Anda di halaman 1dari 7

TUGAS ZOONOSIS

PENGENDALIAN, PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN


BRUCELLOSIS

DISUSUN OLEH :
BAHTIAR
O111 13 003

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

PENGENDALIAN, PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN BRUCELLOSIS

A. Pencegahan
Usaha-usaha pencegahan terutama ditujukan kepada tindakan sanitasi dan tatalaksana.
Tindakan sanitasi dilakukan : a) Sisasisa abortus yang bersifat infeksius disucihamakan dengan
membakar fetus dan plasenta dan vagina yang mengeluarkan cairan harus diirigasi
(disinfektan/antibiotik) selama 1 minggu, disinfektan yang dapat dipakai yaitu phenol, kresol,
ammonium, kuaterner, biocin dan lisol; b) Hindarkan perkawinan antara pejantan dengan betina
yang mengalami keluron. Apabila pejantan mengawini betina tersebut, maka penis dan preputium
disucihamakan, anak yang lahir dari induk penderita brucellosis sebaiknya diberi susu dari ternak
lain yang sehat. Kandang ternak penderita dan peralatannya harus disucihamakan serta ternak
pengganti jangan segera dimasukkan (Direktorat Kesehatan Hewan, 2012).
Ternak pengganti yang tidak punya sertifikat bebas brucellosis dapat dimasukkan apabila
setelah dua kali uji serologis dengan waktu 30 hari memberikan hasil negatif. Ternak pengganti
yang mempunyai sertifikat bebas brucellosis dilakukan uji serologis dalam selang waktu 60
sampai 120 hari setelah dimasukkan ke dalam kelompok ternak. Pengawasan lalu lintas ternak
harus dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke daerah lain yang lebih luas (Direktorat
Kesehatan Hewan, 2012).
Secara umum pengobatan untuk penyakit brucellosis pada ternak tidak disarankan karena
penyakit bersifat persisten dimana bakteri adalah bakteri intraseluler, metabolisme hewan tertular
akan lambat, dan penyakit menghasilkan granuloma sehingga menghambat masuknya obat.
Kalaupun dilakukan pengobatan maka dapat diberikan antibiotik streptomisin, doksisiklin, dan
rifampisin. Namun dengan syarat diberikan dalam jangka waktu lama dan tidak boleh terputus
rata rata selama 6 minggu. Namun dalam beberapa kasus, penyakit brucellosis dapat sembuh
sendiri setelah 1 2 kali mengalami abortus (Seleem, 2010).
Pada orang dewasa dan anak diatas umur 8 tahun, antibiotika yang dapat diberikan adalah
doksisiklin dan rifampisin selama 6 8 minggu, sedangkan untuk anak dibawah 8 tahun
sebaiknya diberikan rifampisin dan trimethroprim-sulfamethoxazole selama 6 minggu. Penderita

brucellosis dengan spondilitis direkomendasikan aminoglikosida selama 2 3 minggu lalu diikuti


dengan doksisiklin dan rifampisin selama 6 minggu (Seleem, 2010).
Karena tidak efektifnya tindakan pengobatan, maka sangat disarankan tindakan pencegahan
yang meliputi :
a) Melakukan kontrol dan eradikasi terhadap hewan reservoir.
Ternak yang didiagnosis brucellosis harus segera dipisahkan dipisahkan dan jika ada kejadian
abortus, fetus, dan membran fetus harus segera dikirim ke laboratorium untuk diuji.
Kemudain tempat didesinfeksi dan semua material terkontaminasi harus dibakar.
b) Mengkonsumsi produk asal hewan yang higienis dan terjamin mutu seperti susu yang
dipasteurisasi
c) Menggunakan perlengkapan kerja sesuai standar keamanan dan bekerja dibawah
pengawasan dokter hewan pada kelompok rawan infeksi seperti peternak sapi, pekerja RPH,
dan dokter hewan itu sendiri.
d) Vaksinasi kepada kelompok rawan tertular seperti dokter hewan, pekerja kandang, pemerah
susu, dan pekerja di RPH.
e) Vaksinasi pada daerah endemis (prevalensi <2%) serta melakukan pengujian dan
pemotongan (test and slaughter) pada daerah dengan prevalensi > 2%. Vaksin menggunakan
strain 19 atau strain 45/20. Vaksinasi tidak berlaku untuk sapi betina bunting. Vaksinasi pada
sapi betina diatas umur 4 bulan sedangkan vaksinasi tidak dilakukan pada sapi jantan karena
dapat menurunkan fertilitas
f)

Pada daerah yang bebas brucellosis (seperti Bali dan Lombok) melakukan lalu lintas pada
ternak secara ketat (Xavier, 2010).

B. Pemberantasan Penyakit
Ada dua strategi pemberantasan berdasarkan tingkat kejadiannya yaitu apabila prevalensi
reaktor 2% dengan kategori tertular berat, maka metode pemberantasannya dengan cara
vaksinasi. Sedangkan pada daerah kategori tertular rendah (prevalensi < 2%), ditetapkan dengan
teknik uji dan potong bersyarat (test and slaughter) (Siregar, 2000).
Usaha pencegahan dan pengendalian brucellosis sapi pada umumnya terfokus pada
pemberantasan penyakit dengan pengendalian populasi sapi bebas dari agen penyakit. Oleh

