bawah 4,5 tidak
memungkinkan bagi ikan untuk hidup, sementara pH 6 atau lebih tinggi
akan membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam di dalam air akan
menghambat produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dari
telurnya. Asam juga mengikat logam beracun seperi alumunium di danau.
Hujan Asam4

Alumunium akan menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir


berlebihan di sekitar insangnya sehingga ikan sulit bernafas.
Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadi sumber makanan ikan juga
dihambat oleh tingginya kadar pH.
Tanaman dipengaruhi oleh hujan asam dalam berbagai macam
cara. Lapisan lilin pada daun rusak sehingga nutrisi menghilang sehingga
tanaman tidak tahan terhadap keadaan dingin, jamur dan serangga.
Pertumbuhan akar menjadi lambat sehingga lebih sedikit nutrisi yang bisa
diambil, dan mineral-mineral penting menjadi hilang.
Ion-ion beracun yang terlepas akibat hujan asam menjadi ancaman
yang besar bagi manusia. Tembaga di air berdampak pada timbulnya
wabah diare pada anak dan air tercemar alumunium dapat menyebabkan
penyakit Alzheimer.

Polutan primer seperti SO2 dan NO, teremisi ke dalam atmosfer di


atas lapisan inversi suhu dan dipindahkan sampai 1000 km oleh angin ke
tempat lain. Dalam perjalanannya, mereka membentuk polutan sekunder
seperti uap HNO3, aerosol H2SO4 dan garam sulfat dan nitrat. Bahan-
bahan yang bersifat asam ini akan berada di atmosfer selama 2-14 hari,
tergantung pada kecepatan angin, curah hujan dan kondisi meteorologi
lainnya. Selama masa tersebut, mereka akan turun ke permukaan bumi
dalam dua bentuk:

1. Wet deposition (deposisi basah) (sebagai hujan asam dan uap air
dengan pH kurang dari 5,6).
Deposisi basah mengacu pada hujan asam, kabut dan salju.
Ketika hujan asam ini mengenai tanah, ia dapat berdampak buruk
bagi tumbuhan dan hewan, tergantung dari konsentrasi asamnya,
kandungan kimia tanah, buffering capacity (kemampuan air atau
tanah untuk menahan perubahan pH), dan jenis tumbuhan/hewan
yang terkena.
2. Dry deposition (deposisi kering) (sebagai partikel asam).
Deposisi kering mengacu pada gas dan partikel yang
mengandung asam. Sekitar 50% keasaman di atmosfer jatuh
Hujan Asam5

kembali ke bumi melalui deposisi kering. Kemudian angin


membawa gas dan partikel asam tersebut mengenai bangunan,
mobil, rumah an pohon. Ketika hujan turun, partikel asam yang
menempel di bangunan atau pohon tersebut akan terbilas,
menghasilkan air permukaan (runoff) yang asam.

Kedua campuran deposisi kering dan deposisi basah disebut hujan


asam atau acid deposition (deposisi asam). Sebagian besar deposisi
kering terjadi antara 2-3 hari di dekat sumber pencemaran (emisi),
sebaliknya deposisi basah terjadi dalam 4-14 hari pada jarak yang jauh
dari sumber emisi.

Pengaruh hujan asam

Daerah yang sensitif terhadap hujan asam adalah yang memiliki


tanah dan batuan granit. Tanah jenis ini tidak memiliki penyangga
(buffer) pH alami. Pada tanah berkapur, ion hidrogen dari hujan asam
akan bereaksi dengan calsium carbonate sehingga air yang jatuh ke tanah
akan ternetralisasi (CaCO3 + 2H+ Ca2+ + CO2 + H2O).

Pengaruh hujan asam terhadap kesehatan manusia, harta benda,


dan ekonomi adalah :
Hujan Asam6

1. Menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia (bronkitis dan


asma).
2. Melarutkan logam seperti timbal dan tembaga sehingga dapat
mencemari air minum.
3. Merusak patung, bangunan, logam, dan cat kendaraan.
4. Menurunkan visibilitas atmosfer karena adanya partikel sulfat.
5. Menurunkan keuntungan karena produktivitas perikanan, hutan
dan pertanian menurun.

