Anda di halaman 1dari 23

Jurusan Teknik Kimia

Universitas Jayabaya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Indonesia adalah Negara agraris, dengan kekayaan alam yang melimpah,

berbagai macam tumbuhan dengan varientas yang beranekaragam tumbuh di


Indonesia. Beberapa jenis tumbuhan seperti nilam, sereh wangi, cendana,
cengkeh, pala, kenanga, dll tubuh subur dan banyak ditemukan di daerah daerah
Indonesia. Tumbuah tersebut merupakan tumbuah penghasil minyak atsiri, yang
menjadikan Indonesia memiliki potensi sebagai penghasil minyak atsiri yang
berlimpah. Namun selama ini produk minyak atsiri baru pada tahap menghasilkan
kasar (crude oil). Pengolahan minyak ini seharusnya dapat di oleh menjadi
minyak atsiri yang lebih murni, hal ini akan meningkatkan nilai ekonomisnya.
Minyak atsiri atau yang biasa disebut juga essential oils adalah komoditi
ekstrak minyak alami tumbuhan yang berasal dari batang, daun, bunga, akar, biji
bijian, bahkan putik bunga. Minyak atsiri atau essential oils banyak kegunaannya
dan banyak di gunanakan dalam proses industry seperti industry pangan, industry
komestik, industry farmasi, dan lain lain. Banyaknya kegunaan essensial oils
dalam berbagain kegiatan industry menjadikan essensial oils banyak di butuhkan
di pasar.
Salah saru komuditi tanaman yang dapat menghasilkan essensial oils
adalah tanaman cengkeh. Tanaman cengkeh banyak tumbuh di Indoensia, daerah
daerah penghasil tanaman cengkeh seperti Aceh, Jambi, Banten, Jawa timur, Bali,

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

NTT, NTB, Sulawesi tangah, Sulawesi barat, Sulawesi utara, Maluku, Maluku
utara. Tanaman cengkeh di Indonesia tercatat berjumlah 1.711.292 (sumber:
Badan Stastistik Negara tahun 2014). Tanaman cengkeh ini bisa dijadikan
essensial oils dan meningkatkan nilai ekonomisnya. Essensial oils dari tanaman
cengkeh di sebut minyak cengkeh. Kebutuhan minyak cengkeh di dunia terus
meningkat terbukti dari data eksport dunia komuditi meniyak cengkeh terus
meningkat dari tahun 2003 2014.
Tahun

Eksport

2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014

Dalam US Dollar
1,062,750
2,445,833
2,712,500
3,450,000
4,125,000
5,450,000
9,050,000
12,708,333
9,041,667
12,416,250
14,763,636

Tabel 1. Nilai eksport komuditi minyak cengkeh (sumber : Badan Stastistik


Negara)
Minyak cengkeh dapat di peroleh dari bunga cengkeh (clove oil), tangkai
atau gagang bunga cengkeh (clove steam oil) dan dari daun cengkeh (colve leaf
oil). Kandungan minyak atsiri di dalam bunga cengkeh mencapai 21,3% dengan
kadar eugenol antara 78-95%, dari tangkai atau gagang bunga mencapai 6%
dengan kadar eugenol antara 89-95%, dan dari daun cengkeh mencapai 2-3%
dengan kadar eugenol antara 80-85%. Kandungan terbesar minyak cengkeh

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

adalah eugenol, yang bermanfaat dalam pembuatan vanilin, eugenil metil eter,
eugenil asetat, dll. Vanilin merupakan bahan pemberi aroma pada makanan,
permen, coklat dan parfum. Bunga cengkeh juga digunakan sebagai bahan baku
pembuatan rokok.

1.2.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi produksi

essential oil. Secara spesifik penelitian ini bertujuan untuk:


1. Mentukan pengaruh komposisi n-heksana, benzene, alcohol yang tepat
untuk mendapatkan minyak cengkeh yang berkualitas baik sesuai
dengan standar nasional Indonesia dengan kadar eugenol 78%.
2. Menentukan pelarut terbaik untuk mengekstraksi bunga cengkeh.
1.3.

Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sejauh mana

pengaruh komposisi pelarut dan jenis pelarut dengan kadar eugenol yang
dihasilkan dalam proses ekstraksi dengangn metode sohxletasi.

1.4.

