Anda di halaman 1dari 9

PENGELOLAAN PARIWISATA DI DESA WISATA PINGE

PERSPEKTIF KONFLIK

DISUSUN OLEH:
Intan Yulia Insani Saragih (1412015004)
Destiny Alicia (1412015009)
Eka Putri Wahyuni (1412015010)
Yohana Stefania Hasiman (1412015031)
Dita Ayu Lestari (1412015026)
Ursula Mariska Maduma Silaban (1412015055)
Rizky Maulana Herlambang (1412015060)
Nur Kumala Sari (1412015062)
Gracita C.R.C Piedade (1412015064)
Hasrullah (1512015054)
Aissyah Wulandary (1512015058)
Angela Tangfo (1512015063)

PROGRAM STUDI S1 DESTINASI PARIWISATA


FAKULTAS PARIWISATA
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

PENGELOLAAN PARIWISATA DI DESA WISATA PINGE


PERSPEKTIF KONFLIK
Kelompok 2 Sosiologi Pariwisata
Mahasiswa Prodi Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata Unud

1. LATAR BELAKANG
Pengembangan kepariwisatan memang telah memberikan dampak positif
bagi semua pihak penyelenggara. Namun, tanpa disadari keuntungan dari
pengelolaan tersebut mengalami kebocoran yaitu dengan hilangnya keuntungan
yang seharusnya dinikmati masyarakat pengelola ke luar daerah yang bukan
mengelola. Maka dari itu, diperlukan berbagai solusi agar dapat mengelola dengan
baik. Tentunya dengan mengembangkan atraksi-atraksi yang memang mempunyai
nilai tawar kepada wisatawan.
Dewasa ini, dikarenakan jumlah kunjungan wisman yang makin
meningkat, saat ini pun telah terjadi perubahan consumers-behaviour pattern atau
pola konsumsi dari para wisatawan. Mereka tidak lagi terfokus hanya ingin santai
dan menikmati sun-sea and sand, namun pola konsumsi wisatawan mulai berubah
ke jenis wisata yang lebih tinggi, yang meskipun tetap santai tetapi dengan selera
yang lebih meningkat yakni menikmati produk atau kreasi budaya (culture) dan
peninggalan sejarah (heritage) serta nature atau eko-wisata dari suatu daerah atau
negara.
Desa wisata merupakan salah satu cara untuk mengurangi kebocoran
keuntungan ke luar daerah, sehingga keuntungan tersebut lebih banyak dapat
dinikmati oleh masyarakat setempat, baik secara langsung maupun melalui efek
pengganda yang semakin tinggi. Dengan pengembangan desa wisata, diharapkan
pula akan merangsang pembangunan di pedesaan serta tergalinya berbagai potensi
yang selama ini kurang atau belum mendapat perhatian. Dari segi pembangunan
pariwisata sendiri, pengembangan desa wisata merupakan salah satu usaha untuk
membuka pangsa pasar (market share) yang selama ini belum tertangkap. Di
samping itu, desa wisata juga merupakan salah satu antisipasi terhadap prakiraan

