Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang sebagian besar
ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi menular seksual sebenarnya
bukanlah masalah baru dalam ruang lingkup kesehatan reproduksi.
Namun, sejak ditemukannya kasus HIV/AIDS pertama kalinya di Bali
pada

tahun

berkembang

1988,
pesat,

maka
karena

upaya penanggulangan
adanya

IMS

mulai

IMS mempermudah seseorang

tertular HIV ( UNFPA, 2005).


Ulkus mole adalah penyakit seksual oleh bakteri gram yaitu
Haemophilus Ducreyi banyak ditemukan pada negara berkembang seperti
India, Afrika, Asia Selatan, dan kepualauan Caribia, penyakit ini jarang
pada negara perindustrian dan mewabah pada tempat-tempat prostitusi
dimana prevalensi laki-laki lebih banyak dari pada perempuan (Hall,
2010).
Penyakit ini lebih sering ditemukan di negara berkembang
terutama

dengan higiene

penyakit

ini

selain

dan

melalui

sosio-ekonomi

rendah.

Transmisi

hubungan seksual dapat pula melalui

autoinokulasi.
Penyakit ini mula-mula menyebar melalui kontak seksual.
Selain penularan melalui hubungan seksual, secara kebetulan juga
dapat mengenai jari dokter atau perawat dan jauh lebih banyak pada
laki-laki dibandingkan perempuan. Penyakit ini lebih banyak ditemukan
di daerah tropis dan subtropis tetapi dapat ditemukan di seluruh dunia.
1

Berdasarkan tulisan diatas penulis tertarik untuk mendapatkan


gambaran lebih jelas mengenai epidemiologi dan penatalaksanaan pasien
dengan ulkus mole.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi ulkus mole
Ulkus mole atau chancroid adalah suatu Infeksi Menular Seksual
(IMS) akut, biasanya pada genitalia atau anus yang disebabkan oleh
infeksi Haemophylus ducreyi (H. Ducreyi), suatu fakultatif anaerobik
basil

gram-negatif

yang

memerlukan

hemin (faktor x) untuk

pertumbuhannya, dengan gejala klinis yang khas berupa ulkus nekrotik yang
nyeri pada tempat inokulasi dan sering disertai pembesaran kelenjar getah
bening regional (amirudin, 2004).
B. Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan
subtropis. Penyakit ini sering menjadi penyebab ulserasi genitalia orang
dewasa di Afrika dan beberapa Negara berkembang di dunia. Insidens
chancroid di Amerika Serikat pertahun berkurang antara tahun 1950-1978,
tetapi pada tahun 1985 untuk pertama kalinya dilaporkan bertambah
diatas 2000 kasus sejak tahun 1956 dan kemudian bertambah menjadi
3418 kasus pada tahun 1986. Sejak tahun 1977 jumlah kasus chancroid
juga dilaporkan bertambah di Turki, Kanada, dan Republik Federal Jerman
(Amirudin 2004).
Penyakit chancroid lebih banyak didiagnosis pada laki-laki dengan rasio
laki-laki : perempuan antara 3 : 1 sampai 25 : 1 atau lebih tinggi. Prevalensi
chancroid tinggi pada kelompok sosial ekonomi rendah, terutama pada
pekerja seks. Diantara pekerja seks, prevalensi ulkus genital antara 5-35%
dan H. Ducreyi dapat dikultur dari kira-kira 50% dari ulkus tersebut. Barubaru ini beberapa penelitian di Afrika dan Thailand memperlihatkan

