Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Banyak kalangan yang melihat perkembangan politik, sosial, ekonomi dan
budaya di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Bahkan, kekuatiran itu menjadi
semakin nyata ketika menjelajah pada apa yang dialami oleh setiap warganegara,
yakni memudarnya wawasan kebangsaan. Apa yang lebih menyedihkan lagi adalah
bilamana kita kehilangan wawasan tentang makna hakekat bangsa dan kebangsaan
yang akan mendorong terjadinya disorientasi dan perpecahan.
Pandangan di atas sungguh wajar dan tidak mengada-ada. Krisis yang dialami
oleh Indonesia ini menjadi sangat multidimensional yang saling mengait. Krisis
ekonomi yang tidak kunjung henti berdampak pada krisis sosial dan politik, yang
pada perkembangannya justru menyulitkan upaya pemulihan ekonomi. Konflik
horizontal dan vertikal yang terjadi dalam kehidupan sosial merupakan salah satu
akibat dari semua krisis yang terjadi, yang tentu akan melahirkan ancaman disintegrasi
bangsa. Apalagi bila melihat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural
seperti beragamnya suku, budaya daerah, agama, dan berbagai aspek politik lainnya, serta
kondisi geografis negara kepulauan yang tersebar. Semua ini mengandung potensi konflik
(latent sosial conflict) yang dapat merugikan dan mengganggu persatuan dan kesatuan
bangsa (Hadi, 2002).
Dewasa ini, dampak krisis multidimensional ini telah memperlihatkan tandatanda awal munculnya krisis kepercayaan diri (self-confidence) dan rasa hormat diri
(self-esteem) sebagai bangsa. Krisis kepercayaan sebagai bangsa dapat berupa
keraguan terhadap kemampuan diri sebagai bangsa untuk mengatasi persoalanpersoalan mendasar yang terus-menerus datang, seolah-olah tidak ada habis-habisnya
mendera Indonesia. Aspirasi politik untuk merdeka di berbagai daerah, misalnya,
adalah salah satu manifestasi wujud krisis kepercayaan diri sebagai satu bangsa.
Tantangan bagi setiap negara dalam era globalisasi dimana hampir tidak ada
batasan dan tidak ada kendala dalam hal akses teknologi dan informasi menyebabkan
bergesernya nilai-nilai yang dianut oleh suatu bangsa. Informasi tidak terbatasa