bahwa wisatawan yang sudah mencapai titik jenuh terhadap berbagai bentuk
wisata konvensional dan mulai lebih berorientasi kepada alternative tourism.
Dengan adanya kecenderungan tersebut, Kabupaten Tabanan, Bali sedang
gencarnya dalam mengembangkan desa wisata di Desa Wisata Pinge yang selama
ini terlupakan yang bertujuan untuk menjaga kelestarian morfologi desa,
kehidupan pedesaan dan sebagai alat prioritas untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui penyediaan pelayanan publik, peluang pekerjaan dan
kesempatan berusaha (Dinas Pariwisata Provinsi Bali, 2002). Desa Wisata Pinge
terletak di Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan dan berada di ketinggian 500
meter diatas permukaan laut. Desa Wisata Pinge merupakan desa tua yang
menjadi salah satu daya tarik wisata yang ada di Bali. Desa ini memiliki keunikan
tersendiri yaitu tata letak lokasi yang strategis serta tata lingkungan yang
mendukung seperti bentuk rumah penduduk yang memiliki arsitektur tradisional
sejajar dan tertata rapi dan panorama alam yang sangat indah dengan hamparan
persawahan yang hijau membentang.
Desa Wisata Pinge sangatlah berpotensi sebagai desa wisata yang dapat
menarik kunjungan wisatawan. Namun untuk mencapai tingkatan yang
diharapkan dalam menuju keberhasilannya, Desa Wisata Pinge tidak bisa untuk
maju secara mandiri. Artinya diperlukan kerjasama yang saling menguntungkan
antar stake holder sehingga tercipta desa wisata yang layak dijadikan sebagai
salah satu daya tarik wisata bagi wisatawan saat berlibur ke Bali terutama saat
mengunjungi kabupaten Tabanan. Namun kenyataannya, masyarakat Desa Pinge
mempunyai tingkat sosial ekonomi yang relatif masih rendah. Hal ini
menunjukkan minimnya partisipasi masyarakat dalm pengembangan desa wisata,
akibat dari ketidak berdayaan masyarakat dalam mengidentifikasi peluang
ekonomi pariwisata (Campbell, 1999).
Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian tentang perspektif konflik
dalam pengembangan Desa Wisata Pinge menjadi penting untuk dikaji. Terutama
penemuan implikasi yang diakibatkan oleh hal tersebut dapat dijadikan evaluasi
untuk peningkatan pengembangan produk Desa Wisata Pinge.
2. PEMBAHASAN
2.1. Kelembagaan Sumber Daya Pariwisata di Desa Wisata Pinge

Sebagaimana desa adat di Bali pada umumnya, Desa Adat Pinge


berperan dalam pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah baik
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan memiliki fungsi untuk
menata kehidupan masyarakat Desa Adat Pinge yang berkaitan dengan
hukum adat dan kebudayaan Bali. Hal ini juga dijadikan landasan bagi
kelancaran

penyelenggaraan

pemerintahan

dan

pelaksanaan

pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya


dalam sektor pariwisata. Adapun susunan organisasi dari Desa Adat Pinge
sendiri adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Susunan

Organisasi

Desa

Adat

Pinge

KETUA
(BENDESA
ADAT)

BENDAHARA

SEKRETARIS

SEKSI
KEAMANAN

ANGGOTA

Sumber: Hasil Penelitian, 2015


2.1.1. Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Desa Wisata Pinge
Untuk mengelola Desa Wisata Pinge, Desa Adat telah membentuk
sebuah kelompok yaitu kelompok sadar wisata (POKDARWIS) Desa
Adat Pinge yang keanggotaanya disahkan oleh Bendesa Adat dan Kepala
Desa. Keanggotaan diambil dari para mantan kepala lingkungan, tokoh
masyarakat dan pemuda. Kelompok ini memiliki peranan untuk
mengelola segala sesuatu berkaitan dengan kepentingan wisatawan,
seperti:
a. Memandu

wisatawan

menikmati

pola

tradisional, aktivitas sosial, dan budaya.


b. Memandu kegiatan pertanian.

pemukiman,

rumah

c. Menjelaskan fasilitas yang tersedia bagi wisatawan.


d. Menawarkan potensi peninggalan arkeologi.
e. Melayani wisatawan yang ingin memanfaatkan fasilitas home stay.
Berikut adalah susunan organisasi dari Kelompok Sadar Wisata
(POKDARWIS) Desa Wisata Pinge :
Gambar 2.2 Susunan Organisasi

Kelompok

Sadar

Wisata

(POKDARWIS) Desa Wisata Pinge


PEMBINA
Bupati Tabanan
DEWAN PENASEHAT
Universitas, Tokoh
Independen dan Tokoh
Masyarakat Lokal

ADMINISTR
ASI

PERENCANA
AN
Sumber
:

PEMBANG

BADAN
PENGELOLA
DESA WISATA
DESA ADAT
KETUA BUMDK

BADAN
UMUM

PENGAWAS

PEMDA Bangli, Utusan Desa


Dinas dan Utusan Desa Pakrama

BADAN
KEUANGAN

(Badan Usaha
Desa Milik
Pakraman)

KEAMAN

PEMASAR

SDM

Penataan
Jalur Tracking
dan Pengemasan
UNAN
AN Paket Wisata
AN

Perdesaan Desa Adat Pinge Tua Kecamatan Marga


Kabupaten Tabanan, 2008: 8.
2.2 Atraksi Wisata Desa Pinge
Desa Wisata Pinge memiliki hawa sejuk karena terletak pada
ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Desa Wisata Pinge terletak
34 km dari Denpasar. Lokasinya berada di 17 km di bagian utara Kota
Tabanan. Untuk dapat pengalaman perjalanan wisata yang tidak
terlupakan, maka perjalanan dari Denpasar sebaiknya melalui Bedugul
Pertigaan Desa Pacung Jati Luwih Yeh Panes Desa Wisata Pinge
Tabanan Alas Kedaton. Dengan memiliki potensi alam pedesaan dengan
bangunan tradisional Bali, Desa Wisata Pinge termasuk salah satu daya
tarik wisata dengan panorama yang indah. Tata letak desa yang teratur
memanjang dan dibelah oleh satu jalan besar dengan arsitektur tradisional

PENGAWAS

yang rapi dan sejajar. Desa Wisata Pinge menyimpan pula potensi budaya
terutama potensi arkeologi di sebuah pura yaitu Pura Natar Jemeng
(Wisata Dewata, 2011).
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Desa Wisata Pinge dan
menikmati suasana pedesaan dan keindahan serta hamparan sawah yang
luas, berikut adalah beberapa kegiatan wisata yang dapat dilakukan di
Desa Wisata Pinge diantaranya (Wisata Bali, 2012):
a. Hiking, wisatawan dapat berjalan kaki di dalam desa sambil
menikmati suasana pedesaan dan pertanian. Selain itu pengunjung
dapat beristirahat di rumah penduduk sambil menikmati makanan atau
minuman yang sudah dipesan sebelumnya.
b. Tracking, wisatawan dapat menikmati area pertanian Desa Pinge
sambil menikmati atmosfer pedesaan yang nyaman dan masih
tradisional.
c. Cycling, wisatawan dapat bersepeda sambil menikmati suasana
pedesaan.
d. Car touring, wisatawan dapat menikmati suasana Bedugul, Jatiluwih
lalu singgah di Pinge dan Tabanan dengan rute cukup jauh dilakukan
dengan memakai mobil seperti VW, safari atau kendaraan unik
lainnya.
e. Tarian dan Menabuh, wisatawan dapat menikmati tarian khas Desa
Adat Pinge yang dipentaskan oleh masyarakat lokal Desa Adat pinge.
f. Farming, wisatawan dapat melihat dan ikut turut serta kegiatan
bertani yang dilakukan oleh masyarakat lokal seperti menanam padi
atau menumbuk padi.
g. Leko dan Gumbung Gebyog.
h. Mebongbong, wisatwan dapat melihat atraksi Mebongbong yaitu
salah satu atraksi lokal Desa Adat Pinge dimana masyarakat
melakukan latihan adu ayam.
Gambar 2.1 Denah Atraksi Wisata Desa Wisata Pinge

Sumber : Analisis Pariwisata Universitas Udayana, 2012: 33

2.3 Identifikasi Elit Pariwisata di Desa Wisata Pinge


Dari hasil wawancara dengan Bapak A.A Suryadana selaku pendesa adat
di desa wisata Pinge terlihat tokoh yang dominan yaitu pendesa adat. hal ini
dikarenakan masyarakat lokal selalu mengikuti apapun arahan dari pendesa
adat karena pendesa adat sudah dianggap sebagai petua desa dan

yang

mengelola seluruh kegiatan yang ada di desa Pinge terutama yang


berhubungan dengan aktifitas adat dan juga kepariwisataan di Desa Pinge.
Dalam hal ini sudah terlihat jelas tokoh mana yang lebih dominan. Dari
analisis perspektif konflik dalam pengelolaan desa wisata Pinge, yang
menjadi kelompok elit yaitu pihak pendesa adat.

