Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A.Pengertian
Tuberkulosis (TB)

merupakan

suatu penyakit

infeksi

menimbulkan kematian di dunia ini (Dye,2010). Laporan

global

yang banyak

World Health Organization

(WHO) tahun 2010 menyatakan bahwa terdapat lebih dari 2 miliar penduduk dunia yang
terinfeksi Mycobacterium tuberculosis yang nilainya setara dengan sepertiga penduduk
dunia (Inghammar, 2010). Dilaporkan bahwa pada tahun 2009 terdapat sebanyak 14 juta
kasus TB di dunia dengan penemuan 9,4 juta kasus baru dan jumlah kematian akibat TB
sebanyak 1,7 juta kasus (WHO,2010)
Asia Tenggara merupakan wilayah menurut regional WHO yang memiliki jumlah
terbesar kasus TB dan kematian akibat TB. Dilaporkan bahwa pada tahun 2009 terdapat
sebanyak 5 juta kasus TB di Asia Tenggara dengan penemuan 3,3 juta kasus baru dan
jumlah kematian akibat TB sebanyak 480 ribu kasus. Sembilan puluh persen penduduk
yang terserang TB berasal dari negara berkembang dan lima negara dengan jumlah kasus
TB terbanyak, yaitu India, China, Nigeria, Bangladesh, dan Indonesia (DepKes RI, 2007)
Indonesia merupakan negara yang menempati urutan kelima di dunia, yang memiliki
jumlah terbesar kasus TB setelah India (3 juta), China (1,8 juta), Nigeria (830 ribu), dan
Bangladesh (690 ribu). Dilaporkan bahwa pada tahun 2009 terdapat sebanyak 660 ribu
kasus TB di Indonesia dengan penemuan 430 ribu kasus baru dan jumlah kematian akibat
TB sebanyak 61 ribu kasus (WHO,2010)
TB merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia di antara penyakit menular lainnya
dan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskular dan penyakit pernapasan

akut pada seluruh kalangan usia (PDPI, 2002). Sebagian besar pasien TB adalah penduduk
dengan golongan usia produktif (15 54 tahun).
Gejala sisa akibat TB masih sering ditemukan pada pasien pasca TB dalam praktik
klinik (Shetty,2010) . Gejala sisa yang paling sering ditemukan yaitu gangguan faal paru
dengan kelainan obstruktif yang memiliki gambaran klinis mirip Penyakit Paru Obstruktif
Kronik (PPOK). Inilah yang

dikenal sebagai Sindrom Obstruksi Pasca TB (SOPT)

(Jordan,2010)
Kemajuan ilmu dalam pemberantasan TB dan gejala sisa dari TB masih menjadi
salah satu tantangan penting saat ini. Penyebaran dan penyembuhan TB masih belum
tertangani secara tuntas walaupun obat dan cara pengobatannya telah diketahui. SOPT masih
sering ditemukan dan dapat mengganggu kualitas hidup pasien, serta berperan sebagai
penyebab kematian sebesar 15% setelah durasi 10 tahun Deteksi dini SOPT dengan uji faal
paru pada pasien pasca TB diperlukan untuk berperan dalam memperbaiki kualitas hidup
pasien. (Menezes,2007)
BAB II
KERANGKA TEORI
A. Anatomi Fungsional Pernapasa
Fungsi utama dari sistem respirasi adalah pertukaran gas, dimana oksigen akan
diambil dari alveolus dan akan dibawa oleh haemoglobin menuju ke jaringan yang
akan diperlukan dalam proses metabolisme, di sisi lain karbondioksida, sebagai hasil
sisa dari metabolisme dibuang melalui pernapasan saat ekspirasi (Basuki, 2009).
Untuk itu diperlukan alat pernapasan yang berfungsi untuk pertukaran gas.
Adapun alat-alat pernapasan manusia terdiri dari :
a. Saluran Pernapasan Atas
1) Hidung

