Anda di halaman 1dari 17

BAB III

IMPLEMENTASI TEKNIK PENYAMBUNGAN


SERAT OPTIK

3.1 Penyambungan Mechanical ( Mechanical Splicing )


Mechanical splicing merupakan metode yang mana penyambungan dua core
fiber optik di lakukan dengan mensejajarkan dua core fiber optik serta
menempatkan atau menyanggah dengan suatu bantalan/selubung ( alignment
sleeve ) yang di lakukan secara mekanikal. Dengan pensejajaran ini , maka
gelombang cahaya dapat di teruskan dari satu core ke core lainnya.
Penyambungan dengan konektor merupakan jenis sambungan yang bersifat
sementara ( tidak permanen ). Gambar 3.1 memperlihatkan contoh konektor untuk
penyambungan. Beberapa syarat untuk mendapatkan konektor yang baik adalah
sebagai berikut :
a. Memiliki susut kopling yang rendah.
b. Tidak sensitif terhadap keadaan lingkungan.
c. Mudah dipasang dan dilepas.
d. Mudah dalam pengoperasiannya.

14

Gambar 3.1 Penyambungan Mechanical ( Mechanical Splice )

3.2 Penyambungan Permanen ( Fusion Splicing )


Teknik Fusion splicing merupakan suatu teknik penyambungan yang
sifatnya permanen. Sambungan permanen tidak dapat dilepas kecuali dengan
memutuskan

sambungan.

Sambungan

lebur

atau

Fusion

Splice

yaitu

menghubungkan kedua ujung serat dalam kondisi lurus dengan menggunakan


penahan serat yang kemudian dipanaskan dengan menggunakan laser atau
elektroda yang memancarkan busur listrik sehingga serat melebur dan terhubung
menjadi satu. Lalu setelah tersambung di tutup kembali dengan selubung
penyangga ( Sleeve Protection ) Teknik sambungan lebur atau fusion splice dapat
dilihat pada gambar 3.2.

15

Gambar 3.2 Penyambungan Dengan Fussion Splice

3.3 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penyambungan Serat Optik


Dalam melakukan splicing ada hal-hal yang harus diperhatikan agar splicing
bisa berhasil dan juga untuk keselamatan kerja. Hal-hal tersebut antara lain:
a. Sebelum melakukan splicing usahakan agar semua peralatan dan bahan
serta

tangan sebersih mungkin sebab adanya kotoran pada serat optik

dapat menyumbang redaman pada serat.


b. Selalu letakkan tangan di belakang cutter ketika sedang melakukan
pengupasan pelindung serat.
c. Jangan menginjak tube karena akan merusak core yang ada di dalamnya
sehingga bisa menyebabkan core pecah atau retak.
d. Sebaiknya jangan mendekatkan cairan alkohol ke mata sebab cairan
alkohol bisa menguap ke udara.
e. Jangan menggulung core dengan diameter yang sangat kecil karena bisa
membuat core putus.
f. Jangan membuang core sembarangan sebab bila menembus kulit
dikuatirkan bisa masuk ke aliran darah dan mengganggu kesehatan.
g. Selalu perhatikan perlindungan pada kaset agar air tidak dapat masuk
kedalam kaset dan bisa merusak serat tersebut.
16

3.4 Flowchart Metodologi Penelitian


MulaI

Prepare Kabel

Penyambungan Kabel
Fiber Optik

Tidak

Periksa Penyambungan
0.02 dB

Ya

Pengukuran Redaman
OTDR EXFO AXS - 100

Perhitungan Redaman Total

Perbandingan
Pengukuran dengan
Perhitungan

Pengukuran < Perhitungan

Tidak

Ya

Standarisasi

Selesai

Gambar 3.3

Flowchart Metodologi Penelitian


17

3.5 Prosedur Penyambungan Kabel Fiber Optik


Penyambungan kabel fiber optik mempunyai beberapa langkah yang semua
harus dilakukan dengan benar untuk mendapatkan hasil yang baik di antara nya
adalah :

Penyambungan fiber optik harus sesuai prosedur.

