Anda di halaman 1dari 4

AADD (Ada Apa dengan Dengki)

Angin sendu menyapa sinis. Nafasnya terasa tak ritmis. Kopi tubruk yang
diminumnya kian meringis. Situasi dan kondisi kantin sekolah terasa tragis.
Padahal dipandang kasat mata semuanya waras-wajar saja tak ada yang miris.
Victor lari dari firasat aneh itu, sontak absen dari keramaian kantin menuju
ruang kelas. Didapatinya hal yang semakin menambah macam keanehan
diotaknya. Ryan, sahabat sehidup sematinya, tak biasanya belajar seserius itu.
Victor: Bro, tumben, kena badai apa lu belajar Buku Persiapan Ujian segala, ujian
kan masih lama, mana Fisika pula? Hahaha.
Ryan: Yaelah gua juga pengen kali bro kayak lu, Peraih Nobel P3GT2 (Pelajar
Pintar Populer Ganteng Tiada Tara) se-Asia Tenggara, ahahaha.
Victor: Ah, bahaya lu sob, kena lebay kronis gini. Abis lu puji, gue serasa
skydiving nih, wakakakak.
Ryan: Yaelah gua serius kali vic!
Hargain pujian sama usaha belajar gua
kek gitu. Jangan ngeledek mulu donk. (Wajah kecewa penuh misteri tak mampu
ditutupinya).
Aneh, Ryan yang dikenalnya sejak masa Taman Kanak-kanak tak pernah
seserius tadi marahnya.
Victor: Oke-oke gua sorry banget beneran sob, kayak lu ga kenal gua aja ah.
Woles aja yak, oke terusin aja belajarnya. (Senyum tulus bercampur bingung).
Gua cabut dulu.
Ryan memang dideteksi baru saja mengalami broken home. Victor
memakluminya. Mungkin dia sedang dalam masa-masa kurang stabil jiwa dan
perasaan. Victor mencoba bersikap lebih hati-hati. Pikiran Victor terdistraksi oleh
segala pergolakan batin dan realitas hidupnya akhir-akhir ini. Terasa ada
keanehan namun tak kunjung nyata.
Meredakan kebingungan dan berkecamuknya pikiran, Victor pergi lalu duduk di
bangku taman sekolah seraya mengambil buku fisikanya. Belajar dan membaca
buku adalah ritual penenang paling ampuh baginya. Victor adalah siswa paling
berpengaruh di sekolahnya. Karakter yang paling dikagumi oleh semua orang
terutama kalangan para guru adalah jujur. Dia lebih memilih kehilangan nyawa
daripada harus mematahkan idealismenya mengenai kejujuran.
asdfghjkl qwertyui zxcvbn .....!@#$%^&, suara bising gaduh tak karuan
memecah konsentrasinya.
What the helem!, suara apaan tuh rame banget, Vic menoleh kebelakang lalu
berlari keTKP.
Suasana amat gaduh, ditemukan sesosok manusia berbaju rapi memegang buku
ditangan kanannya. Berkacamata Harry Potter, berdasi kasual, berbaju putih
bercorak percikan darah di perut, dengan aksesoris pisau, tergeletak kaku. Tak

salah lagi, dia tak lain dan tak bukan adalah Pak Harry, pakar Fisika. Beliau
adalah guru paling dielu-elukan oleh mayoritas siswa terutama Victor. Bagi
Victor, kehadiran Pak Harry dihidupnya adalah sejarah dunia paling berpengaruh
seumur hidupnya. Victor kalang kabut lalu mengucurkan air mata.
Semesta berduka. Sekolah beserta penduduknya berduka. Langit meneteskan
air matanya dimusim kemarau.
Victor. Adalah seorang jiwa yang paling terlempar atas kejadian ini. Hari-hari
setelah kematian Pak Harry dilalui Victor dengan tak ada semangat sedikitpun,
tak ada daya pun usaha, penuh abu-abu, penuh keputus asaan.
Victor berusaha berjalan tegak memancarkan semangat palsu. Lalu pergi ke
taman sekolah. Ada seorang perempuan berkacamata disana, duduk santai
sambil mendengarkan musik di earphone merah mudanya.
Victor: Hei, Nik! (memancarkan wajah antara duka dan bahagia, seimbang). Gua
boleh duduk kan ya.
Niki: (mendengar suara Victor, menatap tangan dan jam digital Victor). Iya, iya.
Boleh banget, duduk aja, Vic.
Niki. Adalah pelajar putri yang belajarnya biasa-biasa saja, namun kebaik
hatiannya tak perlu disidang ataupun distudi bandingkan lagi. Setiap melodi
kata yang keluar dari mulutnya bak mutiara suci penuh kebijakan dan kebajikan.
Orang yang kalem dan penuh ketulusan dalam melakukan segala hal. Termasuk
mengagumi Victor. Ya, dia adalah salah satu dari sekian ratus pelajar putri yang
mengaguminya. Namun, Niki sedikit berbeda dari pengagum kebanyakan. Jika
yang lainnya adalah pengagum blak-blakan, maka Niki adalah pengagum
rahasia yang terobsesi berat dengan Victor.
Victor: (melamun, lalu mencoba memulai perbincangan). By the way, Nik. Lu tau
gak penyebab pasti kematian Pak Harry?
Niki: Oh, itu, maaf banget Vic, aku kurang tau, soalnya 2 hari terakhir ini aku izin
sekolah, ada acara keluarga. (dengan nada gugup sedikit terbata namun tetap
anggun nan tulus, maklum detik itu adalah pengalaman pertama Niki berbicara
empat mata dengan Victor).
Victor: Oooh... gitu. Sorry yah, gua kira lu ada dan tahu kronologis kejadiannya.
Oke oke. Gua gak habis pikir, manusia sebaik beliau harus secepat itu ninggalin
dunia yang masih membutuhkan kebermanfaatan beliau. (hitam-putih mimik
wajah tak sanggup menahan air mata)
Niki: Iya, Vic. Kamu yang sabar aja ya (sambil memberikan selembar tisu),
mungkin sudah hukum alam bahwa the good die young. Aku pun heran dan
penasaran banget siapa tokoh utama dibalik kematian beliau ini. Akhir-akhir ini
kamu ada merasakan keanehan atau hal-hal yang janggal gitu gak?
Victor: Ada banget, banyak malahan. Sebelum tragedi Pak Harry itu terjadi,
banyak keanehan tapi samar-samar gitu, Nik. Entah kenapa, perasaan sama

