Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua pertiga wilayah
negaranya adalah laut dan lautan dengan 17.508 buah pulau besar maupun kecil,
serta mempunyai garis pantai terpanjang di dunia, yaitu kurang lebih 80.791,42
km. Selain itu, kekayaan alam di dalamnya pun luar biasa banyaknya, terutama
dengan keanekaragaman jenis hewan (fauna), tumbuh-tumbuhan (flora), serta
bahan tambang dan mineral. Apalagi tingkat pencemaran laut indonesia relatif
kecil, yaitu hanya sekitar 0,2 persen bila dibandingkan dengan pencemaran laut
yang terjadi diseluruh dunia.
Rumput laut adalah tumbuhan yang tidak dapat dibedakan antara bagian
akar, batang dan daun. Semua bagian tumbuhannya disebut thallus. Karena
bentuknya seperti rumput terutama yang berukuran besar dan hidupnya di laut,
maka orang awam terutama kaum usahawan sering menyebutnya rumput laut.
Sebutan rumput laut, walaupun

dari segi botanis (ilmu tumbuhan)

tidak tepat, namun karena sudah terlanjur biasa dipergunakan dalam dunia
perdagangan di Indonesia maka istilah tersebut terus dipakai sampai sekarang.
Sebutan rumput laut merupakan terjemahan harfiah dari seaweeds dalam bahasa
Inggris yang diartikan sebagai tumbuhan pengganggu. rumput laut, sebenarnya
adalah algae laut (agar-agar atau ganggang) yang termasuk tumbuhan tingkat
rendah (Thallophyta) di laut. Jadi, tumbuhan ini bukanlah rumput yang tumbuh di
laut karena tidak termasuk rumput (graminae) ataupun tumbuhan pengganggu
yang merupakan tumbuhan tingkat tinggi (Spermatophyta) yang umumnya

tumbuh di darat. Rumput laut juga tidak sama dengan lamun (seagrasses)
karena lamun termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang tumbuh menetap di
perairan laut.
Struktur tubuh rumput laut secara taksonomi rumput laut tergolong dalam
tanaman tingkat rendah yang masuk dalam divisi Thallophyta Berdasarkan
kandungan pigmennya, thallophyta dikelompokkan menjadi empat kelas . Dari
segi morfologi , antara akar , batang dan daun tidak bisa dibedakan .
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas
keanekaragaman hayati laut yang diberikan dosen.
1.3 Manfaat
Sedangkan manfaatnya adalah agar mahasiswa dapat mengetahui tentang
jenis rumput laut serta manfaat dan distribusi rumput laut.

II. PEMBAHSAN

2.1. Definisi Rumput Laut


Rumput laut (atau lebih tepatnya gulma laut) adalah alga makroskopik
yang hidup di perairan. Layaknya alga lainnya, rumput laut tidak memiliki akar,
batang, dan daun sejati. Seluruh bagian rumput laut disebut talus (thallus). Talus
pada rumput laut ada yang tanpa percabangan dan bercabang-cabang dengan sifat
mulai dari lunak, keras (diliputi zat kapur), seperti tulang rawan, hingga
berserabut. Karena tidak memiliki akar, rumput laut hidup dengan menempel pada
substrat (fitobintes) baik pasir, lumpur, kayu, karang mati, maupun kulit kerang.
Rumput laut hidup di perairan laut dangkal hingga kedalaman 200 meter. Daerah
persebarannya mulai dari perairan beriklim tropis, subtropis, hingga perairan
dingin.
2.2. Jenis-jenis Rumput Laut
Indonesia menjadi salah satu wilayah yang kaya akan keanekaragaman
rumput laut dengan spesies mencapai ratusan. Tim Ekspedisi Laut Siboga (tahun
1899 s.d 1900) mampu mengidentifikasi sebanyak 555 jenis rumput laut yang
tumbuh di perairan laut Indonesia (Van Bosse, 1928). Sedangkan di seluruh dunia,
sekurangnya terdapat 10.000 jenis rumput laut.
Berdasar pigmen (zat warna) yang dikandungnya, rumput laut dapat
dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu : Chlorophyceae (ganggang hijau),
Rhodopyceae

