Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak memasuki abad peradaban, umat manusia terdorong oleh rasa
ingintahunya serta kebutuhannya akan sumber daya alam, baik yang hayati maupun
non-hayati, telah berusaha untuk memahami, apa, bagaimana, dan kapan bumi,
tempat mereka bermukim, berkeluarga dan mati, terbentuk dan berkembang. Bahkan
bentuk bumi yang semula diperkirakan berupa dataran luas ternyata bulat sebagai
globe.
Untuk mengetahui proses dan model pembentukan bumi dapat diperoleh dengn
mengamati dan menpelajari indikasi-indikasi di dalam struktur bagian dalam bumi.
Tektonik lempeng atau plate tectonics merupakan teori yang relatif baru yang
terkembang sekitar tahun 1960 dan 1970 dan telah merevolusi cara berfikir para ahli
geologi tentang bumi. Menurut teori ini, permukaan bumi terbagi-bagi menjadi
beberapa lempeng besar. Ukuran dan posisi lempeng-lempeng tersebut selalu berubah
setiap waktu. Batas-batas dari lempeng tersebut, dimana lempeng saling bergerak satu
dengan yang lain, merupakan tempat-tempat yang berpotensi terhadap aktivitas
geologi, seperti gempa bumi, gunung berapi, dan pembentukan jalur pegunungan.
Sebenarnya tektonik lempeng merupakan gabungan dari dua teori awal, yaitu teori
1

pergerakan benua (continental drift) berkembang pada sekitar paruh pertama abad ke20 dan konsep pemekaran lantai samudera (sea-floor spreading) berkembang sekitar
tahun 1960-an. Teori pergerakan benua menyatakan bahwa permukaan bumi terletak
di atas kerak bumi yang tipis, dan kerak bumi ini senantiasa bergerak disebabkan
pergerakan magma di bawah kerak bumi. Sedangkan pemekaran lantai samudera
merupakan pembentukan kerak samudera yang baru pada punggungan tengah
samudera (mid-oceanic ridges) dan pergerakan kerak menjauh dari punggungan
tengah samudera tersebut.
Batubara adalah salah satu sumber energi yang sangat penting dan dengan
mudah dapat diperoleh di seluruh dunia. Batubara dengan cepat menjadi hal yang
lebih penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia dengan pemasukan devisa
yang cukup besar di samping minyak dan gas bumi. Batubara digunakan untuk
membuat metallurgical coke dalam industri besi dan baja, bahan bakar gas, untuk
kebutuhan energi pembangkit listrik, pabrik semen, kebutuhan rumah tangga, dan
sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan batubara tersebut, Indonesia sebagai salah
satu produsen batubara dunia harus mengoptimalkan potensi yang ada.
Dengan terjadinya krisis minyak bumi pada tahun 1973 1974, dunia industri
mulai sadar bahwa konsumsi energi terlalu besar bergantung pada minyak bumi
sehingga beralih kepada batubara sebagai satu dari energi alternatif yang ada.

Batubara itu tidak akan berharga apabila masih berada dalam tambang dan tidak
ada permintaan dari pasar atau konsumen. Jadi harga batubara ditentukan oleh
pasar dengan kualitas sesuai dengan permintaan.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan suatu proses analisis
batubara untuk mengetahui ketebalan dari suatu lapisan batubara dan kualitasnya
yang nantinya akan berkaitan dengan jumlah cadangan batubara di suatu lokasi
kuasa penambangan.
1.2 Maksud dan tujuan
Penyusun seminar ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan akademik
tingkat sarjana (S-1) pada Jurusan Teknik Geologi, Fakultas teknologi Mineral,
Institut sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dikalangan
akademik, juga untuk masyarakat, dan juga menambah pengetahuan penulis.
1.3 Metode penulisan
Dalam penyusun draft seminar ini, penulis menggunakan metode penulisan yang
didasari pada studi pustaka dari beberapa sumber literatur, maupun dari internet dan
juga dari makalah penelitian para ahli terdahulu. Setelah mengumpulkan data dari
beberapa studi pustaka dan literatur, kemudian dirangkum menjadi makalah seminar

1.4

Batasan Masalah
Dalam topik tentang Implikasi Tektonik Dalam Mempengaruhi Kualitas dan

Lapisan Batubara penulis hanya akan membahas pengaruh tektonik terhadap Lapisan
batubara setelah pengendapan dan Pengaruh tektonik dalam meningkatkan kualitas
batubara

BAB II
DASAR TEORI

II.1. Tinjauan Umum Teori Tektonik Lempeng


Menurut teori tektonik lempeng, permukaan bumi ini kira-kira terbagi atas 20
pecahan besar, yang disebut lempeng, yang tebalnya sekitar 70 km atau kira-kira
hampir sama dengan ketebalan litosfer, litosfer terdiri dari kerak dan selubung atas,
lempeng yang kaku ini bergerak di atas astenosfer yang lebih cair.
Teori apungan benua dan tektonik lempeng pada mulanya dikemukakan oleh
Alfred Wegener, dari tahun 1912 hingga meninggalnya tahun 1930, Wegener terus
mencoba mencari jawaban atas teorinya bahwa, semua benua itu berasal dari satu
massa daratan raksasa yang bernama Pangaea, akibat dari berbagai proses dari dalam
bumi yang telah memecahkannya menjadi pecahan-pecahan yang mirip mainan
puzzle. Pada gambar 1 menunjukkan sketsa pecahnya super continent hingga menjadi
seperti saat ini (Gambar 1).