Hidung berfungsi sebagai penghantar udara yang membawa udara ke dalam


paru. Hidung terdiri dari 2 lubang yaitu naces dextra dan naces sinistra. Bagian
anterior lubang nasal terbuka untuk atmosfer terletak pada nostrilis yang dilindungi
oleh bulu-bulu seperti rambut.
2) Pharynx
Pharynx adalah suatu saluran yang berbentuk lubang corong yang panjangnya
sekitar 15 cm dan berfungsi sebagai saluran penghantar udara yang membawa udara
ke dalam paru. Pharynx terdiri dari 3 bagian yaitu :
a) Nasopharynx
Terletak di belakang lubang nasal. Nasopharynx di atas langitlangit mulut bersifat lembut yang membagi pharynx satu dengan
yang lain selama proses menelan. Saluran eusthacius terbuka satu
ke bagian yang lain dan nasopharynx yang berhubungan dengan
lubang timpani. Pengaturan tekanan udara pada 2 bagian melalui
membran timpani.
b) Oropharynx
Terletak di belakang mulut, di bawah langit-langit mulut dan
memanjang ke bawah seperti larynx, tonsil adalah 2 kantong
jaringan limpoid yang terletak pada dinding lateral oropharynx,
serta membentuk kelompok silkular dari jaringan limphoki yang
bersifat sebagai filter, pelindung pada saluran pernapasan dalam
melawan infeksi.
c) Laringopharynx
Terletak di belakang larink. Udara dihatarkan melalui hidung
melewati nasopharynx dan akhirnya ke bagian atas larynx dan
trachea. Saluran napas atas memiliki 3 fungsi utama yaitu
menyaring dan melembabkan udara yang di inspirasi dan jika
memungkinkan berfungsi untuk meningkatkan suhu tubuh.

3) Larinx
Larinx berfungsi sebagai saluran penghantar udara yang membawa udara
kedalam paru. Terletak sejajar dengan vertebra cervical ke 3 sampai vertebra cervical
ke 6 dan di atas larynx terdapat pharynx. Bagian bawah larynx ada trakhea.
4) Trakhea
Trakhea merupakan lanjutan dari larinx yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang
terdiri dari tulang rawan berbentuk tapal kuda yang membagi dalam 2 cabang yaitu
bronkhus kanan dan bronkhus kiri. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang
berbulu getar yang disebut sel silia, yang berfungsi mengeluarkan benda asing yang
masuk bersama-sama dengan udara pernapasan untuk mempertahankan jalan napas
agar tetap terbuka.
b. Saluran Pernapasan Bawah
1) Bronkhus
Bronkhus merupakan percabangan trakhea setinggi VTh 5 dan terdapat 2
bronkhus, yaitu kanan dan kiri. Bronkhus kanan lebih pendek dan lebar dari pada
yang kiri. Bronkhus-bronkhus tersebut ketika akan masuk pulmo menjadi bronkhus
pulmonalis.
2) Bronkhiolus
Percabangan dari bronkhus yang ukurannya semakin kecil

disebut

bronkhiolus. Fungsi dari bronkhiolus adalah sebagai penghantar udara ke tempat


pertukaran gas paru.
3) Alveolus
Alveolus pada hakekatnya merupakan suatu gelembung gas yang dikelilingi
oleh jaringan kapiler sehingga batas antara cairan dan gas membentuk tegangan
permukaan yang cenderung mencegah pengembangan saat inspirasi dan cendrung

