Anda di halaman 1dari 14

PENGERTIAN, OBJEK, DAN TUJUAN STUDI ISLAM

MAKALAH
MATA KULIAH
METODOLOGI STUDI ISLAM
Dosen
Dra. Imam Mushafak, M.pd.I

Oleh:
Kelompok 6
Fina Iftitahurrohmah

(17204153004)

Rista Risqi Khoiriyah

(17204153015)

Devi Octafiyani

(17204153016)

Berlian Rizqi Ahmad Habibie

(172041530)

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
TAHUN AKADEMIK 2016-2017

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini, studi-studi agama mengalami perubahan orientasi yang
jauh berbeda jika dibandingkan dengan kajian-kajian agama sebelum abad
ke-19. Umumnya pengkajian agama sebelum abad ke-19 memiliki
beberapa karakteristik yang antara lain, sinkritisme, penemuan arca baru,
dan untuk kepentingan misionari dipicu oleh semangat dan ilmu
pengetahuan dan teknologi sehingga orientasi dan metodologi studi islam
mengalami perubahan.
Adapun studi islam sendiri merupakan ilmu keislaman mendasar.
Dengan studi ini, pemeluknya mengetahui dan menetapkan ukuran ilmu,
iman dan amal perbuatan kepada allah swt. Diketahui pula bahwa islam
sebagai agama yang memiliki banyak dimensi yaitu mulai dari dimensi
keimanan, akal fikiran, politik ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi
lingkungan hidup, dan masih banyak lagi yang lainnya. Untuk memahami
berbagai dimensi ajaran islam tersebut jelas memerlukan berbagai
pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. Selama ini islam
banyak dipahami dari segi teologis dan normatif.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Metodologi Studi Islam ?
2. Apa saja objek yang digunakan untuk mempelajari
Metodologi Studi Islam?
3. Apa tujuan mempelajari Metodologi Studi Islam ?

C. Tujuan Pembahasan
1. Dapat mengetahui Metodologi Studi Islam.

2. Dapat mengetahui Objek apa saja yang digunakan


dalam mempelajari Metodologi Studi Islam.
3. Dapat mengetahui apa saja tujuan Metodologi Studi
Islam.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Metodologi Studi Islam
Secara Etimologi (Bahasa)
Secara bahasa, Metodologi Studi Islam berasal dari kata
metodologi, studi, dan islam: Metodologi berasal dari bahasa Yunani yang
terdiri atas dua suku kata methhod berarti jalan, dan logos yang
berarti ilmu. Sehingga metodologi berarti imu tentang jalan atau cara.
Dalam KBBI disebutkan bahwa metode adalah cara kerja yang
bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencarpai
tujuan yang telah ditentukan.
Studi berasal dari bahasa Inggris yaitu study, yang berarti
mempelajari atau mengkaji. Sedangkan Islam berasal dari bahasa Arab,
yaitu kata salima dan aslama. Salima mengandung arti selamat tunduk,
dan berserah. Sedangkan aslama juga mengandung arti kepatuhan,
ketundukan , berserah. Yang dusebut muslim adalah orang yang tunduk,
patuh, dan berserah diri sepenuhnya kepada ajaran Islam dan akan selamat
dunia dan akhirat. 1
Secara Terminology (Istilah)
Menurut Abraham Kaflan, metodologi adalah pengkajian dengan
penggambaran (deskripsi), penjelasan (eksplanasi), dan pembenaran
(justifikasi). Ia berpendapat bahwa metodologi mengandung unsur-unsur
yaitu pengkajian (study), dengan penggambaran (deskripsi), penjelasan
(eksplanasi), dan pembenaran (justifikasi).2
Studi berarti pengkajian terhadap Islam secara ilmiah, baik Islam
sebagai sumber ajaran, pemahaman, maupun pengamalan. Sedangkan
Islam adalah nama sebuah agama samawi yang disampaikan melalui Nabi
Muhammad SAW agar menjadi pedoman bagi manusia.3

1 Supiana, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam


Departemen Agama Republik Indonesia), 2009, hlm. 2.
2 Abuy Sodikin, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Insan Madani), hlm. 4.

