Anda di halaman 1dari 11

JURNAL PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA

GERAKAN PERNAPASAN

Disusun oleh :
Tiara Nugrahayu

NRP. 2443014163

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

2015

BAB 1. TUJUAN PRAKTIKUM


Untuk mengenalkan para mahasiswa pada gerakan-gerakan pernapasan ekstern dan
untuk mengetahui pengaruh berbicara dan menelan terhadap gerakan pernapasan,
pengaruh hyperventilasi terhadap gerakan pernapasan.

BAB 2. LANDASAN TEORI

Ventilasi atau bernapas adalah proses pemasukan dan pengeluaran udara dari
paru secara bergantian sehingga udara alveolus lama yang telah ikut serta dalam
pertukaran O2 dan CO2 dengan darah kapiler paru dapat ditukar dengan udara
atmosfer segar. Fungsi utama respirasi (pernapasan) adalah memperoleh O 2 untuk
digunakan oleh sel tubuh dan untuk mengeluarkan CO2 yang diproduksi oleh sel.
Sebagian besar orang berfikir bahwa respirasi sebagai proses menghirup dan
menghembuskan udara. Namun, dalam fisiologi respirasi memiliki arti yang jauh
lebih luas. Respirasi mencakup dua proses yang terpisah tetapi berkaitan, salah
satunya adalah Respirasi eksternal, yaitu mencakup berbagai tahap dalam
pemindahan O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel jaringan. Sistem
respirasi mencakup saluran napas yang menuju paru-paru itu sendiri dan struktur
thoraks (dada) yang berperan menyebabkan aliran udara masuk dan keluar paru
melalui saluran napas. Saluran napas adalah tabung atau pipa yang mengangkut udara
antara atmosfer dan kantung udara (alveolus). Alveolus merupakan satu-satunya
tempat pertukaran gas antara udara dan darah. (Sherwood, 2007 )
Respirasi eksternal mencakup 4 langkah yaitu:
1. Udara secara bergantian dimasukkan dan dikeluarkan dari paru sehingga
udara dapat dipertukarkan antara atmosfer (lingkungan eksternal) dan kantung
udara (alveolus) paru. Pertukaran ini dilaksanakan oleh tindakan mekanis

bernapas atau ventilasi. Kecepatan ventilasi diatur untuk menyesuaikan


aliran udara antara atmosfer dan alveolus sesuai kebutuhan metabolic tubuh
akan penyerapan O2 dan pengeluaran CO2.
2. Oksigen dan CO2 dipertukarkan antara udara alveolus dan darah di dalam
kapiler paru melalui proses difusi.
3. Darah mengangkut O2 dan CO2 antara paru dan jaringan.
4. Oksigen dan karbondioksida dipertukarkan antara jaringan dan darah melalui
proses difusi menembus kapiler sistemik (jaringan). ( Sherwood, 2007 )
Sistem pernapasan juga melaksanakan fungsi-fungsi nonrespiratorik yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Rute untuk mrngeluarkan air dan panas.


Meningkatkan aliran balik vena.
Membantu mempertahankan keseimbangan asam-basa.
Memungkinkan kita berbicara, menyanyi.
Merupakan system pertahanan terhadap benda asing.
Hidung, bagian dari system respirasi berfungsi sebagai organ penciuman.
( Sherwood, 2007 )
Pernapasan dapat sengaja dihambat untuk beberapa saat, tetapi pada akhirnya

kembali volunter akan dikalahkan. Titik saat pernapasan tidak dapat di hambat lagi
secara volunter disebut titik lepas. Lepasnya kendali volunter ini disebabkan oleh
peningkatan Pco2 dan penurunan Po2 darah arteri. Setelah glomuskarotikus diangkat,
kemampuan menahan napas seseorang akan lebih lama. Bernapas dengan 100%
oksigen sebelum menahan napas akan menaikan Po2 alveolus awal sehingga titik
lepas dapat ditunda. Hal yang serupa timbul bila melakukan hiperventilasi dengan
udara biasa karena CO2 akan dihembuskan keluar dari Pco2 darah arteri pada awalnya
diturunkan. Refleks atau factor mekanik agaknya mempengaruhi titik lepas. Factor
psikologis juga memegang peranan, dan subjek dapat menahan napasnya lebih lama
bila usahanya diberikan pujian. ( Ganong, 2008 )
BAB 3. ALAT DAN BAHAN

3.1. Kimograf
3.2. Kertas kimograf
3.3. Lampu spiritus
3.4. Tambur penulis
3.5. Pneumograf
3.6. Orang percobaan

BAB 4. TATA KERJA

1. Pneumograf dipasang pada dada dan perut orang percobaan sedemikian rupa
sehingga didapatkan gerakan-gerakan terbesar.
2. Kemudian pneumograf dihubungkan dengan tambur penulis dan pneumograf
diatur sedemikian rupa sehingga didapatkan amplitude yang maksimal.
3. Kimograf ditempelkan pada kedua penulis dan pencatat waktu sebaik
mungkin, kemudian percobaan dapat dimulai.
4.1. Pengaruh Berbicara.
1. Membuat pencatatan pernapasan normal secukupnya.
2. Kemudian kalimat dari buku petunjuk dibaca kurang lebih 5 baris katakata/kalimat tanpa berhenti.
3. Kemudian bernafas normal kembali.
4.2. Pengaruh Menelan.
1. Membuat pencatatan normal secukupnya.
2. Air 1 gelas penuh diminum secara perlahan-lahan.
3. Kemudian bernafas normal kembali.

