Anda di halaman 1dari 8

TRADITIONAL COST MANAGEMENT

VERSUS
STRATEGIC COST MANAGEMENT
Oleh :
Ahmad Maulana Syarif
Universitas Trilogi
2016
Pada era globalisasi yang semakin berkembang saat ini, suatu informasi
akuntansi manajemen dibutuhkan dan digunakan dalam semua lingkup
manajemen. Informasi akuntansi manajemen tersebut membantu para manajer
menjalankan perannya dalam melakukan aktivitas perencanaan, pengendalian dan
pengambilan keputusan. Mulai dari manajer sampai karyawan menggunakan
informasi akuntansi manajemen tersebut untuk mengidentifikasi dan
menyelesaikan masalah serta mengevaluasi kinerja mereka.
Informasi akuntansi manajemen dikelola dalam suatu sistem, yaitu sistem
informasi akuntansi manajemen. Sistem informasi akuntansi manajemen adalah
sistem informasi yang menghasilkan output dengan menggunakan input dan
memprosesnya untuk mencapai tujuan khusus manajemen. Tidak ada suatu
kriteria formal yang menjelaskan sifat dari input ataupun proses, bahkan output
dari sistem informasi akuntansi manajemen tersebut. Kriteria sistem informasi
akuntansi manajemen bersifat fleksibel dan tergantung pada tujuan tertentu yang
hendak dicapai manajemen. Sistem akuntansi manajemen mempunyai tiga tujuan
utama:
1. Menyediakan informasi untuk pembiayaan jasa, produk dan obyek lain
yang menjadi kebutuhan/kepentingan manajemen.
2. Menyediakan informasi untuk perencanaan, pengendalian,
pengevaluasian dan perbaikan berkelanjutan.
3. Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Mengingat pentingnya informasi akuntansi manajemen ini, manajer dan


pengguna lainnya harus mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Apapun
bentuk organisasinya, baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa,
manajer harus memiliki kemampuan yang cukup dan matang dalam menggunakan
informasi akuntansi yang ada.
Sistem akuntansi manajemen biaya dapat dikelompokkan dalam
manajemen biaya tradisional dan manajemen biaya stratejik. Kedua sistem ini
dipraktikkan dalam semua lini bisnis. Sistem akuntansi manajemen biaya
tradisional lebih menitikberatkan pada fungsional perusahaan sedangkan sistem
akuntansi manajemen biaya stratejik menitikberatkan pada aktivitas perusahaan.
Maka dari itu, sistem manajemen biaya stratejik saat ini sudah mulai banyak
digunakan, terutama dalam perusahaan yang memiliki beragam produk yang
kompleks dan beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif. Pada masa lalu dan
mungkin saat ini juga khususnya di Indonesia, sistem manajemen tradisional
banyak dipraktikkan secara luas dibanding sistem manajemen biaya stratejik.
Namun, di negara-negara maju di mana perusahaan memiliki visi jauh ke depan
untuk menghasil produk berkualitas yang sangat beragam, tingkat persaingan
tinggi dan perlindungan maupun kesadaran konsumen juga tinggi, mendorong
perusahaan menggunakan sistem manajemen biaya stratejik. Hal ini karena pada
situasi dimana tuntutan keragaman, kompleksitas produk, persyaratan mutu,
tekanan persaingan yang tinggi dan daur hidup yang pendek, sistem manajemen
biaya tradisional tidak dapat bekerja dengan baik dalam membeikan informasi
yang relevan, akurat dan tepat waktu. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa
sistem tradisional ditinggalkan. Untuk lingkungan bisnis yang relatif stabil dan
memiliki variasi produk yang relatif kecil, sistem manajemen biaya tradisional
yang digunakan perusahaan tersebut. Berikut ini adalah beberapa perbandingan
antara sistem manajemen biaya tradisional dan stratejik.

