Anda di halaman 1dari 15

PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA ALOKASI UMUM, DANA

ALOKASI KHUSUS DAN KEMANDIRIAN KEUANGAN DAERAH


TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN/KOTA DI
PROVINSI JAMBI (TAHUN 2009-2013)

R. Ardiyansyah (ERC1C012117)
Program Strata 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Jambi Kampus Program
Reguler Mandiri UNJA Telanaipura Jambi
Wiwik Tiswiyanti, S.E., M.M., Ak.,CA
Dosen Pembimbing Program Strata 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas
Jambi Kampus ProgramReguler Mandiri UNJA Telanaipura Jambi
Misni Erwati, S.E., M.Si
Dosen Pembimbing Program Strata 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas
Jambi Kampus ProgramReguler Mandiri UNJA Telanaipura Jambi
ABSTRACT
This study aims to determine the effect of PAD, General Allocation Fund, Special
Allocation Fund, and financial independence simultaneously and partially to the
Human Development Index of the Regency/City in Jambi Province Year 2009 - 2013.
The populations used in this study are the Regency/City in Jambi Province Year 2009 2013. The analysis method in this research using panel data regression. The results
showed that the PAD, General Allocation Fund, Special Allocation Fund, and local
financial independence simultaneously affected to the Human Development Index in the
Regency/City in Jambi in 2009 - 2013. The results of this study also showed that
partially General Allocation Fund and Special Allocation Fund influence on the Human
Development Index while the PAD and local financial independence does not affect the
Human Development Index

Keywords: Human Development Index, PAD, General Allocation Fund, Special


Allocation Fund, and financial independence

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang Penelitian
Kemampuan
daerah
dalam
mengolah sumber daya yang dimiliki
dapat dijadikan sebagai sumber
kekayaan bagi daerah. Pengelolaan
daerah dapat menciptakan lapangan
kerja baru dan dapat merangsang
perkembangan kegiatan ekonomi, dan
dapat menambah dana alokasi umum,
belanja
modal
dan
kualitas
pembangunan manusia pendapatan bagi
daerah.
Landasan yuridis yang mengatur
tentang pelaksanaan otonomi daerah
telah di perbarui sebanyak 2 kali.
Landasan yuridis yang mengatur
tentang
Otonomi
Daerah
dan
desentrialisasi Fiskal yang telah di
perbarui dengan di keluarkannya
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang
Pemerintahan
Daerah
memberikan kewenangan penuh bagi
masing-masing daerah, baik di tingkat
provinsi,
maupun
di
tingkat
kabupaten/kota untuk mengatur dan
mengurus rumah tangga daerahnya
dengan sedikit mungkin intervensi
pemerintah pusat. Kebijakan tersebut
dikenal dengan nama Otonomi Daerah.
Daerah otonom dapat memiliki
pendapatan yang digunakan untuk
membiayai penyelenggaraan urusan
rumah tangganya secara efektif dan
efisien dengan memberikan pelayanan
dan pembangunan. Tujuan pemberian
otonomi daerah tidak lain adalah untuk
lebih meningkatkan kesejahteraan dan
pelayanan
kepada
masyarakat,
pengembangan
kehidupan
berdemokrasi, keadilan, pemerataan,

dan pemeliharaan hubungan yang serasi


antara pusat dan daerah serta antar
daerah. Dengan adanya desentralisasi
atau otonomi daerah, diharapkan
pembangunan lebih berhasil sehingga
salah satu indikator pembangunan, yaitu
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
dihipotesiskan akan meningkat pula
(Rondinelli dan Cheema, 1983;
Davoodi dan Zou 1998; Syaukani dan
Rasyid, 2001; Fisman dan Gatti, 2002;
Devas dan Grant 2003).
Titik berat pembangunan nasional
Indonesia
sesungguhnya
sudah
menganut konsep IPM yang dipublikasi
oleh
UNDP,
yakni
konsep
pembangunan manusia seutuhnya yang
menghendaki peningkatan kualitas
hidup penduduk baik secara fisik,
mental maupun spiritual. Dalam
publikasi UNDP (United Nations
Development Programme) melalui
Human Development Report tahun 1996
tentang Konsep Indeks Pembangunan
Manusia (IPM), pembangunan manusia
didefinisikan sebagai a process of
enlarging peoples choices atau suatu
proses yang meningkatkan aspek
kehidupan
masyarakat.
Aspek
terpenting kehidupan ini dilihat dari
usia yang panjang dan hidup sehat,
tingkat pendidikan yang memadai serta
standar hidup layak. Secara spesifik,
UNDP menetapkan empat elemen
utama dalam pembangunan manusia,
yaitu
produktivitas
(productivity),
pemerataan (equity), kesinambungan
(sustainability) dan pemberdayaan
(empowerment). Pencapaian tujuan
pembangunan manusia bukanlah hal
yang baru bagi Indonesia dan selalu ada
penekanan pada pemenuhan tujuan
tersebut, yaitu pemenuhan pendidikan

