Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Kimia Mulawarman Volume 7 Nomor 2, Mei 2011

Kimia F-MIPA Unmul

ISSN1693-5616

OKSIDASI GLISEROL MENGGUNAAN MOLEKUL OKSIGEN DALAM


SISTEM KATALISIS HETEREOGENEUS DENGAN KATALIS Pd/-Al2O3
DAN PENAMBAHAN NaOH
GLISEROL OXIDATION USING OXYGEN MOLECULE AT
HETEREOGENEUS CATALYST SYSTEM BY Pd/-Al2O3 CATALYST AND
BY ADDING OF NaOH
Andriayani1), Saur L. Raja1), dan Henny T. Veranata2)
1) Departemen Kimia (Kimia Anorganik) FMIPA USU
2) Mahasiswa Departemen Kimia FMIPA USU
E-mail: Andrikim@yahoo.com

Abstract
Glicerol has been oxidized using molecular oxygen in heterogenous catalysis system with Pd/Al2O3 catalyst and adding sodium hydroside to produce sodium tartranate (37,67%). The product of
reaction was characterized by FT-IR and 1H-NMR spectroscopy.
Key word: Gliserol, Oksidasi, Heterogenous Catalysis, Pd/-Al2O3

A. PENDAHULUAN
Secara kimia reaksi oksidasi dikelompokkan
berdasarkan perubahan jenis ikatan yang terlibat seperti
reaksi dehidrogenasi alkohol primer (-C-OH) menjadi
aldehida
(-CHO)
dan
karboksilat
(-COOH),
dehidrogenasi alkohol sekunder (R-C(OH)-R) menjadi
keton (R-CO-R), pemutusan ikatan karbon-karbon pada
senyawa yang memiliki gugus OH berdampingan (C(OH)-C(OH)-) menghasilkan dua mol aldehida atau
keton, penggantian hidrogen oleh oksigen pada gugus
metil atau -metilen dari senyawa karbonil, penambahan
oksigen pada ikatan rangkap dan lain-lain (March,
1992). Kemudahan mengalami reaksi oksidasi gugus
aldehida
>
alkohol
primer
>
alkohol
sekunder.Penggunaan molekul oksigen sebagai zat
pengoksidasi memiliki banyak keuntungan, disamping
bersifat sebagai pengoksidasi lunak (mild) juga mudah
diperoleh dan ramah lingkungan.Tetapi biasanya
memerlukan katalis seperti logam-logam transisi dan
senyawa-senyawanya sebagai zat pengaktifasi (Neuman,
1998).
Gliserol yang memiliki rumus kimia
C3H5(OH)3 dengan dua gugus alkohol primer dan satu
gugus alkohol sekunder. Gliserol merupakan hasil
samping dari proses transesterifikasi antara triglesirida
dengan metanol untuk menghasilkan biodiesel (metil
ester). Juga dihasilkan dari reaksi hidrolisis minyak
dengan katalis asam (Hart, 1983). Dengan adanya
peningkatan produksi biodiesel maka akan terjadi pula
peningkatan produksi gliserol. Gugus alkohol pada
gliserol dapat mengalami reaksi oksidasi sehingga hal ini
Kimia F-MIPA Unmul

menyebabkan gliserol merupakan bahan dasar yang


potensial yang digunakan dalam mensintesis sejumlah
besar zat lainnya (Cordona, 2007).
Telah dilakukan oksidasi glukosa menggunakan
molekul oksigen melalui sistem katalis triple
paladium(II)-hidrokuinon-heteropolyacid dalam pelarut
aseton/air menghasilkan asam glukuronat (Andriayani,
2000). Sistem reaksi berada pada kondisi homogen
katalis dan reaktan berada pada satu fasa berupa larutan
sehingga ada kesulitan untuk memisahkan produk dari
katalisnya.
Dalam sistem katalitik heterogen fasa katalis
berbeda dengan reaktan,
katalis berupa padatan
sedangkan reaktan dapat berupa gas atau cairan.
Sehingga ada kemudahan dalam memisahkan katalis
dari produk dan sistem katalitik ini telah banyak
diterapkan dalam industri-industri (Gates, 1992).
Oksidasi gliserol menggunakan katalis Au/grafit dalam
larutan NaOH menghasilkan natrium gliserat (Carrettin,
2004), oksidasi gliserol dengan hydrogen peroksida
menggunakan silikat yang terikat pada logam (Ti, V, Fe)
dan aluminophosfat dengan logam (Cr, V, Mn, Co)
menghasilkan asam formiat dan ester monoformat dan
sejumlah campuran asetal (McMorn, 1999), oksidasi
gliserol menggunakan katalis Au-Pd pada karbon
teraktivasi dengan perbandingan yang berbeda dalam
fase cair menghasilkan aam gliserat dan asam glikolat
(Villa, 2007).
Dalam laporan ini kami melakukan reaksi
oksidasi pada gliserol dalam sistem katalitik heterogen

55

Andriayani, Sinar L, Raja dan Henny T. V.


