Anda di halaman 1dari 16

PEMERINTAH KOTA SEMARANG

DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG


PUSKESMAS NGEMPLAK SIMONGAN
Jl. Srinindito IV / RT 08 RW 01 Semarang, Telp. (024) 7610212

====================================================
============================
KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS NGEMPLAK SIMONGAN KOTA SEMARANG
NOMOR : 440 / 275
TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN PUSKESMAS NGEMPLAK SIMONGAN
KEPALA PUSKESMAS NGEMPLAK SIMONGAN KOTA SEMARANG

Menimbang :

Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan

Puskesmas

Ngemplak

Simongan

Semarang,

maka

diperlukan penyelenggaraan pelayanan yang bermutu


b

tinggi ;
Bahwa agar

Simongan Kota Semarang dapat terlaksana dengan baik,

pelayanan

di

Puskesmas

Ngemplak

perlu adanya kebijakan Kepala Puskesmas Ngemplak


Simongan

Kota

Semarang

penyelenggaraan pelayanan

Mengingat :

sebagai

landasan

bagi

di Puskesmas Ngemplak

Simongan Kota Semarang;


Bahwa
berdasarkan
pertimbangan

dimaksud dalam a, perlu ditetapkan dengan Keputusan

Kepala Puskesmas Ngemplak Simongan Semarang.


Undang-undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang

Praktek kedokteran

sebagaimana

Undang-undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang


b

Kesehatan

Undang-undang RI Nomor 36 Tahun 2014 tentang


Tenaga Kesehatan

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 037 tahun 2012

tentang Penyelenggaraan Laboratorium Puskesmas


Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 5 tahun 2014

tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas

Pelayanan Kesehatan Primer


Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 tahun 2014

tentang Puskesmas

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 30 tahun 2014


tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RI

f.

Nomor 63/KEP/M.PAN/2003, tentang Pedoman Umum


Penyelenggaraan Pelayanan Publik

g
.
h
.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN:
Kesatu

: Memberlakukan

Kebijakan

Pelayanan

di

Puskesmas

Ngemplak

Simongan Kota Semarang sebagaimana dalam Lampiran Keputusan


ini.
Kedua

: Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas


Ngemplak Simongan Kota Semarang dilaksanakan oleh Kepala
Puskesmas Ngemplak Simongan Semarang.

Ketiga

Keputusan Kepala Puskesmas Ngemplak Simongan ini mulai berlaku


pada tanggal

ditetapkan.

Ditetapkan di
: SEMARANG
Pada tanggal
: 09 Agustus
2016
KEPALA PUSKESMAS
NGEMPLAK SIMONGAN

Sri Andriani, SKM, M. Kes

Lampiran I : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS NGEMPLAK SIMONGAN KOTA SEMARANG


NOMOR

: 440 / 275

TANGGAL

: 09 Agustus 2016
KEBIJAKAN PELAYANAN PUSKESMAS

PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN


PASAL 1
1. Pelayanan di Puskesmas Ngemplak Simongan

Kota Semarang harus selalu

berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien


2. Indikator mutu:
a. Indikator merupakan variabel yang digunakan untuk menilai suatu perubahan.
Setiap petugas harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip
mutu

pelayanan

Puskesmas

Ngemplak

Simongan

sehingga

dapat

menerapakan langkah-langkah upaya peningkatan mutu di masing-masing


unit kerjanya.
b. Puskesmas Ngemplak Simongan Kota Semarang mempunyai indikator yang
terdiri dari:
1) Indikator Mutu Klinis
2) Indikator Mutu Managemen
3) Indikator Sasaran Keselamatan Pasien (Patient Safety Goals)
c. Pelaporan Indikator Mutu dari masing-masing unit dilaporkan secara rutin
setiap bulan kepada Kepala Puskesmas melalui Wakil Manajemen Mutu
d. Pelaporan Indikator Mutu Utama yang terdiri dari Indikator Mutu Klinis,
Indikator Mutu Managemen dan Indikator Sasaran Keselamatan Pasien dari
masing-masing unit dilapokan secara rutin setiap bulan kepada Sekretariat
Mutu Admen.