mencegah kolaps pada waktu ekspirasi. Tetapi untunglah alveolus dilapisi oleh zat
lipoprotein yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi
terhadap pengembangan pada waktu inspirasi mencegah kolaps alveolus pada waktu
ekspirasi( Soemantri,2008)
4) Paru
Paru merupakan organ utama respirasi yang elastis, berbentuk kerucut dan
terletak dalam rongga dada atau toraks terbungkus oleh pleura. Paru dibagi menjadi
dua bagian, yaitu paru kanan dan paru kiri.Paru kanan tidak simetris dengan paru kiri
karena paru kanan mempunyai tiga lobus dan dua fissura interlobaris (mayor dan
minor), sedangkan paru kiri terdiri dari dua lobus dan bronkopulmonal atau segmen
paru, yang mana merupakan sebagian jaringan paru yang disuplai oleh bronkus
segmental dengan arteri dan vena pulmonalnya (Pearce,2004)
a) Paru Kanan
Batas atas dimulai dari puncak cavum pleura kanan menuju ke
bawah sampai facies superior diafragma, ke atas sampai sebelah
kanan mediastrium. Sebelah kanan berhubungan dengan trakhea,
nasophagus bagian atas, vena cava superior dan jantung. Paru
kanan terdiri dari 3 lobus, antara lain :
(1) Lobus Kanan Atas
Bronkhus lobus kanan atas merupakan cabang pertama dari
lobus utama kanan menuju ke lateral dekat pada percabangan
trakhea yang panjangnya 1 cm. Bronkhus ini dibagi menjadi 3
bronkhus segmental.(a)

Bronkhus segmental apical yang

hampir vertical ke atas (b) Bronkhus segmental posterior yang


mengarah ke belakang (c) Bronkhus segmental anterior yang
mengarah ke depan dan seringkali agak ke bawah
(2) Lobus Medius

Bronkhus lobus medius keluar dari bagian depan bronkhus


kanan. Bronkhus lobus medium arahnya kedepan, lateral dan
bawah dan bercabang menjadi dua bronkhus segmental.
(3) Lobus Kanan Bawah
Segmen superior lobus interior secara anatomis dan patologis
berbeda dengan segmen lainnya. Biasanya bercabang menjadi
tiga sub segmental, segmen lobus ini mungkin amat besar dan
menjorok jauh ke belakang atas hampir ke puncak paru.
b) Paru Kiri
Batasnya di ujung cavum pleura sampai facies superior diafragma.
Terletak di sebelah kiri mediastrium berhubungan dengan trakhea,
aorta, ascenden, discenden esophagus dan jantung sebelah kiri.
Paru kiri memiliki empat lobus, pada masing-masing lobus
memiliki beberapa segmen, antara lain :
(1) Lobus superior, sebanding dengan lobus superior

kanan

dengan 3 segmen apical, anterior dan posterior. (2) Lobus


medius (lingual), lobus ini sebenarnya adalah segmen inferior
lobus superior kiri tetapi sebanding dengan lobus medius
kanan, letaknya anterior. (3)

Lobus nelson, lobus ini

sebanding dengan lobus nelson kanan, letaknya anterior. (4)


Lobus inferior dengan tiga segmen, anterior, internal,
posterior. Bronkhus utama kiri lebih panjang dari pada
bronkhus utama kanan dan tampaknya mempunyai sudut
yang lebih besar pada trakhea, paru kiri mempunyai dua
lobus dan volume total 20%. Lebih kecil dari volume paru
kanan. Lobus kiri atas adalah sebanding dengan lobus kanan
atas dan lobus medius, lobus kiri atas sebanding dengan
lingula. Bronkhus cabang atas mempunyai dua cabang yaitu

