Anda di halaman 1dari 14

PEDOMAN PENYUSUNAN

INDIKASI DAYA DUKUNG DAYA TAMPUNG (DDDT) BERBASIS INDEKS


JASA EKOSISTEM

1. Instrumen Penyusunan DDDT


Instrumen yang digunakan dalam penyusunan peta daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup berbasis jasa ekosistem antara lain.
1. Peta Ekoregion skala 1:250.000, yang dikeluarkan Ditjen Planologi Kehutanan
dan Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan cq
Direktorat PDLKWS Tahun 2014 yang sudah diverifikasi Badan Informasi
Geospasial (BIG). Untuk penyusunan peta daya dukung daya tampung
lingkungan hidup berbasis jasa ekosistem tingkat kabupaten/kota harus
menyusun peta ekoregion dengan mengikuti skala penyusunan peta Rencana
Tata

Ruang

tingkat

Kota

yakni

skala

1:25.000

(Permen

NOMOR

17/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah


Kota) dan Kabupaten yakni skala 1:50.000 (Permen NOMOR : 16/PRT/M/2009
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten)
karena penyusunan Daya Dukung Daya Tampung merupakan bagian yang
harus terpenuhi dalam penyusunan Rencana Tata Ruang seperti yang diatur
dalam PP No. 5 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
2. Peta Penutup Lahan skala 1:250.000 Tahun 2014 yang dikeluarkan Ditjen
Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan cq Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Wilayah IX Maluku dan telah diverifikasi Badan Informasi Geospasial
(BIG). Untuk penyusunan peta daya dukung daya tampung lingkungan hidup
berbasis jasa ekosistem tingkat kabupaten/kota harus menyusun peta
penutupan lahan dengan mengikuti skala penyusunan peta Rencana Tata
Ruang tingkat Kota yakni skala 1:25.000 (Permen NOMOR : 17/PRT/M/2009
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota) dan
Kabupaten yakni skala 1:50.000 (Permen NOMOR : 16/PRT/M/2009 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten)

karena

penyusunan Daya Dukung Daya Tampung merupakan bagian yang harus


terpenuhi dalam penyusunan Rencana Tata Ruang seperti yang diatur dalam
PP No. 5 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.

3. Kuesioner atau daftar pertanyaan yang diajukan kepada pakar tentang


kontribusi atau peran ekoregion dan penutup lahan terhadap jasa ekosistem
menggunakan metode skoring.
4. Komputer dengan software GIS untuk melakukan pengolahan dan analisis
data spasial daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup berbasis jasa
ekosistem.
5. Matriks Pairwise Comparison yang dibuat menggunakan software Microsoft
Excel untuk melakukan proses pengolahan data hasil kuesioner pakar agar
menghasilkan koefisien ekoregion, koefisien tutupan lahan dan koefisien jasa
ekosistem.
6. Data-data sekunder sektoral lainnya, baik tabular maupun spasial yang
memiliki relevansi dengan jenis jasa ekosistem.

2. Tahapan Penyusunana DDDT


Analisis data terdiri atas pembobotan jasa ekosistem dengan metode
pairwise

comparison

dan

perhitungan

indeks

daya

dukung

daya

tampung

lingkungan hidup berbasis jasa ekosistem. Adapun jasa ekosistem yang dimaksud,
antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Jasa
Jasa
Jasa
Jasa
Jasa
Jasa
Jasa
Jasa
Jasa

Ekosistem
Ekosistem
Ekosistem
Ekosistem
Ekosistem
Ekosistem
Ekosistem
Ekosistem
Ekosistem

Penyediaan Bahan Pangan


Penyediaan Air Bersih
Penyediaan Serat (Fiber)
Pengaturan Iklim
Pengaturan Tata Aliran dan Banjir
Pengaturan Pencegahan dan Perlindungan dari Bencana Alam
Pengaturan Pemurnian Air
Pengaturan Pemeliharaan Kualitas Udara
Pendukung Pembentukan Lapisan Tanah dan Pemeliharaan

j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.