Gambar 1. Hipotesa dinamika permukaan bumi


(Sumber: Kious & Tilling, 2001)

Konsep tektonik lempeng menjelaskan bahwa kulit bumi terdiri dari beberapa
bagian lempeng yang tegar, yang bergerak satu terhadap lainnya di atas massa liat
astenosfer dengan kecepatan rata-rata 10 cm/tahun atau 100 km/10 juta tahun
(Hamilton, 1979). Teori ini didukung oleh data penelitian geologi, geologi kelautan,
kemagnetan purba, kegempaan, pendugaan paleontologi dan pemboran laut dalam.
Teori Hess mengemukakan bahwa dasar samudera terus-menerus ditekan ke
atas dari astenosfer akibat panas pada lantai samudera sehingga terjadi pemekaran
pada dasar samudera dengan kecepatan pergerakan 1,5-10 cm/tahun atau kira-kira
100 km/10 juta tahun.

Kerak bumi disusun oleh 7 lempeng (lithosphere) yang sangat besar yaitu: (1)
Lempeng Pasifik, (2) Lempeng Amerika Utara, (3) Lempeng Amerika Selatan, (4)
Lempeng Antartika, (5) Lempeng Afrika, (6) Lempeng Eurasia dan (7) Lempeng
Australia, dapat dilihat pada gambar 2. Masing-masing lempeng memiliki bagian
berupa daratan dan lautan serta bagian-bagian lempeng kecil lainnya dimana
kesemuanya bergerak satu sama lainnya (Gambar 2).

Gambar 2. Pergerakan lempeng tektonik dan batas-batasnya


(Sumber: Kious & Tilling, 2001)

Menurut Prager (2000), bahwa proses konveksi panas adalah kaidah kedua
termodinamika atau entropi. Energi dalam hal ini adalah panas bumi. Panas bumi
tidak tersimpan di pusat bumi melainkan menyebar keluar sepanjang waktu.

Konveksi panas dalam selubung bumi dikendalikan oleh gravitasi dan sifat
batuan yang mengerut bila mendingin. Ini berarti litosfer samudera yang telah
mendingin berjuta tahun yang lalu lebih berat dari selubung di bawahnya. Oleh
karena itu arus konveksi berlangsung lambat dan litosfer yang menunjam tetap lebih
dingin sehingga ia lebih berat dari mantel di sekelilingnya untuk lebih dari seratus
juta tahun. Gaya gravitasi yang menarik ke bawah lempeng yang padat ini cukup kuat
untuk berperan mengendalikan pola arus konveksi dalam mantel.
Pada tahun 1967 ahli geofisika dari Inggris, Dan Mc Kenzie dan Robert
Parker (Magetsari, 2001), mengemukakan suatu hipotesa baru yang menyempurnakan
teori-teori sebelumnya, seperti teori pergeseran benua, pergeseran lantai samudra dan
teori konveksi sebagai satu kesatuan konsep yang sangat berharga dan dapat diterima
luas oleh kalangan ahli geologi di seluruh dunia.
Kerak bumi bersama lapisan litosfer mengambang di atas lapisan astenosfer
dan dianggap suatu lempeng yang saling berhubungan. Adanya aliran arus konveksi
yang keluar dari punggungan tengah samudera yang kemudian menyebar ke kedua
sisinya, berarti ada tambahan materi kerak bumi. Akan tetapi, ternyata menurut
penelitian J. Tuzo Wilson pada tahun 1965 (Prager, 2000), tidak ada tambahan
material kerak bumi, karena bagian yang lain akan masuk kembali ke lapisan dalam
dan melebur bercampur dengan materi di lapisan astenosfir.

Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika bumi
tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa bumi, dan
cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng.
Menurut teori ini kerak bumi (lithosfer) dapat diterangkan ibarat suatu rakit
yang sangat kuat dan relatif dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang
liat dan sangat panas, atau bisa juga disamakan dengan pulau es yang mengapung di
atas air laut. Ada dua jenis kerak bumi yakni kerak samudera yang tersusun oleh
batuan bersifat basa dan sangat basa, yang dijumpai di samudera sangat dalam, dan
kerak benua tersusun oleh batuan asam dan lebih tebal dari kerak samudera.(Gambar
3).

Gambar 3. Penampang Melintang komponen tektonik lempeng ( Ficthtel,2000).