(ganggang

merah),

Phaeopyceae

(ganggang

coklat),

dan

Cyanophyceae (ganggang hijau kebiruan). Beberapa jenis rumput laut yang


dikenal dan umum tumbuh di perairan Indonesia antara lain :

Eucheuma spinosum

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Rhodophyta
Kelas

: Rhodophyceae

Ordo

: Gigartinales

Famili

: Solierisceae

Genus

: Eucheuma
Jenis

: Eucheuma spinosum

Eucheuma cottonii

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Rhodophyta
Kelas

: Rhodophyceae

Ordo

: Gigartinales

Famili

: Solierisceae

Genus

: Eucheuma
Jenis

: Eucheuma cottonii

Gracilaria spp.

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Rhodophyta
Kelas

: Rhodophyceae
Ordo

: Gigartinales
Famili

: Gracilariaceae
Genus

: Gracilaria
Spesies

: Gracilaria sp

Gelidium spp.

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Rhodophyta

Kelas

: Rhodophyceae
Ordo

: Gelidiales
Famili

: Gelidiaceae
Genus

: Gelidium
Spesies

: Gelidium sp

Sargassum sp

Kingdom : Plantae
Divisio : Phaeophyta
Class : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Family : Sargassaceae
Genus : Sargassum
Species : Sargassum sp
Dari berbagai jenis rumput laut, yang umumnya telah dibudidayakan adalah
rumput laut dari genus Eucheuma dan Gracilaria.
2.3. Distribusi dan Produktifitas Rumput Laut
Wilayah sebaran jenis rumput laut ekonomis penting di Indonesia, tersebar
diseluruh kepulauan. Untuk rumput laut yang tumbuh alami (wild stock) terdapat
di hampir seluruh perairan dangkal Laut Indonesia yang mempunyai rataan
terumbu karang. Sedangkan sebaran rumput laut komersial yang dibudidayakan
hanya terbatas jenis Eucheuma dan Glacelaria. Jenis Eucheuma dibudidayakan di
laut agak jauh dari sumber air tawar, sedang Glacelaria dapat dibudidayakan

dilaut dekat dengan muara sungai karena untuk jenis ini salinitas yang sesuai
berkisar antara 15 25 per mil. Lokasi budidaya Eucheuma tersebar diperairan
pantai di beberapa Kepulauan Riau, Bangka Belitung,Lampug selatan, Pulau
Panjang (Banten) Pulau Seribu, Karimun Jawa (Jawa tengah) Selatan Madura,
Nusa dua, Nusa Lembongan dan Nusa Penida (Bali) , Lombok barat,Lombok
tengah (Teluk Ekas) Sumbawa, Larantuka Teluk Maoumere, Sumba, Alor,
Kupang, Pulau Rote, Sulawesi utara, Gorontalo, Bualemo, Bone Bolango,
Samaringa (Sulawesi tengah) Sulawesi tenggara, Jeneponto, Takalar,Selayar,
Sinjai dan Pangkep ( Sulawesi selatan), Seram Ambon, dan Aru (Maluku), Biak
serta Sorong. Sementara untuk budidaya Glacelaria dalam tambak tersebar luas di
daerah daerah serang (Banten) Pantai Utara Jawa (Bekasi, Karawang, Subang
Cirebon, Indramayu Pemalang, Brebes, dan Tegal). Sebagian pantai utara Jawa
timur ( Lamongan dan Sidoarjo) untuk derah di luar pulau Jawa hampir di semua
perairan tambak Sulawesi selatan dan Lombok barat serta Sumbawa. Produksi
rumput laut nasional tahun 2010 mencapai 3,082 juta ton, di atas target yang
ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebesar 2,574 juta ton dan
rumput laut sudah menjadi komoditas unggulan dan menjadi penyumbang utama
produksi perikanan budidaya. (KKP,2010) Untuk menopang salah satu produk
unggulan ini, maka hal hal yang harus diketahui adalah pengenalan jenis rumput
laut yang ada di Indonesia serta penanganan sampai menjadi produk setengah jadi
atau rumput laut kering.
Parameter ekologis yang perlu diperhatikan antara lain: arus, kondisi dasar
perairan, kedalaman, kadar garam, kecerahan, ketersediaan bibit dan organisme
pengganggu.