universal, peningkatan kesehatan serta


pemberantasan kemiskinan. Hal ini
sebagaimana tertuang dalam Rencana
Pembangunan
Jangka
Menengah
Nasional (RPJMN) 2010-2014.
Agar pertumbuhan ekonomi sejalan
dengan pembangunan manusia, maka
pertumbuhan ekonomi harus disertai
dengan syarat cukup, yaitu pemerataan
pembangunan, tidak hanya semata-mata
pada pertumbuhan ekonomi karena
pertumbuhan ekonomi baru merupakan
syarat
perlu.
Dengan
adanya
pemerataan pembangunan, terdapat
jaminan bahwa semua penduduk dapat
menikmati hasil-hasil pembangunan.
Berdasarkan pengalaman pembangunan
di
berbagai
negara,
diperoleh
pembelajaran
bahwa
untuk
mempercepat pembangunan manusia
dapat dilakukan antara lain melalui dua
hal, yaitu distribusi pendapatan yang
merata dan alokasi belanja publik yang
memadai (Marhaeni, et al., 2008).
Salah satu aspek yang sangat krusial
dalam desentralisasi (otonomi daerah)
adalah permasalahan desentralisasi
fiskal. Secara konseptual, desentralisasi
fiskal mensyaratkan bahwa setiap
kewenangan yang diberikan kepada
daerah
harus
disertai
dengan
pembiayaan yang besarnya sesuai
dengan beban kewenangan tersebut.
Dengan kata lain, pemerintah pusat
berkewajiban untuk menjamin sumber
keuangan atas pendelegasian tugas dan
wewenang dari pusat ke daerah.
Menanggapi permasalahan tersebut,
pemerintah
menerbitkan
UndangUndang Nomor 25 Tahun 2005 tentang
Perimbangan
Keuangan
antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah

Daerah. Dana perimbangan yang


dimaksud terdiri dari Dana Alokasi
Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus
(DAK) dan Dana Bagi Hasil (DBH).
Dana perimbangan tersebut bertujuan
untuk
mengurangi
ketimpangan
kemampuan keuangan antar daerah
(horizontal
imbalance).
Sumber
pembiayaan lainnya adalah Pendapatan
Asli Daerah (PAD) yang diperoleh dari
pajak
daerah,
retribusi,
laba
perusahaan/BUMD
dan
lain-lain
pendapatan daerah yang sah . Kuncoro
(2007) juga menyebutkan bahwa PAD
hanya mampu membiayai belanja
pemerintah daerah paling tinggi sebesar
20%.
Ini
menunjukkan
bahwa
kemandirian daerah belum sepenuhnya
terlaksana.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan diatas,
maka penulis merumuskan masalah
penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah Pendapatan Asli Daerah,
Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi
Khusus, Kemandirian Keuangan
Daerah berpengaruh terhadap Indeks
Pembangunan
Manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi ?
2. Apakah Pendapatan Asli Daerah
berpengaruh
terhadap
Indeks
Pembangunan
Manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi ?
3. Apakah Dana Alokasi Umum
berpengaruh
terhadap
Indeks
Pembangunan
Manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi ?
4. Apakah Dana Alokasi Khusus
berpengaruh
terhadap
Indeks
Pembangunan
Manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi ?

5. Apakah Kemandirian Keuangan


Daerah berpengaruh terhadap Indeks
Pembangunan
Manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi ?
6. Berapa besar Pendapatan Asli
Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana
Alokasi
Khusus,
Kemandirian
Keuangan
Daerah
berpengaruh
terhadap
Indeks
Pembangunan
Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi
Jambi ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang
dirumuskan di atas, maka tujuan
penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh pendapatan
asli daerah, dana alokasi umum,
dana alokasi khusus, kemandirian
keuangan daerah terhadap indeks
pembangunan
manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi.
2. Mengetahui pengaruh pendapatan
asli daerah terhadap indeks
pembangunan
manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi.
3. Mengetahui pengaruh dana alokasi
umum
terhadap
indeks
pembangunan
manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi.
4. Mengetahui pengaruh dana
alokasi khusus terhadap indeks
pembangunan
manusia
Kabupaten/Kota di Provinsi
Jambi.
5. Mengetahui
pengaruh
kemandirian keuangan daerah
terhadap indeks pembangunan
manusia Kabupaten/Kota di
Provinsi Jambi.
6. Mengetahui besar pengaruh
Pendapatan Asli Daerah, Dana
Alokasi Umum, Dana Alokasi

Khusus
dan
Kemandirian
Keuangan Daerah Terhadap
Indeks Pembangunan Manusia.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian
ini berharap dapat bermanfaat bagi
pihak yang terkait secara langsung
maupun tidak. Manfaat yang diperoleh
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sebagai bahan pertimbangan oleh
pemerintah
kabupaten/kota
di
Provinsi Jambi dalam menyusun
kebijakannya
guna
terkait
pendapatan asli daerah, dana
alokasi umum, dana alokasi khusus,
kemandirian keuangan daerah yang
diukur
dengan
indeks
pembangunan manusia.
2. Sebagai referensi kepada peneliti
lain guna mengembangkan dan
menambah pengetahuan untuk
penelitian selanjutnya.
3. Bagi peneliti, dapat menambah
wawasan
penulis
khususnya
tentang pendapatan asli daerah,
dana alokasi umum, dana alokasi
khusus, kemandirian keuangan
daerah
terhadap
indeks
pembangunan manusia.
II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Akuntansi Sektor
Publik
Definisi akuntansi sektor publik
dari sudut pandang ilmu ekonomi
menurut Mardiasmo (2002:2) yaitu
suatu
entitas
yang
aktivitasnya
berhubungan dengan usaha untuk
menghasilkan barang dan pelayanan
publik dalam rangka memenuhi

kebutuhan dan hak publik.Sedangkan


menurut Ulum (2004:9) akuntansi
sektor publik adalah sebuah kegiatan
jasa dalam rangka penyediaan informasi
kuantitatif terutama yang bersifat
keuangan dari entitas pemerintah guna
pengambilan keputusan ekonomi yang
nalar
dari
pihak-pihak
yang
berkepentingan atas berbagai alternatif
arah tindakan.
2.1.2

