Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN TUTORIAL

MODUL KEDOKTERAN HOLISTIK

RUANG 12, SEMESTER 7


GIOVANNA EUNIKE LOMBO

13011101094

EVITA MELINDA SIPAYUNG

13011101165

NINDIRAH SEPTIAH

13011101175

LIVYA REGITA GONI

13011101091

NIRRAHMI ALFARI

13011101214

MUHAMMAD FAUZAN BAZMUL

13011101054

GRICIA EARLENE TAMANSA

13011101026

KYRIE ELEISON WENUR

13011101156

ANDREAS G. H SIAHAAN

13011101171

LILLIAN FLORESTA SARJONO


MATTHEW NATHANAEL RUSLIM

13011101248
13011101251

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016

SKENARIO
Seorang wanita berusia 26 tahun, belum menikah, dating ke dokter puskesmas dengan keluhan
muntah-muntah sejak 1 minggu terakhir. Panas (-), nyeri ulu hati dirasakan setiap kali pasien
terlambat makan.

LANJUT KASUS
Pada anamnesis lanjut ternyata pasien sudah 3 bulan mengalami keterlambatan haid. Pasien
pernah minum Jamu Terlmabat Bulan tapi tidak turun haid. Urin tes, beta hCG positif. Pasien
kemudian kontrol teratur ke dokter kandungan. Sekitar 6 bulan kemudian pasien dating kembali
ke puskesmas dengan keluhan nyeri perut bawah dan panas serta menggigil. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 110 x/menit, regular, respirasi 26 x/menit,
dan suhu badan 38,5oC, BB : 40 kg, TB : 165 cm.

KATA KUNCI
-

Wanita 26 tahun
Belum menikah
Keluhan muntah-muntah dan nyeri ulu hati
Terlambat haid
Beta hCG positif
Pernah minum Jamu Terlambat Bulan
6 bulan dating kembali dengan nyeri perut bawah, panas dan menggigil

PERTANYAAN
1. Anamnesis
Anamnesis
1. Identitas (nama, usia, alamat, jenis kelamin, status pernikahan, pekerjaan)
Perempuan, 26 tahun, belum menikah
2. Keluhan utama : muntah-muntah sejak 1 minggu yang lalu
3. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat muntah-muntah

- sejak kapan?
- durasi? (berapa kali sehari)
- Isi muntah?
- ada lendir atau darah?
- Kira-kira berapa gelas aqua setiap kali muntah?
- Sifat muntah?
Riwayat demam
- Ada demam atau tidak?
- Sejak kapan?
- Pernah mengukur suhu badan? berapa?
- Demamnya terus menerus atau ada penurunan suhu sampai normal?
Riwayat nyeri ulu hati
- Sejak kapan?
- Jenis nyeri? Tumpul atau tajam? Menjalar atau terlokalisir?
- Faktor pencetus?
4. Anamnesis obsgyn
- HPHT
- Usia menarche
- Riwayat coitus terakhir
- Penggunaan kontrasepsi
- Pernah melahirkan sebelumnya?
5. Anamnesis psikiatri
6. Riwayat penyakit dahulu
- Pernah mengalami penyakit serupa?
- Ada alergi pada obat-obatan atau makanan?
7. Riwayat pengobatan
- sudah pernah berobat?
- Jika pernah, mengkonsumsi obat apa? Berapa lama? Apakah ada perbaikan?
8. Riwayat penyakit keluarga ?
- Apa ada keluarga yang mengalami keluhan/penyakit seperti ini ?
- Jika ada, sejak kapan ? apakah sudah di obati?
9. Riwayat kebiasaan
- Adakah ada makanan tertentu yang sering di konsumsi pasien?
- Apakah muntah-muntah timbul setelah mengkonsumsi makanan tertentu?
- Kebiasaan merokok, minum alkohol, napza?
10. Riwayat sosial
- Lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, keluarga, dsb
Anamnesis 6 bulan kemudian
1. Identitas (nama, usia, alamat, jenis kelamin, status pernikahan, pekerjaan)
Perempuan, 26 tahun, belum menikah
2. Keluhan utama : nyeri perut bawah dan panas serta menggigil
3. Riwayat keluhan sekarang
a. Nyeri perut bawah

o
o
o
o
o
b.
o
o
o
o
o
4.
5.
6.
7.
8.
9.
-

Sebelah mana? Karakteristik nyeri?


