Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Organisasi sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan, yang mana fungsi seorang
pemimipin adalah untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan. Dalam pencapaian
tujuannya pemimpin dapat mengambil macam-macam kepemimpinan yang salah satunya adalah
kepemimipinan partisipatif yang pengambilan keputusannya meminta bawahan untuk terlibat
dalam pengambilan keputusan tersebut. Dalam organisasikepemimpinan partisipatif sangat
efisien digunakan karena mengikut sertakan bawahan-bawahan dalam pengambilan keputusan
atau dengan kata lain seperti kepemimipinan yang demokrasi.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa keunggulan kepemimpinan pastisipatif dibanding teori
kepemimpinsn yang lain
2. Untuk mengetahui sapa itu yang dimaksud kepemimpinan partisipatif Untuk mengeahui
3. bagaimana cara menerapkan teori kepemimpinan partisipatif

BAB II
1

KONSEP TEORI
2.1Definisi
Menurut Ach. Wazir WS.et al.(2004 :29) partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan
seseorang secra sadar kedalam interaksi sosial dalam situasi tertentu.
Kepemimpinan partisipatif didefinisikan sebagai persamaan kekuatan dan sharing dalam
pemecahan masalah dengan bawahan dengan melakukan konsultasi dengan bawahan sebelum
membuat keputusan (Bass (1990) dalam Zhang (2005)). Kepemimpinan partisipatif berhubungan
dengan penggunaan berbagai prosedur keputusan yang memperbolehkan pengaruh orang lain
mempengaruhi keputusan pemimpin. Istilah lain yang biasa digunakan untukmengacu aspekaspek kepemimpinan partisipatif termasuk konsultasi, pembuatan keputusan bersama, pembagian
kekuasaan, desentralisasi, dan manajemen demokratis. Kepemimpinan partisipatif menyangkut
usaha-usaha oleh seorang manajer untuk mendorong dan memudahkan partisipasi orang lain
dalam pengambilan keputusan yang jika tidak akan dibuat tersendiri oleh manajer tersebut.
Kepemimpinan ini mencakup aspek-aspek kekuasaan seperti bersama-sama menanggung
kekuasaan, pemberian kekuasaan dan proses -proses

mempengaruhi

yang

timbal-balik.

Sedangkan yang menyangkut aspek-aspek perilaku kepemimpinan seperti prosedur-prosedur


spesifik yang digunakan untuk berkonsultasi dengan orang lain untuk memperoleh gagasan dan
saran-saran, serta perilaku spesifik yang digunakan untuk proses pengambilan keputusan dan
pendelegasian

kekuasaan.Ciri-ciri

kepemimpinan

partisipatif

:Pemimpin

memberikan

dukungantinggi dan sedikit/rendah pengarahan.Posisi kontrol atas pemecahan masalah dan


pengambilan keputusan dipegang secara berganti antara pemimpin dan bawahanKomunikasi dua
arah ditingkatkan.Pemimpin mendengarkan bawahan secara aktif.Tanggung jawab pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan sebagian besar pada bawahan.
2.2 Macam-Macam Partisipasi
Ada beberapa macam partisipasi yang dikemukakan oleh ahli.
Menurut Sundariningrum (Sugiyah, 2010:38) mengklasifikasikan partisipasi
berdasarkan cara keterlibatannya, yaitu:
a.Partisipsai langsung