apical

posterior

yang

biasanya

menjadi

bronkhus

subsegmental apical dan segmen posterior lobus kanan atas,


segmen anterior biasanya cabang sendiri (Pearce,2004)
Gerakan pernapasan, saat bernapas gerak dinding thoraks dan diafragma
menghasilkan perubahan diameter dan volume rongga thoraks. Saat inspirasi adalah
proses aktif kontraksi otot-otot. Inspirasi terjadi bila diafragma telah mendapat
rangsangan dari n. prenikus lalu mengerut datar. Proses respirasi terjadi karena adanya
perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru. Sedangkan otot-otot yang
berfungsi pada proses tersebut adalah :
a. Otot inspirasi utama : diafragma, external intercostalis, levator costalis dan
scaleni.
b. Otot bantu inspirasi : sternocleiomastoideus, trapezius, seratus anterior,
pectoralis mayor dan minor, latisimus dorsi.
c. Otot ekspirasi utama : internal intercostalis.
d. Otot bantu ekspirasi : internal obliq, eksternal obliq, rectus abdominis,
longisimus, iliocostalis lumborum.
B. Fisiologi Pernapasan
Pernapasan adalah usaha tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen untuk proses
metabolisme dan mengeluarkan karbondioksida sebagai hasil metabolisme. Pernapasan
sebagai istilah yang umum digunakan mencakup 2 proses :
a. Pernapasan eksterna
Pernapasan eksterna adalah absorsi O2 dan pembuangan CO2 dari badan secara
keseluruhan.
b. Pernapasan interna
Pernapasan interna adalah penggunaan O2

dan produksi CO2 oleh sel dan

pertukaran gas antara sel dan medium cairannya (Ganong, 1992).


Proses fisiologi pernafasan dibagi menjadi beberapa tahap :

1) Ventilasi
Ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas kedalam dan keluar paru-paru. Udara
bergerak masuk dan keluar paru-paru karena adanya selisih tekanan yang terdapat
atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot pernafasan.
2) Transportasi
a) Difusi gas antara alveoli dan kapiler darah. Adanya perubahan tekanan
parsial oksigen antara alveoli dan pembuluh darah kapiler mengakibatkan proses
terjadinya difusi gas. Gas berdifusi dari alveoli ke pembuluh kapiler darah melintasi
membran alveoli yang tipis (Ganong, 1992).
b)

Transportasi gas Transpotasi gas didefinisikan sebagai proses

pengangkutan dari paru ke jaringan ke paru melalui aliran darah. Proses transport gas
gas terdiri dari traspor gas oksigen dan karbondioksida (Samantri,2007).
c) Mekanika Pernapasan Dalam setiap siklus pernafasan, agar udara dapat
mengalir masuk ke paru-paru, maka otot-otot pernafasan harus bekerja kuat untuk
melawan daya elastik recoil dari paru-paru dan torak, termasuk pula tahanan antara
arus udara dengan saluran napas.
Kerja dari otot-otot pernafasan tersebut harus mampu membuat tekanan intraalveolar lebih rendah dari tekanan atmosfir. Akibat perbedaan tekanan ini, maka
udara akan masuk ke paru-paru. Pada inspirasi biasa tekanan ini berkisar antara -1
mmHg sampai

-3 mmHg. Pada inspirasi dalam tekanan intraalveolinya dapat

mencapai -30 mmHg. Alat bantu pernafasan akan diperlukan bila ada pasien yang
otot-otot pernafasannya tidak mampu menghasilkan tekanan negatif yang adekuat.
Pada saat ekspirasi, udara akan keluar jika tekanan intraalveolar lebih besar dari pada
tekanan atmosfir. Hal ini terjadi saat otot-otot pernapasan kembali ke posisi rileks.
Pada ekspirasi biasa tekanan intraalveoli berkisar antara +1 mmHg sampai +3 mmHg.