Sejak kapan?
Hilang timbul atau terus menerus?
Apakah ada faktor pencetus?
Apakah nyeri yang dirasakan ialah kontraksi (his) tanda-tanda persalinan?
Panas serta menggigil
Sejak kapan?
Pernah mengukur suhu badan? berapa?
Demamnya terus menerus atau ada penurunan suhu sampai normal?
Apakah panas selalu disertai dengan menggigil?
Riwayat bepergian ke tempat endemis 3 bulan terakhir?
Status obstretrik
HPHT
Usia menarche
Riwayat coitus terakhir
Penggunaan kontrasepsi
Pernah melahirkan sebelumnya?
Riwayat antenatal care
Riwayat penyakit dahulu
Pernah mengalami penyakit serupa?
Ada alergi pada obat-obatan atau makanan?
Riwayat pengobatan
sudah pernah berobat?
Jika pernah, mengkonsumsi obat apa? Berapa lama? Apakah ada perbaikan?
Riwayat penyakit keluarga ?
Apa ada keluarga yang mengalami keluhan/penyakit seperti ini ?
Jika ada, sejak kapan ? apakah sudah di obati?
Riwayat kebiasaan
Kebiasaan merokok, minum alkohol, napza?
Riwayat sosial
Lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, keluarga, dsb

2. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan fisik pada ibu hamil dilakukan dengan pemeriksaan lengkap yang
bertujuan untuk mendeteksi masalah fisik yang mempengaruhi kehamilan ibu.
Pemeriksaan fisik yang meliputi pengkajian pada tanda-tanda vital, sistem
kardiovaskuler, sistem muskuloskletal, sistem neurologi, sistem integumen, sistem
endokrin, sistem gastrointestinal, sistem urinarius, sistem reproduksi (Mitayani, 2009).

Pemeriksaan fisik pada status generalis/pemeriksaan umum : penilaian keadaan umum,


kesadaran, komunikasi/kooperasi. Tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan),
tinggi/berat badan. Kemungkinan resiko tinggi pada ibu dengan tinggi < 145 cm, berat
badan < 45 kg atau > 75 kg. Batas hipertensi pada kehamilan yaitu 140/90 mmHg (nilai
diastolik lebih bermakna untuk prediksi sirkulasi plesenta). Mata konjungtiva pucat/tidak,
sklera ikterik/ tidak. Mulut/THT dengan ada tanda radang/tidak, lendir, perdarahan gusi,
gigi-geligi. Paru/jantung/abdomen. Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi umum.
Ekstremitas diperiksa terhadap edema, pucat, sianosis, varises, simetri (kecurigaan polio,
mungkin terdapat kelainan bentuk panggul). Jika ada luka terbuka atau fokus infeksi lain
harus dimasukkan menjadi masalah dan direncanakan penatalaksanaannya (Yani, 2006).
Pemeriksaan fisik head toe pada ibu hamil:
1. Lakukan pengamatan secara sistematis tentang keadaan ibu hamil, tentang nutrisi,
tentang warna dan juga tekstur kulit, serta pigmentasi. Hal tersebut bertujuan untuk
mengetahui tingkat asupan nutrisi yang ibu hamil peroleh, nantinya akan diketahui nutrisi
telah cukup atau malah sebaliknya.
2. Pemeriksaan tanda vital.
Pernafasan :Pernafasan yang normal untuk usia dewasa yaitu 16-20 x/menit.
Nadi :berdenyut dengan normal sebanyak 60-90 x/menit.
Mengukur tingkat suhu sang ibu.
Mengukur besarnya tekanan darah.
3. Pemeriksaan fisik head toe pada ibu hamil,pemeriksaan kepala dan wajah.
Inspeksi kepala juga kulit kepala untuk melihat dengan cermat kondisi kepala.
Inspeksi area wajah.
Pemeriksaan bagian mata.
Inspeksi pada area hidung.
Pemeriksaan mulut juga kerongkongan.
Inspeksi pada bagian telinga.
Pemeriksaan fisik head toe pada ibu hamil, pemeriksaan leher.
4. Pemeriksaan kelenjar thyroid: melihat besar serta bentuk juga kondisi umumnya.
Palpasi bagian leher untuk memastikan tidak terjadi pembengkakan pada bagian leher.
5. Periksa bagian dada

