Anda di halaman 1dari 17

Gravitasi

Gravitasi mengakibatkan benda-benda langit berada pada orbit masing-masing


dalam mengitari matahari

Gravitasi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa
di alam semesta. Fisika modern mendeskripsikan gravitasi menggunakan Teori Relativitas
Umum dari Einstein, namun hukum gravitasi universal Newton yang lebih sederhana merupakan
hampiran yang cukup akurat dalam kebanyakan kasus.
Sebagai contoh, bumi yang memiliki massa yang sangat besar menghasilkan gaya gravitasi yang
sangat besar untuk menarik benda-benda di sekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda-
benda yang ada di bumi. Gaya gravitasi ini juga menarik benda-benda yang ada di luar angkasa,
seperti bulan, meteor, dan benda angkasa lainnya, termasuk satelit buatan manusia.
Beberapa teori yang belum dapat dibuktikan menyebutkan bahwa gaya gravitasi timbul karena
adanya partikel gravitron dalam setiap atom.
Hukum Gravitasi Universal Newton
Hukum gravitasi universal Newton dirumuskan sebagai berikut:
Setiap massa titik menarik semua massa titik lainnya dengan gaya segaris
dengan garis yang menghubungkan kedua titik. Besar gaya tersebut
berbanding lurus dengan perkalian kedua massa tersebut dan berbanding
terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua massa titik tersebut.

F adalah besar dari gaya gravitasi antara kedua massa titik tersebut

G adalah konstanta gravitasi

m1 adalah besar massa titik pertama

m2 adalah besar massa titik kedua

r adalah jarak antara kedua massa titik, dan


g adalah percepatan gravitasi =

Dalam sistem Internasional, F diukur dalam newton (N), m1 dan m2 dalam kilograms (kg), r
dalam meter (m), dsn konstanta G kira-kira sama dengan 6,67 × 10−11 N m2 kg−2.
Dari persamaan ini dapat diturunkan persamaan untuk menghitung Berat. Berat suatu benda
adalah hasil kali massa benda tersebut dengan percepatan gravitasi bumi. Persamaan tersebut
dapat dituliskan sebagai berikut: W = mg. W adalah gaya berat benda tersebut, m adalah massa
dan g adalah percepatan gravitasi. Percepatan gravitasi ini berbeda-beda dari satu tempat ke
tempat lain.
Medan gravitasi adalah medan yang menyebabkan suatu benda bermassa mengalami gaya
gravitasi. Medan ini dibangkitkan oleh suatu benda bermassa. Didefinisikan secara rumus
matematis sebagai besar gaya tarik dibagi massa benda.
Rumus medan gravitasi
Bila terdapat suatu obyek bermassa pada posisi maka medan gravitasi yang disebabkan
oleh obyek tersebut di titik dirumuskan sebagai

dengan:

• : adalah konstanta univeral gravitasi Newton.

• : adalah massa penyebab medan gravitasi.

• : adalah posisi massa ke-i.

• : adalah posisi tempat medan gravitasi dihitung.


Perhatikan bahwa tidak seperti dalam hal rumusan medan listrik, di mana muatan dapat berharga
positif atau negatif, dalam hal medan gravitasi massa selalu berharga positif, sehingga medannya
selalu menuju atau mengarah ke titik pusat penghasil medannya. Dengan kata lain apabila di
dalam lingkungan medan gravitasi ditempatkan obyek bermassa, maka obyek tersebut akan
mengalami gaya gravitasi yang arahnya menuju penyebab medan gravitasi. Dengan demikian
dapat dimengerti mengapa gaya gravitasi selalu bersifat tarik-menarik.
Percepatan gravitasi
Dalam beberapa kasus, massa penyebab gravitasi sedemikian besarnya, sehingga medan gravitasi
dapat dianggap tetap, walaupun titik pengamatan diubah. Untuk kasus ini lebih lazim jika
ditetapkan suatu percepatan gravitasi, yang berupa suatu konstanta.
Gravitasi dan Mekanisme Alam