Diafragma akan bergerak ke atas, sehingga akan menekan paru-paru yang


menyebabkan peningkatkan tekanan intraalveoli berkisar antara +1 mmHg sampai +3
mmHg.
Diafragma akan bergerak ke atas, sehingga akan menekan paru-paru yang
menyebabkan ,peningkatan tekanan intraalveolur. Demikian pula dengan otot-otot
intracostal, pada saat bergerak ke posisi rileks, maka sangkar torak akan turun ke
posisi preinspirasi. Hal ini juga menyebabkan penekanan paru dan peningkatan
tekanan intraaveolar. Walaupun masih kontroversi, proses ekspirasi ini dikatakan
merupakan proses yang pasif, akibat adanya daya recoil paru-paru. Namun disisi lain,
ada suatu studi yang menemukan bahwa proses ekspirasi adalah proses yang aktif,
dimana terjadi aktifitas otot-otot inspirasi yang bekerja secara ekstrensik/memanjang.
Jika tidak ada aktifitas dari otot-otot tersebut, maka ekspirasi akan berlangsung secara
singkat, sehingga arus udara ekspirasi akan cepat (Gosselink, 1989).
C. Definisi
Tuberkulosis paru ini juga meninggalkan gejala sisa yang dinamakan Sindrom
Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT) yang cukup meresahkan. Gejala sisa yang paling
sering ditemukan yaitu gangguan faal paru dengan kelainan obstruktif yang memiliki
gambaran klinis mirip Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK). Adapun patogenesis
timbulnya SOPT sangat kompleks, dinyatakan pada penelitian terdahulu bahwa
kemungkinan penyebabnya adalah akibat infeksi TB yang dipengaruhi oleh reaksi imun
seseorang yang menurun sehingga terjadi mekanisme makrofag aktif yang menimbulkan
peradangan nonspesifik yang luas. Peradangan yang berlangsung lama ini menyebabkan
gangguan faal paru berupa adanya sputum, terjadinya perubahan pola pernapasan,
rileksasi menurun, perubahan postur tubuh, berat badan menurun dan gerak lapang paru
menjadi tidak maksimal (Irawati, 2013).
Kelainan obstruksi yang berhubungan dengan proses TB dikenal dengan

berbagainama. Cugger 1955 menyebutnya emfisma obstruksikronik. Martin

danHallet menggunakan istilah emfisema obstruksi difus. Bomberg dan Robin


menyebutnya sebagai emfisema obstruksi difus; Vargha dan Bruckner menyebutnya
sindrom ventilasi obstruksi; Tanuwtharja menyebutnya sirndrom obstruksi difus. Di
UnitParu RSUP Persahabatan Jakarta kelainan obstruksi pada penderita TB paru
didiagnosissebagai TB paru dengan sindrom obstruksi, sedangkan kelainan obstruksi
pada penderitabekas TB paru didiagnosis sebagai obstruksi pasca TB (SOPT).
D. Patofisiologi
Patogenesis timbulnya SOPT sangat kompleks, dinyatakan pada penelitian
terdahulu bahwa kemungkinan penyebabnya adalah akibat infeksi TB yang
dipengaruhi oleh reaksi imunologis perorangan sehingga terjadi mekanisme makrofag
aktif yang menimbulkan reaksi peradangan nonspesifik yang luas. Peradangan yang
berlangsung lama ini menyebabkan proses proteolisis dan beban oksidasi sangat
meningkat untuk jangka lama sehingga destruksi matriks alveoli terjadi cukup luas
dan akhirnya mengakibatkan gangguan faal paru yang dapat dideteksi dengan uji faal
paru (Aida,2010).
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa puncak terjadinya gangguan faal paru
pada pasien pasca TB terjadi dalam waktu 6 bulan setelah diagnosis.
SOPT disebabkan oleh bekas dari luka akibat infeksi TB paru. Jadi, semakin
luas jaringan paru yang rusak akibat infeksi kuman TB, semakin luas bekas luka ang
ditimbulkan. Gampangnya, jika pasien datang dengan TB paru yang parah (destroyed
lung) maka kemungkinan setelah sembuh akan meninggalkan bekas yang luas
sehingga keluahan yang dirasakan juga semakin berat.
Setiap kali kita mengadakan penyuluhan terhadap pasien TB paru khususnya
BTA +, dokter selalu menyarankan agar seluruh orang yang tinggal serumah dengan
penderita TB untuk diperiksa. Penderita TB dengan gambaran rontgen dada yang
minimal biasanya tidak menunjukkan gejala yang berarti, seperti batuk biasa. Dengan
pengobatan TB pada stadium awal diharapkan setelah selesai pengobatan, pasien tidak
menderita SOPT.