Lihat juga lakukan palpasi payudara bentuk dan warna dari payudara.
Inspeksi dan juga palpasi bagian daerah ketiak: memastikan tidak adanya benjolan yang
mencurigakan.
6. Pemeriksaan fisik head toe pada ibu hamil, pemeriksaan abdomen
Inspeksi mengenai bentuknya dan pastikan tidak adanya kelainan abdomen
7.Pemeriksaan punggung pasien ibu hamil
Inspeksi untuk memastikan apakah adanya kelainan pada bagian spinal, serta
bagaimana bentuk dari bujur sangkar-michelis.
8.Genetalia eksterna dan anus juga diperiksa.
Mengamati bentuk serta bau pada bagian vital (pastikan tidak ada kelainan). Hal ini
bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi kelainan pada organ vital atau tidak. Jika
terjadi, akan dapat dilakukan penanganan segera oleh dokter kandungan Anda.
Memastikan tidak adanya pembengkakan serta gangguan pada bagian vital.
Pemeriksaan khusus abstetri:
1. Status obstetricus/ pemeriksaan khusus obstetric
Inspeksi : membesar/tidak (pada kehamilan muda pembesaran abdomen
mungkin belum nyata). Palpasi : tentukan tinggi fundus uteri dengan tepi atas simfisis
os pubis). Pemeriksaan palpasi leopold pertama dilakukan untuk menentukan tinggi
fundus uteri dengan tujuan untuk mengetahui usia kehamilan, pemeriksaan leopold kedua
dilakukan untuk menentukan letak punggung janin, menentukan batas samping rahim
kanan dan kiri dan pemeriksaan leopold ketiga dilakukan untuk menentukan bagian
presentase janin serta pemeriksaan leopold keempat untuk menentukan apakah bagian
terbawah janin tersebut telah memasuki atau melewati pintu atas panggul.
Auskultasi : dengan stetoskop kayu Laennec atau alat Dopler yang ditempelkan di
daerah punggung janin. Pemeriksaan auskultasi yang ideal adalah denyut jantung janin
dihitung seluruhnya selama satu menit. Batas frekuensi denyut jantung janin normal
adalah 120-140 kali per menit. Takikardi menunjukkan adanya reaksi kompensasi
terhadap beban/stress pada janin (fetal distress), sementara bradikardi menunjukkan
kegagalan kompensasi beban/stress pada janin (fetal distress/gawat janin).

2. Pemeriksaan luar
Inspeksi luar : keadaan vulva/uretra, ada tidaknya tanda radang,
luka/perdarahan, discharge, kelainan lainnya.
3. Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan dalam (vaginal toucher) seringkali tidak dilakukan pada
kunjungan antenatal pertama, kecuali ada indikasi. Umunya pemeriksaan dalam yang
sungguh bermakna untuk kepentingan obstetrik (persalinan), pemeriksaan ini dilakukan
pada usia kehamilan di atas 34-46 minggu, untuk memperkirakan ukuran, letak,
presentasi janin, penilaian serviks uteri dan keadaan jalan lahir, serta pelvimetri klinik
untuk penilaian kemungkinan persalinan normal pervaginam. Alasan lainnya, pada usia
kehamilan kurang dari 36 minggu, elastisitas jaringan lunak sekitar jalan lahir masih
minimal, akan sulit dan sakit untuk eksplorasi.
Pemeriksaan lanjutan:
Pemeriksaan lanjutan merupakan kunjungan antental setelah kunjungan pertama.
Tujuan pemeriksaan lanjutan difokuskan pada pendeteksian komplikasi, mempersiapkan
kelahiran, dan kegawatdaruratan. Dalam pemeriksaan lanjutan yang dilakukan adalah
sebagai berikut :
Pertama, riwayat kehamilan sekarang meliputi gerakan janin, setiap masalah atau
tanda-tanda bahaya, keluhan-keluhan dalam kehamilan, kekhawatiran- kekhawatiran lain.
Kedua, pemeriksaan fisik pada berat badan, tekanan darah, pemeriksaan ekstremitas
bawah (oedema, refleks tendon, varicositis), pengukuran tinggi fundus uteri, manuever
leopold untuk mendeteksi kelainan letak (setelah 36 minggu), denyut jantung janin.
Ketiga, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan pada protein urin untuk mendeteksi
preeklampsi.
Keempat, pemeriksaan panggul, pemeriksaan dilakukan dengan pelvimetri klinis pada
akhir trimester III jika perlu panggul dievaluasi kembali, lakukan pemeriksaan vagina
jika ada indikasi/ibu memiliki tnda-tanda kurang bulan (Yeyeh, 2009).

Palpasi andomen pada kehamilan:


Jelaskan tentang prosedur pemeriksaan kepada ibu, juga bahwa

pemeriksaan ini kadang-kadang menimbulkan perasaan khawatir atau tidak enak tetapi
tidak akan membahayakan bayi yang ada dalam kandungan:
Leopold 1 :
Letakkan sisi lateral telunjuk kiri pada fundus uteri untuk menentukan tinggi fundus.
Perhatikan agar jari tersebut tidak mendorong uterus ke bawah (jika diperlukan, fiksasi
uterus bawah denga meletakkan ibu jari dan telunjuk tangan kanan dibagian lateral depan
kanan dan kiri, setinggi tepi atas simfisis)
Angkat jari telunjuk kiri (dan jari-jari yang memfiksasi uterus bawah) kemudian atr
posisi pemeriksa sehingga menghadap ke bagian keapala ibu
Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada fundus uteri dan rasakan bagian
bayi yang ada pada bagian tersebut dengan jalan menekan secara lembut dan menggeser
telapak tangan kiri dan kanan secara bergantian.
Leopold 2 :
Letakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan
pada dinding perut lateral kiri ibu secara sejajar dan pada ketinggian yang sama
Mulai dari bagian atas, tekan secara bergantian atau bersamaan (simultan) telapak
tangan kiri dan kanan, kemudian geser ke arah bawah dan rasakan adanya bagian yang
rata dan memanjang (punggung) atau bagian-bagian kecil (eksteremitas).
Leopold 3 :
Pemeriksa tetap menghadap ke muka pasien Gunakan tangan kanan untuk mempalpasi
bagian bawah rahim Dengan keempat jari dan ibu jari pegang bagian terbawah janin
(kepala) dan tentukan sudah terfiksir atau belum.
Leopold 4 :
Pemeriksa berganti menghadap kearah kaki pasien Letakkan ujung telapak tangan kiri
dan kanan pada lateral kiri dan kanan uterus bawah, ujung-ujung jari tangan kiri dan
kanan berada pada tepi atas simfisis Temukan kedua ibu jari kiri dan kanan, kemudian
rapatkan semua jari-jari tangan yang meraba dinding bawah uterus Perhatikan sudut yang
dibentuk oleh jari-jari kiri dan kanan (konvergen atau divergen).
VAGINAL TOUCHER PADA KASUS OBSTETRI
Indikasi vaginal toucher pada kasus kehamilan atau persalinan:

Sebagai bagian dalam menegakkan diagnosa kehamilan muda.


Pada primigravida dengan usia kehamilan lebih dari 37 minggu digunakan untuk
melakukan evaluasi kapasitas panggul (pelvimetri klinik) dan menentukan apakah ada
kelainan pada jalan lahir yang diperkirakan akan dapat mengganggu jalannya proses
persalinan pervaginam. Pada saat masuk kamar bersalin dilakukan untuk menentukan
fase persalinan dan diagnosa letak janin. Pada saat inpartu digunakan untuk menilai
apakah kemajuan proses persalinan sesuai dengan yang diharapkan. Pada saat ketuban
pecah digunakan untuk menentukan ada tidaknya prolapsus bagian kecil janin atau
talipusat.
Pada saat inpartu, ibu nampak ingin meneran dan digunakan untuk memastikan apakah
fase persalinan sudah masuk pada persalinan kala II.
Teknik pemeriksaan:
Vaginal toucher pada pemeriksaan kehamilan dan persalinan:
Didahului dengan melakukan inspeksi pada organ genitalia eksterna.
Tahap berikutnya, pemeriksaan inspekulo untuk melihat keadaan jalan lahir.
Labia minora disisihkan kekiri dan kanan dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri
dari sisi kranial untuk memaparkan vestibulum.)clip_image002[24]
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan dalam posisi lurus dan rapat dimasukkan
kearah belakang - atas vagina dan melakukan palpasi pada servik.clip_image002[26]
Menentukan dilatasi (cm) dan pendataran servik (prosentase).
Menentukan keadaan selaput ketuban masih utuh atau sudah pecah, bila sudah pecah
tentukan :
1. Warna
2. Bau
3. Jumlah air ketuban yang mengalir keluar
Menentukan presentasi (bagian terendah) dan posisi (berdasarkan denominator) serta
derajat penurunan janin berdasarkan stasion. clip_image002[28]
Menentukan apakah terdapat bagian-bagian kecil janin lain atau talipusat yang berada
disamping bagian terendah janin (presentasi rangkap compound presentation).
Pada primigravida digunakan lebih lanjut untuk melakukan pelvimetri klinik :
Pemeriksaan bentuk sacrum

Menentukan apakah coccygeus menonjol atau tidak.


Menentukan apakah spina ischiadica menonjol atau tidak.
Mengukur distansia interspinarum.
Memeriksa lengkungan dinding lateral panggul.
Meraba promontorium, bila teraba maka dapat diduga adanya kesempitan panggul
(mengukur conjugata diagonalis).
Menentukan jarak antara kedua tuber ischiadica.
Auskultasi
Auskultasi detik jantung janin dengan menggunakan stetoskop.
Detik jantung janin terdengar paling keras didaerah punggung janin.
Frekuensi detik jantung janin normal 120 160 kali per menit.

PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK:


Pemeriksaan laboratorium rutin (Hb dan urinalisis serta protein urine).
Pemeriksaan laboratorium khusus.
Pemeriksaan ultrasonografi.
Pemantauan janin dengan kardiotokografi.
Amniosentesis dan Kariotiping.