Tujuan
Akuntansi
Sektor
Publik
Akuntansi
Sektor
Publik
merupakan alat informasi yang baik
bagi pemerintah sebagai manajemen
maupun alat informasi bagi publik.
Untuk itu Akuntansi Sektor Publik
harus memiliki tujuan yang jelas.
Menurut
American
Accounting
Assosiation (1970) dalam Glynn (1993)
yang dikutip oleh Ulum (2004:5)
menyatakan bahwa tujuan akuntansi
pada organisasi sektor publik adalah
untuk:
1. Memberikan
informasi
yang
diperlukan untuk mengelola secara
tepat, efesien, dan ekonomis atas
suatu operasi dan alokasi sumber
daya yang dipercayakan kepada
organisasi. Tujuan ini terkait
dengan pengendalian manajemen
(management control);
2. Memberikan
informasi
yang
memungkinkan bagi manajer untuk
melaporkan
pelaksanaan
tanggungjawab mengelola secara
tepat dan efektif program dan
penggunaan sumber daya yang
menjadi
wewenangnya;
dan
memungkinkan
bagi
pegawai
pemerintahan untuk melaporkan

kepada publik atas hasil operasi


pemerintah dan penggunaan dana
publik. Tujuan ini terkait dengan
akuntabilitas (accountability).
2.1.3

Anggaran Keuangan Sektor


Publik
Anggaran (budget) ialah suatu
daftar atau pernyataan yang terperinci
tentang penerimaan dan pengeluaran
negara yang diharapkan dalam jangka
waktu tertentu, yang biasanya adalah
satu tahun. Menurut Bastian (2006:39),
Anggaran
merupakan
pernyataan
mengenai estimasi kinerja yang hendak
dicapai selama periode tertentu yang
dinyatakan dalam ukuran finansial.
Pengertian yang sama seperti yang
dikemukakan oleh Halim (2007:218)
dan Mardiasmo (2002b:61). Anggaran
merupakan
pernyataan
mengenai
estimasi kinerja yang hendak dicapai
selama periode waktu tertentu (satu
tahun) dalm ukuran finansial.
Menurut
Elmi
(2002),
penganggaran adalah suatu proses
menyusun rencana keuangan, yaitu
pendapatan dan pembiayaan, kemudian
mengalokasikan dana tersebut ke
masing-masing kegiatan sesuai dengan
fungsi dan sasaran yang hendak dicapai.
Penganggaran sektor publik (public
budgeting) menurut Lynch (dalam
Rubenstein, 2002) adalah a plan for
introducing programs deal with
objectives and and goals within a
period, including an estimate of
resources required, usually compared
with past periods and showing future
requirements. Perencanaan
untuk
memperkenalkan
program
yang
berhubungan dengan tujuan dan sasaran
dalam jangka waktu tertentu, termasuk

perkiraan
sumber
daya
yang
dibutuhkan, biasanya dibandingkan
dengan periode masa lalu dan
menunjukkan kebutuhan pada masa
yang akan datang.
2.2 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Menurut Mardiasmo (2002:
132), pendapatan asli daerah adalah
penerimaan yang diperoleh dari sektor
pajak daerah, retribusi daerah, hasil
perusahaan
milik
daerah,
hasil
pengeloalaan kekayaan daerah yang
dipisahkan, dan lain-lain pendapatan
asli daerah yang sah. Di dalam UndangUndang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan
Keuangan
Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah disebutkan bahwa sumber
pendapatan
daerah
terdiri
dari
Pendapatan Asli Daerah, Bagi Hasil
Pajak dan Bukan Pajak. Pendapatan
Asli Daerah sendiri terdiri dari:
1.
2.
3.

pajak daerah,
retribusi daerah,
hasil pengolahan kekayaan daerah
yang dipisahkan,
4. lain-lain PAD yang sah
.
Klasifikasi PAD yang terbaru
berdasarkan Permendagri Nomor 13
Tahun 2006 terdiri dari:
Pajak daerah, retribusi daerah, hasil
pengelolaan daerah yang dipisahkan,
dan lain-lain pendapatan asli daerah
yang sah. Jenis pajak daerah dan
retribusi daerah dirinci menurut objek
pendapatan sesuai dengan undangundang tentang pajak daerah dan
retribusi daerah. Jenis hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan
dirinci menurut objek pendapatan yang