4.3. Acapnea.
1. Putaran kimograf diperlambat dengan memasang kipas besar pada
kimograf.
2. Membuat pencatatan normal secukupnya.
3. Kemudian bernafas yang dalam dan cepat kurang lebih 1 menit, atau
sampai orang percobaan merasa pusing.
4. Pencatatan pernafasan dilanjutkan sampai terlihat grafik pernafasan
normal kembali.
4.4. Hiperventilasi Tanpa Acapnea.
Setelah pernafasan kembali normal maka percobaan 4.3 dilakukan sambil
hiperventilasi dengan mulut dan hidung di dalam kantong plastik yang ditiup
rapat ke wajah orang percobaan.
4.5. Pembicaraan.
1. Apakah yang saudara baca dari grafik yang saudara dapatkan pada waktu
berbicara menelan ?
2. Apakah yang terjadi sesudah hiperventilasi pada percobaan 4.3 dan
dapatkah saudara menerangkan keadaan ini ?

BAB 5. HASIL PRAKTIKUM

BAB 6. PEMBAHASAN

6.1. Pembahasan Hasil Praktikum.


6.1.1. Perbedaan Pernapasan Dada dan Pernapasan Perut.
Pernapasan dada
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk.
Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga
rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih
kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara
tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga
rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada
menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada
yang kaya karbon dioksida keluar.

Pernapasan perut
Pernapasan perut adalah pernapasan yang melibatkan otot diafragma. Mekanismenya
dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot diafragma sehingga rongga
dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil
daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot diaframa
ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada
menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih
besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon
dioksida keluar
6.2. Pengaruh Pada Saat Berbicara Pada Sistem Pernapasan Dada dan Perut.
Pada saat orang percobaan membaca (berbicara) sambil bernapas dengan dada
terlihat pada grafik bahwa pernapasan tidak teratur. Hal ini disebabkan karena
keluarnya karbondioksida pada saat membaca sehingga paru-paru kekurangan
oksigen. Orang percobaan akan tiba-tiba menarik napas kembali. Rendah atau
tingginya suara mempengaruhi gerakan pernapasan. Hal ini terjadi karena orang
percobaan berusaha mempertahankan intonasi pada saat membaca agar kebutuhan
oksigen di dalam paru-paru terpenuhi. Pada saat orang percobaan membaca
(berbicara) sambil bernapas dengan perut terlihat pada grafik bahwa pernapsannya
sangat kecil (rata). Hal ini disebabkan karena orang percobaan terlalu kurus sehingga
pada pneumograf pergerakan penulis kecil.
6.3. Pengaruh Pada Saat Menelan Pada Sistem Pernapasan Dada dan Perut.
Pada percobaan minum (menelan) sambil bernapas didapatkan bahwa terjadi
penurunan frekuensi bernapas dan pernapasannya menjadi tidak teratur. Hal ini terjadi
karena pada saat bernapas, epligotis dalam keadaan terbuka sehingga menyebabkan

udara dapat masuk k edalam trakea, sehingga saat minum esophagus dapat terbuka,
sehingga tidak bisa terjadi inspirasi sambil minum kecuali akan memyebabkan
tersedak. Pada saat orang percobaan minum (menelan) sambil bernapas dengan perut
terlihat pada grafik bahwa pernapsannya sangat kecil (rata). Hal ini disebabkan
karena orang percobaan terlalu kurus sehingga pada pneumograf pergerakan penulis
kecil.
6.4. Acapnea dengan Pernapasan Dada dan Perut.
Pada percobaan nafas cepat (acapnea) didapatkan bahwa terjadi pernapasan
menjadi cepat atau meningkat karena pada paru-paru kekurangan oksigen dari
jantung.
6.5. Hiperventilasi tanpa Acapnea.
Hiperventilasi adalah pernapasan cepat dan menyebabkan terlalu banyak
jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari aliran darah. Pada kondisi
hiperventilasi tidak disertai dengan difisiensi oksigen, sehingga menyebabkan
pernapasan menjadi cepat.

BAB 7. KESIMPULAN

1. Frekuensi

bernapas

pada

saat

berbicara

dengan

pernapasan

dada

pernapasannya tidak teratur, namun pada pernapasan perut pernapasannya


datar.
2. Frekuensi bernapas pada saat menelan dengan pernapasan dada frekuensinya
menurun, namun pada pernapasan perut pernapasannya datar.
3. Pada acapnea baik pernapasan dada maupun perut mengalami peningkatan
frekuensi bernapas.
4. Pada hiperventilasi baik pernapasab dada maupun perut mengalami
peningkatan frekuensi bernapas..

DAFTAR PUSTAKA

Ganong WF, 2008, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 20, EGC, Jakarta.
Sherwood, 2007, Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem, edisi 6, EGC, Jakarta.
Petunjuk Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia Widya Mandala, Januari 2015