menjadi dua

Partisipasi yang terjadi apabila individu menampilkan kegiatan tertentu dalam proses partisipasi.
Partisipasi ini terjadi apabila setiap orang dapat mengajukan pandangan, membahas pokok
permasalahan, mengajukan keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap ucapannya.
b.Partisipasi tidak langsung
Partisipasi yang terjadi apabila individu mendelegasikan hak partisipasinya pada orang lain.
Pendapat lain disampaikan oleh Subandiyah (1982:2) yang menyatakan bahwa jika dilihat dari
segi tingkatannya partisipasi dibedakan menjadi tiga yaitu:
a.Partisipasi dalam pengambilan keputusan
b.Partisipasi dalam proses perencanaan dan kaitannya dengan program lain.
c.Partisipasi dalam pelaksanaan.
Lebih rinci Cohen dan Uphoff (Siti Irene A.D., 2011:61) membedakan partisipasi menjadi
empat jenis yaitu pertama, partisipasi dalam pengambilan keputusan. Kedua, partisipasi dalam
pelaksanaan. Ketiga, partisipasi dalam pengambilan manfaat. Dan keempat, partisipasi dalam
evaluasi.
Pertama,partisipasi dalam pengambilan keputusan. Partisipasi ini terutama berkaitan
dengan penentuan alternatif dengan masyarakat yang berkaitan dengan gagasan atau ide yang
menyangkut kepentingan bersama. Dalam partisipasi ini masyarakat menuntut untuk ikut
menentukan arah dan orientasi pembangunan. Wujud dari partisipasi ini antara lain seperti
kehadiran rapat, diskusi, sumbangan pemikiran, tanggapan atau penolakan terhadap program
yang ditawarkan.Kedua,partisipasi dalam pelaksanaan suatu program meliputi:menggerakkan
sumber daya, dana, kegiatan administrasi, koordinasi dan penjabaran program. Ketiga,partisipasi
dalam pengambilan manfaat. Partisipasi ini tidak lepas dari hasil pelaksanaan program yang telah
dicapai baik yang berkaitan dengan kuantitas maupun kualitas. Dari segi kualitas, dapat dilihat
dari peningkatan output, sedangkan dari segi kuantitas dapat dilihat seberapa besar
prosentasekeberhasilan program. Keempat, partisipasi dalam evaluasi. Partisipasi masyarakat
dalam evaluasi ini berkaitan dengan masalah pelaksanaan program secara menyeluruh.
Partisipasi ini bertujuan untuk mengetahui ketercapaian program yang telah direncanakan
sebelumnya.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan macam partisipasi, yaitu:
a)Partisipasi dalam proses perencanaan/ pembuatan keputusan. (participation in decision
making).
3

b)Partisipasi dalam pelaksanaan (participation in implementing).


c)Partisipasi dalam pemanfaatan hasil
d)Partisipasi dalam evaluas
2. 3 Manfaat Partisipasi
Menurut Pariatra Westra (Widi Astuti, 2008:14) manfaat partisipasi adalah:
a) Lebih mengemukakan diperolehnya keputusan yang benar.
b) Dapat digunakan kemampuan berpikir kreatif dari para anggotanya.
c) Dapat mengendalikan nilai-nilai martabat manusia, motivasi serta membangun kepentingan
bersama.
d) Lebih mendorong orang untuk bertanggung jawab.
e) Lebih memungkinkan untuk mengikuti perubahan.
Pendapat lain dikemukakan oleh Burt K. Schalan dan Roger (Widi Astuti, 2008:14) bahwa
manfaat dari partisipasi adalah:
a)
b)
c)
d)

Lebih banyak komunikasi dua arah.


Lebih banyak bawahan mempengaruhi keputusan.
Manajer dan partisipasi kurang bersikap agresif.
Potensi untuk memberikan sumbangan yang berarti dan positif, diakui dalam derajat lebih
tinggi.
Dari pendapat-pendapat di atas tentang manfaat partisipasi, dapat disimpulkan bahwa

partisipasi akan memberikan manfaat yang penting bagi keberhasilan organisasi yaitu:
a) lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar karena banyaknya sumbangan yang
berarti dan positif.
b) Mengedepankan komunikasi dua arah sehingga baik bawahan maupun atasan memiliki
kesempatan yang sama dalam mengajukan pemikiran.
c) Mendorong kemampuan berpikir kreatif demi kepentingan bersama.
d) Melatih untuk bertanggung jawab serta mendorong untuk membangun kepentingan bersama.
e) Memungkinkan untuk mengikuti setiap perubahan yang terjadi.