Pada masa-masa permulaan, jutaan triliun nukleoaktivitas


terbentuk di sepanjang kolong langit dengan berbagai ukuran. Merekalah cikal bakal semua
benda langit, mulai dari planet, satelit, sampai pada galaksi yang paling besar. Reaksi-reaksi
pada selubung nukleoaktivitas menyebabkan evolusi pada wajah jagat raya. Pada awalnya,
selubung itu berbentuk plasma dengan temperatur yang luar biasa panas seperti pada permukaan
bintang.
Cahaya dan gelombang elektromagnetik yang terlepas dari reaksi fusi dan fisi bisa bergerak
leluasa dalam media plasma, sehingga akhirnya tercerai-berai ke segala penjuru, yang salah
satunya sampai ke bumi. Oleh pengamat di bumi, panjang gelombang cahaya tampak ditangkap
retina mata, sehingga tampaklah benda langit itu bersinar.
Evolusi
Produksi partikel terjadi terus-menerus sehingga selubung akan semakin membesar dan terus
membesar. Pada suatu jarak tertentu, hantaran panas semakin dipersulit, menyebabkan lapisan itu
mendingin. Pendinginan itu membuat evolusi bentuk selubung dari plasma menjadi lebih padat.
Semakin banyak produksi partikel semakin banyak pula pemadatan terjadi. Ini membuat bintang
yang semula bisa dengan mudah diamati dari bumi, menjadi semakin redup, hingga akhirnya
mati. Bintang yang mati itu kemudian kita kenal sebagai planet, satelit, dan asteroid.
Nukleoaktivitas terdapat pada pusat setiap partikel antariksa. Nukleoaktivitas memiliki tungku
energi yang menjadikan planet-planet mandiri dalam interaksi dengan sekitarnya. Planet
memiliki energi untuk mempertahankan diri terhadap tarikan gravitasi, sehingga mereka bisa
bertahan terhadap matahari. Interaksi terjadi karena tarik-menarik gelombang
antarnukleoaktivitas yang ekuivalen dengan potensial masing-masing. Apabila V1 adalah
potensial pada nukleoaktivitas pertama, dan V2 adalah potensial pada nukleoaktivitas kedua,
maka interaksi antara keduanya adalah perkalian antara V1 dan V2. Kecenderungan
nukleoaktivitas menarik gelombang-gelombang yang ada di sekitarnya seperti garam yang
menyerap air yang ada di sekitarnya (gerak osmosis). Simulasi sederhana gerak osmosis adalah
interaksi paling sederhana, dan semua interaksi alami terbentuk dari konfigurasi interaksi-
interaksi sederhana tersebut.
Sistem Pesan
Dalam mekanika kuantum, interaksi merupakan hubungan gaya-gaya yang dipancarkan dalam
bentuk kuanta-kuanta secara bolak-balik. Partikel materi atau fermion memiliki suatu sistem
komunikasi yang berpindah-pindah diantara partikel-partikel tersebut, yang menyebabkan
mereka berkelakuan dan berubah menurut cara-cara tertentu. Komunikasi antar fermion dibawa
oleh sejenis partikel yang disebut boson. Para fisikawan mendefinisikan adanya empat gaya di
alam, yang saling terkait satu sama lain, tapi belum diketahui bagaimana persisnya. Mereka
antara lain gaya kuat, gaya lemah, elektromagnetisme, dan tentunya gravitasi. Kita memiliki
sistem komunikasi dalam empat layanan yang berlainan: telepon, faksimili, ponsel, dan internet.
Tidak semua orang akan mengirim dan menerima pesan dan saling mempengaruhi dengan
menggunakan keempat layanan tersebut sekaligus, sedangkan keempat layanan tersebut
sebetulnya berasal dari sebuah sistem yang sama. Maka tidaklah salah jika membayangkan
sistem pesan antarpartikel sebagai empat layanan seperti itu.
Gaya kuat bertanggung jawab atas pengikatan nukleon-nukleon menjadi inti atom, dengan boson
bernama gluon. Gaya inilah yang terkuat diantara gaya-gaya yang lain dan berlaku pada jarak
yang sangat dekat. Gaya lemah bertanggungjawab dalam peristiwa peluruhan radioaktif, dengan
perantaranya boson W- dan Z0. Elektromagnetisme bertanggungjawab dalam ikatan-ikatan kimia
serta berbagai peristiwa dalam reaksi kimia, dengan boson bernama foton. Foton
menghubungkan komunikasi antara proton-proton dalam inti atom dengan elektron-elektron
yang mengelilinginya. Gaya ini menyebabkan elektron mengelilingi inti atom. Dalam kehidupan
sehari-hari, yang jauh lebih besar daripada skala partikel subatomik, foton-foton muncul sebagai
cahaya tampak. Yang terakhir adalah gravitasi, yang bertanggung jawab atas keselarasan dan
keseimbangan benda-benda antariksa. Diduga ada boson bernama graviton, yang tak berbobot,
yang bertanggung jawab menjadi agen gravitasi.
Kegiatan keempat gaya tersebut menimbulkan semua interaksi diantara materi dalam jagat raya
ini. Tanpa keberadaan mereka, materi-materi akan berada dalam keadaan terpencil, tanpa
mekanisme untuk saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Dengan kata lain, tidak ada
suatu peristiwa yang dapat terjadi tanpa campur tangan mereka. Memahami mereka
selengkapnya berarti memahami asas-asas yang mendasari semua yang terjadi di semesta ini.
Untuk itu, fisikawan modern mengembangkan model standar. Model standar telah
menggabungkan tiga dari empat gaya yang ada menjadi sebuah Grand Unification Theory.
Namun sayangnya, mereka sama sekali melupakan gravitasi.
Para fisikawan membayangkan gravitasi yang menambatkan tubuh kita ke bumi sebagai pesan
yang dibawa graviton, antara materi-materi dalam tubuh kita dengan materi bumi. Mereka tidak
begitu kesulitan menyatukan gaya kuat dan gaya lemah, gaya lemah dan elektromagnetisme,
ataupun gaya kuat dan elektromagnetisme, namun mereka sama sekali tidak bisa
mengikutsertakan gravitasi. Ada apa ini?
Percobaan-percobaan
Newton, dalam percobaan tentang gravitasi, menggantungkan beberapa bola pendulum dengan
tali sepanjang 11 kaki. Beliau mengamati seolah-olah pendulum-pendulum itu saling
berinteraksi, dengan cara memelintirkan tali-talinya. Ketika itu orang-orang sepakat bahwa di
dalam setiap jengkal jarak terdapat semacam partikel yang sangat halus dan sempurna.
Aristoteles menyebutnya eter, yang kemudian digunakan Descartes dalam vorteks. Namun
Newton meyakinkan diri bahwa aksi pada jarak sama sekali tidak memerlukan eter. Beliau lebih
memerlukan aksi pada jarak yang murni. Aksi pada jarak dalam gravitasi kemudian direduksi
oleh Einstein sebagai semata akibat kelengkungan ruang-waktu. Sekarang gravitasi telah
dikembangkan sedemikian rupa dalam Relativitas Umum sebagai bagian yang sama sekali
berbeda dari interaksi-interaksi yang lain.
Newton meyakini bahwa gravitasi berlaku umum di jagat raya ini, di langit, di bumi, dan di
mana saja asalkan masih termasuk alam. Ia menyatakan bahwa apel yang jatuh dari pohonnya di
