Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH PENYELIDIKAN TANAH DENGAN SONDIR

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pondasi merupakan bagian bangunan yang menyalurkan beban langsung ke dalam
lapisan tanah. Jika kondisi tanah di bawah struktur cukup kuat dan mampu
mendukung beban yang ada berarti pondasi plat setempat dapat digunakan untuk
menyalurkan beban. Dilain pihak, seandainya kondisi tanah permukaan adalah
lunak berarti tiang atau pier dapat digunakan untuk menyalurkan beban lebih
dalam pada kondisi tanah yang paling sesuai. Pada tulisan ini pembahasan dibatasi
hanya pada pondasi dangkal. Dalam dunia konstruksi yang menentukan daya
dukung ijin pondasi dangkal biasanya adalah insinyur geoteknik. Berdasarkan
pengalaman dan didukung oleh teori-teori, insinyur geoteknik menginterprestasikan
informasi hasil soil investigation untuk mendapatkan prediksi performansi pondasi.
Penyelidikan tanah untuk pondasi dangkal di Indonesia umumnya menggunakan
metode Conus Penetration Test (CPT) atau sounding/sondir. Dan hasil prediksi
tersebut berakhir pada laporan rekomendasi yang dibuat oleh insinyur geoteknik.
Ada berbagai cara untuk menentukan daya dukung tanah, salah satu diantaranya
adalah melakukan pengetesan dengan alat sondir. Alat ini mempunyai standar luas
penampang sebesar 10 cm2, sudut puncak 60, dan luas selimut 150 cm 2 (di
Indonesia 100 cm2). Kecepatan penetrasi 2 cm/detik (standar ASTM D411-75T).
Arsitek dan insinyur struktur mungkin sangat familiar dengan pernyataan seperti
Rekomendasi daya dukung ijin pondasi plat setempat pada lokasi site yaitu 2
kg/cm2. Tetapi bagaimana cara mendapatkannya dan menentukannya sehingga
rekomendasi tersebut muncul ? Pengetahuan ini berguna bagi arsitek untuk
keperluan preliminary design pondasi atau disain pondasi bangunan sederhana,
yang paling ideal jika didapatkan dari hasil penyelidikan tanah seperti CPT atau
sondir yang biasa digunakan di Indonesia dalam mendisain pondasi dangkal tetapi
jika belum ada dapat dimanfaatkan hasil sondir-sondir terdahulu dengan

mengasumsikan jika lokasi rencana bangunan dekat dengan lokasi sondir terdahulu,
dianggap daya dukung tanahnya diasumsikan sama walaupun asumsi tersebut tidak
sepenuhnya benar tetapi paling tidak dapat memberikan gambaran kondisi tanah
pada wilayah rencana.

1.2 Perumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan tes sondir ?
2. Apa saja keuntungan dan kerugian uji sondir ?
3. Bagaimana teori uji sondir itu ?
4. Apa saja alat dan bahan pengujian sondir ?
5. Bagaimana langkah kerja pengujian sondir ?
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan tes sondir
2. Mengetahui apa saja keuntungan dan kerugian uji sondir
3. Mengetahui teori uji sondir

4. Mengetahui alat dan bahan pengujian sondir


5. Mengetahui langkah kerja uji sondir

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tes Sondir
Tes sondir merupakan salah satu tes dalam bidang teknik sipil yang berfungsi untuk
mengetahui letak kedalaman tanah keras, yang nantinya dapat diperkirakan
seberapa kuat tanah tersebut dalam menahan beban yang didirikan di atasnya. Tes
ini biasa dilakukan sebelum membangun pondasi tiang pancang, atau pondasipondasi dalam lainnya. Data yang didapatkan dari tes ini nantinya berupa besaran
gaya perlawanan dari tanah terhadap konus, serta hambatan pelekat dari tanah
yang dimaksud. Hambatan pelekat adalah perlawanan geser dari tanah tersebut
yang bekerja pada selubung bikonus alat sondir dalam gaya per satuan panjang.
Hasil dari tes sondir ini dipakai untuk:

Menentukan tipe atau jenis pondasi apa yang mau dipakai

Menghitung daya dukung tanah asli

Menentukan seberapa dalam pondasi harus diletakkan nantinya

2.2 Metode Sondir


Metoda sounding/sondir terdiri dari penekanan suatu tiang pancang untuk meneliti
penetrasi atau tahanan gesernya. Alat pancang dapat berupa suatu tiang bulat atau

pipa bulat tertutup dengan ujung yang berbentuk kerucut dan atau suatu tabung
pengambil contoh tanah, sehingga dapat diperkirakan (diestimasi) sifat-sifat fisis
pada strata dan lokasi dengan variasi tahanan pada waktu pemancangan alat
pancang itu. Metoda ini berfungsi untuk eksplorasi dan pengujian di lapangan. Uji ini
dilakukan untuk mengetahui elevasi lapisan keras (Hard Layer) dan homogenitas
tanah dalam arah lateral. Hasil Cone Penetration Test disajikan dalam bentuk
diagram sondir yang mencatat nilai tahanan konus dan friksi selubung, kemudian
digunakan untuk menghitung daya dukung pondasi yang diletakkan pada tanah
tersebut.
Di Indonesia alat sondir sebagai alat tes di lapangan yang sangat terkenal karena di
negara ini banyak dijumpai tanah lembek (misalnya lempung) hingga kedalaman
yang cukup besar sehingga mudah ditembus dengan alat sondir. Di dunia
penggunaan Sondir ini semakin populer terutama dalam menggantikan SPT untuk
test yang dilakukan pada jenis tanah liat yang lunak dan untuk tanah pasir halus
sampai tanah pasir sedang/kasar. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui
perlawanan penetrasi konus (qc), hambatan lekat (fs) tanah dan friction ratio (rf)
untuk memperkirakan jenis tanah yang diselidiki.
2.3 Keuntungan dan Kerugian Alat Sondir

Keuntungan:

1. Cukup ekonomis.
2. Apabila contoh tanah pada boring tidak bisa diambil (tanah lunak / pasir).
3. Dapat digunakan manentukan daya dukung tanah dengan baik.
4. Adanya korelasi empirik semakin handal.
5. Dapat membantu menentukan posisi atau kedalaman pada pemboran.
6. Dalam prakteknya uji sondir sangat dianjurkan didampingi dengan uji lainnya
baik uji lapangan maupun uji laboratorium, sehingga hasil uji sondir bisa
diverifikasi atau dibandingkan dengan uji lainnya.

