Anda di halaman 1dari 33

Bab 1

Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Banyak faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan, baik kesehatan individu maupun
kesehatan masyarakat. Menurut Hendrik L. Blum dalam Notoatmodjo, derajat kesehatan
seseorang ataupun masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu perilaku 30%,
lingkungan 45%, pelayanan kesehatan 20% dan keturunan 5%. Status kesehatan akan
tercapai secara optimal bila keempat faktor tersebut secara bersama-sama mempunyai kondisi
yang optimal pula. Salah satu faktor saja berada dalam keadaan yang terganggu (tidak
optimal), maka status kesehatan akan bergeser ke arah di bawah optimal. 1 Keempat faktor
tersebut saling terkait dengan beberapa faktor lain yaitu sumber daya alam, keseimbangan
ekologi, kesehatan mental, sistem budaya, dan populasi sebagai satu kesatuan. 2
Yang sangat besar pengaruhnya adalah keadaan lingkungan yang tidak memenuhi
persyaratan kesehatan dan perilaku masyarakat yang merugikan kesehatan, baik masyarakat
di pedesaan maupun perkotaan yang disebabkan kurangnya pengetahuan dan kemampuan
masyarakat di bidang kesehatan, ekonomi maupun teknologi. 1 Hal ini mendorong pemerintah
untuk mencanangkan program program upaya kesehatan lingkungan yang salah satunya
melalui cakupan pengawasan sarana air bersih. 3
Dalam bidang kesehatan, air merupakan salah satu media lingkungan yang berperan
dalam penularan penyakit karena dapat menjadi media pertumbuhan mikrobiologi. Menurut
WHO UNICEF sekitar sepuluh ribu penduduk di negara berkembang meninggal setiap
harinya karena penyakit yang disebabkan oleh air. Dari daftar urutan penyebab kunjungan
puskesmas atau balai pengobatan, diare hampir selalu termasuk dalam kelompok penyakit
penyebab utama bagi masyarakat yang berkunjung ke sana. Penyakit diare ini pun masih
menduduki urutan atas sebagai penyebab kematian di negara berkembang seperti di
Indonesia.
Penyediaan sarana air bersih yang memadai sebagai kebutuhan dasar masyarakat belum
sepenuhnya terwujud dengan baik. Dengan kata lain, masih banyak masyarakat yang belum
memiliki akses terhadap keberadaannya. Berdasarkan Global Water Supply and Sanitation
Assesment 2000 Report yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO)/United
nations of childrens fund (UNICEF), terdapat sekitar 1,1 milyar penduduk dunia yang masih
kekurangan air bersih.4
Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pada pasal 22 ayat (3)
menyatakan bahwa penyehatan air meliputi pengamanan dan penetapan kualitas air untuk

berbagai kebutuhan dan kehidupan manusia. Pengertian air bersih adalah air yang digunakan
untuk keperluan sehari-hari, seperti minum/ masak serta mandi/ cuci dll. 5-7
Dari data Riskesdas 2010 diketahui daerah perkotaan memiliki cakupan sumber air bersih
sebesar 90,1%, sedangkan dipedesaan sebesar 67,6 %. 8
Dari data Riskesdas 2013, proporsi rumah tangga di Indonesia dengan kualitas air minum
kategori baik (tidak keruh, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbusa, dan tidak berbau) di
perkotaan (96,0%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan (92,0%). Data hasil
menunjukkan bahwa jenis sumber air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga di Indonesia
pada umumnya adalah sumur gali terlindung sebesar 29,2%, sumur pompa sebesar 24,1%,
dan air ledeng/PDAM sebesar 19,7%. Di perkotaan, lebih banyak rumah tangga yang
menggunakan air dari sumur bor/pompa yaitu 32,9% dan air ledeng/PDAM sebesar 28,6%,
sedangkan di perdesaan lebih banyak yang menggunakan sumur gali terlindung yaitu 32,7%.5,
9-10

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2002, Indonesia sedang


mengalami transformasi kesehatan yang ditandai dengan peningkatan penyakit berbasis
lingkungan, yakni penyakit yang berkaitan dengan lingkungan fisik, penyakit-penyakit ini
cenderung Angka kejadian penyakit-penyakit berbasis lingkungan (Depkes 2010) antara lain
Typhoid sebesar 1,6 % dan Diare sebesar 9,0% dari total jumlah penduduk.meningkat bila
tidak diambil langkah-langkah antisipatif. Sedangkan di Wilayah Kerja Puskesmas
Kutawaluya, dari laporan tahunan pada tahun 2014 didapatkan angka kejadian Diare sebesar
6,44% dan ISPA sebesar 18,73%. Tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan,
mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan,
dimana salah satunya adalah kebutuhan akan air bersih. 11, 12
Sementara itu, dari laporan penilaian kinerja cakupan pengawasan sarana air bersih di
Kabupaten Karawang pada periode Januari 2015 hingga Oktober 2015 didapatkan cakupan
sarana air bersih sebesar 20,46% sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan
Kutawaluya, Kabupaten Karawang sebanyak 44,24%.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dilakukan evaluasi program yang sudah
dijalankan, menindaklanjuti upaya perbaikan yang akan dijalankan dan mengidentifikasi
faktor risiko lingkungan berbagai jenis penyakit dan gangguan kesehatan.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, masalah yang didapat berupa:
1. Menurut WHO UNICEF sekitar sepuluh ribu penduduk di negara berkembang
meninggal setiap harinya karena penyakit yang disebabkan oleh air.

2. Berdasarkan Global Water Supply and Sanitation Assesment 2000 Report yang
dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO)/United nations of childrens
fund (UNICEF), terdapat sekitar 1,1 milyar penduduk dunia yang masih kekurangan
air bersih.
3. Dari data Riskesdas 2010 diketahui daerah perkotaan memiliki cakupan sumber air
bersih sebesar 90,1% sedangkan daerah pedesaan memiliki cakupan sumber air bersih
sebesar 67,6%.
4. Dari data Riskesdas 2013, jenis sumber air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga di
Indonesia pada umumnya adalah sumur gali terlindung sebesar 29,2%, sumur pompa
sebesar 24,1%, dan air ledeng/PDAM sebesar 19,7%.
5. Dari data Riskesdas 2013, di perkotaan, lebih banyak rumah tangga yang
menggunakan air dari sumur bor/pompa yaitu 32,9% dan air ledeng/PDAM sebesar
28,6%, sedangkan di perdesaan lebih banyak yang menggunakan sumur gali
terlindung yaitu 32,7%.
6. Dari laporan tahunan pada tahun 2014 di Wilayah Kerja Puskesmas Kutawaluya,
didapatkan angka kejadian Diare sebesar 6,44% dan ISPA sebesar 18,73%.
7. Dari laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang periode Januari 2015 hingga
Oktober 2015, rata-rata penduduk yang menggunakan SAB sebanyak 20,46%.
8. Dari laporan bulanan data dasar penyehatan lingkungan dan laporan tahunan
pemeriksaan penyehatan lingkungan, Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang
periode Januari 2015 - Oktober 2015 diketahui cakupan penggunaan SAB masyarakat
di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya sebesar 44,24 %.
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum :
1.3.1.1.
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program dan masalahmasalah yang terdapat di dalam program pengawasan sarana air bersih secara
menyeluruh melalui pendekatan sistem agar dapat meningkatkan mutu dan
jangkauan program pengawasan sarana air bersih secara optimal di Puskesmas
Kutawaluya periode Januari 2015 sampai Oktober 2015 dengan harapan dapat
menurunkan angka kematian dan angka kesakitan akibat faktor risiko
kesehatan lingkungan.
1.3.2. Tujuan Khusus :
1.3.2.1.
Diketahuinya cakupan penduduk yang menggunakan sarana air
bersih untuk keperluan sehari-hari di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya
periode Januari 2015 sampai dengan Oktober 2015.