taman—yang ia saksikan dari jendela kamarnya ketika ia mendapatkan inspirasi gravitasi, bulan
yang mengorbit bumi, komet yang melintasi beberapa tata surya, dan sebagainya, disebabkan
oleh gravitasi. Sebelum itu hanya hukum-hukum Kepler yang dianggap mampu menjelaskan
fenomena tersebut. Dan gravitasi sangat cocok dengan hukum-hukum tersebut.
Bayangkan gravitasi dalam kehidupan sehari-hari. Seandainya Anda ditanya, seberapa kuat
gravitasi tersebut? Anda mungkin akan menjawab: luar biasa kuat. Jawaban ini tentunya keliru,
karena sejauh ini gravitasi adalah gaya yang paling lemah diantara keempat gaya yang diyakini
keberadaannya oleh para fisikawan. Gravitasi yang tampak begitu mencolok dalam kehidupan
sehari-hari adalah gabungan gravitasi dari semua partikel yang ada di tubuh raksasa bumi.
Diperlukan instrumen yang sangat peka untuk mendeteksi adanya gaya tarik-menarik yang
sangat lemah antara benda-benda kecil yang kita jumpai sehari-hari.
Newton menemukan hukum-hukum yang menjelaskan bagaimana kerja gravitasi dalam situasi
dan kondisi yang kurang-lebih normal. Benda-benda di jagat raya ini tidak benar-benar diam.
Benda-benda tersebut tidak duduk tenang sampai ada gaya yang datang untuk mendorong atau
menariknya, serta kemudian menggelinding dan duduk tenang lagi. Sesungguhnya sebuah benda
yang tak diusik akan melanjutkan gerakannya dalam sebuah garis lurus tanpa mengubah laju
geraknya. Paling baik jika kita membayangkan bahwa semua benda dalam jagat raya ini
bergerak. Kita dapat mengukur lajunya dan arah geraknya dengan membandingkan ia dengan
objek-objek lain, tetapi tidak dapat membandingkannya ke suatu keadaan diam mutlak. Ini
adalah prinsip relativitas.
Misalnya, seandainya bulan satu-satunya benda di angkasa, ia tidak akan diam saja, melainkan
bergerak dalam satu garis lurus tanpa mengubah lajunya. Tentu saja jika bulan satu-satunya
benda di angkasa, tidak ada cara bagi kita (atau pengamat pada umumnya) untuk mengatakan
bahwa bulan bergerak lurus, karena tidak ada benda lain untuk dibandingkan dengan gerakan
bulan. Namun, bulan ternyata tidak sendirian. Sebuah gaya yang dikenal sebagai gravitasi
bekerja terhadap bulan untuk mengubah laju dan arah geraknya. Gaya gravitasi tersebut datang
dari bumi. Bulan berusaha menolak perubahan tersebut, agar ia tetap bergerak menurut garis
lurus. Namun, kekuatannya lebih kecil dari bumi, sehingga ia terpaksa bergerak mengelilingi
bumi. Sementara itu, gravitasi bulan juga mempengaruhi bumi. Hasil yang paling jelas adalah
fenomena pasang-surut pantai.
Newton menyatakan bahwa banyaknya massa yang dimiliki sebuah benda mempengaruhi kuat-
lemahnya tarikan gravitasi antara benda itu dan benda lain. Bila faktor-faktor yang lain tetap
sama, makin besar massa itu, akan makin besar tarikannya. Seandainya massa bumi dua kali
massa sekarang ini, tarikan gravitasinya terhadap bulan pasti juga akan dua kali sekarang ini.
Setiap perubahan massa, baik dari bumi maupun dari bulan, akan mengubah kekuatan gravitasi
diantara mereka. Newton juga menemukan bahwa semakin jauh benda-benda itu terpisah, maka
akan semakin lemah tarikan gravitasi diantara mereka. Jika bulan berada pada jarak dua kali
jaraknya yang sekarang dari bumi, tarikan gravitasi antara bumi dan bulan hanya akan sebesar
seperempat dari tarikan sekarang ini.
Gravitasi Newton adalah sebuah teori yang baik. Selama 200 tahun setelah masa beliau, teori
tersebut tidak perlu diubah. Sekarang kita masih menggunakannya, meskipun sekarang kita tahu
bahwa teori itu tidak berlaku dalam beberapa situasi, umpamanya seperti bila gaya gravitasi
tersebut menjadi sangat kuat, misalnya di dekat lubang hitam, atau bila benda-benda bergerak
dengan laju mendekati kecepatan cahaya.
Pada awal abad 20, Einstein melihat adanya masalah dengan teori Newton. Seperti yang telah
diketahui bahwa kuat gravitasi antara dua benda tergantung dari jarak yang memisahkan mereka.
Jika ini benar, maka seandainya seseorang mengambil matahari dan menggerakkannya lebih jauh
dari bumi, gaya gravitasi antara bumi dan matahari akan berubah dalam sekejap. Mungkinkah
itu? Dalam Relativitas Einstein dikatakan bahwa laju rambat cahaya akan selalu tetap besarnya,
dimanapun Anda berada di jagat raya ini atau bagaimanapun gerak Anda. Berdasar
perhitungannya, Einstein menyimpulkan bahwa tidak ada benda yang mampu bergerak melebihi
kecepatan cahaya, kecuali partikel-patikel yang menyusun cahaya itu sendiri. Cahaya matahari
memerlukan sekitar 8 menit untuk bisa mencapai bumi. Maksudnya, kita selalu melihat matahari
dalam keadaannya pada 8 menit yang lalu. Jadi, jika matahari digerakkan menjauh, kita yang ada
di bumi tidak akan tahu apa yang sedang terjadi dan tidak akan merasakan pengaruh apapun
dalam waktu 8 menit tadi. Selama 8 menit, kita akan terus beredar mengitari matahari, seolah-
olah matahari tidak bergeser. Dengan kata lain, pengaruh gravitasi suatu benda terhadap benda
lain tidak dapat berubah dalam waktu sekejap, karena menurut Einstein gravitasi tidak dapat
bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya. Informasi tentang seberapa jauh matahari digeser
tidak dapat bergerak dalam sekejap melintasi ruang. Informasi itu tidak bisa bergerak dengan
kecepatan melebihi 300.000 kilometer setiap detik.
Implikasi relativistik jelas bahwa bila kita berbicara mengenai benda-benda yang bergerak dalam
jagat raya ini, tidaklah realistis untuk berbicara hanya dalam tiga dimensi ruang. Jika tidak ada
informasi yang dapat merambat lebih cepat dari laju rambat cahaya, benda-benda yang berjarak
sangat jauh tidak ada bagi kita ataupun kita bagi mereka, tanpa suatu faktor waktu. Menjelaskan
alam raya dalam tiga dimensi sama tidak memadainya seperti menggambarkan kubus dalam dua
dimensi. Akan jauh lebih berarti jika kita memasukkan dimensi waktu, dan mengakui bahwa
sebenarnya ada empat dimensi di semesta ini.
Einstein menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencoba mencari suatu teori gravitasi yang
sesuai dengan teori yang telah ditemukannya mengenai cahaya dan gerakan pada kecepatan
mendekati laju rambat cahaya. Pada tahun 1915, ia memperkenalkan Relativitas Umum. Beliau
meminta kita untuk membayangkan gravitasi bukan sebagai gaya yang bekerja diantara benda-
benda dalam bentuk aksi pada jarak, melainkan dalam bentuk kelengkungan ruang-waktu empat