Tabel 1. Tabel Perbandingan antara Manajemen Biaya Tradisional dengan


Manajemen Biaya Stratejik
Keterangan
Fokus

Manajemen Biaya
Tradisional
Berfokus pada Produksi
(Mengelola Biaya)

Manajemen Biaya
Stratejik
Berfokus pada
Keunggulan Kompetitif
(Mengelola Aktivitas)

Perspektif dan Target

Nilai Tambah Perusahaan

Rantai Nilai Perusahaan

Konsep Cost Driver

Single Cost Driver

Multiple Cost Drivers


Berorientasi pada
Informasi
Hubungan antara Biaya,
Pendapatan dan Nilai
Produk

Informasi
Konsentrasi Utama
Pembebanan Biaya
Produk
Sifat Informasi Kinerja
Kinerja
Sifat
Penilaian Kinerja

Berorientasi pada Data


Pengaruh ke Biaya Produk
Sempit dan Kaku

Luas dan Fleksibel

Jarang dan Menyebar


Maksimalisasi kinerja
individu
Alokasi

Detail dan Rinci


Maksimalisasi Kinerja
Sistematik
Penelusuran
Menggunakan Ukuran
Kinerja Keuangan dan
Non Keuangan

Menggunakan Ukuran
Kinerja Keuangan

Sumber : Modul Akuntansi Manajemen 2007 dan Artikel Strategic Cost Management Accounting
Instruments

Dalam manajemen biaya tradisional dapat dilihat bahwa biayabiaya yang


terlibat biasanya hanya biaya langsung (direct cost) saja, seperti biaya tenaga kerja
dan biaya material. Namun seiring dengan berjalannya waktu muncul biayabiaya
yang bisa digolongkan ke dalam biaya langsung. Biayabiaya tersebut seperti
biaya reparasi, perawatan, utilitas, dan lain sebagainya.
Untuk mengetahui apakah sistem biaya suatu organisasi membutuhkan
perbaikan, menurut Dauglas T. Hicks, terdapat beberapa karakteristik yang dapat
digunakan sebagai petunjuk, yaitu :
1. Operasi-operasi yang menggunakan tenaga kerja langsung telah
digantikan oleh mesin-mesin otomatis. Penambahan peralatan yang mampu
berjalan tanpa bantuan tenaga kerja langsung dapat menyebabkan distorsi pada

distribusi biaya tidak langsung, jika tenaga kerja langsung tetap digunakan
sebagai basis alokasi oleh perusahaan.
2. Banyak operasi yang dapat dilakukan dengan sedikit intervensi
manusia. Banyak operasi memiliki waktu siklus yang signifikan, dimana hal ini
dapat dilihat dengan hanya sedikit perhatian yang diperlukan dari pekerja dan
pada saat seperti itulah biaya tidak hanya didasarkan pada proses, tetapi pada set
up dan tenaga kerja langsung, maka akan terjadi kesalahan pada distribusi biaya.
3. Adanya manusia menggunakan mesin dan mesin menggunakan
manusia. Pada banyak fasilitas terdapat beberapa operasi dimana pekerja dibantu
peralatan dalam melaksanakan aktivitasnya dan pekerja memegang kendali, selain
itu juga ada operasi dimana pekerja melakukan aksi sederhana sebagai material
handling untuk peralatan yang sedang bekerja. Dua situasi yang berbeda ini
memerlukan distribusi biaya dengan pendekatan yang berbeda, Jika hanya satu
metode yang digunakan maka akan terjadi kesalahan dalam pembebanan biaya.
Selain itu manajemen biaya tradisional mengasumsikan bahwa semua
biaya diklasifikasikan menjadi tetap dan variabel berkaitan dengan perubahan unit
atau volume produk yang dihasilkan. Oleh karena itu driver dalam bentuk unit
produk atau lainnya seperti jam tenaga kerja langsung atau jam mesin adalah satusatunya driver yang paling penting. Karena unit produk/ volume produksi bukan
satu-satunya driver yang menjelaskan penyebab maka kegiatan pembebanan biaya
produk diklasifikasikan sebagai alokasi. Dan karena banyak alokasi yang harus
dilakukan maka sistem tradsional ini sering disebut dengan sistem padat alokasi.
Sistem pengendalian operasi tradisional membebankan biaya pada unit
organisasi dan membuat manajer unit bertanggung jawab atas pengendalian biaya
yang dibebankan kepadanya. Kinerja diukur dengan membandingkan hasil aktual
dengan standar atau anggaran hasil dan lebih menekankan pada ukuran keuangan
daripada ukuran non keuangan.. Manajer akan diberi penghargaan berdasarkan
kemampuannya mengendalikan biaya. Jadi sistem tradisional menelusuri biaya
pada individu yang bertanggung jawab atas timbulnya biaya. Dan digunakan
untuk memotivasi individu untuk mengendalikan biaya. Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa kinerja organisasi secara keseluruhan dicapai dengan