bahwa chancroid merupakan faktor resiko penting penyebaran HIV pada


heteroseksual (Lautenschlager et all, 2003)
C. ETIOLOGI
Chancroid disebabkan oleh H.Ducreyi yang merupakan basil gram negatif,
bersifat fakultatif anaerobik yang membutuhkan hemin (faktor x) untuk
pertumbuhannya. Basil ini juga mereduksi nitrat menjadi nitrit dan
mengandung 0,38 mol DNA guanosin plus cytosin. Organisme ini kecil tidak
bergerak, tidak membentuk spora dan memperlihatkan rantai streptobasilaris
yang khas pada pewarnaan gram, terutama kultur (Murtiastutik, 2008).
H. Ducreyi dapat dibedakan dari beberapa strain haemophilus lainnya
melalui beberapa faktor biokimia. Ciri khas genus ini adalah mereduksi nitrat
menjadi nitrit. Haemophilus ducrey tidak membutuhkan faktor nikotinamid
adenin dinucleotide (NAD,faktor V) untuk mencerna hemin, dan tidak
menghasilkan H2S, katalase dan indole. H.ducrey juga membutuhkan zat besi
yang didapat dari intreaselular dengan cara menginvasi atau merusak sel
tersebut (Murtiastutik, 2008).
D. PATOGENESIS
Haemophylus ducreyi masuk ke dalam kulit melalui jaringan epithel
yang mengalami diskontinuitas atau kerusakan, yang dapat terjadi akibat
hubungan seksual. Saat bakteri sudah mencapai kulit/integumen, maka
akan menyebabkan

keratinosit, fibroblas, sel endotel, dan melanosit

untuk mengeluarkan interleukin 6 (IL-6) dan interleukin 8 ( IL-8). IL-8


mempengaruhi

sel

polimorfonuklir

(PMN)

dan

makrofag untuk

membentuk pustul intradermal. IL-6 di sisi lain merangsang T-Cell


melalui perantaraan interleukin-2 yang pada gilirannya akan merangsang sel
CD4 dalam daerah itu (James, 2006).

H. Ducreyi

mengeluarkan suatu toksin yang bernama

cyto-lethal

distending toxin (Hdcdt) yang menyebabkan apoptosis dan nekrosis sel-sel


seperti sel myeloid, sel epitel, keratinosit, dan terutama fibroblas. Toksin
ini menghambat proliferasi sel dan menyebabkan kematian sel sehingga
pada akhirnya memicu terbentuknya borok (ulkus) yang menjadi karakteristik
ulkus mole (James, 2006).
H. Ducreyi ternyata mampu menghindari proses fagositosis sehingga
derajat penyembuhan ulkus begitu lambat. Karena suatu alasan yang
tidak

diketahui,

ternyata

makrofag di dalam ulkus memiliki reseptor

kemokin CCR5 dan Cxcr4 yang jauh lebih banyak dibanding sel normal.
Padahal reseptor ini merupakan reseptor virus HIV (James, 2006). Jumlah
inokulum

untuk

menimbulkan

infeksi

tidak

diketahui.

Pada

lesi,

organisme terdapat dalam makrofag dan neutrofil atau bebas berkelompok


dalam jaringan interstisial (Judanarso, 2010).
E. Manifestasi klinis
Masa inkubasi berkisar antara 1-14 hari, pada umumnya kurang dari 7
hari. Lesi kebanyakan multipel, jarang soliter, biasanya pada daerah genital,
jarang pada daerah ekstragenital. Mula-mula kelainan kulit berupa papula,
kemudian menjadi vesiko-pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi
ulkus (Djuanda, 2009).
Ulkus kecli lunak pada perabaan, tidak terdapat indurasi, berbentuk cawan,
pinggir tidak rata, sering bergaung dan dikelilingi halo yang eritematosa.
Ulkus sering tertutup jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa jaringan granulasi
yang mudah berdarah, dan pada perabaan terasa nyeri. Tempat predileksi pada