e. Setiap Insiden Keselamatan Pasien harus dilaporkan dalam 2 x 24 jam


menggunakan form pelaporan insiden keselamatan pasien.
3. Puskesmas memfasilitasi ketersediaan pelatihan tentang mutu dan keselamatan
pasien bagi pimpinan/pengelola dan staff Puskesmas
KETENTUAN UMUM
Pasal 2
Pelayanan Rawat Jalan dan Laboratorium sesuai dengan jadwal puskesmas.
1. Pelayanan harus selalu berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.
2. Seluruh staf Puskesmas bekerja sesuai dengan standar profesi, pedoman/panduan
dan standar prosedur yang berlaku, serta sesuai dengan etika profesi, etika
Puskesmasdan etiket Puskesmas yang berlaku.
3. Semua petugas instalasi wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4. Seluruh staf Puskesmas dalam melaksanakan pekerjaannya wajib selalu sesuai
dengan ketentuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Puskesmas (K3), termasuk
dalam penggunaan alat pelindung diri (APD).
5. Puskesmas melakukan kredensial dan rekredensial untuk profesi dokter, perawat
serta tenaga kesehatan lainnya.
6. Penyediaan tenaga harus mengacu kepada pola ketenagaan.
7. Melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutin bulanan
minimal satu bulan sekali.
8. Setiap bulan wajib membuat laporan.
9. Peralatan di unit pelayanan harus selalu dilakukan pemeliharaan dan kaliberasi
dengan ketentuan yang berlaku, untuk menjamin semua sediaan farmasi tetap
dalam kondisi yang baik.
PELAYANAN REKAM MEDIS
Pasal 3
1. Setiap pasien Puskesmas Ngemplak Simongan

Kota Semarang memiliki satu

nomor rekam medis (Unit Numbering System).


2. Setiap pasien yang akan mendapatkan pelayanan medis, penunjang medis harus
terdaftar di pendaftaran pasien.
3. Acuan pendaftaran menggunakan eKTP (Elektronik KTP).
4. Penyimpanan rekam medis pasien rawat jalan disimpan dalam satu tempat
(sentralisasi).

5. Setiap pasien berhak mengakses terhadap informasi kesehatan dirinya sendiri


salah satunya hak mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya.
6. Setiap pasien yang keluar rawat inap dibuatkan ringkasan perawatan pasien
(resume medis).
7. Pencatatan

data

pelayanan

Puskesmas

dilaksanakan

dengan

buku

register/maupun terekam dalam system komputerisasi.


8. Semua profesi tenaga kesehatan (dokter, perawat dan tenaga medis lainnya)
yang memberikan pelayanan kepada pasien diwajibkan menulis atau mengisi
seluruh hasil pelayanan yang diberikan pada pasien di dokumen rekam medis
yang sudah ditentukan, dilengkapi tanggal, tanda tangan/paraf dan inisial dalam
waktu 1x24 jam.
9. Penulisan dan pencatatan pada RM harus menggunakan Huruf Kapital dan sesuai
dengan ejaan yang disempurnakan (EYD).
10.Dalam menulis dan mencatat pada dokumen rekam medis jika menggunakan
singkatan, definisi atau simbol harus sesuai dengan buku Singkatan yang boleh
digunakan atau tidak boleh digunakan.
11.Seluruh hasil pemeriksaan pelayanan penunjang wajib disertakan pada Dokumen
rekam medis yang ditetapkan.
12.Dokter bertanggungjawab atas kelengkapan pengisian pada dokumen rekam
medis.
13.Dokumen rekam medis yang telah dikembalikan ke instansi rekam medis belum
lengkap wajib dilengkapi oleh profesi tenaga kesehatan besangkutan.
14.Petugas rekam medis bertanggungjawab atas pendistribusian Dokumen rekam
medis, sedangkan pengembalian oleh instansi terkait.
15.Petugas rekam medis bertanggungjawab atas penyimpanan Dokumen rekam
medis in aktif, termasuk rekam medis pasien meninggal dunia.
16.Pendistribusian Dokumen rekam medis rawat jalan sekurang-kurangnya 10 menit
setelah pasien mendaftar sampai ke poliklnik yang dituju.
17.Seluruh pelayanan dokumen rekam medis dilakukan oleh petugas rekam medis.
18.Permintaan

Dokumen

rekam

medis

hanya

diberikan

untuk

kepentingan

pengobatan pasien dan untuk kepentingan lain harus sesuai aturan dan
peminjam menggunakan tracer atau bon peminjaman.
19.Bagi pasien yang memerlukan data data rekam medis, dapat diberikan resume
atau ringkasan riwayat penyakit, hasil pemeriksaan dan riwayat pelayanan yang
telah diberikan.

