Anda di halaman 1dari 21

TUGAS SISTEM DISTRIBUSI

SISTEM PROTEKSI TENAGA LISTRIK TENTANG GANGGUAN


PADA GENERATOR

Disusunoleh :
Nama

: Aditya Rizky Pratama

NIM

: 141041051

Jurusan

: TeknikElektro

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND


YOGYAKARTA
2016

PENDAHULUAN
Pengertian proteksi transmisi tenaga listrik adalah adalah proteksi yang dipasang pada
peralatan-peralatan listrik pada suatu transmisi tenaga listrik sehingga proses penyaluaran
tenaga listrik dari tempat pembangkit tenaga listrik(Power Plant) hingga Saluran distribusi
listrik (substation distribution) dapat disalurkan sampai pada konsumer pengguna listrik
dengan aman.
Proteksi transmisi tenaga listrik diterapkan pada transmisi tenaga listrik agar jika
terjadi gangguan peralatan yang berhubungan dengan transmisi tenaga listrik tidak
mengalami kerusakan. Ini juga termasuk saat terjadi perawatan dalam kondisi menyala. Jika
proteksi bekerja dengan baik, maka pekerja dapat melakukan pemeliharaan transmisi tenaga
listrik dalam kondisi bertegangan. Jika saat melakukan pemeliharaan tersebut terjadi
gangguan, maka pengaman-pengaman yang terpasang haurus bekerja demi mengamankan
sistem dan manusia yang sedang melaukukan perawatan.
Transmisi tenaga listrik terbagi dalam beberapa kategori. Kategori yang pertama
adalah transmisi dengan tegangan sebesar 500Kv. Ini merupakan transmisi yang sangat
tinggi. Karena di Indonesia masih menggunakan sistem 500 kv. Kategori yang kedua adalah
transmisi dengan tegangan sebesar 150 kv. Dan yang ketiga adalah transmisi 75 kv. Untuk
dibawah 75 kv selanjutnya dinamakan dengan distribusi tenaga listrik.
Proteksi ini berbeda dengan pengaman. Jika pengaman suatu sistem berarti system
tersebut tidak merasakan gangguan sekalipun. Sedangkan proteksi atau pengaman sistem,
sistem merasakan gangguan tersebut namun dalam waktu yang sangant singkat dapat
diamankan. Sehingga sistem tidak mengalami kerusakan akibat gangguan yang terlalu lama.
Dasar-Dasar Sistem Proteksi
Keandalan dan kemampuan suatu sistem tenaga listrik dalam melayani konsumen
sangat tergantung pada sistem proteksi yang digunakan. Oleh sebab itu dalam perencangan
suatusistem tenaga listrik, perlu dipertimbangkan kondisi-kondisi gangguan yang mungkin
terjadi pada sistem, melalui analisa gangguan.
Dari hasil analisa gangguan, dapat ditentukan sistem proteksi yang akan digunakan, seperti:
spesifikasi switchgear, rating circuit breaker (CB) serta penetapan besaran-besaran yang
menentukan bekerjanya suatu relay (setting relay) untuk keperluan proteksi.
Artikel ini akan membahas tentang karakter serta gangguan-gangguan dan sistem proteksi
yang digunakan pada sistem tenaga listrik yang meliputi: generator, transformer, jaringan
danbusbar.

Definisi Sistem Proteksi


Proteksi sistem tenaga listrik adalah sistem proteksi yang dipasang pada peralatanperalatan listrik suatu sistem tenaga listrik, misalnya generator, transformator, jaringan dan
lain-lain, terhadap kondisi abnormal operasi sistem itu sendiri.

Gambar 1. Gambar jaringan sistem tenaga listrik

Kondisi abnormal itu dapat berupa antara lain: hubung singkat, tegangan lebih,beban
lebih, frekuensi sistem rendah, asinkron dan lain-lain.
Dengan kata lain sistem proteksi itu bermanfaat untuk:
1. menghindari ataupun untuk mengurangi kerusakan peralatan-peralatan akibat gangguan
(kondisi abnormal operasi sistem). Semakin cepat reaksi perangkat proteksi yang digunakan
maka akan semakin sedikit pengaruh gangguan kepada kemungkinan kerusakan alat.
2. cepat melokalisir luas daerah yang mengalami gangguan, menjadi sekecil mungkin.
3. dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada konsumen dan
juga mutu listrik yang baik.
4. mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.
Pengetahuan mengenai arus-arus yang timbul dari berbagai tipe gangguan pada suatu lokasi
merupakan hal yang sangat esensial bagi pengoperasian sistem proteksi secara efektif. Jika
terjadi gangguan pada sistem, para operator yang merasakan adanya gangguan tersebut
diharapkan segera dapat mengoperasikan circuit-circuit Breaker yang tepat untuk
mengeluarkan sistem yang terganggu atau memisahkan pembangkit dari jaringan yang
terganggu. Sangat sulit bagi seorang operator untuk mengawasi gangguan-gangguan yang
mungkin terjadi dan menentukan CB mana yang dioperasikan untuk mengisolir gangguan
tersebut secara manual.
Mengingat arus gangguan yang cukup besar, maka perlu secepat mungkin dilakukan proteksi.