firasat gua gak enak pas minum kopi dikantin. Suasana juga tiba-tiba penuh
kejanggalan waktu itu. Trus, gua cabut kemudian masuk ke kelas, nah bukannya
ketenangan yang dapet, malah timbul keanehan lagi, Si Ryan gak biasanya
belajar buat UN, Fisika pula. Gua becandain dia, dia malah baperan, marahmarah sama gua. Itu sih keanehan yang gua alamin menjelang tragedi itu.
Niki: Bukan maksud berprasangka buruk atau apa nih ya Vic, gimana kalo kita
selidikin dulu Si Ryan, lagipula gak ada salahnya kan. Siapa tau kita dapat
barang bukti buat mecahin misteri tragedi ini.
Victor: Bener juga kata apa kata lu, Nik. Ok. Kita cari tahu bareng-bareng.
Sekarang apa rencana lu?
Niki terkenal juga dengan kepiawaiannya dalam memecahkan beragam misteri
di sekolah. Maka tak heran, Victor menganggap segala keputusan dan rencana
yang diambil oleh Niki pasti manjur.
Niki berjalan menuju ruang kelas lalu menuju ke arah laci meja Ryan, diambilnya
buku Persiapan UN Fisika yang akhir-akhir ini sering dibaca Ryan. Dibawanya
buku tersebut ke taman sekolah. Bersama-sama, Niki dan Victor membuka tiap
lembar buku itu. Lalu terhenti di halaman 34. Mengejutkan benar-benar
mencengangkan, didapati sebuah kertas berlumuran darah bertuliskan
Dengkiku, Mematikanmu. Tanpa berucap sepatah kata pun, mereka berdua
dapat menyimpulkan, siapa pelaku tragedi Pak Harry ini.
Victor langsung berlari menuju kantin lalu menuju ke arah Ryan, diangkat dan
ditariknya ke atas, kerah baju Ryan seraya berkata Mau lu apa, sob!, lu kan
yang ngebunuh Pak Harry?, gak nyangka sekarang lu sepecundang itu, bro! Gak
ada ampun buat lu!.
Ryan: Apa-apaan lu, Vic!, lu ngefitnah berat lu! Demi apapun gua gak ada
sangkut pautnya di tragedi kemarin!.
Victor langsung menarik tangan Ryan dan dibawanya ke taman sekolah.
Victor: Bro, gua butuh kejujuran lo saat ini juga. Tolong ceritain sama gua atas
dasar apa lu ngelakuin hal munafik ini?
Ryan: Bro, gua udah jujur sejujur-jujurnya. Harusnya gua yang nanya lu, atas
dasar apa lu ngedakwa gua gini?
Diceritakanlah oleh Victor mengenai aksi heroiknya bersama Niki beberapa
puluh menit lalu. Ryan langsung menjelaskan semua fakta dan segala teori
rasionalitasnya kepada Victor. Akhirnya Victor sadar, siapa pelaku sebenarnya
dimana Ryan adalah korban fitnah serta candu dari kecemburuan dan dengki.
Akhir tragedi, terpecahkanlah misteri. Niki ditahan 34 tahun penjara. Victor tak
mungkin memaafkan Niki, hatinya tersayat terlalu dalam. Tak mungkin dapat
disembuhkan. Begitupun Niki, Ia takkan mungkin memaafkan dirinya sendiri,
cinta membutakannya, menutup mata hatinya.

Sementara Ryan bergumam dalam hati, Andai aku tak dilahirkan, mungkinkah
Pak Harry tetap mati dijalan ini?