Anda di halaman 1dari 2

SEJARAH AROMATERAPI

Aromaterapi adalah istilah modern untuk praktik yang sudah dilakukan ribuan tahun
lalu, seperti yang dilakukan orang Mesir kuno. Sejarah aromaterapi sudah setua sejarah
peradaban. Aromaterapi sudah dikenal dan digunakan oleh penduduk dari Yunani, Romawi,
dan Mesir kuno sejak 6000 tahun yang lalu. Para tabib Imhotep di Mesir menggunakan
minyak esensial (minyak atsiri) untuk mandi, pijat, serta pembalseman mayat.
Sejarah Aromaterapi dapat kita telusuri kembali lebih dari 3.500 tahun sebelum
masehi, ketika wewangian untuk pertama kali dicatat dalam sejarah peradaban manusia. Pada
kenyataannya, sejarah aromaterapi berkaitan dengan perkembangan pengobatan aromatik,
yang pada mulanya digabungkan dengan kepercayaan.
Di jaman Mesir kuno untuk pertama kalinya membakar dupa dari kayu dan herbal
beraroma. Perkembangan aromatik sebagai obat menjadi dasar dari pertumbuhan
aromaterapi. Selama tiga dinasti (2650-2575 SM) di Mesir, proses pembalseman dan
pemumian telah berkembang. Frankincense, myrrh, galbanum, cinnamon, cedarwood, juniper
berry dan spikenard digunakan saat persiapan pemumian.
Herbal dan rempah-rempah berharga yang sangat mereka butuhkan didatangkan oleh
para pedagang Arab. Herbal dan rempah-rempah yang mereka datangkan berasal dari
Assyria, Babylon, China, Egypt, Greece, Rome dan Persia. Yang dianggap paling berharga
adalah frankincense dan myrrh. Pada awal perdagangan permintaan melebihi persediaan
dengan demikian harga herbal dan rempah-rempah sebanding dengan harga permata dan
logam mulia. Imhotep adalah dewa Mesir yang berperan dalam pengobatan dan
penyembuhan. Kemudian Hippocrates, yang dikenal sebagai bapak kedokteran modern, juga
menggunakan aromaterapi untuk mandi dan pijat.
Selain itu, Hippocrates menggunakan aromatic fumigations untuk menyingkirkan
wabah penyakit yang terjadi di Athena. Suatu ketika wabah pes melanda kota Athena kuno.
Ketika itu tentu belum ada antiseptik untuk membasmi kuman. Hippocrates, yang sekarang
dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern, menggunakan mandi aromaterapi dan
penyemprotan wewangian untuk membebaskan Athena dari wabah penyakit. Sama dengan di
Yunani kuno, ahli fisika Mesir kuno menggunakan minyak dengan keharuman tertentu untuk
pengobatan, wangi-wangian, mengurapi jenazah, dan meningkatkan gairah.

Dari Mesir, aromaterapi dibawa ke Yunani, Cina, India serta Timur Tengah sebelum
masuk ke Eropa di abad pertengahan (Adethia, 2015). Pada abad ke 19 dimana ilmu
kedokteran mulai terkenal, beberapa dokter pada zaman itu tetap memakai minyak esensial
dalam praktek sehari-hari mereka. Pada zaman aromaterapi modern, aromaterapi digali oleh
Robert Tisserand yang menulis buku The Art of aromatherapy (Adethia, 2015 dalam
Poerwadi, 2006, hlm.1). Dewasa ini, riset membuktikan aneka penggunaan minyak aroma.
Riset kedokteran pada tahun-tahun belakangan ini mengungkapkan fakta bahwa bau yang
kita cium memiliki dampak penting pada perasaan kita. Menurut hasil penelitian ilmiah, bau
berpengaruh secara langsung terhadap otak seperti obat. Misalnya, mencium lavender
meningkatkan frekuensi gelombang alfa terhadap kepala bagian belakang dan keadaan ini
dikaitkan dengan relaksasi (Adethia, 2015 dalam Sharma, 2009, hlm. 13).

Daftar Pustaka
Adethia

K.

(2015).

Aromaterapi.

Diakses

pada,

26

September

2016,

dari:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/47789/4/Chapter%20II.pdf
Rifkia, V. (2011). Sejarah Aromaterapi di Mesir Kuno. Diakses pada, 26 September 2016,
dari: Universitas Indonesia