Anda di halaman 1dari 9

DISOLUSI

Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh.
Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi
padat, seperti kapsul, tablet atau salep (Ansel, 1989).
Efektivitas dari suatu tablet dalam melepas obatnya untuk absorpsi
sistemik agaknya bergantung pada laju disintegrasi dari bentuk sediaan dan
deagregasi dari granul-granul tersebut. Tetapi yang biasanya lebih pentinga
dalah laju disolusi dari obat padat tersebut. Seringkali disolusi merupakan
tahapan yang membatasi atau tahap yang mengontrol laju bioabsorpsi obatobat yang mempunyai kelarutan

rendah, karena tahapan ini seringkali

merupakan tahapan yang paling lambat dari berbagai tahapan yang ada
dalam penglepasan obat dari bentuk sediaannya dan perjalanannya ke
dalamsirkulasi sistemik (Martin,2008).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan
dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang
diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi
sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam
saluran lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung
dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan
berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya
suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1989).
Mekanisme disolusi, tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau
reaktivitas partikel-partikel padat terlarut ke dalam zat cair, dengan
mengalami dua langkah berturut-turut: (Gennaro, 1990)
1. Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal
yang tetap atau film disekitar partikel.

2. Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair.


Langkah pertama,. larutan berlangsung sangat singkat. Langka kedua, difusi
lebih lambat dan karena itu adalah langkah terakhir.
Adapun mekanisme disolusi dapat digambarkan sebagai berikut :

Lapisan film (h)


dgn konsentrasi =
Krista
l
Massa larutan dengan
konsentrasi = Ct

Difusi layer model (theori film)


Pada waktu suatu partikel obat memngalami disolusi, molekul-molekul
obat pada permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan
suatu lapisan jenuh obat-larutan yang membungkus permukaan partikel obat
padat. Lapisan larutan ini dikenal sebagai lapisan difusi. Dari lapisan difusi
ini, molekul-molekul obat keluar melewati cairan yang melarut dan
berhubungan dengan membrane biologis serta absorbsi terjadi. Jika molekulmolekul obat terus meninggalkan larutan difusi, molekul-molekul tersebut
diganti dengan obat

yang dilarutkan dari permukaan partikel obat dan

proses absorbsi tersebut berlanjut (Martin, 1993).


Laju disolusi suatu obat adalah kecepatan perubahan dari bentuk
padat menjadi terlarut dalam medianya setiap waktu tertentu. Jadi disolusi
menggambarkan kecepatan obat larut dalam media disolusi (Banakar, 1992).
Suatu hubunganyang umum menggambarkan proses disolusi zat padat telah
dikembangkanoleh Noyes dan Whitney dalam bentuk persamaan berikut:

Pengungkapan hasil uji disolusi dapat melalui salah satu cara di bawah
ini:
1. Metode Wagner
Metode ini dapat menghitung tetapan kecepatan pelarutan (k) dengan
berdasarkan pada asumsi bahwa kondisi percobaan dalam keadaan
sink, proses pelarutan mengikuti orde satu, luas permukaan spesifik
turun secara eksponensial terhadap waktu.
Metode Wagner dapat diungkapkan dengan persamaan sebagai berikut
(Langenbucher, 1972):
ln 100 ( W~ - W ) = A ( k.t )
W
dengan:
W~ = bobot zat padat tertinggi yang dapat larut
W = bobot zat padat yang terlarut pada waktu t
A = tetapan yang mengandung factor-faktor kelarutan, luas spesifik,
dan tetapan kecepatan pelarutan pada awal proses (t0)
k = tetapan kecepatan pelarutan
t = waktu
2. Metode Khan
Metode ini kemudian dikenal dengan konsep dissolution efficiency (DE)
yang diasumsikan sebagai berikut:
DE = y dt x 100%
y 100 t
dengan:

y dt = luas daerah bawah kurva waktu t


y 100 t = luas bidang pada kurva yang menunjukkan semua zat aktif
telah terlarut pada waktu t
DE = luas bidang ABC x 100%
Beberapa peneliti mensyaratkan bahwa penggunaan DE sebaiknya
mendekati 100% zat yang terlarut. Keuntungan metode ini adalah :

dapat menggambarkan seluruh proses percobaan yang dimaksud

dengan harga DE
dapat menggambarkan hubungan antara percobaan in vitro dan in
vivo karena penggambaran dengan cara DE ini mirip dengan cara
penggambaran pecobaan in vivo