laki-laki ialah permukaan mukosa preputium, sulkus koronarius, frenulum


penis, dan batang penis. Dapat pula terdapat lesi didalam uretra, skrotum,
perineum, atau anus. Pada wanita ialah labia, klitoris, fourchette, vestibuli,
anus, dan serviks (Djuanda, 2009).
Lesi ekstragenital terdapat pada lidah, jari tangan, bibir, payudara,
umbilikus dan konjungtiva. Karena adanya inokulasi sendiri, dengan cepat
dapat timbul lesi yang multipel, dengan cara ini dapat timbullesi di daerah
pubis, abdomen, dan paha. Gejala sistemik jarang timbul, kalau ada hanya
demam sedikit atau malese ringan (Djuanda, 2009).
Dalam buku lain gambaran klinis untuk ulkus mole mempunyai masa
inkubasi 1- 5, lesi mula-mula berbentuk makula atau papula yang segera
berubah menjadi pustula yang kemudian pecah membentuk ulkus yang khas.
Ulkus yang terbentuk dapat berbentuk multipel, dengan perabaan yang lunak,
terdapat nyeri tekan, dasarnya kotor dan mudah berdarah, pada tepi ulkus
dapat dijumpai tepi yang menggaung dan kulit disekitar ulkus berwarna
merah.
Ulkus yang terbentuk dapat berupa :
A. Ulkus mole folikularis timbul pada lesi folikel rambut, terdiri atas
ulkus kecil multipel. Lesi ini dapat terjadi di vulva atau pada
daerah genetalia yang berambut. Lesi ini sangat superficial.
B. Ulkus mole papular terdiri atas papula yang berulserasi dan
granulomatusa, dapat menyerupai donovanosis atau kondiloma lata
sifilis II (Barakbah, 2008).
Variasi bentuk klinisnya :
A. Giant chancroid ulkus hanya satu dan meluas secara cepat serta
bersifat destruktif
B. Transient chancroid ulkus kecil sembuh sendiri setelah 4-6 hari
disusul perlunakan kelenjar linfe inguinal 10-20 hari kemudian.

C. Ulkus mole serpiginosum terjadi inokulasi dan penyebaran dari


lesi yang konfluen pada preputium, skrotum dan paha. Ulkus dapat
berlangsungn bertahun-tahun.
D. Ulkus mole gangrenosum suatu varian yang disebabkan super
infeksi dengan bakteri fusosprikethosis sehingga menimbulkan
ulkus fagedenik. Dapat menyebabkan destruksi jaringan yang
cepat dan dalam (Barakbah, 2005).
E. Bubo adenitis daerah inguinal timbul pada setengah kasus ulkus
mole. Sifatnya unilateral, eritematus, membesar dan nyeri. Timbul
beberapa hari sampai 2 minggu setelah lesi primer. Lebih pada
stengah kasus adenitis sembuh tanpa supurasi (Djuanda, 2009).
Gejala sistemik ringan dapat menyertai chancroid, tetapi jarang terjadi,
dan H. Ducreyi memang tidak pernah berperan sebagai penyebab infeksi
sistemik. Juga belum pernah tercatat sebagai penyebab infeksi oportunistik
atau lebih menjadi invasif pada penderita yang imunokompromais. Ulkus
mole belum pernah tercatat terjadi pada bayi yang lahir dari ibu dengan lesi
ulkus mole aktif saat melahirkan (Djuanda,2009).
Dalam buku lain desebutkan bahwa gehala klinis dari kuman ini masa
inkubasinya dalah 3-5 hari (atau bisa juga 1-35 hari ) dengan ditandai adanya
Ulkus yang dimulai dengan adanya papula merah kecil yang bisa menjadi
pustula dan membentuk ulkus dalam 2-3 hari kadang terdapat papula yang
banyak, ulkus yang menggaung, berdasar dengan nyeri dan ada gambaran
cermin (kissing lesi ) pada ulkusnya, terdapat nyeri bila terpercik oleh air
urine dari penderita, dan lokasi tersering ulkus mole pada laki-laki adalah pada
batang penis, pada kulit kelamin bagian luar, frenulum
Pada wanita terdapat pada regio perianal dan servix. Selain itu
lymphadenitis juga kadang menyertai gejala dimana sifatnya nyeri yang akut,
biasanya unilateral, muncul pada 50 % kasus dalam 1-2 minggudari abses dan