Kesuburan
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem
Jasa Ekosistem

Pendukung Siklus Hara


Pendukung Produksi Primer
Pendukung Biodiversitas (Perlindungan Plasma Nutfah)
Penyediaan Bahan Pangan
Penyediaan Air Bersih
Penyediaan Serat (Fiber)
Pengaturan Iklim
Pengaturan Tata Aliran dan Banjir
Pengaturan Pencegahan dan Perlindungan dari Bencana Alam
Pengaturan Pemurnian Air
Pengaturan Pemeliharaan Kualitas Udara

Kedua puluh jenis jasa ekosistem tersebut kemudian saling dibandingkan


tingkat kepentingannya terhadap tiap kelas ekoregion dan penutup lahan. Data
yang

digunakan

untuk

perhitungan

bobot

menggunakan

metode

Pairwise

Comparison ini diperoleh dari hasil pengisian kuisioner oleh beberapa pakar yang
terkait dengan kegiatan penentuan nilai bobot jasa ekosistem terhadap ekoregion
dan penutup lahan. Untuk penilaian ekoregion menggunakan pakar dalam bidang
Geomorfologi (bentang lahan) yang telah

ditetapkan secara Nasional oleh

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan berasal dari beberapa institusi
Perguruan Tinggi. Untuk penilaian tutupan lahan menggunakan pakar dari Lembaga
Penelitian atau Universitas setiap wilayah kajian dengan latar belakang keilmuan
Kehutanan, Pertanian dan Lingkungan.
Kuisioner yang disebarkan ini berisikan tabel-tabel yang menggambarkan
perbandingan skala penilaian jasa ekosistem terhadap setiap kelas penutup lahan
dan ekoregion. Tabel berikut memperlihatkan contoh bentuk kuisioner yang
digunakan untuk penilaian terhadap ekoregion dan penutup lahan.
Tabel 1. Kuisioner Penilaian Jasa Ekosistem terhadap Ekoregion

N
o

Bentuk
Lahan
(Asal
Proses)

Morfologi

T
P
0

Vulkanik (V)

Struktural (S)

Kerucut & Lereng


Gunungapi
Kaki Gunungapi
Dataran Kaki
Gunungapi
Lembah antar
Perbukitan/
Pegunungan
patahan (Terban)
Lembah antar
perbukitan/Pegunu
ngan Lipatan
(Intermountain
Basin)
Perbukitan Patahan
Perbukitan Lipatan
Pegunungan
Patahan

Skala Penilaian terhadap Jasa


Ekosistem
Sang
Sang
Seda
at
at
Kecil
Besar
ng
Besa
Kecil
r
1
1 2 3 4 5 6 7 8 9
0

N
o

Bentuk
Lahan
(Asal
Proses)

Morfologi

T
P
0

Fluvial (F)

Solusional (S)

Denudasional
(D)

6
7

Aeolian (E)
Marin (M)

8
9

Glasial (G)
Organik (O)

Skala Penilaian terhadap Jasa


Ekosistem
Sang
Sang
Seda
at
at
Kecil
Besar
ng
Besa
Kecil
r
1
1 2 3 4 5 6 7 8 9
0

Pegunungan
Lipatan
Dataran Fluvio
Gunungapi
Dataran Aluvial
Dataran
Fluviomarin
Lembah antar
Perbukitan /
Pegunungan
Solusional
Perbukitan
Solusional
Pegunungan
Solusional
Lembah antar
Perbukitan
/Pegunungan
Denudasional
Lerengkaki
Perbukitan/
Pegunungan
Denudasional
Perbukitan
Denudasional
Pegunungan
Denudasional
Gumuk Pasir
Pantai (Shore)
Pesisir (Coast)
Pegunungan
Glasial
Lahan Gambut
(Peat Land)
Rataan Terumbu
(Reef flat)