3. Diagnosa dan diagnosa banding


Diagnosis Banding:

Gastritis
Kebanyakan gastritis tanpa gejala.Mereka yang mempunyai keluhan biasanya
berupa keluhan yang tidak khas keluhan yang sering dihubungkan dengan gastritis
adalah nyeri panas dan pedih di ulu hati disertai mual kadang-kadang sampai
muntah.Keluhan-keluhan tersebut tidak berkolerasi dengan baik dengan
gastritis.Keluhan tersebut juga tidak dapat digunakan sebagai alat evaluasi
keberhasilan pengobatan.Pemeriksaan fisik juga tidak dapat memberikan

informasi yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Diagnosis gastritis

ditegakkan berdasarkan pemeriksaan endoskopi dan histopatologi.


KET (Kehamilan Ektopik Terganggu)
Suatu kehamilan yang pertumbuhan sel telur telah dibuahi tidak menempel pada
dinding endometrium kavum uteri. Lebih dari 95% kehamilan ektopik berada di
saluran telur (tuba Fallopii).
Walaupun diagnosanya agak sulit dilakukan, namun beberapa cara dapat

ditegakkan, antara lain dengan melihat :


Anamnesis dan gejala klinis
Riwayat terlambat haid, gejala dan tanda kehamilan muda, dapat atau tidak ada
perdarahan pervaginam, ada nyeri perut kanan/kiri bawah. Berat atau ringannya

nyeri tergantung pada banyaknya darah yang terkumpul dalam peritoneum.


- Pemeriksaan Fisik
1. Didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor di daerah adneksa
2. Adanya tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat dan ekstremitas
dingin, adanya tanda-tanda abdomen akut yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri
tekan dan nyeri lepas dinding abdomen.
3. Pemeriksaan dalam: serviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uterus kanan

dan kiri.
Intra Uterine Fetal Death ( IUFD )
IUFD adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau
lebih tau kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih.
Untuk mendiagnosis IUFD dari anamnesis biasanya didapatkan gerakan janin
yang tidak ada, perut tidak bertambah besar, bahkan mungkin mengecil
(kehamilan tidak seperti biasanya), perut sering menjadi keras, merasakan sakit
seperti ingin melahirkan, danpenurunan berat badan.
Pemeriksaan fisik pada pasien IUFD biasanya didapatkan tinggi fundus uteri
berkurang atau lebih rendah dari usia kehamilan, tidak terlihat gerakangerakan
janin yang biasanya dapat terlihat pada ibu yang kurus. Pada palpasi didapatkan
tonus uterus menurun, uterus teraba flaksid, dantidak teraba gerakangerakan janin.
Pada auskultasi tidak terdengar denyut jantung janin setelah usia kehamilan 10-12
minggu.

Abortus Inkomplit

Abortus inkomplit merupakan keluarnya sebagian hasil konsepsi dari


kavum uteri dan masih ada yang tertinggal sebelum umur kehamilan lengkap 20
minggu dan sebelum berat jain 500 gram.
Kejadian abortus yang terjadi dapat menimbulkan komplikasi dan dapat
menyebabkan kematian ibu antara lain karena perdarahan dan infeksi.
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang cermat tentang upaya
tindakan abortus yang tidak menggunakan peralatan asepsis. Pada komplikasi
infeksi, akan didapatkan gejala panas tinggi, tampak sakit dan lelah, takikardia,
perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang membesar dan lembut, serta
nyeri tekan. Pada laboratotium didapatkan tanda infeksi dengan leukositosis.
4. Bagaimana edukasi pada kasus ini?
Edukasi
1. Muntah-muntah sejak 1 minggu terakhir
Edukasi supaya tidak terjadi dehidrasi

Rumus dehidrasi=

BB sebelum sakit BB sesudah sakit


x 100
BB sebelum sakit

Rumus menghitung kebutuhan cairan berdasarkan Holliday & Segard


Pada orang dewasa:
BB 10 kg pertama = 1 L cairan
BB 10 kg kedua = 0,5 L cairan
Bb >> 10 kg = 20 ml x BB sisa
Kasus BB 40 kg
10 kg pertama = 1000 cc cairan

10 kg kedua = 500 cc cairan


20 kg sisa = 20 ml x 20 kg = 400 cc cairan
Total cairan yang dibutuhkan = 1000 cc + 500 cc + 400 cc = 1900 cc = 1,9 L
Penggantian cairan dapat menggunakan oralit, koloid (albumin) dan kristaloid

(NaCl, ringer laktat)


