Anda di halaman 1dari 21

GAMBARAN KEBIASAAN MENGUNYAH SIRIH DAN LESI MUKOSA PADA

MASYARAKAT PENGUNYAH SIRIH DI DESA MENEMENG, KECAMATAN


PRINGGARATA, KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Dini Islami Putri
Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat
Fakultas Kedokteran Gigi

ABSTRAK :
Latar belakang: Menyirih merupakan proses meramu campuran dari bahan-bahan
seperti sirih, pinang, kapur, gambir, yang kemudian dikunyah secara bersamaan. Banyak
anggapan masyarakat bahwa menyirih dapat menguatkan gigi geligi dan menghambat terjadinya
karies, namun di balik dampak positif dari menyirih ini, ada juga dampak negatifnya berupa
timbulnya lesi pada mukosa yang melapisi rongga mulut. Beberapa lesi mukosa mulut yang
umum terdapat pada pengunyah sirih, yaitu Betel Chewers Mucosa, Oral Submucous Fibrosis,
lesi likenoid, leukoplakia dan kanker rongga mulut. Menyirih memiliki efek terhadap gigi,
gingiva, dan mukosa mulut. Efek menyirih terhadap gigi dari segi positifnya adalah menghambat
proses pembentukan karies, sedangkan efek negatif dari menyirih terhadap gigi dan gingiva
dapat menyebabkan timbulnya stein, selain itu dapat menyebabkan penyakit periodontal dan
pada mukosa mulut dapat menyebabkan timbulnya lesi -lesi pada mukosa mulut, oral hygiene
yang buruk, dan dapat menyebabkan atropi pada mukosa lidah. Tujuan : Penelitian ini bertujuan
untuk melihat gambaran kebiasaan menyirih dan lesi mukosa mulut terhadap kebutuhan
perawatannya berdasarkan jangka waktu menyirih, frekuensi menyirih perminggu dan perhari,
dan komposisi sirih yang digunakan pada pengunyah sirih di Desa Menemeng, Kecamatan
Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah. Metode : Dengan metode purposive sampling, total
sampel sebanyak 51 orang dan dinilai dengan melakukan pemeriksaan langsung dalam rongga
mulut yang ditandai dengan adanya bercak berwarna putih atau merah berbatas jelas dengan
ukuran yang bervariasi yang dapat muncul di mukosa labial,bukal,palatum,lidah, gingival dan
dasar lidah. Hasil : Daerah rongga mulut yang paling banyak terkena lesi yaitu pada bagian
mukosa labial rahang bawah dan mukosa pipi kiri yaitu sebanyak 28 orang (54,9%). Sedangkan
bagian yang paling sedikit terkena lesi pada rongga mulut yaitu pada bagian labial fold rahang
atas sebanyak 5 orang (9,8%). Kesimpulan: Penelitian yang dilakukan pada pengunyah sirih di
Desa Menemeng, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah ini menunjukkan bahwa
daerah rongga mulut yang paling banyak terkena lesi yaitu pada bagian mukosa labial rahang
bawah dan mukosa pipi kiri yaitu sebanyak 28 orang (54,9%). Sedangkan bagian yang paling
sedikit terkena lesi pada rongga mulut yaitu pada bagian labial fold rahang atas sebanyak 5 orang
(9,8%). Diharapkan para tenaga kerja kesehatan perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat
yang memiliki kebiasaan menyirih tentang efek samping dari kebiasaan menyirih tersebut,
sehingga para pengunyah sirih dapat mengurangi frekuensi menyirih sehingga dapat terhindar
dari dampak buruk kebiasaan menyirih.
Kata Kunci : Lesi mukosa, pengunyah sirih.
1

PENDAHULUAN

Banyak anggapan masyarakat bahwa

Menyirih merupakan proses meramu

menyirih dapat menguatkan gigi geligi dan

campuran dari bahan-bahan seperti sirih,

menghambat terjadinya karies, namun di

pinang, kapur, gambir, yang kemudian

balik dampak positif dari menyirih ini, ada

dikunyah secara bersamaan. Kebiasaan ini

juga dampak negatifnya berupa timbulnya

secara umum dilakukan sejak dahulu kala di

lesi pada mukosa yang melapisi rongga

wilayah Asia Selatan dan Tenggara serta

mulut. Beberapa lesi mukosa mulut yang

wilayah Asia Pasifik, demikian juga di

umum terdapat pada pengunyah sirih, yaitu

antara para imigran di Afrika, Eropa dan

Betel Chewers Mucosa, Oral Submucous

Amerika

Fibrosis, lesi likenoid, leukoplakia dan

Utara.