3. Metode klasik
Metode ini menunjukkan jumlah zat aktif yang terlarut pada waktu t,
yang kemudian dikenal dengan T20, T50, T90 dan sebagainya. Metode
ini hanya menyebutkan satu titik saja, sehingga proses yang terjadi di
luar (sebelum dan sesudah) titik tersebut tidak diketahui. Titik tersebut
menyatakan jumlah zat aktif yang terlarut pada waktu tertentu. T20
misalnya, mengandung pengertian waktu yang diperlukan untuk
melarutkan 20% zat aktif (Wagner, 1971).
4. Jumlah zat aktif yang melarut pada waktu tertentu
misalnya C30 adalah dalam waktu 30 menit zat aktif yang melarut
sebanyak x mg atau x mg/ml (Shargel dan Yu, 1999).
Uji disolusi dapat dilakukan dengan menggunakan dua tipe alat, yaitu:
(Anonim, 1995)
1. Alat 1 (Metode Basket)
Alat terdiri atas wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau bahan
transparan lain yang inert, dilengkapi dengan suatu motor atau alat
penggerak. Wadah tercelup sebagian dalam penangas sehingga dapat

mempertahankan suhu dalam wadah 37 0,5 C selama pengujian


berlangsung. Bagian dari alat termasuk lingkungan tempat alat
diletakkan tidak dapat memberikan gerakan, goncangan, atau getaran
signifikan yang melebihi gerakan akibat perputaran alat pengaduk.
Wadah disolusi dianjurkan berbentuk silinder dengan dasar setengah
bola, tinggi 160-175 mm, diameter dalam 98-106 mm, dengan volume
sampai 1000 ml. Batang logam berada pada posisi tertentu sehingga
sumbunya tidak lebih dari 2 mm, berputar dengan halus dan tanpa
goyangan

yang

berarti.

Suatu

alat

pengatur

mempertahankan

kecepatan alat.
2. Alat 2 (Metode Dayung)
Sama seperti alat 1, tetapi pada alat ini digunakan dayung yang terdiri
atas daun dan batang sebagai pengaduk. Batang dari dayung tersebut
sumbunya tidak lebih dari 2 mm dan berputar dengan halus tanpa
goyangan yang berarti. Jarak antara daun dan bagian dalam dasar
wadah dipertahankan selama pengujian berlangsung. Daun dan batang
logam yang merupakan satu kesatuan dapat disalut dengan suatu
penyalut inert yang sesuai. Sediaan dibiarkan tenggelam ke dasar
wadah sebelum dayung mulai berputar.
Ada 2 metode penentuan kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):
1. Metode Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa
pengontrolan terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel
diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang larut
ditentukan dengan cara yang sesuai.
2. Metode Permukaan Konstan
Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya
sehingga variable perbedaan luas permukaan efektif dapat
diabaikan. Umumnya zat diubah menjadi tablet terlebih dahulu,
kemudian ditentukan seperti pada metode suspensi.
Faktor yang mempengaruhi laju disolusi dari bentuk sediaan biasanya
diklasifikasikan atas tiga kategori yaitu:

1. Faktor yang berkaitan dengan sifat fisikokimia obat


Sifat-sifat fisikokimia dari obat yang mempengaruhi laju disolusi meliputi
kelarutan, bentuk kristal, serta ukuran partikel. Sifat-sifat fisiko kimia lain
seperti kekentalan berperan terhadap munculnya permasalahan dalam
disolusi (Syukri, 2002).