Hal ini perlu suatu peralatan yang digunakan untuk mendeteksi keadaan-keadaan yang tidak
normal tersebut dan selanjutnya menginstruksikan circuit breaker yang tepat untuk bekerja
memutuskan rangkaian atau sistem yang terganggu. Dan peralatan tersebut kita kenal
dengan relay.
Ringkasnya proteksi dan tripping otomatik circuit-circuit yang berhubungan, mempunyai dua
fungsi pokok:
1. Mengisolir peralatan yang terganggu, agar bagian-bagian yang lainnya tetap beroperasi
seperti biasa.
2. Membatasi kerusakan peralatan akibat panas lebih (over heating), pengaruh gaya-gaya
mekanik dst.
"Koordinasi antara relay dan circuit breaker(CB) dalam mengamati dan memutuskan
gangguan disebut sebagai sistem proteksi".
Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mempertahankan arus kerja maksimum yang
aman. Jika arus kerja bertambah melampaui batas aman yang ditentukan dan tidak ada
proteksi atau jika proteksi tidak memadai atau tidak efektif, maka keadaan tidak normal dan
akan mengakibatkan kerusakan isolasi. Pertambahan arus yang berkelebihan menyebabkan
rugi-rugi daya pada konduktor akan berkelebihan pula, sedangkan pengaruh pemanasan
adalah sebanding dengan kwadrat dari arus:
H = 1 kwadrat x R x t = Joules
Dimana;
H = panas yang dihasilkan (Joule)
I = arus listrik (ampere)
R = tahanan konduktor (ohm)
t = waktu atau lamanya arus yang mengalir (detik)
Proteksi harus sanggup menghentikan arus gangguan sebelum arus tersebut naik mencapai
harga yang berbahaya. Proteksi dapat dilakukan dengan Sekering atau Circuit Breaker.
Proteksi juga harus sanggup menghilangkan gangguan tanpa merusak peralatan proteksi itu
sendiri. Untuk ini pemilihan peralatan proteksi harus sesuai dengan kapasitas arus hubung
singkat breaking capacity atau Repturing Capacity.
Disamping itu, sistem proteksi yang diperlukan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Sekering atau circuit breaker harus sanggup dilalui arus nominal secara terus menerus
tanpa pemanasan yang berlebihan (overheating).
2. Overload yang kecil pada selang waktu yang pendek seharusnya tidak menyebabkan
peralatan bekerja.
3. Sistem Proteksi harus bekerja walaupun pada overload yang kecil tetapi cukup lama,
sehingga dapat menyebabkan overheating pada rangkaian penghantar.
4. Sistem Proteksi harus membuka rangkaian sebelum kerusakan yang disebabkan oleh arus
gangguan yang dapat terjadi.

5. Proteksi harus dapat melakukan pemisahan (discriminative) hanya pada rangkaian yang
terganggu yang dipisahkan dari rangkaian yang lain yang tetap beroperasi.
Proteksi overload dikembangkan jika dalam semua hal rangkaian listrik diputuskan sebelum
terjadi overheating. Jadi disini overload action relatif lebih lama dan mempunyai fungsi
inverse terhadap kwadrat dari arus.
Proteksi gangguan hubung singkat dikembangkan jika action dari sekering atau circuit
breaker cukup cepat untuk membuka rangkaian sebelum arus dapat mencapai harga yang
dapat merusak akibat overheating, arcing atau ketegangan mekanik.
Persyaratan Kualitas Sistem Proteksi
Ada beberapa persyaratan yang sangat perlu diperhatikan dalam suatu perencanaan sistem
proteksi yang efektif, yaitu:
a). Selektivitas dan Diskriminasi
Efektivitas suatu sistem proteksi dapat dilihat dari kesanggupan sistem dalam mengisolir
bagian yang mengalami gangguan saja.
b). Stabilitas
Sifat yang tetap inoperatif apabila gangguan-gangguan terjadi diluar zona yang melindungi
(gangguan luar).
c). Kecepatan Operasi
Sifat ini lebih jelas, semakin lama arus gangguan terus mengalir, semakin besar kemungkinan
kerusakan pada peralatan. Hal yang paling penting adalah perlunya membuka bagian-bagian
yang terganggu sebelum generator-generator yang dihubungkan sinkron kehilangan
sinkronisasi dengan sistem. Waktu pembebasan gangguan yang tipikal dalam sistem-sistem
tegangan tinggi adalah 140 ms. Dimana dimasa mendatang waktu ini hendak dipersingkat
menjadi 80 ms sehingga memerlukan relay dengan kecepatan yang sangat tinggi (very high
speed relaying).
d). Sensitivitas (kepekaan)
Yaitu besarnya arus gangguan agar alat bekerja. Harga ini dapat dinyatakan dengan besarnya
arus dalam jaringan aktual (arus primer) atau sebagai prosentase dari arus sekunder (trafo
arus).
e). Pertimbangan ekonomis
Dalam sistem distribusi aspek ekonomis hampir mengatasi aspek teknis, oleh karena jumlah
feeder, trafo dan sebagainya yang begitu banyak, asal saja persyaratan keamanan yang pokok
dipenuhi. Dalam suatu sistem transmisi justru aspek teknis yang penting. Proteksi relatif
mahal, namun demikian pula sistem atau peralatan yang dilindungi dan jaminan terhadap
kelangsungan peralatan sistem adalah vital.