Di

India,

kebiasaan

mengunyah sirih sudah ada sejak 2000 tahun


yang

lalu,

meskipun

tembakau

baru

diperkenalkan pada abad ke-16. Di beberapa


negara campuran sirih digunakan bersamaan
dengan tembakau. Menurut sejarah kuno
menyirih dilakukan oleh semua lapisan
masyarakat,

kelompok

usia,

termasuk

kalangan wanita dan anak-anak, dan di


beberapa negara lebih sering terbatas pada
kelompok usia lanjut. Menyirih dilakukan
dengan cara yang berbeda dari satu negara
dengan negara lainnya dan dari satu daerah
dengan daerah lainnya dalam satu negara.

kanker rongga mulut.1


Kebiasaan menyirih merupakan salah
satu faktor penyebab terjadinya lesi rongga
mulut yang paling sering dialami. Menurut
penelitian,

kegiatan

menyirih

dapat

menimbulkan efek negatif terhadap jaringan


mukosa di rongga mulut yang dikaitkan
dengan

penyakit

kanker

mulut

dan

pembentukan karsinoma sel skuamosa yang


bersifat

malignan

menyirih,

frekuensi

menyirih,

dan

akibat

komposisi

menyirih,

penggunaan

durasi

sepanjang

malam. Hal tersebut disebabkan akibat


2

adanya kontak dengan mukosa rongga mulut

tembakau

pada saat kegiatan menyirih tersebut.2

campuran sirih dengan kedua bahan tersebut

Menyirih memiliki efek terhadap


gigi, gingiva, dan mukosa mulut. Efek

dengan

kapur. Ketiga

yaitu

diatas, yaitu tembakau dan pinang.2


Berbagai

macam

jenis

dari

ketiga

menyirih terhadap gigi dari segi positifnya

kelompok campuran sirih di atas telah

adalah menghambat proses pembentukan

banyak terdapat di berbagai negara. Hal ini

karies, sedangkan efek negatif dari menyirih

memungkinkan

terhadap

dapat

prevalensi terbanyak dari bahan campuran

menyebabkan timbulnya stein, selain itu

sirih yang paling sering digunakan, antara

dapat menyebabkan penyakit periodontal

pinang dengan tembakau.2

gigi

dan

gingiva

dan pada mukosa mulut dapat menyebabkan


timbulnya lesi -lesi pada mukosa mulut, oral
hygiene

yang

buruk,

dan

dapat

menyebabkan atropi pada mukosa lidah.


Berdasarkan terminologinya, campuran sirih
dibagi menjadi 3 golongan, yaitu campuran
sirih dengan menggunakan pinang namun
tanpa adanya tembakau, yang mana hanya
meliputi pengunyahan dengan pinang atau
campuran pinang yang dibungkus dengan
daun sirih, kedua yaitu campuran sirih
dengan menggunakan tembakau, termasuk
pengunyahan tembakau dan pengunyahan

untuk

mengidentifikasi

Pada tahun 1985, agency internasional


untuk penelitian pada kanker melaporkan
adanya

fakta-fakta

yang

cukup

untuk

menyimpulkan bahwa kebiasaan mengunyah


sirih yang mengandung tembakau dapat
menimbulkan kanker pada manusia, tetapi
ada juga fakta lain yang mengatakan bahwa
campuran sirih yang tidak mengandung
tembakau juga tetap dapat menimbulkan
kanker. Negara dengan prevalensi yang
tinggi dalam penggunaan pinang memiliki
tingkat tertinggi terjadinya kanker mulut
dibandingkan negara yang penduduknya
3

tidak menggunakan pinang dalam menyirih.

aktifitas

Tapi bagaimanapun, beberapa peneliti tetap

diantaranya yaitu mukosa pengunyah sirih

menyimpulkan

masih

(betel chewers mucosa) dan Submukus

memiliki tingkat tertinggi untuk terjadinya

fibrosa (SMF). Pada penyakit mukosa

kanker

campuran

mulut pengunyah sirih disebabkan akibat

menyirih dibandingkan dengan campuran

dari komponen yang digunakan untuk

dengan menggunakan pinang.2

menyirih atau trauma akibat mengunyah

bahwa

rongga

tembakau

mulut

pada

Beberapa kondisi lesi rongga mulut


berhubungan dengan kebiasaan mengunyah
sirih. Terdapat 2 kelompok kategori lesi
yang disebabkan oleh lesi, yaitu lesi yang
menyebar dan tidak berada pada satu tempat
di dalam rongga mulut. Lesi

tersebut

biasanya disebabkan akibat trauma akibat


menyirih

atau

noda

bekas

menyirih.

Kelompok kedua yaitu lesi berdasarkan


tempat biasanya seorang pengunyah sirih
meletakkan sirihnya di dalam rongga mulut.
Lesi

tersebut

campuran

biasanya

sirih

yang

terdapat

pada

menggunakan

atau

menyirih.

kedua-duanya.

pengunyah

sirih

Penyakit

tersebut

Mukosa

mulut

cenderung

untuk

mengelupas atau deskuamasi dan ini dapat


dirasakan dan dilihat dengan jelas. Lapisan
bawahnya kelihatan mengkerut, dan terjadi
pengerasan pada daerah tersebut dengan
warna

kuning

atau

merah

kecoklatan.

Biasanya mukosa pengunyah sirih seringkali


ditemukan pada lokasi dimana seseorang
meletakkan campuran sirih, biasanya pada
mukosa pipi dan sulkus. Pada gigi geligi,
gingival, dan mukosa pengunyah sirih juga
akan terlihat stein berwarna antara merah
hingga kehitaman, tergantung pada lama

tembakau dan pinang.2

seseorang menyirih. Stein yang kehitaman


Ada berbagai macam jenis penyakit lesi
mukosa

mulut

yang

ditimbulkan

kemungkinan berfungsi melindungi gigi dari

oleh
4

terjadinya karies.

menyebabkan mukosa menebal dan keras.