10

Kerak bumi menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya aliran
panas yang mengalir di dalam astenofer menyebabkan kerak bumi ini pecah menjadi
beberapa bagian yang lebih kecil yang disebut lempeng kerak bumi. Dengan
demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak samudera atau keduanya.
Arus konvensi tersebut merupakan sumber kekuatan utama yang menyebabkan
terjadinya pergerakan lempeng.
Ada beberapa elemen tektonik yang penting dan utama yang berkaitan erat
dengan kegiatan tektonik lempeng diantaranya pemekaran dasar samudra (sea floor
spreading) yang terjadi punggungan Tengah Samudra, palung laut dalam dan lajur
tunjaman, dan berbagai jenis cekungan lainnya, busur kepulauan gunung api serta
mekanisme pembentukannya.
Proses proses tektonik lempeng tersebut menghasilkan fragmentasi
kerakbumi, sehingga membentuk lempeng-lempeng yang lebih kecil, yang terdiri atas
lempeng benua dan lempeng samudra (gambar 4).

11

Gambar 4. Sebaran lempeng tektonik di dunia (Kious & Tilling 2001)

Kedua jenis pemberaian dan pemekaran kerak bumi dipicu oleh aliran
konveksi panas mantel bumi (gambar 5) yang bergerak naik diikuti oleh naiknya
magma melalui rift zones yang kemudian membeku dan membentuk kerak samudra
baru. Pergerakan dinamis lempeng bumi dengan segala aspeknya dibahas dalam ilmu
tektonik lempeng sebagai bagian integral yang tidak dipisahkan dari ilmu
kebumian(Gambar 5).

Gambar. 5. Gaya konveksi yang mengakibatkan terjadinya divergen dan


konvergen dalam teori tektonik. (sumbernya: Ficthtel,2000).

II.2. Batas Batas Lempeng Tektonik

12

Pada umumnya lempeng bumi relatif tebal dan karenanya menjadi tegar dan
kuat. Pada saat lempeng bumi bergerak dinamis dan menumpuh, yang satu bergerak
relatif ke yang lainnya, maka pinggiran lempeng akan mengalami penekanan
kompresif dan, terlipat atau terpatahkan. Lipatan biasanya terjadi pada keadaan gaya
yang tak berkelanjutan, sedangkan patahan atau sesar terjadi pada keadaan gaya yang
tak beraturan. Pergeseran yang terjadi akibat sesar akan menimbulkan goncangan.
Gaya deformasi menyebabkan terpatahkan batuan yang disebabkan oleh
berbagai jenis gaya, seperti gaya tension, gaya kompresif dan gaya gerakan mendatar
terpelintir atau mengunting (torsion). Pergeseran yang berbeda pada setiap jenis sesar
menyebabkan setiap jenis sesar menimbulkan pola gelombang seismik tersendiri.
Oleh karena itu, hasil analisis pola seismik dapat digunakan untuk mengetahui jenis
pergerakan yang terjadi diperbatasan lempeng bumi. Dengan demikian ada tiga jenis
pergerakan relatif dari lempeng bumi, yakni: divergent, konvergen dan transform
seperti pada ( gambar 6).

13

Gambar 6. Batas batas lempeng tektonik ( Kious & Tilling 2001)

II.2.1. Divergen
Dapat didefinisikan bahwa suatu benda padat akan pecah dan memberai manakala
gaya tarikan yang dikenakan pada benda tersebut melebihi daya dan kekuatan
benda itu sendiri. Demikian juga dengan lempeng bumi (lempeng benua dan
lempeng samudra) akan pecah dan menberai bila terkena gaya tarikan melebihi
daya dan kekuatan lempeng bumi tersebut.
Ada dua kelompok pemikiran (teori) yang berkaitan dengan sumber dari gaya
tarikan ini yakni :
1. Timbulnya gaya (stress) tarikan disebabkan oleh aliran panas mantel yang
memberai yang bersumber dari aliran konveksi panas di astenosfer.
2. Timbulnya gaya tarikan berhubungan dengan pembunbungan kerucut
panas mantel bumi di astenosfer.
Teori pertama menyatakan bahwa dua aliran konveksi panas di dalam mantel
bergerak naik dan kemudian memancar, saling menjauh satu dari yang lainnya.
Aliran tersebut kemudian diikuti magma yang naik dan diinjeksikan ke dalam jalur
lemah di bagian atas lempeng bumi, kemudian merobek dan memecah lempeng
tersebut hingga memberai dan terpisah menjadi dua keratan kerak bumi.