Biasanya digunakan dua sistem proteksi yang terpisah, yaitu proteksi primer atau proteksi
utama dan proteksi pendukung (back up).
f). Realiabilitas (keandalan)
Sifat ini jelas, penyebab utama dari outage rangkaian adalah tidak bekerjanya proteksi
sebagaimana mestinya (mal operation).
g) Proteksi Pendukung
Proteksi pendukung (back up) merupakan susunan yang sepenuhnya terpisah dan yang
bekerja untuk mengeluarkan bagian yang terganggu apabila proteksi utama tidak bekerja
(fail). Sistem pendukung ini sedapat mungkin indenpenden seperti halnya proteksi utama,
memiliki trafo-trafo dan rele-rele tersendiri. Seringkali hanya triping CB dan trafo -trafo
tegangan yang dimiliki bersama oleh keduanya. Tiap-tiap sistem proteksi utama melindungi
suatu area atau zona sistem daya tertentu. Ada kemungkinan suatu daerah kecil diantara zo na
-zona yang berdekatan misalnya antara trafo-trafo arus dan circuit breaker-circuit breaker
tidak dilindungi. Dalam keadaan seperti ini sistem back up (yang dinamakan, remote back
up) akan memberikan perlindungan karena berlapis dengan zona-zona utama.
Pada sistem distribusi aplikasi back up digunakan tidak seluas dalam sistem tansmisi,cukup
jika hanya mencakup titik-titik strategis saja. Remote back up akan bereaksi lambat dan
biasanya memutus lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengeluarkan bagian yang
terganggu.
Komponen-Komponen Sistem Proteksi
Secara umum, komponen-komponen sistem proteksi terdiri dari:
1. Circuit Breaker, CB (Sakelar Pemutus, PMT)
2. Relay
3. Trafo arus (Current Transformer, CT)
4. Trafo tegangan (Potential Transformer, PT)
5. Kabel kontrol
6. Catu daya, Supplay (batere)
Gangguan Gangguan Pada Sistem Tenaga Listrik
Gangguan dalam sistem tenaga listrik adalah keadaan tidak normal dimana keadaan ini dapat
mengakibatkan terganggunya kontinuitas pelayanan tenaga listrik. Secara umum klasifikasi
gangguan pada system tenaga listrik disebabkan oleh 2 faktor, yaitu:
1. Gangguan yang berasal dari system
2. Gangguan yang berasal dari luar system
Penyebab gangguan yang berasal dari dalam sistem antara lain :
1. Tegangan dan arus abnormal.
2. Pemasangan yang kurang baik.

3. Kesalahan mekanis karena proses penuaan


4. Beban lebih.
5. Kerusakan material seperti isolator pecah, kawat putus, atau kabel cacat isolasinya.

Sedangkan untuk gangguan yang berasal dari luar sistem antara lain:
1. Gangguan-gangguan mekanis karena pekerjaan galian saluran lain. Gangguan ini terjadi
untuk sistem kelistrikan bawah tanah.
2. Pengaruh cuaca seperti hujan, angin, serta surja petir. Pada gangguan surja petir dapat
mengakibatkan gangguan tegangan lebih dan dapat menyebabkan gangguan hubung singkat
karena tembus isolasi peralatan ( breakdown ).
3. Pengaruh lingkungan seperti pohon, binatang dan benda-benda asing serta akibat
kecerobohan manusia.
Bila ditinaju dari segi lamanya waktu gangguan, maka dapat dikelompokkan menjadi :
- Gangguan yang bersifat temporer, yang dapat hilang dengan sendirinya atau dengan
memutuskan sesaat bagian yang terganggu dari sumber tegangannya. Gangguan
sementara jika tidak dapat hilang dengan segera, baik hilang dengan sendirinya
maupun karena bekerjanya alat pengaman dapat berubah menjadi gangguan
permanen.
- Gangguan yang bersifat permanen, dimana untuk membebaskannya diperlukan
tindakan perbaikan dan/atau menyingkirkan penyebab gangguan tersebut.
Untuk gangguan yang bersifat sementara setelah arus gangguannya terputus misalnya karena
terbukanya circuit breaker oleh rele pengamannya, peralatan atau saluran yang terganggu
tersebut siap dioperasikan kembali. Sedangkan pada gangguan permanen terjadi kerusakan
yang bersifat permanen sehingga baru bisa dioperasikan kembali setelah bagian yang rusak
diperbaiki atau diganti.
Pada saat terjadi gangguan akan mengalir arus yang sangat besar pada fasa yang terganggu
menuju titik gangguan, dimana arus gangguan tersebut mempunyai harga yang jauh lebih
besar dari rating arus maksimum yang diijinkan, sehingga terjadi kenaikan temperatur yang
dapat mengakibatkan kerusakan pada peralatan listrik yang digunakan.
Sebab Sebab Timbulnya Gangguan pada Sistem Tenaga Listrik
Dalam sistem tenaga listrik tiga fasa, gangguangangguan arus lebih yang mungkin terjadi
adalah sebagai berikut yaitu :
a. Gangguan beban lebih (overload)
Gangguan ini sebenarnya bukan gangguan murni, tetapi bila dibiarkan terus menerus
berlangsung dapat merusak peralatan listrik yang dialiri arus tersebut. Pada saat gangguan ini
terjadi arus yang mengalir melebihi dari kapasitas peralatan listrik dan pengaman yang
terpasang.