20.Pemberian informasi data medis pasien hanya diberikan kepada pasien sendiri,
orang/badan yang mendapat kuasa.
21.Penanggungjawab

unit

kerja

pelayanan

bertanggungjawab

terhadap

pengembalian Dokumen rekam medis dalam 1 x 24 jam setelah selesai


pelayanan.
22.Ketentuan untuk kode diagnosis pasien menggunakan ICD 10 (Internasional
Classification of Desease revition 10), untuk kode tindakan menggunakan ICD 9
CM (Internasional Classification of Desease revition 9 Clinical Medicine).
23.Unit rekam medis bertanggungjawab atas laporan berkala yang telah ditetapkan,
baik untuk kepentingan internal maupun eksternal Puskesmas.
24.Unit rekam medis bertanggungjawab atas tersediannya informasi kegiatan
pelayanan dan indikator Puskesmas yang telah ditetapkan.
25.Seluruh

pelayanan

rekam

medis

wajib

berorientasi

kepada

kepuasaan

pelanggan.
26.Orang/badan yang mendapat surat kuasa harus menunjukkan identitas yang sah,
sebelum diijinkan meneliti/melihat isi rekam medis.
27.Unit rekam medis menerima kegiatan magang mahasiswa terkait, mahasiswa
sebelum

meneliti/melihat

isi

Rekam

Medis

wajib

menandatangani

surat

pernyataan untuk menjaga isi Rekam Medis.


28.Hasil penelitian mahasiswa magang atau penelitian tidak diperkenankan
menyebutkan identitas pasien yang tertera di Dokumen Rekam Medis.
29.Pasien tidak diperkenankan membawa Dokumen rekam medisnya.
30.Penggunaan rekam medis untuk kepentingan riset yang bukan dari staf medis
PuskesmasNgemplak Simongan Kota Semarang harus memperoleh persetujuan
dari Kepala PuskesmasNgemplak Simongan .
31.Pemusnahan Dokumen rekam medis in aktif dilakukan oleh petugas rekam medis
disaksikan oleh pihak yang berkepentingan.
32.Dalam pelayanan rekam medis tidak semua orang bisa mengakses dokumen
rekam medis karena bersifat Rahasia (Confidensial).
33.Yang berkepentingan akses ke bagian rekam medis pasien adalah tenaga
kesehatan yang berhak membuat/mengisi Rekam Medis, diantaranya:
a. Dokter, dokter gigi, yang melayani pasien di Puskesmas Ngemplak Simongan
Kota Semarang.
b. Tenaga perawat dan non perawat yang terlibat dalam pelayanan (perawat,
perawat gigi, bidan, tenaga laboratorium, gizi, perekam medis).

34.Dalam hal terjadi kesalahan penulisan pada dokumen rekam dapat dilakukan
pembetulan dengan mencoret tanpa menghilangkan cacatan yang dibetulkan
dan diberi paraf korektor dan tanggal koreksi
35.Setiap praktisi kesehatan mengkomunikasikan informasi pasien antar praktisi
kesehatan lainnya secara berkelanjutan meliputi:
a. Status kesehatan pasien
b. Ringkasan dari asuhan yang telah diberikan
c. Termasuk perkembangan pasien
IDENTIFIKASI
Pasal 4
1. Setiap pasien yang mendapatkan pelayanan tercatat identitas pasien.
2. Prosedur identifikasi minimal menggunakan 2 identitas pasien meliputi: NAMA,
ALAMAT, TANGGAL LAHIR/UMUR, dan NO REKAM MEDIK, disesuaikan dengan
tanda pengenal resmi pasien.
3. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, sebelum pengambilan darah dan
spesimen

lain

untuk

pemeriksaan

laboratorium

klinis,

serta

sebelum

tindakan/prosedur.
PELAYANAN PASIEN
Pasal 5
Pasien dengan masalah kesehatan dan kebutuhan pelayanan yang sama berhak
mendapat kualitas asuhan yang sama di Puskesmas . Asuhan pasien yang seragam
terefleksi sebagai berikut:
1. Akses untuk asuhan dan pengobatan yang memadai, tidak tergantung atas
kemampuan pasien untuk membayar atau sumber pembiayaan.
2. Akses untuk asuhan dan pengobatan, serta yang memadai, yang diberikan oleh
praktisi yang kompeten tidak tergantung atas hari-hari tertentu atau waktu
tertentu.
3. Ketepatan (acuity) mengenali kondisi pasien menentukan alokasi sumber daya
untuk memenuhi kebutuhan pasien.
4. Tingkat asuhan yang diberikan kepada pasien sama di seluruh Puskesmas .
5. Pasien dengan kebutuhan asuhan keperawatan yang sama menerima asuhan
keperawatan yang setingkat di seluruh Puskesmas .
Asuhan pasien dilaksanakan secara terintegrasi dan dikoordinasikan oleh semua
pemberi layanan.