memaksimalkan kinerja subunit organisasi individu dengan mengacu pada pusat


pertanggungjawaban
Sedangkan pada perusahaan manufaktur atau industri yang menghasilkan
beberapa jenis produk, biasanya terjadi berbagai jenis unsur biaya gabungan yang
harus dialokasikan ke setiap produk gabungan yang bersangkutan pada titik
pisahnya masing-masing. Lingkungan bisnis yang berubah begitu cepat sangat
mempengaruhi perkembangan konsep dan praktik akuntansi manajemen.
Akuntansi manajemen harus mampu menyediakan informasi yang memungkinkan
manajer untuk berfokus pada nilai pelanggan (customer value), manajemen mutu
total (total quality management), kompetisi berbasis waktu (time based
competition) dan pemanfaatan teknologi informasi. Manajemen biaya stratejik
merupakan sebuah filosofi dalam meningkatkan biaya dan pendapatan serta
menjawab informasi yang dibutuhkan manajer dalam pengambilan keputusan.
Manajemen biaya stratejik tidak hanya mengatur biaya namun juga harus
mengatur pendapatan perusahaan. Alhasil, tujuan perusahaan tidak hanya
meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan keuntungan, namun juga harus
memberikan kepuasan kepada pelanggan. Sehingga perusahaan tidak hanya
mendapatkan profit yang tinggi dari hasil penjualan mereka, tetapi bisa
mendapatkan loyalitas pelanggan serta rantai nilai yang kuat untuk menjalin
hubungan baik di masa yang akan datang.
Hal lainnya adalah sistem akuntansi biaya stratejik menekankan pada
penelusuran dibandingkan alokasi. Peranan driver diperluas dengan
mengidentifikasi driver yang tidak berhubungan dengan volume produk yang
diproduksi. Penggunaan driver unit dan non unit meningkatkan keakuratan
pembebanan biaya, mutu dan relevansi informasi secara keseluruhan.. Sistem
akuntansi yang menggunakan driver unit dan non unit untuk membebankan biaya
ke obyek biaya disebut sistem biaya berdasarkan aktivitas. Contoh : misalnya
aktivitas memindahkanbarang bahan baku dan barang setengah jadi dari suatu
lokasi ke lokasi lain dalam satu pabrik merupakan ukuran yang lebih baik untuk
mengukur aktivitas memindahkan barang daripada menggunakan ukuran unit
yang diproduksi.

Perhitungan harga pokok produk pada sistem manajemen biaya stratejik


cenderung fleksibel untuk berbagai tujuan manajerial termasuk untuk kepentingan
pelaporan eksternal. Perhitungan harga pokok produk lebih menekankan pada
perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan yang lebih baik.
Pengendalian biaya stratejik sangat berbeda dengan sistem tradisional..
Pada sistem tradisional tekanannya adalah pada manajemen biaya, sementara pada
sistem stratejik tekanannya adalah manajemen aktivitas dan manajemen aktivitas
bukan lah biaya. Inti jantung sistem pengendalian operasional stratejik adalah
manajemen berdasarkan aktivitas. Manajemen berdasarkan aktivitas
memfokuskan pada manajemen aktivitas dengan tujuan meningkatkan nilai yang
diterima oleh pelanggan dan laba yang diterima dengan menyediakan seperangkat
nilai tersebut. Manajemen berdasarkan aktivitas mencakup analisis pendorong,
analisis kegiatan dan evaluasi kinerja. Pendekatan manajemen berdasarkan
aktivitas memfokuskan pada pertangungjawaban aktivitas dibanding biaya,
menekankan maksimisasi kinerja sistem dibandingkan kinerja individu. Aktivitas
yang melintasi fungsi, lini departemen berfokus pada sistem dan membutuhkan
pendekatan global untuk pengendaliannya. Sistem pengendalian stratejik
berpandangan bahwa memaksimumkan efisiensi subunit individu tidak selalu
berarti mengarah pada efisiensi maksimum sistem secara keseluruhan. Dengan
demikian pada sistem stratejik baik ukuran kinerja keuangan dan non keuangan
adalah sama pentingnya
Di dalam dunia bisnis, implementasi manajemen biaya tradisional dapat
kita lihat di beberapa sektor usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM.
Dimana sektor tersebut masih dalam lingkup bisnis yang relatif kecil dan
memiliki satu jenis produk yang dijual. Misalnya saja pedagang Pisang Pasir
yang berjualan di pinggir jalanan ataupun di beberapa outlet SPBU. Pedagang
Pisang Pasir tersebut menggunakan manajemen biaya tradisional karena sesuai
dengan lingkungan usahanya yang tidak terlalu kompetitif dan stabil. Pedagang
Pisang Pasir tersebut langsung membagi seluruh biaya produksi termasuk biaya
overhead produk dengan driver unit yang dihasilkan. Pedagang tersebut tidak
mungkin menggunakan basis aktivitas berdasarkan setiap aktivitas operasional

