Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH ILMU BEDAH KHUSUS

OVARIOHYSTERECTOMY PADA KUCING

Oleh :
Olenka Putri Windiarko

135130101111053

Niken Puspita Ningrum

135130101111054

Renatha Caesar Aprilia

135130101111057

Cholid Mawardi

135130101111060

Laboratorium Ilmu Bedah Khusus


Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Brawijaya
Malang
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa tahun terakhir pemeliharaan hewan kesayangan terutama anjing dan
kucing meningkat pesat. Hal ini menunjukkan bahwa anjing dan kucing telah memiliki
posisi yang unik dalam kehidupan manusia. Anjing dan kucing tidak hanya dijadikan
sebagai hewan penjaga rumah, tetapi juga dianggap sebagai bagian anggota keluarga
(Suwed, 2001) karena bisa dilatih, diajak bermain dan merupakan teman yang tepat
untuk menghilangkan stres. Satu atau dua ekor hewan kesayangan tentu sangat
menyenangkan, tetapi apabila populasi meningkat akibat perkawinan yang tidak
diinginkan tentu akan merepotkan.
Peningkatan populasi hewan dalam jumlah besar menjadi masalah tersendiri
bagi kesehatan manusia, terutama hewan kecil seperti anjing dan kucing karena hewanhewan tersebut dapat menularkan dan membawa berbagai agen penyakit. Salah satu
solusi untuk memecahkan permasalahan di atas adalah melakukan tindakan sterilisasi
pada anjing maupun kucing baik pada jantan maupun betina. Sterilisasi pada hewan
betina dapat dilakukan dengan hanya mengangkat ovariumnya saja (ovariectomy) atau
mengangkat ovarium beserta dengan uterusnya (ovariohisterectomy).
Ovariohisterctomy dapat juga dilakukan untuk terapi pengobatan pada kasuskasus reproduksi seperti pyometra, endometritis, tumor uterus, cyste, hiperplasia dan
neoplasia kelenjar mamae. Tindakan bedah ini akan memberikan efek pada hewan
seperti perubahan tingkah laku seperti hewan tidak berahi, tidak bunting, dan tidak
dapat menyusui. Perubahan tingkah laku ini dapat terjadia akibat ketidakseimbangan
hormonal.
Oleh karena itu makalah ini dibuat untuk mengetahui prosedur pelaksanaan
ovariohisterctomy meliputi tindakan pre dan post operasi, serta prosedur operasi pada
kucing.
1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan Praktikum Ilmu Bedah Khusus ini adalah :
1. Untuk mengetahui manajemen pre operasi ovariohisterctomy pada kucing
2. Untuk mengetahui prosedur ovariohisterctomy pada kucing
3. Untuk mengetahui manajemen post operasi ovariohisterctomy pada kucing
1.3 Manfaat

Manfaat pelaksanaan Praktikum Ilmu Bedah Khusus ini adalah :


1. Menambah pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan prosedur pelaksanaan
tindakan ovariohisterctomy dan penanganan pada kucing (Feline sp)
2. Mendapatkan ketrampilan yang dibutuhkan oleh seorang dokter hewan di dunia
kerja khususnya yang berkaitan tentang ovariohisterctomy.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Tatalaksana Operasi Ovariohisterctomy
3.1.1. Manajemen Pre-Operasi
Persiapan sebelum operasi dimulai dengan mempersiapkan ruangan
bedah yang steril, persiapan peralatan operator dan asisten, dan persiapan alat
atau instrument telah disterilisasi. Peralatan yang akan digunakan saat operasi
disusun diatas meja instrument yang telah dialasi linen steril. Peralatan lain
tergantung dari jenis operasi yang akan dilakukan. Sterilisasi peralatan operasi,
baju operasi, masker, penutup kepala, sarung tangan, sikat, dan handuk yang
telah dicuci