TRANSFER/PERPINDAHAN PASIEN DI DALAM PUSKESMAS


Pasal 6
Penerimaan atau perpindahan pasien ke dan dari unit pelayanan ditentukan dengan
kriteria yang telah ditetapkan.
TRANSFER/PERPINDAHAN PASIEN KELUAR PUSKESMAS /RUJUKAN
Pasal 7
1. Rujukan ke fasilitas kesehatan lainnyaditujukan kepada individu secara spesifik.
2. Rujukan menunjuk siapa yang bertanggungjawab selama proses rujukan serta
perbekalan dan peralatan apa yang dibutuhkan selama transportasi.
3. Kerjasama yang resmi atau tidak resmi dibuat dengan fasilitas kesehatan
penerima.
4. Proses rujukan didokumentasikan didalam rekam medis pasien.
PENUNDAAN PELAYANAN
Pasal 8
Setiap penundaan pelayanan/pengobatan harus diinformasikan kepada pasien.
HAMBATAN DALAM PELAYANAN
Pasal 9
Puskesmas

berusaha

mengurangi

kendala

fisik,

bahasa

dan

budaya

serta

penghalang lainnya dalam memberikan pelayanan.

TRANSPORTASI
Pasal 10
Transportasi milik Puskesmas , harus sesuai dengan hukum dan peraturan yang
berlaku berkenaan dengan pengoperasian, kondisi dan pemeliharaan.
HAK PASIEN DAN KELUARGA
Pasal 11
1. Informasi Tata tertib dan peraturan Puskesmas

Puskesmas memiliki serangkaian tata tertib dan peraturan yang mengatur seluruh
pelayanan yang berhubungan dengan hak pasien dan keluarga yang diatur dalam
peraturan Kepala Puskesmas. Setiap pasien dan keluarga akan mendapatkan
informasi mengenai tata tertib dan peraturan selama berada di Puskesmas oleh
petugas saat pertama kali melakukan kunjungan sesuai dengan unit terkait.
2. Informasi Hak dan Kewajiban Pasien
Setiap pasien dan keluarga pada saat datang untuk melakukan pelayanan
kesehatan di puskesmas, akan mendapatkan informasi secara lisan dan tertulis
mengenai hak dan kewajiban pasien.
3. Transparansi Pelayanan
Selama pasien melakukan pelayanan kesehatan di Puskesmas , pasien/keluarga
akan mendapatkan informasi biaya pelayanan yang sudah diberikan dari petugas
administrasi unit terkait, dan pasien/keluarga juga akan mendapatkan prosedur
pelayanan yang sama disetiap kelas pelayanan tanpa diskriminasi, artinya tidak ada
perbedaan pelayanan dimanapun pasien dirawat.
4. Standar Pelayanan Kesehatan
Setiap pasien berhak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional pelayanan sesuai dengan standar
pelayanan publik dan dalam setiap profesi kesehatan memiliki prosedur masingmasing, dan semua kebenaran tindakan dapat diukur dari kesesuaian tindakan
tersebut dengan Standart OperasionalProsedur.
5. Efektivitas Pelayanan
Pelayanan dilakukan secara efektif dan seefisien mungkin untuk mencegah
terjadinya kemungkinan kerugian fisik dan materi dari pasien selama mendapat
pelayanan di Puskesmas .
6. Management Pelayanan
Apabila pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas dirasa tidak sesuai dengan
harapan dari pasien, pasien dan atau keluarga berhak mengajukan pengaduan atas
kualitas pelayanan yang didapatkan.
7. Petugaskesehatan
Setiap pasien yang melakukan pelayanan kesehatan di Puskesmas berhak memilih
dokter /petugaskesehatan dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di Puskesmas . Pasien wajib mengenal identitas para dokter
dan praktisi yang lain yang bertanggungjawab melayani mereka.
8. Second Opinion