yang terjadi sampai produk pisang tersebut siap disajikan dalam pembebanan
biaya overhead produk. Hal itu akan menimbulkan kerumitan dan kesulitan dalam
penentuan harga pokok penjualan produk Pisang Pasir karena memiliki lebih
dari satu cost driver.
Dibandingkan dengan perusahaan Unilever yang sudah memiliki skala
perusahaan yang cukup besar tidak bisa lagi menggunakan sistem manajemen
biaya tradisional yang hanya menekankan pada volume unit yang dihasilkan untuk
menentukan harga pokok produk. Karena hal itu akan membuat harga pokok
produk Unilever relatif tinggi karena tidak melihat aktivitas perusahaan lainnya
untuk dijadikan driver. Perusahaan Unilever tersebut juga tidak mungkin
menggunakan basis aktivitas berdasarkan unit yang dihasilkan dalam pembebanan
biaya overhead produk. Karena hal itu tidak berkaitan sama sekali dengan unit
yang dihasilkan sehingga menimbulkan distorsi biaya produk. Padahal ada hal
lain yang menjadi dasar pembagi atau penggerak biaya aktivitas selain dari unit
yang dihasilkan seperti penerimaan pesanan, inspeksi, pemeliharaan, dan lain
sebagainya.
Dengan demikian, untuk memutuskan apakah menerapkan sistem
manajemen biaya stratejik ataupun tradisional, manajer harus mengetahui
bagaimana cara menggunakannya. Apapun bentuk organisasinya, baik perusahaan
manufaktur maupun perusahaan jasa, lingkup kecil maupun besar, manajer harus
memiliki kemampuan yang cukup dan matang dalam menggunakan informasi
akuntansi yang ada. Selain itu, manajer juga harus menilai trade off antara
pengukuran biaya dan biaya kesalahan. Biaya pengukuran adalah biaya yang
berhubungan dengan kegiatan pengukuran yang diperlukan oleh sistem
manajemen biaya. Biaya kesalahan adalah biaya yang berhubungan dengan
pengambilan keputusan yang buruk yang didasarkan pada informasi biaya yang
tidak akurat karena sistem informasi biaya yang buruk.

DAFTAR REFERENSI
Aisyah, Mimin Nur. Modul Akuntansi Manajemen 2007.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Mimin%20Nur
%20Aisyah,%20M.Sc.,%20Ak./Modul%20Akuntansi%20Manajemen
%202007.pdf (diakses pada 19 September 2016)
Nurhayati. Perbandingan Sistem Biaya Tradisional Dengan Sistem Biaya ABC.
http://library.usu.ac.id/download/ft/industri-nurhayati3.pdf (diakses pada 19
September 2016)
Sulanjaku M., Shingjergji Ali. Strategic Cost Management Accounting
Instruments and Their Usage in Albanian Companies.
http://www.idpublications.org/wp-content/uploads/2015/07/STRATEGICCOST-MANAGEMENT-ACCOUNTING-INSTRUMENTS.pdf (diakses
pada 19 September 2016)
Mahira, Risky. Sistem Manajemen Biaya Tradisional vs Sistem Manajemen Biaya
Stratejik. http://riskymahira.blogspot.co.id/2013/09/sistem-manajemenbiaya-tradisional-vs.html (diakses pada 20 September 2016)