14

Dengan demikian proses pemberaian lempeng bumi yang dipicu oleh aliran
konveksi mantel yang naik dan kemudian memencar kearah dua sisi yang
berlawanan (gambar 5). Aliran yang memencar ini menarik lempeng bergerak
memberai yang mengakibatkan terjadinya gaya tarikan.
Sedangkan teori kedua menyatakan bahwa gaya tarikan bersumber dari
pembumbungan kerucut panas mantel yang kemudian melahirkan pusat-pusat panas
(hot spot) di permukaan bumi. Pembubungan kerucut panas terjadi pada tempat
tempat tertentu di dalam mantel bumi, di mana aliran panas jauh lebih besar dari
kawasan di sekitarnya. Penyebab terjadinya pusat pusat panas ini belum jelas
diketahui, namun efeknya dapat menimbulkan pembubungan pada kerak bumi
diatasnya yang kemudian merekah di kawasan puncak bubungan. Magma yang
keluar melalui rekahan rekahan ini menbentuk pusatpusat panas berupa
gunungapi erupsi celah, lelehan lava dan intrusi-intrusi basal alkali yang kaya
dalam logam alkali, seperti: litium, sodium, potasium dan lainnya.
II.2.2. Konvergen
Dalam sistem tumpuan lempeng, bila salah satu lempeng menunjam dibawah
lempeng yang lainnya, maka akan terbentuk lajur tunjaman(lajur Benioff). Di lajur
benioff pada kedalaman tertentu, lempeng yang menunjam akan termalihkan dan
bahkan melebur menjadi magma.

15

Dikawasan pinggiran benua lajur tunjaman terbentuk akibat lempeng samudra


menunjam dibawah lempeng benua. Sedangkan dikawasan samudra, lajur tunjaman
dihasilkan oleh tumbukan antar busur atau antara dua lempeng samudra. Dalam
sistem tunjaman di kawasan lempeng yang menunggangi (overiding plate) akan
terbentuk berbagai jenis batuan, struktur dan regim tektonik, seperti busur vulkanikmagmatik, pasangan jalur malihan, geosinklin dan jalur orogenesa. Ada tiga jenis
tumpukan yaitu :
1. Tumbukan Busur Kepulauan dan Antar Benua
Evolusi pembentukan dan perkembangan pegunungan andes sangat jelas
terlihat bahwa sistim busur kepulauan lepas pantai bergabung di dalam
pinggiran benua Amerika Selatan karena baik sistem busur kepulauan ataupun
benua tidak tertunjamkan, maka kedua sistem menjadi terkunci total. Keadaan
ini mengakibatkan busur kepulauan dan sedimen pinggiran benua tertekan,
terdeformasi, terlipat, tersesarsungkupkan dan terangkat, membentuk jalur
lipatan dan sesar yang menjadi ciri jalur orogenesa. Contoh aktual di
Indonesia yakni tumbukan antara pingiran utara benua Australia dengan
segmen Busur Banda luar, yang terjadi pada orogenesa Neogen. Tumbukan
ini

mengakibatkan

sedimen

pinggiran

pasif

terdeformasi,

terlipat,

tersesarsungkupkan, terimbrikasi, terangkat dan membentuk lajur akrasi di


lereng utara Palung Timor. Bahkan, sebagian dari sedimen tersebut
membentuk struktur kelopak di Timor, tertekan kompresif tumbukan ini

16

mengakibatkan terjadinya mud volcano dikawasan sekitar jalur akrasi di Pulau


Timor. Data seismik menperlihatkan bahwa tumbukan ini tidak begitu aktif
atau kemungkinan berhenti sementara pada saat ini (Gambar 7).

17

18

Gambar. 7. Tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua


(Kious & Tilling, 2001)

2. Tumbukan Antar Benua


Benua-benua yang terlibat dalam tumbuan, karena tertunjamkan akan terkunci
bersama dan menbentuk antara benua tua dengan benua akan terlibat lansung
dalam lajur tumbukan antara benua tua dan benua yang kemungkinan lebih
mudah dan kecil. Proses ini merupakan salah satu bentuk orogenesa tetapi
rangkaian pegununggannya cenderung lebih kompleks. Hal ini disebabkan oleh
berbagai faktor yang terlibat lansung. Diantaranya terlibatnya jalur
pegunungan lipatan dan sesar yang telah ada di masing-masing benua yang
kemudian dalam tumbukan ini akan terdeformasi lagi, terlipat, tersesarkan,
terangkat dan menbentuk pegunungan baru dengan stratigrafi dan struktur yang
jauh lebih kompleks dan rumit (Gambar 8).

19

Gambar. 8. Tumbukan antar Lempeng benua (Kious & Tilling, 2001)

3. Tumbukan Antar Busur Kepulauan


Mana kala terjadi tumbukan ganda busur kepulauan maka keduanya akan
bergabung dan menbentuk segmen linier pada kerak bumi. Kawasan yang
akan terbentuk dengan sistem tumbukan ganda ini dapat diidentifikasi dari
keberadaan sepasang jalur malihan yang mencirikan lajur tunjaman. Tatanan
fisiografi jalur malihan dapat dipergunakan untuk menentukan lajur
tunjaman,tempat dimana batuan malihan tersebut terbentuk (Gambar 9).

Gambar 9. Tumbukan lempeng samudra dengan lempeng samudra


(Kious & Tilling, 2001)

II.2.3. Transform
Tepian transform fault, terletak di antara gelinciran horizontal antara dua lempeng
yang bergerak saling menjauh. Konsep ini diajukan oleh seorang ahli geofisika

20

asal Kanada bernama J. Tuzo Wilson, yang berargumentasi bahwa proses


pembentukan sesar sesar transform yang berdimensi besar, yang terdapat pada
zona rekahan, biasanya berhubungan dengan dua pusat pemekaran pada tepian
lempeng divergen, namun beberapa juga dapat terjadi pada palung samudra, yaitu
pada tepian lempeng konvergen, namun hal ini tidak umum terjadi (Thomas
USGS,2001) (Gambar 10).