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi


Pada dasarnya banyak faktor yang mempengaruhi derajat partisipasi seseorang yang
tercermin dalam prilaku dan aktifitasnya dalam suatu kegiatan. Faktor yang mempengaruhi
derajat partisipasi antara lain pendidikan, penghasilan dan pekerjaan anggota masyarakat dalam
hal ini orang tua siswa.
4

Tingkat pendidikan orang tua siswa memiliki hubungan yang positif terhadap
partisipasinya dalam membantu pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan.Menurut Soemanto R
B, dkk. (Muryani Khikmawati, 1997: 28) mengatakan bahwa mereka yang memiliki pendidikan
yang lebih tinggi akan lebih tinggi derajat partisipasinya dalam pembangunan, hal mana karena
dibawa oleh semakin kesadarannya terhadap pembangunan. Hal ini berarti semakin tinggi derajat
partisipasi terhadap program pemerintah termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan.
Faktor pendidikan juga berpengaruh pada prilaku seseorang dalam menerima dan
menolak suatu perubahan yang dirasakan baru. Masyarakat (orang tua siswa) yang berpendidikan
ada kecenderungan lebih mudah menerima inovasi jika ditinjau dari segi kemudahan
(eccessibility) atau dalam mendapatkan informasi yang mempengaruhi sikapnya. Seseorang yang
mempunyai derajat pendidikan mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam menjangkau
sumber informasi.
Oleh karena itu, orang yang mempunyai pendidikan kuat akan tertanam rasa ingin tahu
sehingga akan selalu berusaha untuk tahu tentang inovasi baru dari pengalaman-pengalaman
belajar selama hidup.
Faktor penghasilan merupakan indikator status ekonomi seseorang, faktor ini mempunyai
kecenderungan bahwa seseorang dengan status ekonomi tinggi pada umumnya status sosialnya
tinggi pula. Dengan kondisi semacam ini mempunyai peranan besar yang dimainkan dalam
masyarakat dan ada kecenderungan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan terutama gejala ini
dominan di masyarakat pedesaan. Pengaruh ekonomi jika diukur dalam besarnya kontribusi
dalam kegiatan pembangunan ada kecenderungan lebih besar kontribusi berupa tenaga.
Dalam hubungannya partisipasi orang tua siswa dalam membantu pengembangan proses
pembelajaran pada tahapan pelaksanaan, faktor penghasilan mempunyai peranan, karena untuk
melaksanakan inovasi membutuhkan banyak modal yang sifatnya lebih intensif.
Faktor lain disampaikan oleh Angell dalam Ensiklopedia Wikipedia berjudul
partisipasi(2011) mengatakan partisipasi yang tumbuh dalam masyarakat dipengaruhi oleh
banyak faktor.Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi,
yaitu:usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan, lamanya tinggal.
a. Usia
Faktor usia merupakan faktor yang memengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-

kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan
keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap, cenderung lebih
banyak yang berpartisipasi daripada mereka yang dari kelompok usia lainnya.
b. Jenis Kelamin
Nilai yang cukup lama dominan dalam kulturberbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya
tempatperempuan adalah di dapur yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat peranan
perempuan yangterutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran
perempuan tersebut telah bergeser dengan adanyagerakan emansipasi dan pendidikan perempuan
yang semakin baik.
c. Pendidikan
Pendidikan dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi. Pendidikan
dianggapdapat memengaruhi sikap hidup seseorang terhadap lingkungannya, suatu sikap yang
diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat.
d. Pekerjaan dan Penghasilan
Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan menentukan
berapa penghasilan yang akan diperolehnya. Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan
mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam
kegiatan-kegiatan masyarakat. Pengertiannya bahwa untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan,
harus didukung oleh suasana yang mapan perekonomian.
e. Lamanya Tinggal
Lamanya seseorang tinggal dalamlingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan
lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi seseorang. Semakin lama ia tinggal dalam
lingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam
partisipasinya yang besar dalam setiap kegiatan lingkungan tersebu
2.5 Tujuan Partisipan
1. Konsultasi ke bawah :
6

a) Meningkatkan kualitas keputusan-keputusan dengan menarik pengetahuan dan keahlian