menyebabkan suatu perubahan hampir dalam segala aspek kehidupan sosial dan
bernegara, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan sendi-sendi kehidupan
yang lainnya.
Pergeseran nilai yang dianut suatu bangsa akan menciptakan suatu perubahan,
dan perubahan menjadi mutlak diperlukan atau merupakan suatu keniscayaan bagi
setiap bangsa. Yang membedakan suatu bangsa menjadi bangsa yang maju dan bangsa
yang tertinggal/terbelakang adalah bagaimana respon atau sikap bangsa tersebut
menghadapi perubahan.Indonesia sebagai bangsa yang besar juga tidak luput
menghadapi tantangan serupa. Pergeseran nilai-nilai di kehidupan masyarakat bisa
dilihat misalnya pada awal-awal tahun 1998 dimana kebangkitan reformasi dimulai,
terlihat, penyampaian aspirasi sering dilakukan di jalanan, anggota dewan yang
merupakan representasi rakyat ketika harus bersidang tidak lagi menjadiyes
man dalam pengambilan keputusan. Perubahan juga terlihat dalam pemilihan umum,
baik pemilihan presiden/wakil presiden atau pemilu kepala daerah. Disinilah
pentingnya bagi setiap orang untuk melakukan review kembali arti pentingnya
wawasan kebangsaan.
B. Perumusan Masalah
Bagaimana cara mengaktualisasikan wawasan kebangsaan kedalam sendi
kehidupan bernegara, sehingga menjadi bangsa yang mandiri dengan semua potensi
yang ada.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Wawasan Kebangsaan
Pengertian atau istilah dari wawasan kebangsaan bila dilihat dari bentukan
katanya terdiri dari dua kata yaitu wawasan dan kebangsaan. Secara etimologi
istilah wawasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) dalam berarti hasil
mewawas, tinjauan, pandangan dan dapat juga berarti konsepsi cara pandang.
Kebangsaan menurut Utomo dkk (2010: 35) berasal dari bangsa dapat mengandung arti
ciri-ciri yang menandai golongan bangsa tertentu dan dapat pula mengandung arti
kesadaran diri sebagai warga negara. Dengan kata lain, kebangsaan menunjukkan
pengertian kesadaran dan sikap yang memandang dirinya sebagai suatu kelompok
bangsa yang sama dengan keterikatan sosio-kultural yang disepakati bersama.
Keterikatan ini menjadi titik tolak untuk menyepakati tindakan yang akan dilakukan
dalam upaya mewujudkan cita-cita bersama.
Berbagai penafsiran terhadap wawasan kebangsaan, pada hakikatnya adalah
sama, yaitu tentang kesamaan cara pandang ke dalam (inward looking) dan cara
pandang ke luar (outward looking) sebuah bangsa terhadap berbagai permasalahannya.
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Utomo, dkk (2010: 34), bahwa wawasan
kebangsaan adalah cara seseorang atau sekelompok orang melihat keberadaan dirinya
yang dikaitkan dengan nilai-nilai dan spirit kebangsaan dalam suatu negara.
Permasalahan tersebut terutama dalam di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya,
ideologi, dan pertahanan-keamanan.
Sejarah telah membuktikan, bahwa jatuh dan bangunnya sebuah bangsa sangat
tergantung kepada konsep wawasan kebangsaan yang mereka anut serta ideologi yang
mendukungnya. Semua itu berkaitan dengan konsep sebuah bangsa dalam
mensejahterakan

rakyatnya,

dan

tergantung

kepada

kemampuannya

menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan yang selalu terjadi.

dalam

2.2. Nilai Dasar Wawasan Kebangsaan


Nilai-nilai dasar wawasan kebangsaan yang terwujud dalam persatuan dan
kesatuan bangsa menurut Utomo dkk (2010: 37-39) memiliki enam dimensi manusia
yang mendasar, sebagai berikut.
a. Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa.
b. Tekad bersama untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan
c.
d.
e.
f.

bersatu.
Cinta akan tanah air dan bangsa.
Demokrasi atau kedaulatan rakyat.
Kesetiakawanan sosial.
Cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Berdasarkan nilai-nilai dasar itu, wahana kehidupan religius diwujudkan dengan

memeluk agama dan menganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang
dilindungi oleh negara dan sewajarnya mewarnai hidup kebangsaan. Wawasan
kebangsaan membentuk manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia
seluruhnya sebagai obyek dan subyek pembangunan nasional menuju masyarakat adil
dan makmur berdasarkan falsafah hidup Pancasila.
Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia menunjukkan bahwa
wawasan kebangsaan menempatkan manusia pada pusat hidup bangsa. Hal ini berarti
bahwa dalam persatuan dan kesatuan bangsa masing-masing pribadi harus dihormati.
Bahkan lebih dari itu, wawasan kebangsaan menegaskan bahwa manusia seutuhnya
adalah pribadi atau subyekdari semua usaha pembangunan bangsa. Semua usaha
pembangunan dalam segala bidang kehidupan berbangsa bertujuan agar masingmasing pribadi bangsa dapat menjalankan hidupnya secara bertanggung jawab demi
persatuan dan kesatuan bangsa.
Tekad bersama untuk berkehidupan kebangsaan yang merdeka, maju, dan
mandiri akan berhasil dengan persatuan dan kesatuan bangsa yang kukuh dan
berjaya. Tanpa itu, bangsa Indonesia dengan gampang terpecah-belah dan tidak akan
mampu bertahan dan beradaptasi dengan berhasil dalam zaman yang berubah dengan
cepat.
Cinta akan tanah air dan bangsa menegaskan nilai sosial yang mendasar.
Wawasan kebangsaan menempatkan penghargaan tinggi atas nilai-nilai kebersamaan