7. Dapat dengan cepat menentukan lekat lapisan tanah keras.


8. Dapat diperkirakan perbedaan lapisan
9. Dapat digunakan pada lapisan berbutir halus

Kerugian:

1. Jika terdapat batuan lepas biasa memberikan indikasi lapisan keras yang
salah.
2. Jika alat tidak lurus dan tidak bekerja dengan baik maka hasil yang diperoleh
bisa merugikan.
3. Tidak dapat diketahui tanah secara langsung
2.4 Teori Sondir
Sondir merupakan salah satu pengujian tanah untuk mengetahui karakteristik tanah
yang dilakukan di lapangan atau pada lokasi yang akan dilakukan pembangunan
konstruksi. Sondir ada dua macam, yang pertama adalah sondir ringan dengan
kapasitas 0-250 kg/cm dan yang kedua adalah sondir berat dengan kapasitas 0600 kg/cm. Jenis tanah yang cocok disondir dengan alat ini adalah tanah yang tidak
banyak mengandung batu.
PERHITUNGAN:
Hambatan Lekat (HL)
HL = (JP-PK) x A/B
Dimana :
JP = Jumlah Perlawanan Konus dan Hambatan Lekat (px2)
PK = Perlawanan Penetrasi Konus (px1)
A = Interval Pembacaan 20 cm

B = Faktor Alat = L Konus/L torak= 10 cm


Jumlah Hambatan Lekat
JHLi = Z HL
Dimana :
i = Kedalaman Lapisan Yang Ditinjau
Z= Zigma
2.4 Alat dan Bahan
Alat:
1. Mesin sondir
2. Satu set batang sondir lengkap dengan stang dalam yang panjangnya 1
meter
3. Manometer 2 buah

Kapasitas 0-50 kg/cm

Kapasitas 0-250 kg/cm


4. Satu buah Bikonus dan satu buah paten konus.
5. Pelat persegi 2 batang
6. Satu set (2) buah angker

Bahan :
1. Minyak Hidrlolik
2. Tanah

2.5 LANGKAH KERJA


1. Menentukan lokasi yang permukaannya datar
2. Memasang empat buah angker ke dalam tanah dengan memutarnya
menggunkan kunci pemutar angker (kunci T). kemudian memasang 2 pelat
persegi yng memanjang di saming angker. Jarak antar angker dan jarak
kedua pelat disesuaikan dengan ukuran mesin sondir.
3. Memasang mesin sondir tegak lurus dan perlengkapannya pada lokasi
pengujian, yang diperkuat dengan pelat besi pendek untuk menjepit mesin
dan diperkuat dengan mor pengunci angker yang dipasang ke dalam tanah.
4. Memasang Traker,tekan stang dalam. Pada penekanan pertama ujung konus
akan bergerak ke bawah sedalam 4 cm, kemudian manometer dibaca yang
menyatakan perlawanan ujung. Pada penekanan berikutnya konus dan
mantelnya bergerak
4cm. Nilai pada manometer yang terbaca adalah nilai tekanan ujung dan
perlawanan lekat.
5. Menekan stang luar sampai kedalaman baru, penekanan stang dilakukan
sampai setiap kedalaman tambahan sebanyak 20 cm.
6. Melakukan hal yang sama dengan langkah kerja di atas sampai pembacaan
manometer tiga kali berturut-turut menunjukkan nilai 150 kg/cm 2 dan jika
penekanan mesin sondir sudah mencapai maksimalnya atau dirasa telah
mencapai tanah keras, maka pengujian ini dapat dihentikan.
GAMBAR: ALAT SONDIR
GAMBAR: KERJA UJI SONDIR

Contoh Data dan Hasil Perhitungan

Tabel hasil perhitungan sondir.

(1)

(2)

Kedalama Perlawanan
n

Konus

(cm)

(kg/cm)

0
0,2
0,4
0,6
0,8
1,0
1,2
1,4
1,6
1,8
2,0

0
10
14
14
18
20
30
20
20
60
100

(3)
Jumlah
Perlawana
n
(kg/cm)

0
20
28
28
32
30
40
30
30
70
140

(4)
Perlawana
n Gesek
(kg/cm)
(3)-(2)
0
10
14
14
14
10
10
10
10
10
40

(7)

(5)
(6)

Hambata

Hambatan
JHP
Pelekat

n
Setempat

(kg/cm)
(kg/cm)
(4)x2
0
20
28
28
28
20
20
20
20
20
80

(kg/cm)
S(5)
0
20
48
76
104
124
144
164
184
204
284

(4)/10
0
1
1,4
1,4
1,4
1
1
1
1
1
4

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sondir merupakan salah satu pengujian tanah untuk mengetahuikarakteristik tanah
yang dilakukan di lapangan atau pada lokasi yang akandilakukan pembangunan
konstruksi. Dari cara kerja dan dilakukannya tes makaakan didapatkan nilai
perlawanan konus pada kedalaman-kedalaman tertentu, Pemeriksaan Kekuatan
tanah Dengan Sondir, menentukan tipe atau jenis pondasiapa yang mau dipakai,
menghitung daya dukung tanah asli, dan menentukan seberapa dalam pondasi
harus diletakkan nantinya.
Setelah melakukan praktikum sondir, maka dapat disimpulkan bahwa :
2. Nilai perlawanan konus pada kedalaman 2,00 m sebesar 100 kg/cm 2 dan
jumlah perlawan sebesar 140 kg/cm2.

3. Sondir dihentikan pada kedalaman 2,00 m sebelum manometer menunjukkan


150 kg/cm2 karena alat sondir sudah terangkat.
https://tekniksipil006.wordpress.com/2014/10/12/makalah-penyelidikantanah-dengan-sondir/

3.2 Daftar Pustaka


http://tanya-konstruksi.blogspot.com/2013/02/apa-itu-tes-sondir.html
http://tukangsondir.blogspot.com/2013/02/cara-kerja.html
eprints.unsri.ac.id/1771/1/pondasi_dangkal01.doc
http://rickyhamzah.blogspot.com/2011/04/sondir.html
http://labmektansipilusu.blogspot.com/2011/02/pemeriksaan-kekuatan-tanahdengan.html
www.ilmusipil.com/wp-content/uploads/2010/01/alat-tes-sondir1.jpg
https://tekniksipil006.files.wordpress.com/2014/10/27c78caratekniskerjaujisondir1.jpg
http://www.academia.edu/4768661/PROGRAM_STUDI_OSEANOGRAFI_JURUSAN_ILMU
_KELAUTAN_FAKULTAS_PERIKANAN_D

