Anda di halaman 1dari 15

MIKROZONASI GEMPA

UNTUK KOTA SEMARANG

TESIS MAGISTER

Oleh :
OKKY AHMAD PURWANA
25099088

BIDANG KHUSUS GEOTEKNIK


PROGRAM STUDI REKAYASA SIPIL
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2001

ABSTRAK
Tesis ini menyajikan tinjauan seismotektonik, analisis resiko gempa dan
analisis respons dinamik tanah untuk mengestimasi percepatan tanah dan
kriteria desain gempa untuk Semarang. Parameter ground motion yang
digunakan adalah percepatan gempa dengan periode ulang 500 tahun
untuk memvalidasi peraturan gempa di Indonesia.
Beberapa sesar utama terletak di sekitar Semarang, yaitu sesar Semarang
dengan orientasi N-S; sesar Rawapening, NW-SE; dan sesar Lasem, NESW. Berdasarkan hasil observasi mikroseismik yang telah dilakukan,
beberapa episenter terletak sepanjang sesar Lasem. Dapat disimpulkan
bahwa sesar Lasem adalah sesar aktif seperti sesar-sesar lain dengan arah
NE-SW di pulau Jawa.
Sumber gempa yang digunakan adalah gempa-gempa dengan kedalaman
kurang dari 100 km dalam radius 500 km dari Semarang. Studi ini
menggunakan logic tree untuk memperhitungkan ketidakpastian dalam
suatu metode dalam analisis kegempaan. Parameter seismisitas dihitung
dengan metode Kijko & Sellevoll (1989) Serta Weichert (1980). Tiga fungsi
atenuasi terbaru dipilih untuk menentukan besarnya ground motion. Fungsi
atenuasi Boore et al. (1997) dan Sadigh (1997) digunakan untuk
merepresentasikan sesarsesar permukaan di sekitar Semarang sedangkan
fungsi atenuasi Youngs (1997) digunakan untuk merepresentasikan zona
subduksi Jawa. Hasil analisis menunjukkan bahwa PGA di batuan dasar
Semarang untuk periode ulang 500 tahun adalah 0.140 g.
Analisis respons dinamik tanah dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh
kondisi tanah lokal akibat ground motion di batuan dasar. Analisis ini
dilakukan dengan menggunakan perambatan gelomnang satu dimensi dari
EERA. Hasil analisis menunjukkan bahwa percepatan horizontal maksimum
di permukaan berkisar antara 0.19-0.26 untuk kelas site SD dan 0.17-0.29
untuk kelas site SE. Faktor amplifikasi untuk kelas site SD berkisar antara 1.
5-2.6 dan untuk kelas site SE antara 1.2-2.6. Hasil dari analisis ini
dibandingkan dengan respons spektra desain dari peraturan standar
seperti UBC (1997), NEHRP (1997) dan Borcherdt (1994). Studi ini juga
merekomendasikan respons spektra desain untuk Semarang.

ABSTRACT
This study presents an overview of seismotectonic for Semarang, the
results of Probabilistic Seismic Hazard Assessment (PSHA) and ground
response analysis to estimate ground accelerations and seismic design
criteria appropriate for Semarang. The ground motion parameters are
developed for 500-year return period earthquake to reexamine the validity of
current seismic hazard assessment for Semarang in Indonesia Earthquake
Design Code.
Several main faults exist around Semarang, i.e. N-S trending Semarang
fault, NW-SE trending Rawapening fault and NE-SW trending Lasem fault.
Based on microseismic observations which have been conducted, some
epicenters exist along the fault. It can be inferred that Lasem fault are
seismotectonically active as other NE-SW trending faults in Java.
The seismic sources considered are the acknowledge earthquake potential
to a depth of 100 km within a radius of 500 km from Semarang. This study
utilizes logic tree to cover uncertainties within one method of earthquake
assessment. Seismic parameters are calculated by the method of Kijko &
Sellevoll (1989) and Weichert (1980). Three more recent attenuation
models are chosen for determination of the ground motion. The attenuation
model of Boore et al. (1997) and Sadigh (1997) are selected to represent
shallow crustal fault surrounding Semarang, while the one proposed by
Youngs (1997) is selected to represent the subduction environment of Java.
The results of analyses show that the Peak Ground Acceleration at bedrock
of Semarang is 0.140 g for 500 year return period.
Ground response analysis is conducted to evaluate the response of local
soil condition to the motion of the bedrock immediately beneath it. The
analysis is performed using one dimensional shear wave propagation theory
by EERA. The results show that Peak Horizontal Accelerations at surface
range from 0.19 to 0.26 and from 0.17 to 0.29 for soil type SD and SE,
respectively. The amplification factors for soil type SD and SE range from 1.5
to 2.6 and from 1.2 to 2.6, respectively. The results of site response
analyses are compared to standard codes, i.e. UBC (1997), NEHRP (1997)
and Borcherdt (1994) design response spectrum. This study also
recommends design response spectrum considered approprite for
Semarang.