Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan melalui ikatan
perkawinan, adopsi atau kelahiran yang bertujuan untuk menciptakan dan
mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, mental dan social
serta emosional dan tiap anggota keluarga (Duvall, 1997). Terdapat dua fungsi
dasar keluarga yaitu guna memenuhi kebutuhan fisik dan kesejahteraan
psikososial. Kesejahteraan fisik meliputi terpenuhinya kebutuhan makanan,
pakaian, rasa aman dan kesehatan jasmani, sedang kesejahteraan psikososial
adalah bila keluarga mampu menjadi struktur atau kerangka dasar pertumbuhan
psikososial dan/atau keluarga yang berhasil menjalani pertumbuhan psikososial
dengan baik (Sofyan S, 2013).
Keluarga sebagaimana individu berubah dan berkembang, masing-masing
tahap perkembangan mempunyai tantangan, kebutuhan, sumber daya tersendiri,
dan meliputi tugas yang harus dipenuhi sebelum keluarga mencapai tahap yang
selanjutnya. Menurut Duvall (1977) terdapat 8 tahapan perkembangan keluarga
(Eight-Stage Family Life Cycle) diantaranya married couples (without children),
childbearing Family (oldest child birth-30 month), families with preschool
children (oldest child 2,5- 6 years), families with School Children (Oldest child 613 years ), families with teenagers (oldest child 13- 20 years), families launching
young adults (first child gone to last childs leaving home), middle Aged Parents
(empty nest to retirement) dan aging family members (retirement to death of both
spouse. Adapun tugas pekembangan pada keluarga dengan anak dewasa muda
diantaranya memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar, mempertahankan
keintiman pasangan, membantu orang tua memasuki masa tua, membantu anak
untuk mandiri di masyarakat, penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
(Duvall, 1997).
Pada masa keluarga dengan anak dewasa muda, terjadi peristiwa penting
dalam keluarga dimana seorang anak beranjak kedalam kehidupan dewasa, karir,
atau keluarga yang terlepas dari keluarga tempat dia berasal (Nindi Larassati,
2013). Berdasakan penelitian Genevie`ve Bouchard (2013) didapatkan reaksi

orang tua ketika anak meninggalkan rumah dilihat dari beberapa aspek diantaraya
pada aspek kualitas pernikahan terjadi peningkatan kualitas pernikahan, pada
aspek equity pernikahan terjadi peningkatan, ketidakseimbagan pernikahan terjadi
peningkatan, hubungan dengan anak-anak terdapat pengaruh terutama akibat dari
jarak dari tempat tinggal yang akan mempengaruhi komunikasi sehingga
dibutuhkan negosiasi terkait peran baru dalam hubungan, kesejahteraan fisik tidak
dipengaruhi dan kesejahteraan psikologi terpengaruh dimana orang tua mengalami
empty nest syndrome.
Menurut Shakya (2009), empty nest syndrome merupakan perasaan umum
yang berupa kesepian maupun kesedihan yang dialami oleh orang tua ketika anakanak mereka telah meninggalkan rumah. Menurut Kelleher (dalam Hui-Ling,
2002), empty nest syndrome merupakan faktor yang mempengaruhi kehidupan dan
kesehatan dewasa madya karena diasumsikan empty nest syndrome tersebut dapat
menyebabkan stres dan depresi. Hal ini disebabkan orang tua menghadapi proses
penyesuaian diri baru karena ketidakseimbangan akibat ketidakadaan anak di
rumah (Bassoff dalam Santrock, 2002). Empty nest syndrome merupakan fase dari
siklus kehidupan keluarga di mana semua anak-anak tumbuh dewasa dan tidak
lagi tinggal di rumah (Dennerstein et al, 2002;. Deutscher 1964; Raup dan Myers
1989). Periode ini dianggap sebagai peristiwa normatif, dalam arti bahwa orang
tua menyadari bahwa anak-anak mereka akan menjadi dewasa dan akhirnya
meninggalkan rumah (Crowley et al 2003;. Mitchell dan Lovegreen 2009).
Meskipun normatif, transisi ini tetap memiliki dampak yang mendalam pada
orang tua.
Setiap peristiwa pasti akan menimbulkan berbagai dampak, baik itu
dampak negatif maupun dampak positif. Begitu juga dengan empty nest syndrome
yang membawa dampak negatif, yaitu berupa perasaan kesepian dan kekosongan
meskipun berdasarkan Santrock (2002) mengatakan bahwa tidak semua yang
mengalami empty nest syndrome mendapatkan dampak yang negatif. Carter dan
Goldrick (1988), menyatakan kekecewaan orang tua terjadi ketika anak-anak
meninggalkan rumah. Haley (1973) menyatakan tugas tenaga kesehatan termasuk
perawat adalah untuk membantu keluarga mengatasi masa krisis atau empty nest
syndrome tersebut melalui bantuan satu sama lain, menemukan keseimbangan

baru sesuai dengan struktur keluarga yang baru dan akan membawa suatu
perubahan pada keluarga.
Salah satu cara dalam mengatasi masa krisis atau empty nest syndrome
tersebut adalah melaui peningkatan harapan pada orang tua, dimana anak yang
sebelumnya merupakan harapan dapat digantikan oleh harapan baru pada aspek
lainya dalam kehidupan. Harapan merupakan kumpulan kemampuan individu
untuk membuat strategi dalam menuju yang diinginkan dan memiliki motivasi
yang cukup (Khaledian, Parvaz, Garosi, dan Habibzade, 2013). Harapan dianggap
sebagai sumber ketahanan manusia dalam menyesuaikan dengan masalah. Salah
satu strategi terapi umum untuk mengurangi kekecewaan dan meningkatkan
harapan dalam kehidupan individu asalah melalui Logo terapi. Logo terapi
merupakan metode pendekatan eksistensial yabg meyediakan konteks filosofi dan
makna hidup dalam bentuk kelompok. Logo terapi adalah metode yang individu
gunakan untuk menemukan makna hidup dengan prinsip sebagai motif dasar
penentuan makna hidup bagi setiap individu dalam periode kehidupan yang
berbeda (ShoaaKazemi dan Saadati, 2010).
Mengingat sebagian besar anak setelah dewasa akan meninggalkan orang
tua dan perpisahan akan menyebabkan keputuasaan pada orang tua (empty nest
syndrome). Oleh karena itu penting untuk menemukan suatu langkah-langkah
yang sesuai dalam menangani dampak negatif dari empty nest syndrome,
mempromosikan layanan kesehatan mental, dan megembangkan suatu terapi yang
tepat seperti terapi logo. Melalaui terapi logo dapat meningkatkan harapan dari
orang tua dan meningkatkan kualitas hidup, serta empty nest syndrome yang
merupakan bagian dari siklus kehidupan yang akan dialami oleh seluruh individu,
dan pentingnya mengatasi dampak negatifnya melalui terapi yang tepat dan
sesuai. Sehingga kami tertarik untuk menganalisis jurnal The Effectiveness of
Logo Therapy on the Rise of Hopefulness in Empty-Nest Syndrome

1.2 TUJUAN PENULISAN


Tujuan dari penulisa ini sebagai berikut.
1.2.1

Mengetahui ringkasan dari jurnal The Effectiveness of Logo Therapy


on the Rise of Hopefulness in Empty-Nest Syndrome

1.2.2

Mengetahui tinjauan pustaka dari jurnal The Effectiveness of Logo


Therapy on the Rise of Hopefulness in Empty-Nest Syndrome

1.2.3

Mengetahui analisis jurnal dengan format critical appraisal dan


manfaat hasil penelitian dengan analisis SWOT dari jurnal The
Effectiveness of Logo Therapy on the Rise of Hopefulness in EmptyNest Syndrome

1.2.4

Mengetahui implikasi keperawatan dari jurnal The Effectiveness of


Logo Therapy on the Rise of Hopefulness in Empty-Nest Syndrome

1.3 MANFAAT PENULISAN


1.3.1. Bagi Mahasiswa
Meningkatnya pemahaman dan pengetahuan mahasiswa mengenai
pengaruh logo terapi terhadap meningkatkan harapan pada empty nest
syndrome.
1.3.2. Bagi Tenaga Kesehatan
Meningkatnya pemahaman dan pengetahuan tenaga kesehatan
mengenai pengaruh logo terapi terhadap meningkatkan harapan pada
empty nest syndrome.
1.3.3. Bagi Lansia
Meningkatnya ketersediaan informasi mengenai cara meningkatkan
harapan melalui logo terapi pada empty nest syndrome.