Antropogenik (

10 A)
Dataran Reklamasi
Keterangan: (TP) Tidak memiliki peranan/pengaruh

Tabel 2. Kuisioner Penilaian Jasa Ekosistem terhadap Penutup Lahan

No

Penutup Lahan

T
P
0

Skala Penilaian terhadap Jasa


Ekosistem
Sang
Sang
Seda
at
Kecil
Besar
at
ng
Kecil
Besar
1
1 2 3 4 5 6 7 8 9
0

1
2
3
4

Sawah Irigasi
Sawah Tadah Hujan
Sawah Pasang Surut
Ladang, Tegal atau Huma
Kebun dan Tanaman Campuran
5
(Tahunan dan Semusim)
6 Hutan Lahan Basah
7 Hutan Lahan Kering
8 Hutan Mangrove
9 Hutan Rawa/Gambut
10 Hutan Tanaman Industri
11 Semak dan Belukar
Sabana, Padang Rumput dan
12
Alang-Alang
13 Bangunan, Pemukiman/Campuran
Bangunan Bukan Pemukiman
14
(Pedagang/Bisnis)
15 Bangunan Industri
16 Lahan Terbangun (Insfrastruktur)
17 Lahan Terbuka
18 Perkebunan
19 Perkebunan Campuran
20 Pertambangan
21 Waduk/Danau/Telaga
22 Tambak Ikan/Garam
23 Rawa Pesisir
24 Rawa Pedalaman
25 Kolam Air Asin/Payau
26 Sungai
Keterangan: (TP) Tidak memiliki peranan/pengaruh
Pengisian

kuisioner

dilakukan

berdasarkan

teori

dan

pengetahuan,

pengamatan, dan pengalaman yang dimiliki oleh pengisi kuisioner terhadap kondisi
faktual. Mengingat keragaman fenomena bentang lahan dan penutup lahan di
wilayah pengamatan, maka dilakukan prinsip generalisasi sesuai dengan kedalaman
skala pengamatan. Proses transformasi data dari bentang lahan dan penutup lahan

menjadi nilai jasa ekosistem dilakukan dengan menjawab sejumlah pertanyaan


tentang kepentingan dan peran bentang lahan dan penutup lahan terhadap besar
kecilnya nilai jasa ekosistem. Prinsipnya adalah perbandingan tingkat kepentingan
atau peran jenis-jenis bentang lahan dan penutup lahan terhadap jenis-jenis jasa
ekosistem (prinsip relativitas). Tingkat kepentingan diukur dengan skala likert oleh
pakar yang kompeten. Skala likert yang digunakan yaitu sebagai berikut.

Tabel 3. Klasifikasi skala Likert terhadap Peran Komponen Jasa Ekosistem


Skala

Klasifikasi

Tidak
Berhubungan

1-2

Sangat Rendah

3-4

Rendah

5-6

Cukup Tinggi

7-8

Tinggi

9-10

Sangat Tinggi

Keterangan
Jenis penutup lahan atau ekoregion TIDAK MEMILIKI
KEPENTINGAN ATAU PERANAN terhadap penyediaan
jasa ekosistem tertentu
Kepentingan atau peranan jenis penutup lahan atau
ekoregion tersebut terhadap penyediaan jasa ekosistem
tertentu tergolong SANGAT RENDAH
Kepentingan atau peranan jenis penutup lahan atau
ekoregion tersebut terhadap penyediaan jasa ekosistem
tertentu tergolong RENDAH
Kepentingan atau peranan jenis penutup lahan atau
ekoregion tersebut terhadap penyediaan jasa ekosistem
tertentu tergolong CUKUP TINGGI
Kepentingan atau peranan jenis penutup lahan atau
ekoregion tersebut terhadap penyediaan jasa ekosistem
tertentu tergolong TINGGI
Kepentingan atau peranan jenis penutup lahan atau
ekoregion tersebut terhadap penyediaan jasa ekosistem
tertentu tergolong SANGAT TINGGI

Setelah dilakukan pengisian kuisioner oleh para pakar, selanjutnya dilakukan


perhitungan bobot untuk setiap jasa ekosistem pada dua komponen penentuan
daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Terdapat beberapa prosedur
dalam proses perhitungan hasil kuisioner dengan menggunakan metode Pairwise
Comparison, yaitu:
a. Membangun matriks pairwise comparison untuk setiap jenis jasa ekosistem
b. Menghitung nilai rata-rata setiap baris matriks untuk mendapatkan tingkat
kecocokan
c. Normalisasi matriks pairwise comparison

d. Menghitung dan mengecek rasio konsistensi atau consistency ratio (CR)


e. Menghitung indeks jasa ekosistem daya dukung daya tampung lingkungan
hidup
Dalam pembuatan matriks, klasifikasi penutup lahan dan ekoregion dibuat
kodefikasinya untuk mempermudah perhitungan.

a. Membangun Matriks Pairwise Comparison


Matriks pairwise comparison merupakan matriks dari metode

Analytic

Hierarchy Process (AHP) yang dimaksudkan untuk menghasilkan bobot relatif antar
kriteria maupun alternatif. Matriks pairwise comparison dibuat dengan cara
membuat selisih hasil penilaian pakar dengan memasukkan nilai pakar pada matriks
diagonal atas (upper triangular matriks) dan matriks diagonal bawah (lower
triangular matrix). Adapun aturan untuk mengisi matriks diagonal dapat dilihat pada
Gambar 1.