Pada penyakit submukus fibrosis (SMF)


merupakan lesi yang bersifat prekanker yang
dapat mengenai mukosa mulut dan hingga
ke faring akibat dari pinang yang digunakan
untuk menyirih. SMF adalah inflamasi epitel

Hal ini akan menyebabkan kesulitan dalam


membuka mulut dan makan, kesulitan
menelan dan bicara, rasa terbakar, disfagia,
dan pendengaran.
Berbagai

macam

dampak

yang

yang diikuti dengan perubahan fibroelastin

ditimbulkan oleh kebiasaan mengunyah sirih

pada lamina propia dan disertai atrofi epitel.

ini mengakibatkan masalah ini menjadi

Kadang-kadang

didahului

juga

dengan

salah satu fokus perhatian dari klinisi

pembentukan

vesikel

yang

dapat

kesehatan mulut dan gigi. Namun, terdapat

menimbulkan rasa sakit apabila kontak

beberapa daerah yang masih sangat minim

dengan makanan pedas.

informasi mengenai kesehatan gigi dan

SMF terjadi disebabkan oleh beberapa


faktor, yaitu terutama akibat kebiasaan
menyirih,

penggunaan

tembakau,

dan

defisiensi vitamin. Awalnya SMF muncul


sebagai inflamasi akibat dari infiltrasi sel
pada subepitelial. SMF biasanya mengenai
mukosa

bukal,

bibir,

area

retromolar,

palatum lunak, faring hingga esophagus.

mulutnya, sehingga kebutuhan perawatan


kesehatan gigi dan mulut di daerah tersebut
menjadi sulit untuk ditentukan. Salah satu
lokasi yang patut menjadi perhatian ialah
Desa Menemeng, Kecamatan Pringgarata,
Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara
Barat. Di daerah ini, baik pengunyah sirih
masih banyak ditemui.

Lesi awal terlihat mukosa yang berwarna

Desa Menemeng ialah desa dengan luas

kepucatan dan muncul lesi seperti guli.

wilayah 2,81 km2 yang terletak di kecamatan

Kemudian akan terbentuk fibrosa yang akan

Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah,


5

Provinsi Nusa Tenggara Barat13. Desa ini

latar belakang ini maka penelitian tersebut

terletak 16 km dari pusat kota, yakni Kota

dilakukan.

Mataram.

Meskipun

masyarakat

yang

METODE

mengunyah sirih di Nusa Tenggara Barat


sudah relative berkurang, namun di desa ini
kita masih bisa menemukan cukup banyak
masyarakat pengunyah sirih. Kebiasaan
mengunyah sirih yang dilakukan di daerah
ini bukan hanya sekedar karena kebiasaan,
melainkan juga merupakan bagian dari
pelaksanaan acara adat dan menjamu tamu,

Jenis penelitian yang digunakan pada


penelitian ini yaitu observasional deskriptif
dengan desain penelitian cross sectional .
Penelitian dilakukan di Desa Menemeng,
yang terletak di Kecamatan Pringgarata,
Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa
Tenggara Barat pada tanggal 19-22 April
2014.

sehingga mengunyah sirih sudah menyatu


dengan kehidupan masyarakat desa ini.
Namun, hingga saat ini data mengenai
keadaan rongga mulut pengunyah sirih di

Populasi penelitian ini ialah seluruh


masyarakat

pengunyah

sirih

Menemeng dengan jumlah sampel yang

inklusi dari penelitian ini yaitu


tulisan

ini

penulis

ingin

menjelaskan mengenai gambaran kebiasaan


menyirih

dengan

letak

terjadinya

lesi

mukosa mulut. Terlebih karena masyarakat


belum

menyadari

mengunyah

sirih

bahwa
dapat

Desa

tidak diketahui (infinite population). Kriteria

daerah ini masih sangat kurang.


Dalam

di

kebiasaan

mempengaruhi

terjadinya lesi rongga mulut. Berdasarkan

bersedia

dengan sukarela untuk dijadikan sebagai


sampel penelitian dengan menandatangani
informed consent serta memiliki kebiasaan
menyirih 1 tahun terakhir. Kriteria eksklusi
dari penelitian ini yaitu pengunyah sirih
yang mengkonsumsi alkohol dan menolak
untuk menjadi subjek penelitian. Kebiasaan
6

menyirih merupakan variabel bebas dalam


penelitian ini, dan lesi yang ditemukan

1.29 x 0.05(10.05)
n=
0.092
n=51

dalam rongga mulut subjek penelitian


merupakan variabel terikat dalam penelitian
ini. Metode pengambilan sampel yang
digunakan

dalam

penelitian

ini

yaitu

purposive sampling.

Berdasarkan rumus tersebut, didapatkan


jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak
51 sampel.
Berdasarkan

Jumlah sampel yang dibutuhkan


diperoleh dengan perhitungan statistik untuk
mendapatkan sampel jika populasi dari
penelitian tidak diketahui.

definisi

operasional,

yang termasuk dalam kategori pengunyah


sirih

ialah

yang

pernah

dan

masih

mengkonsumsi sirih (betel quid) dengan


berbagai macam komposisi campurannya
selama lebih dari satu tahun. Kriteria
penilaiannya ialah berdasarkan jangka waktu
menyirih, frekuensi menyirih,dan komposisi
sirih yang digunakan.

Z
n=

2
1

P ( 1P )
d2

Tabel 1. Kriteria Penilaian Variabel Kebiasaan Menyirih


No
1.
2.
3.
4.