yang melindungi setiap warga dan menyediakan tempat untuk berkembang sesuai
dengan potensi masing-masing. Hal ini juga sekaligus mengungkapkan hormat
terhadap solidaritas manusia yang mengakui hak dan kewajiban asasi tanpa
diskriminasi atas dasar apapun.
Nasionalisme atau kebangsaan selalu berkaitan erat dengan demokrasi, karena
tanpa demokrasi, kebangsaan akan mati bahkan merosot menjadi fasisme/nazisme
atau berbagai bentuk isme berpikiran sempit. Hal ini bukan saja berbahaya bagi
kalangan minoritas dalam bangsa yang bersangkutan, tetapi juga berbahaya bagi
bangsa lain dan kemanusiaan umumnya.
Salah satu ciri khas negara demokratis yang membedakannya dari negara
yang totaliter adalah toleransi. Wawasan kebangsaan Indonesia menegaskan bahwa
demokrasi tidak sama dengan soal menang atau kalah, mayoritas atau minoritas.
Dalam demokrasi kita segala sesuatu dapat diputuskan dengan cara musyawarah dan
tidak mengutamakan pengambilan keputusan dengan suara terbanyak. Hal yang sama
nampak dalam kerukunan hidup beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
2.3. Unsur Wawasan Kebangsaan
Dalam membicarakan wawasan kebangsaan, terdapat tiga unsur yang penting
dan perlu dipahami, yaitu rasa kebangsaan, paham kebangsaan, dan semangat
kebangsaan.
Setiap orang tentu memiliki rasa kebangsaan dan memiliki wawasan
kebangsaan dalam perasaan atau pikiran, paling tidak di dalam hati nuraninya. Dalam
realitas, rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat dirasakan tetapi sulit
dipahami. Namun ada getaran atau resonansi dan pikiran ketika rasa kebangsaan
tersentuh. Rasa kebangsaan bisa timbul danterpendam secara berbeda dari orang per
orang dengan naluri kejuangannya masing-masing, tetapi bisa juga timbul dalam
kelompok yang berpotensi dasyat luar biasa kekuatannya.
Menurut Utomo dkk (2010: 39), rasa kebangsaan adalah suatu perasaan seluruh
komponen bangsa terhadap kondisi bangsa Indonesia dalam perjalanan menuju masyarakat
adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Wawasan

kebangsaan

mengandung

pula

tuntutan

suatu

bangsa

untuk mewujudkan jati diri, serta mengembangkan perilaku sebagai bangsa


yang meyakini nilai-nilai budayanya, yang lahir dan tumbuh sebagai penjelmaan
kepribadiannya.
Substansi dari paham kebangsaan adalah pengertian tentang bangsa, meliputi apa
bangsa itu dan bagaimana mewujudkan masa depannya. Paham kebangsaan
merupakan pemahaman rakyat dan masyarakat terhadap bangsa dan negara Indonesia
yang diploklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Pemahaman
tersebut harus sama pada setiap anak bangsa meskipun berbeda dalam latar
belakang pendidikan,

pengalaman

serta

jabatan.