dimensi itu sendiri. Dalam pikirannya, gravitasi adalah geometri jagat raya.
Menurut Einstein, kelengkungan tersebut disebabkan oleh hadirnya massa atau energi. Semua
benda bermassa menyumbang terhadap kelengkungan ruang-waktu. Benda-benda yang berjalan
maju lurus dalam jagat raya akan dipaksa untuk mengikuti lintasan yang melengkung.
Bayangkanlah selembar karpet dengan sebuah bola boling pada permukaannya, yang
menyebabkan lekukan di situ. Cobalah menggelindingkan sebuah bola golf menurut garis lurus
melewati bola boling tersebut. Bola golf tentu akan sedikit mengubah arahnya apabila
menjumpai lekukan yang disebabkan bola boling. Atau mungkin akan lebih dari itu: bola golf
tersebut akan melintas dalam bentuk elips dan menggelinding kembali ke arah Anda. Hal seperti
itu terjadi bila bulan mencoba meneruskan gerakannya yang lurus ketika melewati bumi. Bumi
melengkungkan ruang-waktu seperti bola boling melengkungkan lembaran karpet. Inilah efek
lensa gravitasi.
Anda akan mendapatkan bahwa Einstein menjelaskan gejala yang sama seperti yang dijelaskan
Newton. Bagi Einstein sebuah benda bermassa melengkungkan ruang-waktu, sedangkan bagi
Newton benda bermassa mengeluarkan gaya. Akibatnya, dalam tiap kasus terjadi perubahan arah
gerak dari sebuah benda kedua. Menurut Teori Relativitas Umum, medan gravitasi dan
kelengkungan adalah satu hal yang sama. Jika Anda menghitung lintasan-lintasan planet dalam
tata surya dengan menggunakan teori Newton dan kemudian menghitungnya kembali dengan
menggunakan teori Einstein, Anda akan mendapatkan lintasan yang hampir tepat sama, kecuali
dalam kasus orbit Merkurius. Karena Merkurius merupakan planet yang paling dekat dengan
matahari, maka ia mendapatkan pengaruh yang lebih besar daripada planet-planet yang lain.
Oleh karena itu, teori Einstein meramalkan suatu hasil yang sedikit berbeda dari hasil yang
diramalkan teori Newton. Pengamatan menunjukkan bahwa lintasan Merkurius lebih cocok
dengan ramalan Einstein.
Teori Einstein meramalkan bahwa benda-benda lain di samping bulan-bulan dan planet-planet
dipengaruhi oleh melengkungnya ruang-waktu, bahkan foton juga harus melewati lintasan yang
melengkung. Jika suatu foton berjalan dari suatu bintang yang jauh dan lintasannya dekat dengan
matahari, kelengkungan ruang-waktu di dekat matahari menyebabkan lintasannya akan sedikit
dibelokkan masuk ke arah matahari, tepat seperti lintasan bola golf melengkung ke dalam ke
arah bola boling. Barangkali lintasan cahaya tersebut membengkok sedemikian rupa sehingga
cahaya itu akhirnya menabrak bumi. Matahari terlalu terang sehingga kita tidak dapat melihat
cahaya bintang itu, kecuali ketika pada saat terjadi gerhana matahari. Jika kita melihat foton-
foton dari bintang itu dan tidak menyadari bahwa matahari membengkokkan lintasannya, kita
akan mendapatkan gambaran yang salah mengenai posisi bintang yang sebenarnya. Para
astronom memanfaatkan efek ini untuk mengukur massa benda-benda di luar angkasa dengan
mengukur berapa pembengkokan lintasan cahaya yang berasal dari bintang-bintang yang jauh.
Makin besar massanya, makin besar pula pembengkokannya.*
Gravitasi “Lembaran Karpet” dikembangkan lebih lanjut oleh para kosmolog, terutama Stephen
Hawking, dan menghasilkan gagasan tentang Black Hole dan Big Bang. Namun sayang, gagasan
ini kurang cocok apabila eksistensi nukleoaktivitas diperhitungkan. Bagaimana menyikapi hal
ini?
Sekarang kita tahu bahwa Bimasakti hanyalah satu dari beberapa ratus miliar galaksi yang dapat
dilihat dengan menggunakan teropong modern. Sedangkan setiap galaksi sendiri memiliki
beberapa ratus miliar bintang. Bimasakti mempunyai garis tengah sekitar 100.000 tahun cahaya.
Galaksi ini berputar lambat-lambat, bintang-bintang dalam lengan-lengan spiralnya beredar
mengitari pusat galaksi sekali dalam beberapa ratus juta tahun. Jika gravitasi dibatasi pada
kecepatan cahaya, tentulah ia akan sangat kesulitan menyatukan benda-benda yang ada dalam
ruang-waktu yang demikian besar, Bimasakti misalnya. Sedangkan kita memiliki miliaran
galaksi lain yang harus disatukan semuanya dalam satu sistem.
Mungkinkah gravitasi bukan termasuk jenis interaksi kuantum? Gravitasi haruslah bisa bergerak
lebih cepat dari cahaya, dan mengikat semua benda dalam mahadomain jagat raya. Gravitasi
adalah interaksi gaib ‘aksi pada jarak’ yang tidak mematuhi baik relativitas maupun kuantum.
Gelombang
Pada masa-masa permulaan jagat raya, ruang-waktu hanya diisi gelombang-gelombang tak
hingga. Polarisasi, superposisi, dan interferensi yang terjadi pada suatu titik, menyebabkan
terjadi konsentrasi gelombang yang lebih tinggi dari sekitarnya. Spot gelombang itu setiap saat
menyerap gelombang-gelombang lain yang ada di sekitarnya terus-menerus, sehingga
terbentuklah nukleoaktivitas. Karena nukleoaktivitas memiliki kecenderungan menarik material
gelombang di sekitarnya, maka ia pun akan menyapu luas daerah dengan radius yang sesuai
dengan kekuatan inti. Apabila suatu nukleoaktivitas memasuki wilayah nukleoaktivitas lain,
maka akan terjadi persaingan, sehingga akan terjadi semacam aksi pada jarak. Aksi pada jarak
mungkin bisa disebut gaya osmotik, dan gaya inilah yang kemudian dipopulerkan Newton
dengan nama gravitasi. Inilah gaya primordial yang mula-mula terbentuk.
Listrik dan magnet telah dilebur oleh Maxwell menjadi elektromagnetisme. Dan bahkan,
perkembangan fisika paling mutakhir telah berhasil menyatukan elektromagnetisme ini dengan
gaya lemah dan gaya kuat. Elektromagnetisme, gaya lemah, dan gaya kuat adalah interaksi
kuantum yang sama dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Gravitasi satu-satunya interaksi yang
tidak bisa disatukan. Kalaupun nanti kita bisa menyatukannya, tentu bukan dalam wadah Teori
Kuantum atau Teori Relativitas, karena gravitasi benar-benar berbeda dengan mereka.
Jadi, sekarang fisikawan harus mulai terbiasa dengan gravitasi yang bukan sebagai kelengkungan
ruang-waktu, bukan sebagai gaya yang dibawa agen kuantum bernama graviton, dan bukan pula
sebagai gaya tanpa agen perantara. Gravitasi adalah interaksi gaib yang dibawa gelombang-
gelombang yang mampu bergerak tak hingga (tidak memerlukan waktu) yang melekatkan setiap
bagian jagat dari satu ujung sampai ujung yang lain. Dan terakhir, perlu saya kemukakan, ini
hanyalah usul yang mungkin perlu dipertimbangkan para fisikawan.