bersih serta

dikeringkan

dibungkus

dengan

kain

muslin

atau setelah terlebih dahulu dilipat dan ditata sesuai dengan urutannya masingmasing. Peralatan yang telah dibungkus dimasukkan ke dalam oven untuk
disterilisasi dengan suhu 60oC selama 15-30 menit (Katzug, 2011).
Pemeriksaan fisik berupa signalement dan keadaan umum hewan.
Parameter signalement yang dicatat adalah nama, jenis hewan, ras/breed, jenis
kelamin, usia, warna rambut/kulit, berat badan, serta tanda khusus. Keadaan
umum kucing yang dicatat yaitu, temperatur, pulsus, membrane color, hidrasi,
warna dan konsistensi feses, respirasi, CRT, dan pengamatan sistem
integument, otic, optalmic, muskuloskeletal, nervus, cardiovaskuler, respirasi,
digesti, lympatic, reproduksi, urinaria, adanya abnormalitas pada hewan, serta
riwayat penyakit dan vaksinasi.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, selanjutnya preparasi pada situs
pembedahan dengan cara mencukur rambut di daerah kulit abdomen yang
sebelumnya sudah dibasahi dengan air sabun. Apabila hewan tersebut sifatnya
beringas

sehingga

menyulitkan

pencukuran,

sebaiknya

diberikan

acepromazine sebagai sedativa dengan dosis 0,05-0,10 mg/kg BB secara


intramuscular (IM). Acepromazine bekerja menekan sistem saraf pusat,
termasuk pusat termoregulator dan pada umumnya menguatkan kerja obatobat anestesi, hipnotik, dan sedativa-analgesi (Sardjana dan Kusumawati,
2004).

Kemudian kucing diinjeksikan dengan premedikasi atropin sulfat.


Dosis atropin sulfat yang digunakan adalah 0,04 mg/kg BB secara SC.
Menurut Katzug (2011), atropine sulfat digunakan untuk mencegah muntah
saat operasi karena atropine menyebabkan blockade reversible kerja
kolinomimetik yang mempengaruhi motilitas usus, bronkodilatator dan
mencegah terjadinya hipersalivasi serta menyebabkan dilatasi pupil. Atropine
sulfat dapat diberikan secara rutin bersamaan dengan penggunaan obat-obatan
yang dapat menimbulkan iritasi inhalasi atau pada penggunaan ketamine,
phencyclidine, dan azaperone, tetapi pemberian tidak dianjurkan pada pasien
dengan kondisi takikardi (Sardjana dan Kusumawati, 2004).
Setelah 15 menit, kucing diinjeksikan dengan ketaminxylazine
dengan perbandingan 1:1 dilakukan secara IM dan kedua obat dicampurkan
terlebih dahulu sebelum diinjeksi. Ketamine HCL merupakan larutan tidak

berwarna, stabil pada temperatur kamar, dan termasuk golongan anestetik


dissosiatif, serta dapat digunakan oleh hampir semua spesies hewan. Ketamine
HCL bersama xylazine dapat digunakan sebagai anestesi yang bagus pada
kucing. Ketamine HCL dengan pemberian tunggal bukan merupakan obat
anestesi yang bagus karena obat ini tidak merelaksai muskulus bahkan kadangkadang menyebabkan tonus sedikit meningkat. Pemberian ketamine HCL perlu
dikombinasikan dengan xylazine yang dapat menimbulkan efek relaksasi
muskulus sentralis dan memiliki efek analgesi. Efek samping pemberian
xylazine pada hewan kecil adalah bradikardi dan penurunan cardiac output,
vomit,

termor,

motilitas

intestinal

menurun,

dapat

mempengaruhi

keseimbangan hormonal, antara lain menghambat produksi insulin dan


antidiuretic hormone (ADH) (Sardjana dan Kusumawati, 2004).
Ketika kondisi pasien dalam keadaan setengah sadar, direbahkan
dengan posisi rebah dorsal pada meja operasi. Mulut kucing sedikit dibuka dan
disumbat dengan tampon dan lidah dijulurkan kesamping untuk memudahkan
jalannya respirasi. Pemberian antiseptik pada situs bedah berupa alkohol dan
povidone iodine untuk mengurang kontaminasi bakteri (Sudarminto, 2006).

