Anda di halaman 1dari 9

LAMPIRAN MATERI

A. Definisi Hipertensi
- Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya diatas 140 mmHg dan diastoliknya di atas 90 mmHg (Smeltzer dan Bare,
-

2001 dalam Ahmad, 2009).


Menurut WHO (World Health Organization), batas normal adalah 120-140 mmHg
sistolik dan 80-90 mmHg diastolik. Jadi seseorang disebut mengidap hipertensi jika
tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan darah diastolik 95 mmHg, dan
tekanan darah perbatasan bila tekanan darah sistolik antara 140 mmHg- 160 mmHg

dan tekanan darah diastolik antara 90 mmHg-95 mmHg (Poerwati, 2008).


Sedangkan menurut lembaga-lembaga kesehatan nasional (The National Institutes of
Health) mendefinisikan hipertensi sebagai tekanan sistolik yang sama atau di atas 140

dan tekanan diastolik yang sama atau di atas 90 (Diehl.2007).


B. Factor Risiko Hipertensi
Seseorang yang menderita hipertensi akan memiliki penderitaan yang lebih berat lagi jika
semakin banyak faktor risiko yang menyertai. Hampir 90% penderita hipertensi tidak
diketahui penyebab dengan pasti. Para ahli membagi dua kelompok faktor risiko pemicu
timbulnya hipertensi yaitu faktor risiko yang tidak dapat dikontrol dan faktor risiko yang
dapat dikontrol.
-

Faktor yang tidak dapat dikontrol


1. Keturunan
Sekitar 70-80% penderita hipertensi Esensial ditemukan riwayat hipertensi didalam
keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua maka dugaan
hipertensi esensial lebih besar.
2. Jenis Kelamin
Wanita penderita hipertensi diakui lebih banyak dari pada laki-laki. Tetapi wanita
lebih tahan dari pada laki-laki tanpa kerusakan jantung dan pembuluh darah. Pria
lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi dari pada wanita. Pada
pria hipertensi lebih banyak disebabkan oleh pekerjaan, seperti perasaan kurang
nyaman terhadap pekerjaan. Sampai usia 55 tahun pria beresiko lebih tinggi terkena
hipertensi dibandingkan wanita. Menurut Edward D. Frohlich seorang pria dewasa

akan mempunyai peluang lebih besar yakni satu di antara untuk mengidap hipertensi
(Lanny Sustrani, 2004:25).
3. Umur
Pada umumnya, hipertensi menyerang pria pada usia diatas 31 tahun. Tetapi di atas
usia tersebut, justru wanita (setelah mengalami monopouse) yang berpeluang lebih
besar. Para pakar menduga perubahan hormonal berperan besar dalam terjadinya
hipertensi dikalangan wanita usia lanjut (Lanny Sustrani, 2005:26). Berdasarkan pra
survey, dari 24 sampel berusia 20 75 20 tahun, jika diambil nilai tengah atau
median, maka didapatkan usia antara dewasa 45 dan usia lanjut 46 tahun.
-

Faktor yang dapat dikontrol


1. Kegemukan
Obesitas merupakan cirri khas penderita hipertensi. Walaupun belum diketahui pasti
hubungan antara hipetensi dengan obesitas, tatapi terbukti bahwa daya pompa jantung
dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinngi
dibandingakan dengan orang dengan barat badan normal.
2. Diet tidak seimbang
Konsumsi gula berlebih berpengeruh terhadap tekanan darah , sedangkan banyak
mengkonsumsi serat banyak membantu menjaga tekanan darah dalam batas normal.
Konsumsi makanan yang tidak seimbang banyak mengandung lemak disertai tinggi
garam, meningkatkan risiko hipertensi
3. Konsumsi Garam Berlebih
Garam mempunyai sifat menahan air. Konsumsi garam yang berlebihan dengan
sendirinya akan menaikkan tekanan darah. Sebaiknya hindari pemakaian garam yang
berlebihan atau makanan yang diasinkan. hal itu tidak berarti menghentikan
pemakaian garam sama sekali dalam makanan. Namun, sebaiknya penggunaan garam
dibatasi seperlunya saja. WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi garam
dapur hingga 6 gram sehari (sama dengan 2400 mg Natrium) (Sunita Almatsier,
2004:64). 21
4. Aktifitas fisik (olahraga)
Faktor makanan dan kurangnya aktivitas fisik yang memadai merupakan hal penting
ke dua sebagai penyebab kematian yang dapat dicegah, setelah penggunaan