Puskesmas memberitahukan kepada pasien dan atau keluarganya mengenai


alternatif pelayanan dan pengobatan di luar Puskesmas . Pasien berhak meminta
konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai
kompetensi dan surat Ijin Praktik (SIP) baik didalam maupun diluar Puskesmas tanpa
dibayangi rasa takut. Puskesmas memberikan dukungan atas hak pelayanan second
opinion kepada pasien yang menghendaki permintaan second opinion sepanjang
dokter yang di minta adalah dokter di luar Puskesmas dan seluruh biaya yang
dikeluarkan dari permintaan tersebut adalah tanggungan pasien.
9. Kerahasiaan Informasi dan Privasi
Perlindungan kerahasiaan informasi pasien adalah suatu usaha perlindungan yang
diberikan oleh pihak Puskesmas terhadap segala kerahasiaan informasi dan data
data medis atas kondisi pasien selama dirawat/ mendapat pelayanan kesehatan.
Semua pasien yang mendapat pelayanan kesehatan diPuskesmas berhak atas
perlindungan kerahasiaan informasi dan data data medis dari pihak pihak yang
tidak berkompeten.
10.Informasi Medis
Pasien berhak mendapatkan informasi yang meliputi diagnosis penyakitnya dan tata
cara tindakan medis, tujuan tindakan medis yang akan dilakukan, alternatif
tindakan, resiko tindakan dan komplikasi yang mungkin terjadi atas tindakan
tersebut dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya
pengobatan.
11.Persetujuan dan Penolakan Tindakan
Disetiap akan melakukan tindakan medis, pasien akan diberi tahu dan berhak
memberikan persetujuan atau penolakan atas tindakan yang akan dilakukan oleh
tenaga kesehatan terhadap enyakit yang dideritanya setelah pasien mendapatkan
informasi atas tindakan tersebut. Segala akibat atas keputusannya tersebut, pasien
tidak akan menyalahkan pihak Puskesmas atas keputusan tersebut apabila terjadi
sesuatu hal yang tidak diharapkan.
Apabila pasien yang akan dilakukan tindakan medis dalam kondisi tidak
bertanggung-jawab dan atau tidak sadar, sedangkan tindakan tersebut tidak bisa
ditunda lagi (live saving), prosedur untuk persetujuan tindakan diberikan oleh
keluarga kandung terdekat atau wali syah pasien. Prosedur tersebut sesuai dengan
undang-undang, budaya dan adat istiadat. Pihak lain selai pasien yang memberikan
persetujuan dicatat dalam rekam medis pasien.
Puskesmas membuat daftar tindakan yang memerlukan persetujuan sebelum
dilakukan tindakan medis dan pengobatan yang beresiko tinggi. Identitas petugas

yang memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya dicatat dalam rekam
medis pasien disertai dengan tanda tangan atau catatan dari pePuskesmas etujuan
lisan.
12.Pasien kondisi kritis
Saat pasien berada dalam kondisi kritis atau terminal, pasien berhak mendapat
pelakuan khusus didampingi oleh keluarga terdekat atau wali yang
berkepentingan / yang dikehendaki pasien. Pasien dan atau keluarga dapat
menyampaikan harapannya kepada petugas unit terkait atas harapan tersebut
untuk diberikan kemudahan khusus saat keluarga yang berkepentingan berkunjung.
13.Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan.
Puskesmas memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk
menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya sepanjang tidak mengganggu
pasien lain. Pemberian pembatas tirai juga diperlukan dalam hal menjaga privasi
pasien lain yangberdampingan.
14.Perlindungan
Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama pelayanan
dan perawatan di Puskesmas .
15.Memberi Saran dan Masukan
Demi peningkatan mutu pelayanan Puskesmas , pasien dan keluarga berhak
mengajukan usul, saran dan masukan / perbaikan atas perilaku Puskesmas
terhadap dirinya.
16.Penyampaian Keluhan
Pasien berhak mengutarakan keluhan, konflik atau perbedaan pendapat terhadap
pelayanan Puskesmas yang tidak sesuai dengan standar pelayanan dan harapan
pasien melalui customer service, unit terkait, media cetak dan elektronik sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Puskesmas memiliki proses
penyelidikan telaah, penyelesaian, klarifikasi terhadap keluhan, konflik atau
perbedaan pendapat mengenai pelayanan Puskesmas .
PENOLAKAN PELAYANAN DAN PENGOBATAN
Pasal 12
1. Puskesmas memberitahukan hak pasien dan keluarga untuk menolak atau tidak
melanjutkan pengobatan.
PELAYANAN PASIEN RESIKO TINGGI
Pasal 13