1.3.2.2.

Diketahuinya cakupan hasil inspeksi program pengawasan sarana air


bersih di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya periode Januari 2015 sampai
dengan Oktober 2015.
Diketahuinya cakupan pengambilan sampel air dalam pelaksanaan

1.3.2.3.

program pengawasan sarana air bersih di wilayah kerja Puskesmas


Kutawaluya periode Januari 2015 sampai dengan Oktober 2015.
1.3.2.4.
Diketahuinya cakupan jumlah sarana air bersih yang diambil
sampelnya di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya periode Januari 2015
sampai dengan September 2015..
1.3.2.5.
Diketahuinya jumlah sarana air bersih dengan kualitas bakteriologi
yang memenuhi syarat kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya
periode Januari 2015 sampai dengan Oktober 2015.
1.3.2.6.
Diketahuinya jumlah sarana air bersih dengan tingkat pencemaran
air yang rendah di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya periode Januari 2015
sampai dengan Oktober 2015.
1.4. Manfaat
1.4.1 Bagi Evaluator:
1.4.1.1 Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh saat di bangku kuliah.
1.4.1.2 Melatih serta mempersiapkan diri dalam mengatur suatu program
khususnya program upaya kesehatan lingkungan terutama sarana air
bersih.
1.4.1.3 Mengetahui banyaknya kendala yang dihadapi dalam mengambil langkah
yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, antara
lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.
1.4.1.4 Menumbuhkan minat dan pengetahuan mengevaluasi.
1.4.1.5 Mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis.
1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi:
1.4.2.1 Mengamalkan Tridarma Perguruan Tinggi.
1.4.2.2 Mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di
bidang kesehatan.
1.4.2.3 Mewujudkan Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) sebagai
universitas yang menghasilkan dokter yang berkualitas.
1.4.3 Bagi Puskesmas yang dievaluasi:
1.4.3.1 Mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam program upaya
kesehatan lingkungan terutama sarana air bersih.di ruang lingkup kerja
puskesmas Kutawaluya.
1.4.3.2 Dapat mengetahui kendala apa saja yang ditemui pada saat pelaksanaan
program upaya kesehatan lingkungan terutama sarana air bersih.
4

1.4.3.3 Dapat meningkatkan motivasi pemegang program dan pelaksana program


agar dapat berjalan dengan baik..
1.4.4 Bagi Masyarakat:
1.4.4.1 Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat di Kutawaluya.
1.4.4.2 Dengan tercapainya keberhasilan program, diharapkan dapat menurunkan
prevalensi berbagai penyakit masyarakat yang berhubungan dengan
program upaya kesehatan lingkungan terutama sarana air bersih.
1.4.4.3 Dengan tercapainya keberhasilan program, diharapkan dapat menjadi
contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia.
1.5. Sasaran
Seluruh Rumah Tangga di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten
Karawang, Jawa Barat pada periode Januari 2015 hingga periode Oktober 2015.

Bab II
Materi dan Metode
2.1. Materi
Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari beberapa program upaya kesehatan
lingkungan terutama sarana air bersih periode Januari 2015 sampai dengan Oktober 2015 di
UPTD Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang, antara lain:
1. Laporan bulanan program sarana air bersih di Puskesmas Kutawaluya, periode Januari
2.
3.
4.
5.

2015 - Oktober 2015


Data tentang jumlah sarana air bersih yang ada.
Data jenis sarana air bersih yang ada.
Data jumlah penduduk yg menggunakan sarana air bersih.
Data hasil inspeksi sarana air bersih keluarga yang ada di wilayah kerja Puskesmas

Kutawaluya.
6. Cakupan pengambilan sampel air dalam pelaksanaan program pengawasan sarana air
bersih.
7. Jumlah sarana air bersih dengan kualitas bakteriologis yg memenuhi syarat kesehatan
8. Jumlah sarana air bersih yg mempunyai tingkat risiko pencemaran yg rendah
9. Pencatatan dan Pelaporan
2.2. Metode

Evaluasi program ini dilaksanakan dengan pengumpulan data, analisis data, dan
pengolahan data dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga dapat digunakan untuk
menjawab permasalahan pelaksanaan program yang terjadi, baik di awal, di tengah, maupun
di akhir program dengan cara membandingkan apakah terdapat perbedaan antara cakupan
program upaya kesehatan lingkungan terutama sarana air bersih di Puskesmas Kutawaluya
periode Januari 2015 sampai dengan Oktober 2015 terhadap tolok ukur yang telah ditetapkan
sehingga dapat dibuat usulan dan saran untuk permasalahan tersebut.

Bab III
Kerangka Teoritis
3.1. Kerangka Teoritis

Bagan 1. Gambar Teori Sistem


Gambar di atas menerangkan sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling
dihubungkan dengan suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan
organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan. Bagian atau elemen
tersebut dapat dikelompokkan dalam lima unsur, yaitu :
1. Masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan
dibutuhkan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut, terdiri dari tenaga (man), dana
(money), sarana (material), metode (method), mesin atau alat yang digunakan (machine),
jangka alokasi waktu (minute), lokasi masyarakat (market), dan informasi (information).
2. Proses (process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang ada di dalam sistem dan
berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Terdiri dari
unsur perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating),
dan pemantauan (controlling).
3. Keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem.
6

4. Lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem
tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem, terdiri dari lingkungan fisik dan non
fisik.
5. Umpan balik (feed back) adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran
dari sistem dan sekaligus sebagai masukan dari sistem tersebut, berupa pencatatan dan
pelaporan yang lengkap, monitoring, dan rapat bulanan.
6. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran dari suatu sistem.
3.2. Tolok Ukur Keberhasilan
Tolok ukur keberhasilan merupakan nilai acuan atau standar yang telah ditetapkan dan
digunakan sebagai target yang harus dicapai pada tiap-tiap variabel sistem meliputi variabel
masukan, proses, keluaran, umpan balik, lingkungan, dan dampak pada program pengawasan
sarana air bersih (SAB). Digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai dalam
program program upaya kesehatan lingkungan terutama sarana air bersih. [Lampiran I]
Berdasarkan Pedoman Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Sanitasi dalam
Menghadapi Situasi Darurat, air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok makhluk
hidup sehari- hari. Air yang digunakan untuk kebutuhan manusia sebagai air minum atau
keperluan rumah tangga lainnya harus memenuhi syarat kesehatan, antara lain bebas dari
kuman penyakit dan tidak mengandung bahan beracun.
Air yang memenuhi syarat kesehatan harus memenuhi kriteria secara fisik,
bakteriologis, dan kimia. Kriteria air bersih yang memenuhi syarat sebagai berikut :
-

Secara fisik, yaitu jernih, suhu lebih rendah dari suhu sekitar, tidak berwarna, tidak

berbau, dan tidak berasa.