tembakau. Orang yang kurang aktif berolahraga pada umumnya cenderung


mengalami kegemukan. Olahraga isotonic seperti bersepeda, jogging, dan aerobic
yang teratur dapat memerlancar peredaran darah sehingga dapat menurunkan tekanan
darah. Olahraga jaga dapat mengurangi atau mencegah obesitas, mengurangi asupan
garam kedalam tubuh. garam akan keluar dari tubuh bersama keringat., mengurangi
depresi dan kecemasan, memperbaiki adaptasi terhadap stress, memperbaiki kualitas
tidur, dan menaikkan mood, ercaya diri serta penampilan (Laurence M., 2002 : 1617).
5. Merokok dan konsumsi alkohol
Rokok merupakan penyebab terpenting morbiditas dan kematiandini di negara
berkembang yang dapat dicegah. Rokok mempunyai dua kali lipat resiko penyakit
jantung. Kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dapat mempengaruhi
peningkatan tekanan darah. Rokok mempunyai beberapa pengaruh langsung yang
membahayakan jantung. Hipertensi dirangsang aleh adanya nikotin dalam batang
rokok yang dihisap oleh seseorang . Efek dari konsumsi alkhohol juga merangsang
hipertensi karena adanya peningkatan sintesis katekholamin yang dalam jumlah besar
dapat memicu kenaikan tekanan darah (Laurence M.,2002: 7).
6. Stress
Stress juga di yakini berubungan dengan hipertensi , yang diduga melalui aktifitas
syaraf simpatis. Peningkatan aktifitas syaraf simpatis dapat meningkatkan tekanan
darah secara tidak menentu. Stres dapat mengakibatkan tekanan darah naik untuk
sementara waktu, Jika stress telah berlalu, maka tekanan darah akan kembali normal.
C. Tanda dan gejala Hipertensi
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menunjukkan gejala sampai bertahuntahun. Oleh karena itulah hipertensi dikenal sebagai silent killer. Pada pemeriksaan fisik,
tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula
ditemukan perubahan pada retina, seperti pendarahan, eksudat (kumpulan cairan),
penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat akan mengalami edema pupil.
Corwin, (2000), menyebutkan bahwa sebahagian besar gejala klinis timbul setelah
mengalami hipertensi bertahun-tahun (Rohaendi, 2008) :

a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
b.
c.
d.
e.

peningkatan tekanan darah intrakranial


Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi.
Ayunan langkah yang tidak mantap akibat susunan saraf pusat telah rusak
Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus
Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler

Gejala lainnya yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka
merah, sakit kepala, keluarnya darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal
dan lain-lain.
D. Komplikasi Hipertensi
Hipertensi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama akan berbahaya sehingga
menimbulkan komplikasi. Komplikasi tersebut dapat menyerang berbagai target organ
tubuh yaitu otak, mata, jantung, pembuluh darah arteri, serta ginjal. Sebagai dampak
terjadinya komplikasi hipertensi, kualitas hidup penderita menjadi rendah dan
kemungkinan terburuknya adalah terjadinya kematian pada penderita akibat komplikasi
hipertensi yang dimilikinya.Umumnya, hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ
tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ yang umum
ditemui pada pasien hipertensi adalah:
1. Jantung
-

hipertrofi ventrikel kiri - angina atau infark miokardium

gagal jantung

2. Otak
- stroke atau transient ishemic attack
3. Penyakit ginjal kronis
4. Penyakit arteri perifer
5. Retinopati
E. Pencegahan Hipertensi
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, demikian juga terhadap hipertensi. Pada
umumnya, orang berusaha mengenali hipertensi jika dirinya atau keluarganya sakit keras
atau meninggal dunia akibat hipertensi. Tidak semua penderita hipertensi memerlukan
obat. Apabila hipertensinya tergolong ringan maka masih dapat dikontrol melalui sikap
hidup sehari-hari. Pengontrolan sikap hidup ini merupakan langkah pencegahan amat