ruptur dari fistulanya. Hasil membaik spontan setelah 4-6 minggu pada lakilaki dan beberapa bulan pada wanita (Sterry, 2006).
F. Kriteria Diagnostik
Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa, gejala klinik yang khas dan
pemeriksaan langsung bahan ulkus yang diberi pewarnaan gram. Berdasarkan
gambaran klinis dapat disingkirkan penyakit kelamin yang lain. Harus
dipikirkan juga kemungkinan infeksi campuran. Pemeriksaan serologik untuk
menyingkirkan sifilis juga harus dikerjakan (Barakbah, 2008).
Sebagai penyokong diagnosis juga harus dilakukan adalah :
1. Biakan kuman
Bahan diambil dari pus bubo atau lesi kemudian ditanam pada
pembenihan atau pelat khusus yang ditambahkan darah kelinci yang
sudah didefibrinasi. Akhir-akhir ini ditemukan bahwa pembenihan
yang mengandung serum darah penderita sendiri yang sudah
diinaktifkan

memberikan

hasil

yang

memuaskan.

Inkubasi

membutuhkan waktu 48 jam. Medium yang mengandung gonococcal


medium base, ditambah dengan hemoglobin 1%, iso witalex 1% dan
vankomisin 3 mcg/ml akan mengurangi kontaminasi yang timbul
2. Teknik imunofloresens untuk menemukan antibodi
3. Biopsi
Biopsi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis. Pada
gambaran histopatologik ditemukan :
a. Daerah superficial pada dasar ulkus : neutrofil, fibrin,
eritrosisit, dan jaringan nekrotik

b. Daerah tengah : pembuluh-pembuluh darah kapiler baru


dengan proliferasi sel-sel endotel sehingga lumen tersumbat
dan menimbulakn trombosis. Terjadi perubahan degeneratif
pada dinding-dinding pembuluh darah.
c. Daerah sebelah dalam : infiltrat padat terdiri atas sel-sel plasma
dan sel-sel limfoid.

4. Tes kulit ito-reenstierna


Sekarang tidak diapakai lagi karena tidak spesifik. Vaksin yang
dipakai (Dmelcos) terdiri atas 225 juta kuman mati/ml. Disuntikkan
intradermal 0,1 ml pada lengan bawah bagian fleksor, sebagi kontrol
disuntikkan cairan pelarut intradermal pada sisi lain. Tes dinilai positif
kalau timbul infiltrat berdiameter minimal 0,5 cm setelah 48 jam,
sedangkan kontrol negatif. Tes ini menjadi positif 6-11 setelah
beberapa hari timbul ulkus mole, dan tetap positif sampai beberapa
tahun bahkan seumur hidup.
5. Autoinuklasi
Bahan diambil dari lesi yang tersangak, diinokulasikan pada kulit
sehat daerah lengan bawah atau paha penderita yang digores terlebih
dahulu. Pada tempat tersebut akan timbul ulkus mole. Sekarang cara
ini tidak dipakai lagi (Djuanda, 2009).
Pada pemeriksaan langsung bahan ulkus yang diambil dengan
mengorek tepi ulkus yang diberi pewarnaaon gram. Pada sediaan yang
positif dapat ditemukan kelompok basil yang tersusun seperti barisan
ikan. Sedangkan pada media kultur yang ditempatkan pada media agar

10

coklat, yaitu berupa agar Muller Hinton atau media yang mengandung
serum dengan Vancomysin. Positif bila kuman tumbuh dalam waktu 24 hari dapat pula tumbuh sampai 7 hari. Tes lain yang dapat dilakukan
adalah dengan menggunakan tes ELISA dengan bahan yang digunakan
adalah whole lysed H.Ducreyi, adapun selain tes ELISA tes-tes lain
yang dapat dipakai pada pemriksaan laboratorium penyakit ulkus mole
ini adalah tes fiksasi komplemen, presipitin, dan aglutinin (Barakbah,
2008)
G. Diagnosis Banding
Penyakit ini didiagnosis banding dengan penyakit yang juga menyebabkan
lesi ulseratif pada genetalia seperti sifilis primer, herpes genitalis, lesi primer
limfogranuloma venereum, granuloma inguinale dan ulkus traumatik yang
disertai infeksi sekunder (Murtiastutik, 2008)
Tabel I diagnosis banding ulkus mole
Diagnosis
Sifilis primer