Uraian

rinci

tentang

paham

kebangsaan Indonesia, sebagai berikut :


a. Pertama, Atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa pada tanggal 17 Agustus
1945, bersamaan dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia lahirlah
sebuah bangsa yaitu bangsa Indonesia, yang terdiri dari bermacam-macam
suku, budaya, etnis dan agama. Bangsa ini lahir dari buah persatuan bangsa
yang solid dan kesediaan saling berkorban dalam waktu yang panjang dari
para pendahulu kita. Bangsa Indonesia lahir tidak didasarkan sentimen atau
semangat primordialisme agama, maupun etnis, melainkan didasarkan pada
persamaan nasib untuk menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan terhormat.
b. Kedua, bagaimana mewujudkan masa depan bangsa ? Pembukaan UndangUndang Dasar 1945 telah mengamanatkan bahwa perjuangan bangsa
Indonesia telah mengantarkan rakyat Indonesia menuju suatu negara yang
merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Uraian tersebut adalah tujuan
akhir bangsa Indonesia yaitu mewujudkan sebuah masyarakat yang adil dan
makmur.
Untuk mewujudkan masa depan bangsa Indonesia menuju ke masyarakat yang adil
dan makmur, pemerintah telah melakukan upaya-upaya

melalui program

pembangunan nasional baik fisik maupun non fisik. Sasaran pembangunan yang
bersifat fisik ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan yang
bersifat nonfisik diarahkan kepada pembangunan watak dan karakter bangsa yang
mengarah kepada warga negara yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha esa dengan

mengedepankan sifat kejujuran, kebenaran dan keadilan dalam rangka pembangunan


manusia Indonesia seutuhnya.
Semangat kebangsaan atau yang biasa disebut dengan nasionalisme
merupakan perpaduan atau sinergi dari rasa kebangsaan dan paham kebangsaan yang
terpancar dari kualitas dan ketangguhan bangsa tersebut dalam menghadapi berbagai
ancaman. Dari semangat kebangsaan akan mengalir rasa kesetiakawanan sosial,
semangat rela berkorban, dan menumbuhkan jiwa patriotisme.
Motivasi tersebut bagi rakyat Indonesia harus dibentuk, dipelihara, dan
dimantapkan sehingga memiliki semangat rela berkorban bagi NKRI. Kita sadar
betul bahwa kondisi bangsa yang pluralisme atau kebhinekaan memerlukan suatu
pengelolaan yang baik, sehingga tidak menjadi ancaman bagi keutuhan dan kesatuan
bangsa.
Semangat

kebangsaan

diharapkan

mampu

ditransformasikan

kepada

masyarakat sebagai perekat kesatuan. Dengan semangat kebangsaan yang tinggi,


kekhawatiran akan terjadinya ancaman terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa akan
dapat dielakkan. Dari semangat kebangsaan akan mengalir rasa kesetiakawanan
sosial, semangat rela berkorban dan dapat menumbuhkan jiwa patriotisme. Ketiga hal
tersebut satu sama lain berkaitan dan saling mempengaruhi.
B. Kondisi Saat Ini
Salah satu efek buruk dari borderless world di era keterbukaan dan globalisasi
dimana tidak ada batasan jelas dalam interaksi sosial dan kehidupan bernegara, yaitu
adanya fenomena yang secara jelas mengindikasikan sebagai bentuk kemerosotan moral,
penghayatan dan degradasi aktualisasi wawasan kebangsaan. Meningkatnya semangat
sempit primordialisme, termasuk menebalnya ego kedaerahan seiring penerapan
otonomi daerah serta meningkatnya ancaman separatisme, merupakan contoh nyata
yang perlu diangkat. Penurunan rasa nasionalisme dan patriotisme disinyalir Letkol.
Inf. Dwi Wahyu W., yang merupakan Dandim 0714 Salatiga dalam acara sosialisasi
wawasan kebangsaan pada 15 Juli 2008 sebagai Kondisi bangsa secara keseluruhan
saat ini terdapat penurunan nasionalisme dan rasa memiliki bangsa. Indikasi itu