Pertanyaan
Jangka waktu menyirih.

Jawaban
a.
b.
c.
a.
b.
c.
a.
b.
c.
a.

2-5 tahun
6-10 tahun
>10 tahun
Frekuensi mengunyah sirih
7 kali/minggu
3-6 kali/minggu
dalam satu minggu.
<3 kali/minggu
Frekuensi mengunyah sirih
<3 kali/hari
3-5 kali/hari
dalam satu hari.
>5 kali/hari
Komposisi sirih yang
Kapur,pinang, tembakau/sabut kelapa, daun
digunakan.
sirih/buah sirih, gambir. (Komposisi A)
b. Kapur,pinang, tembakau, daun sirih/buah sirih.
(Komposisi B)
c. Kapur,pinang, daun sirih/buah sirih. (Komposisi
C)
Berdasarkan definisi operasional,
menyirih yang ia lakukan, seperti nama,

yang termasuk dalam kategori lesi yaitu

umur,

jenis

kelamin,

lama

menyirih,

adanya tanda bercak berwarna putih atau


merah berbatas jelas dengan ukuran yang
bervariasi yang dapat muncul di mukosa
labial,bukal,palatum,lidah,

gingival

dan

frekuensi menyirih, dan komposisi dari


ramuan sirih yang digunakan, lalu data
tersebut dituliskan di dalam tabel kriteria

dasar lidah pada rongga mulut.


penilaian yang telah disiapkan peneliti.
Pengambilan data dilakukan dengan
cara

mendatangi

rumah

warga

yang

mengunyah sirih dari satu rumah ke rumah


lain. Warga yang bersedia untuk dijadikan
sampel,

diminta

untuk

menandatangani

informed consent dan ditanyakan beberapa


informasi

data

pribadi

dan

Gambaran mengenai lesi yang terdapat di


mukosa mulut diperoleh dengan melakukan
pemeriksaan langsung dalam rongga mulut
yang

ditandai

dengan

adanya

bercak

berwarna putih atau merah berbatas jelas


dengan ukuran yang bervariasi yang dapat

kebiasaan
8

muncul

di

mukosa

labial,bukal,palatum,lidah,

gingival

Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara

dan

Barat. Sampel penelitian yang sesuai dengan

dasar lidah. Pemeriksaan langsung dalam

kriteria inklusi yaitu 51 orang yang tinggal

rongga mulut dibantu dengan menggunakan

di Desa Menemeng

kaca mulut dan senter sebagai alat bantu


penerangan. Analisis data dalam penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan SPSS
21.0.
HASIL
Penelitian ini dilakukan di Desa
Menemeng,

Kecamatan

Pringgarata,

Tabel 2. Distribusi Sampel Penelitian


Karakteristik
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Kelompok Usia
Middle age (40-59 tahun)
Elderly (60-74 tahun)
Old (75-90 tahun)
Very Old (>90 tahun)
Total

Pada

tabel

2,

Jumlah orang (n)

Persentase (%)

6
45

11.8
88.2

6
28
15
2
51

11.8
54.9
29.4
3.9
100.0

berdasarkan

serta pada tabel tersebut juga menunjukkan

karakteristik jenis kelamin memperlihatkan

jumlah

sampel

penelitian

terbesar

jumlah sampel penelitian terbesar yaitu

berdasarkan usia yaitu kelompok usia

perempuan sebanyak 45 orang (88.2%),

elderly (60-74 tahun) sebanyak 28 orang


9

(54.9%).

Sedangkan

jumlah

sampel

penelitian terkecil yaitu pada kelompok very


old (>90 tahun) sebanyak 2 orang (3.9%).

Tabel 3. Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Jangka Waktu Menyirih, Frekuensi Menyirih
perminggu, Frekuensi Menyirih perhari, dan Komposisi Sirih yang Digunakan.
Karakteristik
Jangka Waktu Menyirih
2-5 tahun
6-10 tahun
>10 tahun
Total
Frekuensi Menyirih per minggu
7 kali/minggu
3-6 kali/minggu
<3 kali/minggu
Total
Frekuensi Menyirih per hari
<3 kali/hari
3-5 kali/hari
>5 kali/hari
Total
Komposisi Menyirih
Komposisi A

Jumlah (n)

Persentase (%)

4
1
46
51

7.8
2.0
90.2
100.0

38
4
9
51

74.5
7.8
17.6
100.0

14
6
31
51

27.5
11.8
60.8
100.0

20

39.2

Komposisi B

29

56.9

Komposisi C
Total

2
51

3.9
100.0

*Keterangan :
Komposisi A : Kapur, pinang, tembakau/sabut kelapa, daun sirih/buah sirih, gambir.
Komposisi B : Kapur, pinang, tembakau/sabut kelapa, daun sirih/buah sirih.
Komposisi C : Kapur, pinang, daun sirih/buah sirih.

Berdasarkan

tabel

didapatkan

karakteristik sampel penelitian berdasarkan


jangka waktu menyirih. Sampel terbanyak
10

Untuk
berada

pada

kelompok

dengan

lama

menyirih lebih dari 10 tahun dengan jumlah

karakteristik

frekuensi

mengunyah sirih perhari, jumlah terbanyak


pada kelompok sampel yang mengunyah
sirih sebanyak lebih dari 5 kali/hari dengan
jumlah 31 orang (60,8%) dan jumlah

46 orang (90,2 %) dan dengan jumlah

terendah berada pada kelompok pengunyah

terendah pada kelompok sampel 6-10 tahun

sirih 3-5 kali/hari dengan jumlah 6 orang

dengan jumlah 1 orang (2,0 %).