Dari seluruh pasien TB yang telah menyelesaikan pengobatannya, 16-50%


akan menderita SOPT mulai dari derajad ringan sampai berat. Mengingat insidensi
SOPT yang tinggi, maka pada pasien TB yang masih dalam pengobatan, dokter selalu
menganjurkan agar rajin berolahraga untuk mengembalikan fungsi paru. Olahraga
yang dianjurkan adalah: jalan kaki, lari-lari kecil (jogging), bersepeda atau renang.
Bagi pasien dengan keluhan nyeri sendi, dianjurkan untuk bersepeda atau renang.
Tidak seperti TB yang masih aktif, SOPT tidak menularkan pada orang-orang
di sekitarnya. Namun sayangnya SOPT tidak dapat disembuhkan. Gejalanya hanya
dapat diminimalisasi dengan olahraga secara teratur.
E. Etiologi
Menurut Widoyono (2005), penyebab dari penyakit tuberkulosis ini adalah
bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan Mycobacterium Bovis. Bakteri ini
mempunyai sifat istimewa yaitu dapat bertahan terhadap pencucian warna dengan
asam dan alkohol, sehingga sering disebut basil tahan asam (BTA), serta tahan
terhadap zat kimiajuga tahan dalam keadaan kering dan dingin, bersifat dorman dan
aerob.

Daftar Pustaka
1.

Dye, C. Global epidemiology of tuberculosis. Lancet. 2006; 367: 938-940. Diakses

tanggal

22

Oktober

2010

dari

http://www.plosone.org/article/findArticle.action?

author=Dye&title=Global%20epidemiology% 20of%20tuberculosis
2. Inghammar, M., Ekbom, A., Engstrom, G., Ljungberg, B., Romanus , V., et al. COPD and
the Risk of Tuberculosis - A Population-based Cohort Study. PLoS ONE e10138. 2010;
5(4): 1 - 7. Diakses tanggal 20 Oktober 2010 dari http://www.plosone.org/article/info
%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0010138
3. World Health Organization. Global Tuberculosis Control : WHO Report 2010. Geneva :
WHO.

2010;

218.

Diakses

tanggal

November

2010

dari

http://whqlibdoc.who.int/publications/2010/9789241564069_eng.pdf.
4. Stop TB Partnership. Tuberculosis Global Fact. Geneva : WHO. 2010; 1 - 2. Diakses
tanggal

November

2010

dari

http://www.who.int/entity/tb/

publications/2010/factsheet_tb_2010.pdf
5. World Health Organization. Indonesia Tuberculosis Profile. Geneva : WHO. 2010; 1.
Diakses

tanggal

November

2010

dari

http://www.who.int/

tb/country/data/profiles/en/index.html
6.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan

Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta : PDPI. 2002; 1- 29


7.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan

Tuberkulosis. Jakarta : DepKes RI. 2007; 1 127 8. RSU dr. Soedarso Pontianak. Buku
Registrasi Pasien Paru Rawat Jalan dan Rawat Inap RSU dr. Soedarso Pontianak Tahun 2009.
Pontianak : RSU dr. Soedarso Pontianak. 2009; 1 24

9. Ramos, L.M.M., Sulmonett, N., Ferreira, C.S., Henriques, J.F., Spindola de Miranda, S.
Functional Profile of Patients with Tuberculosis Sequelae in a University Hospital. J. bras.
pneumol.

2006;

32(1):

43-47.