https://untungsuprayitno.wordpress.com/category/soil-investigation/
Archive for the Soil Investigation Category
Penyelidikan Tanah dengan Metode Pengeboran (Boring)
Penyelidikan tanah dengan metode ini bertujuan menentukan jenis dan sifat-sifat
tanah (soil properties) pada lokasi yang akan dibangun pondasi dari tiap tebal
lapisannya. Pengambilan sample tanah ini dikenal dengan sebutan undisturbed soil
sample (pengambilan tanah tidak terganggu). Pengambilan sample tanah ini adalah
dengan cara menge-bor sampai kedalaman tertentu dengan menggunakan tabung
(pipa) logam berongga kedalam tanah. Di proyek transmisi biasanya dengan
metode Hand Auger (manual), kedalaman umum dengan cara ini bisa sampai 5-6m,
kedalaman ini mungkin memadai untuk penyelidikan tanah pondasi pada tipe pad
and chimney. Tapi tentu saja tidak cukup untuk rencana pondalam (pile foundation),
untuk itu dengan pengeboran dengan mesin diperlukan (deep boring). Lembaga
penyelidikan tanah seperti halnya konsultan tanah, lembaga PU (Pekerjaan Umum)
dan universitas2 tertentu yang memiliki peralatan dan laboratorium mekanika
tanah biasanya jasa mereka selalu dimanfaatkan dalam melakukan investigasi ini.
Dalam spesifikasi proyek TL, jumlah titik penyelidikan umumnya dilakukan pada
tiap lokasi tower jenis tension atau satu titik tiap jarak 10 km jalur, ataupun
berdasarkan usulan kontraktor atau klien dalam penentuan jumlah titik dan
lokasinya. Biasanya pekerjaan bor ini melengkapi hasil penyelidikan tanah dengan
cara sondir, artinya sondir dilakukan terlebih dahulu. Kelemahan boring adalah
kesulitan untuk menembus lapisan batuan, untuk lapisan batuan diperlukan cara
penyelidikan khusus yaitu core drill.
Tabung-tabung dimasukkan (ditekan/push) kedalam tanah, dengan cara
menyambung ujung-ujungnya bagian demi bagian sampai kedalaman yang
dikehendaki. Sample tanah yang berada dalam tiap bagian tabung selanjutnya
dijaga dan dirawat (ujung-ujung pipa yang berisikan tanah ditutup dengan bahan
khusus/lilin), untuk kemudian dibawa ke laboratorium penyelidikan tanah.
Umumnya untuk menghemat, tidak seluruh tanah pada tiap lapisan yang dibawa ke
laboratorium, hanya tanah pada lapisan kedalaman desain rencana saja yang
dibutuhkan, mungkin saja sample pada kedalaman 3-4 m.

Hasil uji dilaboratorium akan memberikan beberapa soil data/parameter penting


yang dibutuhkan dalam perhitungan desain pondasi. Untuk itu dipilih beberapa
metode pengujian saja di laboratorium yang akan menghasilkan data tanah yang
diperlukan.
Data tersebut antara lain :
1. Indeks tanah (Y, w, e, gs, dll) :
Pengukuran volume dan berat benda uji
Uji saringan (sieve analysis test)
Atterberg Test
2. Kuat Geser Tanah (c, ):
Triaxial Test (UU,CU,CD)
Direct Shear Test
Unconfined Compression Test

Laporan hasil pengeboran tanah harus dibuat jelas dan tepat pengawas lapangan
yang menangani pekerjaan selain harus selalu mencatat hal-hal kecil yang
berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, seperti : pergantian alat dan tipenya,
kedalaman pada waktu penggantian alat, metode penahanan lubang bor agar stabil
atau penahan tebing lobang uji.
Sesudah contoh tanah diuji di laboratorium, ditentukan klasifikasinya. Catatan
lapangan bersama dengan hasil pengujian laboratorium tersebut dirangkum
sedemikian sehingga batas-batas antara material yang berbeda diplot pada elevasi
yang benar, menurut skala yang ditentukan.
Semua hasil-hasil pengeboran dicatat dalam laporan hasil pengeboran (atau disebut
boring log), yang berisi antara lain:
Kedalaman lapisan tanah.

Elevasi permukaan tiik bor, lapisan tanah dan muka air tanah.
Simbol jenis tanah secara grafis.
Deskripsi tanah.
-Posisi dan kedalaman pengambilan contoh. Disebutkan kondisi contoh terganggu
atau tak terganggu.
Nama proyek, lokasi, tanggal, dan nama penanggung jawab pekerjaan
pengeboran.
Dalam penggambaran profil lapisan tanah, lapisan tanah disajikan dalam bentuk
simbol-simbol yang digambar secara vertical. Gambar berikut menyajikan contoh
symbol-simbol tersebut. Kebanyakan tanah terdiri dari beberapa campuran dari
jenis tanah-tanah tertentu, seperti lempung berlapis, lanau berlapis, lanau berpasir,
kerikil berlanau, dan sebagainya. Dalam kondisi ini, symbol-simbol dapat
dikombinasikan, dengan kandungan tanah yang dominan digambar lebih banyak
atau lebih tebal.

(bersambung)
Posted Friday 27 May, 2011 by Fellow in Soil Investigation
Pengolahan Data Sondir

6 comments

Pengolahan data sondir diperlukan bagi kepentingan interprestasi desain untuk


pondasi tower (atau pole) transmisi. Data yang dibutuhkan dari lapangan adalah

berupa raw data, yang memuat hasil bacaan manometer tiap interval kedalaman
per 20 cm sampai kedalaman akhir konus, yaitu bacaan yang pertama berupa
perlawanan konus (qc) dan bacaan kedua berupa perlawanan geser (qc+fs). Nomor
ID konus yang digunakan, kedalamanan muka air tanah, pelaksana/penanggung
jawab pencatatan/pembacaan manometer, tanggal penyelidikan, lokasi
(sawah/ladang/rawa), prediksi muka banjir (jika ada), Nama proyek, Nomor lokasi
(nomor tower), dll.
Hasil pengolahan berbentuk tabel perhitungan dan grafik sondir, yang memuat
informasi berikut :
qc (perlawanan konus, atau daya dukung);
fs (perlawanan geser);
rf (angka banding geser, atau friction ratio);
Tf (geseran total)
Perhitungan dan penggambaran grafik sondir ini dilakukan dengan menggunakan
komputer yang memakai software dari Microsoft Excel atau program software yang
khusus untuk pengolahan data CPT (Cone Penetration Test).

Data hasil pengukuran adalah cell yang berwarna kuning, dan rumus yang terpakai
adalah sebagai berikut :

Dari tabel diatas terlihat bahwa Variabel Dc, Ds dan Ls adalah dimensi konus yang
dipakai pada penyelidikan ini, variabel ini akan dihitung sebagai koreksi alat konus.
Dari tabel diatas kita akan memindahkan kedalam bentuk grafik yang disebut juga
Grafik sondir.

Pada tabel perhitungan sondir, terdapat kolom estimasi jenis tanah, jenis tanah
yang diprediksikan adalah berdasarkan angka friction ratio, Rf. Pengklasifikasian ini
bermacam-macam tergantung dari hasil penyelidikan tanah yang dilakukan
beberapa ahli geoteknik. Penggunaan klasifikasi ini diserahkan kepada pembaca
blog yang tercinta.

Dari hasil penyondiran , jenis tanah Sand (pasir) dapat diketahui dari nilai qc yang
tinggi dan Rf yang kecil, sebaliknay untuk Clay (lempung) qc-nya kecil dan Rf-nya
tinggi.
Walau kelompok jenis tanah cukup banyak, namun penulis hanya mengelompokkan
kedalam 2 kelompok besar saja yaitu sand atau clay , semoga maklum adanya.
Posted Wednesday 18 May, 2011 by Fellow in Soil Investigation
Penyelidikan tanah dilapangan dengan cara Sondir

8 comments

Penyelidikan tanah dibutuhkan untuk keperluan desain pondasi TL. Yang sering
digunakan adalah dengan metode sondir. Mengingat bahwa umumnya rute jalur
transmisi sangat panjang dan lokasinya seperti persawahan dan perbukitan dan
jauh dari jalan yang bisa diakses dengan kendaraan roda empat, , untuk
gampangnya dipakai mesin sondir ringan, yaitu dengan kapasitas sondir 2.5 ton.
Dan alat sondir ini mudah diangkut dengan kendaraan kecil (pick up) dengan bak
terbuka dan dibawa ke lokasi penyondiran dengan tenaga manusia. Tim sondir
biasanya terdiri dari 5 orang.