Secara bakteriologis dan kimiawi sesuai Kepmenkes No. 907 tahun 2002.
Dalam memenuhi kebutuhan air bersih diperlukan sarana air bersih yang sesuai

dengan keadaan dan kebutuhan. Berikut ini adalah berbagai sarana air bersih yang digunakan
oleh masyarakat sebagai sarana air bersih :
1

Sumur Gali

Merupakan sarana penyediaan air bersih tradisional yang banyak dijumpai di masyarakat
pada umumnya. Sumur gali menampung air dangkal atau kurang dari 7 meter.
Persyaratan konstruksi sumur gali meliputi :

Bangunan sumur gali terdiri dari dinding sumur, lantai sumur, dan bibir sumur

yang harus dibuat dari bahan kuat dan kedap air.


Dinding sumur sedalam minimal 3 meter dari permukaan tanah untuk mencegah
merembesnya air ke dalam sumur.

Bibir sumur harus setinggi minimal 0,8 meter dari permukaan tanah, harus kedap
air untuk mencegah merembesnya air ke dalam sumur, sebaiknya bibir sumur

diberi penutup agar air hujan dan kotoran lain tidak dapat masuk ke dalam sumur.
Lantai sumur harus kedap air, mempunyai luas dengan lebar minimal 1 meter

dari tepi bibir atau dinding sumur dengan tebal 10 cm.


Saluran air limbah minimal sepanjang lebih kurang 10 m dan sumur peresapan
air buangan yang dibuat dari bahan kedap air dan licin dengan kemiringan 2 % ke

arah pengolahan air buangan atau badan penerima.


Bangunan sumur gali harus dilengkapi dengan sarana untuk mengambil dan
menimba air, seperti timba dengan kerekan, timba dengan gulungan untuk timba
atau pompa tangan, jika menggunakan timba, timba tidak boleh diletakkan di atas

lantai sumur, untuk menghindari pencemaran sehingga kualitasnya terjamin.


Dasar sumur lebih baik diberi kerikilataupecahan batu atau pecahan marmer
untuk menahan endapan lumpur, agar tidak terbawa sewaktu pengambilan air

dari sumur.
Sumur Pompa

Merupakan sarana penyediaan air bersih yang mempergunakan pompa baik tangan
maupun listrik untuk menaikkan air lubang sumur. Sumur pompa tangan (SPT)
berdasarkan kedalaman muka air yang diisapnya terdapat 3 jenis sumur pompa tangan,
yaitu :
a

Sumur Pompa Tangan Dangkal (SPTDK)


Merupakan sumur yang dilengkapi dengan pompa tangan yang bisa mengisap air
secara teoritis dengan tekanan 1 atmosfer, tetapi dalam praktek dapat menaikkan
air dari kedalaman 7 meter atau kurang. Pompa tangan dapat dipasang pada
sumur gali, atau membuat lubang atau sumuran dengan jalan pengeboran maupun

penyidukan.
Sumur Pompa Tangan Sedang (SPTS)
Merupakan sumur yang dilengkapi dengan pompa tangan yang bisa mengisap air
dengan kedalaman lebih dari 7 meter sampai 20 meter. Pompa tangan ini bisa
dipasang pada sumur gali dengan kedalaman 7 meter atau lebih sesuai dengan
keadaan kedalaman sumur, namun biasanya membuat lubang atau sumuran

dengan jalan pengeboran atau penyidukan.


Sumur Pompa Tangan Dalam (SPTDL)
Merupakan lubang atau sumuran yang dilengkapi dengan pompa tangan yang
bisa mengisap air dengan kedalaman 20 meter sampai dengan 30 meter. Lubang

atau sumuran yang dibuat biasanya dengan cara pengeboran.


Sumur Pompa Listrik (SPL)
8

Pada prinsipnya, cara pembuatan dan cara kerja SPL sama dengan SPT. Bedanya, SPL
menggunakan tenaga listrik sedangkan SPT menggunakan tenaga manusia. Jenis jenis
SPL, antara lain SPL untuk sumur dangkal, yaitu 9 meter atau kurang, jet pump untuk
kedalaman sampai 30 meter, dan pompa selam (submersible pump) untuk kedalaman
sampai 30 meter.
Jenis- jenis sarana air bersih lainnya meliputi Penampungan Air Hujan (PAH),
Perlindungan Mata Air (PMA), kran umum, hydran umum, dan Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM).

Bab IV
Penyajian Data
4.1. Sumber Data
Sumber data dalam evaluasi ini diambil dari data primer berupa wawancara dengan pihak
terkait yaitu petugas kesehatan lingkungan Puskesmas Kutawaluya dan data sekunder yang
berasal dari:
Laporan Pembangunan Kesehatan UPTD Puskesmas Kutawaluya tahun 2015.
Laporan Bulanan Data Dasar Penyehatan Lingkungan, Puskesmas Kutawaluya,
Karawang periode Januari 2015 sampai Oktober 2015.

Laporan Tahunan Pemeriksaan Penyehatan Lingkungan, Puskesmas Kutawaluya,


Karawang periode Januari 2015 sampai Oktober 2015.

4.2. Data Umum


4.2.1. Geografi

4.2.1.1 Luas Wilayah dan Batas-batas


a. Lokasi gedung Puskesmas Kutawaluya terletak di Jl. Raya sampalan,
Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang.
b. Luas wilayah kerja 2.340 Ha, terdiri dari 7 desa, 96 RT dan 51 dusun.
c. Batas wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya:
1) Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Kutamukti
2) Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Rawamerta
3) Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas
Rengasdengklok.
4) Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Kertamukti
4.2.1.2 Wilayah Administrasi Puskesmas Kutawaluya mencakup 7 desa :
a. Desa Waluya
b. Desa Sampalan
c. Desa Sindangsari
d. Desa Sindangmulya
e. Desa Sindangkarya
f. Desa Sindangmukti
g. Desa Mulyajaya
4.2.2 Topografi
Sebagian besar merupakan dataran rendah dan bersifat agraris yang terdiri dari tanah
pertanian seluas 1.638 Ha dan sisanya merupakan tanah dengan berbagai kegunaan
4.2.3

seluas 702 Ha, atau keseluruhannya 2.340 Ha.


Geologi
Wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang berada pada
dataran rendah berdekatan dengan laut.
10

4.2.4 Iklim
Sesuai dengan bentuk morfologinya, Kutawaluya merupakan dataran rendah dengan
temperatur udara rata-rata 27-29 C.
4.2.5 Hidrografi
Kutawaluya mempunyai sedikit aliran sungai.
4.2.6 Data Demografi
1. Jumlah penduduk Kelurahan Wilayah Kutawaluya

adalah 30.074 jiwa yang

terdiri dari :
a. Jumlah RW
: 31 RW
b. Jumlah RT
: 96 RT
c. Jumlah KK
: 10.007 KK
d. Jumlah rumah
: 8750 rumah
Dapat umum selengkapnya dapat dilihat pada lampiran II.
2. Jumlah desa yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Kecamatan
Kutawaluya adalah 7 desa dengan luas wilayah 2.340 Ha, maka berarti rata-rata
kepadatan penduduk Kecamatan Kutawaluya adalah 14 Jiwa/ Ha.
Data umum selengkapnya terdapat pada Lampiran II.
3. Penduduk berpendidikan SD sebesar 37,48 % (12.364 orang).
Data umum selengkapnya terdapat pada Lampiran II.
4. Penduduk mempunyai mata pencaharian sebagai petani sebesar 29,34% (9.480
orang).
Data umum selengkapnya terdapat pada Lampiran II.
5. Sebagian besar penduduk di Kutawaluya merupakan penduduk miskin yaitu
sebesar 65,20% (21509 orang).
Data umum selengkapnya terdapat pada Lampiran II.
4.2.7 Jenis sarana kesehatan
Jenis sarana kesehatan yang tersedia di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya antara
lain :
1. Puskesmas pembantu
: 2 buah
2. Posyandu
: 39 buah
3. Praktek perorangan
a. Dokter Umum
:2
b. Dokter Gigi
:1
c. Bidan
: 18
4. Klinik 24 jam
:0
5. Dokter praktek swasta
:1
Data umum secara lengkap terdapat pada Lampiran II.
4.3