Cara membuat oralit: 1 sachet oralit untuk 200 ml air
Berikut penggunaan oralit berdasarkan usia yang diminum setelah BAB atau muntah :
Usia dibawah 1 tahun = 100 ml atau 0,5 gelas (setengah gelas)
Usia 1 5 tahun = 200 ml atau 1 gelas
Usia 5 12 tahun = 300 ml atau 1,5 gelas
Usia diatas 12 tahun Dewasa = 400 ml atau 2 gelas
2. Nyeri ulu hati saat terlambat makan
Edukasi:
Pola makan harus teratur
Jenis makanan yang dikonsumsi: asam atau pedas, porsi makanan
3. Kehamilan
Edukasi tentang:
Ante Natal Care (ANC)
Sebaiknya ditujukan ke arah yang positif, yaitu tetap mempertahankan janin. Jangan
diaborsi
Jelaskan tentang bagaimana cara persalinan
Jelaskan tentang masa nifas, cara merawat bayi
4. Kehamilan diluar nikah
Edukasi:
Janin jangan diaborsi karna dapat dijatuhi hukuman
KUHP pasal 346, yaitu seorang wanita yang sengaja menggugurkan kandungannya atau
menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat

tahun.
Jika diaborsi dapat mengancam nyawa ibu dan janin
Dari pihak medis dilarang untuk melakukan tindakan aborsi, kecuali pada keadaan

tertentu seperti membahayakan ibu, perkosaan


Perbuatan dosa
5. Konsumsi jamu terlambat bulan
Edukasi:
Bahayanya minum jamu yang sembarangan, belum dapat dibuktikan keamanan dan

khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya belum terstandarisasi.
Efek samping pada ibu dan janin, dapat membahayakan kesehatan ibu, kesehatan janin,

pertumbuhan dan perkembangan janin, dapat terjadi IUGR (Intra Uterin Growth

Retardation) dan IUFD (Intra Uterin Fetal Death)


6. Preeklampsia
Edukasi:
Pantau terus tekanan darah

Banyak istirahat
Jika terjadi perburukan langsung pergi ke Rumah Sakit
7. Psikologis
Edukasi:
Jangan stres karena bisa mengganggu kesehatan
Jangan bunuh diri
Menceritakan apa yang dirasakan dan dialami pada keluarga atau orang terdekat untuk

mengurangi beban
8. Gizi
Edukasi:
Perhatikan pola makan
Mengonsumsi makan yang bergizi, gizi seimbang
Konsultasi ke dokter gizi mengenai penanganan kurang gizi pada ibu hamil.
9. Peran keluarga
Edukasi:
Jangan menjudge
Memberi semangat, motivasi, dan dukungan.
Selalu ada waktu untuk pasien di masa rentan seperti pada kasus

5. Bagaimana pendekatan holistik gizi pada kasus ini?

BBLR (<2500 g) dan BBLSR (<1500 g) berhubungan dengan peningkatan resiko


kematian perinatal (kematian bayi usia 28 minggu gestasi sampai 4 minggu postpartum)
Dua indikator status nutrisi maternal yang berhubungan dengan BBL :
a. Status gizi sebelum hamil (BB & TB)
b. Pertambahan BB selama hamil
Rekomendasi pertambahan BB selama kehamilan menurut IMT sebelum hamil
(Institute of Medicine)
IMT sebelum hamil
Normal (18,5-24,9)
Underweight (<18,5)
Overweight (25-29,9)

Rekomendasi Pertambahan BB
25-35 pon
28-40 pon
15-25 pon

Perlu dilakukan penilaian oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan) terhadap


konsumsi kalori selama hamil dan pertambahan BB yang terjadi.
Jika pertambahan BB tidak disebabkan karena konsumsi kalori yang
meningkat, hal tersebut bisa disebabkan oleh akumulasi cairan (edema
maupun polihidramnion)

Suplementasi nutrisi selama hamil

6.

Suplementasi diet ibu selama kehamilan dapat berupa penambahan energy, protein,
vitamin atau mineral melebihi kebutuhan sehari-hari biasanya
a. Energy
Pertambahan kebutuhan energy dibutuhkan utk memenuhi kebutuhan
metabolic kehamilan dan pertumbuhan janin
Metabolism meningkat 15% selama hamil
Dietary reference intake (DRI) untuk wanita hamil
o Trimester 1
: sama dengan keadaan seblum hamil
o Trimester 2
: +340-360 kcal/hari
o Trimester 3
: +112 kcal/hari
b. Protein
RDA : 0,66 g/kgBB/hari protein untuk wanita hamil
Untuk setiap tambahan fetus perlu tambahan 25g/hari
c. Karbohidrat
Estimated average requirement (EAR) adalah 135g/hari, dan AI adalah 175
g/hari. Jumlah tersebut direkomendasikan ntuk mencegah ketosis dan
mempertahankan gula darah normal selama hamil
d. Serat
Sumber : roti gandum, sereal, sayuran hijau, buah segar dan kering
DRI selama kehamilan 28 g/hari
e. Lipid
Jumlah kebutuhan lipid dalam makanan bergantung pada kebutuhan energy
untuk pertambahan BB yang normal
f. Vitamin
Asam folat : 600 mcg
Vitamin A : 770 mcg retinol
Vitamin B6
: 1,9 mg/hari
Vitamin C : 10 mg.hari
Vitamin D : 5 mcg / 200 IU/hari
g. Mineral
Kalsium : 1000 mg/hari untuk kehamilan tunggal (wanita di atas 19 tahun)
Fosfor
: 1250 mg/hari (<19 tahun); 700 mg/hari (19 tahun)
Besi
: 27 mg/hari
Zinc
: 11-13 mg/hari
Magnesium
: 350-400 mg/hari