Standar umum yang digunakan dalam penyelidikan tanah ini adalah :


ASTM D3441 05 Standard Test Method for Mechanical Cone Penetration Tests of
Soil
SNI 2827:2008 Cara uji penetrasi lapangan dengan alat sondir
Penyondiran dilakukan secara manual (mechanic hydraulic) pada titik tempat
dimana pondasi akan dibangun. Untuk kepentingan penyelidikan tanah ,
penyondiran dilakukan pada setiap titik di areal tapak tower (tower area) biasanya 1
lokasi dititik pusat(tengah)nya. Jika tiang transmisi menggunakan tower, ada 4 kaki
(leg) dan tiap leg akan dibuat pondasi, maka dilakukan sondir pada tiap tengah
kaki-kaki tower tersebut atau di titik pusat telapak (foot) pondasi tersebut, demi
keakuratan dalam proses desainnya.
Jumlah dan lokasi titik yang disondir tidak ada aturan pasti, yang jelas pada tiap
lokasi tower atau pole, minimal diambil satu hasil penyelidikan sondir. Urusan
beginian diserahkan kepada Geotechnic Engineer berdasarkan Engineering
Judgement yang dimilikinya. Filosofi dalam hasil investigasi adalah tiap titik lokasi
penyelidikan selalu berbeda daya dukungnya. Dari pengalaman kami kecepatan
progress pelaksanaan sondir di TL (transmission line) adalah 2-4 lokasi tower
perhari dengan 1 titik per lokasi tower.
Alat sondir memiliki alat ukur 2 buah manometer, dengan skala berbeda dan ukuran
diameter manometer itu juga berbeda. Manometer berguna mengukur gaya tekan,
skala satuannya bermacam-macam (seperti kg atau ton, atau kg/cm2 ). Untuk

sondir ringan manometer yang dipakai adalah untuk ukuran 0-50 kg/cm2 dan 0-250
kg/cm2. Manometer yang dipakai selalu dikalibrasi dan bersertifikasi sebelum
dipergunakan. Secara reguler manometer dikalibrasi (kami melakukannya per
semester atau sebelum dipergunakan secara efektif di proyek TL, sedangkan SNI
mensyaratkan minimal 1 kali dalam periode 3 tahun).

Batang sondir (rod) dipergunakan untuk menyondir secara vertikal hingga


kedalaman tanah 25 m dari permukaan tanah, atau kira2 ada 25 batang yang lurus
(vertically) ( panjang 1 btg = 1 m) yang lurus. Umumnya dari supplier jumlah
batang hanya disediakan 20 buah saja, perlu diorder kembali untuk keperluan
pengukuran yang lebih dalam dan cadangan sewaktu-waktu hilang atau
rusak/bengkok. Dan tipe konus (cone) yang selalu dipakai adalah hanya dual-cone
atau bikonus (lihat gambar). Untuk pelumas alat sondir perlu diperhatikan bahwa oli
yang dipakai adalah dengan tingkat kekentalan (vikositas) khusus, yaitu SAE-10,
dan jarang didapatkan disekitar lokasi, maka perlu disediakan dengan jumlah yang
cukup selama perawatan dan pemakaian.
..

Satu hal yang sering terjadi, dimana pengguna (end user) jarang memperhatikan
bahwa ukuran konus tidak sesuai dengan standar baik ASTM ataupun SNI
dikarenakan fabrikator alat yang tidak konsisten. Bila ukuran konus tidak sesuai
maka dalam perhitungan sondir akan dibuat angka koreksi konus, atau dikenal
dengan sebutan koreksi alat. Bila deviasi dimensi konus ini sangat besar dari
persyaratan standar, maka konus tidak boleh digunakan!!! Bila digunakan jumlah
yang banyak dari perlatan sondir maka tiap konus diberikan nomor pengenalnya
atau ID (identifikasi), agar perhitungan sondir sesuai dengan pendataan.
Dalam pelaksanaan sondir pada proyek TL sesuai spesifikasi (technical
requirement), kedalaman penyelidikan dibatasi maksimum 25 m atau konus telah
mencapai 20o kg/cm2 (penekanan sebanyak 3 x berturut-turut) atau yg umum kami
gunakan dibatasi sampai angka 150 kg/cm2 atau mencapai kedalaman 20 meter,
tergantung mana dulu yang tercapai apakah gaya tekan konus atau kedalaman
maksimumnya.
Dalam prakteknya, bila lapisan tanah tidak dapat ditembus pada kedalaman yang
dangkal 1-3m, atau angka penetrasi konus maksimum tercapai, dan bila
diasumsikan menyentuh lapisan batuan/ bongkahan batu, maka dilakukan
penyondiran ulang dititik lain didekatnya sekitar 2m lebih dari titik sebelumnya.
Penyelidikan sondir harus dilakukan dilokasi pembuatan pondasi tower/pole. Karena
SATU kali penyondiran untuk mewakili beberapa lokasi tower haram dilakukan.
Celakanya lagi jika ada anggapan bahwa dalam satu wilayah RT/RW, kondisi lapisan
tanah serupa, seperti kata bang haji,TERLAAALU..!.
Penyelidikan sondir adalah secara tegak lurus (vertical), miring/bersudut gak
diperbolehkan, apalagi horizontal (emangnya mau buat terowongan apa?!).
Data sondir yang dibutuhkan selain dari angka perlawanan konus dan gaya
gesernya adalah penentuan kedalaman air tanah (ground water level) yang
diindikasikan basahnya batang sondir/pipa sondir pada kedalam tertentu selama
pengujian. Hal ini bisa juga diperoleh dari survei sumur penduduk sekitarnya jika
memungkinkan. Kedalaman muka air tanah biasanya juga berbeda antara musim
kering atau hujan. Kondisi lokasi juga perlu diperhatikan apakah, daerah tapak

tower terendam dalam keadaan banjir (musim hujan, apakah ada banjir tahunan
atau pada periode tertentu, seperti disawah atau rawa misalnya). Proyeksi
ketinggian banjir juga sedapat mungkin diketahui dan dicantumkan dalam laporan
penyelidikan.
Dalam peyondiran informasi penting adalah lokasi tower/pole, tiap lokasi tapak
tower ditandai dengan marka dari beton yang berisikan nomor lokasi atau nomor
tower, letak marka ini adalah sebagai center peg (CP) dan jangan sampai
dipindahkan dari tempatnya atau terganggu oleh peralatan dan pekerja (karena bila
ketahuan surveyor jalur, bisa dimarahin habis-habisan). Pantangan penyondiran
jangan dilakukan pada titik daerah dimana terdapat jalur pipa listrik, gas atau air,
karena berbahaya bagi keselamatan pekerja dan konstruksi eksisting, atau daerah
pemakaman (karena pasti ada komplain dari dunia lain), hati-hati untuk lokasi yang
ada semburan gas alam (natural gases) seperti methan, situs purbakala, dll. Dan
jangan pula mengharapkan dari hasil penyondiran akan ditemukan ladang sumur
minyak yang baru, keterlaluan itu namanya.
Posted Wednesday 18 May, 2011 by Fellow in Soil Investigation
General : Penyelidikan Tanah pada proyek TL