Ruang lingkup
Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan mengunakan bahan baku bunga

cengkeh serta pelarut n heksana, benzene, alkohol sebagai pelarut, sebab n


heksana, benzene, alkohol adalah pelarut non polar sesuai dengan solute yang ada

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

pada daun cengkeh yang non polar juga. Bahan baku yang digunakan dalam
penelitian in iadalah bunga cengkeh.
1.4.

Manfaat penelitian
Adapun hasil dari penelitinan ini diharapkan dapat bergunan untuk:
1. Meningkatkan nilai jual minyak cengkeh yang berdampak terhadap
peningkatan pendapatan produsen minyak.
2. Memperkaya dan meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang produksi minyak cengkeh di Indonesia.
3. Mendorong pendirian industri minyak cengkeh di Indonesia.

1.5.

Variabel penelitian
Variabel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah komposisi pelarut :
1. Perbandingan n heksana dengan benzene : 4:1, 3:1, 2:1,1:1,1:2,1:3,1:4
2. Perbandingan n heksana dan alcohol: 4:1, 3:1, 2:1, 1:1, 1:2, 1:3, 1:4
3. Perbandingan benzene dan alcohol: : 4:1, 3:1, 2:1, 1:1, 1:2, 1:3, 1:4

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Cengkeh

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bmbu


masak pedas di negara negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok keretek khas
Indonesia. Cengkeh banyak ditanaman terutama di Indonesia dan Madagaskar,
selain itu juga dibudidayakan di Zanzibar, India dan Sri Langka . Klasifikasi
ilmiah tanaman cengkeh sebagai berikut:
Kerajaan

: Tumbuhan

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas : Dicottyledoneae
Sub Kelas : Monochlamydae
Bangsa : Caryophylalles
Suku : Caryophillaceae
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium.aromaticum
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan
tinggi mencapai 10 20m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga
pada pucuk pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan
berwarna merah jika sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai
panjang 1,5 2cm. Pohonnya dapat tumbuh tinggi mencapai 20 30m dan dapat
berumur lebih dari 100 tahun. Tajuk tanaman cengkeh umumnya berbentuk
kerucut, pyramid atau pyramid ganda, dengan batang utama menjulang keatas.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

Cabang cabangnya amat banyak dan rapat, pertumbuhannya agak mendatar


dengan ukuran relative kecil jika dibandingkan batang utama. Daunnya kaku
berwarna hijau atau hijau kemerahan dan bentuk elips dengan kedua ujung
runcing. Daun daun ini biasa keluar setiap periode dalam satu periode ujung
ranting akan mengeluarkan satu set daun yang terdiri dari dua daun yang terletak
saling berhadapan, ranting daun secara keseluruhan akan membentuk suatu tajuk
yang indah (Soenardi, 1981).
Cengkeh (S. aromaticum) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat
memiliki batang pohon besar dan berkayu keras cengkeh mampu bertahan hidup
puluhan bahkan sampai ratusan tahun., Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk
bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan pangkalnya menyudut. Bunga
dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek
serta bertandan.Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan,
kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi
merah muda apabila sudah tua. Sedang bunga cengkeh kering akan berwarna
coklat kehitaman dan berasa pedas sebab mengandung minyak atsiri. Umumnya
cengkeh pertama kali berbuah pada umur 4-7 tahun. Dari sudut botanis, tanaman
cengkeh adalah termasuk famili Myrtacea dan sekerabat dengan jambu air
(Eugenia Jambos).

2.2.