a. A r u s
Gerakan air akan membawa unsur hara menghilangkan kotoran yang
menempel pada thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya fluktuasi
suhu air yang besar. Kecepatan arus yang baik adalah 20-40 cm/detik dengan suhu
berkisar 20-28oC dan pH berkisar 7,3-8,2.
b. D a s a r P e r a i r a n
Dasar perairan yang sesuai adalah berupa pecahan-pecahan karang dan pasir

kasar. Dasar perairan yang hanya terdiri dari pasir menunjukkan pergerakan air
yang sedikit, dan lumpur menunjukkan pergerakan air yang lebih rendah lagi.
Perairan dengan dasar karang ataupun karang mati.
c. K e d a l a m a n
K e d a l a m a n p e r a i r a n s a n g a t t e r g a n t u n g dari metode budi daya yang
akan dipilih. Metode lepas dasar dilakukan pada kedalaman perairan tidak kurang
dari 30-60 cm pada waktu surut terendah, sedangkan metode rakit apung, rawai
dan jalur pada perairan dengan kedalaman sekitar 2-15 m.
d. K a d a r G a r a m
Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhannya adalah berkisar 28-35
ppt. Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar akan menyebabkan
pertumbuhan rumput laut menjadi tidak normal. Untuk memperoleh perairan
dengan kondisi salinitas tersebut harus dihindari lokasi yang berdekatan dengan
muara sungai.
e. K e c e r a h a n
Lokasi budi daya rumput laut sebaiknya pada perairan yang jernih atau
tingkat kecerahan yang tinggi sekitar 2-5 m. Air keruh mengandung lumpur dapat

menghalangi cahaya matahari ke dalam air serta dapat menutupi permukaan


thallus yang dapat menyebabkan thallus membusuk sehingga mudah patah.
f. Ketersediaan Bibit
Bibit rumput laut yang berkualitas sebaiknya tersedia di sekitar lokasi
yang dipilih, baik yang bersumber dari alam maupun dari budi daya. Apabila di
lokasi tersebut tidak tersedia bibit maka sebaiknya didatangkan dari daerah
terdekat

dengan

memperhatikan

kaidah-kaidah

penanganan

bibit

dan

pengangkutan yang baik.


g. Organisme Pengganggu
Lokasi budidaya diusahakan pada perairan yang tidak banyak terdapat
organisme pengganggu misalnya ikan beronang, bintang laut, bulu babi dan penyu
serta tanaman penempel.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa ekologi yang tepat untuk pertumbuhan
rumput laut adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Adanya bibit
Habitat terlindungi dari arus dan ombak yang kuat
Kedalaman pada pasang surut terendah antara 0,30 1 meter.
Keadaan air cukup jernih
Salinitas sekitar 27 30
Jauh dari sumber air tawar
Suhu perairan antara 25 27o c
Terdapat pergerakan air yang baik, sehingga mempermudah transportasi serta
percampuran nutrisi.
Rumput laut hidup di wilayah pesisir dan laut berdampingan dengan

terumbu karang. Biasanya mampu melekat dan hidup di substrat pasir dan karang
mati. Produktivitas rumput laut yang berlebih dapat merusak ekosistem terumbu
karang. Rumput laut memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia. Saat ini
rumput laut menjadi komoditi ekspor utama di Indonesia. Dan menjadi sumber