Medan Gravitasi 298


Fisika Kelas 2 > Medan Gravitasi Dan Medan Listrik

< Sebelum Sesudah >

Setiap benda yang bermassa selalu memiliki medan gravitasi di sekelilingnya. Akibatnya
due buah benda yang masing-masing memiliki medan gravitasi akan mengalami gaya
tarik menarik satu sama lain.

Besarnya GAYA TARIK MENARIK ini oleh Newton dirumuskan sebagai :

F1 = F2 = G Mm/R²

G = tetapan gravitasi
= 6,67.10E-11 Nm²/kg²

R = jarak antara pusat benda


M,m = massa kedua benda

KUAT MEDAN GRAVITASI (g) adalah gaya gravitasi per satuan massa.

g = F/m = G M/R²

Kuat medan gravitasi selalu diukur dari pusat massa benda ke suatu titik yang ditinjau.

ENERGI POTENSIAL GRAVITASI (Ep) dinyatakan sebagai :


R2

EP = ∫ Fdr = -G Mm/R
R1

POTENSIAL GRAVITASI (V) dinyatakan sebagai :

V = Ep/m = -G M/R
Catatan:

- Kuat medan gravitasi g (N/kg) merupakan besaran vektor.


- Energi potensial gravitasi Ep (joule) dan potensial gravitasi V
merupakan besaran skalar.

Contoh 1 :
Sebuah satelit mengorbit pada ketinggian h dari permukaan bumi yang berjari-jari R
dengan kecepatan v. Bila percepatan gravitasi di bumi g, make tentukan besar
percepatan gravitasi pada ketinggian h !

Percepatan gravitasi pada permukaan bumi : g = G M/R²

Pada ketinggian h dari permukaan bumi : g' = G M = g R²


(R+h)² (R+h)²

Contoh 2 :
Sebuah bola dengan massa 40 kg ditarik oleh bola kedua dengan massa 80 kg.Jika
pusat-pusatnya berjarak 30 cm dan gaya yang bekerja sama dengan berat benda
bermassa 0,25 mgram, hitung tetapan gravitasi G !