Minyak Atsiri

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut minyak atsiri, misalnya


dalam Bahasa Inggris disebut essential oils. Dalam bahasa Indonesia ada yang
menyebutnya minyak terbang, bahkan ada pula yang menyebut minyak kabur
(Lutony dan Rahmayati, 2002). Minyak atsiri juga dikenal dengan nama minyak
mudah menguap atau minyak terbang. Pengertian atau defenisi minyak atsiri yang
ditulis dalam Encyclopedia of Chemical Technology menyebutkan bahwa minyak
atsiri merupakan senyawa, yang pada umumnya berwujud cairan, yang diperoleh
dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, dan biji maupun dari bunga
dengan cara penyulingan dengan uap (Sastrohamidjojo, 2004).
Adapun sifat-sifat minyak atsiri yang diketahui yaitu tersusun oleh
bermacam-macam komponen senyawa. Memiliki bau khas, umumnya bau ini
mewakili bau tanaman asalnya. Bau minyak atsiri satu dengan yang lain berbeda
beda, sangat tergantung dari macam dan intensitas bau dari masing-masing
komponen penyusunnya. Mempunyai rasa getir, kadang-kadang berasa tajam,
menggigit, memberi kesan hangat sampai panas, atau justru dingin ketika terasa di
kulit, tergantung dari jenis komponen penyusunnya.
Dalam keadaan murni (belum tercemar oleh senyawa lain) mudah
menguap pada suhu kamar. Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan,
baik pengaruh oksigen udara, sinar matahari (terutama gelombang ultra violet)
dan panas, karena terdiri dari berbagai macam komponen penyusun. Bersifat tidak
bisa disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah menjadi tengik (rancid).
Bersifat optis aktif dan memutar bidang polarisasi dengan rotasi yang spesifik.
Mempunyai indeks bias yang

tinggi. Pada umumnya tidak dapat bercampur

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

dengan air, dapat larut walaupun kelarutannya sangat kecil, tetapi sangat mudah
larut dalam pelarut organik (Gunawan dan Mulyani, 2004).

2.3.

Minyak Cengkeh
Minyak cengkeh merupakan minyak yang diperoleh dari tanaman

cengkeh. Minyak cengkeh dapat diperoleh dari daun, bunga, daun tanaman
cengkeh. Minyak cengkeh memiliki fungsi ansitetik dan antimikroba. Minyak
cengkeh sering digunakan untuk menghilangkan bau nafas dan untuk meredakan
sakit gigi. Kualitas minyak cengkeh di lihat dari kandungan fenol, terutama
kandungan eugenolnya. Kandungan eugenol dalam minyak cengkeh di pengaruhi
oleh asal minyak nya. Kualitas dan kuantitas eugenol terbaik dapat diperoleh dari
bunga dan tangkai tanaman cegkeh. Kandungan minyak cengkeh adalah
karbohidrat, fosfor, kalsium, vitamin B1, zat besi, lemak, protein, dan eugenol.
Kandungan minyak bunga cengkeh ternyata cukup tinggi (85%), maka bunga
cengkeh sangat berpotensi untuk diambil minyaknya.

Gambar 1. Struktur eugenol


MInyak cengkeh memiliki syarat mutu yang telah ditetapkan oleh Badan
Standarisasi Nasional antara lain

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

No
1
1.1
1.2
2
3
4
5
6

Jenis uji
keadaan
warna
bau
bobot jenis 20oC/20oC
indeks bias
kelarutan dalam etanol
70%
eugenol totel
beta caryophillene

Satuan

Persyaratan

kuning-coklat tua
khas minyak cengkeh
1,025-1,049
1,528-1,535

1:2 jernih

%, v/v
%

minimum 78
maksimum 17

Tabel 2. Sumber SNI 06-2387-2006

2.4.

Pelarut
Pelarut adalah benda cari atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau

gas, yang menghasilkan sebuah larutan. Pelarut paling umum di gunakan dalam
kehidupan sehari hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum di gunakan adalah
pelarut organic (mengandung korbon).pelarut biasanya memiliki tiitk didih rendah
dan lebih mudah menguap, meninggalkan subtansi terlarut yang didapatkan.
Untuk membedakan antara pelarut dengan zat yang dilarutkan, pelarut biasanya
terdapat dalam jumlah yang lebih besar (guenther,1987).

Solvent

Rumus kimia

Titik
didih

Konstanta
dielektrik

Massa
jenis

Pelarut Non-Polar
Heksana
Benzena
Toluena
Dietil Ester
Klorofrom
Etil Asetat
Pelarut Polar Aprotic
1,4-Dioksana