BAB II
ISI
2.1.

RINGKASAN JURNAL
Judul jurnal :
Efektivitas Terapi Logo dalam meningkatkan harapan pada empty net
syndrome (sindroma sarang kosong)
Ringkasan:
Tugas utama keluarga adalah untuk membangun hubungan dan kinerja
keluarga mengarah ke kepuasan kebutuhan individu dan sosial. Jenis sistem
keluarga dan pola komunikasi memiliki efek penting pada anggota keluarga
(Gholamzadeh, 2009). Bahkan, keluarga memainkan peran paling penting dan
mendasar dalam setiap masyarakat. Kinerja keluarga dikaitkan dengan
kemampuan untuk menjadi selaras dengan perubahan, memiliki korelasi
antara anggota keluarga yang bersangkutan menjadi sebuah sistem keluarga.
Dan setiap perubahan baik dalam sistem ini dapat mempengaruhi
kesejahteraan

anggota

keluarga

(Kajbaf,

2010).

Ketika

anak-anak

meninggalkan rumah dapat menimbulkan suatu kesenjangan diantara


hubungan kedua orang tua.
Ketika anak-anak meninggalkan rumah, orang tua berupaya untuk memberi
makna hidup pada hubungan mereka. Pada periode ini, beberapa
ketidaknyamanan dan bahkan stres negatif dapat muncul yang dinamakan
sebagai "sindrom sarang kosong" atau empty net syndrom (Kheirkhah, 2010).
Menurut Duvall (1977), siklus hidup keluarga, terjadi diawali dengan
pernikahan dan berakhir dengan kematian kedua orang tua, tahap keenam
adalah periode sarang kosong. Hal ini kemungkinan bahwa tidak adanya
anak-anak di rumah akan menyebabkan pertengkaran perkawinan untuk
meningkatkan perasaan kesepian dan depresi sebagai akibat dari kesia-siaan
hidup yang dirasakan oleh kedua orang tua (Goldenberg & Goldenberg,
2008). Menurut The Carter dan Mc Goldrick (1988), kekecewaan orang tua
meningkat ketika anak-anak meninggalkan rumah.
Salah satu cara dalam mengatasi masa krisis atau empty nest syndrome
tersebut adalah melaui peningkatan harapan pada orang tua, dimana anak

yang sebelumnya merupakan harapan dapat digantikan oleh harapan baru


pada aspek lainya dalam kehidupan. Harapan merupakan kumpulan
kemampuan individu untuk membuat strategi dalam menuju yang diinginkan
dan memiliki motivasi yang cukup (Khaledian, Parvaz, Garosi, dan
Habibzade, 2013). Harapan dianggap sebagai sumber ketahanan manusia
dalam menyesuaikan dengan masalah. Salah satu strategi terapi umum untuk
mengurangi kekecewaan dan meningkatkan harapan dalam kehidupan
individu asalah melalui Logo terapi. Logo terapi merupakan metode
pendekatan eksistensial yang meyediakan konteks filosofi dan makna hidup
dalam bentuk kelompok. Logo terapi adalah metode yang individu gunakan
untuk menemukan makna hidup dengan prinsip sebagai motif dasar
penentuan makna hidup bagi setiap individu dalam periode kehidupan yang
berbeda (ShoaaKazemi dan Saadati, 2010).
Penelitian ini dilakukan dengan metode half-experiment, pre-test dan post
test yang disertai dengan kelompok kontrol. Penelitian dilakukan di kota
Ghorveh yaitu pada orangtua (perempuan dan laki-laki) yang anak-anaknya
telah dewasa dan telah meninggalkan rumah. Sampel dipilih dengan metode
random sampling, didapatkan sampel 24 orang laki-laki dan perempuan yang
dibagi ke dalam dua grup kontrol dan eksperimen.

Grup eksperimen

mendapatkan 10 sesi terapi sedangkan grup kontrol tidak. Analisis data


peneliti menggunakan statistik deskriptif dan inferensial (analisis tes
kovarian).
Indikator yang diukur dan diteliti adalah tingkat harapan klien, dalam
penelitian penilaian harapan dilakukan dengan inventori harapan yang
diciptakan oleh snyder (1991), untuk menilai harapan memiliki 12 ekspresi
yaitu 4 ekspresi khusus untuk penilaian pemikiran faktorial, 4 ekspresi untuk
penilaian pemikiran strategis dan empat penilaian terakhir untuk kategori
penyimpangan.
Sesi komunal dibuat selama sepuluh sesi dan masing-masing dalam waktu 90
menit yang diadakan seminggu sekali. Sesi pertama, menetapkan tujuan dan
aturan kelompok, berkenalan dengan anggota satu sama lain, konseling dan
diskusi tentang empty-nest syndrome, presentasi tentang paten kelompok dan

kontrak terapi. Sesi kedua Ekspresi masalah, pembahasan tentang empty-nest


syndrome dan efek empty-nest syndrome pada pembentukan gangguan
mental. Sesi ketiga, menemukan dan mengambil makna dari konteks sejarah
kehidupan dan melakukan tanggung jawab. Sesi Keempat Perubahan sikap
dan memperoleh makna dengan cara deteksi. Sesi kelima, memperoleh makna
dari penciptaan nilai dan tanggung jawab. Sesi keenam, memperoleh makna
dari pengalaman nilai-nilai, harapan dan aspirasi. Sesi ketujuh, arti kematian,
kehidupan, kebebasan dan tanggung jawab. Sesi Kedelapan, tanggung jawab,
kepentingan sosial mandiri, mengatasi dengan kekecewaan dan meningkatkan
harapan hidup. Sesi kesembilan, dukungan afektif anggota dari satu sama
lain, menyelesaikan kalimat tidak lengkap untuk interaksi antara anggota dan
mendorong anggota untuk menuntut dukungan afektif dari satu sama lain.
Sesi Kesepuluh, ringkasan, penggabungan dari sesi dan kesimpulan, diskusi
tentang hal-hal yang dipelajari dalam kelompok.
Hasil penelitian diperoleh angka harapan hidup rata-rata individu dalam
kelompok eksperimen adalah 14,58 di pre-test dan 24,25 pada post-test; dan
harapan hidup rata-rata di kelompok kontrol adalah 15/33 dalam pre-test dan
15,33 pada post-test. Namun, hasil gradient homogenitas pada harapan hidup
F (1,20) = 0,255, tidak memiliki makna yang berarti. Tapi asumsi regresi
gradien homogenitas sudah dipastikan untuk variabel harapan hidup.
Mengingat temuan di atas, untuk survei asumsi disebutkan, kita telah
menggunakan analisis kovarian yang hasilnya F (f = 1,934) dan tingkat
signifikansi (0,001) dalam variabel kelompok adalah penjelasan dari
perbedaan antara dua kelompok kontrol dan eksperimen di pos. Oleh karena
itu hasil yang diperoleh adalah indikator efisiensi terapi semantik pada
harapan hidup peserta meningkat. Dengan kata lain, metode terapi tersebut
mampu mengurangi depresi pada peserta kelompok eksperimen. Oleh karena
itu peneliti dapat menyatakan bahwa Logo terapi mampu meningkatkan
harapan hidup pada peserta dari kelompok eksperimen. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa penerapan Logo terapi efektif untuk meningkatkan
harapan hidup pada "sindrom sarang kosong" atau empty net syndrom.

2.2.

TINJAUAN PUSTAKA
2.2.1. Keluarga dengan Anak Dewasa Muda
1. Definisi
Pada tahap ini maka pasangan harus melepas anaknya, untuk
masuk dalam generasi baru, dan menyesuaikan dengan perubahan.
Dengan melepaskan anak yang sudah dewasa dapat membuat
kehidupan masa pertengahan lebih bebas untuk melakukan
berbagai aktifitas lainnya (Santrock, 2008).
2. Tugas Perkembangan
Menurut Duvall, (1997) tugas perkembangan pada tahap ini adalah:
(1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
(2) Mempertahankan keintiman pasangan.
(3) Membantu orang tua memasuki masa tua.
(4) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
(5) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
2.2.2. Masalah pada Keluarga dengan Dewasa Muda
Bloom, dkk.(dalam Sadarjoen, 2005) menjelaskan bahwa
konflik perkawinan memberi dampak negatif pada kesehatan fisik dan
mental. Adapun efek negatif yang dimaksud meliputi meningkatnya
resiko psikopatologi. Meningkatnya kecelakaan mobil yang berakibat
fatal. Meningkatnya kasus percobaan bunuh diri. Meningkatnya
kekerasan antar pasangan. Rentan terhadap penyakit yang disebabkan
hilangnya daya tahan tubuh. Efek negatif terakhir yaitu kematian yang
disebabnan oleh penyakit yang berasal dari ketegangan psikologis.
Konflik perkawinan yang menyebabkan keluarga tidak
harmonis selain berdampak negatif pada pasangan suami istri, konflik
di dalam perkawinan juga berpengaruh pada perkembangan psikologis
anak. Dampak negatif ketidakharmonisan keluarga pada psikologis
anak meliputi depresi, anak menarik diri dari pergaulan sosial. Anak
memiliki kompetensi sosial yang rendah. Anak memiliki performa
akademik yang rendah dan gangguan perilaku (Hetherington &
Clingempeel dalam Sadarjoen, 2005).