baik agar penderita hipertensi tidak kambuh gejala penyakitnya. Agar terhindar dari
komplikasi fatal hipertensi, harus diambil tindakan pencegahan yang baik (Stop High
Blood Pressure), antara lain dengan cara menghindari faktor risiko hipertensi.
1. Pola makan Makanan merupakan faktor penting yang menentukan tekanan darah.
Mengkonsumsi buah dan sayuran segar dan menerapkan pola makan yang rendah
Lemak jenuh, kolesterol, lemak total, serta kaya akan buah, sayur, serta produk susu
rendah lemak telah terbukti secara klinis dapat menurunkan tekanan darah. Untuk
menanggulangi keadaan tekanan darah yang tinggi, secara garis besar ada empat
macam diet, yaitu :
a. Diet rendah garam Ada tiga macam diet rendah garam (sodium) yaitu :
1. Diet ringan, boleh mengkonsumsi 1,5-3 gram sodium perhari, senilai dengan
3,75-7,5 gram garam dapur.
2. Diet menengah, boleh mengkonsumsi 0,5-1,5 gram sodium perhari, seniali
1,25-3,75 gram garam dapur.
3. Diet berat, hanya boleh mengkonsumsi dari 0,5 gram sodium atau kurang dari
1,25 gram garam dapur perhari.
Tujuan diet rendah garam untuk membantu menghilangkan retensi (penahan) air
dalam jaringan tubuh sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Walaupun
rendah garam, yang penting diperhatikan dalam melakukan diet ini adalah
komposisi makanan harus tetap mengandung cukup zat-zat gizi, baik kalori,
protein, mineral maupun vitamin yang seimbang.
b. Diet rendah kolesterol dan lemak terbatas
Diet ini bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol darah dan menurunkan berat
badan bagi penderita yang kegemukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
mengatur diet ini antara lain sebagai berikut :
1. Hindari penggunaan lemak hewan, margarin dan mentega terutama gorenggorengan atau makanan yang digoreng dengan minyak.
2. Batasi konsumsi daging, hati, limpa, dan jenis lainnya serta sea food (udang,
kepiting), minyak kelapa dan kelapa (santan).
3. Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir dalam seminggu.
4. Lebih sering mengkonsumsi tempe, tahu, dan jenis kacang.
5. Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis manis, seperti sirup, dodol,
kue, dan lain-lain.
6. Lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan buah, kecuali durian dan nangka.
Selain itu, juga harus memperhatikan gabungan makanan yang dikonsumsi
karena perlu disesuaikan dengan kadar kolesterol darah.

c. Diet tinggi serat Diet tekanan darah tinggi dianjurkan setiap hari mengkonsumsi
makanan berserat tinggi. Beberapa contoh jenis bahan makanan yang mengandung
serat tinggi yaitu:
1. Golongan sayuran, seperti bawang putih, daun kacang panjang, kacang panjang, daun
singkong, tomat, wortel, touge.
2. Golongan buah-buahan, seperti , belimbing, papaya, mangga, apel, semangka dan pisang
3. Golongan protein nabati seperti kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang
merah, dan biji-bijian.
4. Makanan lainnya seperti agar-agar dan rumput laut.
d. Diet rendah kalori bagi yang kegemukan Orang yang berat badannya lebih
(kegemukan) akan beresiko tinggi terkena hipertensi. Demikian juga orang yang
berusia diatas usia 40 tahun. Penanggulangan hipertensi dapat dilakukan dengan
pembatasan asupan kalori, hal yang harus diperhatikan yaitu :
1. Asupan kalori dikurangi sekitar 25%
2. Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi
3. Aktivitas olahraga dipilih yang ringan-sedang
2. Pola istirahat
Pemulihan anggota tubuh yang lelah beraktifitas sehari penuh, untuk menetralisir
tekanan darah.
3 Pola aktivitas
Jenis latihan yang dapat mengontrol tekanan darah yaitu : bejalan kaki, bersepeda,
berenang, aerobik. Kegiatan atau pekerjaan sehari-hari yang lebih aktif baik fisik
maupun mental memerlukan energi / kalori yang lebih banyak. Orang dengan gaya
hidup yang tidak aktif akan rentan terhadap tekanan darah tinggi. Melakukan olahraga
secara teratur tidak hanya menjaga bentuk dan berat badan, tetapi juga dapat
menurunkan tekanan darah.
F. Penatalaksanaan Hipertensi
Setelah diagnosa hipertensi ditegakkan dan diklasifikasikan menurut golongan atau
derajatnya, maka dapat dilakukan dua strategi penatalaknaan dasar yaitu :
a. Non farmakologik
Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang sangat penting untuk mencegah
tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang penting dalam penanganan
hipertensi. Semua pasien dengan prehipertensi dan hipertensi harus melakukan
perubahan gaya hidup. Disamping menurunkan tekanan darah pada pasien-pasien
dengan hipertensi, modifikasi gaya hidup juga dapat mengurangi berlanjutnya

tekanan darah ke hipertensi pada pasien-pasien dengan tekanan darah prehipertensi