Studi Islam di barat dikenal dengan istilah Islamic Studies. Studi


Islam secara harfiah adalah kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
Islam. Makna ini sangat umum sehingga perlu ada spesifikasi pengertian
terminologis tentang studi Islam dalam kajian yang sistematis dan terpadu.
Dengan perkataan lain, Studi Islam adalah usaha sadar dan sistematis
untuk mengetahui dan memhami serta membahas secara mendalam
tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam,
baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik
pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang
sejarahnya.4
Metodologi studi islam adalah prosedur yang ditempuh secara
ilmiah, cepat dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam
berbagai aspeknya, baik dari sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber
maupun sejarahnya, serta berbagai alirannya.
B. Objek Metodologi Studi Islam
Objek kajian Metodologi Studi Islam adalah ajaran
Islam dari berbagai aspeknya dan berbagai mazhab atau
alirannya. Ajaran islam ini tidaklah sempit atau sebatas
ibadah saja, tetapi juga meliputi berbagai aspek termasuk
interaksi sosial kemasyarakatan. Sebagian umat Islam
berpendapat bahwa ajaran Islam bersifat permanen,
sehingga penafsiran atas ajaran Islam harusa mengikuti
penafsiran-penafsiran ulama terutama ulama klasik. Umat
Islam sebagian juga berpendapat bahwa aspek atau ajaran
Islam hanyalah shalat, puasa, zakat, haji dan dzikir.

3 Ibid. ,....
4 Muhaimin, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Kencana,
2005) hal. 2.

Padahal sebagai bjek kajian Metodologi studi Islam, ajaran


Islam melingkup semua aspek yang ada dalam Islam.5
Perlu dipahami pemetaan ajaran islam ke dalam
beberapa kategori, antara lain 2 wilayah ajaran islam yaitu
yang absolut-mutlak (sakral) dan nisby-zhanniy (profan).
Islam sebagai the origin text bersifat mutlak dan absolut,
sedangkan islam yang berupa hasil pemikiran dan praktek
umat islam sehari-hari bersifat relatif-temporal, berubah
sesuai dengan perubahan konteks zaman dan konteks
sosial.
Dengan demikian, yang menjadi objek kajian
Metodologi Studi Islam (MSI) adalah semua hal yang
membicaraka tentang islam, mulai dari level nash atau
teks (wahyu), hasil pemikiran ulama hingga level praktek
yang dilakukan masyarakat islam. Perbedaan-perbedaan
studi islam inilah yang menyebabkan perbedaan dalam
menentukan pendekatan dan metode yang digunakan.
Menurut Harun Nasution, obyek kajian Islam dibagi
menjadi beberapa aspek, setelah melakukan
perkembangan dan pertumbuhan, Studi Islam diarahkan ke
dalam bidang-bidangsesuai dengan pengakuan dari
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun
1982 yang objek kajiannya meliputi:
1. Sumber ajaran Islam: Al-Quran dan Hadis
2. Pemikiran dasar Islam yang meliputi kalam, filsafat,
3.
4.
5.
6.
7.
8.

tasawuf
Fikih dan pranata sosial
Sejarah Kebudayaan Islam
Dakwah
Pendidikan Islam
Bahasa dan Sastra Arab
Pembaruan Pemikiran Islam

5 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta:Raja Grafindo


Persada, 2006) hal. 102-103.

Sejak tahun 1977,Pemikiran Pembaruan Islam


direkomendasikan oleh para pakar untuk dimasukkan ke
dalam setiap bidang dari nomor 1 sampai nomor 7. Jadi,
semua bidang mempunyai pembaruan pemnikiran dalam
Islam.

Agama sebagai obyek studi minimal dapat dilihat dari tiga


sisi:
1. Sebagai doktrin dari tuhan yang sebenarnya bagi
para pemeluknya dan diterima apa adanya.
2. Sebagai gejala budaya, yang berarti seluruh yang
menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan
agama, termasuk pemahaman orang terhadap
doktrin agamanya.
3. Sebagai interaksi sosial, yaitu realitas umat islam.
Bila islam dilihat dari tiga sisi, maka ruang lingkup studi
islam dapat dibatasi pada tiga sisi tersebut. Oleh karena
sisi doktrin merupakan suatu kenyakinan atas kebenaran
teks wahyu, sehingga hal ini tidak memerlukan penelitian
didalamnya.
Islam Sebagai Objek Kajian
Dari fenomena sosial yang terjadi di dalam
masyarakat, Islam memang menarik untuk dijadikan
sebagai objek kajian, namun tetap berpedoman pada dua
sumber utama yakni Alquran dan hadis. Untuk
memecahkan masalah yang timbul dalam masyarakat,
maka seorang muslim mengadakan suatu penafsiran
terhadap Alquran dan hadis sehingga timbullah pemikiran
Islam, baik yang bersifat tekstual maupun kontekstual..
Islam sebagai agama teologis juga merupakan
agama pengetahuan yang melahirkan beragan pemikiran,
lahirnya pemikiran ini memberi indikasi yang kuat bahwa