mencakup bagian laba atas penyertaaan


modal
pada
perusahaan
milik
daerah/BUMD, bagian laba atas
penyertaan modal pada perusahaan
milik pemerintah/BUMN, dan bagian
laba atas penyertaan modal pada
perusahaan milik swasta atau kelompok
usaha masyarakat. Jenis lain-lain PAD
yang
sah
disediakan
untuk
menganggarkan penerimaan daerah
yang tidak termasuk dalam pajak
daerah, retribusi daerah dan hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan dirinci menurut objek
pendapatan yang mencakup hasil
penjualan kekayaan daerah yang tidak
dipisahkan, jasa giro, pendapatan
bunga, penerimaan atas tuntutan ganti
kerugian daerah, penerimaan komisi,
potongan, ataupun bentuk lain sebagai
akibat
dari
penjualan
dan/atau
pengadaan barang dan/atau jasa oleh
daerah,
penerimaan
Universitas
Sumatera Utara keuntungan dari selisih
nilai tukar Rupiah terhadap mata uang
asing,
pendapatan
denda
atas
keterlambatan pelaksanaan pekerjaan,
pendapatan denda pajak, pendapatan
denda retribusi. Pendapatan hasil
eksekusi atau jaminan, pendapatan dari
penyelenggaraan
pendidikan
dan
pelatihan,
pendapatan
dari
angsuran/cicilan penjualan.
2.3 Pajak Daerah
Berdasarkan
Undang-Undang
Nomor 34 Tahun 2000 tentang
perubahan atas Undang-Undang Nomor
18 Tahun 1997 tentang pajak daerah dan
retribusi daerah dalam Saragih (2003:
61), yang dimaksud dengan pajak
daerah adalah iuran wajib yang
dilakukan oleh orang pribadi dan badan

kepada daerah tanpa imbalan langsung


yang seimbang, yang dapat dipaksakan
berdasarkan
peraturan
perundangundangan yang berlaku, yang digunakan
untuk membiayai penyelenggaraan
pemerintah daerah dan pembangunan
daerah. Menurut Halim (2004: 67),
pajak daerah merupakan pendapatan
daerah yang berasal dari pajak.

2.4 Restribusi Daerah


Sumber pendapatan lain yang dapat
dikategorikan dalam pendapatan asli
daerah adalah restribusi daerah. Yang
dimaksud dengan retribusi menurut
Saragih (2003: 65) adalah pungutan
daerah sebagai pembayaran atas jasa
atau pemberian izin tertentu yang
khusus disediakan dan atau diberikan
oleh Pemerintah daerah
untuk
kepentingan orang pribadi atau badan.
Menurut Halim (2004: 67), Retribusi
daerah merupakan pendapatan daerah
yang berasal dari retribusi daerah.
Retribusi untuk kabupaten/kota dapat
dibagi menjadi 2, yakni:
1. Retribusi untuk kabupaten/kota
ditetapkan sesuai kewenangan
masing-masing daerah, terdiri
dari: 10 jenis retribusi jasa
umum,
4
jenis
retribusi
perizinan tertentu.
2. Retribusi untuk kabupaten/kota
ditetapkan sesuai jasa/pelayanan
yang
diberikan oleh masingmasing daerah, terdiri dari: 13
jenis retribusi jasa usaha.
(Kadjatmiko, 2002: 78).
2.5 Hasil Perusahaan Milik Daerah
dan
Hasil
Pengelolaan

Kekayaan Milik Daerah yang


Dipisahkan
Menurut Halim (2004: 68), Hasil
perusahaan milik Daerah dan hasil
Pengelolaan kekayaan milik Daerah
yang dipisahkan merupakan penerimaan
Daerah yang berasal dari hasil
perusahaan
milik
Daerah
dan
pengelolaan Kekayaan Daerah yang
dipisahkan. Menurut Halim (2004: 68),
jenis pendapatan ini meliputi objek
pendapatan berikut:
1. bagian laba Perusahaan mliki
Daerah
2. bagian laba lembaga keuangan
Bank
3. bagian laba lembaga keuangan
non Bank
4. bagaian laba atas penyertaan
modal/investasi
Lain-Lain PAD yang Sah
Menurut Halim (2004: 69),
pendapatan ini merupakan penerimaan
Daerah yang berasal dari lain-lain milik
pemerinyah Daerah. Menurut Halim
(2004: 69), jenis penndapatan ini
meliputi objek pendapatan berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

hasil penjualan aset Daerah yang


tidak dipisahkan
penerimaan jasa giro
penerimaan bunga deposito
denda
keterlambatan
pelaksanaan pekerjaan.
penerimaan ganti rugi atas
kerugian/kehilangan kekayaan
Daerah.

2.6 Dana Perimbangan


Berdasarkan
Undang-Undang
Nomor 32 dan Undang-Undang Nomor

33 tahun 2004 tentang Perimbangan


Keuangan
Pusat
dan
Daerah,
mengandung pengertian bahwa kepala
daerah diberikan kewenangan untuk
memanfaatkan sumber keuangan sendiri
serta didukung dengan perimbangan
keuangan antara pusat dan daerah. Hal
ini berarti bahwa hubungan keuangan
antara pusat dan daerah perlu diberikan
pengaturan sedemikian rupa sehingga
kebutuhan pengeluaran yang akan
menjadi tanggungjawab daerah dapat
dibiayai
dari
sumber-sumber
penerimaan yang ada.
Menurut Permendagri Nomor.
13 tahun 2006, dana perimbangan
dibagi menjadi:
a. Dana Alokasi Umum
Menurut Undang-Undang Nomor
33 tahun 2004, Dana Alokasi Umum
(DAU) adalah dana yang bersumber
dari
pendapatan
APBN
yang
dialokasikan dengan tujuan pemerataan
kemampuan keuangan antardaerah
untuk mendanai kebutuhan daerah
dalam
rangka
pelaksanaan
desentralisasi. DAU berperan dalam
pemerataan
horizontal (horizontal
equalization), yaitu dengan menutup
celah fiskal (fiscal gap) yang berada
diantara kebutuhan fiskal dan potensi
ekonomi yang dimiliki daerah. DAU
sering disebut bantuan tak bersyarat
(unconditional
grants)
karena
merupakan jenis transfer antartingkat
pemerintah yang tidak terikat dengan
program pengeluaran tertentu.
b. Dana Alokasi Khusus
Menurut Syarifin dan Jubaedah
(2005: 107) Dana Alokasi Khusus