2.4 Kelompok Yang Tidak Diikutsertakan (Kelompok Non Elite) Dalam


Pengembangan Pariwisata di Desa Wisata Pinge
Desa wisata Pinge sudah ditetapkan sebagai desa wisata yang berbasis
kemasyarakatan, dimana semua

aktifitas

kepariwisataan diatur

dan

dilaksanakan oleh warga desa Pinge. Walaupun seperti itu, ternyata ada
kelompok masyarakat yang tidak berpartisipasi secara aktif. Adapun beberapa
alasan mengapa masyarakat menjadi pasif dalam kepariwistaaan di desa
Pinge adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia. Ini menjadi kendala
terbesar dalam pengembangan pariwisata di Desa Pinge. Menurut hasil
wawancara dengan Pendesa Adat Desa Wisata Pinge, disebutkan bahwa
justru masyarakat yang memiliki kemampuan akademis yang baik merantau
keluar kota, sehingga tidak ada yang bisa ikut membantu pengembangan
sumber daya manusia pariwisata, terutama masyarakat di desa Pinge.
2.5 Implikasi Adanya Kelompok Non Elite di Desa Wisata Pinge
Ketidakikutsertaan kelompok masyarakat dalam pariwisata tentu
memberikan pengaruh pada masyarakat lokal sendiri. Masyarakat yang
tergolong dalam kelompok non elite akan sulit merasakan manfaat dari
pengembangan pariwisata. Partisipasi mereka yang pasif akan membuat
progress dari pengembangan desa wisata Pinge akan lebih lama. Menurut
hasil wawancara dengan Pendesa adat di desa Pinge karena rendahnya
sumber daya manusia pariwisata membuat masyarakat lokal banyak yang
sulit mengikuti perkembangan pariwisata.
Hal ini tentu menjadi salah satu kendala dalam mengembangkan
pariwisata di desa Pinge. Karena seharusnya partisipasi masyarkat lokal harus
lebih aktif mengingat pariwisata di desa Pinge berbasis masyarakat ( Tourism
Based Community ).

3. AKHIRAN

3.1 KESIMPULAN
Pengembangan pariwisata di desa Pinge menggunakan basis masyarakat
lokal. Pengelolaannya di pegang oleh POKDARWIS Pinge Asri. Namun
demikian, yang menjadi tokoh yang lebih dominan di desa wisata Pinge yaitu
Pendesa Adat.
Walaupun pengembangan pariwisata berbasis masyarakat ternyata ada
kelompok dari masyarakat lokal itu sendiri yang tidak ikut berperan aktif dalam
pengembangan pariwisata di desa Pinge. Hal ini dikarenakan sumber daya
manusia pariwisata yang rendah. Karena hal tersebut pengembangan desa wisata
Pinge mengalami kendala. Selain itu masyarakat lokal yang termasuk kedalam
kelompok non elite tidak bisa merasakan manfaat dari kepariwistaan yang ada di
desa Pinge.

4. DAFTAR PUSTAKA
Adikampana, I Made. 2012. Analisis Pariwisata Vol. 12. Denpasar: Fakultas
Pariwisata Universitas Udayana.
Dinas Pariwisata Provinsi Bali. 2002. Studi Pengembangan Desa Wisata
Pinge Kecamatan Marga Tabanan, Bali.
M, Ariani N. dan Suardana, I. W. 2008. Penataan Jalur Tracking dan
Pengemasan Paket Wisata Perdesaan Desa Adat Pinge Tua Kecamatan
Marga Kabupaten Tabanan.