Gambar 10. Batas lempeng jenis transform (Kious & Tilling, 2001)

Hasil interaksi antara lempeng-lempeng tektonik yang berbeda seperti yang


telah dijelaskan di atas pastinya akan menghasilkan karakteristik dan kenampakan
(features) yang berbeda pula, keseluruhannya dapat dirangkumkan seperti dalam tabel
1 berikut :
Tabel 1. Jenis Batas Lempeng dan Karakteristik Kenampakannya (features),
(Skinner & Ponters, 1987)

21

Kerak pada
tiap lempeng
SamudraSamudra

Kenampakan
(features)
Topografi

Gempabumi

Vulkanisme

Contoh

Divergen

Konvergen

Transform

Pegunungan samudra Palung lantai Pegunungan dan lembah


dengan lembah pusat samutra
yang dibentuk kerak
pemekaran
samudra
Foci sedalam 100 km
Semua foci kedalaman
kurang dari 100 km
Foci dari 0700 km
Vulkanisme
jarang,
basaltis sepanjang leaky
Lava bantal basaltis
faults
Gunungapi
Kane fracture
basaltis pada
busur
kepulauan
Mid Atlantic Ridge
sejajar palung
Palung Tonga,
palung
Aleutian

SamudraBenua

Topografi

___

Palung lantai
samudra

___

Gempabumi

___

Vulkanisme

___

Contoh

Tidak ada

Foci dari 0- ___


700 km
___
Gunungapi
andesitis
dalam deretan
pegunungan
sejajar palung Tidak ada
Sepanjang
barat Sumatra
dan selatan
Jawa

BenuaBenua

Topografi

Lembah pemekaran

Gempabumi

Semua foci kurang


dari 100 km
kedalamannya

Vulkanisme

Deret
pegunungan
muda
Foci sedalam
300 km pada
daerah yang
luas

Zona sesar yang


menggeser di permukaan.
Foci sedalam 100 km
pada daerah yang luas
Tidak ada vulkanisme

Gunungapi basaltis
dan riolitik
Tidak ada

Sesar San Andreas

22

Kerak pada
tiap lempeng

Kenampakan
(features)

Contoh

Divergen

Lembah pemekaran
Afrika

Konvergen

Transform

gunungapi,
intensif
metamorfosa
dan intrusi
pluton granit
Himalaya,
Alpen

II.3.Proses Terbentuknya Batubara (Sukandarrumidi 2004)


Batubara terbentuk dengan cara yang sangat kompleks dan memerlukan waktu
yang cukup lama (Puluhan sampai ratusan juta tahun) di bawah pengaruh fisika,
kimia maupun keadaan geologi. Untuk memahami bagaimana batubara terbentuk dari
tumbuh-tumbuhan perlu diketahui di mana batubara terbentuk.
II..3.1 Tempat Terbentuknya Batubara.
a. Teori insitu
Teori ini mengatakan bahan pembentukan batubara berada di tempat di mana
tumbuh-tumbuhan asal itu berada dengan demikian setelah tumbuhan tersebut
mati, belum mengalami proses transportasi tetapi segera tertutup oleh lapisan
sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk
dengan cara ini mempunyai penyebaran yang luas dan merata, kualitasnya
lebih baik karena kadar abunya relatif kecil.

23

b. Teori drift
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk batubara terjadinya di
tempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan itu berada dengan demikian
tumbuhan yang telah mati diangkut oleh air dan berakumulasi di suatu tempat,
tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses coalification.
II.3.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Batubara
1. Posisi geotektonik
Posisi geotektonik adalah suatu tempat yang keberadaannya yang dipengaruhi
oleh gaya-gaya tektonik Lempeng. Dalam pembentukan cekungan batubara
posisi geotektonik merupakan faktor yang dominan
2. Topografi (morfologi)
Morfologi dari cekungan pada saat pembentukan gambut sangat penting
karena menentukan penyebaran rawa-rawa dimana batubara tersebut
terbentuk. Topografi mungkin mempunyai efek yang terbatas terhadap iklim
dan keadaannya tergantung posisi geotektoknik.
3. Iklim
Kelembaban memegang peranan penting dalam pembentukan batubara dan
merupakanfaktor pengontrol pertumbuhan flora dan kondisi yang sesuai.