Ekosistem perairan tawar seperti danau, sungai dan kolam umumnya


memiliki pH sekitar 6-8, adanya hujan asam dapat memberikan efek
ekologi yang berbahaya bila pH perairan turun di bawah 6, khususnya di
bawah 5. Berikut adalah beberapa pengaruh hujan asam pada ekositem
perairan:

1. Jika pH mendekati 5, spesies plankton yang tidak diinginkan dan


lumut akan segera menginvasi perairan, populasi ikan smallmouth
bass berkurang.
2. Jika pH di bawah 5, populasi ikan mulai hilang, dasar perairan
tertutup dengan material yang tidak terurai dan lumut
mendominasi daerah pantai.
3. Jika pH di bawah 4,5, perairan sunyi dari ikan.
4. Ion aluminium yang terikat dalam mineral tanah akan terlepas
masuk ke dalam perairan, sehingga dapat membunuh ikan melalui
pembentukan mukus (lendir) dalam jumlah besar. Ikan akan
kekurangan oksigen (asphyxia) karena insang tersumbat lendir.
5. Merkuri yang diemisikan oleh pembangkit listrik tenaga batubara
dapat mengkontaminasi kolam, danau, dan sungai.
Mikroorganisme akuatik dapat mengubah merkuri anorganik yang
terendap di dasar perairan menjadi methylmercury yang sangat
beracun. Methylmercury larut dalam lemak ikan, sehingga dapat
mencemari ikan dan mengalami biomagnifikasi melalui rantai dan
jaring makanan, meracuni manusia, burung, dan hewan liar
lainnya. Manusia yang mengkonsumsi ikan yang mengakumulasi
methylmercury dapat mengalami kerusakan ginjal, tremor,
kerusakan saraf, dan mati.

Terhadap ekosistem daratan hujan asam dapat menyebabkan


diantaranya:

1. Kerusakan lapisan lilin pelindung daun tumbuhan.


2. Menurunkan ketahanan tumbuhan terhadap penyakit dan
melarutkan nutrien dari daun.
3. Mengganggu proses perkecambahan benih tumbuhan.
Hujan Asam7

4. Melarutkan nutrien penting tanaman seperti kalsium dan


magnesium dari tanah.

Metode pencegahan

Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan


bahan bakar yang mengandung sedikit zat pencemar, menghindari
terbentuknya zat pencemar saar terjadinya pembakaran, menangkap zat
pencemar dari gas buangan dan penghematan energi.
a. Bahan Bakar Dengan kandungan Belerang Rendah
Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi.
Masalahnya ialah sampai saat ini Indonesia sangat tergantung
dengan minyak bumi dan batubara, sedangkan minyak bumi
merupakan sumber bahan bakar dengan kandungan belerang yang
tinggi.
Penggunaan gas alam akan mengurangi emisi zat pembentuk
asam, akan tetapi kebocoran gas ini dapat menambah emisi metan.
Usaha lain yaitu dengan menggunakan bahan bakar non-belerang
misalnya metanol, etanol dan hidrogen. Akan tetapi penggantian
jenis bahan bakar ini haruslah dilakukan dengan hati-hati, jika
tidak akan menimbulkan masalah yang lain. Misalnya pembakaran
metanol menghasilkan dua sampai lima kali formaldehide daripada
pembakaran bensin. Zat ini mempunyai sifat karsinogenik (pemicu
kanker).
b. Mengurangi kandungan Belerang sebelum Pembakaran
Kadar belarang dalam bahan bakar dapat dikurangi dengan
menggunakan teknologi tertentu. Dalam proses produksi, misalnya
batubara, batubara biasanya dicuci untuk membersihkan batubara
dari pasir, tanah dan kotoran lain, serta mengurangi kadar
belerang yang berupa pirit (belerang dalam bentuk besi sulfida
sampai 50-90%).
c. Pengendalian Pencemaran Selama Pembakaran
Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan NOx
pada waktu pembakaran telah dikembangkan. Salah satu teknologi
Hujan Asam8