(11,8%).

Untuk
mengunyah

karakteristik
sirih

perminggu,

Untuk

frekuensi
jumlah

karakteristik

berdasarkan

komposisi
kelompok

sirih
dengan

sampel
yang

terbanyak pada kelompok sampel yang

digunakan,

jumlah

mengunyah sirih sebanyak 7 kali/minggu,

tertinggi berada pada kelompok komposisi B

yakni sebanyak 38 orang (74,5%) dan

(Kapur, pinang, tembakau/sabut kelapa,

jumlah terendah berada pada kelompok

daun sirih/buah sirih) sebanyak 29 orang

pengunyah sirih 3-6 kali/ minggu sebanyak

(56,9%) dan terendah pada kelompok

4 orang (7,8%).

komposisi C (Kapur, pinang, daun sirih/buah


sirih) sebanyak 2 orang (3,9%).

Tabel 4. Responden yang mengalami lesi mukosa


Lesi
Ya
Tidak
Total

Jumlah (N)
50
1
51

Persentase
98%
2%
100%

11

penelitian kami, didapatkan jumlah


penderita lesi mukosa yang besar dalam
kelompok sampel pengunyah sirih. Daritotal
Tabel 4 menggambarkan jumlah responden
yang mengalami lesi mukosa. Berdasarkan

51 responden, hanya satu responden yang


tidak mengalami lesi mukosa.

Tabel 5. Distribusi Letak Lesi Berdasarkan Jangka Waktu Menyirih

12

Daerah Lesi

Mukosa
Labial

Mukosa
Pipi

Bukal
Fold

Labial
Fold

R
A
R
B
K
a
K
i
R
A
R
B
R
A
R
B
R
A

Gingiva
R
B
Lidah
Dasar Mulut
Palatum

Jangka Waktu Menyirih


2-5 6-10 >10 Tota
thn
thn
thn
l
n
n
n
n
(%) (%) (%) (%)
1
0
12
13
(25, (0,0 (26, (25,
0)
)
1)
5)
2
0
26
28
(50, (0,0 (56, (54,
0)
)
5)
9)
4
0
21
25
(100 (0,0 (45, (49,
,0)
)
7)
0)
4
0
24
28
(100 (0,0 (52, (54,
,0)
)
2)
9)
3
0
6
9
(75, (0,0 (13, (17,
0)
)
0)
6)
2
0
9
11
(50, (0,0 (19, (21,
0)
)
6)
6)
0
5
0
5
(0,0 (10,
(0,0)
(9,8)
)
9)
2
0
6
8
(50, (0,0 (13, (15,
0)
)
0)
7)
1
0
14
15
(25, (0,0 (30, (29,
0)
)
4)
4)
2
0
17
19
(50, (0,0 (37, (37,
0)
)
0)
3)
0
7
7
0
(0,0 (15, (13,
(0,0)
)
2)
7)
2
0
16
18
(50, (0,0 (34, (35,
0)
)
8)
3)
2
0
10
12
(50, (0,0 (21, (23,
0)
)
7)
5)

Berdasarkan
menunjukkan

tabel

distribusi

yang

letak

lesi

berdasarkan waktu menyirih diperoleh letak


lesi

terbanyak

pada

kelompok

waktu

menyirih 2-5 tahun terletak pada mukosa


pipi kiri dan kanan masing-masing sebanyak
4 orang (100%). Tidak terdapat lesi di

daerah manapun pada kelompok waktu


menyirih

6-10

tahun.

Sedangkan

lesi

terbanyak pada kelompok waktu menyirih


lebih dari 10 tahun terletak pada mukosa
labial rahang bawah sebanyak 26 orang
(56,5%). Dari tabel ini diperoleh bahwa ratarata

masyarakat

di

Desa

Menemeng,

Kabupaten Pringgarata, Kabupaten Lombok


Tengah paling banyak menyirih dengan
jangka waktu lebih dari 10 tahun dengan
jumlah lesi paling banyak pada bagian
mukosa labial rahang bawah sebanyak 26
orang (56,5%) dan paling sedikit terjadi lesi
pada bagian labial fold rahang atas sebanyak
5 orang (10,9%). Kemudian untuk daerah
13

rongga mulut yang paling sering terkena lesi

labial rahang bawah dan mukosa pipi kiri

pada tabel ini yaitu pada bagian mukosa

yaitu sebanyak 28 orang (54,9%).