Diakses

tanggal

20

Oktober

2010

dari

http://www.scielo.br/scielo.php?pid=S1806-37132006000100010&script=sci_abstract
10. Shetty, A.J., Tyagi, A. Development of Post Tubercular, Bronchial Asthma - A Pilot
Study. Journal of Clinical and Diagnostic Research. 2010; 4: 2360 -2362. Diakses tanggal 22
Oktober 2010 dari http://www.jcdr.net/back_issues.asp?issn=0973709x&year=2010&month
=April&volume=4&Issue=2&page=2360-2362&id=589
11. Van Zyl Smit, R.N., Pai, M., Yew, W.W., Leung, C.C., Zumla, A., Bateman, E.D., Dheda,
K. Global Lung Health: the colliding epidemics of tuberculosis, tobacco smoking, HIV and
COPD. Eur Respir J. 2010; 35: 27

-33. Diakses tanggal 18 Oktober 2010

dari

http://www.medicine.Mcgill.ca/epidemiology/pai/documents/publications/peerpub/vanZyl
%20Smit%20et%20al.ERJ%202010.pdf
12. Patricio, J.P., et al. Chronic Airways Obstruction in Patients with Tuberculosis Sequelae:
a comparison with EPOC. Rev. chil. enferm. respir. 2006; 22(2): 98 - 104. Diakses tanggal
19

Oktober

2010

dari

http://www.scielo.cl/scielo.php?pid=S0717-

73482006000200004&script=sci_abstract& tlng=en
13.

Jordan, T.S., Spencer, E.M., Davies, P. Tuberculosis, Bronchiectasis, and Chronic

Airflow Obstruction. Respirology. 2010; 15: 623 - 628. Diakses tanggal 22 Oktober 2010
dari http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.14401843.2010.01749.x/pdf
14.

Chakrabarti, B., Calverley, P.M.A., Davies, P.D.O. Tuberculosis and Its Incidence,

Special Nature, and Relationship with Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 2007; 2(3):
263 - 272. Diakses tanggal 21 Oktober 2010 dari http://www.dovepress.com/tuberculosis
-and-its-incidence-special-nature-and-relationship-with-ch-peer-reviewed
recommend ation1

-article-COPD-

15. Kawashiro, T. Evaluation of Respiratory Failure Due to Sequelae of Tuberculosis.


PubMed, Kekkaku. 2005; 80(6): 491

7. Diakses tanggal 22 Oktober 2010

dari

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16130907?Dopt= Abstract Plus


16. Aida, N. Patogenesis Sindrom Ostruksi Pasca Tuberkulosis. Jakarta : Bagian Ilmu
Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Unit Paru Rumah Sakit
Persahabatan.

2006;

5.

Diakses

tanggal

22

Oktober

2010

dari

http://www.scribd.com/doc/41412571/Sindrom-Obstruksi-Pasca-Tuberkulosis
17. Danusantoso, H. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta : Hipokrates. 2000; 1 - 254
18. Amin, Z., Bahar, A. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen IPD FKUI. 2007; 1576 - 1594
19. Pasipanodya, J.G., Miller, T.L., Vecino, M., Munguia, G., Garmon, R., Bae, S., Drewyer,
G., Weis, S.E. Pulmonary Impairment After Tuberculosis. CHEST June. 2007; 131 (6): 1817
- 1824. Diakses tanggal 22 Oktober 2010 dari http://chestjournal.chestpubs.org/
content/131/6/1817.full
20. Menezes, A.M.B, Hallal, P.C., Padilla, R.P., Jardim, J.R.B., Muino, A., Lopez, M.V.,
Valdivia, G., Montes de Oca, M., Talamo, C., Pertuze, J., Victoria, C.G. Tuberculosis and
Airflow Obstruction: Evidence from the PLATINO Study in Latin America. ERJ. 2007; 30
(6)

1180

1185.

Diakses

tanggal

Oktober

2010

dari

http://erj.ersjournals.com/content/30/6/ 1180.fulIrwanto, 2010, Penyakit Paru Obstruktif


Kronik (PPOK), http://dr-irwanto.blogspot.com, diakses tanggal 11 Mei 2013. Yuliana, Prof.
Dr. Elin, dkk, 2008, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI, Jakarta. Yunus, Faisal., 1997,
Penatalaksanaan Penyakit Paru Obstruktif, Cermin Dunia Kedokteran No. 114, PT. Kalbe
Farma Group, Jakarta.