Sumber: Penilaian Pakar Jasa Ekosistem Air Bersih


di Kepulauan Kei dan Kepulauan Aru

Gambar 1. Penyusunan Matriks Hasil Penilaian Pakar

Kemudian menyusun matriks selisih hasil penilaian pakar dengan dengan


cara mengurangkan nilai pakar pada matriks diagonal bawah dengan matriks
diagonal atas. Adapun aturan perhitungannya dapat dilihat pada Gambar 2.

B diagonal bawah G
diagonal atas

Gambar 2. Matriks Selisih Hasil Penilaian Pakar

Tahapan selanjutnya adalah membuat matriks Pairwise Comparison dari hasil


matriks selisih penilaian pakar. Matriks pairwise comparison ini dibuat satu per satu
berdasarkan jumlah pakar yang digunakan, sehingga matriks ini akan menghasilkan
nilai koefisien penilaian per pakar. Adapun perhitungan matriks perbandingan atau
pairwise comparison setiap pakar dapat dilihat pada Gambar 3.

=IF(A1>-1; A1+1; IF(A1<0;1/


(ABS(A1) +1)))

Gambar 3. Pembuatan Matriks Perbandingan (Pairwise Comparison)

b. Menghitung Nilai Rata-Rata Baris Matriks Gabungan


Matriks pairwise comparison dibuat untuk setiap pakar dan setiap jasa
ekosistem yang digunakan. Kemudian untuk keperluan perhitungan nilai indeks tiap
jasa ekosistem, dilakukan perhitungan rata-rata geometrik (geometric mean) dari
matriks-matriks semua pakar pada jasa ekosistem yang dihitung. Rata-rata
geometrik adalah rata-rata yang menunjukkan tendensi sentral atau nilai khas dari
sebuah himpunan bilangan dengan menggunakan produk dari nilai-nilai mereka.

Sebagai contoh (4 pakar adalah A, B, C dan D dengan masing-masing matriks-nya)


maka matriks gabungannya adalah.
a. Untuk cell matriks 1,1 berisi = geomean (B2,E2,B6,E6)
b. Untuk cell matriks 1,2 berisi = geomean (C2,F2,C6,F6) dst.

Gambar 4. Matriks Geometric Mean

c.

Normalisasi Matriks Pairwise Comparison


Normalisasi matriks dilakukan dengan menjumlahkan nilai-nilai di setiap

kolom. Setiap nilai pada matriks kemudian dibagi dengan hasil penjumlahan di
kolom masing-masing untuk mendapatkan nilai bobot normal. Jumlah dari setiap
kolom yang sudah dinormalisasi adalah 1. Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 5 yang
merupakan hasil normalisasi matriks pairwise comparison berikut.

Gambar 5. Matriks Hasil Normalisasi

d. Menghitung Bobot Jasa Ekosistem dan Mengecek Nilai Consistency


Ratio
Perhitungan nilai bobot untuk jasa ekosistem terhadap setiap kelas penutup
lahan dan ekoregion dilakukan dengan menjumlahkan nilai di setiap baris. Nilai total
yang didapat menjadi nilai bobot dari jasa ekosistem tersebut terhadap masingmasing kelas ekoregion atau penutup lahan.

Gambar 6. Perhitungan Nilai Bobot Jasa Ekosistem

Hasil

perhitungan

nilai

bobot

kemudian

dicek

dan

dihitung

rasio

konsistensinya. Tujuan dari proses ini yaitu untuk memastikan penilaian yang
dilakukan para pakar konsisten. Terdapat 3 langkah dalam menghitung consistency
ratio, yaitu:
a. Menghitung consistency measurement.
b. Menghitung consistency index (CI).
c. Menghitung consistency ratio (CR) dengan cara CI/RI (dimana RI adalah indeks
acak yang telah ditetapkan sesuai jumlah kelas yang digunakan, seperti yang
disajikan pada Tabel 4 berikut).
Tabel 4. Nilai Random Indeks
Class
1
2
3
4

RI Value
0
0
0.5245
0.8815

Class
21
22
23
24

RI Value
1.6409
1.6470
1.6526
1.6577

Class
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

RI Value
1.1086
1.2479
1.3417
1.4056
1.4499
1.4854
1.5141
1.5365
1.5551
1.5713
1.5838
1.5978
1.6086
1.6181
1.6265
1.6341