ialah lime injection in multiple burners (LIMB). Dengan teknologi


ini, emisi SO2 dapat dikurangi sampai 80% dan NOx 50%.
Caranya dengan menginjeksikan kapur dalam dapur
pembakaran dan suhu pembakaran diturunkan dengan alat
pembakar khusus. Kapur akan bereaksi dengan belerang dan
membentuk gipsum (kalsium sulfat dihidrat). Penurunan suhu
mengakibatkan penurunan pembentukan NOx baik dari nitrogen
yang ada dalam bahan bakar maupun dari nitrogen udara.
Pemisahan polutan dapat dilakukan menggunakan penyerap
batu kapur atau Ca(OH)2. Gas buang dari cerobong dimasukkan ke
dalam fasilitas Flue gas desulfurization (FGD). Ke dalam alat ini
kemudian disemprotkan udara sehingga SO2 dalam gas buang
teroksidasi oleh oksigen menjadi SO3. Gas buang selanjutnya
"didinginkan" dengan air, sehingga SO3 bereaksi dengan air (H2O)
membentuk asam sulfat (H2SO4). Asam sulfat selanjutnya
direaksikan dengan Ca(OH)2 sehingga diperoleh hasil pemisahan
berupa gipsum (gypsum). Gas buang yang keluar dari sistem FGD
sudah terbebas dari oksida sulfur. Hasil samping proses FGD
disebut gipsum sintetis karena memiliki senyawa kimia yang sama
dengan gipsum alam.
d. Pengendalian setelah pembakaran
Zat pencemar juga dapat dikurangi dengan gas ilmiah hasil
pembakaran. Teknologi yang sudah banyak dipakai ialah Flue Gas
Desulfurization (FGD). Prinsip teknologi ini ialah untuk mengikat
SO2 di dalam gas limbah di cerobong asap dengan absorben, yang
disebut scubbing. Dengan cara ini 70-95% SO2 yang terbentuk
dapat diikat. Kerugian dari cara ini ialah terbentuknya limbah. Akan
tetapi limbah itu dapat pula diubah menjadi gipsum yang dapat
digunakan dalam berbagai industri. Cara lain ialah dengan
menggunakan amonia sebagai zat pengikatnya sehingga limbah
yang dihasilkan dapat dipergunakan sebagai pupuk. Selain dapat
mengurangi sumber polutan penyebab hujan asam, gipsum yang
dihasilkan melalui proses FGD ternyata juga memiliki nilai ekonomi
karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, misal untuk
bahan bangunan. Sebagai bahan bangunan, gipsum tampil dalam
bentuk papan gipsum (gypsum boards) yang umumnya dipakai
sebagai plafon atau langit-langit rumah (ceiling boards), dinding
penyekat atau pemisah ruangan (partition boards) dan pelapis
dinding (wall boards).
Amerika Serikat merupakan negara perintis dalam
memproduksi gipsum sintetis ini. Pabrik wallboard dari gipsum
sintetis yang pertama di AS didirikan oleh Standard Gypsum LLC
mulai November tahun 1997 lalu. Lokasi pabriknya berdekatan
dengan stasiun pembangkit listrik Tennessee Valley Authority (TVA)
di Cumberland yang berkapasitas 2600 megawatt.
Hujan Asam9

Produksi gipsum sintetis merupakan suatu terobosan yang


mampu mengubah bahan buangan yang mencemari lingkungan
menjadi suatu produk baru yang bernilai ekonomi. Sebagai bahan
wallboard, gipsum sintetis yang diproduksi secara benar ternyata
memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan gipsum yang
diperoleh dari penambangan. Gipsum hasil proses FGD ini memiliki
ukuran butiran yang seragam. Mengingat dampak positifnya cukup
besar, tidak mustahil suatu saat nanti, setiap PLTU batu bara akan
dilengkapi dengan pabrik gipsum sintetis.
e. Mengaplikasikan prinsip 3R (Reuse, Recycle, Reduce)
Hendaknya prinsip ini dijadikan landasan saat memproduksi
suatu barang, dimana produk itu harus dapat digunakan kembali
atau dapat didaur ulang sehingga jumlah sampah atau limbah yang
dihasilkan dapat dikurangi. Teknologi yang digunakan juga harus
diperhatikan, teknologi yang berpotensi mengeluarkan emisi
hendaknya diganti dengan teknologi yang lebih baik dan bersifat
ramah lingkungan. Hal ini juga berkaitan dengan perubahan gaya
hidup, kita sering kali berlomba membeli kendaraan pribadi,
padahal transportasilah yang merupakan penyebab tertinggi
pencemaran udara. Oleh karena itu kita harus memenuhi kadar
baku mutu emisi, baik di industri maupun transportasi.
Di Amerika Serikat, banyak pembangkit tenaga listrik tenaga batu
bara menggunakan Flue gas desulfurization (FGD) untuk menghilangkan
gas yang mengandung belerang dari cerobong mereka. Sebagai contoh
FGD adalah wet scrubber yang umum digunakan di Amerika Serikat dan
negara-negara lainnya. Wet scrubber pada dasarnya adalah tower yang
dilengkapi dengan kipas yang mengambil gas asap dari cerobong ke
tower tersebut. Kapur atau batu kapur dalam bentuk bubur juga
diinjeksikan ke ke dalam tower sehingga bercampur dengan gas cerobong
serta bereaksi dengan sulfur dioksida yang ada, Kalsium karbonat dalam
batu kapur menghasilkan kalsium sulfat ber pH netral yang secara fisik
dapat dikeluarkan dari scrubber. Oleh karena itu, scrubber mengubah
polusi menjadi sulfat industri.
Di beberapa area, sulfat tersebut dijual ke pabrik kimia sebagai
gipsum bila kadar kalsium sulfatnya tinggi. Di tempat lain, sulfat tersebut
ditempatkan di land-fill.