nampak dengan mementingkan kelompok, dengan mengesampingkan kepentingan


negara.
C. Kondisi yang Diharapkan
Dari kondisi saat ini seperti yang sudah digambarkan di atas, sudah waktunya
dilakukan suatu rekonstruksi seperti apa wajah Negara Kesatuan Republik Indonesia
masa depan. Kehidupan berbangsa merupakan kehidupan yang dinamis dimana terjadi
interaksi yang kompleks antar warga negara atau interaksi bernegara dengan negara
lain. Tatakrama dan bersikap didunia internasional tentulah sangat berpengaruh
terhadap kehidupan bernegara. Globalisasi tidak perlu kita takuti, dan kita tidak perlu
antipati dengan tatanan global yang begitu dinamis.
Wawasan kebangsaan bukanlah sesuatu yang bersifat statis dan tak berubah
dari waktu ke waktu, sebaliknya ia bersifat dinamis. Namun bukan berarti juga
wawasan kebangsaan tersebut dapat diubah-ubah sekehendaknya. Seperti halnya
membangun suatu rumah tangga, ada bagian yang tidak mudah untuk diubah dan ada
bagian yang relatif mudah berubah (Yudhoyono, 2004).
Artinya bahwa secara prinsip, Indonesia berlandaskan pada Pancasila sebagai
Negara Kesatuan. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila semestinya tetap
dilestarikan, sedangkan keanekaragaman ras, suku, agama dan bahasa daerah merupakan
khasanah budaya merupakan unsur pemersatu bangsa yang sangat dinamis.
Dengan demikian apa yang sudah dirintis oleh nenek moyang bangsa Indonesia dari
masa kejayaan Kerajaan Majapahit perlu dipertahankan dan dilestarikan oleh seluruh
rakyat Indonesia dalam kerangka NKRI dengan sesanti Bhineka Tunggal Ika.
Dengan jiwa dan rasa kebangsaan kita yang kuat dan jati diri kita yang kita
pegang teguh niscaya Indonesia masa depan adalah Indonesia yang cemerlang. Tetapi
untuk mencapai tujuan yang demikian itu diperlukan kerja keras dan pemahaman yang
benar tentang wawasan kebangsaan, seperti dikatakan oleh Yudhoyono (2004)
bahwa:
Pemahaman wawasan kebangsaan yang benar merupakan syarat keharusan untuk
dapat mengelola perubahan agar mampu menghasilkan bangun bangsa dan negara

seperti yang kita cita-citakan bersama. Perubahanlingkungan internal dan eksternal


yang dihadapi suatu bangsa senantiasa memiliki aspek positif maupun negatif. Ada
pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan oleh adanya perubahan itu.
Tanpa

adanyapemahaman

wawasan

kebangsaan

yang

benar,

perubahan

lingkungan tersebut akan sulit dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi


kemajuan bangsa dan negara.
Upaya

meningkatkan

wawasan

kebangsaan

dapat

dilakukan

melalui

pendidikan yang berkelanjutan (Santoso, 2008). Wawasan kebangsaan masyarakat


yang tinggi sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia apabila berkaca pada negaranegara maju seperti Amerika, Inggris, Korea, Singapura maupun Jepang. Hal ini
dapat dilihat bagaimana cara bekerja mereka yang sangat tinggi kinerjanya
dibandingkan dengan bangsa Indonesia.
Apabila pendidikan kebangsaan dilakukan secara teratur dan berlanjut maka akan
nampak hasilnya beberapa tahun mendatang dengan indikasi kinerja bangsa
Indonesia yang sejajar dengan bangsa lain seperti adanya transparansi, tidak adanya
kolusi, korupsi dan nepotisme. Seperti yang sekarang terjadi masih dapat dilihat di
media cetak dan elektronik yang mengemuka dengan adanya kasus-kasus korupsi,
kekerasan masyarakat dan berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat.
Apabila wawasan kebangsaan sudah tinggi maka hal ini akan tidak terjadi karena
adanya rasa nasionalisme yang tinggi, budaya malu, rasa harga diri yang tinggi,
dedikasi yang tinggi serta semangat kerja yang tinggi.
Pendidikan wawasan kebangsaan tidak boleh terputus karena akan tidak
berlanjutnya kelangsungan sistem, metode dan doktrin yang telah disusun dalam
bentuk kurikulum pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar,
sekolah menengah, sekolah lanjutan, sampai perguruan tinggi. Kemudian dilanjutkan di
tempat kerja maupun di lingkungan pemukiman. Apabila hal ini dilakukan maka tidak ada
celah-celah kekosongan dalam pendidikan wawasan kebangsaan sehingga pendidikan
wawasan kebangsaan selalu dilakukan secara terencana, bertahap dan berlanjut
secara otomatis.
Mengingat wawasan kebangsaan masyarakat saat ini rendah dengan berbagai
indikasi maka perlu upaya peningkatan wawasan kebangsaan masyarakat melalui