Kimia F-MIPA USU

Oksidasi Gliserol

menggunakan molekul oksigen yang diaktifasi katalis


Pd/-Al2O3 menggunakan natrium hidroksida.
B. METODELOGI PENELITIAN
2.1. Alat dan Bahan
Bahan-bahan yang digunakan: gliserol 98%, gas
oksigen, paladium/-Al2O3(s), natrium hidroksida,
metanol, NH325%, aseton, akuades dan gas oksigen
(99,999%). Semua bahan buatan EMerck sedangkan
gas oksigen diperoleh dari PT. Aneka Gas Medan.
Peralatan yang digunakan: satu set autoclave, labu leher
tiga, hotplate stirrer, rotary evaporator, oil bath,
pendingin bola, melting point, thermometer dan alat-alat
gelas. Analisa FT-IR dan 1H-NMR dilakukan di
Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM dan di
laboratorium Bea Cukai Medan.
2. Prosedur
Oksidasi Gliserol (1,2,3-Propanatriol) Menggunakan
Molekul Oksigen dengan Katalis Pd/-Al2O3 dalam
kondisi basa
Sebanyak 6 gram gliserol (65,21 mmol)
dimasukkan ke dalam tabung autoclave yang dilengkapi
dengan pengaduk magnet. Ditambahkan NH3 25%
sebanyak 25 ml, katalis Pd/-Al2O3 sebanyak 0,06 g dan
NaOH sebanyak 0,6 g. Tabung autoclave ditutup rapat,
dialirkan gas oksigen hingga tekanan 300 psi dan
dipanaskan pada suhu 600C. Waktu reaksi dihentikan

H2 C

OH

HC

OH

H2 C

OH

Gliserol

saat oksigen tidak dikosumsi lagi. Campuran reaksi


disaring, kemudian filtratnya
ditambahkan aseton lalu divakum, kemudian dilarutkan
dalam akuades lalu divakum, sementara endapannya
ditambahakan akuades, disaring filtrate divakum
sehingga didapatkan endapan berwarna kekuningan.
Produk padatan kuning dikarakterisasi dengan
spektroskopi FT-IR dan 1H-NMR.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Oksidasi Gliserol
Pada orientasi awal penelitian dilakukkan
reaksi oksiadasi gliserol dengan molekul oksigen
menggunakan katalis Pd/-Al2O3 dalam pelarut air tetapi
reaksi berlangsung sangat lambat dan hanya sedikit
terbentuk asam tartronat karena reaksi berlangsung
setimbang.
Pada orientasi kedua reaksi oksidasi gliserol dengan
molekul oksigen menggunakan katalis Pd/-Al2O3
dengan penambahan NH3 25%.Oksigen yang terkosumsi
hanya 25 psi hal ini mengakibatkan reaksi yang terjadi
kurang sempurna.
Kemudian pada campuran reaksi dilakukan penambahan
padatan NaOH dan terjadi kosumsi gas oksigen lebih
cepat menghasilkan garam dikarboksilat sebanyak 2,26
g (37,67%) dengan reaksi sebagai berikut:

O
C ONa
O2, Pd/g-Al2O3
NH3 25%, NaOH

HC

OH

ONa

O
Garam natrium tartronat

Spektrum FT-IR (Gambar 1) menunjukkan pita serapan lebar pada bilangan gelombang 3377,51
cm-1 adanya gugus OH alkohol, didukung pita serapan C-OH alkohol sekunder pada 1072,23 cm-1
dan didukung literatur Pavia (1979). Serapan pada 2941,49 cm-1 disebabkan serapan CH- tersier
(metin). Terbentuknya garam dikarboksilat dibuktikan adanya dua serapan simetris dan asimetris.
Pada bilangan gelombang 1594,65 cm-1 menunjukkan regangan asimetris COO- (ion karboksilat).
Pecahnya serapan pada puncak gugus karbonil disebabkannya terjadinya oksidasi pada kedua gugus
alkohol primer pada atom C-1 dan C-2
menghasilkan asam dikarboksilat. Bilangan gelombang gugus karboksilat terjadi pada 1594,65 cm-1
yang cukup rendah hal ini disebabkan sudah terbentuk garam natrium karboksilat berupa gugus
COO-. Hal ini didukung regangan simetris pada 1409 cm-1 yang lemah.Disimpulkan sudah
terbentuk garam dinatrium karboksilat (garam natrium tartronat).Spektroskopi FT-IR dari produk
garam Natrium Tatronat sudah berbeda dengan FT-IR Gliserol Standar pada lampiran 1.dan
spektrum FT-IR Asam Tartronat pada Lampiran 2.
56