24

Temperatur yang lembab pada iklim tropis da sub tropis pada umumnya sesuai
pertumbuhan flora dibandingkan daerah dingin.
4. Penurunan atau pembebanan
Penurunan cekungan batubara dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik jika
penurunan dan pengendapan gambut seimbang akan dihasilkan endapan
batubara tebal. Pergantian transgresi dan regresi mempengaruhi pertumbuhan
flora dan pengendapannya.
5. Umur geologi
Proes geologi menentukan berkembangnya evolusi kehidupan berbagai
macam tumbuhan. Dalam masa perkembangan geologi secara tidak lansung
membahas sejarah pengendapan batubara dan metamorfosa organik. Makin
tua umur batuan makin dalam penimbunan yang terjadi sehingga terbentuk
batubara yang bermutu tinggi.
6. Tumbuh-tumbuhan
Flora merupakan unsur utama pembentukan batubara. Pertumbuhan dari flora
terakumulasi pada suatu lingkungan dan zonafisiografi dengan iklim dan
topografi tertentu. Flora merupkan faktor utama penentu terbentuknya
berbagai tipe batubara.
7. Dekomposisi

25

Dalam pertumbuhan gambut, tumbuhan akan mengalami perubahan baik


secara fisik maupun kimiawi, setelah tumbuhan mati proses degradasi
biokimia lebih berperan. Proes pembusukan akan terjadi oleh karena
mikrobiologi (bakteri anaerob). Bakteri ini bekerja dalam suasana tampa
oksigen menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan.
8. Sejarah sesudah pengendapan
Sejarah cekungan batubara secara luas tergantung pada posisi geotektonik
yang mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan batubara.
Disamping itu sejarah geologi endapan batubara bertanggung jawab terhadap
terbentuknya struktur cekungan batubara, berupa perlipatan, pensesaran
intrusi magamatik.
9. Struktur cekungan batubara
Terbentuknya batubara pada cekungan batubara pada umumnya mengalami
deformasi oleh gaya tektonik yang akan menghasilkan lapisan batubara dalam
bentuk-bentuk tertentu.
10. Metamorfosis organik
Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan dengan komposisi utama dari sellulosa
yang mana dibantu oleh faktor fisika, kimia alam yang akan mengubah
sellulosa menjadi lignit, subbituminus, bituminus, dan antrasit.

26

II.4 Arti kualitas batubara pada pemanfaatannya


Pada pemanfaannya batubara perlu diketahui sifat-sifat yang akan ditunjukan
oleh batubara tersebut, baik yang bersifat kimiawi ,fisik dan mekanis.. Sifat-sifat ini
akan dapat dilihat atau disimpulkan dari data kualitas batubara hasil analiis dan
pengujiannya. Dari sejumlah data kualitas ada yang dari padanya dapat diambil harga
rata-ratanya, misalnya kandungan air, dan abu yang bersifat kimiawi, teapi ada pula
yang tidak dapat diambil harga rat-ratanya, melainkan harus dilihat harga minimum
dan maksimum,seperti pada harga hardgrove index dan titik leleh abu. Beberapa
parameter kualitas yang akan sangat berpengaruh pemanfaatannya,
II.5.1 Kandungan air
Kandungan air dapat dibedakan atas kandungan air bebas (free moisture),
kandungan air bawaan (inherent moisture). Kandungan air ini akan banyak
pengaruhnya pada pengangkutan, penanganan, penggerusan maupun pada
pembakaran. Kandungan air bebas adalah presentasi kehilangan berat bila
batubaranya di dalam kondisi dikeringkan (dipanasi) secara merata oleh udara
pada kondisi standardari temperatur dan kebasahan yang berarti batubara berada
dalam kondisi kering udara.
Inherent moisture ditetapkan sebagai presentasi kehilangan berat, bila batubara
dalam kondisi kering udara, dikeringkan secara merata oleh nitrogen kering, pada
temperatur standar yang berarti batubaranya ada didalam kondisi kering.(dry)

27

II.5.2 Kandungan abu


Kandungan abu adalah, residu organik yang tertinggal setelah pembakaran habis.
Selain kualitas yang akan memepengaruhi penanganananya, baik sebagai Fly ash
maupun buttom ash tetapi juga komposisinya yang akan mempengaruhi
pemanfaatnya dan juga titik leleh, yang dapat menimbulkan Fouling papa pipapipa. Dalam hal ini kandungan Na2O dalam abu akan sangat mempengaruhi titik
leleh abu. Abu ini dapat dihasilkan dari pengotor bawaan maupun pengotor
sebagai hasil penambangannya. Kompossi abu sebaiknya diketehui dengan untuk
kemungkinan pemanfaatnya sebgai bahan bangunan atau keramik dan
penanggulangannya terhadap masalah lingkungan yang dapat ditimbulkan.
II.5.3 Zat terbang (Volatile Matter)
Kandungan zat terbang sangat erat kaitnya dengan kelas batubara tersebut, makin
tinggi kandungan zat terbang makin rendah kelasnya. Pada pembakaran batubara,
maka kandungan zat yang tinggi akan lebih memepercepat pembakaran karbon.
padatnya dan sebaliknya zat terbang yang rendah lebih mempersukar proses
pembakaran. Kandungan zat terbang di tentukan oleh pengukuran kehilangan
berat selama batubara dipanaskan dibawah kondisi tertentu dan hampa udara serta
koreksi pada contoh kandungan air lengas. Zat terbang terutama mengandung gasgas yang mudah menyala seperti hidrogen karbon monoksida dan metana.
II.5.4 nilai kalor (fuel ratio)