3.1.2

Prosedur Operasi Ovariohisterectomy


o Sayatan dibuat pada midline di posterior umbilikal dengan panjang kurang
lebih 4 cm. Lapisan pertama yang disayat adalah kulit kemudian subkutan.
o Daerah di bawah subkutan kemudian dipreparir sedikti hingga bagian
peritoneum dapat terlihat. Setelah itu, bagian peritoneum tersebut dijepit
menggunakan pinset kemudian disayat sedikit tepat pada bagian linea alba
menggunakan scalpel hingga ruang abdomen terlihat.
o Kemudian, sayatan tersebut diperpanjang ke arah anterior dan posterior
menggunakan gunting dengan panjang sesuai dengan sayatan yang telah
dilakukan pada kulit. Setelah rongga abdomen terbuka, kemudian
dilakukan pencarian organ uterus dan ovarium.
o Pencarian uterus dan ovarium dilakukan dengan menggunakan jari
telunjuk yang dimasukkan ke rongga abdomen. Setelah itu, uterus ditarik
keluar dari rongga abdomen hingga posisinya adalah ekstra abdominal.
o Pada bagian ujung tanduk uteri ditemukan oavarium dan dipreparir hingga
posisinya ekstra abdominal. Saat mempreparir, beberapa bagian yang
dipotong

diantaranya

adalah

penggantung

uterus

(mesometrium),

penggantung tuba falopi (mesosalphinx),dan penggantung ovarium


(mesoovarium). Pada saat mempreparir uterus dan jaringan sekitarnya,
dinding uterus tetap dijaga jangan sampai robek atau rupture.
o Dengan menggunakan klem arteri, dilakukan penjepitan pada bagian
penggantung ovarium dan termasuk pembuluh darahnya. Penjepitan
dilakukan menggunakan dua klem arteri yang dijepitkan pada
penggantung tersebut secara bersebelahan.
o Pada bagian anterior dari klem arteri yang paling depan, dilakukan
pengikatan menggunakan benang silk.
o Setelah

itu,

dilakukan

pemotongan

pada

penggantung

menggunakan gunting pada posisi diantara dua klem arteri tadi.

tersebut

o Klem arteri yang menjepit penggantung dan berhubungan dengan uterus


tidak dilepas sedangkan klem arteri yang satunya lagi dilepas secara
perlahan-lahan, sebelumnya pastikan tidak ada perdarahan lagi.
o Berikan cairan infuse agar organ tidak terlalu kering. Dan lakukan hal
yang sama pada bagian uterus yang disebelahnya. Dilakukan penjepitan,
pengikatan,dan pemotongan dengan cara yang sama.
o Setelah kedua tanduk uteri beserta ovariumnya dipreparir, maka
selanjutnya adalah bagian corpus uteri yang dipreparir. Pada bagian
corpus uteri, dilakukan penjepitan menggunakan klem yang agak besar.
Kemudian diligasi dengan penjahitan corpus uteri menggunakan catgut
chromic 3,0. Dilakukan pengikatan dengan kuat melingkar pada corpus
uteri menggunakan benang catgut chromic, dan pada ikatan terakhir
dikaitkan pada corpus uteri agar ikatan lebih kuat.
o Setelah itu, dilakukan pemotongan menggunakan scalpel pada bagian
corpus uteri yaitu pada posisi diantara dua klem tadi. Kemudian, uterus
dan ovarium dilepas dan diangkat keluar tubuh, dan jika sudah tidak ada
perdarahan, klem yang satunya lagi dapat dilepas secara perlahan
o

Reposisi uterus dan omentum kedalam abdomen.