CH3-CH2-CH2-CH2CH2CH3
C6H6
C6H5-CH3
CH3CH2-O-CH2-CH3
CHCl3
CH3-C(=O)-O-CH2CH3

69 C

0.655 g/ml

80 C
111 C
35 C
61 C
77 C

2.3
2.4
4.3
4.8
6

0.878 g/ml
0.867 g/ml
0.713 g/ml
1.498 g/ml
0.894 g/ml

/-CH2-CH2-O-CH2CH2-O-\

101 C

2.3

1.033 g/ml
9

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

Tetrahidrofuran (THF)
/-CH2-CH2-O-CH2CH2-\
Diklorometana (DCM)
CH2Cl2
Asetona
CH3-C(=O)-CH3
Asetonitril (MeCN)
CH3-CN
Dimetilformamida (DMF)
H-C(=O)N(CH3)2
Dimetil sulfoksida
CH3-S(=O)-CH3
(DMSO)
Pelarut Polar Protic
Asam asetat
CH3-C(=O)OH
n-Butanol
CH3-CH2-CH2-CH2OH
Isopropanol (IPA)
CH3-CH(-OH)-CH3
n-Propanol
CH3-CH2-CH2-OH
Etanol
CH3-CH2-OH
Metanol
CH3-OH
Asam format
H-C(=O)OH
Air
H-O-H
Tabel 3. Pelarut sumber (Guenther,187)
`2.4.1.

66 C
40 C
56 C
82 C
153 C

7.5
9.1
21
37
38

0.886 g/ml
1.326 g/ml
0.786 g/ml
0.786 g/ml
0.944 g/ml

189 C

47

1.092 g/ml

118 C
118 C
82 C
97 C
79 C
65 C
100 C
100 C

6.2
18
18
20
30
33
58
80

1.049 g/ml
0.810 g/ml
0.785 g/ml
0.803 g/ml
0.789 g/ml
0.791 g/ml
1.210 g/ml
1.000 g/ml

Alkohol
Mempunyai titik didih 78oC. Alkohol merupakan pelarut yang

cukup baik digunakan untuk mengekstraksi bahan kering daun-daunan,


batang, akar dan biji.

2.4.2.

Benzena
Adalah senyawa aromatik yang paling sederhana dengan rumus

C6H6. Merupakan pelarut yang baik setelah eter. Benzena tidak hanya
melarutkan minyak hasil ekstraksi tapi juga melarutkan lilin, albumin, dan
zat warna sehingga minyak hasil ekstraksi dengan benzene berwarna
gelap, lebih kental. Biasanya digunakan untuk mengekstraksi minyak yang
mempunyai titik didih lebih rendah, misalnya minyak gandum. Benzena
memiliki titik didih yang tinggi yaitu 80,1oC (Guenther.1987)

10

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

Sifat-Sifat Benzena adalah :


Cairan tidak berwarna, bau sedap, tak larut dalam air tetapi
larut dalam pelarut organik.
Mudah terbakar, berjelaga karena kadar karbon tinggi
Sifat fisik dan kimia
Rumus molekul
C6H6
Massa molar
78,1121 g/mol
Penampilan
Cairan tak berwarna
Densitas
0,8786 g/mL, zat cair
Titik leleh
5,5 C (278,6 K)
Titik didih
80,1 C (353,2 K)
Kelarutan dalam air 0,8 g/L (25 C)
Viskositas
0,652 cP pada 20 C
Momen dipole
0D
Tabel 4. Sifat fisik dan kimia benzene. Sumber (HSDB. 1999)

2.4.3.

Heksana
Heksana adalah senyawa hidrokarbon golongan alkana dengan

rumus C6H14 merupakan fraksi petroleum eter dengan kisaran titik didih
65-70oC. Keuntungan pelarut ini yaitu bersifat selektif dalam melarutkan
zat, menghasilkan jumlah kecil lilin, albumin, dan zat warna, namun dapat
mengekstrak zat pewangi dalam jumlah besar (Guenther, 1987).
Sifat fisik dan kimia
Deskripsi
cairan tak berwarna
Rumus
C6H14
Kadar
0,660 g/ml (20oC)
Berat
Berat molekul
molekul
Titik didih
68,95 oC
Titik lebur
- 95,3 oC
Kekentalan
0,294 CP (25 oC)
Kelarutan
Tidak larut dalam air
11

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

larut dalam pelarut organic


sangat larut dalam alkohol
Tabel 5. Sifat fisik dan kimia Heksana. Sumber (HSDB, 1999)

2.5.