Manifestasi klinis ulkus Keterangan


Indurasi + tidak nyeri Disingkirkan

dengan

ulkus lebih superficial

lapang

pemeriksaan
gelap

Herpes genitalis

Riwayat
berkelompok+,

dan

serologis

berulang
vesikel Diagnosis dengan biakan
sering atau mikroskop elektron

Limfogranuluma

rekurens, erosi superficial negative stain


Diawali dengan papula DD/ dengan chancroid

venereum

lunak, kemerahan, erosi + melalui


tidak

nyeri,

pemeriksaan

adenopati complement fixation test

inguinal +

(hasil

negatif,

dari 1:16)
Ulkus traumatik

Terjadi

sepanjang

kurang

11

frenulum,

atau

erosi

multipel pada preputium.


Adenopati H. Penatalaksanaan
a) Pengobatan sistemik
H. ducreyi telah mengalami resistensi terhadap sulfonamid,
tetrasiklin, ampisilin, kloramfenikol dan kanamisin. Center of disease
control (CDC) pada tahun 1998 merekomendasikan pengobatan ulkus
mole dengan :
Azitromisin 1 g per oral dosis tunggal
Ceftriakson 250 mg intramuskular dosis tunggal
Ciprofloksasin 2 x 500 mg / hari per oral selama 3 hari
Eritromisin 4 x 500 mg sehari peroral selama 7 hari (pernah
dilaporkan kasus resistensi eritromisin di Cina )
Selain obat tersebut diatas yang juga efektif untuk menangani
kasus ulkus mole adalah :
Trimetroprim 160 mg dan sulfametoksasol 800 m, 2x sehari selam

7 hari sebagai pengobatan alternatif


Kombinasi amoxsisilin 500 mg dan asam klavulanat 125 mg oral
3x sehari selama 7 hari
Fleroksasin 200 mg dosis tunggal
Sefalotin 3 g i.v selama 7 hari
Relaps dapat terjadi setelah penderita sembuh sempurna pada

lokasi yang sama dengan lesi sebelumnya pada sekitar 5 % penderita.


Kegagalan pengobatan pasangan seksual biasanya berperan dalam
penyebab relaps.
Pada buku yang lain disebutkan pengobatan ulkus mole adalah
dengan menggunakan salah satu dari antibiotik dibawah ini :
Ciprofoxacin 500 mg oral 2x sehari selama 3 hari

12

Ceftriaxone 250 mg intramuskular single dose


Eritromicin 500 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari dan atau 3 kali

sehari dalam 7 hari


Pada absesnya bisa dilakukan aspirasi atau insisi dan drainase yang
diindikasikan untuk lesi yang fluktual (Adler, 2004).

b) Pengobatan topikal
Pengobatan topikal pada kasus ini terdiri atas pemeberian
antiseptik seperti povidon iodin, limfadenitis tidak boleh diinsisi. Bila
perlu diaspirasi untuk mencegah ruptur spontan. Aspirasi menggunakan
jarum besar dan ditusuk dibagian lateral samapi menembus kulit normal.
Pada penderita yang mengeluh ulkusnya sangat nyeri, dapat diberi
terpai topikal dengan kompres dingin untuk mengurangi peradangannya.
Penderita dianjurkan untuk istirahat, karena bila penderita tetap
melakukan aktivitasnya maka akan mempermudah terjadinya adenopati.
Penderita dengan fimosis sebaiknya dilakukan sirkumsisi apabila
semua lesi aktif telah sembuh, dan tampaknya bubo jarang berekambang
setelah sirkumsisi dilakukan (Murtiastutik, 2008)
Pada beberapa literatur ada yang menyarankan untuk tidak
diberiakan antiseptik karena akan mengganggu pemeriksaan mikroskop
lapangan gelap untuk kemungkinan diagnosis sifilis stadium 1. Lesi dini
yang kecil dapat sembuh setelah diberi NaCl fisiologik (Djuanda, 2009).
c) Pasangan seksual
seseorang yang memiliki kontak seksual dengan penderita ulkus
mole dalam 10 hari sebelum muncul gejala ulserasi di kelamin penderita,
maka sebaiknya diberi terapi, meskipun gelajala klinisnya belum muncul.