Data Khusus
4.3.1. Masukan
1. Tenaga
11

a. Dokter/ Kepala Puskesmas


b. Petugas kesehatan lingkungan

: 1 orang (sebagai penanggung jawab)


: 1 orang (sebagai koordinator sekaligus

pelaksana program)
2. Dana
Dana untuk pelaksanaan program diperoleh dari:
APBD
: tersedia
3. Sarana
a) Sarana medis:
Sanitarian kit
: Tidak ada
b) Sarana non medis:
Infocus
: Ada, 1 buah
Layar
: Ada, 1 buah
Leaflet
: Ada
Lembar balik
: Ada
Poster
: Ada
Alat tulis
: cukup
Buku pedoman Kesling
: Ada namun terbatas ( hanya 1)
Checklist pemeriksaan SAB
: Ada
Formulir pengiriman sampel
: Ada
Sarana transportasi
: Cukup
Botol steril, tas/ kotak pengepakan botol: Tidak ada
4. Metode
Pendataan jumlah dan sarana air bersih
Pendataan ini diambil dari laporan pengawasan sarana air bersih di wilayah
kerja Puskesmas Kutawaluya periode Januari 2015 Oktober 2015, seperti
dibawah :
Jumlah
sarana air = 6.448
buahairyang
terdiri dari SPT, SGL dan pompa
Pemeriksaan/inspeksi
sarana
bersih.
Inspeksi
listrik. dilakukan secara berkala minimal 2 kali setahun. Pemeriksaan
kualitas air bersih diperiksa secara fisik, yaitu tidak berwarna, tidak berbau,
tidak keruh, tidak berasa, dan suhu dibawah suhu kamar.
Inspeksi dilakukan dengan syarat:
Sumur gali yang memenuhi syarat kesehatan ialah :
-

Dinding sumur minimal sedalam 3 m dari permukaan lantai/tanah, dibuat dari


tembok yang tidak tembus air/bahan kedap air dan kuat( tidak mudah
retak/longsor) untuk mencegah perembesan air yang telah tercemar ke dalam
sumur. Ke dalaman 3 m diambil karena bakteri pada umunya tidak dapat
hidup lagi.

12

Kira-kira 1,5 m berikut ke bawah, dinding dibuat dari tembok yang tidak

disemen, tujuannya untuk mencegah runtuhnya tanah.


Diberi dinding tembok (bibir sumur), tinggi bibir sumur 1 meter dari
lantai, terbuat dari bahan yang kuat dan kedap air untuk mencegah agar air
sekitarnya tidak masuk ke dalam sumur, serta juga untuk keselamatan

pemakai.
Lantai sumur disemen/harus kedap air, mempunyai lebar di sekeliling sumur l,5
m dari tepi bibir sumur, agar air permukaan tidak masuk. Lantai sumur tidak
retak/bocor, mudah dibersihkan, dan tidak tergenang air, kemiringan 15% ke arah saluran pembuanagan air limbah agar air bekas dapat dengan

mudah mengalir ke saluran air limbah.


Sebaiknya sumur diberi penutup/atap agar air hujan dan kotoran lainnya
tidak dapat masuk ke dalam sumur, dan ember yang dipakai jangan diletakkan

di bawah/lantai tetapi digantung.


Adanya sarana pembuangan air limbah. Sarana pembuangan air limbah

harus kedap air, minimal 2% ke arah pengolahan air buangan/peresapan.


Persyaratan sumur pompa sebagai berikut :
- Saringan atau pipa-pipa yang berlubang berada di dalam lapisan tanah
-

yang mengandung air.


Lapisan yang kedap air antara permukaan tanah dan pipa saringan

sekurang-kurang 3 m.
Lantai sumur yang kedap air ditinggikan 20 cm dari permukaan tanah dan

lebarnya 1 m sekeliling pompa.


Saluran pembuangan air limbah harus ditembok kedap air, minimal 10 m

panjangnya.
Untuk mengambil air dapat dipergunakan pompa tangan atau pompa

listrik.
Pemeriksaan secara lengkap terdapat di lampiran formulir inspeksi sanitasi air
bersih dapat dirujuk di lampiran formulir inspeksi sanitasi air bersih.
Pengambilan sampel air
Pengambilan sampel air dilakukan setelah menentukan titik pengambilan yang
disesuaikan dengan jenis sarana air bersihnya. Untuk sumur pompa, sampel
diambil setelah 5 menit air keluar, untuk sumur gali, sampel diambil dengan
kedalaman 20 cm di bawah permukaan air, dan untuk PAM, sampel diambil
setelah 2 menit air keluar. Untuk pemeriksaan fisik jumlah air yang diambil
sebanyak 2 liter, untuk pemeriksaan kimia jumlah air yang diambil sebanyak 5
liter, dan untuk pemeriksaan bakteriologis wadah penampungan harus steril
13

dan bisa disterilkan dengan jumlah air yang diambil sebanyak 100 ml,
kemudian diberi etiket dan dikirim ke laboratorium. Prosedur pengambilan
sampel secara lengkap terdapat di lampiran SOP pengambilan sampel.
Jumlah sarana air bersih dengan kualitas bakteriologis yang memenuhi
syarat kesehatan.
Kualitas bakteriologis ini dapat ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan
laboratorium, kemudian ditetapkan sesuai standar kualitas air bersih terhadap
kandungan bakteriologis sesuai dengan Permenkes 416 tahun 1990.
Jumlah sarana air bersih yang mempunyai risiko pencemaran yang rendah.
Tingkat risiko pencemaran air terbagi menjadi :
- AT (amat tinggi)
- T (tinggi)
- S (sedang)
- R (rendah)
Cara pemeriksaan lengkap dapat dilihat di lampiran formulir inspeksi sanitasi.
Pencatatan dan Pelaporan
- Pencatatan
Data kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh petugas lapangan dimasukkan ke
dalam format pencatatan pengawasan air bersih (register dan formulir lain yang
diperlukan) seterusnya membuat penyajian/visualisasi data dalam bentuk peta,
grafik atau tabel yang diperbaharui secara periodik (bulanan, triwulan dan
tahunan).
- Pelaporan
Puskesmas yang melaksanakan kegiatan ini melaporkannya kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai format yang telah ada.