Bagaimana pendekatan holistik pada ibu hamil dengan penyakit penyerta hipertensi?
TD : 150/90
Kehamilan > 20 minggu

Tanyakkan apakah ada nyeri kepala dan atau gangguan penglihatan


Lihat apakah ada hiperrefleksia
Periksa proteinuria
Lihat keadaan pasien, terutama bila koma

Kemungkinan :

Preeklampsia ringan, gejala utama hipertensi, proteinuria (300mg/24jam atau +1


dipstik), dan edema (bukan merupakan syarat utama, 60-80% pada kehamilan

7.

normal)
Bagaimana pendekatan holistik kesehatan jiwa berkaitan dengan hamil diluar nikah?

Rasa malu dan perasaan bersalah yang berlebihan,apalagi bila kehamilan di


ketahui pihak lain.

Perasaan ingin menggugurkan anaknya karna tidak mau untuk melahirkan

Perasaan tertekan karena di kucilkan oleh masyarakat atau alasan yang lain yang
membuat seseorang tertekan karena kehamilan yang terjadi di luar nikah sehingga
mengganggu kehamilannya.

8. Bagaimana pendekatan holistik tentang hukum kesehatan pada kasus ini?


Pada kasus didapatkan wanita berumur 26 tahun dan belum nikah diduga sedang
hamil, maka secara hukum wanita tersebut dan pria yang sudah menyetubuhinya
sudah melakukan persetubuhan diluar nikah. Jika pria tersebut menyetubuhi
dengan persetujuan wanita maka dapat dikenakan sanksi berdasarkan KUHP
pasal 284 mengenai perzinahan. Jika tanpa persetujuan wanita dan dengan
menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan maka dapat dikenakan sanksi
KUHP pasal 285 mengenai perkosaan dan jika wanitanya dalam keadaan pingsan
maka dapat dikenakan KUHP pasal 286.
Jika wanita yang sedang hamil tersebut melakukan pengguguran janin yang
sedang dikandung karena kehamilan yang dialami wanita tersebut tidak
diinginkan maka wanita tersebut telah melakukan abortus provokatus kriminalis
dan bagi yang melakukan maupun yang membantu hal tersebut dapat dikenakan
sanksi KUHP pasal 346,347,348,349.

9. Bagaimana pendekatan holistik dengan pengobatan herbal pada kasus ini?


Jamu terlambat bulan merupakan obat yang mengandung misoprostol, di US lebih
dkenal dengan obat Cytotec. Karena mengandung misoprostol maka obat ini
sangat berpotensi menggugurkan kandungan hingga 90% .

10. Bagaimana pendekatan holistik tindakan promotive, preventif pada pasien, keluarga, dan
masyarakat?
Upaya Promotif
Tujuan : agar masyarakat mampu meningkatkan status kesehatan.

Berikan penyuluhan untuk informasi tentang kesehatan ibu hamil

Informasikan tentang persalinan dan kebutuhan selama persalinan

Upaya Preventif
Tujuan : untuk mencegah terjadinya penyakit

Pemeriksaan kehamilan secara berkala pada ibu hamil

Memberitahukan bahaya terjadinya komplikasi selama persalinan

Meberitahukan keluarga untuk member dukungan psikologis.

Upaya Kuratif
Tujuan : untuk mencegah penyakit lebih parah melalui pengobatan

Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis

Melakukan rujukan

Upaya Rehabilitative
Tujuan : untuk memlihara dan memulihkan kondisi seseorang yang baru sembuh

Istirahat yang cukup dan pengaturan diet yang tepat pada ibu hamil pasca sakit

Latihan fisik dan mobilisasi dini pada ibu pasca bersalin sebagai pemulihan

Pemenuhan gizi

11. Bagaimana pendekatan holistik bidang obstetri dan gynekologi?

Pendekatan/penanganan Holistik dengan Obsgin

1. Abortus Inkomplit
Lakukan konseling
Jika perdarahan ringan atau sedang dan kehamilan usia kehamilan kurang dari 16
minggu, gunakan jari atau forcep cincin untuk mengeluarkan hasil kontrasepsi yang

mencuat dari serviks.