Tabel 6. Distribusi Letak Lesi Berdasarkan Frekuensi Menyirih perminggu


Frekuensi Menyirih Per Minggu
7x/minggu
3-6x/minggu
<3x/minggu
Total
n (%)
n (%)
n (%)
n (%)
10 (26.3)
2 (50.0)
1 (11.1)
13 (22.5)
21 (55.3)
3 (75.0)
4 (44.4)
28 (54.9)
17 (44.7)
2 (50.0)
6 (66.7)
25 (49.0)
23 (60.5)
2 (50.0)
3 (33.3)
28 (54.9)
7 (18.4)
1 (25.0)
1 (11.1)
9 (17.6)
9 (23.7)
1 (25.0)
1 (11.1)
11 (21.6)
4 (10.5)
0 (0.0)
1 (11.1)
5 (9.8)
7 (18.4)
0 (0.0)
1 (11.1)
8 (15.7)
10 (26.3)
2 (50.0)
3 (33.3)
15 (29.4)
13 (34.2)
2 (50.0)
4 (44.4)
19 (37.3)
6 (15.8)
0 (0.0)
1 (11.1)
7 (13.7)
13 (34.2)
1 (25.0)
4 (44.4)
18 (35.3)
11 (28.9)
0 (0.0)
1 (11.1)
12 (23.5)
labial rahang bawah sebanyak 3 orang

Daerah Lesi
Mukosa Labial
Mukosa Pipi
Bukal Fold
Labial Fold
Gingiva

RA
RB
Ka
Ki
RA
RB
RA
RB
RA
RB

Lidah
Dasar Mulut
Palatum

Berdasarkan
menunjukkan

letak

tabel
lesi

yang

berdasarkan

(75,0%).

Sedangkan

pada

frekuensi

menyirih <3x/ minggu, lesi terbanyak

frekuensi menyirih per minggu diperoleh


bahwa letak lesi terbanyak pada frekuensi
menyirih 7x/minggu terletak pada mukosa
pipi kiri sebanyak 23 orang (60,5%). Pada

terdapat pada mukosa pipi kanan sebanyak 6


orang (66,7%). Dari tabel ini diperoleh
bahwa

rata-rata

Menemeng,
frekuensi

menyirih

3-6x/minggu,

lesi

terbanyak terdapat pada bagian mukosa

Kabupaten

masyarakat

Kabupaten
Lombok

Tengah

di

Desa

Pringgarata,
memiliki

frekuensi menyirih per minggu tertinggi

14

sebanyak 7x per minggu dengan jumlah lesi

paling sering terkena lesi pada tabel ini yaitu

paling banyak pada bagian mukosa pipi kiri

pada bagian mukosa labial rahang bawah

sebanyak 23 orang (60,5%) dan paling

dan mukosa pipi kiri yaitu sebanyak 28

sedikit terjadi lesi pada bagian labial fold

orang (54,9%).

rahang atas sebanyak 4 orang (10,5%).


Kemudian untuk daerah rongga mulut yang

Tabel 7. Distribusi Letak Lesi Berdasarkan Frekuensi Menyirih perhari

Daerah Lesi
Mukosa Labial
Mukosa Pipi
Bukal Fold
Labial Fold
Gingiva
Lidah
Dasar Mulut
Palatum

RA
RB
Ka
Ki
RA
RB
RA
RB
RA
RB

<3x/hari
n (%)
3 (21.4)
7 (50.0)
8 (57.1)
7 (50.0)
3 (21.4)
2 (14.3)
1 (7.1)
2 (14.3)
5 (35.7)
4 (28.6)
1 (7.1)
5 (35.7)
1 (7.1)

Frekuensi Menyirih Per Hari


3-5x/hari
>5x/hari
n (%)
n (%)
1 (16.7)
9 (29.0)
3 (50.0)
18 (58.1)
3 (50.0)
14 (45.25)
2 (33.3)
19 (61.3)
1 (16.7)
5 (16.1)
0 (0.0)
9 (29.0)
1 (16.7)
3 (9.7)
0 (0.0)
6 (19.4)
0 (0.0)
10 (32.2)
3 (50.0)
12 (38.7)
1 (16.7)
5 (16.1)
2 (33.3)
11 (35.5)
1 (16.7)
10 (32.2)

Total
n (%)
13 (25.5)
28 (54.9)
25 (49.0)
28 (54.9)
9 (17.6)
11 (21.6)
5 (9.8)
8 (15.7)
15 (29.4)
19 (37.3)
7 (13.7)
18 (35.5)
12 (23.5)

Berdasarkan tabel 7 yang menunjukkan

per hari diperoleh bahwa letak lesi terbanyak

letak lesi berdasarkan frekuensi menyirih

pada frekuensi menyirih <3x/hari terletak

15

pada mukosa pipi kanan sebanyak 8 orang

frekuensi

(57,1%). Pada frekuensi menyirih antara 3-

sebanyak lebih dari 5x per hari dengan

5x/hari lesi terbanyak terletak pada mukosa

jumlah lesi paling banyak pada bagian

labial rahang bawah, mukosa pipi kanan,

mukosa pipi kiri sebanyak 19 orang (61,3%)

dan gingiva rahang bawah sebanyak 3 orang

dan yang paling sedikit terjadi lesi pada

(50,0%).

frekuensi

bagian labial fold rahang atas sebanyak 3

menyirih >5x/hari lesi terbanyak terletak

orang (9,7%). Kemudian untuk daerah

pada mukosa pipi kiri, yaitu sebanyak 19

rongga mulut yang paling sering terkena lesi

orang (61,3%). Dari tabel ini diperoleh

pada tabel ini yaitu pada bagian mukosa

bahwa

labial rahang bawah dan mukosa pipi kiri

Sedangkan

rata-rata

Menemeng,
Kabupaten

pada

masyarakat

Kabupaten
Lombok

Tengah

di

Desa

Pringgarata,

menyirih

per

hari

tertinggi

yaitu sebanyak 28 orang (54,9%).