pada pemahaman dan aktualisasi nilai Islam merupakan


suatu wujud keterlibatan manusia dalam Islam, dan bukan
berarti merubah doktrin esensialnya. Bukankah dalam
Islam telah memotivasi pelibatan akal pikiran untuk
dikenali, diketahui dan diimplementasikan ajarannya (QS.
96;1). Ajarannya yang berbentuk universal hanya bisa
ditangkap dalam bentuk nilai, sehingga ketika ia turun dan
jatuh ke tangan manusia, ia baru menjadi bentuk
(Muhammad Wahyudi Nafis, 7).
Jadi, ketika pemikiran hendak masuk dalam wilayah
Islam untuk dikaji dengan beragam intensi dan motif, sudut
pandang atau perspektif, metodologi dan berbagai
aspeknya, maka dalam proses dan bentuknya kemudian,
Islam dapat dipandang sebagai pemikiran. Islam yang
dimaksud di sini bukan hanya yang terdapat dalam Alquran
dan hadis (tekstuan dan skriptual) tetapi mencakup juga
Islam yang berupa pemahaman dan penjabaran nilainilainya.
Islam berbentuk nilai-nilai, dalam hal ini akal pikiran
dilibatkan dalam proses memahami sejarah pemikiran.
Pemikiran peminat studi Islam memberikan kontribusi
terhadap bangunan pemahaman ajaran Islam yang
melahirkan berbagai jenis pengetahuan Islam (ulumul
Islam) seperti teologis, filsafat Islam, ulumul Quran dan
hadis, ilmu-ilmu syariah dan sebagainya.
Jadi, mengkaji Islam sebagai pemikiran berarti
mempelajari apa yang dipahami oleh pemikir-pemikir yang
telah mengkaji ajaran-ajaran Islam yang melahirkan bentuk
pemahaman atau kajian tertentu.
1. Islam Normatif

Islam normatif adalah islam pada dimensi sakral


yang diakui adanya realitas transendetal yang bersifat
mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau
sering disebut realitas ke-Tuhan-an.
Kajian islam normatif Melahirkan tradisi teks : tafsir,
teologi,
Tafsir
Teologi
Fiqh

fiqh, tasawuf, dan filsafat.


: tradisi penjelasan dan pemaknaan kitab suci
: tradisi pemikiran tentang persoalan ketuhanan
: tradisi pemikiran dalam bidang yurisprudensi

(tata hukum)
Tasawuf : tradisi pemikiran dan laku dalam pendekatan diri
pada Tuhan
Filsafat : tradisi pemikiran dalam bidang hakikat kenyataan
dan kebenaran

2. Islam Historis
Islam historis adalah islam yang tidak bisa dilepaskan
dari sejarahan dan kehidupan manusia, serta telah
terangkai dengan konteks kehidupan pemeluknya. Oleh
karenanya realitas kemanusiaan selalu berada dibawah
realitas ke-Tuhan-an.
Dalam pemahaman kajian Islam historis, tidak ada
konsep atau hukum Islam yang bersifat tetap. Mereka
berprinsip: bahwa pemahaman hukum Islam adalah hasil
pemikiran para ulama yang muncul karena tata sosial
tertentu. Mereka menolak universalitas hukum Islam. Akan
tetapi, ironisnya pada saat yang sama, kaum ini justru
menjadikan konsep kesetaraan gender sebagai
pemahaman yang universal, abadi, dan tidak berubah.
Paham inilah yang dijadikan sebagai parameter dalam
menilai segala jenis hukum Islam, baik dalam hal ibadah,
maupun muamalah.

Dengan munculnya permasalahan yang semakin


kompleks, maka kita yang hidup pada era saat ini harus
berjuang untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran untuk
mengatasi masalah kehidupan yang semakin kompleks
sesuai dengan latar belakang kultur dan sosial yang
melingkupi kita, yaitu Indonesia. Kita perlu pemahaman
kontemporer yang terkait erat dengan sisi-sisi
kemanusiaan-sosial-budaya yang melingkupi kita.
Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu
dapat menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam
itu sendiri. Ketika Islam dilihat dari sudut normatif, maka
Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran
Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan
muamalah. Sedangkan ketika Islam dilihat dari sudut
histories atau sebagaimana yang nampak dalam
masyarakat, maka Islam tampil sebagai sebuah disiplin
ilmu (Islamic Studies).
Kajian islam historis melahirkan tradisi atau disiplin studi
empiris: antropologi agama, sosiologi agama, psikologi
agama dan sebagainya.
Antropologi agama : disiplin yang mempelajari tingkah
laku manusia beragama dalam hubungannya dengan
kebudayaan.
Sosiologi agama