(Anonima , 2006). Pengobatan non-farmakologik yang utama terhadap hipertensi
adalah pembatasan garam dalam makanan, pengawasan berat badan, dan membatasi
minuman alkohol dan olahraga Selain itu bisa juga dengan memanfaatkan beberapa
tanaman seperti :
1. Daun Alpukat
Daun alpukat mengandung beberapa bahan aktif di antaranya sapoin, tannin,
phlobatannin, flavonoid, alkaloid dan polisakarida. Hasil penelitian membutikan
daun alpukat sebagai anti hiperlipidemia.
2. Bawang putih
Bawang putih dapat menurunkan tekanan sistolik 20-30 poin dan diastolika
turun 10-20 poin. Kemampuan umbi bawang putih dalam membantu
menurunkan tekanan darah diperkirakan akibat kandungan alisin yang
melenturkan pembuluh darah.
3. Belimbing manis
Belimbing manis dapat berfungsi menurunkan tekanan darah, karena buah ini
mengandung serat yang banyak, sehingga mampu menyerap lemak tubuh dan
memberikan dampak penurunan tekanan darah dan juga karena kandungan
airnya yang tinggi dan mengandung kalium yang membuat buah ini bersifat
deuretik.
4. Mentimun
Buah mentimun mengandung fasfor, kalium, magnesium, vitamin, A, C, E,
betakoren dan asam folat. Jus mentimun dilaporkan dapat menurunkan tekanan
darah.
5. Seledri
Seledri berhasiat menurunkan tekanan darah tinggi karena aktivtasnya sebagai
kalsium antagonis yang berpengaruh pada tekanan darah.
6. Daun Salam
Kandungan flavonoid pada daun salam dapat digunakan untuk mencegah
terjadinya hipertensi, menurunkan kadar kolesterol tubuh, menurunkan kadar
gula darah.
7. Kucai
Khasiat kucai sebagai anti hipertensi karena kandungan tetrametil oksamida dan
ester 17-etadekadesenil. Kucai efektif melancarkan peredaran darah sekaligus
menghindarkan pembekuan pada penderita hipertensi
b. Farmakologis

Memberikan obat anti hipertensi ygang telah terbukti kegunaannya dan keamanannya
bagi penderita . Obat-obatan yang digunakan pada hipertensi adalah :
1. Diuretik, contohnya furosemide, triamferena, spironolactone
2. Beta blockers, contohnya metaprolol, atenolol, timolol
3. ACE-inhibitor, contohnya lisinopril, captopril, quinapril
4. Alpha-blockers, contohnya prazosin, terazosin
5. Antagonis kalsium, contohnya diltiazem, amlodipine, nifedipine
6. Vasodilator-direct, contohnya minixidil, mitralazine
7. Angiotensin reseptor antagonis, contohnya losartan.
8. False-neurotransmiter, contohnya clodine, metildopa, guanabens

Daftar Pustaka
Almatsier, Sunita.(2004).Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Penerbit PT.Gramedia Pustaka
Utama
Dalimartha &Setiawan.(2008). Care Your Self, Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus
Hanns Peter Wolfr.(2006). Hipertensi: Cara Mendeteksi Dan Mencegah Tekanan Darah
Tinggi Sejak Dini. Jakarta: Buana Ilmu Populer
Kusuma, Erwin.(2013).Bebas Hipertensi dengan Self-Hypnosis. Jakarta: Noura Book
Publising
Lanny,Sustarini.(2004). Hipertensi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Laurence M. Dkk.(2002). Diagnosis dan Terapi Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam jilid
1 (terjemahan Abdul Gofur). Jakarta: Salemba Medika.
Niniek,Soetini. Meningkatkan Stamina Penderita Hipertensi.diakses pada tanggal 23 Mei
2014