Ekstraksi
a. Pengertian
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair

dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak


substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi padat-cair
atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert kedalam
pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen
terlarut kemudian dikembalikan lagi keadaan semula tanpa mengalami perubahan
kimiawi. Ekstrak dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan
dapat larut dalam pelarut pengekstraksi (Panji, 2005). Ekstraksi tergantung dari
beberapa faktor antara lain yaitu :
1. Ukuran partikel
2. Jenis zat pelarut
3. Suhu
4. Pengadukan
Ekstraksi termasuk proses pemisahan melalui dasar operasi difusi. Secara
difusi, proses pemisahan terjadi karena adanya perpindahan solute, searah dari
fasa diluen ke fasa solven, sebagai akibat adanya beda potensial diantara dua fasa

12

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

yang saling kontak sedemikian, hingga pada suatu saat, sistem berada dalam
keseimbangan.
Secara garis besar, proses pemisahan secara ekstraksi terdiri dari tiga
langkah dasar:
1) Langkah pencampuran, dengan menambahkan sejumlah massa solven sebagai
tenaga pemisah (MSA).
2) Langkah pembentukan fasa kedua atau fasa ekstrak yang diikuti dengan
pembentukan keseimbangan.
3) Langkah pemisahan kedua fasa seimbang.
b. Jenis ekstraksi
1. Ekstraksi secara dingin
- Metode Meserasi
Meserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan
cara merendam bahan dalam pelarut selama beberapa hari pada temperature
kamar dan terlindung dari cahaya. Keuntungan metode maserasi dapat dilakkan
dengan meodifikasi sebagai berikut:
- Modifikasi maserasi melingkar
- Modifikasi maserasi digesti
- Modifikasi maserasi melingkar bertingkat

13

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

- Modifikasi remaserasi
- Modifikasi dengan mesin pengaduk (Soeparman dkk, 2009)

- Metode Soxhletasi
Soxhletasi merupakan penyairan bahan secara berkesinambungan, cairan
penyair dipanaskan sehingga menguap, uap cairan peyair terkondensasi menjadi
molekul molekul air oleh pendingin balik dan turun menyaor simplisia dalam
klongosng dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah
melewati pipa sifon.
Keuntungan metode ini adalah:
- Dapat digunakan untuk sempel dengan tekstur lunak dan tidak tidak tahan
terhadap pemanasan langsung.
- Digunakan pelarut yang lebih sedikit
- Pemanasannya dapat diatur
- Metode Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui
bahan yang telah dibasahi. Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan
langkah tambahan yaitu sampel padat telah terpisah dari ekstrak. Kerugiannya
adalah kontak antara sampel padat tidak merata atau terbatas dibandingkan

14

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

dengan metode refluks, dan pelarut menjadi dingin selama proses perkolasi
sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien.

2. Ekstraksi secara panas


- Metode refluks
Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi
sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung.
Kerugiannya adalah membutuhkan volume total pelarut yang besar dan
sejumlah manipulasi dari operator.
- Metode destilasi uap
Destilasi uap adalah metode yang popular untuk ekstraksi minyak-minyak
menguap (esensial) dari sampel tanaman. Metode destilasi uap air diperuntukkan
untuk menyari simplisia yang mengandung minyak menguap atau mengandung
komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal
(Guenther,1987).

15

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Bahan dan alat


Alat :
1. Statif
2. Timbangan
3. Soxhlet
4. Labu alas datar
5. Penangas air
6. Air kondensor
7. Beaker glass
8. Klem
9. Disk mill

Bahan :
Bahan utama :
1. Bunga cengkeh
Bahan Kimia :
1. N Hesana
2. Benzena
3. Alkohol
4. Aquades
5. Etanol 70%

Alat uji
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Tabung reaksi 15 ml
Pipet 10 ml
Kertas 20cm x 30 cm
Neraca analitik dengan ketelitian 0.001g
Thermostat
Piknometer 5 ml
Refraktometer
Lampu natrium
Labu ukur 50 ml

6. Kalium hidroksida
7. Beta caryophilene

16

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

3.2.

Gelas ukur 10ml atau 25 ml


Labu cassia 100 ml
Pipet volume 10 ml
Istrumen kromatografi gas
Detector ionosasi nyala
Rekorder integrator
Alat suntik dengan volume 1 mikroliter

Tempat dan Waktu Penelitian


Tempat

: Laboratorium Kampus C Universitas Jayabaya

Cimanggis.
Waktu
: 11 Oktober 2016 s.d. 11 Desember 2016*
*) Waktu disesuaikan dengan waktu yang diberikan oleh Dosen
Pembimbing

3.3.