Leave a comment

Penyelidikan tanah dilakukan pada sepanjang jalur transmisi yang berguna untuk
penentuan klas tanah (soil class) yang akhirnya berguna untuk penentuan tipe
pondasi (Foundation Type).
Walaupun dari pengamatan (visual) pada tanah dapat dilakukan pada saat
kunjungan lapangan (site visit) di sepanjang jalur, data lain dapat diperoleh
berdasarkan kondisi gografis tanah dari lembaga yang berkompeten, ataupun
dengan penyelidikan dengan alat bantu baik langsung dilapangan (on site) maupun
dengan membawa contoh (sample) tanah untuk di tes di laboratorium tanah (Soil
Mechanics Lab.)
Penyelidikan tanah yang umumnya dilakukan adalah berdasarkan metode :
1. Cone Penetration Test (CPT) atau Quasi-Static Penetration Test, yang umum
digunakan adalah sondir baik dengan Dutch Cone (Begemann Type) atau bikonus

(friction cone/mechanical cone) baik manual (yg paling sering dilaksanakan


mengingat akses kelokasi yang jauh) dan maupun dengan truk (truck mounted
CPT),untuk lokasi yang mudah dijangkau dan akses yang memungkinkan, berbagai
macam konus (seperti electric cone) bisa dipergunakan sesuai peruntukannya
Metode Penyelidikan Tanah yang umumnya mengacu pada Standard ASTM D3441.
CPT dilakukan untuk setiap lokasi tower/pole di sepanjang jalur, umumnya
penyelidikan tanah untuk tower hanya satu titik penyelidikan pada satu lokasi tower
dan bila perlu pada tiap kaki tower untuk memperoleh hasil yang memuaskan,
sedangkan untuk pole hanya satu titik yang umumnya dilakukan,
2. Borehole , pekerjaan penyelidikan lapangan dengan cara membor tanah sampai
dengan jarak tertentu (5-10 m) pada kedalam baik secara manual (hand auger)
maupun dengan mesin. Berbagai jenis lapisan dapat dipeoleh melalui pengamatan
(dalam bentuk bore log) dan beberapa parameter tiap lapisan (soil layer) di peroleh
lewat serangkain tes di laboratorium
3. Soil Mechanic Test in Laboratory, penyelidikan dilakukan dengan membawa
hasil (sample) dari pengeboran tanah untuk dilakukan parameter nilai dari lapisan
tanah. Seperti berat jenis, triaxial test, dll
4. Trial (Test) Pit , atau penggalian percobaan umumnya dilakukan pada saat akan
dimulai pekerjaan kontruksi pondasi dan berguna untuk jenis pondasi dangkal
(shallow foundation). Jika terdapat perbedaan dari hasil penyelidikan tanah pada
saat awal dapat memeberikan kesempatan untuk mengusulkan perubahan soil class
atau foundation type.
Dari hasil penyelidikan tanah tersebut akan dirangkum (compile) ke dalam
Foundation Schedule.
Berdasarkan penyelidikan tanah, tanah di bagi kedalam berbagai soil class, yang
didasarkan pada :
Daya dukung tanah (allowable bearing capacity)

Kondisi letak air tanah (Ground Water Condition) : Kering (dry) atau jenuh
(submerged)
Sudut keruntuhan tanah (Soil Frustrum Angle)
Kondisi lapisan bawah (Ground Layer Condition) : Tanah (soil) atau Batuan (Rock)
Untuk berbagai soil class diberikan pengenal umum dalam bentuk angka/huruf
seperti Soil Class 1, 2, 3, 3w, 4a, 4b, 5, 6a, 6b, 7 dll yang juga diberikan type
pondasi (foundation type) yang diusulkan untuk berbagai soil class.
Hasil Penyelidikan Tanah disiapkan dalam bentuk dokumen engineering yang
berisikan :
1. CPT Report yang berisikan : Data pengukuran , CPT Chart / grafik sondir dan
foto lokasi sondir
2. Borelog, untuk tiap lokasi tower yang dibutuhkan penentuan jenis lapisan dan
penyelidikan lanjutan
3. Soil Test Report, dari laboratorium untuk lokasi tanah buat pondasi yang
diperlukan guna penyelidikan lanjutan
4. Foundation Schedule, yang merupakan rangkuman rencana tipe pondasi dari
tiap lokasi struktur yang akan dibangun

http://www.soiltest.sienconsultant.com/

http://jasasondirbandung.blogspot.co.id/2014/08/penyelidikan-tanah-sondircptborehole.html
Penyelidikan Tanah (Sondir/CPT, Borehole, SPT)
Penyelidikan tanah dilakukan pada sepanjang jalur transmisi yang berguna untuk
penentuan klas tanah (soil class) yang akhirnya berguna untuk penentuan tipe
pondasi (Foundation Type).

Walaupun dari pengamatan (visual) pada tanah dapat dilakukan pada saat
kunjungan lapangan (site visit) di sepanjang jalur, data lain dapat diperoleh
berdasarkan kondisi gografis tanah dari lembaga yang berkompeten, ataupun
dengan penyelidikan dengan alat bantu baik langsung dilapangan (on site) maupun
dengan membawa contoh (sample) tanah untuk di tes di laboratorium tanah (Soil
Mechanics Lab.)

Penyelidikan tanah yang umumnya dilakukan adalah berdasarkan metode :

1. Cone Penetration Test (CPT) atau Quasi-Static Penetration Test, yang umum
digunakan adalah sondir baik dengan Dutch Cone (Begemann Type) atau bikonus
(friction cone/mechanical cone) baik manual (yg paling sering dilaksanakan
mengingat akses kelokasi yang jauh) dan maupun dengan truk (truck mounted
CPT),untuk lokasi yang mudah dijangkau dan akses yang memungkinkan, berbagai
macam konus (seperti electric cone) bisa dipergunakan sesuai peruntukannya

Metode Penyelidikan Tanah yang umumnya mengacu pada Standard ASTM D3441.

CPT dilakukan untuk setiap lokasi tower/pole di sepanjang jalur, umumnya


penyelidikan tanah untuk tower hanya satu titik penyelidikan pada satu lokasi tower

dan bila perlu pada tiap kaki tower untuk memperoleh hasil yang memuaskan,
sedangkan untuk pole hanya satu titik yang umumnya dilakukan,

2. Borehole , pekerjaan penyelidikan lapangan dengan cara membor tanah sampai


dengan jarak tertentu (5-10 m) pada kedalam baik secara manual (hand auger)
maupun dengan mesin. Berbagai jenis lapisan dapat dipeoleh melalui pengamatan
(dalam bentuk bore log) dan beberapa parameter tiap lapisan (soil layer) di peroleh
lewat serangkain tes di laboratorium

3. Soil Mechanic Test in Laboratory, penyelidikan dilakukan dengan membawa hasil


(sample) dari pengeboran tanah untuk dilakukan parameter nilai dari lapisan tanah.
Seperti berat jenis, triaxial test, dll

4. Trial (Test) Pit , atau penggalian percobaan umumnya dilakukan pada saat akan
dimulai pekerjaan kontruksi pondasi dan berguna untuk jenis pondasi dangkal
(shallow foundation). Jika terdapat perbedaan dari hasil penyelidikan tanah pada
saat awal dapat memeberikan kesempatan untuk mengusulkan perubahan soil class
atau foundation type.