memiliki

Tabel 8. Distribusi Letak Lesi Berdasarkan Komposisi Sirih


Daerah Lesi
A

Komposisi Sirih
B
C

Total
16

Mukosa Labial
Mukosa Pipi
Bukal Fold
Labial Fold
Gingiva

n (%)
4 (20,0)
9 (45,0)
11 (55,0)
10 (50,0)
3 (15,0)
4 (20,0)
3 (15,0)
4 (20,0)
4 (20,0)
8 (40,0)
4 (20,0)
5 (25,0)
4 (20,0)

RA
RB
Ka
Ki
RA
RB
RA
RB
RA
RB

Lidah
Dasar Mulut
Palatum

Berdasarkan
menunjukkan
komposisi

tabel

letak

sirih

lesi

diperoleh

yang

n (%)
9 (31,0)
18 (62,1)
13 (44,8)
17 (58,6)
6 (20,7)
7 (24,1)
2 (6,9)
4 (13,8)
11 (37,9)
11 (37,9)
3 (10,3)
12 (41,4)
8 (27,6)

bawah,

n (%)
0 (0,0)
1 (50,0)
1 (50,0)
1 (50,0)
0 (0,0)
0 (0,0)
0 (0,0)
0 (0,0)
0 (0,0)
0 (0,0)
0 (0,0)
1 (50,0)
0 (0,0)

n (%)
13 (25,5)
28 (54,9)
25 (49,0)
28 (54,9)
9 (17,6)
11 (21,6)
5 (9,8)
8 (15,7)
15 (29,4)
19 (37,3)
7 (13,7)
18 (35,3)
12 (23,5)

mukosa pipi kanan, mukosa pipi

berdasarkan

kiri, dan dasar mulut sebanyak 1 orang

bahwa

(50,0%). Dari tabel ini diperoleh bahwa rata-

lesi

terbanyak pada komposis A (kapur, pinang,

rata

masyarakat

tembakau/sabut kelapa, daun sirih/buah

Kabupaten Pringgarata, Kabupaten Lombok

sirih, gambir) terletak pada mukosa pipi

Tengah paling banyak menyirih dengan

kanan sebanyak 11 orang (55,0%). Untuk

menggunakan komposisi B (kapur, pinang,

komposisi B (kapur, pinang, tembakau/sabut

tembakau/sabut kelapa, daun sirih/buah

kelapa, daun sirih/buah sirih) lesi terbanyak

sirih) dengan jumlah lesi paling banyak pada

terdapat pada mukosa labial rahang bawah

bagian

sebanyak 18 orang (62,1%). Sedangkan

sebanyak 18 orang (62,1%) dan yang paling

untuk komposisi C (kapur, pinang, daun

sedikit terjadi lesi pada bagian labial fold

sirih/buah sirih) lesi yang paling banyak

sebanyak 2 orang (6,9%). Kemudian untuk

terdapat di bagian mukosa labial rahang

daerah rongga mulut yang paling sering

mukosa

di

Desa

labial

Menemeng,

rahang

bawah

17

terkena lesi pada tabel ini yaitu pada bagian

responden dari total 30 responden yang

mukosa labial rahang bawah dan mukosa

merupakan pengunyah sirih mengalami lesi

pipi kiri yaitu sebanyak 28 orang (54,9%).

mukosa1.

PEMBAHASAN

Tingginya angka lesi mukosa ini

Dari hasil penelitian sebanyak 51


orang diperoleh jumlah sampel berdasarkan
distribusi jenis kelamin paling banyak
terdapat pada perempuan sebanyak 45 orang
(88,2%), sedangkan pada laki-laki sebanyak
6 orang (11,8%). Untuk distribusi penderita
berdasarkan

usia

paling

banyak

pada

kelompok usia 60-74 tahun sebanyak 28


orang (54,9%).
penelitian

kami,

didapatkan jumlah penderita lesi mukosa


besar

dikonsumsi

oleh

responden.

Penelitian

menunjukkan bahwa kebiasaan mengunyah


sirih berkaitan dengan lesi oral mukosa
seperti

submucous

fibrous

dan

oral

leukoplakia, yang juga berpotensi menjadi


bentuk malignant3.
Berdasarkan jangka waktu menyirih
terdapat paling banyak pada kelompok usia

Berdasarkan

yang

diperkirakan diakibatkan oleh sirih yang

dalam

kelompok

sampel

pengunyah sirih. Dari total 51 responden,


hanya satu responden yang tidak mengalami
lesi mukosa.

lebih dari 10 tahun sebanyak 46 orang


(90,2%).

Untuk

mengunyah

sirih

karakteristik
perminggu,

frekuensi
jumlah

terbanyak pada kelompok sampel yang


mengunyah sirih sebanyak 7 kali/minggu
yakni sebanyak 38 orang (74,5%). Untuk
karakteristik frekuensi mengunyah sirih

Hal ini sesuai dengan penelitian yang


diadakan oleh Vonny et. al. di Manado.
Penelitian yang ia lakukan menunjukkan 29

perhari, jumlah terbanyak pada kelompok


sampel yang mengunyah sirih sebanyak
lebih dari 5 kali/hari dengan jumlah 31
18

orang (60,8%). Untuk karakteristik sampel


berdasarkan

yang

mulut yang paling sering terkena lesi dengan

jumlah

frekuensi menyirih per minggu tertinggi

tertinggi berada pada kelompok komposisi B

sebanyak 7 kali per minggu diperoleh daerah

(Kapur, pinang, tembakau/sabut kelapa,

paling banyak terkena lesi terdapat pada

daun sirih/buah sirih) sebanyak 29 orang

bagian mukosa pipi kiri sebanyak 23 orang

(56,9%).