: disiplin yang mempelajari sistem

relasi sosial masyarakat dalam hubungannya dengan


agama.
Psikologi agama

: disiplin yang mempelajari aspek-

aspek kejiwaan manusia dalam hubungannya dengan


agama
C. Tujuan Metodologi Studi Islam
Dalam era moderen ini studi islam menjadi sangat
penting. Karena agama, termasuk islam memerankan

sejumlah peran dan fungsi di masyarakat. Studi islam


sendiri diharapkan dapat melahirkan suatu masyarakat
yang siap hidup bertoleran dalam beragama, sehingga
tidak melahirkan muslim ekstrem yang membalas
kekerasan agama dengan kekerasan agama pula. Secara
detail arah dan tujuan studi Islam sendiri dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa
sebenarnya (hakikat) agama islam itu, dan bagaimana
posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain
dalam kehidupan budaya manusia. Sehubungan dengan
ini, studi islam dilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa
sebenarnya agama islam diturunkan oleh Allah adalah
untuk membimbing dan mengarahkan serta
menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan
agama-agama dan budaya umat dimuka bumi. Agamaagama yang pada mulanya tumbuh dan berkembang
berdasarkan pengalaman dan penggunaan akal serta budi
daya manusia, diarahkan oleh islam menjadi agama
monotheisme yang benar.6
2. Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi
ajaran agama islam yang asli, dan bagaimana penjabaran
dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan
perkembangan budaya dan peradaban islam sepanjang
sejarahnya. Studi ini berasumsi bahwa agama islam adalah
agama fitrah sehingga pokok-pokok isi ajaran agama islam
tentunya sesuai dan cocok dengan fitrah manusia. Fitrah
adalah potensi dasar dan tercipta dalam proses penciptaan
manusia. Potensi fitrah inilah yang menyebabkan manusia
mempunyai kemampuan untuk mengatur dan menyusun
6

sistem kehidupan dan mampu memenuhi kebutuhankebutuhan hidup bersama masyarakatnya. Sebagai agama
fitrah, maka pokok-pokok isi ajaran agama islam akan
tumbuh dan berkembang secara operasional dan bersama
dengan pertumbuhan dan perkembangan fitrah manusia
tersebut.7
3. Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran
agama islam yang tetap abadi dan dinamis, dan
bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarahnya. Studi ini
berdasarkan asumsi bahwa agama islam sebagai agama
samawi terakhir membawa ajaran-ajaran yang bersifat
final, dan mampu memecahkan masalah-masalah
kehidupan manusia, menjawab tantangan, dan
tuntutannya sepanjang zaman. Dalam hal ini sumber dasar
ajaran agama islam akan tetap aktual dan fungsional
terhadap permasalahan hidup dan tantangan serta
tuntutan perkembangan zaman tersebut.8
4. Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan
nilai-nilai dasar ajaran agama islam, dan bagaimana
realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta
mengontrol perkembangan budaya dan beradaban
manusia pada zaman modern ini. Asumsi dari studi ini
adalah bahwa agama islam yang meyakini mempunyai misi
sebagai rahmah li al-alamin tentunya mempunyai nilainilai dan prinsip-prinsip dasar yang bersifat universal, dan
mempunyai daya dan kemampuan untuk membimbing,
mengarahkan, mengontrol, dan mengendalikan faktor-

7
8

faktor potensial dari pertumbuhan dan perkembangan


sistem budaya dan peradaban modern.9

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sesuai dengan pengertiannya metodologi Islam
merupakan suatu cara untuk memahami islam dari
berbagai sudut pandang islam. Studi islam tersebut
bertujuan sebagai usaha untuk mempelajari secara
mendalam tentang islam yang berhubungan dengan
agama islam, dan juga menunjukkan kemana studi islam
tersebut di arahkan, dengan menggunakan arah dan tujuan
secara jelas.
B. Saran

Daftar Pustaka
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu Dan Metodologi Studi Islam. Jakarta: Ciputat
Pers.
Khoiriyah. 2013. Memahami Metodologi Studi Islam. Depok: Teras.
Muhaimin, dkk. 2005. Kawasan Dan Wawasan Studi Islam. Jakarta: Prenada
Media.
Abuddin Nata. 2006. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.