2.2.3. Empty Nets Syndrome


1. Pengertian Empty Nest Sydrome
Rasa kesepian dan kesendirian sering melanda problem
seorang lansia. Mereka yang sudah bisa melewati hari harinya
dengan kesibukan kesibukan pekerjaan yang sekaligus juga
merupakan pegangan hidup dan dapat memberikan rasa aman dan
rasa harga diri. Pada saat pension, hilanglah kesibukan, sekaligus
muali tidak diperlukan lagi. Bertepatan dengan itu, anak anak
mulai menikah dan meninggalkan rumah (Heri Purwanto, 1998).
Ada beberapa istilah yang menyamakan dengan empty nest
syndrome, diantaranya sangkar kosong adalah perginya anak
anak dari rumah karena mereka telah berkuarga. Rumah kembali
hanya dihuni oleh suami istri tanpa anak anak, tetapi telah
menjadi kakek nenek. Hal ini biasanya dialami oleh para lanjut usia
(Yeniar Indriani, 2012). Empty Nest Sydrome adalah penurunan
kepuasan pernikahan dan peningkatan perasaan kekosongan yang
disebabkan oleh keberangkatan anak anak (John W. Santrock,
2016).
Santrock menyatakan bahwa kepuasan pernikahan akan
mengalami penurunan karena kepergian anak anak. Empty Nest
Sydrome dirasakan oleh orang tua yang memiliki hubungan yang
dekat dengan anak, serta mendapatkan kepuasan pernikahan ketika
membesarkan anak anaknya (John W. santrok, 2002).
Jadi dapat disimpulkan Empty Nest Sydrome yakni peristiwa
siklus kehidupan yang ditandai dengan perginya anak anak yang
sudah dewasa dari rumah untuk kehidupan yang mandiri. Sikap
orang tua terhadap peristiwa ini mengakui bahwa anak anak
mereka sudah dewasa, bangga dengan kebebasan mereka dalam
menentukan pilihan, bangga dengan prestasi yang dicapai namun
disisi lain orang tua mengakui bahwa mengalami perasaan
kesedihan yang mendalam, bersalah dan khawatir, dan kadang

timbul perasaan bahwa orang tua tidak bertanggung jawab terhadap


anaknya.
2.2.4. Faktor Faktoror terjadinya Empy Nets Syndrome
Menurut Barber, C. E, (1989) adapun factor terjadinya empty nest
syndrome adalah:
1. Perginya anak yang sudah dewasa dari rumah karena pekerjaan.
2. Anak sudah memiliki keluarga baru.
3. Hilangnya kesibukan aktivitas sehari hari.
4. Meninggalnya salah satu pasangan, sahabat / teman dekat.
5. Kehilangan peran utama orang tua terhadap anak.
6. Kepuasaan yang rendah terhadap pernikahan.
7. Kurang diperlukannya kembali peran dirinya baik terhadap
lingkungan sosial, keluarga maupun tempat kerja.
8. Menopause
Adalah suatu masa ketika secara fisiologi siklus menstruasi
berhenti. Biasanya terjadi antara 40 dan 50 tahun ( Aqila Sart,
2010)
9. Masuknya masa pension.
2.2.5. Gejala Empy Nets Syndrome
Gejala gejala empty nest syndrome dominan oleh ibu
dibandingkan bapak, adapun gejala gejalannya lain:
1. Kesepian
Rasa kesepian kadangkala ditandai rasa emosional seperti tidak
mempuyai sabahat, bosan, gelisah, depresi, malas membuka diri,
merasa tidak dicintai dll. Kesepian adalah adalah suatu keadaan
mental dan emosional yang terutama dicirikan oleh adanya
perasaan perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang
bermakna dengan orang lain (Barber, C. E, 1989).
Ada beberapa jenis kesepian diantaranya:
a. Kesepian Sementara (Transient Loneliness)

Kesepian sementara datangnya singkat dan cepat berlalu,


misalnya jika ada undangan ke sebuah pesta dan disana hanya
mengenal tuan rumah. Orang orang di sekeliling kita tampaknya
saling mengenal satu dengan lainnya. Namun diantara mereka,
nampaknya tidak ada yang tertarik kepada kita. Mereka
menganggap diri kita sebagai orang. Tuan rumah sibuk dengan
tamu tamunya yang lain. Kesepian sementara bersifat reaktif dan
situasional.
b. Kesepian Kronis (Cronic Loneliness)
Adalah kesepian yang kita alami terus menerus atau tak hilang
hilang. Secara etimologis arti kata chronic berasal dari bahasa
Yunani yang artinya adalah waktu. Karena kesepian kronis
diartikan sebagai kesepian yang dialami seseorang dalam waktu
lama. Diliputi rasa was was kapan akan berakhir. Hidup akan
sedikit demi sedikit terkikis dan hancur bagaikan seonggok besi
yang termakan karat.
Perbedaan anatara kesepian sementara dan kesepian kronis
bukan satu satunya cara untuk melihat jenis jenis kesepian
namun dengan mendefinisikan tiga penggolongan berikut ini:
a. Kesepian Kognitif (Cognitine Loneliness)
Kesepian ini terjadi bila kita mempunyai sedikit teman untuk
berbagi pikiran atau gagasan yang kita anggap penting.
b. Kesepian Behavioral (Behavioral Loneliness)
Kesepian ini terjadi bila kita kurang atau tidak mempunyai
teman sewaktu berjalan jalan dan melakukan kegiatan luar
rumah. sewaktu kita ingin menoonton film tapi kita tidak
memiliki seorang teman pun yang dikenal yang bisa diajak.
Pergi sendirian memang bisa, tapi kepuasannya akan jauh
berkurang.

c. Kesepian Emosial (Emotional Loneliness)


Kesepian ini terjadi apabila kita membutuhkan kasih saying
tapi tidak mendapatkannya. Istilah kesepian yang paling
penting dan sangat buruk dampaknya (Frank J. Bruno, 2000).
2. Kecemasan
Kecemasan adalah suatu keadaan atau kondisi emosi yang tidak
menyenangkan, dan merupakan pengalaman yang samar samar
disertai dengan perasaan yang tidak berdaya dan tidak menentu
(Hartono

& Boy Soedarmadji,

2012). Kecemasan adalah

manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang


terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi)
dan pertengahan bantin (konflik) (Zakiah Daradjat, 1983).
Pada umumnya kecemasan bersifat subjektif, yang ditandai
dengan adanya perasaan tegang, khawatir, takut, dan disertai
adanya pernapasan, dan tekanan darah. Reaksi psikologi dari
kecemasan ditandai dengan adanya perasaan tegang, bingung, tidak
menentu, tertanam, tidak berdaya, rendah diri, kurang percaya pada
diri sendiri, tidak dapat memusatkan perhatian dan gerakan
gerakan yang tidak terarah atau tidak pasti (Iin Tri Rahayu, 2009)
3. Depresi
Depresi adalah kesedihan dan kekhawatiran dalam waktu yang
cukup lama yang disertai oleh perasaan tidak dihargai. Jadi, depresi
lebih dominan oleh perasaan perasaan yang tidak mengenakkan
dan intensitasnya cukup kuat serta berlangsung lama. Penyebab
depresi adanya kurangnya penguat positif, ketidakberdayaan yang
dipelajari, berpikir negative, dan regulasi diri yang tidak adekuat
(Zulfan Saam, 2013).
2.2.6. Harapan
1. Definisi Harapan
Harapan didefinisikan sebagai proses dari pemikiran satu
tujuan, dengan motivasi untuk mendapatkan tujuan-tujuan tersebut
(agency), dan cara-cara untuk meraih tujuan-tujuan tersebut