28

Harga nilai kalor merupakan penjumlahan dari harga pana pembakaran dari
unsur-unsur pembentuk batubara Harga nilai kalor yang dapat dilaporkan adalah
harga Gross calorific value dan biasanyadengan dasar air dried, sedang nilai kalor
yang bener-benar dimanfaatkan pada pembakaran batubara adalah net calorific
value yang dapat dihitung dengan harga panas latent dan sensible,yang
dipengaruhi oleh kandungan total dari air dan abu.
II.5.5 Sifat caking dan coking
Kedua Sifat tersebut ditunjukkan oleh nilai muai bebas (Free swelling index) dan
harga dilatasi, yang terutama memberikan gambaran sifat fisik pelunakan
batubara pada pemanasannya. Harga-harga yang ditunjukan oleh hasil analisis dan
pengujian tersebut di peroleh dari sejumlah sampel dengan menggunakan tatacara
tertentu dan terkendal. Sedangkan pada kenyataannya pemanfaatan sangat
berbeda. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan oleh pemakaian batubra
terhadap hasil pembakaran sebenarnya. Dengan demikian akan diperoleh angkaangka yang dapat dikorelasi terhadap hasil analisis dan pengujian dari sampel
batubara.

BAB III
PEMBAHASAN

III.1. Tinjauan Mengenai Peranan geotektonik dalam Pembentukan batubara


Geotektonik merupakan faktor yang bersifat umum dan dominan didalam usaha
mendapatkan batubara. Hal ini karena posisi geotektonik mempengaruhi kondisi
iklim Lokal, Morfologi Cekungan, Kecepatan penurunan Cekungan, face terakhir
sedimentasi dan proses Motamorfosa organik serta struktur geologi suatu lapangan
batubara.
Kecepatan penurunan cekungan batubara dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik,
jika kecepatan penurunan dan pengendapan gambut berjalan seimbang, Maka akan
menghasilkan lapisan endapan batubara yang tebal, apabila penurunan berjalan cepat
selama sedimentasi berlansung, maka akan menghasilkan variasi litologi yang tegas
secara geometri dan petrografi serta memiliki kandungan sulfur yang rendah.
Selanjutnya apabila penurunan berjalan lambat, maka kemenerusan lapisan batubara
secara lateral akan meluas dan memiliki kandungan sulfur yang tinggi. Lingkungan
geotektonik mempunyai peranan yang penting dalam genesa cekungan-cekungan,
karena batubara diendapkan pada bagian kerak bumi yang disebut dengan cekungan.

29

30

III.2 Bentuk Lapisan Batubara Yang di pengaruhi tektonik


a. Bentuk Horse back
Bentuk ini di cirikan oleh perlapisan batubara dan batuan yang menutupinya
melenkung kearah atas akibat gaya kompresi. Ketebalan kearah lateral lapisan
batubara kemungkinan sama ataupun menjadi lebih kecil atau menipis, (gambar
11).

Gambar 11 Deposit batubara bentuk Horse back (Sukandarrumidi 2004)

b.Bentuk pinch
Bentuk nini dicirikan oleh perlapian yang menipis dibagian tengah. Pada
umunya dasar dari lapisan batubara merupakan bagian yang plastis misalnya

31

batulempung

Sedang diatas lapisan batubara secara setempat ditutupi oleh

batupasir yang secara lateral merupakan pengisian suatu alur. (Gambar 12).
Gambar 12 Deposit batubara bentuk Pinch (Sukandarrumidi 2004)

c. Bentuk Clay vein


Bentuk ini terjadi apabila di antara dua bagian deposit batubara terdapat urat
lempung. Bentuk ini terjadi apabila pada satu seri deposit batubara mengalami
patahan. Kemudian dalam bidang patahan yang merupakan rekahan terbuka
terisi oleh material lempung ataupun pasir. (Gambar 13).

32

Gambar 13 Deposit batubara bentuk Clay Vein (Sukandarrumidi 2004)

d. Bentuk Burried Hill.


Bentuk ini terjadi apabila didaerah dimana batubara semula terbentuk terdapat
suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti terintrusi. (Gambar 14).

Gambar 14 Deposit batubara bentuk Burried Hill. (Sukandarrumidi 2004)

33

d. Bentuk Fault
Bentuk ini terjadi apabila didaerah dimana deposit batubara mengalami
beberapa seri patahan. Seri ini akan mengacaukan didalam perhitungan
cadangan akibat adanya perpindahan perlapisan akibat pergeseran ke arah
vertikal.(Gambar 15).

Gambar 15 Deposit batubara bentuk Faul t (Sukandarrumidi 2004)

e. Bentuk fold
Bentuk ini terjadi apabila didaerah dimana deposit batubara mengalami
perlipatan. Makin intesif gaya yang bekerja pembentuk perlipatan akan makin
kompleks terjadi. (Gambar 16).

34

Gambar 16 Deposit batubara bentuk Fold (Sukandarrumidi 2004)

III.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas batubara.