Class
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

RI Value
1.6624
1.6624
1.6706
1.6743
1.6777
1.6809
1.6839
1.6867
1.6893
1.6917
1.6940
1.6962
1.6982
1.7002
1.7020

Sumber: Alonso, Jos Antonio. (2006). Consistency in The Analytic Hierarchy


Process: A New Approach. International Journal of Uncertainty, Fuzziness and
Knowledge-Based Systems. Vol. 14, No. 4 P. 445459

Pengujian consistency ratio jika nilai CR = 0,1 atau di bawah 0,1


menunjukkan bahwa nilai yang didapat sudah dapat digunakan. Sedangkan jika nilai
CR di atas 0,1, maka penilaian yang dilakukan oleh pakar perlu diperiksa ulang.
Contoh perhitungan CI jasa ekosistem dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 7. Perhitungan Consistensy Index

e.

Menghitung Indeks Jasa Ekosistem


Kapasitas daya dukung lingkungan hidup terhadap jasa ekosistem tertentu

direpresentasikan dalam bentuk indeks daya dukung daya tampung lingkungan


hidup. Indeks tersebut dihitung dengan melibatkan nilai bobot jasa ekosistem
terhadap ekoregion dan penutup lahan.

IJE = f{ieco,iLC}
Keterangan:
IJE

: Indeks Jasa Ekosistem

ieco

: Indeks berdasarkan ekoregion

iLC

: Indeks berdasarkan penutup lahan


Perhitungan Indeks daya dukung LH adalah sebagai berikut.

IJE
Keterangan:
IJE
: Indeks Jasa Ekosistem

IJEec oxIJELC
maks( IJEecoxIJELC

IJEeco : Indeks Jasa Ekosistem Ekoregion


IJELC

: Indeks Jasa Ekosistem Penutup Lahan

maks : nilai maksimum dari perhitungan hasil perkalian dan akar terhadap nilai
indeks jasa ekosistem
penutup lahan dan ekoregion
Hasil perhitungan indeks daya dukung daya tampung lingkungan hidup akan
memiliki rentang nilai 0 (nol) sampai 1 (satu). Indeks daya dukung daya tampung
lingkungan hidup merupakan nilai relatif yang didapatkan dari nilai bobot jenis jasa
ekosistem per kelas ekoregion yang dikalikan nilai bobot jenis jasa ekosistem per
kelas penutup lahan. Indeks ini merepresentasikan kemampuan suatu jenis lahan
atau ekoregion dalam menyediakan beragam jasa ekosistem untuk mendukung
perikehidupan makhluk hidup berdasarkan suatu rentang nilai. Hasil perihitungan
indeks daya dukung daya tampung lingkungan hidup ini akan menggambarkan
indeks jasa ekosistem penting dan dominan pada wilayah kajian. Indeks jasa
ekosistem penting adalah nilai yang menunjukkan tingkat kepentingan suatu
wilayah atau ekosistem, dibandingkan dengan wilayah atau ekosistem yang lain.
Semakin tinggi nilai indeks ekosistem penting, semakin tinggi nilai kepentingannya
dalam pengelolaan lingkungan. Sedangkan indeks ekosistem dominan adalah nilai
perbandingan dominasi dari indeks 20 jenis jasa ekosistem yang dinilai dengan nilai
yang tertinggi di masing-masing jenis jasa ekosistem.
Indeks daya dukung dihitung untuk masing-masing jenis jasa ekosistem yang
ditampilkan berdasarkan kondisi ekoregion dan administrasi. Klasifikasi yang
digunakan mengacu pada lima rentang kelas yakni sangat rendah, rendah, sedang,
tinggi dan sangat. Rentang kelas ini diperoleh dari hasil klasifikasi metode
Geometrical Interval di software GIS (ArcGIS). Distribusi daya dukung suatu jasa
ekosistem dapat terlihat jelas dengan cara memvisualisasikan nilai indeks pada
peta indikasi daya dukung daya tampung lingkungan hidup. Indeks divisualisasikan
menggunakan gradasi warna. Semakin tinggi nilai indeks maka semakin gelap
warna yang digunakan, sedangkan semakin rendah nilai indeks maka semakin
pudar warna yang digunakan.