(pathways). Seperti contoh, harapan bukan lah sebuah emosi


melainkan sebuah pengertian system motivasi secara dinamis.
Dalam hal ini, emosi mengikuti kesadaran dalam proses meraih
tujuan. Harapan juga dapat berarti sebagai bentuk situasi
persilangan yang berhubungan secara positif dengan harga diri,
kemampuan menyelesaikan masalah, mengendalikan pemikiran,
optimism, kecenderungan positif dan harapan positif (C. R Synder,
2002)
2. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Harapan
Weil (2000) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa
terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi harapan, yaitu
dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol.
a. Dukungan Sosial
Harapan memiliki kaitan erat dengan dukungan sosial. Dalam
penelitiannya mengenai pasien yang menderita penyakit kronis,
Raleigh (1992, dalam Weil, 2000) mengatakan bahwa keluarga dan
teman pada umumnya diidentifikasikan sebagai sumber harapan
untuk penderita penyakit kronis dalam beberapa aktivitas seperti
mengunjungi

suatu

tempat,

mendengarkan,

berbicara,

dan

memberikan bantuan secara fisik. Herth (1989, dalam Weil, 2000)


mengidentifikasikan pertahanan hubungan peran keluarga sebagai
sesuatu yang penting bagi tingkat harapan dan coping. Sebaliknya,
kurangnya ikatan sosial diatribusikan sebagai hasil kesehatan yang
lebih buruk seperti peningkatan morbidity dan kematian awal.
Individu mengekspresikan perasaan tidak berdaya ketika mereka
tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain.
b. Kepercayaan Religius
Kepercayaan religius dan spiritual telah diidentifikasikan
sebagai sumber utama harapan dalam beberapa penelitian.
Kepercayaan

religius

dijelaskan

sebagai

kepercayaan

dan

keyakinan seseorang pada hal positif atau hasil yang ditentukan


dengan kekuatan yang lebih tinggi seperti halnya melepaskan diri

pada kenyataan bahwa terdapat sesuatu atau tujuan yang telah


ditetapkan sebelumnya untuk situasi individu saat ini. Spiritual
merupakan konsep yang lebih luas dan terfokus pada tujuan dan
makna hidup dan keterkaitan dengan orang lain, alam, atau dengan
Tuhan (Reed, dalam Weil, 2000). Raleigh (1992, dalam Weil, 2000)
juga mengatakan bahwa aktivitas religius merupakan strategi lain
yang digunakan untuk mempertahankan harapan pada pasien yang
menderita penyakit kronis.
c. Kontrol
Mempertahankan kontrol merupakan salah satu bagian dari
konsep harapan. Mempertahankan kontrol dapat dilakukan dengan
cara tetap mencari informasi, menentukan nasib sendiri, dan
kemandirian yang menimbulkan perasaan kuat pada harapan pasien
yang menderita penyakit kronis. Kontrol, yang diwujudkan dalam
bentuk pelepasan kontrol kepada staf medis, ilmu pengetahuan
medis, atau Tuhan diidentifikasikan sebagai salah satu sumber
harapan. Baldree (1982, dalam Weil, 2000) menemukan bahwa
harapan, yang dikombinasikan dengan perasaan kontrol selama
perawatan, menurunkan stres dalam menghadapi pengobatan.
Kemampuan individu akan kontrol juga dipengaruhi self-efficacy
(Venning, et. al., 2007) yang dapat meningkatkan persepsi individu
akan kemampuannya akan kontrol.
2.2.7. Pengkajian Harapan
Abstrak Artikel Terkait Dipilih:
Harapan didefinisikan sebagai kemampuan yang dirasakan untuk
mendapatkan tujuan yang diinginkan, dan memotivasi diri sendiri
melalui agen berpikir. Menimbang harapan orang tua dan anaknya
yang berasal dari teori harapan. Mengkombinasikan teori harapan
dengan teori-teori lainnya seperti belajar optimis, optimisme, selfefficacy, dan harga diri. Harapan lebih tinggi secara konsisten terkait
dengan hasil yang lebih baik di bidang akademik, atletik, kesehatan

fisik, penyesuaian psikologis, dan psikoterapi. Mengulang kembali


proses yang dapat mengurangi harapan pada orang dewasa dan anakanak. Menggunakan definisi teori harapan, dimana tidak ditemukan
bukti tentang adanya harapan yang salah". Penelitian selanjutnya
diharapkan menemukan hasil yang akurat serta meningkatkan harapan
dalam umpan balik medis dan membantu orang untuk mengejar
tujuan-tujuan yang cocok untuk mereka.
Kami meneliti hubungan antara rendah, sedang, dan tinggi tingkat
putus asa, semua penyebab dan mortalitas penyebab spesifik, dan
kejadian infark miokard (MI) dan kanker, dalam sampel berdasarkan
populasi laki-laki setengah baya. Peserta 2428 orang, usia 42 sampai
60, dari studi Kuopio Penyakit Jantung Iskemik, sebuah studi
longitudinal yang sedang berlangsung faktor risiko psikososial yang
belum terkenal untuk penyakit jantung iskemik dan hasil lainnya.
Dalam 6 tahun pemantauan, 174 kematian (87 kardiovaskular dan 87
non kardiovaskuler, termasuk 40 kematian akibat kanker dan 29
kematian akibat kekerasan atau luka), 73 kasus kanker insiden, dan 95
insiden MI telah terjadi. Pria yang dinilai rendah, sedang, atau tinggi
dalam tingkat keputusasaan jika mereka dalam penilaian di bawah,
menengah, atau atas sepertiga dari nilai pada 2 item skala
keputusasaan. Umur disesuaikan Cox model proporsional bahaya
mengidentifikasi hubungan respons dosis seperti cukup dan sangat
putus asa, pria secara signifikan meningkatkan risiko semua penyebab
dan menyebabkan spesifik kematian relatif terhadap laki-laki dengan
skor keputusasaan rendah. Memang, pria yang sangat putus asa berada
pada peningkatan risiko lebih dari tiga kali lipat dari kematian akibat
kekerasan atau luka dibandingkan dengan kelompok referensi.
Hubungan ini tetap dipertahankan setelah disesuaikan dengan faktor
risiko biologi, sosial ekonomi, atau perilaku, dirasakan kesehatan,
depresi, penyakit umum, atau dukungan sosial. Keputusasaan yang
tinggi juga memprediksi kejadian MI, dan keputusasaan sedang
dikaitkan dengan insiden kanker. Temuan kami menunjukkan bahwa

keputusasaan adalah prediktor kuat dari hasil kesehatan yang


merugikan, independen depresi dan faktor risiko tradisional.
Penelitian tambahan diperlukan untuk menguji fenomena yang
mengarah ke keputusasaan.
Analisis faktor konfirmatori digunakan untuk menguji beberapa
hipotesis psikometri mengenai Skala Harapan. Di empat sampel besar
mahasiswa, dua faktor (biro dan jalur) model harapan direproduksi
data yang diamati secara konsisten lebih baik daripada model satu
faktor. Dukungan juga ditemukan untuk ketahanan dari tingkat tinggi
konstruk laten yang mencangkup dua faktor. Baik asumsi langkah
paralel atau setara bertemu, bagaimanapun, menunjukkan bahwa item
dalam faktor tertentu yang tidak dapat digantikan. Keandalan
perkiraan (1) item sebagai indikator untuk membangun orde pertama,
dan (2) firstorder yang membangun sebagai indikator tingkat tinggi
variabel laten juga disajikan.
Skala
Tujuan: Baca setiap item dengan hati-hati. Menggunakan skala yang
ditunjukkan

di

bawah,

silahkan

pilih

nomor

yang

paling

menggambarkan ANDA dan memasukkan nomor pada kolom kosong


yang telah disediakan
1. = Salah
2. = Sebagian besar salah
3. = Agak salah
4. = Sedikit salah
5. = Sedikit benar
6. = Agak benar
7. = Sebagian besar benar

8. = Benar
Item pertanyaan
1) Saya bisa memikirkan banyak cara untuk keluar dari kemacetan.
2) Aku penuh semangat mengejar tujuan saya.
3) Aku sering merasakan lelah.
4) Ada banyak masalah.
5) Saya mudah jatuh dalam sebuah argument
6) Saya bisa memikirkan banyak cara untuk mendapatkan hal-hal
penting dalam hidup saya.
7) Saya khawatir tentang kesehatan saya.
8) Bahkan ketika orang lain berkecil, saya tahu saya bisa menemukan
cara untuk memecahkan masalah.
9) pengalaman masa lalu saya telah mempersiapkan saya dengan baik
untuk masa depan saya.
10) Aku sudah cukup sukses dalam hidup.
11) Saya biasanya mengkhawatirkan sesuatu.
12) Aku dapat memenuhi tujuan yang saya tetapkan untuk diri saya
sendiri.
Nilai:
Item 2, 9, 10, dan 12 membuat subskala lembaga.
Item 1, 4, 6, dan 8 membuat subskala jalur.
Peneliti baik dapat memeriksa hasil di tingkat subskala atau
menggabungkan
keseluruhan.

dua

sub-skala

untuk

membuat

skor

harapan

2.2.8. Logoterapi
1. Definisi
Logoterapi berasal dari kata logos yang dalam bahasa Yunani
berarti makna (meaning) dan juga rohani berarti (spirituality) dan
terapi berarti penyembuhan atau pengobatan. Secara umum logoterapi
dapat digambarkan sebagai corak psikologi/ psikiatri yang mengakui
adanya dimensi kerohanian pada manusia disamping dimensi ragawi
dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of
life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning)
merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan
bermakna (the meaningful life) yang didambakan (Bastaman, 2007 :
36-37).
2. Manfaat
a. Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang
secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras,
keyakinan dan agama yang dianutnya
b.

Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering


ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan

c. Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari


penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai
kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih
kualitas hidup yang lebih bermakna.
3. Prinsip Logoterapi
Proses konseling pada umumnya mencakup tahap-tahap :
perkenalan, pengungkapan dan penjajakan masalah, pembahasan
bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan sikap dan
perilaku. Biasnya setelah masa konseling berakhir masih dilanjutkan
pemantauan atas upaya perubahan perilaku dan klien dapan mlakukan
konsultasi lanjutan jika diperlukan.

Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future


oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented).
Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah
encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban
dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai,
memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain.
Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi
diantaranya adalah:
1. Tahap perkenalan dan pembinaan rapport. Pada tahap ini diawali
dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan
pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk
sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan
kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan
dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseling.
2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini
konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi
konseli.

Berbeda

dengan

konseling

lain

yang

cenderung

membeiarkan konseli sepuasnya mengungkapkan masalahnya,


dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi
masalah itu sebagai kenyataan.
3. Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersamasama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang
dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam
penderitaan.
4. Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi
atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap
selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada
tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna
hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan
symptom. (Bastaman, H.D, 2007).

2.2.9. Prosedur Pelaksanaan Logoterapi


Sesi komunal dibuat selama sepuluh sesi dan masing-masing dalam
waktu 90 menit yang diadakan seminggu sekali. Ringkasan sesi
dijabarkan seperti di bawah ini:

1. Sesi pertama
Menetapkan tujuan dan aturan kelompok, berkenalan dengan
anggota satu sama lain, konseling dan diskusi tentang emptynest syndrome, presentasi tentang paten kelompok dan kontrak
terapi.
2. Sesi kedua
Ekspresi masalah, pembahasan tentang empty-nest syndrome dan
efek empty-nest syndrome pada pembentukan gangguan mental.
3. Sesi ketiga
Menemukan dan mengambil makna dari konteks sejarah
kehidupan dan melakukan tanggung jawab.
4. Sesi Keempat
Perubahan sikap dan memperoleh makna dengan cara deteksi.
5. Sesi kelima
Memperoleh makna dari penciptaan nilai dan tanggung jawab.
6. Sesi keenam
Memperoleh makna dari pengalaman nilai-nilai, harapan dan
aspirasi.
7. Sesi ketujuh
Arti kematian, kehidupan, kebebasan dan tanggung jawab.
8. Sesi Kedelapan
Tanggung jawab,, kepentingan sosial mandiri, mengatasi dengan
kekecewaan dan meningkatkan harapan hidup.
9. Sesi kesembilan
Dukungan afektif anggota dari satu sama lain, menyelesaikan
kalimat tidak lengkap untuk interaksi antara anggota dan
mendorong anggota untuk menuntut dukungan afektif dari satu
sama lain.
10. Sesi Kesepuluh

Ringkasan, penggabungan dari sesi dan kesimpulan, diskusi


tentang hal-hal yang dipelajari dalam kelompok.
2.2.10 Indikasi dan Kontra Indikasi Logoterapi
Indikasi
Logoterapi pertama kali dikembangkan oleh Frankl (1938, dalam
Bastaman, 2007), diindikasi untuk mengatasi gangguan neurosis
somatogenik, neurosis psikogenik dan neurosis noogenik pada
kasus obsesi kompulsi, insomnia, kecemasan, phobia, depresi
(Bastaman, 2007). Institut Viktor Frankl mempublikasi studi kasus
sejak tahun 1996 sampai dengan 2010 menggunakan pendekatan
logoterapi pada masalah dan diagnosis : koping pada penyakit
kronis terminal, koping pada penyakit fisik kronis, proses berduka
atau berkabung, depresi, post traumatic syndrome disorder (PTSD),
manajemen

stress,

pencegahan

dan

pemulihan

akibat

ketergantungan alkohol, gangguan personal, gangguan obsesi


kompulsi dan fobia (Lewis, 2011).
Institut Viktor Frankl mempublikasi studi kasus sejak tahun 1996
sampai dengan 2010 menggunakan pendekatan logoterapi pada
masalah dan diagnosis, yaitu : koping pada penyakit kronis
terminal, koping pada penyakit fisik kronis, proses berduka atau
berkabung depresi, post traumatic syndrome disorder (PTSD),
manajemen

stress,

pencegahan

dan

pemulihan

akibat

ketergantungan alkohol, gangguan personal, gangguan obsesi


kompulsi, phobia, gangguan neurosis somatogenik, ganggua
neurosis psikogenik, gangguan neurosis noogenik, depresi (Lewis,
2011).
Kontraindikasi
Sedangkan kontra indikasi adalah pada kasus depresi dengan
kecenderungan bunuh diri (Bastaman, 2007).

2.2.11 Hubungan Logo Terapi dengan Harapan

Logoterapi lansia meyadarkan lansia untuk menyadari kondisi


yang dialami, memiliki harapan atas kondisi tersebut sehingga
dengan memiliki harapan/keinginan akan membuat lansia lebih
termotivasi dalam mencoba melakukan logoterapi yang ada. Hal ini
juga sesuai dengan pendapat Notoadmojo (2010) bahwah adanya
perubahan tindakan dalam berperilaku data terjadi karena adanya
kekuatan/ dorongan/ pemberian informasi dan diskusi. Melalui
pemberian logoterapi pada lansia akan terjadi proses belajar dan
menjadi efektif jika dilakukan sambil mempraktekan langsung
(Nauli, 2011). Terjadinya peningkatan memaknai hidup pada lansia
yang diberikan logoterapi mengajarkan kepada lansia bagaimana
cara menemukan makna hidup melalui kegiatan sehari hari
dengan menggunakan prinsip bahwa seseorang akan merasa
bermakna dalam kehidupan. Tampak jelas bahwa lansia yang
dilakukan

logoterapi

mengalami

peningkatan

memaknai

hidup.Karena ajaran logoterapi didasarkan atas prinsip bahwa


hidup manusia memiliki makna yang penting yang harus dicapai
dalam hidup dan setiap individu memiliki kebebasan dalam
menemukan sendiri maknanya serta makna hidup dapat ditemukan
dalam kehidupan individu itu sendiri dalam kondisi apapun dan
harus disertai dengan keyakinan (Bastamand, 2007). Oleh karena
itu pada kegiatan logoterapi lansia akan teradi peningkatan
kemampuan memaknai hidup lansia. Kemampuan memaknai hidup
ini merupakan hasil akhir dari kemampuan lansia dalam menyadari
dan melihat kondisi diri, dengan menyadari kondisi yang dirasakan,
memiliki harapan atas kondisi tersebut, untuk melakukan sesuatu
yang dapat membuat lansia menyadari secara penuh tanggung
jawabnya, pilihan pada dirinya untuk menjadi bertanggung jawab
dan

pada akhirnya

lansia

akan menemukan

makna dari

kehidupannya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwah pengaruh


logoterapi lansia dapat meningkatkan kebermaknaaan hidup
lansia.Berdasarkan penelitian ini maka logoterapi sangat cocok

diberikan pada klien yang memiliki perasaan tidak bermakna dalam


hidup.
2.3.