4.3.2. Proses
4.3.2.1 Perencanaan
Terdapat perencanaan tertulis dari Puskesmas Kutawaluya yaitu mengenai:
Pendataan jumlah sarana air bersih
Terdapat pendataan 1 kali setahun tentang jumlah sarana air bersih dan

jumlah pengguna.
Pemeriksaan / inspeksi sarana air bersih
Pemeriksaan terhadap sarana air bersih dilakukan 2 kali setahun oleh
petugas kesehatan lingkungan terlatih. Pada sarana air bersih dengan
tingkat pencemaran berat dilakukan pemeriksaan tiap 2 minggu selama
1 tahun, untuk pencemaran ringan sampai sedang dilakukan

pemeriksaan sebulan sekali selama 1 tahun.


Pengambilan sampel air

14

Pengambilan sampel air dilakukan sesuai dengan jenis sarana air


bersih. Perkara pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alatalatnya seperti kotak air/ termos/ botol steril, tempat penyimpanan
botol/ kotak/ termos, alat tulis dan formulir pengiriman sampel.

Kemudian, ditentukan titik pengambilan sampel.


Pemeriksaan bakteriologis
Pemeriksaan bakteriologis terhadap sampel

air

dilakukan

di

laboratorium yang telah ditunjuk, kualitas air bersih terhadap


kandungan bakteriologis sesuai dengan Permenkes No 416 tahun 1990.
Sedangkan persyaratan kualitas air minum sesuai dengan Permenkes

No 492 tahun 2010.


Pemeriksaan risiko pencemaran
Pemeriksaan sarana air bersih

dilakukan

untuk

mengetahui

kemungkinan adanya pencemaran.


Pencatatan dan pelaporan :
Pencatatan : akan dilakukan setiap kegiatan dilaksanakan
Pelaporan : akan dilakukan setiap awal bulan.
4.3.2.2 Pengorganisasian
Terdapat struktur tertulis dan pembagian tugas yang teratur dalam

melaksanakan tugasnya:
Kepala puskesmas
Dr. Cucu Siti Minpalah , M.Kes
Koordinator & Pelaksana Kesehatan Lingkungan
(Pak Suhendi, A.Md)

Bagan 2. Struktur organisasi bagian Kesehatan Lingkungan Puskesmas


Kutawaluya

Pengorganisasian dalam program SAB dibagi berdasarkan jabatan:


Kepala Puskesmas (dr. Cucu Siti Minpalah , M.Kes):
- Sebagai penanggung jawab program.
- Monitoring pelaksanaan Kesehatan Lingkungan tingkat kecamatan.
- Melakukan evaluasi data hasil pelaksanaan kegiatan Kesehatan
Lingkungan di wilayah kerja.
Koordinator Kesehatan Lingkungan (Pak Suhendi, A.Md):
- Koordinator program.
- Menerima pelaporan hasil kegiatan kesehatan lingkungan dari
wilayah setempat.

15

- Melakukan pencatatan hasil keberhasilan program dan melaporkan


hasil pencatatan kepada Kepala Puskesmas Kecamatan dalam waktu
tiap bulan.
4.3.2.3 Pelaksanaan:
Pendataan jumlah sarana air bersih
Pendataan dilakukan.1 kali setahun tentang jumlah sarana air bersih dan

jumlah pengguna.
Pemeriksaan sarana air bersih
Pemeriksaan 2 kali setahun terhadap sarana air bersih yang ada dilakukan
oleh petugas kesehatan lingkungan dibantu staf promkes dan RT sekitar
dengan mendatangi rumah penduduk yang menggunakan SAB di wilayah
kerja Puskesmas Kutawaluya dan memberikan formulir inspeksi sanitasi

untuk diiisi oleh kepala keluarga (perwakilan).


Pengambilan sampel air
Tidak dilakukan pengambilan sampel air.
Pemeriksaan bakteriologis
Tidak dilakukan pemeriksaan bakteriologis.
Pemeriksaan risiko pencemaran
Pemeriksaan fisik terhadap adanya risiko pencemaran dilaksanakan sesuai
dengan formulir inspeksi sanitasi. Perhitungan diambil dari Formulir
Inspeksi Sanitasi yang telah dicatatkan ke Laporan Tahunan Pemeriksaan
Penyehatan Lingkungan di Puskesmas Kutawaluya. Jumlah SAB yang
mempunyai tingkat risiko pencemaran air rendah merupakan jumlah SAB

yang memenuhi syarat (MS).


Pencatatan dan pelaporan :
Pencatatan : dilakukan setiap kegiatan dilaksanakan
Pelaporan : dilakukan setiap awal bulan.

4.3.2.4 Pengawasan:
Adanya pencatatan yang sistemik secara berkala tentang kegiatan pengawasan
kualitas sarana dan air bersih dilaksanakan 12 kali per tahun. Kemudian data
ini dilaporkan ke tingkat Kabupaten minimal 3 bulan sekali. Rapat bulanan
puskesmas dilaksanakan oleh kepala puskesmas dan dibantu oleh staf.
4.3.3 Keluaran
4.3.3.1 Cakupan air bersih

16

Jumlah penduduk di lokasi yang menggun akan sarana air bersih


x 100
Jumlah penduduk dilokasi

cakupan :

13305
x 100 =44,24
30.074

Target : 80 % dalam setahun (Berdasarkan Target Dinas Kesehatan Kab. Karawang)


Target dari bulan Januari sampai dengan Oktober 2015
10
x 80 =66,66
12
Metode : Pencatatan rumah yang menggunakan SAB setiap bulan di balai desa
wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang periode Januari
Oktober 2015.
4.3.3.2 Cakupan hasil inspeksi sarana air bersih (SAB)
Jumla h SAB yang diinspeksi
x 100
Jumla h SAB yang ada
cakupan :

3.737
x 100 =57,95
6.448

Target : 80 % dalam setahun (Berdasarkan Target Dinas Kesehatan Kab. Karawang)


Target dari bulan Januari sampai dengan Oktober 2015
10
x 80 =66,66
12

Metode : Mendatangi rumah penduduk yang menggunakan SAB di wilayah kerja


Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang periode Januari Oktober 2015, dan
memberikan Formulir Inspeksi Sanitasi untuk diiisi oleh kepala keluarga
(perwakilan).
4.3.3.3 Cakupan pengambilan sampel air
Jumlah SAB yang diinspeksi yang airnya diambil untuk sampel
x 100
Jumlah SAB yang diinspeksi

Cakupan : tidak dilakukan (0%)


Target : 80 % dalam setahun (Berdasarkan Target Dinas Kesehatan Kab. Karawang)

17

4..3.3.4 Cakupan jumlah SAB dengan kualitas bakteriologis yang memenuhi


syarat kesehatan
Jumlah sampel air yang memenuhi syarat bakteriologis
x 100
Jumlah sampel air yang diperiksa
Cakupan : tidak dilakukan (0%)
Target : 100 % (Berdasarkan Target Dinas Kesehatan Kab. Karawang).

4.3.3.5 Cakupan perlindungan SAB yang mempunyai risiko pencemaran air


Jumlah SAB yang bebas resiko dan pencemaran tinggiamat tinggi
x 100
Jumlah SAB yang diinspeksi

cakupan :

3174
x 100 =84,93
3737

Target : 95% (Berdasarkan Target Dinas Kesehatan Kab. Karawang).


Target dari bulan Januari sampai dengan Oktober 2015
10
x 95 =79,16
12

4.3.4 Lingkungan
1. Lingkungan Fisik
Lokasi :
- Semua lokasi sarana air dapat dijangkau dengan sarana transportasi
yang ada (sepeda motor) karena terdapat akses jalan yang bisa dilalui

sepeda motor.
Iklim :
- Iklim tidak mempengaruhi pelaksanaan program. Walaupun sebagian
jalan masih berlubang-lubang dan becek tetapi tidak mempengaruhi

pelaksanaan program secara signifikan (Sindang Sari dan Mulya Jaya).