(DAK) adalah dana yang bersumber


dari
pendapatan
APBN
yang
dialokasikan kepada daerah tertentu
dengan tujuan membantu mendanai
kegiatan khusus yang merupakan
urusan daerah dan sesuai dengan
prioritas nasional. Sesuai dengan
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004
tentang perimbangan keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah, kegiatan khusus yang dimaksud
adalah:
1) Kegiatan dengan kebutuhan yang
tidak dapat diperkirakan dengan
rumus alokasi umum, dalam
pengertian kebutuhan suatu daerah
tidak sama dengan kebutuhan
daerah lain, misalnya kebutuhan di
kawasan transmigrasi, kebutuhan
beberapa jenis investasi/prasarana
baru, pembangunan jalan di
kawasan terpencil, serta saluran
irigasi primer.
Kebutuhan yang merupakan komitmen
atau prioritas nasional.
Menurut H.A.W Wijaya (2007)
menyatakan bahwa biaya administrasi,
biaya penyiapan proyek fisik, biaya
penelitian, biaya perjalanan pegawai
daerah, dan lain-lain biaya umum yang
sejenis tidak dapat dibiayai oleh dana
alokasi umum.
c.

Dana Bagi Hasil


Menurut Pipin Syarifin dan Dedah
Jubaedah (2005: 108) Dana bagi hasil
adalah dana yang bersumber dari APBN
yang dialokasikan kepada daerah
berdasarkan angka presentase untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana
bagi hasil ini bersumber dari pajak dan
kekayaan daerah. Dimana menurut

Pasal 11 ayat 1 Undang-Undang Nomor.


33 Tahun 2004,
Dana Bagi Hasil yang berasal dari pajak
terdiri dari:
1) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB)
3) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25
dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi

Pembangunan
harus
memberikan
dampak terhadap peningkatan kualitas
hidup manusia secara menyeluruh, baik
menyangkut pemenuhan kebutuhan
fisik maupun non fisik. Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) atau
disebut
juga
dengan
Human
Development Index (HDI).
2.8.1

Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.


Sedangkan pada pasal 11 ayat 2
Undang-Undang Nomor. 33 Tahun
2004, Dana Bagi Hasil yang berasal dari
sumber daya alam terdiri dari
1) kehutanan
2) pertambangan umum
3) perikanan
4) pertambangan minyak bumi
5) pertambangan gas bumi
6) pertambangan panas bumi.
2.7 Kemandirian Keuangan Daerah
Berkaitan
dengan
hakekat
otonomi daerah mengenai pelimpahan
wewenang pengambilan keputusan
kebijakan, pengelolaan dana publik dan
pengaturan
kegiatan
dalam
penyelenggaraan
pemerintah
dan
pelayanan masyarakat, maka peranan
data
keuangan
daerah
sangat
dibutuhkan untuk mengidentifikasi
sumber-sumber pembiayaan daerah
serta jenis dan besar balanja yang harus
dikeluarkan agar perencanaan keuangan
dapat dilaksanakan secara efektif dan
efisien.
2.8 Indeks Pembangunan Manusia
Hakekat
pembangunan
pada
dasarnya adalah pembangunan manusia
(Suyanto dalam Christy, dkk., 2009).

Fungsi Indikator Kinerja

Indikator Kinerja adalah ukuran


kuantitatif
dan
kualitatif
yang
menggambarkan tingkat pencapaian
suatu sasaran atau tujuan yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu kinerja
harus merupakan sesuatu yang akan
dihitung dan diukur serta digunakan
sebagai dasar untuk menilai atau
melihat tingkat kinerja baik dalam
tahapan
perencanaan,
tahap
pelaksanaan, maupun tahap setelah
kegiatan selesai dan berfungsi.
III.

METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini tergolong pada
penelitian
kuantitatif.
Penelitian
kuantitatif merupakan metode untuk
menguji teori-teori tertentu dengan cara
meneliti hubungan antar variabel (Noor,
2013:38).
Penelitian
kuantitatif
didasarkan pada paradikma positivisme
yang
bersifat
logico-hypothecoverifikatif dengan berlandaskan pada
asumsi mengenai obyek empiris (Juju
Suriasumantri, 1978 dalam Sugiyono,
2007).
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi Penelitian
Populasi merupakan kelompok
elemen yang lengkap, yang biasanya

berupa orang, objek, transaksi, atau


kejadian dimana kita tertarik untuk
mempelajarinya atau menjadi objek
penelitian
(Kuncoro,
2013:103).
Populasi dalam penelitian ini adalah
semua kabupaten/kota di Provinsi
Jambi, yang berjumlah 9 Kabupaten dan
2 Kota. Pemilihan periode waktu
penelitian pada tahun 2009 sampai
dengan 2013.
3.2.2