Pengaruh Pencemaran Udara pada Kesehatan Manusia

Untuk memahami pengaruh pencemaran udara, marilah kita perhatikan


apa yang terjadi terhadap udara yang kita hirup di dalam sistem
pernapasan. Udara yang kita hirup akan masuk ke dalam trachea yang
kemudian masuk ke dalam dua bronchial tubes dari paru. Bronchial tube
ini terbagi menjadi saluran-saluran kecil yang jumlahnya sangat banyak
dikenal dengan nama bronchiole tubes. Pada ujung bronchiol tubes
terdapat jutaan kantong udara berukuran sangat kecil yang dinamakan
Hujan Asam10

alveoli. Oksigen yang terdapat dalam udara mengalir melalui dinding


alveoli, yang selanjutnya diikat oleh hemoglobin di dalam darah. Pada
saat yang sama, karbon dioksida mengalir dari darah melalui dinding
alveoli masuk ke dalam paru untuk kemudian dikeluarkan.

Kecepatan reaksi karbon monoksida yang berasal dari asap rokok dan
kendaraan bermotor dengan hemoglobin darah adalah 200 kali lebih
cepat daripada kecepatan reaksi oksigen dengan hemoglobin. Hemoglobin
orang yang sedang merokok mengandung sedikitnya 5-20% karbon
monoksida. Karbon monoksida dalam hemoglobin ini dapat menyebabkan
sakit kepala, capai, dan gangguan emosi. Selain itu dapat menyebabkan
kerja jantung semakin berat karena harus memompa darah untuk
mensuplai kebutuhan oksigen. Akibatnya dapat menyebabkan penyakit
cardiovaskular dan pembesaran jantung.

Sistem respirasi manusia mempunyai sejumlah mekanisme pertahanan


untuk melindungi tubuh dari pencemaran udara:

1. Rambut di dalam hidung berperan menyaring partikel yang


berukuran besar.
2. Lendir yang disekresikan di saluran pernapasan bagian atas
berperan menangkap partikel kecil dan melarutkan beberapa
polutan.
3. Bersin dan batuk berperan mengusir udara yang tercemar dan
lendir berperan untuk mengusir polutan yang mengiritasi sistem
pernapasan.
4. Ratusan sampai ribuan silia yang terdapat di saluran pernapasan
berfungsi mengeluarkan lendir dan benda asing.

Merokok dan pemaparan oleh pencemaran udara yang berat (seperti


ozon, SO2, dan NO2) dapat merusak dan memperlambat kerja silia,
sehingga bakteri dan partikel halus lainnya mudah masuk ke dalam
alveoli, yang dapat menyebabkan infeksi dan terjadi kanker paru.
Hujan Asam11

DAFTAR PUSTAKA

Soegianto, Agoes. 2005. Ilmu Lingkungan. Airlangga University


Press: Surabaya.

www.id.wikipedia.org/wiki/Hujan_asam

www.id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_udara

www.anafio.multiply.com/

www.klipingut.wordpress.com/2007/12/26/mengungkap-proses-
terjadinya-hujan-asam/

www.b0cah.org

www.kompas.com
Hujan Asam12

www.sains.wordpress.com/2008/03/14/apa-sih-hujan-asam-itu-2/

www.inli.blogspot.com/2007/12/apakah-hujan-asam-itu.html

www.sma6bekasi.com/2008/index.php/Artikel/HUJAN-ASAM.html

www.wida310186.wordpress.com/2007/01/26/hujan-asam/

www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-
lingkungan/pencemaran_lingkungan/hujan-asam-acid-rain/

www.greenlife.web.id

www.daac.gsfc.nasa.gov

www.energiportal.com

www.preeti-sandinmyshoes.blogspot.com

www.brookie.org