pendidikan kebangsaan. Apabila hal ini dilakukan maka akan meningkatkan kualitas
kebangsaan masyarakat yang tercermin dengan berbagai hal seperti etos kerja,
semangat kerja, tidak adanya pelanggran hukum, tidak ada korupsi, kolusi, dan
nepotisme.
Pemerintah merupakan subyek yang dominan dalam menyelenggarakan pendidikan
kebangsaan guna meningkatkan wawasan kebangsaan masyarakat, baik pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah dengan melaksanakan perencanaan pendidikan,
pengorganisasian dalam pendidikan kebangsaan, mengatur kegiatan dalam pendidikan
kebangsaan serta mengawasi jalannya pendidikan kebangsaan masyarakat.
Masyarakat sebagai obyek perlu menyiapkan diri dan tidak perlu resistensi
terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah karena ini adalah untuk kepentingan
masyarakat dan bangsa Indonesia mendatang dalam rangka membentuk nasionalisme
dan pembangunan karakter bangsa Indonesia. Hal ini sangat penting agar supaya
dipahami oleh bangsa Indonesia.
Metode yang digunakan adalah metode pendidikan, penataran dan pelatihan di
masyarakat baik di lingkungan pendidikan, di lingkungan kerja, maupun lingkungan
pemukiman. Dengan metode ini maka diharapkan masyarakat akan mempunyai
wawasan kebangsaan yang tinggi sehingga timbul kesadaran untuk berbangsa dan
bernegara yang lebih baik dari sekarang. Metode ini perlu pula didukung oleh sarana
dan prasarasana yang memadai.

BAB III
PENUTUP

Paham kebangsaan berkembang dari waktu ke waktu, dan berbeda dalam satu
lingkungan masyarakat dengan lingkungan lainnya. Dalam sejarah bangsa-bangsa
terlihat betapa banyak paham yang melandaskan diri pada kebangsaan. Ada
pendekatan ras atau etnik seperti Nasional-sosialisme (Nazisme) di Jerman, atas
dasar agama seperti dipecahnya India dengan Pakistan, atas dasar ras dan agama
seperti Israel-Yahudi, dan konsep Melayu-Islam di Malaysia, atas dasar ideologi atau
atas dasar geografi atau paham geopolitik.
Akan tetapi pengertian atau istilah dari wawasan kebangsaan bila dilihat dari
bentukan katanya terdiri dari dua kata yaitu wawasan dan kebangsaan. Secara
etimologi istilah wawasan berarti hasil mewawas, tinjauan, pandangan dan dapat juga
berarti konsepsi cara pandang. Wawasan kebangsaan sangat identik dengan wawasan
nusantara yaitu cara pandang bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional yang
mencakup perwujudan kepulauan nusantara sebagaikesatuan politik, sosial budaya,
ekonomi dan pertahanan keamanan, serta mengenai diri dan lingkungan berdasarkan
ide nasional yang dilandasi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sebagai
aspirasi suatu bangsa yang merdeka,berdaulat, dan bermartabat serta dijiwai tata
hidup dan tindak kebijaksanaan dalam mencapai tujuan nasional sehingga
kesejahteraan dapat diwujudkan bagi bangsa Indonesia dan bisa ikut dalam setiap
kegiatan ketertiban dunia.
Revitalisasi pemahaman wawasan kebangsaan bukanlah suatu pekerjaan
mudah, akan tetapi membutuhkan kerja keras dan energi yang tidak sedikit supaya
mewujudkan hasil yang optimal. Karena keberhasilan yang diinginkan dipengaruhi
oleh banyak aspek kehidupan, misalnya penegakan HAM, proses demokrasi,
globalisasi, keamanan, kepentingan nasional, dan lain-lain.
Pemahaman wawasan kebangsaan yang benar merupakan syarat keharusan
untuk dapat mengelola perubahan agar mampu menghasilkan bangun bangsa dan
negara seperti yang kita cita-citakan bersama. Perubahan lingkungan internal dan
eksternal yang dihadapi suatu bangsa senantiasa memiliki aspek positif maupun
negatif. Ada pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan oleh adanya