Penggunaan peralatan dan material harus benar.

Pemasangan sarana alat sambung fiber harus sesuai dengan


pelaksanaannya.

Pengetesan harus di lakukan setelah semua jalur fiber optik di


sambung.

3.5.1 Persiapan Kabel


a. Langkah pertama yang di lakukan adalah mengukur panjang kabel
yang akan dikupas dengan panjang sekitar 120 cm, lalu beri tanda
dengan spidol atau isolasi. Disini menggunakan kabel udara .
b. Untuk memudahkan pengelupasan kabel, melakukan nya dengan
menggunakan cutter terlihat seperti pada gambar 3.4.

Gambar 3.4 Mengupas Kabel Fiber Optik


18

c. Mengupas kulit kabel fiber optic lakukan secara perlahan sampai batas
pengelupasan 10cm, sehingga menemukan benang pelindung untuk
mengupas kulit fiber optik tersebut, tarik benang pelindung tersebut
sampai batas yang di tentukan, dalam hal ini batasan panjang
membelah kulit kabel sepanjang 110 cm.
d. Kemudian membersihkan benang-benang, aramid, water blocking, dan
membersihkan tube nya dari jelly dengan tissue yg sudah di basahi
alkohol.

Gambar 3.5 Membersihkan Kabel Dari Benang, Aramid


e. Setelah bersih tube nya lalu tube tersebut diluruskan. Setelah itu
semua,

memasang aksesoris lainnya pada kabel fiber optik. Dan

memasukan kabel optik tersebut kedalam closure.

3.5.2 Material Penyambungan


Pada saat penyambungan, material berikut ini adalah yang sering
digunakan yaitu :

Kabel fiber optic

Closure

Fusion Splicer, Fiber Stripper, Fiber Cleaver, Lupsheet Cutter.


19

Tissue dan alkohol kadar minimal 95 %.

Protection Sleeve, PVC tape, gunting.

3.5.3 Proses Penyambungan Fiber Optik

Terlebih dahulu ukur tube dari batas isolasi kabel yang telah
terkupas sepanjang +25cm lalu beri tanda dengan spidol. Kemudian
kupas tube tersebut menggunakan pemotong tube (Lupsheet cutter )
dengan cara memutar pemotong tube searah jarum jam sebanyak 2
kali lalu patahkan dan tarik tube sehingga yang terlihat hanya serat
optik saja yang dilindungi oleh jelly. Bersihkan core tersebut dari
jelly dengan tissue yang dibasahi oleh alkohol.

Gambar 3.6 Mengupas Tube

Mengukur panjang / mengemal core fiber optik pada tray kaset


yang tersedia untuk menentukan posisi peletakannya.

Gambar 3.7 Mengukur Panjang Fiber Optik di Tray Kaset

Memasukkan protection sleeve ke core fiber optic.

20

Mengupas lapisan cladding fiber optic dengan menggunakan alat


fiber stripper dengan cara memposisikan fiber stripper agak miring
lalu tahan dan di tarik maju ke ujung core secara perlahan lahan.

Gambar 3.8 Mengupas Cladding

Setelah mengelupas, core tersebut dibersihkan dengan tissue yang


sudah di basahi dengan alcohol sampai terdengar bunyi
gesekannya. Keberadaan kotoran dan debu dapat mempengaruhi
splice loss.

Gambar 3.9 Membersihkan Core

Lalu core tersebut di masukan ke dalam alat pemotong core ( fiber


cleaver ), dimana untuk menempatkan ujung core nya diletakan
pada skala 14 -16 mm, lalu potong core tersebut.

21

Gambar 3.10 Memotong Core

Setelah core terpotong lalu masukan core ke dalam splicer, dimana


splicer berfungsi untuk menyambung core dengan menggunakan
teknik fusion.

Menyalakan alat splice dengan cara menekan dan menahan tombol


ON sampai indicator LED menyala ( Warna Hijau ). Lalu akan
tampil layar READY , seperti pada gambar berikut.