F=G m1 m2
R2

G = F. R2
m1 m2

= 900. 9,8. 10E-10


4. 3200
= ¼ × 10E-6 (30 × 10E-2)² × 9,8
40. 80

= 6,98.10E-11 Nm²/kg² (SI)

Contoh 3 :
Dengan kecepatan berapakah sebuah satelit yang berada pada ketinggian 2 R dari
permukaan bumi harus mengorbit, supaya dapat mengimbangi gaya tarik bumi ?

Jawab :
Pada ketinggian 2 R dari permukaan bumi berarti
r = 2R + R = 3R.

m v²/r = mg ....................... (1)


g = G M ......................... (2)
(3R)²

Dengan memasukkan persamaan (2) ke (1) diperoleh:

V² = G M ⇒ V² = GM , maka V = √( GM/3R)
3R (3R)² 3R (3R)²

Hukum Newton Tentang Gravitasi


• Monday Sep 15,2008 04:19 PM
• By san
• In Dinamika
Pengantar
Pada pembahasan mengenai pokok bahasan kinematika (gerak lurus dan gerak bengkok, kita
telah menyinggung mengenai Gravitasi. Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari Gravitasi
secara lebih mendalam.
Mengapa buah mangga yang lezat dan bergizi yang terlepas dari tangkainya selalu jatuh ke
permukaan bumi ? ayo dijawab…
Selain mengembangkan tiga hukum tentang Gerak (Hukum I Newton, Hukum II Newton dan
Hukum III Newton), eyang Newton juga menyelidiki gerakan planet-planet dan bulan. Ia selalu
bertanya mengapa bulan selalu berada dalam orbitnya yang hampir berupa lingkaran ketika
mengitari bumi. Selain itu, ia juga selalu mempersoalkan mengapa benda-benda selalu jatuh
menuju permukaan bumi. Wililiam Stukeley, teman eyang Newton ketika masih muda, menulis
bahwa ketika mereka sedang duduk minum teh di bawah pohoh apel, eyang Newton yang waktu
itu masih muda dan cakep, melihat sebuah apel jatuh dari pohonnya. Dikatakan bahwa eyang
Newton mendapat ilham dari jatuhnya buah apel. Menurutnya, jika gravitasi bekerja di puncak
pohon apel, bahkan di puncak gunung, maka mungkin saja gravitasi bekerja sampai ke bulan.
Dengan penalaran bahwa gravitasi bumi yang menahan bulan pada orbitnya, eyang Newton
mengembangkan teori gravitasi yang sekarang diwariskan kepada kita.
Perlu diketahui bahwa persoalan yang dipikirkan eyang Newton ini telah ada sejak zaman yunani
kuno. Ada dua persoalan dasar yang telah diselidiki oleh orang yunani, jauh sebelum eyang
Newton lahir. Persoalan yang selalu dipertanyakan adalah mengapa benda-benda selalu jatuh ke
permukaan bumi dan bagaimana gerakan planet-planet, termasuk matahari dan bulan (matahari
dan bulan pada waktu itu digolongkan menjadi planet-planet). Orang-orang Yunani pada waktu
itu melihat kedua persoalan di atas (benda yang jatuh dan gerakan planet) sebagai dua hal yang
berbeda. Demikian hal itu berlanjut hingga zaman eyang Newton. Jadi apa yang dihasilkan oleh
eyang dibangun di atas hasil karya orang-orang sebelum dirinya. Yang membedakan eyang
Newton dan orang-orang sebelumnya adalah bahwa eyang memandang kedua persoalan dasar di
atas (gerak jatuh benda dan gerakan planet) disebabkan oleh satu hal saja dan pasti mematuhi
hukum yang sama. Pada abad ke-17, eyang menemukan bahwa ada interaksi yang sama yang
menjadi penyebab jatuhnya buah apel dari pohon dan membuat planet tetap berada pada orbitnya
ketika mengelilingi matahari. Demikian juga bulan, satu-satunya satelit alam kesayangan bumi
tetap berada pada orbitnya.
Mari kita belajar hukum dasar cetusan eyang Newton yang kini diwariskan kepada kita. Hukum
dasar inilah yang menentukan interaksi gravitasi. Ingat bahwa hukum ini bersifat universal alias
umum; gravitasi bekerja dengan cara yang sama, baik antara diri kita dengan bumi, antara bumi
dengan buah mangga yang lezat ketika jatuh, antara bumi dengan pesawat yang jatuh ,

antara planet dengan satelit dan antara matahari dengan planet-planetnya dalam sistem tatasurya.
Oya lupa….
Tahukah anda, bahkan gagasan eyang Newton mengenai gravitasi pada mulanya dibantai
habisan-habisan oleh banyak ilmuwan yang bertentangan dengan gagasannya ? Pada waktu itu,
banyak ilmuwan yang mungkin saking kebingungan sulit menerima gagasan eyang Newton
mengenai gaya gravitasi. Gaya gravitasi termasuk gaya tak sentuh, di mana bekerja antara dua
benda yang berjauhan alias tidak ada kontak antara benda-benda tersebut. Gaya-gaya yang
umumnya dikenal adalah gaya-gaya yang bekerja karena adanya kontak; gerobak sampah
bergerak karena kita memberikan gaya dorong, bola bergerak karena ditendang, sedangkan
gravitasi, bisa bekerja tanpa sentuhan ? aneh… eyang Newton mengatakan kepada mereka
bahwa ketika apel jatuh, bumi memberikan gaya kepadanya sehingga apel tersebut jatuh,
demikian juga bumi mempertahankan bulan tetap pada orbitnya dengan gaya gravitasi, meskipun
tidak ada kontak dan letak bumi dan bulan berjauhan. Akhirnya, perlahan-lahan sambil
bersungut-sungut mereka mulai merestui dan mendukung dengan penuh semangat Hukum
Gravitasi yang dicetuskan oleh Eyang Newton