Kimia F-MIPA Unmul

Jurnal Kimia Mulawarman Volume 7 Nomor 2, Mei 2011


Kimia F-MIPA Unmul

ISSN1693-5616

Gambar 1. Spektrum FT-IR Garam Natrium Tartronat (KBr)


Spektrum 1H-NMR dalam pelarut DMSO-d6
(Gambar 2) menunjukkan adanya pergeseran kimia pada
daerah 3,4 ppm yang disebabkan adanya proton CH
pada atom C2. Sedangkan pergeseran pada daerah 3,8
ppm disebabkan oleh adanya gugus OH alkohol pada
atom C2. Dimana geseran kimia hidroksi

bervariasi yaitu mulai dari 2,0-4,0 ppm; 3,5-5,5 ppm


dan 6,1 ppm yang tergantung pada berbagai kondisi
seperti pelarut, konsentrasi dan kemurnian serta ada
tidaknya air dalam pelarut atau sampel (Pavia, 1979).
Hal ini juga dapat dibandingkan dengan spektroskopi
1
H-NMR Gliserol standar (Lampiran 3).

Gambar 2. Spektrum 1H-NMR Garam Natrium Tartronat (DMSO-d6)


IV. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan:
1. Oksidasi gliserol menggunakan molekul oksigen
diaktifasi katalis Pd/-Al2O3 dengan penambahan

padatan NaOH dihasilkan garam natrium tartonat


sebanyak 2,26 g (37,67%).
2. Penggunaan pelarut yang berbeda mempengaruhi
selektifitas reaksi dan banyaknya produk reaksi
yang dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Andriayani. Oksidasi Glukosa Menggunakan Molekul Oksigen Melalui Sistem Katalis Triple Pd(II)-HidrokuinonHeteropolyacid dalam Pelarut Aseton/Air. Tesis Pasca Sarjana. Medan: Universitas Sumatera Utara (2000).
2. Carretin, S., McMorn, P., Johnston, P., Griffin, K. Kelly, C. J., Attard, G. A. dan Hutchings, G. J.,Oxidation of
Glycerol Using Supported Gold Catalyst, Topics in Catalysis Vol. 27 Nos. 1-4 (2004)
3. Cordona, C.Use of Glycerol from Biodiesel Production: Conversion to Added Value Product. Columbia: National
University of Columbia (2007)
4. Gates, B.C. Catalytic Chemistry, New York: John Willey & Sons Inc (1992).
Kimia F-MIPA Unmul

57

Andriayani, Sinar L, Raja dan Henny T. V.


Kimia F-MIPA USU

Oksidasi Gliserol

5.
6.
7.

Hart, H. Kimia Organik. Edisi Keenam. Bogor: Erlangga (1983)


March, J.,Advanced Organic Chemistry, fourth edition, Jhon Wiley & Sons,Inc.,New York (1992)
McMorn, P., Roberts, G. dan Hutching, G. J.,Oxidation of Glycerol with Gidrogen Peroxide Using Silicat and
Aluminophosphates Catalyst, Catalyst Letters 63 (1999) 193-197
8. Neuman,. R. Aromatization of Hidrokarbons by Oxidative Dehydrogenation Catalyzed by The Mixed Addenda
Heteropolyacid H5PMo10V2O40 . J. Org. Chem. 54 (19): hal. 4607-4610 (1989)
9. Pavia, D.L. dan Lampman, G.M.Introduction to Spectroscopy: A Guide for student of Organic Chemistry.
Philadelphia. Saunders Golden Sunburst. (1979)
10. Villa, A., Campione, C. dan Prati, L.Bimetallic Gold/palladium Catalyst for The Selective Liquid Phase Oxidation
Glycerol, Catalysis Letters, Volume 115, Nos. 3-4 (2007)
Lampiran 1. Spektrum FT-IR Gliserol Standar

Lampiran 2. Spektrum FT-IR Asam Tartronat

Lampiran 3. Spektrum 1H-NMR Gliserol Standar

58

Kimia F-MIPA Unmul

Jurnal Kimia Mulawarman Volume 7 Nomor 2, Mei 2011


Kimia F-MIPA Unmul

Kimia F-MIPA Unmul

ISSN1693-5616

59