13

Terbukti carier pembawa H.Ducreyi dapat terjadi pada penderita yang


asimptomatis. Obat yang diberikan pada pasangan seksual ini sama yang
diberikan pada penderita baik jenis maupun dosis obatnya. Jika tidak
mungkin

dilakaukan

abstinensia

seksual,

maka

penedrita

harus

menggunakan kondom saat berhubungan seksual selama lesi masih ada,


meskipun demikian kondom yang tidak diapakai dengan cara yang benar
dalam artian lesi ulkus tidak tertutup kondom secara sempurna, masih
memungkinkan untuk terjadinya penularan penyakit (Murtiastutik, 2008)
I. Komplikasi
1. Adenitis inguinal (bubo inflamatorik), merupakan komplikasi yang
paling sering didapatkan. Timbul beberapa hari sampai 3 minggu setelah
munculnya lesi primer. Kelenjar yang biasanya membesra unilateral ini
teras nyeri, kemudian bergabung. 50% kasus mengalami supurasi dengan
pembentukan abses unilokular. Bila tidak diobati, abses akan pecah
sehingga terbentuk sinus tunggal di permukaan kulit yang kemudian dapat
berkembang menjadi ulkus mole (Mustiastutik, 2008).
Lymphadenopathy pada keadaan klinisnya terdapat lesi yang
berbentuk bilateral dengan lesi yang ada terbentuk selama 1-2 minggu,
terasa nyeri, lebar, bengkak dan kulit didasarnya normal serta tidak
terlokalisir. Pada lesi yang lunak lesi hanya terdapat pada satu sisi dan ada
pula pada sisi yang lain terbentuk dalam 1 minggu , terdapat nyeri tekan,
lebar dan kadang selalu didapatkan pada 50 % kasus (Osama, 2000).
2. Fimosis atau parafimosis. Dapat terjadi akibat sikatriks yang terbentuk
pada lesi yang mengenai preputium. Untuk penangannanya perlu
dilakukan sirkumsisi.

14

3. Fistel uretra. Muncul sebagai akibat ulkus pada glans penis yang bersifat
destruktif. Bila mengenai uretra akan dapat menimbulkan nyeri berat saat
miksi dapat diikuti dengan terbentuknya striktur uretra.
4. Fistel rektovagina. Merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada
5.

wanita.
Infeksi campuran dapat terjadi, misalnya dengan organisme vincent
mengakibatkan ulkus makin destruktif dan sulit diobati. Infeksi campuran
dengan treponema palidum (ulkus mikstum) memberi gambaran ulkus
mole yang berkurang nyerinya namun lesi lebih berindurasi. Kombinasi
juga dapat terjadi bersama dengan infeksi virus herpes simplex atau
bersamaan dengan lesi limfogranuloma venereum dan granuloma
inguinale (Murtiastutik, 2008).
Pada buku lain disebutkan bahwa kompilkai pada ulkus mole juga

terdapat beberapa dibawah ini yaitu :