HUKUM GRAVITASI NEWTON


Sebelum mencetuskan Hukum Gravitasi Universal, eyang Newton telah melakukan perhitungan
untuk menentukan besar gaya gravitasi yang diberikan bumi pada bulan sebagaimana besar gaya
gravitasi bumi yang bekerja pada benda-benda di permukaan bumi. Sebagaimana yang kita
ketahui, besar percepatan gravitasi di bumi adalah 9,8 m/s2. Jika gaya gravitasi bumi
mempercepat benda di bumi dengan percepatan 9,8 m/s2, berapakah percepatan di bulan ? karena
bulan bergerak melingkar beraturan (gerakan melingkar bulan hampir beraturan), maka
percepatan sentripetal bulan dihitung menggunakan rumus percepatan sentripetal Gerak
melingkar beraturan.

< ![endif]-->
Diketahui orbit bulan yang hampir bulat mempunyai jari-jari sekitar 384.000 km dan periode
(waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu putaran) adalah 27,3 hari. Dengan demikian,
percepatan bulan terhadap bumi adalah

< ![endif]-->
Jadi percepatan gravitasi bulan terhadap bumi 3600 kali lebih kecil dibandingkan dengan
percepatan gravitasi bumi terhadap benda-benda di permukaan bumi. Bulan berjarak 384.000 km
dari bumi. Jarak bulan dengan bumi ini sama dengan 60 kali jari-jari bumi (jari-jari bumi =
6380 km). Jika jarak bulan dari bumi (60 kali jari-jari bumi) dikuadratkan, maka hasilnya sama
dengan 3600 (60 x 60 = 602 = 3600). Angka 3600 yang diperoleh dengan mengkuadratkan 60
hasilnya sama dengan Percepatan bulan terhadap bumi, sebagaimana hasil yang diperoleh
melalui perhitungan.
Berdasarkan perhitungan ini, eyang newton menyimpulkan bahwa besar gaya gravitasi yang
diberikan oleh bumi pada setiap benda semakin berkurang terhadap kuadrat jaraknya (r) dari
pusat bumi. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :

< ![endif]-->
Selain faktor jarak, Eyang Newton juga menyadari bahwa gaya gravitasi juga bergantung pada
massa benda. Pada Hukum III Newton kita belajar bahwa jika ada gaya aksi maka ada gaya
reaksi. Ketika bumi memberikan gaya aksi berupa gaya gravitasi kepada benda lain, maka benda
tersebut memberikan gaya reaksi yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap bumi. Karena
besarnya gaya aksi dan reaksi sama, maka besar gaya gravitasi juga harus sebanding dengan
massa dua benda yang berinteraksi. Berdasarkan penalaran ini, eyang Newton menyatakan
hubungan antara massa dan gaya gravitasi. Secara matematis ditulis sbb :

< ![endif]-->
MB adalah massa bumi, Mb adalah massa benda lain dan r adalah jarak antara pusat bumi dan
pusat benda lain.
Setelah membuat penalaran mengenai hubungan antara besar gaya gravitasi dengan massa dan
jarak, eyang Newton membuat penalaran baru berkaitan dengan gerakan planet yang selalu
berada pada orbitnya ketika mengitari matahari. Eyang menyatakan bahwa jika planet-planet
selalu berada pada orbitnya, maka pasti ada gaya gravitasi yang bekerja antara matahari dan
planet serta gaya gravitasi antara planet, sehingga benda langit tersebut tetap berada pada
orbitnya masing-masing. Luar biasa pemikiran eyang Newton ini. Tidak puas dengan
penalarannya di atas, ia menyatakan bahwa jika gaya gravitasi bekerja antara bumi dan benda-
benda di permukaan bumi, serta antara matahari dan planet-planet maka mengapa gaya gravitasi
tidak bekerja pada semua benda ?
Akhirnya, setelah bertele-tele dan terseok-seok, kita tiba pada inti pembahasan panjang lebar ini.
Eyang Newton pun mencetuskan Hukum Gravitasi Universal dan mengumumkannya pada tahun
1687, hukum yang sangat terkenal dan berlaku baik di indonesia, amerika atau afrika bahkan di
seluruh penjuru alam semesta. Hukum gravitasi Universal itu berbunyi demikian :
Semua benda di alam semesta menarik semua benda lain dengan gaya sebanding dengan hasil
kali massa benda-benda tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara benda-
benda tersebut.
Secara matematis, besar gaya gravitasi antara partikel dapat ditulis sbb :

< ![endif]-->
Fg adalah besar gaya gravitasi pada salah satu partikel, m1 dan m2 adalah massa kedua partikel, r
adalah jarak antara kedua partikel.
G adalah konstanta universal yang diperoleh dari hasil pengukuran secara eksperimen. 100 tahun
setelah eyang Newton mencetuskan hukum Gravitasi Universal, pada tahun 1978, Henry
Cavendish berhasil mengukur gaya yang sangat kecil antara dua benda, mirip seperti dua bola.
Melalui pengukuran tersebut, Henry membuktikan dengan sangat tepat persamaan Hukum
Gravitasi Universal di atas. Perbaikan penting dibuat oleh Poyting dan Boys pada abad
kesembilan belas. Nilai G yang diakui sekarang = 6,67 x 10-11 Nm2/kg2
Contoh soal 1 :
Seorang guru fisika sedang duduk di depan kelas dan seorang murid sedang duduk di bagian
belakang ruangan kelas. Massa guru tersebut adalah 60 kg dan massa siswa 70 kg (siswa
gendut). Jika pusat mereka (yang dimakudkan di sini bukan pusat yang terletak di depan perut
manusia) berjarak 10 meter, berapa besar gaya gravitasi yang diberikan oleh guru dan murid satu
sama lain ?
Panduan jawaban :
Gampang, tinggal dimasukkan aja nilai-nilai telah diketahui ke dalam persamaan Hukum
Newton tentang Gravitasi