b. Gangguan hubung singkat

Gangguan hubung singkat dapat terjadi dua fasa, tiga fasa, satu fasa ke tanah, dua fasa
ke tanah, atau 3 fasa ke tanah. Gangguan hubung singkat ini sendiri dapat digolongkan
menjadi dua kelompok yaitu gangguan hubung singkat simetri dan gangguan hubung singkat
tak simetri (asimetri). Gangguan yang termasuk dalam hubung singkat simetri yaitu gangguan
hubung singkat tiga fasa, sedangkan gangguan yang lainnya merupakan gangguan hubung
singkat tak simetri (asimetri). Gangguan ini akan mengakibatkan arus lebih pada fasa yang
terganggu dan juga akan dapat mengakibatkan kenaikan tegangan pada fasa yang tidak
terganggu.
Hampir semua gangguan yang terjadi pada sistem tenaga listrik adalah gangguan tidak
simetri. Gangguan tidak simetri ini terjadi sebagai akibat gangguan hubung singkat satu fasa
ke tanah, gangguan hubung singkat dua fasa, atau gangguan hubung singkat dua fasa ke
tanah.
Gangguan-gangguan tidak simetri akan menyebabkan mengalirnya arus tak seimbang dalam
sistem sehingga untuk analisa gangguan digunakan metode komponen simetri untuk
menentukan arus maupun tegangan di semua bagian sistem setelah terjadi
gangguan. Gangguan ini akan mengakibatkan arus lebh pada fasa yang terganggu dan juga
akan dapat mengakibatkan kenaikan tegangan pada fasa yang tidak terganggu. Gangguan
dapat diperkecil dengan cara pemeliharaannya.
Adapun akibat-akibat yang ditimbulkan dengan adanya gangguan hubung singkat tersebut
antara lain:
- Rusaknya peralatan listrik yang berada dekat dengan gangguan yang disebabkan arusarus yang besar, arus tak seimbang maupun tegangan-tegangan rendah.
- Berkurangnya stabilitas daya system tersebut.
- Terhentinya kontinuitas pelayanan listrik kepada konsumen apabila gangguan hubung
singkat tersebut sampai mengakibatkan bekerjanya CB yang biasa disebut dengan
pemadaman litrik.
c. Gangguan tegangan lebih
Gangguan tegangan lebih diakibatkan karena adanya kelainan pada sistem. Gangguan
tegangan lebih dapat terjadi antara lain karena :
- Gangguan petir
- Gangguan surja hubung, di antaranya adalah penutupan saluran tak serempak pada pemutus
tiga fasa, penutupan kembali saluran dengan cepat, pelepasan beban akibat gangguan,
penutupan saluran yang semula tidak masuk sistem menjadi masuk sistem, dan sebagainya.

Macam-macam Gangguan

a. Gangguan Beban Lebih


Beban lebih mungkin tidak tepat disebut sebagai gangguan. Namun karena beban
lebih adalah suatu keadaan abnormal yang apabila dibiarkan terus berlangsung dapat
membahayakan peralatan, jadi harus diamankan, maka beban lebih harus ikut ditinjau.
Beban lebih dapat terjadi pada trafo atau pada saluran karena beban yang dipasoknya terus
meningkat, atau karena adanya maneuver atau perubahan aliran beban di jaringan setelah
adanya gangguan. Beban lebih dapat mengakibatkan pemanasan yang berlebihan yang
selanjutnya panas yang berlebihan itu dapat mempercepat proses penuaan atau
memperpendek umur peralatan listrik.
b. Gangguan Hubung Singkat (Short Circuit)
Gangguan hubung singkat dapat terjadi antara fasa (3 fasa atau 2 fasa) atau antara 1 fasa ke
tanah, dan dapat bersifat temporair (non persistant) atau permanent (persistant). Gangguan
yang permanent misalnya hubung singkat yang terjadi pada kabel, belitan trafo atau belitan
generator karena tembusnya (break downnya) isolasi padat. Gangguan temporair misalnya
akibat flashover karena sambaran petir, pohon, atau tertiup angin.
Gangguan hubung singkat dapat merusak peralatan secara termis dan mekanis. Kerusakan
termis tergantung besar dan lama arus gangguan, sedangkan kerusakan mekanis terjadi akibat
gaya tarik-menarik atau tolak-menolak.
c. Gangguan Tegangan Lebih
Tegangan lebih dapat dibedakan sebagai berikut :
- Tegangan lebih dengan power frequency
- Tegangan lebih transient
Tegangan lebih transient dapat dibedakan :
- Surja Petir (Lightning surge)
- Surja Hubung (Switching surge)
Timbulnya tegangan lebih dengan power frequency, dapat terjadi karena :
- Kehilangan beban atau penurunan beban di jaringan akibat switching, karena
gangguan atau karena maneuver.
- Gangguan pada AVR (Automatic Voltage Regulator) pada generator atau pada on load
tap changer dari trafo.
- Over speed pada generator karena kehilangan beban.
d. Gangguan Kurangnya Daya
Kekurangan daya dapat terjadi karena tripnya unit pembangkit (akibat gangguan di
prime movernya atau di generator) atau gangguan hubung singkat di jaringan yang
menyebabkan kerjanya relay dan circuit breakernya yang berakibat terlepasnya suatu pusat
pembangkit dari sistem. Jika kemampuan atau tingkat pembebanan pusat atau unit
pembangkit yang hilang atau terlepas tersebut melampaui spinning reverse system, maka
pusat-pusat pembangkit yang masih ada akan mengalami pembebanan yang berkelebihan