para bawahan dalam pemecahan masalah.
b) Meningkatkan penerimaan bawahan terhadap keputusan-keputusan dengan memberikan
mereka rasa turut memilikinya (sens of belonging).
c) Mengembangkan keterampilan dan pengetahuan dalam pengambilan keputusan para
bawahan dengan memberikan kepada mereka pengalaman dalam membantu menganalisa
masalah-masalah keputusan dan mengevaluasi pemecahan-pemecahannya.
d) Memudahkan pemecahan suatu konflik serta membangun tim.
2. Konsultasi lateral:
a) Meningkatkan kualitas keputusan dengan saling membagi pengetahuan dan keterampilan
di antara para manajer.
b) Memudahkan koordinasi dan kerja-sama di antara para manajer dari perbagai subunit
organisasi dengan tugas-tugas yang saling tergantung sama lain.
3. Konsultasi ke atas:
a) Menarik keahlian dari atasan yang mungkin lebih besar.
b) Mengetahui bagaimana atasan merasa mengenai suatu masalah tertentu dan bagaimana ia
kemungkinannya akan bereaksi terhadap pelbagai usulan.
4. Konsultasi dengan pihak luar :
a) Membantu memastikan bahwa keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka
b)
c)
d)
e)

dipahami dan dimengerti.


Mengetahui kebutuhan-kebutuhan serta preferensi-preferensi mereka.
Memperkuat jaringan kerja eksternal.
Memperbaiki koordinasi.
Memecahkan masalah bersama yang berhubungan dengan pekerjaan.

2.6 Dampak dari partisipasi


Secara kontras, penemuan dari studi kasus yang deskriptif mengenai para manajer yang
efektif

mendukung

secara

konsisten

keuntungan

kepemimpinan

partisipatif.

Secara

singkat,setelah lebih dari empat puluh tahun penelitian mengenai kepemimpinan partisipasi, kita
mendapatkan konklusi bahwa kepemimpinan partisipatif kadang-kadang menghasilkan
kepuasan, usaha dan kinerja lebih tinggi di waktu lain serta tidak demikian adanya.
2.7 Keterbatasan Pengambilan KeputusanPartisipatif
Pengambilan keputusan partisipatif memiliki keterbatasan (Yukl, 1998:140),yakni :
7

1. Bentuk partisipasi efektif pada situasi-situasi tertentu namun tidak pada situasi lainnya
(Vrom & Jago, 1988). Karena partisipasi memakan waktu, kadang berteletele. Dalam
keadaan darurat untuk berkonsultasi dan berdiskusi tidak efektif. Seorang pemimpin
harus cepat dan tanggap dalam membuat keputusan dan mengambil kebijakan sesuai
dengan situasi dan kebutuhan manajemen dan organisasi.
2. Kecenderungan terjadinya partisipasi semu (pseudoparticipation), di mana manajer
mencoba untuk melibatkan bawahan dalam tugas tetapi bukan dalam proses pengambilan
keputusan. Kebanyakan para manajer mencoba berkonsultasi dengan bawahannya akan
tetapi masukan dan gagasan dari para bawahan tidak diakomodir dalam pembuatan
keputusan dan pengambilan kebijakan.

BAB III
APLIKASI PENERAPAN
3.1 Analisis Masalah
RS BHAMADA Slawi memiliki kapasitas 20 bed jadi total keseluruhan adalah 20 pasien.
Penyakit yang sering di rawat di RS adalah seperti : pasien dengan penyakit TB, DM, Thypoid,
Diare, dan Hipertensi. Jumlah ketenagaan yang ada di RS BHAMADA yakni terdiri dari 10
orang dengan rincian 5 orang tenaga perawat , 1 kepala ruang dan 1 supervisor, 1 petugas
administras dan 2 orang petugas kebersihan. Pendidikan terakhir mereka adalah 5 orang S1

keperawatan, 2 orang D3 keperawatan, 1 SLTA dan 2 SLTP. Pada kasus ini terjadi kekurangan
tenaga kerja perawat sehingga perlu adanya solusi yang tepat untuk mengatasinya.
3.2 Pemecahan Masalah
G a y a k e p e m i m p i n a n y a n g s e s u a i d e n g a n k a s u s t e r s e b u t a d a l a h gaya
kepemimpinan partisipatif. Karena pemimpin dengan