Metode

A.

Preparasi
Bunga cengkeh dikeringkan kemudian bunga cengkeh yang sudah

dikeringkan di haluskan.hasil cengkeh yang sudah halus di ayak dengan


mengunakan ayakan Mesh 44 sebanyak kurang lebih 50 gram. Kemudian bunga
cengkeh halus di bungkus dengan mengunakan kertas saring kemudian diikat
dengan tali atau ditutup kapas bebas lemak dan di masukan dalam tabung soxhlet.
B.

Ekstaksi
Tambahkan pelarut yang digunakan dalam soxhlet. Ekstraksi dilakukan

sebanyak 7 kali sirkulasi selama kurang lebih 2 jam. Sempel yang berada dalam
tabung soxhlet diambil dengan mengunakan pinset. Ekstraksi dilakukan sampai
hamper semua pelarut masuk kedalam tabung soxhlet, jangna sampai pelarut
tumpah. Pelarut yang berada dalam tabung soxhlet ditampung dalam botol agar
dapat digunakan lagi untuk ekstaksi berikutnya. Pelarut yang berada dalam labu,

17

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

harus benar benar teruapkan dengan cara penyulingan hinga pelarut yang
digunakan sudah kelihatan jernih. Labu dipanaskan di dalam alat pemanas pada
suhu 105oC 110oC selama 1 jam. Kemudian didinginkan dan ditimbgan sampai
diperoleh berat konstan. Untuk setiap variable pelarut dilakukan pengulangan 3
kali.

3.4.

Analisis
Analsisi didilakukan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia 06-2387-

2006.

3.4.1 Penentuan warna


Metode ini didasrkan pada pengamatan visual dengan indra penglehatan
langsung, terhadap contoh minyak daun cengkeh.

Pipet 10 ml contoh minyak cengkeh


Masukan ke dalam tabung reaksi, hindari adanya gelembung udara.
Sandarkan tabung reaksi berisi contoh minyak daun cengkeh pada kertas

berwarna putih
Amati warnanya dengan mata langsung, jarak pengamatan antara mata dan
contoh 30 cm

3.4.2 Bau
Metode ini didasarkan pada pengamatan vilsual dengan mengunakan indra
penciuman langsung terhadap contoh minyak cengkeh.

3.4.3 Penentuan bobot jenis


Perbandingan antara berat minyak dengan berat air pada volume dan suhu
yang sama

18

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

Cuci dan bersihkan piknometer, kemudian basuh berturut turut dengan

ethanol dan dietil eter.


Keringkan bagian dalam piknometer tersebut dengan arus udara kering

dan sisipkan tutupnya.


Biarkan piknometer di dalam lemari timbangan sekama 30 menit dan

timbang
Isi piknometer dengan air suling yang telah dididihkan pada dan dibiarkan

pada suhu 200C, sambil mengindari adanya gelembung gelembung udara.


Celupkan piknometrer ke dalam penagas air pada suhu 20 0C selama 30

menit
Sisipkan penutupnya dan keringkan piknometernya.
Biarkan piknometer di dalam lemari timbangan selam 30 menit, kemudian

timbang dengan isinya (ml).


Kosongkan piknometer tersebut, cuci dengan etanol dan dietil eter,

kemudian keringkan dengan arus udara kering.


Isilah piknometer dengan contoh minyak dan hindari adanya gelembung

gelembung udara.
Celupkan kembali piknometer ke dalam penangas air pada suhu 20oC

selama 30 menit. Sisipkan tutupnya dan keringkan piknometer tersebut.


Biarkan piknometer di dalam lemari timbang selam 30 menit dan timbang
(m2)

20
Bobot jenis d

m2m
mm

20

Dengan :
m

adalah massa, piknometer kosong (g)

m1

adalah massa, piknometer berisi air pada 20 0C (g)

m2

adalah massa, piknometer berisi contoh pada 20 0C (g)


19

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

3.4.4 Penentuan indeks bias


Metode ini didasarkan pada pengukuran langsung sudut bias minyak yang
dipertahankan pada kondis suhu tetap.

Alirkan air melalui refaktormeter agar alat ini berada pada suhu saat

pembacaan akan di lakukan.