sehingga frequency akan merosot terus, yang bila tidak diamankan akan mengakibatkan
tripnya unit pembangkit lain (cascading) yang selanjutnya dapat berakibat runtuhnya
(collapse) sistem (pemadaman total).
e. Gangguan Ketidakstabilan (Instability)
Gangguan hubung singkat atau kehilangan pembangkit dapat menimbulkan ayunan
daya (power swing) atau yang lebih hebat dapat menyebabkan unit-unit pembangkit lepas
sinkron (out of synchronism). Power swing dapat menyebabkan relay pengaman salah kerja
yang selanjutnya menyebabkan gangguan yang lebih luas. Lepas sinkron dapat
mengakibatkan berkurangnya pembangkit karena tripnya unit pembangkit tersebut atau
terpisahnya sistem, yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas bahkan
runtuh (collapse).
Upaya Mengatasi Gangguan
Dalam sistem tenaga listrik, upaya untuk mengatasi gangguan dapat dilakukan dengan cara :
I. Mengurangi Terjadinya Gangguan
Gangguan tidak dapat dicegah sama sekali, tapi dapat dikurangi kemungkinan terjadinya
sebagai berikut :
- Peralatan yang dapat diandalkan adalah peralatan yang minimum memenuhi
persyaratan standart yang dibuktikan dengan type test, dan yang telah terbukti
keandalannya dari pengalaman. Penggunaan peralatan di bawah mutu standart akan
merupakan sumber gangguan.
- Penentuan spesifikasi yang tepat dan design yang baik sehingga semua peralatan
tahan terhadap kondisi kerja normal maupun dalam keadaan gangguan, baik secara
elektris, thermis maupun mekanis.
- Pemasangan yang benar sesuai dengan design, spesifikasi dan petunjuk dari pabrik.
- Penggunaan kawat tanah pada SUTT/SUTET dengan tahanan pentanahan kaki tiang
yang rendah. Untuk pemeriksaan dan pemeliharaan, maka konduktor pentanahannya
harus dapat dilepas dari kaki tiangnya.
- Penebangan atau pemangkasan pohon-pohon yang berdekatan dengan kawat fasa
SUTM dan SUTT harus dilakukan secara periodik. Dalam hal ini yang perlu
diperhatikan tidak hanya jaraknya dalam keadaan tidak ada angin, melainkan juga
dalam keadaan pohon-pohon tersebut ketika ditiup angin.
- Penggunaan kawat atau kabel udara berisolasi untuk SUTM harus dipilih dan
digunakan secara selektif.
- Operasi dan pemeliharaan yang baik.
- Menghilangkan atau mengurangi penyebab gangguan atau kerusakan melalui
penyelidikan.

II. Mengurangi Akibat Gangguan

Menghilangkan gangguan sama sekali dalam suatu sistem tenaga listrik merupakan usaha
yang tidak mungkin dapat dilakukan. Oleh karena itu maka usaha yang dapat dilakukan
adalah mengurangi akibat kerusakan yang ditimbulkannya. Usaha-usaha yang dapat
dilakukan adalah :
- Mengurangi besarnya arus gangguan. Untuk mengurangi arus gangguan dapat
dilakukan dengan cara : menghindari konsentrasi pembangkitan (mengurangi short
circuit level) menggunakan reaktor dan menggunakan tahanan untuk pentanahan
netralnya.
- Penggunaan lighting arrester dan penentuan tingkat dasar isolasi (BIL) dengan
koordinasi isolasi yang tepat.
- Melepaskan bagian sistem yang terganggu dengan menggunakan circuit breaker dan
relay pengaman.
- Penggunaan pola load shedding dan sistem splitting untuk mengurangi akibat
kehilangan pembangkit.

Proteksi Generator dan Jenis-jenis Pengamannya


Mesin-mesin dengan rancangan terbaru pada umumnya jarang sekali mengalami gangguan,
hal ini disebabkan karena adanya penggunaan bahan-bahan bermutu tinggi, teknis pengerjaan
dan pengendalian mutu yang lebih baik, jika dibanding dengan mesin-mesin buatan
terdahulu. Walaupun demikian kemungkinan terjadinya gangguan tidak dapat dihindarkan.
Gangguan dapat menyebabkan kerusakan pada mesin yang sedang dioperasikan dan biasanya
akan diikuti dengan
Sistem Proteksi Generator
Proteksi untuk gangguan dari dalam generator:
- Differential Relay: untuk melindungi generator dari gangguan akibat hubung
singkat(short circuit) antar fasa.
- Stator Ground Fault Relay:untuk mendeteksi gangguan pentanahan/grounding pada
generator.
- Loss of Field Relay: untuk mendeteksi kehilangan medan penguatan yang
menyebabkan over heating pada kumparan stator dan arus Eddy(Eddy Current) pada
kumparan rotor.
Peran Generator Dalam Sistem dan Syarat Proteksi Generator
Sebagai sumber energi listrik dalam suatu sistem tenaga, generator memiliki peran yang
penting, sehingga tripnya PMT/CB generator sangat tidak dikehendaki karena sangat
mengganggu sistem, terutama generator yang berdaya besar. Dan juga karena letaknya di
hulu,PMT/CB generator tidak boleh mudah trip tetapi juga harus aman bagi generator,
walaupun didalam sistem banyak terjadi gangguan