Ukuran Partikel
Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif menjadi
besar sehingga kecepatan disolusi meningkat (Martin, 1993).
Polimorfisme
Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme.
Struktur internal zat yang berlainan dapat memberikan tingkat
kelarutan yang berbeda juga. Kristal meta stabil umumnya lebih
mudah

larut

daripada

bentuk

stabilnya,

sehingga

kecepatan

disolusinya besar (Martin, 1993).


Sifat Permukaan Zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat
hidrofob. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan
permukaan antar partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga
zat mudah terbasahi dan kecepatan disolusinya bertambah (Martin,

1993).
Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi
suatu zat sesuai dengan persamaan Einstein. Meningginya suhu juga
menurunkan viskositas dan memperbesar kecepatan disolusi (Martin,
1993).

2. Faktor yang berkaitan dengan formulasi sediaan


Formulasi sediaan berkaitan dengan bentuk sediaan, bahan tambahan
dan cara pengolahan. Pengaruh bentuk sediaan terhadap laju disolusi
tergantung pada kecepatan pelepasan bahan aktif yang terkandung di
dalamnya. Cara pengolahan dari bahan baku, bahan tambahan dan
prosedur yang dilakukan dalam formulasi sediaan padat peroral juga
akan berpengaruh

terhadap

laju

disolusi.

Perubahan lama

waktu

pengadukan pada granulasi basah dapat menghasilkan granul-granul

besar, keras dan padat sehingga pada proses pencetakan dihasilkan


tablet dengan waktu hancur dan disolusi yang lama. Faktor formulasi
yang

dapat

mempengaruhi

laju

disolusi

di

antaranya

kecepatan

disintegrasi, interaksi obat dengan eksipien, kekerasan dan porositas


(Syukri, 2002).
3. Faktor yang berkaitan dengan alat uji disolusi dan parameter uji
Faktor ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan selama percobaan yang
meliputi kecepatan pengadukan, suhu medium, pH medium dan metode
uji yang dipakai. Pengadukan mempengaruhi penyebaran partikel-partikel
dan tebal lapisan difusi sehingga memperluas permukaan partikel yang
kontak dengan pelarut. Suhu medium berpengaruh terhadap kelarutan
zat aktif. Zat yang kelarutannya tidak tergantung pH, perubahan pH
medium disolusi tidak akan mempengaruhi laju disolusi. Pemilihan kondisi
pH pada percobaan in vitro penting karena kondisi pH akan berbeda pada
lokasi obat di saluran cerna sehingga akan mempengaruhi kelarutan dan
laju disolusi obat. Metode penentuan laju disolusi yang berbeda dapat
menghasilkan laju disolusi yang sama atau berbeda tergantung pada
metode uji yang digunakan (Syukri, 2002).
Suhu
Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat
yang bersifat endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi
zat.

Menurut

Einstein,koefisien

difusi

dapat

dinyatakan

melalui

persamaan berikut (Martin, 1993):


D
: koefisien difusi
r
: jari-jari molekul
k
: konstanta Boltzman

: viskositas pelarut
T
: suhu
pH pelarut
pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang
bersifat asam atau basa lemah (Martin, 1993).
Untuk asam lemah:

Jika (H+) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat.
Dengan demikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat (Martin,
1993)..
Untuk basa lemah:

Jika (H+) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat.
Dengan demikian, kecepatan disolusi juga meningkat (Martin, 1993).
Pengadukan
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h).
jika pengadukan berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan
cepat berkurang (Martin, 1993).

(Martin, A., et.all., (1993), Farmasi Fisika , Edisi III, Bagian II, Penerbit
UI Jakarta, 827.)
(Gennaro, A. R., et all., (1990), Remingtos Pharmaceutical Sciensces ,
Edisi 18th, Marck Publishing Company, Easton, Pensylvania, 591.)
Syukri, Y. 2002. Biofarmasetika, UII Press: Jogjakarta
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Deptartemen
Kesehatan RI.

Ansel, C., Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi IV, 131134, Jakarta: UI Press.