Dari hasil penyelidikan tanah tersebut akan dirangkum (compile) ke dalam


Foundation Schedule.
Berdasarkan penyelidikan tanah, tanah di bagi kedalam berbagai soil class, yang
didasarkan pada :

- Daya dukung tanah (allowable bearing capacity)


- Kondisi letak air tanah (Ground Water Condition) : Kering (dry) atau jenuh
(submerged)

- Sudut keruntuhan tanah (Soil Frustrum Angle)


- Kondisi lapisan bawah (Ground Layer Condition) : Tanah (soil) atau Batuan (Rock)

Untuk berbagai soil class diberikan pengenal umum dalam bentuk angka/huruf
seperti Soil Class 1, 2, 3, 3w, 4a, 4b, 5, 6a, 6b, 7 dll yang juga diberikan type
pondasi (foundation type) yang diusulkan untuk berbagai soil class.
Hasil Penyelidikan Tanah disiapkan dalam bentuk dokumen engineering yang
berisikan :

1. CPT Report yang berisikan : Data pengukuran , CPT Chart / grafik sondir dan foto
lokasi sondir
2. Borelog, untuk tiap lokasi tower yang dibutuhkan penentuan jenis lapisan dan
penyelidikan lanjutan
3. Soil Test Report, dari laboratorium untuk lokasi tanah buat pondasi yang
diperlukan guna penyelidikan lanjutan
4. Foundation Schedule, yang merupakan rangkuman rencana tipe pondasi dari tiap
lokasi

struktur

yang

Jasa sondir tanah silahkan klik sondirtanah.

akan

dibangun

Soil Test (Sondir dan Boring) Dan Aplikasinya


,
Pemboran tanah/boring dan sondir (CPT) adalah pekerjaan yang paling umum dan
akurat untuk tanah berlempung dalam survey geoteknik lapangan. Yang dimaksud
dengan

pemboran

tanah

adalah

membuat

lubang

kedalam

tanah

dengan

menggunakan alat bor manual maupun alat bor mesin dengan


tujuan :

Mengidentifikasi jenis tanah sepanjang kedalaman lubang bor.

Untuk mengambil contoh tanah asli maupun tidak asli pada kedalaman yang
dikehendaki.

Untuk memasukkan alat uji penetrasi baku (Standart Penetration Test, SPT)
pada kedalaman yang dikehendaki.

Untuk memasukkan alat uji lainnya kedalam tanah yang dikehendaki,


misalnya : uji rembesan lapangan, uji vane shear, uji presuremeter,
pengukuran tekanan air pori dan lain-lain.

Sondir Tanah

Sondir
Pekerjaan sondir (Dutch Cone Penetration Test, CPT) merupakan alat penyelidikan
tanah yang sangat sederhana dan populer di Indonesia. Dari alat sondir,
memberikan tekanan konus dan hambatan pelekat yang dapat dikorelasikan
terhadap

parameter

tanah

yang

lain

seperti

undrained

shear

strength,

kompressibilitas, elastisitas tanah dan dapat memperkirakan jenis lapisan tanah dan
parameter tanah lainnya.
Sampai sekarang ini, hasil uji sondir untuk tujuan-tujuan seperti :

Evaluasi kondisi tanah bawah permukaan di lapangan, stratigrafi (menduga


struktur lapisan tanah), klasifikasi lapisan tanah, kekuatan lapisan tanah dan
kedalaman lapisan tanah keras.

Menentukan lapisan tanah yang harus dibuang dan diganti dengan tanah
yang lebih baik dan dipadatkan dan kontrol kepadatan tanah timbunan.

Perencanaan pondasi dan perhitungan settlement.

Perencanaan stabilitas lereng galian atau timbunan dan lain-lain.

Letak dan Banyaknya Titik Bor dan Sondir


Untuk menentukan letak dan banyaknya titik bor dan sondir suatu proyek banyak
ditentukan oleh : jenis dan karakteristik sruktur bangunan atas yang direncanakan,
keanekaragaman sruktur geologi dan kondisi topografi daerah setempat, serta
lokasi atau daerah yang dianggap kritis. Pedoman penentuan letak dan banyaknya
bor dan sodir belum ada acuan yang jelas/pasti, dari berbagai sumber yang pernah
kami dapat dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Untuk proyek baru yang luas, untuk survey pendahuluan jarak titik bor dan
sondir antara 50 m sampai 150 m satu dengan yang lainnya. Sedangkan
pada survey detail penentuan titik-titik bor dan sondir harus dilakukan pada
bangunan yang berat dan penting.
2. Untuk sruktur yang besar dengan jarak kolom dekat, tempatkan titik-titik bor
dan sondir berjarak 15 25 m, utamakan meletakkan titik bor dan sondir
pada kolom yang bebannya berat, lokasi shearwall, lokasi ruang mesin dan
sebagainya.
3. Bangunan Jembatan, tempatkan

titik bor dan sondir ditengah/sekitar

perletakan pondasi, jika tanah diragukan perlu dilakukan pemboran kearah


keliling pondasi. Pada timbunan oprit jembatan yang tinggi dan lebar,
minimal dilakukan 1 (satu) titik bor dan sondir.

4. Bangunan Gedung atau pabrik yang luas dengan beban kolom ringan sampai
sedang, penempatan titik bor dan sondir cukup pada ke-empat sudut
ditambah satu titik ditengah. Sedangkan untuk beban kolom berat dan
daerah pantai perlu ditambah titik sondir dan boring.
5. Bangunan berat di tepi laut, seperti dry dock yang sudah ditentukan
letaknya, letakkan titik bor dan sondir berjarak 15 meter, dan tempatkan
titiktitik bor pada daerah kritis dan rawan erosi.
6. Rencana tembok penahan tanah yang panjang, tempatkan titik bor dan
sondir masing-masing berjarak 60 m sepanjang alinemen dinding, dan
tambahkan 2 (dua) titik bor atau 2 (dua) titik sondir diluar rencana dinding
pada daerah yang dianggap kritis dan rawan longsor.
Namun demikian penentuan akhir letak dan jumlah titik boring dan sondir
tergantung dari tenaga akhli geoteknik yang bersangkutan dan tergantung dari
pengalaman yang apernah dilakukan. Hal yang terjadi adalah dibatasi oleh
anggaran biaya yang tersedia.