Untuk menjaga keandalan dari kerja generator, maka dilengkapilah generator dengan
peralatan-peralatan proteksi. Peralatan proteksi generator harus betul-betul mencegah
kerusakan generator, karena kerusakan generator selain akan menelan biaya perbaikan
mempertimbangkan pula proteksi bagi mesin penggeraknya, karena generator digerakkan
oleh mesin penggerak mula.

Gangguan Generator
Gangguan Generator relatif jarang terjadi karena:
a. Instalasi Listrik tidak terbuka terhadap lingkungan, terlindung terhadap petir dan tanaman.
b. Ada Transformator Blok dengan hubungan Wye-Delta, sehingga mencegah arus
(gangguan) urutan nol dari Saluran Transmisi masuk ke Generator.

c. Instalasi Listrik dari Generator ke Rel umumnya memakai Cable Duct yang
kemungkinannya mengalami gangguan kecil.
d. Tripnya PMT Generator sebagian besar (lebih dari 50%) disebabkan oleh gangguan mesin
penggerak generator.
Namun ada juga gangguan-gangguan yang sering terjadi pada generator, meliputi gangguan
pada :
Stator
Rotor (Sistem Penguat)
Mesin Penggerak
Back up instalasi di luar Generator
Pengaman terhadap gangguan luar generator
Generator umumnya dihubungkan ke rel (busbar). Beban dipasok oleh saluran yang
dihubungkan ke rel. Gangguan kebanyakan ada di saluran yang mengambil daya dari rel.
Instalasi penghubung generator dengan rel umumnya jarang mengalami gangguan. Karena rel
dan saluran yang keluar dari rel sudah mempunyai proteksi sendiri,
maka proteksi generator terhadap gangguan luar cukup dengan relay arus lebih dengan time
delay yang relatif lama dan dengan voltage restrain.
Voltage Restrain
Arus Hubung Singkat Generator turun sebagai fungsi waktu.
Hal ini disebabkan oleh membesarnya arus stator yang melemahkan medan magnit kutub
(rotor) sehingga ggl dan tegangan jepit Generator turun.

Untuk menjamin kerjanya Relay sehubungan dengan menurunnya arus hubung singkat
Generator, diperlukan Voltage Restrain Coil.
Mengingat karakteristik hubung singkat Generator yang demikian, pada Generator besar
dipakai juga Relay Impedansi.
Pengaman Terhadap Gangguan Dalam Generator
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Hubung singkat antar fasa


Hubung singkat fasa ke tanah
Suhu tinggi
Penguatan hilang
Arus urutan negatif
Hubung singkat dalam sirkit rotor
Out of Step
Over flux

Hubung singkat antar fasa


- Untuk proteksi dipergunakan relay differensial.
- Kalau relay ini bekerja maka selain mentripkan PMT generator, PMT medan penguat
generator harus trip juga.
- Selain itu melalui relay bantu, mesin penggerak harus dihentikan.
Hubung Singkat Fasa ke Tanah
- Dipakai Relay Hubung Tanah terbatas.
- Relay ini memerintahkan
- PMT Generator Trip
- PMT Medan Penguat Mesin Penggerak berhenti (melalui Relay Bantu)
Pada Generator yang memakai Trafo Blok Y- sehingga arus urutan nol dari gangguan hubung
tanah di luar Generator tidak masuk, bisa dipakai pula :
- Relay Tegangan yang mengukur pergeseran tegangan titik Netral terhadap tanah.
- Relay Arus yang mengukur arus titik Netral ke tanah lewat tahanan atau kumparan.
Penguatan Hilang
- Penguatan hilang atau penguatan melemah (under exitation) bisa menimbulkan pemanasan
yang berlebihan pada kepala kumparan stator
- Penguatan hilang menyebabkan gaya mekanik pada kumparan arus searah rotor hilang,
terjadi out of step, menjadi Generator Asinkron, timbul arus pusar berlebihan di rotor,
selanjutnya rotor mengalami pemanasan berlebihan.
- Relay penguatan hilang akan mentripkan PMT Generator