Kondisi Geografis :
- Kondisi geografi dapat mempengaruhi program sarana air bersih

18

Berdasarkan

keterangan

petugas

kesehatan

lingkungan

Puskesmas Kutawaluya, masih didapatkan air yang terasa asin


pada penggalian/pengeboran. Hal ini mungkin disebabkan
karena daerahnya yang dekat dengan laut (Sindangsari dan
Sindangmukti berbatasan dengan Cilebar)
2. Lingkungan Non Fisik
Perilaku masyarakat
- Sebagian masyarakat masih menggunakan air sungai untuk keperluan
mandi, mencuci, tempat buang air besar, dan tempat pembungan
limbah keluarga. Tidak ada data penggunaan air sungai sebagai sumber
air minum.
4.3.5 Umpan Balik.
Adanya rapat kerja bulanan bersama Kepala Puskesmas satu bulan satu kali

yang membahas laporan kegiatan evaluasi program yang telah dilaksanakan


Adanya pencatatan dan pelaporan yang lengkap sesuai dengan waktu yang
ditentukan akan dapat digunakan sebagai masukan dalam perencanaan
program pengawasan sarana air bersih selanjutnya.

4.3.6

Dampak
Dampak langsung berupa menurunnya angka penyakit berbasis lingkungan,

seperti diare, penyakit kulit, dan tifoid belum dapat dinilai.


Dampak tidak langsung yaitu masalah penyediaan dan pengawasan air bersih
tidak lagi menjadi permasalahan serta peningkatan derajat kesehatan
masyarakat belum dapat dinilai.

19

Bab V
Pembahasan Masalah
Tabel 1.Variabel-variabel dari Masalah
No

Variabel

Tolok Ukur Target PKM

Pencapaian

PKM Masalah

Kutawaluya dan Provinsi

Kutawaluya / 10 Bulan

Jawa Barat/ 10 Bulan


1

Keluaran :
- Cakupan

jumlah

penduduk

yang

mengunakan

air

dari

air

sarana

bersih
-

inspeksi
air

bersih

(SAB)
-

(+)
22,42 %

57,95 %
(Januari Oktober

(+)
8,71%

2015)
66,66%
(Januari Oktober 2015)

0%
Tidak dilakukan

(+)
100%

Cakupan
pengambilan

83,33%
(Januari Oktober 2015)

sampel air

44,24 %
(Januari Oktober
2015)

66,66%%
(Januari Oktober 2015)

Hasil
sarana

66,66%
(Januari Oktober 2015)

Cakupan
dengan

(+)
100%

SAB
kualitas

bakteriologis yang
memenuhi

0%
Tidak dilakukan

syarat

79.16%
(Januari Oktober 2015)

(-)
84,93 %
(Januari Oktober
2015)

kesehatan
-

Perlindungan SAB
dari

risiko

pencemaran

20

Masukan :
Tenaga (Man)

Tersedianya

minimal

2 1 orang tenaga yang

orang sebagai koordinator merangkap

(+)

sebagai

dan pelaksana program koordinator dan pelakpengawasan

sarana

air sana

pengawasan

bersih yang terampil di sarana air bersih.


-

Dana (Money)

bidangnya.
Tersedianya

(+)
dana

yang

cukup, berasal dari APBD


dan BOK untuk petugas,
-

Sarana

sebesar Rp 50.000.

Kurangnya penyerapan
dana BOK oleh petugas
kesehatan lingkungan,
disebabkan

oleh

(+)

petugas kesulitan dalam

(Material)

hal SPJ.
-

Formulir inspeksi

sanitasi air bersih


Botol steril, tas/kotak

pengepakan botol
Formulir pengiriman

sampel
Formulir hasil

pemeriksaan sample
Alat tulis, sarana
transportasi

Medis:
Sanitarian kit : Tidak
ada
Non medis:
- Infocus : Ada, 1 buah
- Layar : Ada, 1 buah
- Leaflet : Ada
- Lembar balik : Ada
- Poster: Ada
- Alat tulis: Cukup
- Buku pedoman

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Kesling : Ada namun

(-)

terbatas ( hanya 1)
- Checklist

(+)

pemeriksaan SAB

Ada
- Formulir pengiriman
sampel :Ada
- Sarana transportasi:
-

Metode

Cukup
- Botol steril, tas/ kotak
pengepakan botol

(+)

Tidak ada
21

1.Dilakukan pendataan
2.Dilakukan pemeriksaan
SAB
Metode
pemeriksaan
3.Dilakukan pengambilan
kualitas
air
bersih
sampel air
4.Dilakukan pemeriksaan dilakukan berdasarkan
bakteriologis air
kriteria fisik saja, tidak
5.Dilakukan pemeriksaan
berbau, tidak berwarna,
risiko pencemaran air
tidak keruh dan tidak
berasa. Tidak dilakukan
pengambilan

sampel,

pemeriksaan
bakteriologis.
3

Proses
-Pengorganisasian

Dibentuk

struktur Struktur organisasi su-

organisasi,

kepala dah

puskesmas

sebagai koordinasi

penanggungjawab
program,

jelas,

namun

(+)

belum

optimal.

melimpahkan

kekuasaan

kepada

Koordinator

program

(programmer), kemudian
-Pelaksanaan

melakukan

koordinasi

dengan

pelaksana Tidak

program.

(+)
pengambilan

Sesuai dgn rencana dan


metode

yg

ditetapkan,

dilaksanakan

secara

telah

dilakukan
sampel,

pemeriksaan
bakteriologi.

berkala:

pengumpulan

data

1x/tahun & pengawasan


kualitas
2x/tahun.
pengambilan

air

bersih
Dilakukan
sampel
22

sesuai dengan jenis sarana


air

bersih,

kemudian

dilakukan pemeriksaan lab


untuk menilai kandungan
bakteriologi/

kimia

serta

&

dilakukan

pemeriksaan

risiko

pencemaran air.
.

Lingkungan
Fisik

1. Kondisi
dapat

geografis 1. Berdasarkan
mempengaruhi

kualitas air

(+)

keterangan petugas:
pada

penggalian/

pengeboran

masih

didapatkan air yang


terasa

asin,

disebabkan karena
-

lokasinya

Non-Fisik
1. Perilaku
dalam
air

masyarakat

yang

(+)

dekat dengan laut.

menggunakan
bersih

dapat 1. Sebagian

mempengaruhi

masyarakat

keberhasilan program

menggunakan
sungai

masih
air
untuk

keperluan

mandi,

mencuci,

tempat

buang air besar, dan


tempat pembungan
limbah
Tidak

keluarga.
ada

data

penggunaan

air
23

sungai

sebagai

sumber air minum.