perubahan itu. Tanpa adanya pemahaman wawasan kebangsaan yang benar,


perubahan lingkungan tersebut akan sulit dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya
bagi kemajuan bangsa dan negara. Perubahan merupakan suatu keniscayaan bagi
setiap bangsa. Namun bagaimana bangsa tersebut menghadapi perubahan, di sanalah
letak perbedaan bangsa yang maju dengan bangsa yang terus tertinggal dan
terbelakang.
Untuk itu mari kita rapatkan barisan, bergandengan tangan menyongsong
masa depan Indonesia yang lebih baik. Mari kita ciptakan sejarah baru yang lebih
cemerlang untuk Indonesia tercinta dengan segala modalitas yang kita miliki dan
dengan segala keterbatasan yang ada. Kita bangun Indonesia yang mandiri, maju,
modern dengan tetap memegang teguh nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam
Pancasila.
===========================================================
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Basari,

Hasan

dan

Dahm,

Bernhard.

1987. Sukarno

dan

Perjuangan

Kemerdekaan. Jakarta : LP3ES.


Darmono, Bambang. 2010. Pembekalan kepada Perwira Siswa Sesko Ketiga Angkatan.
Graha Widya Dirgantara Seskoau Lembang Bandung Barat. Juni 2010.
Hargo, Dody Usodo. 2010. 198 Pemahaman Wawasan Nusantara sebagai Wawasan
Kebangsaan Indonesia dalam Rangka Membangun Ketahanan Nasional. Materi Kuliah
Umum. Universitas Nusa Cendana Kupang. Tanggal 30 Januari 2010.
Kartasasmita,

Ginandjar.

1994.

Pembangunan

Nasional

dan

Wawasan

Kebangsaan. Makalah. Jakarta: Sarasehan Nasional Wawasan Kebangsaan tanggal 9


Mei 1994.
Muladi

dan

Sujatno, Adi.

2009. Kepemimpinan

Nasional. Jakarta: Wahana

Semesta Intermedia.
Rahmadhany, R. 2007. Wawasan Kebangsaan Perekat Persatuan Pemuda Kepri. Di situs
Gerbang Informasi Kota Batam. Selasa, 27 Pebruari 2007.

Santoso, Bibit. 2008. Upaya Meningkatkan Wawasan Kebangsaan melalui


Pendidikan. http://www.madina-sk.com/index2.php?option=com_
content&do_pdf=1&id=5175. Diakses tanggal 24 Agustus 2010.
Syam, Mohammad Noor. 2008. Wawasan Kebangsaan dan Politik (Dalam Bidang
Kependidikan Nasional). Makalah. Disajikan dalam Training Kader Trainer HMI
Cabang Malang, 16 20 Januari 2008.
Yudhoyono, Susilo Bambang. 2004. Menuju Negara Kebangsaan Modern. Wawasan
Kebangsaan dan Indonesia Masa Depan. Jakarta: Brighten Press.
Wahyu, Dwi W. 2008. Wawasan Kebangsaan
Menurun. http://www.wawasandigital.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=24444&Itemid=48. Diakses tanggal 24
Agustus 2010.

Anda mungkin juga menyukai