(60,5%) dan paling sedikit terjadi lesi pada

digunakan,

komposisi
kelompok

sirih

Untuk distribusi daerah rongga

dengan

Berdasarkan distribusi daerah rongga


mulut yang paling sering terkena lesi dengan

bagian labial fold rahang atas sebanyak 4


orang (10,5%).

jangka waktu menyirih lebih dari 10 tahun

Untuk distribusi daerah rongga

diperoleh daerah paling banyak terkena lesi

mulut yang paling sering terkena lesi dengan

terdapat pada bagian mukosa labial rahang

frekuensi

bawah sebanyak 26 orang (56,5%) dan

sebanyak lebih dari 5 kali per hari diperoleh

paling sedikit terjadi lesi pada bagian labial

daerah paling banyak terkena lesi terdapat

fold rahang atas sebanyak 5 orang (10,9%).

pada bagian mukosa pipi kiri sebanyak 19

menyirih

per

hari

tertinggi

orang (61,3%) dan yang paling sedikit


terjadi lesi pada bagian labial fold rahang
atas sebanyak 3 orang (9,7%).
Untuk distribusi daerah rongga
mulutyang paling sering terkena lesi dengan
komposisi tertinggi komposisi B (kapur,
pinang,

tembakau/sabut

kelapa,

daun

sirih/buah sirih) diperoleh daerah paling


19

banyak terkena lesi terdapat pada bagian

catechu yang merupakan salah satu bahan

mukosa labial rahang bawah sebanyak 18

utama

orang (62,1%) dan yang paling sedikit

nitrosamines, sama dengan yang biasa

terjadi lesi pada bagian labial fold sebanyak

dikenal sebagai N-nitrosoguvacoline, 3-

2 orang (6,9%).

(methylnitrosamino)

dalam

sugi

nitrosoguvacine,

pengunyah

sirih

mengandung

propionitrile,

3-

(methylnitrosamino propionaldehyde dan N-

KESIMPULAN
Penelitian

sirih,

yang
di

dilakukan
Desa

pada

Menemeng,

Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok


Tengah ini menunjukkan bahwa daerah
rongga mulut yang paling banyak terkena
lesi yaitu pada bagian mukosa labial rahang
bawah dan mukosa pipi kiri yaitu sebanyak
28 orang (54,9%). Sedangkan bagian yang

dan

dikenal

sebagai

senyawa karsinogen4. Bahkan lebih lanjut


disebutkan oleh Cho Y. Lam dan Ellen R.
Gritz

dalam

penelitiannya,

The

International Agency for Research on


Cancer

telah

mengidentifikasi

bahwa

kebiasaan merokok dan mengunyah sirih,


dengan atau tanpa tembakau, merupakan
kelompok 1 karsinogen terhadap manusia5.

paling sedikit terkena lesi pada rongga mulut


yaitu pada bagian labial fold rahang atas
sebanyak 5 orang (9,8%).

Diharapkan

Tingginya jumlah lesi mukosa mulut


ini diperkirakan karena kandungan yang ada
di dalam sugi sirih yang biasa digunakan
tersebut. Adhikari Aniket et. al. dalam
penelitiannya menyebutkan bahwa

SARAN

Areca

para

tenaga

kerja

kesehatan perlu melakukan penyuluhan


kepada masyarakat yang memiliki kebiasaan
menyirih

tentang

efek

samping

dari

kebiasaan menyirih tersebut, sehingga para


pengunyah sirih dapat mengurangi frekuensi
menyirih sehingga dapat terhindar dari
20

dampak

buruk

kebiasaan

menyirih.

Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan


menggunakan

pemeriksaan

penunjang

seperti pemeriksaan histopatologi sehingga


lesi yang ditemukan dapat ditegakkan
diagnosanya secara pasti. Demikian halnya
dengan lesi-lesi yang lain sebagai akibat
kebiasaan menyirih.
DAFTAR PUSTAKA
1. Wowor Vonny, Supit A, Marbun D.
Gambaran kebiasaan menyirih dan
lesi mukosa mulut pada mahasiswa
papua di manado. Jurnal Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sam
Ratulangi 2007;1-8.

2. Avon Sylvie. Oral mucosa lesions


associated with use of quid. J Can
Dent Assoc 2004;70(4):244-8.
3. Nagpal R, Nagpal N, Mehendiratta
M, Marya CM, Rekhi A. Usage of
betel quid, areca nut, tobacco,
alcohol, and level of awareness
towards their adverse effects on
health in a north Indian rural
population. OHDM2014;13(1).
4. Aniket A, Auley D, Gargi P,
Madhusnata D. Study among betel
quid
chewers
from
indian
population. International Journal of
Medical
Research
&
Health
Sciences2013;2(4 ).
5. Lam CY, Gritz ER. Incorporating
behavioral research to examine the
relationship between betel quid
chewing and oral cancer in Taiwan.
Biomedicine2012;2.

21