Gambar 3.11 Tampilan Splicer READY

Memastikan posisi peletakan core nya di letakkan dengan benar.


Kemudian menekan tombol SET pada alat splice , maka akan
terlihat pada gambar berikut ini.

22

Gambar 3.12 Tampilan Peletakan Core Melalui Display

Menekan kembali tombol SET pada splicer maka akan secara


otomatis splicer akan melebur kedua core dan tersambunglah core
tersebut dan akan terlihat hasil sambungnya, perlu di ingat untuk
hasil sambung ini range nya 0.00 dB 0.02 dB.

Gambar 3.13 Hasil Penyambungan Core

Setelah itu keluarkan core yang sudah tersambung dan geser


protection sleeve ke titik tengah core yang sudah tersambung, lalu
masukan protection sleeve ke bagian splicer yang berfungsi untuk
memanaskan lalu dengan menekan tombol HEAT. Dan biarkan
sampai terdengar bunyi lalu keluarkan dan diamkan selama 2 menit
agar keras protection sleeve nya.

Kemudian core yang telah tersambung di masukan ke dalam kaset


dan di atur sesuai alur nya.
23

Gambar 3.14 Mengatur Core Pada Tray Kaset

3.6 Kesalahan Penyambungan


Dalam melakukan penyambungan serat optik, ada beberapa kesalahan yang
mengakibatkan timbulnya susut daya, antara lain :
a. Kedua serat optik tidak sesumbu ( Core Misalignment )
Kesalahan ini terjadi jika peletakkan inti kedua serat yang sama ukurannya
tidak tepat pada sumbu yang sama, sehingga cahaya akan keluar dari bagian yang
tidak tepat tersebut.
Kesalahan penyambungan kedua serat tidak sesumbu dapat dilihat dibawah
ini.

Cladding
Core

Gambar 3.15 Core Tidak Sesumbu


b. Sumbu terlepas dengan sudut tertentu ( Angular Misalignment )
Kesalahan ini terjadi karena peletakkan inti kedua serat optik tidak sejajar
sehingga membentuk suatu sudut kecil, yang mengakibatkan sebagian cahaya
akan keluar melalui celah yang terbuka pada ujung sumbu.
24

Kesalahan penyambungan sumbu terlepas dengan sudut tertentu dapat dilihat


pada gambar berikut ini..

Cladding

Core

Gambar 3.16 Susut Celah Sudut


a. Susut celah ujung atau End- Face Seperation
Kesalahan ini disebabkan karena jarak antar fiber terlalu jauh sehingga
sumbu tidak tersambung, seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Cladding
Core

Gambar 3.17 Susut Celah Ujung


b. Ujung serat tidak rata.
Kesalahan ini terjadi karena potongan ujung serat tidak rata. Sehingga ketika
penyambungan terjadi celah diantara serat yang mengakibatkan sebagian cahaya
keluar melalui celah tersebut atau terpantul kembali, seperti terlihat pada
gambar berikut ini.

Gambar 3.18 Ujung Serat Optik Yang Tidak Rata


25

3.7 Alat Ukur Fiber Optik


Dalam pengukuran serat optik salah satu alat yang biasa digunakan yaitu
Optical Time Domain Reflectometer ( OTDR ) dan Power Meter. Namun dalam
penelitian ini yang digunakan hanya OTDR saja. Dalam melakukan pengukuran,
terlebih dahulu menghubungkan OTDR tersebut ke kotak terminal atau yang biasa
disebut dengan Optical Terminal Box ( OTB ).

3.7.1 OTDR
OTDR merupakan salah satu peralatan utama baik untuk instalasi maupun
pemeliharaan link fiber optic . OTDR dipakai untuk mendapatkan gambaran
visual dari kualitas fiber optik sepanjang sebuah link yang di tampilkan dalam
sebuah layar dengan jarak di gambarkan pada sumbu x dan redaman pada sumbu
y. Untuk menentukan dimana letak sambungan dari tiap jalur maka terlebih
dahulu mengetahui pada jarak berapa tiap titik sambungan berada setelah itu kita
dapat melakukan marker untuk mengetahui berapa besar redaman total dan
redaman tiap titik sambungan.
OTDR berfungsi sebagai berikut :
-

Pengukuran loss pada suatu link fiber optic.