1. Nyeri adenitis inguinal
2. Ruptur spontan pada Bubo dengan adanya abses yang besar disertai
formasi fistula.
3. Menyebarnya Haemophilus Ducreyi pada sisi distal (kissing lesi dan atau
extragenital lesi dengan autoinokulasi ) terjadi pada 50 % dari pasien pria
4. Konjungtivitis akut
5. Bakterial superfisi termasuk karena bakteri anaerob yang menyebabkan
destruksi
6. Phimosis
7. Erithema nodusum
8. Menjadi tempat masuk dan sumber penularan dari HIV (Wolf, 2008)
J. Prognosis
Penyakit ini tidak menyebar secara sistemik. Tanpa pengobatan,
ulkus genital dan abses inguinal kadang akan menetap selama bertahun-tahun.
Infeksi tidak menimbulkan imunitas dan dapat terjadi infeksi ulang. Pada
penderita yang tidak disirkumsisi ataupun penderita yang juga terinfeksi HIV,
kemungkinan terjadi relaps setelah diterapi dengan antibiotik adalah sebesar 5
%. Namun jika penderita tersebut berstatus HIV seronegatif dan mengalami

15

relaps, maka dengan terpai yang sama dengan terapi yang sebelumnya pernah
diberikan masih tetap efektif. Penderita dianjurkan untuk menggunakan
kondom untuk menghindari infeksi ulang. (Murtiastutik, 2008).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ulkus mole adalah penyakit seksual oleh bakteri gram yaitu Haemophilus
Ducreyi banyak ditemukan pada negara berkembang seperti India, Afrika, Asia
Selatan, dan kepualauan Caribia, penyakit ini jarang pada negara perindustrian
dan mewabah pada tempat-tempat prostitusi dimana prevalensi laki-laki lebih
banyak dari pada perempuan.
Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa, gejala klinik yang khas dan
pemeriksaan langsung bahan ulkus yang diberi pewarnaan gram.
Berdasarkan gambaran klinis dapat disingkirkan penyakit kelamin yang
lain. Harus dipikirkan juga kemungkinan infeksi campuran. Pemeriksaan
serologik untuk menyingkirkan sifilis juga harus dikerjakan.
Pada buku yang lain disebutkan pengobatan ulkus mole adalah dengan
menggunakan salah satu dari antibiotik dibawah ini :

16

Ciprofoxacin 500 mg oral 2x sehari selama 3 hari


Ceftriaxone 250 mg intramuskular single dose
Eritromicin 500 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari dan atau 3 kali

sehari dalam 7 hari


Pada absesnya bisa dilakukan aspirasi atau insisi dan drainase yang
diindikasikan untuk lesi yang fluktual

B. Saran
Untuk menghindari terjadinya ulkus mole ini harus diperhatikan bahwa
penyakit ini menular melalui hubungan seksual sehingga harus dihindari
berganti-ganti pasangan dan yang terpenting adalah setia pada pasangan.
Menjaga daerah sekitar kelamin dan jika sudah terlanjur terkena selama lesi
masih aktif maka dilang melakukan hubungan seks terlebih dahulu dan
mentaati pengobatan yang telah di tetapkan.

17

Daftar Pustaka

1. Angyanan, R., S., 2014. Guillain Barre Syndrome., Pasuruan: RSUD


BANGIL

PASURUAN.

2. Ihyar, A., dkk. 2009. Sindroma Guillain-Barr, Pekanbaru: Universitas


Riau.
3. Japardi, I., 2002. SINDROMA GUILLAIN-BARRE, Medan: SMF Ilmu
Bedah Universitas Sumatra Barat.
4. Mardjono M, Sidharta P, Neurologi Klinis Dasar, Edisi VIII, Jakarta:
Dian Rakyat, 2000.
5. Olfriani, C., 2013. Referat Sindrom Guillain-Barre. Semarang: Fakultas
Kedokteran Universitas Tarumanagara.
6. Overview of Guillain-Barre Syndrome. http:// www.mayoclinic.com
/health/guillain-barre- syndrome /DS00413/ DSECTION. [diakses
tanggal

28

Agustus 2016]

18

7. Soeharto, D., 2009. SINDROMA GUILLAIN-BARR (SGB), Surabaya:


SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya
8. Webmaster. Guillain Barre Syndrome. Available from : URL :
http://healthcommunities.com/symptoms.shtml. [diakses tanggal 28
Agustus 2016]. Last update ; 2009.