ANALISIS JURNAL

2.3.1. Critical Appraisal


1. Judul
a. Apakah judul jelas dan ringkas menguraikan penelitian?
Judul jurnal sudah jelas dan ringkas menguraikan penelitian
karena telah mencantumkan variable penelitian dan jumlah kata
tidak melebihi 18 kata hanya saja lokasi penelitian tidak
dicantumkan dalam judul.
b. Apakah variabel termasuk dalam judul? Ya, variabel yang
digunakan adalah Logo Therapy, rise of hopefulness , dan
Empty-Nest Syndrome.
c. Apakah populasi / sampel termasuk dalam judul? ya, pada
judul menggunakan orang tua yang kesepian (empty-nest
syndrome).
2. Kualifikasi penulis
a. Apa saja kualifikasi dan reputasi penyidik? Faculty of
Psychology Department of Payame Noor University, M.A in
Assessment and Measurement Psychometric, Student PhD of of
Shahreyar Branch Islamic Azad University Shahreyar.
b. Apakah buktinya dalam laporan yang menunjukan mereka
memiliki kualifikasi untuk melakukan penelitian ini? Dalam
jurnal dicantumkan kualifikasi peneliti yaitu peneliti berasal
dalam bidang yang berhubungan dengan keluarga seperti
peneliti berasal dari department psikologi .
c. Apakah artikel yang diterbitkan sesuai dengan jurnalnya?
Ya. Judul Jurnal adalah The Effectiviness of Logo Therapy on
the Rise of Hopefulness Syndrome.
3. Pernyataan Masalah

a. Apakah fenomena diidentifikasi dengan jelas? YA. Pada


pendahuluan

sudah

dijelaskan

tentang

hal-hal

yang

mempengaruhi harapan hidup orang tua karena ditinggal


menikah oleh anaknya.
b. Apakah

peneliti

mengidentifikasi

mengapa

fenomena

tersebut penting?
Tidak. Dalam jurnal tidak dijelaskan pentingnya fenomena
untuk diteliti .
4. Apakah dasar-dasar filosofis penelitian dijelaskan? YA. Pada
jurnal menampilkan hipotesis berdasarkan fakta yang ada.
5. Tujuan
a. Apakah tujuan melakukan penelitian dinyatakan secara
eksplisit? YA, tujuan dinyatakan pada bagian latar belakang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai dan menguji
hubungan antara logo therapy dan empty-nest syndrome pada
orang tua yang ditinggal menikah oleh anaknya.
b. Apakah

peneliti

menggambarkan

makna

yang

diproyeksikan untuk tindakan keperawatan? Tidak. Dalam


jurnal penelitian tidak dijelaskan secara implisit hal-hal yang
harus dilakukan oleh seorang perawat untuk dapat membantu
mempertahankan harapan hidup orang tua yang ditinggal
menikah oleh anak-anaknya.
6. Metode
a. Apakah metode yang digunakan untuk pengumpulan data
sesuai dengan tujuan penelitian? Ya. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menilai dan menguji hubungan antara logo
therapy, rise of hopefulness dan empty-nest syndrome pada
orang tua yang ditinggal menikah. Pada jurnal dijelaskan bahwa
pengumpulan data secara random sampling, yang terdiri dari

laki-laki dan perempuan yang anaknya meningalkan rumah


dimana terdiri dari 24 orang kemudian dibagi dalam dua
kelompok eksperimen dan kontrol.
b. Apakah metode memadai untuk mengatasi fenomena yang
diteliti? Ya. Pada penelitian metode yang digunakan mampu
menjawab rumusan masalah penelitian.
7. Sampling
a. Apakah peneliti menjelaskan proses seleksi responden?
Proses seleksi responden dipaparkan dengan jelas dalam
metode. Dalam jurnal penelitian disebutkan jumlah sampel yang
digunakan yaitu 24 orang baik laki-laki maupun perempuan
yang anaknya meninggalkan rumah.
b. Apakah ukuran sampel yang memadai? Ya. jumlah sample
memadai yaitu 24 orang tua yang anaknya meninggalkan rumah.
c. Apakah kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sesuai?
Kepada siapa dapat hasil studi digeneralisasi? Kriteria
inklusi dan eksklusi tidak dicantumkan dalam jurnal penelitian.
Hasil studi dapat digeneralisasi pada orang tua yang
ditinggalkan oleh anaknya.
d. Apakah bias sampel teridentifikasi? Tidak, karena dalam
penelitian hanya menggunakan 24 sample yang dibagi menjadi 2
kelompok yaitu kelompok eksperimen dan control dengan
metode pre-post test untuk menghindari terjadinya bias.
8. Pengumpulan Data
a. Apakah peneliti menggambarkan strategi pengumpulan
data? Ya. Strategi digambarkan jelas pada bagian metodelogi
(hal 249) teknik pengumpulan data dilakukan dengan random
sampling yang terdiri dari 24 orang dan kemudan dibagi menjadi
2 kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kontrol..

b. Apakah perlindungan subyek manusia diperhatikan? Ya,


namun dalam jurnal tidak dijelaskan dan dipaparkan kode etik
penelitian.
c. Apakah prosedur untuk pengumpulan data dinyatakan
secara eksplisit? YA. pengumpulan data dilakukan dengan cara
random sampling dan individu dibagi dalam dua kelompok yaitu
kelompok eksperimen dan kontrol.
9. Pertimbangan etik
a. Apakah peneliti menunjukkan persetujuan dari dewan
peninjau yang sesuai atau komite etik? Persetujuan dari
dewan peninjau yang sesuai atau komite etik tidak dijelaskan
secara eksplisit dalam jurnal.
b. Apakah hak subyek manusia dilindungi? YA
Pada jurnal tidak dijelaskan secara eksplisit tentang adanya
perlindungan subyek manusia yang menjadi sampel penelitian.
10. Analisis Data
a. Apa statistik yang digunakan untuk menganalisis data?
Statistik yang digunakan oleh peneliti untuk menganalisis data
tidak dinyatakan dengan jelas pada metode penelitian.
b. Apakah proses untuk analisis data sesuai? Ya Penelitian ini
telah mengikuti prosedur yang sesuai. Tidak disebutkan secara
eksplisit aplikasi yang sdigunakan untuk menganalisis data.
Akan tetapi hasil analisis telah dijelaskan secara terperinci.
c. Apakah hasil memberikan jawaban untuk menjawab
pertanyaan penelitian?Ya. Pada bagian hasil telah dijelaskan
hubungan antara logo therapy, rise of hopeffulness dan emptynest syndrome pada orang tua yang anaknya meninggalkan
rumah.
d. Jika tabel disajikan, apakah jelas dan dapat dimengerti? Ya.
Pada jurnal disajikan 3 tabel yang terdapat pada (halaman 250)

disajikan tabel 3 yang membahas hubungan antara logo therapy,


rise of hopefulness dan empty-nest syndrome pada 24 orang tua
yang kesepian.
11. Diskusi
a. Apakah diskusi sesuai dengan data? YA. Pada bagian diskusi
ini peneliti sudah membahas sesuai dengan data dan membahas
sedikit hasil dari penelitian yang sudah dilakukan.
b. Apakah peneliti mendiskusikan semua hasil temuan yang
dianggap penting? Ya Pada diskusi ini peneliti telah
memaparkan tentang ketiga variabel yang diteliti yaitu logo
therapy, rise of hopefulness dan empty-nest syndrome.
c. Apakah peneliti mendiskusikan temuan berkenaan dengan
temuan dari penelitian sebelumnya? TIDAK. Peneliti tidak
mendiskusiakan hasil penelitian sebelumnya karena kurangnya
penelitian serupa.
d. Apakah

peneliti

mendiskusikan

temuan

berdasarkan

kerangka teoritis atau konseptual penelitian ? YA, Pada


jurnal ini peneliti mendiskusikan temuan berdasarkan teoritis
atau konseptual penelitian yaitu teori Frankel yang menyatakan
pentingnya harapan hidup bagi orang tua yang anaknya
meninggalkan rumah.
12. Kesimpulan, Implikasi, dan Rekomendasi
a. Apakah peneliti mengidentifikasi keterbatasan penelitian?
Ya, Pada penelitian dijelaskan bahwa penelitian ini masih
memiliki beberapa keterbatasan antara lain kurangnya dilakukan
penelitian serupa dan tidak adanya tahap tindak lanjut dari
penelitian ini karena tidak dapat diaksesnya untuk mata
pelajaran meskipun tahap post-test dimasukkan 2 minggu
setelah instruksi.

b. Bagaimana keterbatasan mempengaruhi hasil penelitian?