Sebelum ditutup jangan lupa berikan antibiotik

o Selanjutnya dengan menggunakan catgut chromic 3,0 dilakukan


penjahitan aponeurose m obliqous abdominis externus m. abdominis
externus dengan menggunakan teknik tunggal sederhana. Pastikan jahitan
tidak melukai atau mengenai organ didalamnya, gunakan alice forcep
untuk membantu penjahitan.
o Penjahitan terakhir dilakukan pada kulit dengan teknik jahitan lambert
menggunakan benang chromic, dan dilanjutkan dengan jahitan tunggal
sederhana menggunakan benang silik.
o Setelah selesai, desinfeksi jahitan dengan diberikan iodine tincture 3%
kemudian dilakukan pembalutan dan dikenakan gurita.

Penyayatan 4-8 cm dilakukan didaerah orientasi yaitu daerah linea alba

(laparotomi medianus)

Insisi otot dengan scalpel, harus dilakukan dengan hati-hati

supaya tidak terkena organ internal

Ovariohisterectomy hook digunakan untuk mengeluarkan uterus

sehingga tidak memperpanjang sayatan di otot

d Tarik keluar uterus sehingga terlihat ovarium secara keseluruhan. Kemudian pembuluh
darah yang ada di klem untuk menghindari pendarahan (Sumber : Anonimus b. 2005).

3.1.3. Post Operasi

Prosedur bedah ovariohisterctomy umumnya didukung perawatan


postoperatif. Pengecekan tersebut anatara lain efek anastesi dan meyakinkan
bahwa persembuhan luka berjalan dengan baik (Hedlund, 2008). Komplikasi
sering kali menyertai operasi seperti reaksi alergi jahitan, seroma, hematoma,
self trauma, dan ketidaknyamanan pasien. Terapi cairan harus dilanjutkan pada
kebanyakan hewan pasca operasi abdomen. Elektrolit, asam-basa, dan protein
serum harus diperhatikan dan dikoreksi pasca operasi untuk memastikan
bahwa pasien dengan memiliki asupan kalori yang memadai pasca operasi
(Theresa, 2007). Perawatan seperti pemberian antibiotik, terapi cairan,
perawatan balutan, anti inflamasi akan membantu persembuhan luka setelah
operasi. Penanganan post operatif sangat penting karena dapat mempengaruhi
persembuhan hewan (pasien). Beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap
pasien bedah post operatif untuk perawatan pasien bedah, diantaranya hewan
dibawa ke ruang pemulihan yang tenang, hewan tetap dimonitor dengan
diukur suhu, frekuensi nafas, frekuensi denyut jantung, serta diameter pupil.
Diperhatikan membran mukosa, limphonodus, dan selaput lendir, serta pasien
diberikan obat untuk mengatasi rasa nyeri selama 1 sampai 3 hari setelah
operasi (Hedlund, 2008). Diberikan infus bila terjadi muntah dan diare hebat,
disfungsi ginjal dan penyakit hati dengan memperhatikan laju infus dan jenis
infus yang diberikan. Apabila pasien hypothermia, diberi penghangat
menggunakan air hangat, diberikan suplemen oksigen, kateter apabila
diperlukan (Mc Curnin, 2008).
Terapi pada luka dapat dilakukan dengan pemberian povidon iodine
dan salep yang mengandung ekstrak placenta pada jahitan guna mempercepat
pengeringan luka, pemberian antibiotik selama 3-5 hari sebagai anti bakteri,
dan pemberian obat analgesik. Antibiotik yang dapat diberikan pada kucing
adalah amoxicillin per oral (PO) dengan dosis 20 mg/kg BB selama 5 hari
berturut-turut. Analgesik juga diberikan untuk mengurangi rasa sakit (nyeri)
pada kucing pasca operasi. Analgesik yang dapat diberikan pada kucing adalah
tolfenamic acid dengan dosis 4 mg/kg BB secara intramuscular (IM) maupun
subcutan (SC). Analgesik diberikan dua hari sekali sampai kontrol jahitan
pertama. Selain itu, pada hewan juga perlu dilakukan pemasangan elizabeth
collar untuk menghindari rusaknya bekas jahitan karena gigitan.