Sampel Penelitian
Sampel Sampel adalah suatu
himpunan bagian (subset) dari unit
populasi
(Kuncoro,
2013:103).
Pengambilan sampel dalam penelitian
ini menggunakan metode total sampling
dimana seluruh anggota populasi
dijadikan sebagai sampel penelitian.
sampling dimana populasi yang akan
dijadikan sampel penelitian.
III.3 Jenis Data
Sumber data penelitian ini adalah
data
sekunder.
Penelitian
ini
menggunakan data panel (gabungan
data cross section dan time series). Data
tersebut berupa softcopy Laporan
Realisasi Anggaran dan softcopy Indeks
Pembangunan Manusia kabupaten/kota
di Provinsi Jambi diperoleh dari website
resmi Direktorat Jenderal Perimbangan
Keuangan (www.djpk.kemenkeu. go.id)
dan
Badan
Pusat
Statistik
(www.bps.go.id).
III.4 Uji Hipotesis
Pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui apakah semua variable
independen
baiksecara
simultan
maupun secara parsial mempengaruhi
variable dependen yang mana dilakukan

dengan ujit F dan uji t dengan tingkat


signifikasi () 5% atau = 0,05.
III.5 Uji Simultan dengan Uji F
Uji F dilakukan untuk mengetahui
apakah semua variable independen
secara simultan berpengaruh terhadap
variable dependen. Langkah-langkah
pengujiannya adalah sebagai berikut:
a) Perumusan hipotesis
Ho: PAD, DAU, DAK, dan
kemandirian keuangan daerah
secara simultan tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap
indeks pembangunan manusia.
Ha
: PAD, DAU, DAK, dan
kemandirian keuangan daerah
secara simultan memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap indeks
pembangunan manusia.
b) Menentukan tingkat signifikansi ()
yaitu sebesar 5% atau 0,05
c) Kriteria pengujian
Ho diterimajika fhitung< f tabel dan sig
f > 0,05.
Ha diterimajika f hitung> f tabel dan sig
f < 0,05.
d) Membuat kesimpulan atas hipotesis
yang telah diuji.
III.5.1 Uji Parsial dengan Uji t
Uji
t
dilakukan
untuk
mengetahui apakah masing-masing
variable independen secara parsial
berpengaruh
terhadap
variable
dependen.
Langkah-langkah
pengujiannya adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan hipotesis (Ha)
a. Hipotesis Pertama

Ho1 : 1 = 0
Menunjukkan variabel
X1 (Pendapatan Asli Daerah) tidak
berpengaruh terhadap variabel Y
(Indeks Pembangunan Manusia).
Ha1 : 1 0
Menunjukkan
X1
(Pendapatan
Asli
Daerah)
berpengaruh terhadap variabel Y
(Indeks Pembangunan Manusia).
b. Hipotesis Kedua
Ho2 : 2 = 0
Menunjukkan variabel
X2 (Dana Alokasi Umum) tidak
berpengaruh terhadap variabel Y
(Indeks Pembangunan Manusia).
Ha2 : 2 0
Menunjukkan X2 (Dana
Alokasi Umum) berpengaruh
terhadap variabel Y (Indeks
Pembangunan Manusia).
c. Hipotesis Ketiga
Ho3 : 3 = 0
Menunjukkan variabel
X3 (Dana Alokasi Khusus) tidak
berpengaruh terhadap variabel Y
(Indeks Pembangunan Manusia).
Ha3 : 3 0
Menunjukkan X3 (Dana
Alokasi Khusus) berpengaruh
terhadap variabel Y (Indeks
Pembangunan Manusia).
d. Hipotesis Ketiga
Ho4 : 4 = 0
Menunjukkan variabel
X4
(Kemandirian
Keuangan
Daerah)
tidak
berpengaruh
terhadap variabel Y (Indeks
Pembangunan Manusia).
Ha4 : 4 0
Menunjukkan
X4
(Kemandirian Keuangan Daerah)
berpengaruh terhadap variabel Y
(Indeks Pembangunan Manusia).

2. Menentukan tingkat signifikansi


() sebesar 0,05.
3. Kriteria pengujian
Ho: diterima jika t hitung< t tabeldan sig t >
0,05.
Ha: diterima jika t hitung> t tabel dan sig t <
0,05.
4. Membuat
kesimpulan
hipotesis yang telah diuji.

atas

III.6 Koefisien Determinasi


Untuk menjawab dari rumusan
masalah nomor enam digunakan
koefisien
determinasi.
Koefisien
2
R
determinasi (
) pada intinya
mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi
variabel dependen (Ghozali,2011). Nilai
2
Koefisien determinasi ( R ) adalah
2
antara nol dan satu. Dengan nilai ( R

) yang kecil berarti kemampuan


variabel-variabel independen dalam
menjelaskan variabel dependen amat
2
terbatas. Nilai R
yang mendekati
satu
berarti
variabel-variabel
independen
memberikan
semua
informasi yang dibutuhkan untuk
menjelaskan variabel dependen.
IV.
4.1.1

HASIL PENELITIAN
PEMBAHASAN

DAN

Hasil Pengujian Hipotesis


Pengujian hipotesis dilakukan
untuk melihat signifikansi pengaruh

PAD, DAU, DAK, dan kemandirian


keuangan daerah, secara parsial dan
simultan terhadap IPM. Pengujian
hipotesis simultan dilakukan dengan
menggunakan uji F. Sedangkan
pengujian hipotesis secara parsial
dilakukan dengan menggunakan uji t.