< ![endif]-->
Ya, gayanya sangat kecil…
Contoh soal 2 :
Diketahui massa bulan 7,35 x 1022 kg, massa bumi 5,98 x 1024 kg dan massa matahari adalah 1,99
x 1030 kg. Hitunglah gaya total di bulan yang disebabkan oleh gaya gravitasi bumi dan matahari.
Anggap saja posisi bulan, bumi dan matahari membentuk segitiga siku-siku. Oya, jarak bumi-
bulan 3,84 x 108 m dan jarak matahari-bulan 1,50 x 108 km (1,50 x 1011 m).

< ![endif]-->
Keterangan Gambar :
b = bulan, B = bumi dan M = matahari
Panduan jawaban :
Gaya total yang bekerja pada bulan akibat gravitasi matahari dan bumi kita hitung menggunakan
vektor. Sebelumnya, terlebih dahulu kita hitung besar gaya gravitasi antara bumi-bulan dan
matahari-bulan.
Besar gaya gravitasi antara bumi-bulan :

< ![endif]-->
Besar gaya gravitasi antara matahari-bulan.
< ![endif]-->

Besar gaya total yang dialami bulan dapat dihitung sebagai berikut :

< ![endif]-->
Gaya total yang dimaksud di sini tidak sama dengan gaya total pada Hukum II Newton. Hukum
gravitasi berbeda dengan Hukum II Newton. Hukum Gravitasi menjelaskan gaya gravitasi dan
besarnya yang selalu berbeda tergantung dari jarak dan massa benda yang terlibat. Hukum II
Newton menghubungkan gaya total yang bekerja pada sebuah benda dengan massa dan
percepatan benda tersebut. Dipahami ya perbedaannya….
Kuat Medan Gravitasi dan Percepatan Gravitasi
Pada pembahasan mengenai Hukum Newton tentang Gravitasi, kita telah meninjau gaya
gravitasi sebagai interaksi gaya antara dua atau lebih partikel bermassa. Partikel-partikel tersebut
dapat saling berinteraksi walaupun tidak bersentuhan. Pandangan lain mengenai gravitasi adalah
konsep medan, di mana sebuah benda bermassa mengubah ruang di sekitarnya dan menimbulkan
medan gravitasi. Medan ini bekerja pada semua partikel bermassa yang berada di dalam medan
tersebut dengan menimbulkan gaya tarik gravitasi. Jika sebuah benda berada di dekat bumi,
maka terdapat sebuah gaya yang dikerjakan pada benda tersebut. Gaya ini mempunyai besar dan
arah di setiap titik pada ruang di sekitar bumi. Arahnya menuju pusat bumi dan besarnya adalah
mg.
Jadi jika sebuah benda terletak di setiap titik di dekat bumi, maka pada benda tersebut bekerja
sebuah vektor g yang sama dengan percepatan yang akan dialami apabila benda itu dilepaskan.
Vektor g tersebut dinamakan kekuatan medan gravitasi. Secara matematis, besar g dinyatakan
sebagai berikut :

< ![endif]-->
Berdasarkan persamaan di atas, kita dapat mengatakan bahwa kekuatan medan gravitasi di setiap
titik merupakan gaya gravitasi yang bekerja pada setiap satuan massa di titik tersebut.
Gravitasi di Sekitar Permukaan Bumi
Pada awal tulisan ini, kita telah mempelajari Hukum gravitasi Newton dan menurunkan
persamaan gravitasi Universal. Sekarang kita mencoba menerapkannya pada gaya gravitasi
antara bumi dan benda-benda yang terletak di permukaannya. Kita tulis kembali persamaan
gravitasi universal untuk membantu kita dalam menganalisis :
< ![endif]-->

Untuk persoalan gravitasi yang bekerja antara bumi dan benda-benda yang terletak di permukaan
bumi, m1 pada persamaan di atas adalah massa bumi (mB), m2 adalah massa benda (m), dan r
adalah jarak benda dari permukaan bumi, yang merupakan jari-jari bumi (rB). Gaya gravitasi
yang bekerja pada bumi merupakan berat benda, mg. Dengan demikian, persamaan di atas kita
ubah menjadi :

< ![endif]-->
Berdasarkan persamaan ini, dapat diketahui bahwa percepatan gravitasi pada permukaan bumi
alias g ditentukan oleh massa bumi (mB) dan jari-jari bumi (rB)

G dan g merupkan dua hal yang berbeda. g adalah percepatan gravitasi, sedangkan G adalah
konstanta universal yang diperoleh dari hasil pengukuran. Setelah G ditemukan, manusia baru
bisa mengetahui massa bumi lewat perhitungan menggunakan persamaan ini. Hal ini bisa
dilakukan karena telah diketahui konstanta universal, percepatan gravitasi dan jari-jari bumi.
< ![endif]-->
Ini adalah persamaan percepatan gravitasi efektiv. Jika ditanyakan percepatan gravitasi pada
ketinggian tertentu di dekat permukaan bumi, maka kita dapat menggunakan persamaan ini. Jika
kita menghitung berat benda yang terletak di permukaan bumi, kita menggunakan mg.