10

penghasilan bagi masyarakat di pesisir pantai. Disamping itu rumput laut yang
hidup di karang-karang terjal juga mampu melindungi pantai dari abrasi akibat
gelombang laut.
Dalam budidaya rumput laut produktivitas tergantung pada tiga hal yaitu
sifat-sifat inheren dari strain yang dibudidayakan, metoda yang digunakan dan
kondisi lingkungan perairan. Produksi per hektar per tahun bervariasi, dan dicatat
produktivitas yang tinggi hingga 74 ton untuk jenis spinosum dan 104 ton untuk
E.cottonii. Namun produktivitas biasanya berada pada kisaran antara 15 30
ton/ha/thn (Doty, 1987). Mubarak dkk, (1990) mengemukakan bahwa
produktivitas budidaya E. spinosum di Indonesia antara 30 - 37,5 ton/ha/thn.
Kondisi perairan dan bibit serta teknik budidaya juga menentukan produktivitas.
2.4. Manfaat Rumput Laut
Rumput laut merupakan komoditas yang potensial untuk dikembangkan
mengingat nilai gizi yang dikandungnya. Selain itu, rumput laut dapat dijadikan
sebagai bahan makanan seperti agar-agar, sayuran, kue dan menghasilkan bahan
algin, karaginan dan fluseran yang digunakan dalam industri farmasi, kosmetik,
tekstil, dan lain sebagainya.
Rumput laut juga bermanfaat untuk kesehatan, diantaranya:
1. Mencegah kanker , Mengkonsumsi rumput laut yang kaya akan kandungan
serat, selenium dan seng dapat mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen
yang terlalu tinggi dapat mendorong timbulnya kanker. Penelitian yang
dilakukan terhadap penderita kanker di Amerika menunjukkan bahwa wanita
yang melakukan diet ketat dengan mengkonsumsi serat tinggi dan mengurangi
asupan lemak dari daging dan susu mempunyai level estrogen yang rendah.

11

Hal ini didukung oleh hasil penelitian Harvard School of Public Health
Amerika telah membuktikan bahwa pola konsumsi wanita Jepang yang selalu
menambahkan rumput laut dalam menu makannya, menyebabkan wanita
premenopause di Jepang mempunyai peluang tiga kali lebih kecil terkena
kanker payudara dibandingkan dengan wanita Amerika.
2. Mencegah penyakit stroke , Mengkonsumsi rumput laut dapat menyerap
kelebihan garam pada tubuh sehingga dapat mengurangi tekanan darah tinggi
pada seseorang.
3. Mencegah terjadinya penuaan dini dan menjaga kesehatan dan kehalusan
kulit, Kandungan vitamin, mineral, asam amino dan enzym dalam rumput laut
sangat potensial sebagai anti oksidan yang berperan dalam penyembuhan dan
peremajaan kulit. Vitamin A (beta carotene) dan vitamin C bekerja sama
dalam memelihara kolagen, sedangkan kandungan protein dari rumput laut
penting untuk membentuk jaringan baru pada kulit.
4. Mencegah terjadinya penurunan kecerdasan, kandungan iodium pada rumput
laut yang sangat tinggi dapat mengatasi defisiensi iodium pada tubuh yang
berdampak pada penurunan kecerdasan seseorang.
5. Sebagai makanan diet, serat pada rumput laut bersifat mengenyangkan dan
kandungan karbohidratnya sukar dicerna sehingga akan menyebabkan rasa
kenyang lebih lama. Disamping itu, serat pada rumput laut juga dapat
membantu

memperlancar

proses

metabolisme

lemak

sehingga

akan

mengurangi resiko obesitas, menurunkan kolesterol darah dan gula darah.


6. Sebagai anti oksidan dan meningkatkan kekebalan tubuh, kandungan klorofil
dan vitamin C pada rumput laut (ganggang hijau) berfungsi sebagai anti

12

oksidan sehingga dapat membantu membersihkan tubuh dari reaksi radikal


bebas yang sangat berbahaya sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan
tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang kuat akan dapat menguruangi gejala
alergi.
7. Mencegah gejala osteoporosis, rumput laut mengandung kalsium sepuluh kali
lebih tinggi dibandingkan dengan susu, sehingga rumput laut sangat tepat
dikonsumsi untuk mengurangi dan mencegah gejala osteoporosis.
8. Mencegah penyakit gangguan pencernaan, rumput laut juga membantu
pengobatan tukak lambung, radang usus besar, susah buang air besar dan
gangguan pencernaan lainnya.
9. Lain lain, disamping sebagai bahan makanan bergizi, rumput laut telah banyak
digunakan sebagai bahan pembuatan obat-obatan dan suplemen makanan serta
difortifikasi ke produk pangan untuk meningkatkan nilai jual produk tersebut.
Jenis rumput laut yang banyak digunakan untuk pembuatan obat adalah alga
coklat khususnya sargasum dan turbinaria. Pengolahan rumput laut jenis
tersebut menghasilkan ekstrak berupa senyawa natrium alginat. Senyawa
alginat inilah yang dimanfaatkan dalam pembuatan obat antibakteri, anti
tumor, penurunan darah tinggi dan mengatasi gangguan kelenjar.
2.5. Ancaman Utama Ekosistem Rumput Laut
Ekosistem rumput laut memiliki beberapa factor yang menjadi ancaman
seperti Pengambilan rumput laut secara berlebih dari alam lokasi budidaya yang
rawan terjadi pencurian, sabotase, konflik kepentingan dan adanya jalur pelayaran
disekitar ekosistem rumput laut tersebut.