4.1.2

Hasil Uji F (Uji Simultan)

Hasil uji F yang dilakukan untuk


melihat pengaruh PAD, DAU, DAK,
dan kemandirian keuangan daerah
secara bersama-sama terhadap indeks
pembangunan manusia digambarkan
dalam tabel 4.6. Dari tabel 4.6 di atas
didapat nilai probability sebesar 0.0000
lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05,
hal ini berarti bahwa H0 ditolak dan dan
Ha diterima. Ini menunjukkan bahwa
semua variabel independen yaitu PAD,
DAU, DAK, dan kemandirian keuangan
daerah secara bersama-sama memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap
indeks pembangunan manusia.
4.1.3

Hasil Uji t (Uji Parsial)


Nilai thitung merupakan nilai yang
didapat
dengan
membandingkan
koefisien regresi tiap variabel dengan
standar error dari koefisien regresi
tersebut. Kriteria keputusan dilihat nilai
probabilitas dari setiap koefisien regresi
masing-masing variabel independen.
Hasil uji t dapat dilihat pada tabel 4.6
di atas.
1. Pengujian koefisien regresi variabel
PAD
Pada variabel Pendapatan Asli
Daerah (PAD), nilai probability
sebesar 0,6013 lebih besar dari
taraf signifikansi 0,05, hal ini

berarti bahwa H0 diterima dan dan


Ha ditolak. Dengan demikian, PAD
Kabupaten/Kota di Provnsi Jambi
tidak signifikan mempengaruhi
indeks pembangunan manusia.
2. Pengujian koefisien regresi variabel
DAU
Pada variabel Dana Alokasi Umum
(DAU) nilai probability sebesar
0,0000 lebih kecil dari taraf
signifikansi 0,05, hal ini berarti
bahwa H0 ditolak dan dan Ha
diterima. Dengan demikian, DAU
memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap indeks pembangunan
manusia.
3. Pengujian koefisien regresi variabel
DAK
Pada variabel Dana Alokasi Khusus
(DAK), nilai probability sebesar
0,0102 lebih kecil dari taraf
signifikansi 0,05, hal ini berarti
bahwa H0 ditolak dan dan Ha
diterima. Dengan demikian, DAK
memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap indeks pembangunan
manusia.
4. Pengujian koefisien regresi variabel
kemandirian keuangan daerah
Pada
variabel
proporsi
Kemandirian Keuangan Daerah
(KKD), nilai probability sebesar
0,9199 lebih besar dari taraf
signifikansi 0,05, hal ini berarti
bahwa H0 diterima dan dan Ha
ditolak.
Dengan
demikian,
kemandirian keuangan daerah tidak
memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap indeks pembangunan
manusia.

dipengaruhi oleh faktor lain yang


tidak termasuk dalam variabel
penelitian.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini


dapat disimpulkan bahwa:
1. Pendapatan Asli Daerah, Dana
Alokasi Umum, Dana Alokasi
Khusus, dan kemandirian keuangan
daerah
secara
bersama-sama
berpengaruh
terhadap
Indeks
Pembangunan
Manusia
pada
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi
Tahun 2009 - 2013.
2. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
tidak
berpengaruh
signifikan
terhadap Indeks Pembangunan
Manusia pada Kabupaten/Kota di
Provinsi Jambi Tahun 2009 - 2013.
3. Dana Alokasi Umum (DAU)
berpengaruh signifikan terhadap
Indeks Pembangunan Manusia pada
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi
Tahun 2009 - 2013.
4. Dana Alokasi Khusus (DAK)
berpengaruh signifikan terhadap
Indeks Pembangunan Manusia pada
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi
Tahun 2009 - 2013.
5. Kemandirian keuangan daerah
tidak
berpengaruh
signifikan
terhadap Indeks Pembangunan
Manusia pada Kabupaten/Kota di
Provinsi Jambi Tahun 2009 - 2013.
6. Besarnya pengaruh PAD, DAU,
DAK, dan kemandirian keuangan
daerah
terhadap
indeks
pembangunan manusia 89,63%,
dan sisanya sebesar 10,37%

5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini,
maka peneliti menyumbangkan saran
sebagai berikut:
1. Bagi peneliti selanjutnya supaya
melakukan
penelitian
dengan
menggunakan periode penelitian
yang
lebih
lama
sehingga
diharapkan akan meningkatkan
signifikansi hasil penelitian.
2. Bagi peneliti selanjutnya supaya
menambahkan
variabel-variabel
lain
sebagai
variabel
yang
mempengaruhi
Indeks
Pembangunan Manusia seperti
faktor
pertumbuhan
ekonomi,
potensi sumber daya, jumlah
belanja modal dan lain sebagainya
3. Bagi peneliti selanjutnya supaya
melakukan
penelitian
dengan
menggunakan variabel kemandirian
keuangan daerah sebagai variabel
intervening yang menghubungkan
antara variabel PAD, DAU dan
DAK dengan Indeks Pembangunan
Manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Syukriy dan Abdul Halim,
2004, Pengaruh Dana Alokasi
Umum dan Pendapatan Asli Daerah
terhadap
Belanja
Pemerintah
Daerah
Studi
kasus
Kabupaten/Kota di Jawa dan Bali.
Jurnal
Ekonomi
STEI