1. Puskesmas mengatur perawatan pasien yang menderita penyakit menular


2. Puskesmas mengatur perawatan pasien lanjut usia, orang dengan keterbatasan, dan
anak-anak.

ASSESMEN PASIEN
Pasal 14
1. Setiap pasien yang masuk atau berobat di Puskesmas Ngemplak Simongan Kota
Semarang, harus dilakukan asesmen yang meliputi:
a. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan untuk
mendapatkan data informasi tentang kondisi fisik, psikologis, sosial, spritual, dan
ekonomi serta riwayat pasien.
b. Menganalisis data diatas untuk mengidentifikasi kebutuhan pelayanan pasien.
c. Membuat rencana pelayanan untuk memenuhi kebutuhan pasien tersebut diatas.
2. Data yang diperoleh pada saat assesmen pasien harus dicatat secara lengkap
dalam rekam medis.
3. Isi minimal assesmen pasien rawat jalan sekurang-kurangnya terdiri dari identitas
pasien, hasil anamnesis, hasil pemeriksaan tambahan untuk kasus khusus sesuai
dengan profesi, serta nama dan tanda tangan dokter dan perawat.
4. Assesmen pasien meliputi assesmen medis, assesmen keperawatan dan staf disiplin
klinis lainnya dengan sumber daya manusia yang sudah memiliki surat tanda
registrasi, SIP sesuai profesi masing-masing dan dibuktikan dengan surat penugasan
klinis.
5. Assesmen medis yang dilakukan di Puskesmas dicatat dalam status pasien
6. Dalam melakukan assesmen pasien setiap dokter wajib mengikuti panduan yang di
tetapkan oleh Puskesmas.
MANAJEMEN OBAT
Pasal 15
1. Pengelolaan sedian farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
manajemen satu pintu.
2. Pelayanan kefarmasian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan
Puskesmas yang komprehensif dan berorientasi kepada pelayanan pasien meliputi

sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dan pelayanan
farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
3. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai adalah
suatu proses yang berkesinambungan yang dimulai dari pemilihan, perencanaan,
pengadaan,

penerimaan,

produksi,

penyimpanan,

distribusi,

peracikan,

pengendalian, pengembalian, pemusnahan, pencatatan dan pelaporan jaminan


mutuserta monitoring dan evaluasi, yang dikung oleh sumber daya manusia,
pembiayaan dan sistem informasi manajemen yang efesien dan efektif.
4. Formularium Puskesmas
Formularium Puskesmas disusun berdasarkan usulan dari masin-masing tenaga
medis.
Pelayanan obat untuk pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengacu pada
formularium nasional dengan penentuan harga sesuai e-catalog.
5. Penyimpanan obat emergensi disimpan dalam troli/box emergensi.
6. Perencanaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dibuat
sekali sebulan.
7. Pengadaan perbekalan farmasi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku
dan peraturan yang ada di Puskesmas.
8. Penyimpanan Perbekalan Farmasi memperhatikan sifat bahan dengan sistem first in
first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) dan dikelompokkan antara obat jadi,
bahan baku obat, sediaan nutrisi, alat kesehatan dan reagensia
9. Distribusi untuk pasien rawat jalan dengan sistem resep perseorangan
10.Peresepan
Dokter/petugas kesehatan lain yang berhak menuliskan resep ditetapkan oleh
Puskesmas sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.Penulisan resep
sesuai dengan perundang-undangan
Informasi spesifik untuk telaah resep sekurang-kurangnya terdapat identitas pasien
yang tercetak dan ditempel pada lembar, berat badan, tinggi badan serta informasi
alergi.
11.Pemberian Obat
a. Obat diberikan oleh apoteker dan dapat didelegasikan kepada tenaga teknis
lainnya dengan memberikan surat delegasi wewenang.
b. Sebelum obat diserahkan kepada pasien dilakukan pemeriksaan akhir dengan
menggunakan prinsip 5 benar.