karena itu semua usaha Dinas Peternakan diarahkan pada pencegahan berpindahnya dan
menyebarnya agen penyakit serta mencegah penderita baru. Pada prinsipnya vaksinasi sapi betina
muda dengan vaksin inaktif (strain 19) perlu dilakukan pada wilayah dengan prevalensi
brucellosis tinggi, dengan tujuan sementara untuk menurunkan jumlah keguguran (Siregar,2000).
Vaksin yang digunakan dalam program pengendalian brucellosis pada sapi adalah vaksin B.
abortus strain 19 (S19) dan vaksin RB 51. Vaksin B. abortus S19 merupakan strain (galur) hidup
yang sudah dilemahkan dan memiliki sifat stabil, dan memberikan proteksi terhadap infeksi 7080%, namun vaksin ini menyebabkan permanen antibodi sehingga menyebabkan reaksi positif
palsu pada uji serologis terhadap infeksi Brucella. Oleh karena itu digunakan vaksin RB 51 yang
merupakan mutan kasar dari B. abortus virulen starin 2308 (S2308). Ternak yang divaksin
dengan RB 51 tidak terdeteksi dengan uji serologi standar untuk diagnose brucellosis dan aman
apabila diberikan pada sapi betina bunting. Hanya saja vaksin RB 51 masih harus impor dan
harganya relatif mahal daripada vaksin S 19 yang sudah dapat diproduksi oleh Pusat Veteriner
Farma (PUSVETMA) (Direktorat Kesehatan Hewan, 2012).
C. Pengendalian Penyakit
Brucellosis dapat dicegah dengan vaksinasi. Pada sapi, terdapat dua jenis vaksin yang
tersedia yaitu vaksin Brucella abortus strain RB51 dan strain 19. Pada kambing dan domba,
vaksinasi dilakukan menggunakan vaksin Brucella melitensis strain Rev. 1, baik untuk B.
Melitensis maupun B. ovis. Sementara itu, belum ada produk vaksin yang efektif untuk
mencegah infeksi B. suis pada babi dan B. canis pada anjing. Semua produk vaksin yang tersedia
merupakan vaksin hidup dan berpotensi menimbulkan aborsi bila diberikan pada ternak bunting
(OIE 2004).
a. Sapi
Deteksi penyakit dan pencegahan sangat penting karena tidak ada pengobatan efektif yang
tersedia saat ini. Eradikasi sangat tergantung pada pengujian dan pemusnahan reaktor (test and
slaughter). Ternak harus diuji secara rutin hingga diperoleh hasil negatif 2 atau 3 kali berturutturut (Kahn, 2003).
Kelompok yang bebas penyakit harus dilindungi. Risiko terbesar berasal dari hewan baru.
Hewan baru sebaiknya pedet yang sudah divaksinasi atau sapi dara. Jika ada penambahan sapi

bunting atau yang lainnya maka sapi-sapi tersebut harus berasal dari daerah yang bebas
brucellosis dan harus seronegatif. Sapi baru sebaiknya diisolasi minimal 30 hari dan diuji
sebelum digabungkan ke ternak yang lain (Kahn 2003a).
b. Domba dan Kambing
Kejadian penyakit dan penyebarannya dapat dikurangi melalui pemeriksaan rutin pejantan
sebelum memasuki musim kawin dan pengafkiran pejantan yang memiliki kelainan pada alat
reproduksinya. Karena kerentanan bertambah seiring dengan bertambahnya umur, maka
dianjurkan untuk memelihara pejantan yang muda. Selain itu pejantan yang diketahui bebas
penyakit sebaiknya diisolasi dan dipisahkan dari pejantan tua yang mungkin sudah terinfeksi.
Karena infeksi pada betina hampir seluruhnya terjadi akibat perkawinan dengan jantan terinfeksi,
maka pelaksanaan program vaksinasi pada jantan dapat secara efektif mengatasi keadaan ini.
Penyakit ini dapat dieliminasi dengan mengafkir kelompok ternak (Kahn, 2003c).
Penggunaan chlortetracycline dan streptomycin secara bersamaan dapat menyembuhkan
penyakit ini, tetapi hal ini tidak ekonomis dari segi biaya kecuali pada domba dengan nilai
ekonomi tinggi. Selain itu, meskipun infeksinya dapat dihilangkan, namun infertilitas akibat
penyakit mungkin takkan hilang (Kahn, 2003c).

DAFTAR PUSTAKA
[Ditjennak] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2000. Program dan Pedoman
Teknis Pemberantasan Brucellosis pada Sapi Perah di Pulau Jawa. Jakarta (ID): Direktorat
Bina Kesehatan Hewan. Departemen Pertanian Republik Indonesia.
Kahn CM, Line S. 2003a. The Merck veterinary manual: Brucellosis in cattle. Whitehouse
Station, NJ: Merck and Co.
Kahn CM, Line S. 2003b. The Merck veterinary manual: Brucellosis in goats. Whitehouse
Station, NJ: Merck and Co.
Kahn CM, Line S. 2003c. The Merck veterinary manual: Brucellosis in sheep. Whitehouse
Station, NJ: Merck and Co.
[OIE] Office International des Epizooties. 2004. Manual of diagnostic tests and vaccines Bovine
brucellosis. Paris (FR): Office International des Epizooties.
Seleem,Mohamed N. 2010. Brucellosis: A re-emerging zoonosis. The Institute for Critical
Technology and Applied Science, Virginia Polytechnic Institute and State University,
Blacksburg.
Siregar EA. 2000. Pendekatan Epidemilogik Pengendalian Brucellosis Untuk Meningkatkan
Populasi Sapi di Indonesia. Bogor (ID)

Xavier, Mariana N. 2010. Pathogenesis of Brucella spp. Departamento de Clnica e Cirurgia


Veterinria, Escola de Veterinria, Universidade Federal de Minas Gerais, 31270-901 Belo
Horizonte, MG, Brazil