Penggunaan Relay Mho


- Dalam keadaan eksitasi rendah / hilang, Generator akan mengambil daya Reaktif dari
sistem.
- Oleh karenanya dipakai Relay Mho yang bekerja pada kwadran 3 dan 4 dari Kurva
Kemampuan Generator.
- Perlu perhatian pada Beban Kapasitif, misalnya Saluran Kosong, Daya Reaktif akan masuk
ke Generator dan menyebabkan Relay ini bekerja.
Hubung Singkat dalam Sirkit Rotor
Hubung singkat dalam sirkit rotor bisa menyebabkan penguatan hilang.
Karena hubung singkat dalam sirkit rotor ini, bisa timbul distorsi medan magnet dan
selanjutnya timbul getaran berlebihan.
Cara mendeteksi gangguan sirkit rotor : Potentio Meter, AC Injection, DC Injection.
Relay Negatif Sequence
Gangguan yang menimbulkan ketidak-simetrisan Tegangan maupun arus, menimbulkan
Negatif Sequence Current, tetapi tidak dapat dideteksi oleh Relay-relay yang telah disebutkan
sebelumnya, maka sebelum Negatif Sequence Current terjadi diharapkan dapat dideteksi oleh
Relay ini.
Gangguan-gangguan tersebut di atas misalnya adalah :
Hubung Singkat antar lilitan satu fasa.
Hubung Tanah di dekat titik Netral.
Ada sambungan salah satu fasa yang kendor.
Negative Sequence Current bisa menimbulkan pemanasan berlebihan pada rotor.
Gangguan Internal Generator Yang Sulit Dideteksi
1. Hubung singkat antar lilitan satu fasa, tidak terdeteksi oleh relay diferensial.
2. Hubung tanah di dekat titik Netral, tidak terdeteksi oleh relay hubung tanah terbatas.
3. Lilitan putus atau sambungan kendor, tidak terlihat oleh relay diferensial.
4. Diharapkan relay suhu dan relay Negatif Sequence bisa ikut mendeteksi dua gangguan ini.
Untuk Exciter berupa generator arus bolak balik yang memakai diode berputar, deteksi
gangguan rotor hanya bisa lewat :
a. Arus medan Pilot Exciter yang melewati sikat, bisa ditap untuk diamati. Arus ini akan
membesar kalau ada gangguan kumparan rotor.
b. Gangguan Kumparan rotor menimbulkan vibrasi yang bisa dideteksi oleh detektor vibrasi.
Gangguan dalam mesin penggerak
Gangguan-gangguan yang demikian adalah :
Tekanan minyak pelumas terlalu rendah
Suhu air pendingin atau suhu bantalan terlalu tinggi
Daya balik, adakalanya gangguan dalam mesin penggerak generator memerlukan tripnya
PMT Generator.

Suhu Tinggi
Suhu tinggi bisa terjadi pada bantalan generator atau pada kumparan stator.
Hal ini masing-masing di deteksi oleh relay suhu yang mula-mula membunyikan alarm
kemudian mentripkan PMT generator dan memberhentikan mesin penggerak apabila yang
bekerja adalah relay suhu bantalan.
Penyebab Suhu Tinggi:
A. Lilitan Stator, penyebabnya:
1. Beban Lebih
2. Beban tidak simetris, arus urutan negatif
3. Hubung singkat yang tidak terdeteksi
4. Penguatan Hilang / Lemah
5. Ventilasi kurang baik, hidrogin bocor
6. Kotoran / debu melekat pada lilitan
B. Kumparan Rotor, penyebabnya:
1. Beban stator tidak seimbang, arus urutan negatif
2. Hubung singkat yang tidak terdeteksi
3. Out of step
4. Ventilasi kurang baik, hidrogin bocor
5. Kotoran / debu melekat pada lilitan
C. Bantalan Generator, penyebabnya:
1. Pelumasan kurang lancar, tekanannya kurang tinggi
2. Kerusakan pada bagian yang bergeseran
Tekanan minyak terlalu rendah
Tekanan minyak pelumas yang terlalu rendah bisa merusak bantalan, oleh karenanya jika
hal ini terjadi Mesin Penggerak perlu segera dihentikan melalui proses alarm terlebih dahulu
apabila tekanan ini turun secara bertahap
Berhentinya Mesin Penggerak harus bersamaan dengan tripnya PMT Generator
Suhu Air Pendingin atau Suhu Bantalan terlalu tinggi
Sama seperti tekanan terlalu rendah
Daya Balik
Daya balik dimana generator menjadi motor dapat menimbulkan kerusakan karena
pemanasan berlebihan pada sudu-sudu tekanan rendah Turbin uap. Pada Turbin air dapat
meningkatkan kavitasi. Oleh karenanya diperlukan relay daya balik pada generator yang
digerakkan oleh turbin uap atau turbin air dengan melalui Alarm terlebih dahulu. Untuk
Turbin Gas masalahnya sama dengan untuk Turbin Uap.
Putaran Lebih
Apabila PMT generator trip, maka akan terjadi putaran lebih yang membahayakan generator
dan mesin penggeraknya.
Untuk ini diperlukan relay putaran lebih yang memberhentikan mesin penggerak.