c. Informasi yang diberikan pada saat pemberian obat sekurang-kurangnya cara


pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas
serta makanan dan minuman yang harus dihindari.
12.Setiap insiden keselamatan pasien dilaporkan ke tim mutu
PELAYANAN GIZI
PASAL 16
1. Kegiatan pelayanan gizi meliputi 2 kegiatan yaitu kegiatan,

konsultasi gizi, dan

pelayanan gizi masyarakat

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI PUSKESMAS


PASAL 17
1. Semua staf dan karyawan harus ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan pencegahan
dan pengendalian infeksi di Puskesmas .
2. Pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi Puskesmas meliputi:
a. Kewaspadaan standar
1) Kebersihan tangan/hand hygiene
2) Alat pelindung diri/APD: sarung tangan,

masker, gogle (Kaca mata),

faceshield (pelindung wajah), gaun


3) Peralatan perawatan pasien
4) Pengendalian lingkungan
5) Pemerosesan peralatan pasien dan penatalaksaan linen
6) Kesehatan karyawan/perlindungan petugas kesehatan
7) Penempatan pasien
8) Hygiene respirasi/batuk efektif
9) Praktek menyuntik yang aman
b. Kewaspadaan berdasar transmisi
1) Kontak
2) Melalui droplet
3) Melalui udara (airbone)
4) Melalui common vehicle (makanan, air, obat, alat, peralatan)
5) Melalui vector (lalat, nyamuk, tikus)
c. Investigasi outbreak/KLB
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

Pasal 18
1. Dalam melaksanakan tugasnya setiap karyawan Puskesmas yang bekerja di
lingkungan

Puskesmas

wajib

mematuhi

ketentuan

dalam

kesehatan

dan

keselamatan kerja (K3), termasuk dalam penggunaan alat pelindung diri (APD).
2. Puskesmas mendukung, memberikan perlindungan pada seluruh orang dan benda
yang berada dalam lingkungan Puskesmas .
3. Terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi
persyaratan teknis: keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan serta
kelestarian lingkungan.
4. Terlaksananya pelaporan kejadian kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
5. Apabila

terdapat

pekerja/staf

Puskesmas

yang

terpapar

akibat

resiko

dari

pekerjaannya di Puskesmas , maka menjadi tanggungjawab Puskesmas .


6. Penanganan tumpahan bahan kimia dilakukan dengan spil kit yang didalamnya
terdapat

media pasir basah dengan proteksi lengkap menggunakan APD pada

petugas pembersihnya.
7. Terlaksananya penyehatan lingkungan meliputi: penyehatan ruang dan bangunan,
penyehatan makanan dan minuman, penyehatan air, penangan limbah, penyehatan
tempat pencucian umum, pemantauan sterilisasi dan desinfeksi, perlindungan
radiasi dan upaya promosi kesehatan lingkungan.
8. Puskesmas memiliki sistem penanggulangan kedaruratan/bencana di Puskesmas .
9. Untuk mencegah kejadian kebakaran staf dan pengunjung diwajibkan untuk:
a. Menjaga kebersihan
b. Larangan merokok
c. Menerapkan safety lingkungan kerja
10.Puskesmas saat terjadi bencana eksternal:
a. Merupakan Puskesmas yang siap menerima pasien/korban selama 24 jam.
b. Siap menjadi Puskesmas penerima pertama apabila menjadi Puskesmas yang
terdekat dengan kejadian bencana.
c. Siap

menjadi

Puskesmas

pendukung

yang

menerima

limpahan

pasien,

mengirimkan tim ke lapangan, dan menerima rujukan dari Puskesmas penerima


pertama kejadian bencana.
11.Area yang menjadi titik kumpul dan jalur evakuasi saat terjadi bencana internal
Puskesmas harus bebas dari kendaraan.
12.Kendaraan yang diparkir di area Puskesmas diwajibkan untuk tidak dikunci stang
dan diposisikan di gigi nol/tidak boleh di hand rem.

13.Sosialisasi prosedur evakuasi kejadian bencana dilaksanakan pada waktu apel, pada
waktu pelatihan K3 dan saat simulasi kejadian bencana yang dilaksanakan minimal
1 tahun sekali.
14.Memastikan sarana dan prasarana Puskesmas diperiksa dan dikalibrasi secara
berkala sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Ditetapkan di
: SEMARANG
Pada tanggal
: 09 Agustus
2016
KEPALA PUSKESMAS
NGEMPLAK SIMONGAN

Sri Andriani, SKM, M. Kes