Jika perdarahan berat dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu, lakukan evakuasi isi
uterus. Aspirasi vakum manual (AVM) adalah metode yang dianjurkan. Kuret tajam
sebaiknya hanya dilakukan bila AVM tidak tersedia. Jika evakuasi tidak dapat segera

dilakukan, berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang 15 menit kemudian bila perlu)
Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu, berikan infus 40 IU oksitosin dalam 1 liter
NaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu

pengeluaran hasil konsepsi


Lakukan evaluasi tanda vital pascatindakan setiap 30 menit selama 2 jam. bila kondisi ibu

baik, pindahkan ke ruang rawat.


Lakukan pemeriksaan jaringan secara makroskopik dan kirimkan untuk pemeriksaan

patologi ke laboratorium.
Lakukan evaluasi tanda vital, perdarahan pervaginam, tanda akut abdomen, dan produksi
urin urin setiap 6 jam selama 24 jam. periksa kadar hemoglobin setelah 24 jam. Bila hasil
pemantauan bauk dan kadar Hb >8 g/dl, ibu dapat diperbolehkan pulang.

2. IUFD
Konservatif
Rawat di rumah sakit
Berikan antibiotika (ampisilin 4 x 500 mg atau eritromisin bila tak tahan ampisilin) dan

metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari


Jika umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau

sampai air ketuban tidak keluar lagi.


Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum impartu, tidak ada infeksi, tes busa negatif :
beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin. Terminasi

pada kehamilan 37 minggu.


Jika kehamilan 32-37 minggu, sudah impartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik

(salbutanol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.


Jika usia kehamilan 23-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi.
Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda-tanda infeksi intrauerin)

Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan paru
janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu.
Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg
setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
Aktif
Kehamilan > 37 minggul, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea.

Dapat pula diberikan misoprostol 50 intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.


Bila tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi, dan persalinan di akhiri :
Bila skor pelvic < 5, lakukan pematangan serviks, kemuian induksi. Jika tidak

berhasil, akhiri persalinan engan seksio sesarea.


Bila skor pelvic > 5, induksi, partus pervaginam

3. KET
Tatalaksana kehamilan ektopik ditatalaksana denga dua cara, yaitu dengan pembedahan

dan medikamentosa.
Pembedahan
Salpingktomi
Jika tuba mengalami kerusakan hebat atau tuba kontralateral baik. Jika komplikasi

terjadi di pars interstisial mungkin dapat dilakukan reseksi kornu uterus.


Salpigotomi
Jika hasil konsepsi masih berda di tuba, masih memungkinkan untuk
mempertahankan tuba dengan mengeluarkan produk konsepsi dan melakukan
rekontruksi tuba. Hal ini terutama dilakukan bila tuba kontralateral rusak atau
tidak ada. Sekitar 6% kasus membutuhkan pembedahan ulang atau pengobatan
bila jaringan trfoplas masih tertinggal.
Kesempatan hamil intrauterin untuk ketua tindakan tersebut menunjukkan angaka
yang sama, walaupun resiko kehamilan ektopik berulang lebih besar pada
tindakan salpingotomi. Salingotomi metupakan pilihan terutama bila tuba ruptur,
mengurangi perdarahan dan operasi lebih singkat. Kedua tindakan tersebut dapat
dilakukan dengan laparotomi atau laparoskopi. Keuntungan laparoskopi adalah
penyembuhan lebih cepat, perlengketan yang terbentuk lebih minimal dan
merupakan pilihan bila kondisi pasien masih baik.

Medikamentosa

Terapi medikamentosa untuk kehamilan ektopik dengan pemebrian metotreksat,


baik secara sestemik maupun dengan injeksi kehamilan ektopik melalui
laparoskopi atau dengan bantuan USG
Syarat pemberian meotrksat adalah :
Tidak ada kehamilan intrauterine
Belum terjadi ruptur
Ukuran masa adneksa 4 cm
Kadar beta hCG 10.000 mIU/ml
Metotreksat menghambat produksi hCG oleh trofoblas, dan selanjutnya akan
menurunkan produksi progesteron oleh korpus luteum. Efek samping yang dapat
terjadi adlah distress abdomen, demam, dizzines, imunisupresan, lekopenia,
malaise, nausea, stomatitis ulceratif, fotosensitif dan fatiq.
KESIMPULAN
Wanita usia 26 tahun, belum menikah mengeluh nyeri perut bawah dan panas serta
menggigil perlu pendekatan secara holistik dengan memperbaiki keadaan umum sebelum
dirujuk pada bidang yang berkompeten.