Karena keterbatasan yang ada sehingga hasil penelitian ini tidak
tidak digeneralisasi pada komunitas yang lebih luas.
c. Apakah peneliti memberikan implikasi untuk praktek
keperawatan, administrasi, atau pendidikan? Tidak. Hasil
penelitian ini hanya membantu meningkatkan harapan hidup
bagi orang tua yang kesepian ( anaknya meninggalkan rumah).
Pada penelitian dijelaskan bahwa implikasi dari hasil penelitian
adalah untuk intervensi meningkatkan harapan hidup bagi orang
tua.
d. Apakah peneliti menawarkan saran atau rekomendasi
untuk penelitian lebih lanjut? YA. Peneliti menyarankan untuk
penelitian selanjutnya dapat mengurangi keterbatasan pada
penelitian ini yaitu dengan survei periode siklus hidup dalam
berbagai isu.
e. Apakah kesimpulan mencerminkan temuan penelitian?
YA. Pada kesimpulan dijelaskan hubungan antara logo therepy,
rise of hopefulness dan empty-nest syndrome pada orang tua
yang anaknya meninggalkan rumah.
f. Apakah

pentingnya

penelitian

untuk

keperawatan

dinyatakan secara eksplisit?


Pentingnya penelitian untuk keperawatan tidak dinyatakan
secara eksplisit.
2.3.2. Analisis Swot Manfaat Hasil Penelitian pada Jurnal
a) Strength (Kekuatan)
1. Logo terapi merupakan suatu terapi yang merupakan salah satu
strategi terapi umum untuk mengurangi kekecewaan dalam
kehidupan individu. Logo terapi memiliki metode pendekatan
eksistensial yang dapat digunakan dalam penanganan empty net
syndrome pada orang tua. Logo terapi dapat memberikan hasil
kepada orang tua mengenai cara pandang mereka tentang

kesepian dan pemisahan dari anak-anak bukanlah akhir dari


kehidupan, tapi mungkin mereka dapat menikmati dari
kemungkinan sekitar mereka. Logo terapi menginstruksikan
kepada mereka dan membantu

menyadari bahwa meskipun

mereka tidak dapat mengubah peristiwa-peristiwa tertentu dalam


kehidupan mereka, mereka dapat mempelajari cara-cara untuk
menghadapi dengan kesulitan dan bereaksi terhadap kasus yang
menyakitkan dari hidup mereka. (Khaledian, 2013)
2. Logo terapi merupakan suatu terapi konseling yang memiliki
keunggulan dimana terapi ini memiliki prinsip-prinsip untuk
menemukan makna hidup yang merupakan motif dasar bagi
setiap individu dalam periode yang berbeda dari kehidupan
(ShoaaKazemi dan Saadati, 2010). Menurut hasil penelitian
Suprapto (2013) menunjukkan bahwa konseling logoterapi dapat
meningkatkan kebermaknaan hidup pada lansia.
3. Logoterapi berusaha membantu manusia menyadari tanggung
jawabnya secara penuh; memberanikan manusia untuk memilih,
bersikap, dan bertindak terhadap kehidupan yang menjadi
tanggung jawabnya. Manusia, atau klien dalam konseling, harus
memutuskan sendiri apa yang menjadi tugas dan tanggung
jawabnya terhadap masyarakat dan terhadap suara hatinya
sendiri. Logoterapi tidak menggurui atau berkotbah. Logoterapi
bahkan juga tidak menawarkan pemikiran logis atau nasehat
moral. Peran logoterapi adalah membuat manusia melihat dunia
sebagaimana adanya dan memperlebar medan pandang pribadi
manusia sehingga semua spektrum makna hidup masuk kedalam
alam kesadarannya.
4. Logoterapi membantu orang membangun hidup yang bermakna
melalui pengalaman sehari-hari yang biasa yang mungkin sudah
dirasa sebagai rutinitas. Sehingga logo terapi dapat menjadi

suatu jalan bagi individu untuk lebi memaknai kehidupan seharihari serta menemukan keseimbangan kembali dalam kehidupan.
b) Weaknes ( Kelemahan)
1. Kurangnya konselor / terapis yang berkompeten. Hal ini
dikarenakan, didalam membantu pasien untuk menemukn
makna hidupnya dan menetapkan tujuan hidup. Dalam proses
penemuan makna hidup ini konselor / terapis harus mampu
berperan sebagai rekan yang turut berperan serta yang sedikit
demi sedikit menarik keterlibatannya bisa pasien sudah mulai
menyadari dan menemukan makna hidup.
2. Masih

kurangnya

penelitian

mengenai

terapi

ini

yang

menyebabkan standar operasional prosedur terapi pada subjek


tidak sama terkait dengan perbedaan budaya dan perbedaan sifat
individu.
3. Masih belum adanya terapi lanjutan yang dapat diterapkan
setelah terapi ini, serta beumadanya pembelajaran tentang terapa
lanjutan apa yang dapat diberikan.
c) Oportunity (Peluang/Kesempatan)
1. Stress dapat terjadi pada tiap tahap perkembangan manusia,
salah satunya adalah tahap dewasa madya. Krisis yang sering
dijumpai pada fase perkembangan dewasa madya adalah
peristiwa

saat

anak

mulai

meninggalkan

rumah

untuk

menjalankan kehidupan yang lebih mandiri. Peristiwa tersebut


awalnya memberikan dampak pada orang tua berupa perasaan
kekosongan dan kesedihan. Kepergian anak dari keluarga
membawa perasaan kosong pada orang tua karena sebelum anak
meninggalkan keluarga, orang tua memperoleh banyak kepuasan
yang berasal dari seorang anak (Santrock,2002). Sehingga
dengan intervensi logo terapi dapat mencoba untuk menemukan
makna hidup yang merupakan dasar bagi setiap individu yang

memasuki periode yang berbeda dari kehidupan biasanya (Shoaa


Kazemi dan Saadati, 2010).
2. Kepergian anak dari keluarga membawa perasaan kosong pada
orangtua yang dinamakan empty nest syndrome (Shakya, 2009).
Australian Psychological Society menyarankan agar orangtua
tidak berlebihan dalam menghadapi empty nest syndrome (APS,
2004). Sehingga dengan adanya Logo therapy diharapkan
orangtua menemukan kembali makna kehidupan dan terhindar
dari empty nest syndrome yang berlebihan (Natalie, 2004).
3. Undang- Undang Republik Indonesia nomor 52 tahun 2009
tentang

perkembangan

kependudukan

dan

pembangunan

keluarga pasal 1 menyebutkan bahwa keluarga adalah unit


terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau
suami, istri, dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan
anaknya. Pembangunan keluarga merupakan upaya untuk
mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan
yang sehat. Seperti halnya empty nest syndrome, jika ada
keluarga yang mengalami kejadian tersebut, maka upaya yang
dapat dilakukan untuk mewujudkan keluarga berkualitas sesuai
peraturan perundang- undangna yang berlaku adalah salah
satunya dengan melakukan intervensi Logo therapy, dimana
intervensi tersebut berupa menemukan makna hidup yang
merupakan dasar bagi setiap individu.
4. Salah satu tugas perkembangan pada tahap keluarga dengan
anak dewasa diantaranya memperluas keluarga inti menjadi
keluarga besar, membantu orangtua memasuki masa tua,
membantu anak untuk mandiri di masyarakat, serta penataan
kembali peran dan kegiatan rumah tangga. Dan setiap perubahan
dapat mempengaruhi kesejahteraan anggota keluarga (Kajbaf,
2010). Pada periode ini beberapa ketidaknyamanan bahkan
stress negative dapat muncul (Kheirkhah, 2010). Sehingga pada
tahap ini diharapkan orangtua mampu mengontrol diri dari
adanya tekanan psikologis akibat adanya perubahaan kehidupan

dari biasanya. Dari hal tersebut maka diharapkan intervensi yang


dapat mengatasi masalah tersebut, salah satunya adalah logo
therapy sebagai metode pengungkapan makna hidup untuk
menghindari empty nest syndrome yang berlebihan.
d) Threat (ancaman)
1. Ketidaktauan

masyarakat

mengenai

adanya

logoterapi.

Logoterapi sangat penting untuk diketahui lebih banyak orang.


Orang mempunyai banyak kebutuhan mutlak, misalnya sandang,
pangan, papan, tetapi ada satu kebutuhan mutlak lain yang
sering dilupakan atau tidak disadari yaitu kebutuhan untuk
berarti, untuk dibutuhkan dan untuk berguna. Tanpa hal ini
hidup orang tua akan dirasakan membosankan. Sehingga orang
tua atau lansia yang mengalami Empty nest syndrome dapat
mengatasi masalahnya dengan melakukan logoterapi. Namun
apabila masyarakat tidak mengetahui adanya terapi ini, maka
penggunaan terapi ini di masyarakat akan sangat terbatas.
(Darmo Raharjo.2006)
2. Banyak pilihan terapi lain yang bisa dilakukan lansia dalam
meningkatkan harapan hidup. Seperti Terapi Menggambar,
terapi ini merupakan salah satu terapi psikologis yang mampu
mengeksplorasi alam bawah sadar individu untuk merefleksikan
masa lalunya serta hal yang mempengaruhinya pada saat ini dan
pada

masa

depan

adalah

terapi

menggambar.