13

Faktor alam juga dapat menjadi ancaman dalam pengelolaan ekosisem


rumput laut, seperti hilangnya akses terhadap cahaya matahari. Saat kondisi
perairan semakin keruh dan dalam akibat ulah manusia serta kenaikan air laut,
hamparan rumput laut semakin sulit mendapatkan akses terhadap sinar matahari
yang penting bagi pertumbuhannya. anomali cuacah yang mengakibatkan
perubahan suhu dan salinitas air laut yang berdampak pada kelangsungan hidup
rumput laut.
2.6. Kendala Pengelolaan Ekosistem Rumput Laut
Kurangnya pengetahuan para petani rumput laut tentang mengelola
ekosistem rumput laut secara baik dan benar sehingga berdampak pada kerusakan
ekosistem. Keadaaan wilayah yang kurang mendukung dapat berpengaruh
terhadap ekosistem, seperti pencemaran disebabkan oleh bakteri yang
mengakibatkan air menjadi keruh sehingga menghalangi proses fotosintesis pada
rumput laut. Dan pencemaran yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.
2.7. Pencegahan Kerusakan Ekosistem Rumput Laut

Melakukan penebaran bibit rumput laut


Membuat tempat penangkaran untuk menjaga populasi rumput laut
Menindak secara hukum orang-orang yang merusak ekosistem. Agar orang

tersebut tidak mengulaingi perbuatan yang merugikan ekosistem tersebut


Memberikan pengetahuan kepada para petani rumput laut tentang
pentingnya menjaga kelangsungan ekosistem rumput laut tersebut agar
dapat dikelola secara baik dan benar.

14

III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Rumput laut (atau lebih tepatnya gulma laut) adalah alga makroskopik
yang hidup di perairan. Layaknya alga lainnya, rumput laut tidak memiliki akar,
batang, dan daun sejati.
Rumput

laut

dapat

dikelompokkan

menjadi

empat

jenis,

yaitu

Chlorophyceae (ganggang hijau), Rhodopyceae (ganggang merah), Phaeopyceae


(ganggang coklat), dan Cyanophyceae (ganggang hijau kebiruan). jenis rumput
laut yang dikenal dan umum tumbuh di perairan Indonesia antara lain Eucheuma
spinosum, Eucheuma muricatum, Eucheuma cottonii, Gracilaria spp, Gelidium
spp, argassum spp.
Rumput laut hidup dengan cara menyerap zat makanan dari perairan dan
melakukan fotosintesis. Jadi pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika
dan kimia perairan seperti gerakan air, suhu, kadar garam, nitrat, dan fosfat serta
pencahayaan matahari.
Saat ini rumput laut menjadi komoditi ekspor utama di Indonesia. Dan
menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat di pesisir pantai. Dalam budidaya
rumput laut produktivitas tergantung pada tiga hal yaitu sifat-sifat inheren dari
strain yang dibudidayakan, metoda yang digunakan dan kondisi lingkungan
perairan.

15

DAFTAR PUSTAKA

Almaedah.

2014, Jenis dan manfaat rumput laut di


http://alamendah.org (diakses tanggal 14 Desember 2014)

Indonesia.

Anonim. 2011, Jenis Rumput Laut. www.seaweed.ie (diakses tanggal 14


Desember 2014)
Anonim. 2013, Atabase of information on algae. www.algaebase.org (diakses
tanggal 14 Desember 2014)
Anonim. 2013, Biologi rumput laut, https://www.scribd.com (diakses tanggal 14
Desember 2014)
Anonim. 2013, Menyelamatkan ekosistem rumput laut dunia www.hijauku.com
(diakses tanggal 14 Desember 2014)
Arianto. 2011, Mengenal rumput laut, www.dwiyonoarianto.com (diakses tanggal
14 Desember 2014)

16