gaya partisipatif akan

mendengarkan, menerima dan menilai hasil pemikiran bawahannya sejauh pemikiran


tersebut bisa dipraktikkan. Pemimpin seperti ini akan mendorong staf agar meningkatkan
kemampuan mengendalikan diri dan menerima tanggung jawab yang lebih luas. Pemimpin akan
menjadi lebih suportif dalam kontak dengan para staf dan bukan bersikap diktator meskipun
wewenang terakhir dalam pengambilan keputusan ada pada pemimpin.
Hal yang pertama dilakukan kepala ruang adalah mengadakan rapat dengan bawahannya
untuk mendiskusikan masalah yang terjadi. Lalu setiap anggota rapat berhak mengeluarkan
pendapatnya dan dari rapat tersebut didapatkan 3 hasil pemikiran para perawat yaitu :
1. Menambah jam kerja perawat
2. Merekrut tenaga perawat
3. Tidak perlu menambah perawat dan jam kerja namun lebih di fokuskan pada keahlian
masing-masing perawat yang ada
Dari beberapa hasil pemikiran, kepala ruang memutuskan untuk menggabungkan dua saran dari
voting terbanyak yaitu merekrut tenaga perawat dan tidak perlu menambah perawat dan jam
kerja namun lebih di fokuskan pada keahlian masing-masing perawat yang ada, dengan alasan
jika menambah jam kerja ,para perawat tidak setuju dan disamping itu para perawat sudah ada
yang berkeluarga. Maka dari itu kepala ruang memutuskan untuk menambah perawat, namun
kelemahannya untuk merekrut perawat baru membutuhkan waktu yang lama, sedangkan pasien
harus ditangani secara cepat. Untuk mengatasi itu semua kita memfokuskan pada keahlian
masing-masing perawat untuk menangani pasiennya, namun disamping itu kita tetap
mengadakan perekrutan perawat baru. Dan jika dalam waktu 3 hari tidak ada yang mendaftarkan
diri ke RS BHAMADA Slawi maka sebagian pasien di oper ke RS lain untuk mendapatkan
perawatan yang lebih cepat.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Gaya kepemimpinan partisipatif lebih menekankan pada tingginya dukungan dalam
pembuatan keputusan dan kebijakan tetapi sedikit pengarahan. Gaya pemimpin yang tinggi
dukungan dan rendah pengarahan dirujuk sebagai partisipatif karena posisi kontrol atas pe
mecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Dengan penggunaan
gaya partisipatif ini, pemimpin dan bawahan saling tukar menukar ide dalam pemecahan masalah
dan pembuatan keputusan. Dibandingkan gaya kepemimpinan yang lain, kepemimpimpinan
10

partisipatif membuat hubungan antara pemimpin dan karyawannya lebih dekat karena pemimpin
tersebut terjun langsung kedalam aktivitas organisasi dan tidak hanya memberi perintah saja.
pemimpin yang menerapkan gaya ini cenderung berorientasi kepada bawahan dengan mencoba
untuk lebih memotivasi bawahan dibandingkan mengawasi mereka dengan ketat. Mereka
mendorong para anggota untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan
bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan
serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok.
4.2 Saran
Kami berharap agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami dengan baik, tentang
model kepemimpinan partisipatif dalam keperawatan. Agar menjadi pedoman kita sebagai
perawat.

DAFTAR PUSTAKA

Ach.Wazir WS.,et al.,ed. (2004).Panduan Penguatan Managemen Lembaga Swadaya


Masyarakat.Jakarta:Sekertariat Bina desa
Badan Pemberdayaan Masyarakat.(2005), Simposium Managemen Pembangunan
Partisipatif,Pemprof Jatim.Surabaya
Janssen,Arnold.(1999). Melatih Kepemimpinan Partisipatif.Jakarta :LPBAJ
Sutikno,Bambang. (2007). The power of empathy in leadership. Jakarta: Gramedia
pustaka utama
11