[sumber : Soil Test, Masalah dan Aplikasinya pada Tanah Lunak, Ir. Muhrozi, MS,
Lab. Mekanika Tanah Jurusan Teknik SipilUniversitas Diponegoro]
Email This

Maksud dan Tujuan Sondir Tanah

Maksud dari penyelidikan geologi teknik ini adalah untuk mengetahui karakteristik
fisik tanah dan kedalaman yang sesuai untuk pelaksanaan teknis perencanaan
pondasi bangunan sipil yang akan didirikan di daerah rencana proyek tersebut
dengan adanya penyelidikan tanah ini maka dapat diharapkan bahwa perencanaan
pembangunan jembatan tersebut dapat direncanakan secara lebih efektif dan
ekonomis serta aman sesuai dengan sifat-sifat dan klasifikasi dari lapisan tanah
atau batuan.

soil test proyek rusunawa santri

Tujuan dari pekerjaan sondir tanah ini adalah untuk mengevaluasi pembangunan
gedung atau bangunan lain untuk mengetahui gambaran mengenai susunan tanah,
sifat fisik, besarnya daya dukung tanah di lokasi rencana proyek telah dilakukan
pekerjaan penyelidikan tanah dengan penyondiran.

Uji Tanah (Soil Test) Untuk Pondasi Bangunan


,

Tanah mempunyai fungsi yang penting dalam suatu lokasi pekerjaan konstruksi.
Tanah adalah pondasi pendukung suatu bangunan. Penyelidikan lapangan (soil test)
selalu diperlukan untuk mendapatkan data tanah di lapangan. Hasil penyelidikan
akan didapat parameter tanah yang digunakan dalam perhitungan perencanaan
struktur bawah bangunan. Tujuan penyelidikan untuk mendapatkan desain pondasi
yang optimal sesuai dengan beban dan sifat-sifat tanah yang menempati pada area
tersebut.
Pelaksanaan

penyelidikan

tanah

meliputi

penyelidikan

lapangan

dengan

menggunakan alat sondir (Cone Penetrometer Test). Sondir adalah suatu alat
berbentuk silinder dengan ujungnya berupa suatu konus. Dalam metoda ini didapat
hasil penyelidikan berupa grafik yang terdiri dua parameter yang diukur yang nilai
perlawanan konus (qc) dan hambatan pelekat (fs) dan penyelidikan boring.

Hasil penyelidikan ini dapat disebutkan diantaranya :


1. Menentukan profil tanah

2. Merupakan pelengkap bagi informasi dari pengeboran tanah.


3. Mengevaluasi karakteristik.
4. Menentukan daya dukung pondasi
5. Menentukan penurunan pondasi.

Memilih Pondasi
Pemilihan Pondasi Berdasar Daya Dukung Tanah :

Bila tanah keras terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter di bawah
permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah pondasi dangkal. (misal:
pondasi jalur, pondasi telapak atau pondasi strauss).

Bila tanah keras terletak pada kedalaman sekitar 10 meter atau lebih di
bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah pondasi tiang
minipile, pondasi sumuran atau pondasi bored pile.

Bila tanah keras terletak pada kedalaman 20 meter atau lebih di bawah
permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah pondasi tiang pancang atau
pondasi bored pile.

Pemilihan jenis tiang untuk suatu pekerjaan tergantung dari daya dukung yang
cukup yang diberikan untuk pondasi yang direncanakan. Pemilihan tipe tiang untuk
berbagai jenis keadaan tergantung pada banyak faktor.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan pondasi tiang :
1. Tipe dari tanah dasar yang meliputi jenis tanah dasar dan ciri-ciri
topografinya.
2. Jenis bangunan yang akan dibuat
3. Kondisi lingkungan disekitar pekerjaan (adjacent structures)
4. Alasan teknis pada waktu pelaksanaan.

Alur Kegiatan Sondir Tanah


,
Penyelidikan tanah dengan menggunakan Sondir atau Cone Penetration Test
dilakukan dalam beberapa tahap pekerjaan. Mulai dari survey lokasi, penentuan titik
sondir, melkukan penyondiran, menganalisa hasil penyondiran dan membuat
rekonmendasi untuk pemakainya. Flowchart penyelidikan tanah yang biasa
dilakukan dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

Alur kerja penyelidikan tanah


Dari bagan di atas, pertama kali pekerjaan yang dilakukan adalah survey lokasi
sondir. Dalam survey ini melihat luas lokasi, kontur lokasi dan hal-hal lain yang
nanti dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penyondiran ataupun dalam hal
transportasi alat sondirnya. Survey ini digunakan untuk menentukan titik sondirnya,
sebaiknya titik sondir didasarkan pada rencana pembangunan yang sudah dibuat.

Setelah survey selesai maka pekerjaan lapangan dapat dilakukan. Penentuan urutan
pengeboran titik-titik yang sudah ditentukan sebaiknya didasarkan efektifitas dalam
perpindahan alat sehingga tidak memerlukan tenaga yang berlebihan. Dahulukan
titik-titik yang berdekatan.
Pada saat pengeboran memakai alat sondir ini operator mencatat kedalaman,
tahanan ujung konus dan tahanan gesek konus yang ditunjukan oleh jarum pada
angka-angka manometer. Pencatatan dilakukan setiap kedalaman 20 cm. Hal ini
dilakukan sampai angka tahanan konus mencapai angka maksimal. Biasanya untuk
bangunan 2-3 lantai pada angka 170, tetapi hal ini disesuaikan dengan permintaan
perencana. Dalam satu hari biasanya dapat menyelesaikan pengeboran 4-5 titik
sondir, tergantung kedalaman dan kesulitannya.
Data-data hasil sondir kemudian dianalisa oleh ahli sipil, dalam analisa ini dibuat
grafik tiap titik dan tabel hasil sondirnya. Dari analisa data ini dapat ditentukan
sebaiknya bangunan menggunakan pondasi dangkal atau pondasi dalam.
Rekomendasi yang diberikan selain tipe pondasi (dangkal/dalam) juga simulasi daya
dukung tiang pancang dengan diameter tertentu.

Hasil uji sondir hanya salah satu faktor dalam menentukan jenis pondasi atau
konstruksi

bawah

bangunan.

Masih

banyak

faktor-faktor

lain

yang

harus

dipertimbangkan, misalnya beban-beban yang ditopang oleh bangunan tersebut,


baik beban mati maupun beban hidup.

Penyelidikan Tanah (Sondir/CPT, Borehole, SPT)


Penyelidikan tanah dilakukan pada sepanjang jalur transmisi yang berguna untuk
penentuan klas tanah (soil class) yang akhirnya berguna untuk penentuan tipe
pondasi (Foundation Type).

Walaupun dari pengamatan (visual) pada tanah dapat dilakukan pada saat
kunjungan lapangan (site visit) di sepanjang jalur, data lain dapat diperoleh
berdasarkan kondisi gografis tanah dari lembaga yang berkompeten, ataupun
dengan penyelidikan dengan alat bantu baik langsung dilapangan (on site) maupun
dengan membawa contoh (sample) tanah untuk di tes di laboratorium tanah (Soil
Mechanics Lab.)