III.3.1 struktur geologi
Perhatian khusus diberikan pada sesar, karena hadirnya sesar dimungkinkan
dapat mempengaruhi kenaikan derajat batubara, yaitu berpengaruh apabila
perpindahan massa batuan akibat sesar tersebut dapat menghasilkan kosentrasi
panas di sepanjang jalur sesar. Oleh karena itu, pada daerah yang struktur
geologinya berkemban, maka kontrol sesar akan mendapat perhatian positif dari
segi kemungkinan terjadinya peningkatan derajat batubara (coal rank). Disisi
lain adanya sesar merupakan masalah didalam penentuan kemerusan lapisan
batubara, perhitungan cadangan, dan pelaksanaan penambangan.

35

III.3 2 . Magmatogenik
Aktivitas intrusi Berasosiasi dengan perkembangan bususr Vulkanik yang
memberikan pengaruh panas. Untuk Kriteria ini, Perhatian lebih ditunjukan
pada adanya Intrusi Batuan beku disekitar disekitar sebaran lapisan batubara,
karena berperan dalam meningkatkan proses pembatubaraan dan akhirnya
meningkankan derajat batubaranya. Intrusi batuan beku pada lapisan batubara
biasanya berkembang kompleks, pada kontak antara tubuh intrusi dengan
lapisan batubara akan memebentuk model yang meliuk hal ini berhubungan
dengan perilaku plastis dari bahan organik akibat pemanasan. Di indonesia,
pengaruh intrusi antara lain dapat jelas terlihat didaerah bukit asam

dan

bengkulu (bukit sunur dan piluoang), umumnya batubara yang dihasilkan


mempunyai kandungan abu dan nilai kalor yang tinggi.

BAB IV
KESIMPULAN

Dalam penulisan makalah seminar yang berjudul Implikasi tektonik dalam


mempengaruhi kualitas dan lapisan batubara, penulisan dapat disimpulkan Bahwa .
Terbentuknya lapisan batubara yang tebal disebabkankan oleh gaya-gaya tektonik
yakni Kecepatan penurunan cekungan batubara dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik,
jika kecepatan penurunan dan pengendapan gambut berjalan seimbang, Maka akan
menghasilkan lapisan endapan batubara yang tebal, selain itu geotektonik dapat
menyebabkan lapisan batubara berubah dari kedaan normal yang menghasilkan
beberapa bentuk lapisan batubara antara lain:, bentuk horse back, bentuk pinch,
bentuk clay vein, bentuk buried hill, bentuk fault, dan bentuk fold.
Meningkatnya kualitas batubara dapat di pengaruhi oleh faktor-faktor
geotektonik antara lain pada daerah struktuk dimana hadirnya sesar dimungkinkan
dapat mempengaruhi kenaikan derajat batubara, yaitu berpengaruh apabila
perpindahan massa batuan akibat sesar tersebut dapat menghasilkan kosentrasi panas
di sepanjang jalur sesar. Selain itu adanya aktivitas intrusi
perkembangan

berasosiasi dengan

busur vukanik dapat memberikan panas, sehingga meningkatkan

derajat batubara.

36

DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, R.W. Van. 1949. The Geology of Indonesia, vol. 1A. Gov. Printing
Office Tha Hague.
Condie, Kent C. 1976. Plate Tectonics and Crustal Evolution. New York: Pergemon
Press, inc.
Fichtel. 2000. Plate Boundaries and Interplate Relationships,
www.csmres.jmu.edu/geollab/fichtel.
Hamilton, W.H. 1979. Tectonics of Indonesia Region. Washington : U.S Geology
Survey.
Kaili, John A. 1980. Geotectonics of Indonesia : A Modern View. Jakarta : The
Directorate General of Mines.
Kious. W.J. dan Tilling, R.I. 2001. The Dynamic Earth, Washington DC: U.S.
Government Printing Office Superintendent of Documents, SSOP.

Magetsari, N.A.,dkk. 2001. Geologi Fisik. Bandung : ITB.


Mulyo, A. 2004. Pengantar Ilmu Kebumian. Bandung : Pustaka Setia.
Prasongko bambang k, 2006, Perencanaan Eksplorasi Batubara . Bandung ; ITB
Prager, E, J, 2000, Bumi Murka: Sains dan Sifat Gempa Bumi, Gunung Berapi
dan Tsunami (terjemahan). Bandung: Pakar Raya
Rahmad., B, 2005. Pembentukan Cekungan Batubara Indonesia Bagian Barat, UPN
Veteran, Yogyakarta ( Tidak di publikasiakan)
Simanjuntak, T.O. 2004. Tektonika. Bandung : Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi.
Skinner, B.J. dan S.C. Ponters. 1987. Physical Geology. New York : John Willey
and Sons.
Sukandarrumidi., 2004, Batubara dan Gambut, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Windley Brian F, 1978, The Evolving Continents (second Edition), New York, Pitman
Press Ltd.
http://bgl.esdm.go.id
Situs-situs internet :
1. http://bgl.esdm.go.id
2. www.usgs.com/platetectonic/htt
3. www.geology.com

37