Elizabeth collar adalah benda berbentuk corong yang dipasang pada


leher hewan pada masa pemulihan. Perangkat media ini didesain secara khusus
supaya kucing tetap dapat makan dan minum namun aktivitasnya di bagian
mulut dibatasi agar tidak dapat menjilati tubuhnya yang sedang terluka
(Musthaq, 2011). Kontrol hewan perlu dilakukan dalam waktu 3-5 hari untuk
mengganti penutup bekas operasi dan mencegah keterlambatan penanganan
ketika terjadi komplikasi (Musthaq, 2011).

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sterilisasi pada hewan betina dapat dilakukan dengan hanya mengangkat
ovariumnya saja (ovariectomy) atau mengangkat ovarium beserta dengan uterusnya
(ovariohisterectomy). Ovariohisterctomy dapat juga dilakukan untuk terapi pengobatan
pada kasus-kasus reproduksi seperti pyometra, endometritis, tumor uterus, cyste,
hiperplasia dan neoplasia kelenjar mamae. Tindakan bedah ini akan memberikan efek
perubahan tingkah laku pada hewan yang terjadi akibat ketidakseimbangan hormonal.
Manajemen pre operasi meliputi persiapan preparasi pasien yaitu pemeriksaan fisik
pada hewan, hewan dipuasakan 8-12 jam sebelum tindakan operasi, pemberian
premedikasi dan anestesi; preparasi peralatan dan ruangan operasi; dan preparasi
operator dan asisten. Sedangkan manajemen post operasi meliputi mengontrol kondisi
pasien, mengontrol pemberian obat dan kontrol luka. Penanganan post operatif sangat
penting karena dapat mempengaruhi persembuhan hewan (pasien).
4.2 Saran
Dalam pelaksaanan operasi selalu menerapkan tindakan aseptis. Peralatan bedah
harus terjaga agar tetap steril agar tidak terjadi kontaminasi dari alat terhadap pasien.
Perhatikan keadaan fisiologis hewan (pasien) selama pelaksaan operasi. Dan perhatikan
penanganan post operasi karena penanganan pos operasi sangat berpengaruh pada
kesembuhan hewan (pasien).

DAFTAR PUSTAKA
Anonimus b. 2005. Feline Spay. www.longbeachanimalhospital.com. [21 Juli 2008]
Hedlund CS, Donald AH, Ann LJ, Howard BS, Michael DW, Gwendolyn LC.2008.Small
Animal Surgery 2nd Edition. Mosby of Elsevier. USA.
Katzug, BG. 2011. Farmakologi Dasar dan Klinik . Salemba Medika: Jakarta.
Mc Curnin DM, Joanna MB. 2008.Clinical Textbook For Veterinar Technicians 6 rd Edition.
Musthaq,

A.M.

2011.

Pyometra

in

Small

Animal.

Merck

Veterinary

Manual.

http://www.merckmanuals.com/vet/reproductive_system/reproductive_
Sardjana, IKW dan D Kusumawati. 2004. Anestesi Veteriner Jilid I. Gadjah Mada University
Press. Bulaksumur, Yogyakarta 1-49.
Sudarminto, 2006. Teknik Bedah Dasar, Restrain, dan Casting. Fakultas Kedokteran Hewan.
Universitas Gadjah Mada. 1-28.
Suwed, M.A., R.M. Napitupulu. 2001. Panduan Lengkap Kucing. Penerbit Swadaya. Bogor.
18-23.
Theresa, Welch., Fossum, et all. 2007. Small Animal Surgery 3rd Edition. Missouri: Mosby
Elsevier