Penyelidikan tanah yang umumnya dilakukan adalah berdasarkan metode :

1. Cone Penetration Test (CPT) atau Quasi-Static Penetration Test, yang umum
digunakan adalah sondir baik dengan Dutch Cone (Begemann Type) atau bikonus
(friction cone/mechanical cone) baik manual (yg paling sering dilaksanakan
mengingat akses kelokasi yang jauh) dan maupun dengan truk (truck mounted
CPT),untuk lokasi yang mudah dijangkau dan akses yang memungkinkan, berbagai
macam konus (seperti electric cone) bisa dipergunakan sesuai peruntukannya

Metode Penyelidikan Tanah yang umumnya mengacu pada Standard ASTM D3441.

CPT dilakukan untuk setiap lokasi tower/pole di sepanjang jalur, umumnya


penyelidikan tanah untuk tower hanya satu titik penyelidikan pada satu lokasi tower
dan bila perlu pada tiap kaki tower untuk memperoleh hasil yang memuaskan,
sedangkan untuk pole hanya satu titik yang umumnya dilakukan,

2. Borehole , pekerjaan penyelidikan lapangan dengan cara membor tanah sampai


dengan jarak tertentu (5-10 m) pada kedalam baik secara manual (hand auger)
maupun dengan mesin. Berbagai jenis lapisan dapat dipeoleh melalui pengamatan
(dalam bentuk bore log) dan beberapa parameter tiap lapisan (soil layer) di peroleh
lewat serangkain tes di laboratorium

3. Soil Mechanic Test in Laboratory, penyelidikan dilakukan dengan membawa hasil


(sample) dari pengeboran tanah untuk dilakukan parameter nilai dari lapisan tanah.
Seperti berat jenis, triaxial test, dll

4. Trial (Test) Pit , atau penggalian percobaan umumnya dilakukan pada saat akan
dimulai pekerjaan kontruksi pondasi dan berguna untuk jenis pondasi dangkal
(shallow foundation). Jika terdapat perbedaan dari hasil penyelidikan tanah pada
saat awal dapat memeberikan kesempatan untuk mengusulkan perubahan soil class
atau foundation type.

Dari hasil penyelidikan tanah tersebut akan dirangkum (compile) ke dalam


Foundation Schedule.
Berdasarkan penyelidikan tanah, tanah di bagi kedalam berbagai soil class, yang
didasarkan pada :

- Daya dukung tanah (allowable bearing capacity)


- Kondisi letak air tanah (Ground Water Condition) : Kering (dry) atau jenuh
(submerged)
- Sudut keruntuhan tanah (Soil Frustrum Angle)
- Kondisi lapisan bawah (Ground Layer Condition) : Tanah (soil) atau Batuan (Rock)

Untuk berbagai soil class diberikan pengenal umum dalam bentuk angka/huruf
seperti Soil Class 1, 2, 3, 3w, 4a, 4b, 5, 6a, 6b, 7 dll yang juga diberikan type
pondasi (foundation type) yang diusulkan untuk berbagai soil class.
Hasil Penyelidikan Tanah disiapkan dalam bentuk dokumen engineering yang
berisikan :

1. CPT Report yang berisikan : Data pengukuran , CPT Chart / grafik sondir dan foto
lokasi sondir
2. Borelog, untuk tiap lokasi tower yang dibutuhkan penentuan jenis lapisan dan
penyelidikan lanjutan
3. Soil Test Report, dari laboratorium untuk lokasi tanah buat pondasi yang
diperlukan guna penyelidikan lanjutan
4. Foundation Schedule, yang merupakan rangkuman rencana tipe pondasi dari tiap
lokasi struktur yang akan dibangun

http://www.ilmusipil.com/alat-penyelidikan-tanah
Dalam dunia teknik sipil, penyelidikan tanah bertujuan untuk memperoleh data-data
tanah yang diperlukan untuk perencanaan pondasi. Pondasi merupakan bangunan
yang berada didalam tanah sering disebut sub structure, sehingga penyelidikan
tanah sangat penting dilakukan. Tujuan lain dari penyelidikan tanah adalah untuk
menentukan kapasitas daya dukung tanah, menentukan tipe dan kedalaman
pondasi, mengetahui kedalaman muka air tanah, memprediksi besarnya penurunan
yang terjadi, dan lain sebagainya. Tergantung pada konstruksi yang akan dibangun
pada tanah tersebut.
Penyelidikan tanah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan
menggali lubang uji, pengeboran dan lain-lain. Biasanya tanah yang akan diuji akan
dibawa ke laboratorium, namun ada juga yang melakukan pengujian langsung di
lapangan. Tergantung pada jenis pengujian yang akan dilakukan dan keperluannya.
Penyelidikan tanah biasanya tebagi atas 3 (tiga) tahap, antara lain pengeboran atau
penggalian lubang uji, pengambilan contoh tanah, dan pengujian contoh tanah.
Pengujian pun dilakukan pada tanah terganggu (disturbed sample) dan tanah tidak
terganggu (undisturbed sample). Tanah yang diambil untuk sampel pengujian
merupakan tanah asli, yaitu bebas dari humus dan akar tumbuh-tumbuhan.
Ketelitian dalam pengujian tanah sangat diperlukan. Terutama dalam menentukan
muka air tanah, karena data yang diperoleh untuk merencanakan pondasi sangatlah
mempengaruhi perencanaan pondasi, dan dapat menyebabkan kesalahan dalam
menganalisa stabilitas tanah.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk penyelidikan tanah yaitu dengan lubang
uji( Test-pit), Bor tangan (Hand Auger), Bor Cuci ( Wash Boring), Penyelidikan
dengan pencucian (Wash Probing), dan Bor Putar (Rotary Drill).
Penyelidikan dengan lubang uji bertujuan untuk mengetahu kondisi lapisan tanah
dengan teliti. Cara ini memungkinkan untuk mengidentifikasi tanah secara
langsung, mengetahui dengan jelas kepadatan dan kondisi air tanah di lapangan.

Pengujian lubang uji biasanya dilakukan pada tempat-tempat penting suatu


bangunan, seperti pada letak kolom.
Bor tangan adalah pengujian sederhana dan relatif mudah dilakukan. Penyelidikan
dengan bor tangan sering digunakan pada proyek pembangunan jalan raya, rel
kereta apai, dan lapangan terbanga. Namun alat ini tidak dapat dilakukan pada
tanah pasir. Bor tangan dapat digunakan untuk penyelidikan maksimum mencapai
kedalaman 10 meter.
Bor cuci dilakukan dengan penyemprotkan air sambil memutar-mutar pipa
selubung. Alat ini digunakan untuk mengambil sampel terganggu, dan tidak dapat
digunakan pada jenis tanah berbatuan. Penyelidikan dengan pencucian pada
dasarnya sama dengan bor cuci, namun tujuannya adalah untuk mengetahui
pertemuan antara tanah lunak dengan tanah padat. Penyelidikan seperti ini sering
dilakuakan pada proyek pembangunan pelabuhan.
Bor putar atau alat yang sering disebut rotary drill ini dapat digunakan pada jenis
tanah apa saja. Alat ini dapat menyelidiki tanah padat dan berbatu hingga
kedalaman 40 meter. Alat ini juga dapat digunakan pada tanah berpasir. Cara kerja
alat ini yaitu dapat digunakan dengan tanpa menggunakan pipa selubung (casing).