Nomor.2/Th.XII/25/April-Juni
2004: 90-109: Yogyakarta.
Ardiansyah, dkk. 2014. Pengaruh
Pendapatan Asli Daerah, Dana
Alokasi Umum Dan Dana Alokasi
Khusus
Terhadap
Indeks
Pembangunan
Manusia
Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa
Tengah. SNA XVII. Lombok.
Badan Pusat Statistik. 2014. Indeks
Pembangunan
Manusia
dan
Komponennya,
20102012.
http://www.bps.go.id, diakses pada
tanggal 08 Juni 2014.
Christy, F Andrea dan Priyo H
Adi.2009. Hubungan antara Dana
Alokasi Umum, Belanja Modal,
dan
Kualitas
Pembangunan
Manusia. Dalam Jurnal National
Conference UKWMS, 10 Oktober.
Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga: Surabaya.
Direktorat
Jenderal
Perimbangan
Keuangan. 2010. LGF Realisasi
(Annual).
http://www.djpk.kemenkeu.go.id/
diakses pada 20 Mei 2014.
Ida, Bagus Firda Rizky 2014. Pengaruh
Kemandirian Keuangan Daerah
Dan Keserasian Alokasi Belanja
Terhadap Indeks Pembangunan
Manusia. SNA ISSN: 2303-0178.
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis
Multivariat Dengan Program SPS,
Edisi
4,
Badan
Penerbitan
Universitas Diponegoro: Semarang.

Ghozali, Imam. 2012. Aplikasi Analisis


Multivariate dengan Program IBM
SPSS 20 Edisi 6. Badan Penerbit
UNDIP: Semarang.
Halim, Abdul.
Keuangan
Yogyakarta.

2001. Manajemen
Daerah.
UGM.

Halim, Abdul. 2002. Akuntansi dan


Pengendalian Keuangan Daerah.
UPP AMA YKPN: Yogyakarta.
Jensen, M., dan Meckling, W. 1976.
Theory of the Firm: Managerial
Behavior, Agency Cost and
Ownership Structure. Journal of
Financial Economics 3: 305-360.
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode
Riset untuk Bisnis dan Ekonomi.
Erlangga: Yogyakarta.
Kurnia, Ayu Sari. 2011. Analisis
Pengaruh Tingkat Kemandirian
Fiskal, Pendapatan Asli Daerah
Terhadap Indeks Pembangunan
Manusia Melalui Belanja Modal
di
Kabupaten/Kota
Provinsi
Sumatera Utara. Tesis Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara Medan
2011: Medan.
Maiharyanti, Eva. 2010. Pengaruh
Pendapatan Daerah Terhadap
Indeks
Pembangunan Manusia
dan Belanja Modal Sebagai
Variabel
Intervening
Pada
Pemerintah Kabupaten/Kota di
Nanggroe Aceh Darussalam. Tesis
Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara Medan 2010: Medan.

Marbun, Gembira. 2011. Pengaruh


Kapasitas Fiskal Terhadap Indeks
Pembangunan Manusia
Pada
Pemerintahan Kota/ Kabupaten di
Sumatera Utara. Tesis Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara Medan
2011: Medan.
Mardiasmo. 2002. Otonomi Daerah
Sebagai Upaya Memperkokoh
Basis
Perekonomian
Daerah.
Makalah. Disampaikan dalam
seminar pendalaman ekonomi
rakyat.
Marhaeni, Harmawanti; Sri Yati dan
Bambang Tribudhi M. 2008. Indeks
Pembangunan Manusia Tahun
2006-2007. Badan Pusat Statistik:
Jakarta.
Pipin Syarifin dan Dedah Jubaedah,
Hukum Pemerintahan Daerah,
Pustaka Bani
Quraisy, 2005,
halaman. 56.
Peraturan Pemerintah nomor 33 tahun
2004. Tentang perimbangan
keuangan antara pemerintah
pusat dan pemerintah daerah.
Peraturan Pemrintah nomor 55 tahun
2005. Tentang Dana Alokasi
Khusus.
Saragih, Panglima Juli, 2003,
Desentralisasi
Fiskal
dan
Keuangan
Daerah
dalam

Otonomi,
Jakarta.

Ghalia

Indonesia,

Scott, William R. 2011. Financial


Accounting Theory, 6th Edition,
USA: Prentice Hall.
Sugiyono. 2010. Statistika untuk
Penelitian.
Cetakan
Ke-16.
Alfabeta: Bandung.
UNDP, 1996, Human Development
Report, Oxford University Press.
New York.
Undang-Undang Nomor 32 tahun
2004 . Tentang Pemerintah
Daerah.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004.
Tentang
Perimbangan
Keuangan Antara
Pemerintah
pusat dan Daerah
Widarwanto,
Atanasius.
2015.
Pengaruh Dana Alokasi Umum
(DAU), Dana Alokasi Khusus
(DAK), Pendapatan Asli Daerah
(PAD), Dana Bagi Hasil (DBH)
dan Bantuan Keuangan Provinsi
(BKP)
Terhadap
Indeks
Pembangunan Manusia (Ipm)
dengan Belanja Pelayanan Dasar
Sebagai
Moderating Variabel.
Tesis
Magister
Akuntansi
Universitas
Sumatera
Utara:
Medan.