Suhu harus di pertahankan dengan torelansi 0.2 0C.
Sebelum minyak ditaruh di dalam alat, minyak tersebut harus berada pada

suhu yang sama dengan suhu dimana pengukuran akan dilakukan.


Pembacaan dilakukan bila suhi sudah stabil.

Indeks bias

ntD=ntD1 +0.0004(t 1t)

Dengan :
ntD1

adalah pembacaan yang dilakukan pada suhu pengerjaan

ntD

adalah indeks bias pada suhu 200C

t1

adalah suhu yang dilakukan pada suhu pengerjaan

adalah suhu referensi (200C)

0.0004 adalah factor koresi untuk indeks bias setiap derajat

3.4.5. Penentuan kelarutan dalam etanol


Kelarutan minyak cengkah dalam etanol absolute atau etanol yang
diencerkan yang menimbulkan kekeruhan dan dinyatakan sebagai larut sebagian
20

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

atau larut seluruhnya. Berarti bahwa minyak tersebut membentuk larutan yang
bening dan cerah dalam perbandingan perbandingan seperti yang dinyatakan.

Tetapkan 1ml contoh minyak danukur dengan teliti di dalam ges ukur yang
berukuran 10 ml atau 25
Tambahkan etanol 70% setetes demi stetes, kocok setelaj setiap
penambahan sampai diperoleh suatu larutan yang sebening minyak
Bila larutan tersebut tidak bening, bandingkan kekeruhan yang terjadi
dengan kekeruhan larutan pembanding, melalui cairan yang sama
tebalnya.
Setelah minyak tersebut larut tambahkan etanol terlebih dahulu karena
beberapa minyak tertntu mengendap pada penambahan etanol lebi lanjut.
Kekeruhan dalam etanol 70% = 1 volumenya dalam Y volume, menjadi keruh
dalam 2 volume.
Bila larutan tersebut lebih besar dari pada , sama atau lebih kecildari
pada kekeruhan larutan pembanding.

3.4.6. Penentuan eugenol total


Senyawa fenol bereaksi dengan alkali membentuk fenolat. Beta
caryophillene merupakan senyawa non fenol yang tidak bereaksi dengan alkali
dan dihitung dari selisih minyak sebelum dan sesudah reaksi.

Pipet 10 ml contoh minyak cengkeh kedalam labu cassia.


Tambahkan larutan KNO 4% sehingga 2/3 volume.
Kocok selama 30 menit.
Tambahkan lagi larutan kno 4% hingga bagian skala labu cassia.

21

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

Labu cassia diketuk ketuk sampai butiran minyak naik ke leher labu

cassia.
Baca lapisan minyak pada leher labu cassia.
Eugenol = ((10 * V)/10) * 100%
Dengan
V dalam ml pembacaan

DAFTAR PUSTAKA

HSDB, 1999, Bank Data Hazardous Substances National Library of

Medicine, Bethesda, Maryland. (http://sis.nlm.nib.gov/sis.l)


Guenther, E, 1987. Minyak Atsiri. Diterjemahkan oleh R.S. Ketaren dan R

22

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Jayabaya

Mulyono. Jakarta, UI Press.

Standard Nasional Indonesia, 2006. Spesifikasi Persyaratan Mutu Minyak

Cengkeh.
Nur, Hasanah. Dkk. 2010. Pemisahan Eugenol dari Minyak Cengkeh

Dengan Cara Destilasi Fraksinasi.Unpad.


Gunawan, W, 2009, Kualitas dan Nilai Minyak Atsiri, Implikasi Pada
Pengembangan Turunannya. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional
dengan tema: Kimia Bervisi SETS (Science, Environment, Technology,
Society) Kontribusi Bagi Kemajuan Pendidikan dan Industri,
diselenggarakan Himpunan Kimia Indonesia Jawa Tengah, pada tanggal

21 Maret 2009, di Semarang.


Badan Pusat Stastistik (BSN)
Irwan, Bambang. 2010. Peningkatan mutu minyak nilam dengan ekstraksi

dan destilasi pada berbagai komposisi pelarut. Undip Semarang.


Khairani. 2009. Penentuan karakteristik minyak cengkeh. Universitas

Sumatra Utara Medan.


Dermawan, Petrus. 2010. Pengaruh jenis pelarut terhadap rendemen
minyak bunga cengkeh dengan metode ekstraksi soxhlet. ISSN 0216163X.

23