Tegangan Lebih
Apabila PMT generator trip, maka bisa terjadi tegangan lebih.
Untuk ini diperlukan relay tegangan lebih.
Tekanan dan Kebocoran Hidrogen
Untuk generator yang didinginkan dengan gas Hidrogen, harus ada relay yang mendeteksi
tekanan rendah dan kebocoran Hidrogen untuk memberhentikan mesin penggerak generator
dan memutus arus medan
Relay Over Fluks
Relay ini mengukur besaran volt per Hertz. Tegangan imbas volt dalam suatu kumparan
adalah sebanding dengan kerapatan fluks dan frekwensi. Over fluks bisa terjadi pada
Tegangan normal tetapi frekwensi rendah. Hal semacam ini
bisa terjadi pada saat menstart generator dimana frekwensi masih rendah, karena putaran
Generator masih rendah, tetapi sudah ada arus penguat dari exciter. Kerapatan fluks yang
tinggi ini akan menimbulkan arus pusar yang tinggi sehingga timbul pemanasan berlebihan
dalam inti generator dan dalam inti trafo penaik tegangan. Begitu pula dengan rugi histerisis
yang menjadi makin tinggi apabila kerapatan fluks magnetik tinggi, hal ini ikut menambah
pemanasan inti stator.
Contoh soal dan jawaban tentang proteksi transmisi tenaga listrik:

1. Menentukan TMS, I Setting dan Koordinasi Relai Arus Lebih untuk


Memproteksi Sistem Distribusi Radial

Gambar 1. Diagram satu garis jaringan distribusi radial.

Tabel 1. Data Arus Beban, Arus Gangguan Maksimun dan Arus gangguan Minimun.

AB

BC

CD

I_load

142

242

142

(A)

2500

2200

1750

(A)

750

550

500

F_max

F min

Mengilustrasikan perhitungan TMS, Setting arus I Settingdan koordinasi relai arus lebih
standard inverse R1, R2 dan R3 untuk memproteksi jaringan distribusi radial seperti gambar
1 di atas. Arus beban tiap tiap bus dan arus gangguan maksimum dan minimum diberikan
pada tabel 1. Setelah TMS dan I setting masing masing relai R1, R2 dan R3 didapatkan,
kemudian hitunglah waktu operasi relai untuk gangguan 500 Ampere.

Langkah 1
Hitung besarnya rentang Nilai yang diperbolehkan untuk masing masing relai R1, R2 dan R3
menggunakan ketentuan di bawah ini.
1.25 I_beban<I Setting < (2/3) I Gangguan Max
Hasilnya ditabelkan pada tabel 2. di bawah ini. Kolom paling kanan pada tabel 2 merupakan
nilai I Setting yang diambil untuk masing masing relai R1, R2 dan R3.

Tabel 2. Range Nilai Untuk masing-masing relai R1, R2 dan R3


Range Nilai I

Setting

Setting

1.25 I_Load
Relai

(2/3)I

F min

(A)

s.d.

(A)

(A)

R1

178

s.d.

333

180

R2

303

s.d.

367

310

R3

178

s.d.

500

180

Langkah 2
Misalkan waktu operasi relai R1 adalah 0.1 detik dengan menggunakan persamaan:

Didapatkam TMS relai R1 sebesar = 0.033


Untuk gangguan yang terjadi di seksi CD relai R2 harus beroperasi dengan tundaan sebesar
0.3 detik setelah relai R1, sehingga waktu operasi relai R2 = T Relai R1 + 0.3 detik = 0.4
detik.
Hitung nilai TMS relai R2 untuk gangguan yang terjadi pada seksi CD menggunakan
persamaan

Langkah 3
Hitung waktu operasi relai R2 untuk gangguan di seksi BC menggunakan persamaan

Untuk gangguan yang terjadi di seksi BC relai R3 harus beroperasi dengan tundaan sebesar
0.3 detik setelah relai R2, sehingga waktu operasi relai R3 = t Relai R2 + 0.3 detik = 0.652
detik.
Hitung nilai TMS relai R3 untuk gangguan yang terjadi pada seksi BC menggunakan
persamaan

Dengan menggunakan TMS dan I Setting masing masing relai maka didapatkan waktu operasi
masing masing relai R1, R2 dan R3 untuk arus gangguan sebesar 500 A seperti pada tabel 2
(kolom 4) di bawah ini.

Tabel 3. Waktu operasi tiap tiap relai untuk arus gangguan sebesar 500 A
t
Relai

TMS

(A)

(detik)

R1

0.033

180

0.225

R2

0.101

310

1.467

R3

0.239

180

1.623

KESIMPULAN
Proteksi transmisi tenaga listrik adalah adalah proteksi yang dipasang pada peralatanperalatan listrik pada suatu transmisi tenaga listrik sehingga proses penyaluran tenaga listrik
dari tempat pembangkit tenaga listrik(Power Plant) hingga Saluran distribusi listrik
(substation distribution) dapat disalurkan sampai pada konsumer pengguna listrik dengan
aman.
Pada dasarnya semua konstruksi jaringan distribusi tidak ada yang benar-benar aman dari
gangguan yang datangnya dari dalam sistem itu sendiri maupun dari dari luar sistem.
Gangguan tersebut merupakan potensi yang merugikan ditinjau dari beberapa hal, maka
perlunya dipasang sistem proteksi yang berfungsi sebagai berikut:

Mencegah atau membatasi kerusakan pada jaringan beserta peralatannya

Menjaga keselamatan umum

Meningkatkan kontinuitas pelayanan

DAFTAR PUSTAKA

http://dunia-listrik.blogspot.co.id/2008/11/dasar-dasar-sistem-proteksi.html
http://anak-elektro-ustj.blogspot.co.id/2013/03/sistem-proteksi-tenaga-listrik.html
http://ardinositinjak.blogspot.co.id/
http://kuliahelektro.blogspot.co.id/2011/03/proteksi-sistem-tenaga-listrik-dan.html
http://unimed-proteksisistemtenagalistrik.blogspot.co.id/