Keterangan: Tabel lengkap terdapat di lampiran

Bab VI
Perumusan Masalah
6.1. Masalah sebenarnya (menurut keluaran)
24

6.1.1 Cakupan jumlah penduduk menggunakan SAB 44,24 % dari target 66,66 %.,
besar masalah= 22,42%
6.1.2 Cakupan inspeksi SAB 57,95 % dari target 66,66 %, besar masalah= 8,71%
6.1.3 Belum dilakukannya pengambilan sampel air dan pemeriksaan bakteriologis
terhadap sarana air bersih yang diinspeksi.
6.2. Masalah dari unsur lain (penyebab)
Masukan
- Tenaga ( Man )
Hanya terdapat satu tenaga yang merangkap sebagai koordinator dan
pelaksana program yang terampil di bidangnya, hal ini sangat menyulitkan
untuk dapat melakukan pemeriksaan terhadap 6448 Sarana Air Bersih
-

yang tersebar di 7 desa, dengan area kerja seluas 2.340 Ha.


Dana ( Money )
Kurangnya penyerapan dana yang berasal dari BOK oleh petugas
kesehatan lingkungan. Hal ini disebabkan karena kurangnya motivasi dari

petugas kesling, salah satunya karena SPJ.


Sarana (Material)

Tidak lengkapnya sarana yang digunakan untuk membantu program


pengawasan sarana air bersih, seperti tidak adanya sanitarian kit dan

tas/kotak pengepakan botol untuk pemeriksaan kualitas air.


Metode

Tidak dilakukannya pengambilan sampel air, pemeriksaan bakteriologis.


Proses
- Pengorganisasian
Struktur dan pelimpahan tugas dari Kepala Puskesmas ke koordinator

program (programmer) sudah ada, namun belum berjalan optimal.


Kurangnya koordinasi lintas program antara pelaksana program

pengawasan SAB dengan bagian promkes, pusling dan bidan desa.


Pelaksanaan
Sudah dilakukan pengumpulan data 1 x setahun dan pengawasan kualitas
air 2 x setahun.

Namun tidak dilakukan pengambilan sampel dan

pemeriksaan bakteriologi.
Lingkungan
- Fisik
Kondisi geografis- Berdasarkan keterangan pemegang program, saat
dilakukan penggalian/ pengeboran, masih didapatkan air yang terasa asin.
Hal ini mungkin karena wilayahnya dekat dengan laut (terutama desa
Sindangsari dan Sindangmukti berbatasan dengan kecamatan Cilebar).
25

Non-Fisik
Sebagian masyarakat masih menggunakan air sungai untuk keperluan
mandi, mencuci, tempat buang air besar, dan tempat pembungan limbah
keluarga. Tidak terdapat data penggunaan air sungai sebagai sumber air
minum.

Bab VII
Prioritas Masalah
7.1 Masalah menurut keluaran:
A. Cakupan jumlah penduduk menggunakan SAB 44,42% dari target 66,66 %. Besar
masalah adalah 22,42 %.
B. Cakupan inspeksi SAB 57,95% dari target 66,66 %. Besar masalah adalah 8,71%.
C. Tidak dilakukannya pengambilan sampel air, pemeriksaan bakteriologis. Kualitas
SAB hanya dilakukan secara fisik saja. Besar masalah adalah 100%.
No

Parameter

Masalah
a

Besarnya masalah

Berat ringannya masalah

Keuntungan sosial karena terselesainya masalah

26

Sumber daya yang tersedia untuk menyelesaikan masalah

Teknologi yang tersedia

Jumlah

22

19

14

Tabel 2: Prioritas masalah


Keterangan derajat masalah:
5 = sangat penting; 4 = penting; 3 = cukup penting; 2 = kurang penting; 1 = tidak penting
Yang menjadi prioritas masalah:
1. Cakupan

jumlah

penduduk

yang

menggunakan

air

bersih

untuk

keperluan sehari-hari masih rendah, yaitu 44,24 % dari target 66,66 %. Besar masalah
22,42%
2. Hasil inspeksi sarana air bersih masih rendah, yaitu 57,95 % dari target 66,66 %.
Besar masalah 8,71%.
Bab VIII
Penyelesaian Masalah

8.1 Masalah 1
Cakupan
jumlah

penduduk

yang

menggunakan

air

bersih

untuk

keperluan sehari-hari masih rendah, yakni 44,24 % dari target 66,66 % dengan besar masalah
22,42%
Penyebab masalah ini:

Tenaga
Kurangnya tenaga kesehatan lingkungan di bidang kesehatan lingkungan,

petugas merangkap jabatan memegang program yang lain.


Dana
Kurangnya penyerapan dana BOK oleh petugas kesehatan lingkungan, disebabkan

oleh petugas kesulitan dalam hal SPJ.


Pengorganisasian
Kurangnya koordinasi lintas program antara pelaksana program pengawasan SAB

dengan bagian promkes, pusling dan bidan desa.


Pelaksanaan
Tidak dilakukan pengambilan sampel (laboratorium) dan pemeriksaan bakteriologi.
Lingkungan fisik dan non-fisik
- Kondisi geografis Kecamatan Kutawaluya yang dekat dengan laut (Desa
Sindangsari dan Sindangmukti berbatasan dengan kecamatan Cilebar).

27

Perilaku masyarakat yang masih menggunakan air sungai untuk memenuhi

kebutuhan sehari-hari.
Sarana air bersih yang terdapat di lingkungan masyarakat masih kurang.

Penyelesaian:

Tenaga
- Mengoptimalkan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kutawaluya.
- Pemberdayaan masyarakat terutama kader dan arisan jamban.
Dana
Dilakukan penyederhanaan format SPJ sehingga petugas kesehatan lingkungan dapat
membuat dan melakukan penyerapan dana untuk program kesehatan lingkungan.
Pengorganisasian
Meningkatkan pembinaan Kepala Puskesmas kepada koordinator program.
Pelaksanaan
Hal ini sebenarnya disebabkan kurangnya motivasi petugas kesehatan lingkungan
sehingga perlu peningkatan motivasi dari Kepala Puskesmas bagi petugas kesehatan
lingkungan untuk penyerapan dana BOK kegiatan kesling secara optimal dan
pemenuhan kebutuhan sarana kesling (sanitarian kit).

Lingkungan fisik dan non-fisik


- Dilakukannya penyuluhan yang intensif kepada masyarakat tentang pentingnya
-

penggunaan air bersih untuk kepentingan sehari-hari.


Kegiatan arisan jamban ditambah SAB seperti yang sudah berjalan di RW Siaga

Ciampel.
Mengusulkan pembuatan sarana air bersih kepada Musrenbang.

8.2 Masalah 2
Hasil inspeksi sarana air bersih masih kurang, yakni 57,95% dari target 66,66 % dengan besar
masalah 8,71%.
Penyebab:

Tenaga
-

Kurangnya kompetensi tenaga kesehatan lingkungan untuk melakukan


inspeksi kualitas sarana air bersih. Petugas bukan sanitarian, melainkan perawat

serta merangkap jabatan memegang program yang lain.


Dana
- Kurangnya penyerapan dana BOK oleh petugas kesehatan lingkungan disebabkan
adanya kesulitan dalam hal pembuatan SPJ

Sarana
- Tidak ada sanitary kit, botol steril, tas/ kotak pengepakan botol di Puskesmas.
Pengorganisasian
- Kurangnya koordinasi lintas program antara pelaksana program pengawasan SAB
dengan bagian promkes, pusling dan bidan desa.
28

Pelaksanaan
Tidak dilakukan pengambilan sampel (laboratorium) dan pemeriksaan

bakteriologi.
Penyelesaian:
Tenaga

Mengoptimalkan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kutawaluya.


Pemberdayaan masyarakat.