Pengukuran lokasi kabel putus, sambungan atau konektor.

Pengukuran panjang/jarak span pada jaringan fiber optic.

Pengukuran dapat di lakukan hanya satu sisi link fiber optik saja.

Untuk seri tertentu OTDR juga dapat digunakan sebagai light source.

26

Gambar 3.19 OTDR EXPO

3.7.2 Pemakaian OTDR


-

Saat instalasi jaringan fiber optic


Di gunakan untuk mengetahui kualitas jaringan dan kondisi kabel,
memastikan loss splice , konektor, dan loss karena bending atau tekukan.

Saat preventive maintenance


Pengecekan periodik untuk memastikan tidak ada degradasi link atau
mengetahui performance link fiber optic.

Saat restorasi
Untuk melokalisir gangguan, memastikan kualitas sambungan saat
restorasi.

3.7.3 Parameter OTDR


Parameter yang dapat di ukur dengan OTDR adalah
- Jarak Span
Pengukuran jarak suatu link fiber optic dari ujung satu ke terminasi
ujung lainnya atau patahan ( jarak total link, posisi splice/konektor dan
posisi kabel putus).
27

- Loss - Loss tiap tiap splice dan loss total dari ujung ke ujung link fiber
optic.
- Refleksi yaitu besar refleksi ( return loss ) dari suatu event .

3.7.4 Tata Cara Pengukuran OTDR


Tata Cara Pengukuran OTDR adalah :

Connecting kabel fiber optic


Sebelum menghubungkan konektor OTDR dengan kabel fiber optic,
maka ujung fiber optic harus di bersihkan dengan alcohol dan tissue,
agar hasil pengukuran nya lebih akurat.

Kemudian lakukan pengaturan pada parameter berikut :


Setting IOR ( Indeks Bias )
Indeks bias di setting sesuai dengan nilai yang di tentukan oleh pabrik
pembuat fiber tersebut. Nilai Indeks diperlukan agar OTDR dapat
melakukan perhitungan untuk menghasilkan jarak ( distance ) dari
suatu event pada kabel fiber optic.
Wavelength ( panjang gelombang )
Panjang gelombang ( lambda ) di setting sesuai dengan lamda yang di
gunakan pada kabel fiber optic.
Distance range ( jarak )
Pengaturan Distance range di setting sesuai panjang kabel yang di
ukur.

28

3.8 Perhitungan Sistem


Perhitungan sistem dalam tugas akhir ini meliputi perhitungan redaman total,
perhitungan daya terima optik .

3.8.1 Perhitungan Redaman Total


Perhitungan redaman total bertujuan untuk mengetahui jumlah total
redaman atau susut daya yang terjadi pada jalur serat optik mulai dari sumber
sampai dengan detektor. Redaman antara ujung sumber cahaya sampai ujung
penerima meliputi : redaman kabel, redaman konektor, redaman sambungan.
Redaman total (t ) dapat dinyatakan dengan persamaan :
t
dengan :

= m . c + n . sp + l . f ..( 3.1 )
t

= redaman total (dB)

= jumlah konektor

= redaman konektor (dB/konektor)

= jumlah splice

sp

= redaman splice (dB/splice)

= panjang serat optik

= redaman kabel(dB/km)

3.8.2 Perhitungan Daya Terima Optik


Pehitungan daya terima serat optik, biasa nya dilakukan setelah pengukuran
OTDR, peralatan yang di pakai untuk mengetahui daya terima serat optik
menggunakan Power Meter.

29

Setelah dilakukan perhitungan redaman total (t ), maka dapat dihitung


besar daya terima serat optik dengan persamaan :
Pd = ( Ps t ) dBm ..( 3.2 )
dengan :

Pd

= Daya terima optik (dBm)

Ps

= Daya sumber (dBm)

= Redaman Total (dB/Km )

30