Terapi

menggambar mendorong individu membuat karya seni yang


melibatkan proses berpikir serta perasaannya. Selain terapi
menggambar untuk meningkatkan harapan hidup dapat juga
dilakukan Terapi Reminiscence atau terapi kenangan merupakan
tindakan atau proses mengingat masa lalu yang indah atau
menyenangkan. (Chen, Li, & Li, 2012) Selain itu, belum ada
penelitian yang menyatakan intervensi logo terapi lebih efektif
dibandingkan terapi lain.

2.4.

IMPLIKASI KEPERAWATAN
Implikasi keperawatan (implikasi yang dimaksud adalah implikasi di bidang
keperawatan yang bersifat praktis dan bukan teoritis)
Logo terapi dapat diterapkan di Indonesia dengan mempertimbangkan
beberapa hal diantaranya:

1. Indonesia merupakan Negara berkembang dengan jumlah penduduk


sebanyak 237.641.326 menurut data resmi sesus penduduk 2010 yang
dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik yang dimana angka perkawinan
pertama wanita 34.443 orang pertahun (BKKBN, 2011) dari data tersebut
dapat disimpulkan bahwa sekitar 68.886 keluarga melepas anaknya untuk
membangun keluarga baru dengan pasangannya. Tingginya angka
perkawinan tersebut menggambarkan tingginya jumlah keluarga yang
melepas anaknya dan berpeluang mengalami sindrom kesepian.
2. Logo terapi merupakan suatu pendekatan dengan metode konseling yang
memusatkan perhatian kepada kebermaknaan hidup sehingga dalam
praktiknya logo terapi tidak membutuhkan alat dan bahan yang susah
dicari, hanya membutuhkan tempat yang nyaman untuk dilakukannya
konseling.
3. Perawat merupakan profesi yang memiliki peran sebagai konselor
sehingga perawat dipercaya dapat memberikan konseling bagi kliennya.
4. Perawat merupakan profesi yang memiliki keahlian dalam berkomunikasi
terapeutik sehingga diharapkan dalam pelaksanaan konseling tersebut
terjalin komunikasi yang baik antara perawat dan klien sehingga
tercapainya tujuan dari logo terapi tersebut.
5. Perawat merupakan profesi yang memegang teguh konsep caring, dimana
perawat memiliki kemampuan untuk mendedikasikan dirinya untuk orang
lain, melakukan pengawasan dengan waspada, memiliki perasaan empati,
perasaan cinta dan menyayangi terhadap sesamanya sehingga diharapkan
dengan memegang konsep caring tersebut khususnya empati perawat

dapat membangun rasa nyaman bagi klien dalam menceritakan keluh


kesahnya.
BAB III
PENUTUP
3.1.

SIMPULAN
Pada masa keluarga dengan anak dewasa muda, terjadi peristiwa penting
dalam keluarga dimana seorang anak beranjak kedalam kehidupan dewasa,
karir, atau keluarga yang terlepas dari keluarga tempat dia berasal hal ini
menimbulkan dampak terjadinya krisis empty net syndrome.
Salah satu cara dalam mengatasi masa krisis atau empty nest syndrome tersebut
adalah melaui peningkatan harapan pada orang tua. Salah satu strategi terapi umum
untuk mengurangi kekecewaan dan meningkatkan harapan dalam kehidupan
individu asalah melalui Logo terapi. Melalaui terapi logo dapat meningkatkan

harapan dari orang tua dan meningkatkan kualitas hidup, serta empty nest
syndrome yang merupakan bagian dari siklus kehidupan. Perawat merupakan
profesi yang memiliki keahlian dalam berkomunikasi terapeutik sehingga
perawat dalam melaksanakan konseling dapat menjalin komunikasi yang baik
antara perawat dan klien sehingga tercapainya tujuan dari logo terapi tersebut.
3.2.

SARAN
3.2.1.

Dari uraian makalah diatas diharapkan bagi keluarga dengan tahap

perkembangan keluarga yang akan melepas anak dewasa hendaknya


melakukan

persiapan

diri

untuk

beradaptasi

dengan

keadaan

ketidakseimbangan akibat ketidakadaan anak di rumah, sehingga


keluarga khususnya orang tua dapat terhindar dari sindrom kekosongan
atau empty net syndrome serta dapat menemukan kembali makna hidup
meskipun tanpa hadirnya anak.
3.2.2.

Sedangkan bagi tenaga kesehatan khususnya perawat diharapkan

sesuai perannya sebagai konselor dapat memberikan konsultasi dan


saran-saran terkait cara mengatasi keluh kesah yang dialami klien
dengan tahap perkembangan keluarga yang akan melepas anak dewasa.
3.2.3.

Selain itu perawat juga diharapkan dapat mengaplikasikan suatu

evidence based seperti Logo terapi maupun terapi sejenisnya dalam

membantu keluarga mempersiapkan diri maupun menemukan makna


hidup setelah melepas anak dewasa untuk mandiri.
Daftar Pustaka:
Sofyan S. Willis. (2013). Konseling Keluarga (Family Therapy). Bandung: Alfa
Beta
Khaledian, Parvaz, Garosi, dan Habibzade, (2013). The Effectiveness of Logo
Therapy on the Rise of Hopefulness in Empty-Nest Syndrome: International
Journal of Basic Sciences & Applied Research. Vol., 2 (3), 248-252
Shoaakazemi MA, Saadati M, 2010. Evaluating the effect of instruction of
dimensions of Logo therapy (Liberty, responsibility, values, etc.) on
decrease of hopelessness in the women with breast cancer: Quarterly of
breast disease in Iran. 3(1,2): 40 48
Duvall EM, 1977. Marriage and family development, 5rd Edn. New York:
Lippincott
Genevie`ve Bouchard. (2013). How Do Parents React When Their Children Leave
Home? An Integrative Review. Springer Science Business Media: New York
Nindi Larassati. (2013). The Meaning of Life of Middle Age Adult Face Empty
Nest Filling: Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Vol. 2 No. 03
184-193
Shakya, Dhana Ratna. (2009). Empty-Nest Syndrome An Obstacle for Alcohol
Abstinence. J Nepal Health Res Coune, 7(15): 135-7. Nepal: B P Koirala
Institute of Health Sciences
Hui-Ling, Lai. (2002). Transition to the Empty Nest : A Phenomenological Study.
Tzu Chi Nursing Journal 2002; 1(8): 88-94. Taiwan: Tzu Chi Buddhist
General Hospital
Dennerstein, L., Dudley, E., & Guthrie, J. (2002). Empty nest or revolving door?
A prospective study of womens quality of life in midlife during the phase of
children leaving and re-entering the home. Psychological Medicine, 32,
545550.
Mitchell, B. A., & Lovegreen, L. D. (2009). The empty nest syndrome in midlife
families: A multimethod exploration of parental gender differences and
cultural dynamics. Journal of Family Issues, 30, 16511670.

Santrock, John W. (2002). Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup


(Jilid I). Jakarta: Erlangga
Haley J. (1973). Uncommon therapy: The psychiatric techniques of Milton H.
Erickson, M.d. New York: W. W. Norton.
Baber, C. E. (1989). Tradisional to the Empty Nest. In S. J. Bahar& E. T. Peterson
(Eds0, Aging and the Family. Lexington Mass: Lexington Books.
Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup
dan Meraih Hidup Bermakna. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
C. R Synder, Hal S. Shorey, dkk. (2002). Hope and Academic Success in College.
Journal of educational psychology.
Frank J. Bruno. (2000). Conquer Loneliness Menaklukkan Kesepian. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Heri Purwanto. (1998). Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
John W. Santrock. (2002). Life Span Development Perkembangan Masa Hidup.
Jakarta: Erlangga.
John W. Santrock. (2016). Human Adjustment. Americas: The Mcgraw-Hill
Companies.
Hartono & Boy Soedarmadji. (2012). Psikologi Konseling. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Yeniar Indriani. (2012). Gerontologi & Progeria. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Zakiah daradjat. (1983). Kesehatan Mental. Jakarta: gunung Agung.