Dana
-

Dilakukan penyederhanaan format SPJ sehingga petugas kesehatan lingkungan


dapat membuat dan melakukan penyerapan dana BOK untuk program kesehatan
lingkungan.

Sarana
-

Mengkoordinasi dengan pusat untuk bahan-bahan yang diperlukan dari dinas


kesehatan.

Pengorganisasian
-

Meningkatkan pembinaan Kepala Puskesmas kepada koordinator program.

Pelaksanaan
-

Hal ini sebenarnya disebabkan kurangnya motivasi petugas kesehatan


lingkungan dan sarana yang mendukung (sanitarian kit) sehingga perlu
peningkatan motivasi dari Kepala Puskesmas bagi petugas kesehatan lingkungan
dan pemenuhan kebutuhan sarana kesling (sanitarian kit).

Bab IX
Penutup

29

9.1 Kesimpulan
Dari hasil evaluasi program pengawasan sarana air bersih melalui cara pendekatan sistem,
maka dapat diambil kesimpulan bahwa Program Pengawasan Sarana Air Bersih di wilayah
kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang pada periode Januari sampai
dengan Oktober 2015 belum mencapai target. Dari hasil kegiatan program, ditemukan
beberapa hal yang menjadi masalah, yaitu:
a. Jenis sarana air bersih yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya, yaitu
SGL, SPT, dan Pompa listrik, dengan jumlah seluruhnya, yaitu 6448 SAB.
b. Cakupan jumlah rumah yang menggunakan air bersih dengan pencapaian 44,24% dan
besar masalah 22,42%. Hal ini disebabkan oleh kurangnya tenaga yang terampil di
bidang kesehatan lingkungan, kurangnya dana, serta kurangnya koordinasi antara
penanggungjawab, koordinator, dan pelaksana program. Ditambah lagi masih
kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya penggunaan air bersih,
perilaku masyarakat yang masih menggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari serta terbatasnya sarana air bersih.
c. Cakupan hasil inspeksi sarana air bersih dengan pencapaian 57,95% dan besar
masalah 8,71% karena kurangnya tenaga, kurangya dana, dan tidak ada sanitary kit,
kurangnya koordinasi antara penanggungjawab, koordinator, dan pelaksana program.
koordinator dengan pelaksana program.
d. Cakupan pengambilan sampel air untuk pemeriksaan kimia dan bakteriologis air tidak
dilakukan.
e. Cakupan perlindungan SAB terhadap risiko rendah pencemaran sudah mencapai
target dengan pencapaian 84,93%.
f.
g.
h.
i.
j.

Penyerapan dana BOK oleh petugas kesling yang masih kurang.


Sarana yang kurang memadai.
Kurangnya koordinasi antara programmer pengawasan SAB dengan staf lainnya.
Kondisi geografis yang dekat dengan laut sehingga menghasilkan air yang terasa asin.
Masih banyaknya masyarakat dengan kebiasaan masyarakat yang masih
menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari.

Dengan prioritas masalah :

Cakupan jumlah rumah yang menggunakan air bersih dengan pencapaian 44,24 %

dan besar masalah 22,42 %


Cakupan hasil inspeksi sarana air bersih dengan pencapaian 57,95% dan besar
masalah 8,71 %.

9.2 Saran
30

9.2.1

Saran bagi Kepala Puskesmas sebagai penanggungjawab program


Menggalakkan promosi kesehatan untuk memberikan penyuluhan yang intensif

kepada masyarakat tentang pentingnya sarana air bersih.


Melakukan pembinaan kepada petugas kesehatan lingkungan.
Meningkatkan motivasi pemegang program dan pelaksana program agar dapat

berjalan dengan baik, seperti memberikan sarana dan alternatif dana.


Memantau (supervise) kegiatan pengawasan sarana air bersih dengan cara
membandingkan dengan hasil tahun sebelumnya, juga bertanya kepada pemegang dan

pelaksana program mengenai kendala apa saja yang ditemui.


Mengajukan pelatihan kepada dinas kesehatan bagi petugas sanitarian/ kesehatan
lingkungan puskesmas.

9.2.2 Saran bagi pemegang program pengawasan sarana air bersih


Melakukan pelatihan tentang kesehatan lingkungan.
Meningkatkan koordinasi lintas program (promkes, pusling, bidan desa).
Memotivasi untuk memberdayakan kader masyarakat dalam pengawasan sarana air

bersih (lintas sektoral)


Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mengikuti arisan jamban ditambah SAB.
Melakukan penyerapan dana BOK serta membuat perincian dana terhadap dana yang
diterima dan dana yang dikeluarkan untuk pengawasan sarana air bersih.

9.2.3 Saran bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang


Mengadakan pelatihan tentang kesehatan lingkungan bagi petugas.
Memfasilitasi petugas sanitarian dan sanitarian kit.
Menyederhanakan format pembuatan SPJ sehingga petugas kesehatan lingkungan
tidak terkendala dalam penyerapan dana. Hal ini disebabkan karena petugas kesehatan
lingkungan di Puskesmas Kutwaluya berlatar belakang perawat bukan merupakan
seorang sanitarian.
Semoga melalui saran di atas dapat membantu berjalannya program pengawasan sarana air
bersih pada periode yang akan datang sehingga dapat mencapai target yang sudah ditetapkan
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang maupun oleh Puskesmas Kutawaluya.

31

Daftar Pustaka

1. L.A. Dewi, R. Dwina. Evaluasi Penyediaan Air Bersih Dan Sanitasi Lingkungan
Sebagai Dasar Usulan Perencanaan Perbaikan (Studi Kasus : Kecamatan Cileunyi,
Kabupaten Bandung). Program Studi Teknik Lingkungan ITB. Bandung : 2005
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Program Air Bersih dan Sanitasi.
Jakarta : Depkes RI, 2004
3. Notoadmodjo S. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Edisi revisi 2011. Jakarta:
Rineka Cipta. 2011
4. WHO/UNICEF.

Global

Water

Supply

and

Sanitation

Assessment

2000

Report.Geneva. 2000.
5. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Buku Kumpulan Peraturan dan Pedoman
Teknis Kesehatan Lingkungan. Propinsi Jawa Barat. 2004
6. Direktorat Penyehatan Air. Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Kualitas Air Perkotaan.
Jakarta.1990.
7. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penggunaan dan Pemeliharaan Sarana
Penyediaan Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Jakarta. 1990
8. Trihono, Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2010. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Diunduh tanggal 22 Desember 2014 dari:
http://www.kesehatan.kebumenkab.go.id/data/lapriskesdas.pdf

32

9. Trihono, Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2013. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Diunduh tanggal 22 Desember 2014 dari:
http://www.kesehatan.kebumenkab.go.id/data/lapriskesdas.pdf
10. Departemen Kesehatan. Pedoman Manajemen Puskesmas. Jakarta. 2002
11. Rihadi S. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Berbasis Lingkungan. Maret
2001. Diunduh dari http://www.tempo.co.id/medika/arsip/032001/top-1.htm. tanggal
20 September 2014
12. Staf Ahli MENLH

bidang

Ekonomi

dan

Pengentasan

Kemiskinan

Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Parallel Event : Lokakarya Event :


Lokakarya Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup. Agustus 2007. Diunduh
dari http://wwwnew.menlh.go.id, 20 September 2014.
13. Departemen Kesehatan. Pedoman Manajemen Puskesmas. Jakarta. 2002

33