Anda di halaman 1dari 6

BURMA CONNECTION PEPSI

Dosen Pengajar :
Nadia Asandimitra, S.E., M.M.

Nama Kelompok :
1.
2.
3.
4.

Jefri Ardiansyah
(15080574204)
Novi Wahyuni Eka Lestari
(15080574110)
Fitri Danang M.
(15080574215)
Mafida Novitasari
(15080574049)

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
TAHUN 2016

Rangkuman :

BURMA CONNECTION PEPSI


Pada tanggal 23 April 1996, PepsiCo mengumumkan bahwa pihaknya
memutuskan untuk menjual 40 persen saham di pabik botol Burma karena adanya
kritik yang menyatakan bahwa dengan beroperasi di Burma, perusahaaan berarti
mendukung rezim militer yang berkuasa.
Burma adalah sebuah Negara Asia dengan populasi 42 juta jiwa dan dengan
wilayah seukuran Texas. Negara ini berbatasan dengan India, Cina, Thailand, dal
Laos. Negara ini termasuk negara miskin dengan GDP per kapita hanya sebesar $408,
tingkat moralitas bayi yang tinggi (95 kematian per 1000 kelahiran), tingkat harapan
hidup yang rendah (53 tahun untuk pria dan 56 untuk perempuan), serta tingkat
inflasi di atas 20%.
Burma memperoleh kemerdekaan dari Inggris tahun 1948, pada bulan Juli
1988, saat itu kondisi perekonomian negara tersebut memburuk, sejumlah kekacauan
berdarah terjadi di kota-kota Burma. Pada bulan september 1988, militer di bawah
pimpinan jenderal U. Saw Maung mengambil alih kekuasaan dan menggantikan
pemerintahan dengan State Law and Order Restoration Council (SLORC),
sekelompok pejabat militer, SLORC mengundang investor dan perusahaanperusahaan asing untuk berinvestasi di Burma dengan harapan mampu memperbaiki
kondisi perekonomian Negara.
PepsiCo merupakan salah satu dari sekian banyak perusahaan yang
menanggapi undangan SLORC. Negara ini dianggap menarik karena beberapa alasan.
Tidak hanya karena tenaga kerja yang sangat murah, namun juga karena budayanya
memberikan nilai yang sangat tinggi pada pendidikan, dan hampir semua pekerja
memiliki kemampuan baca tulis. Sumber daya minyak di negara ini merupakan

godaan tak tertahankan bagi perusahaan-perusahaan minyak, dan berbagai sumber


kekayaan lain ang belum diolah memberikan sejumlah peluang besar.
Namun, militer juga memberikan masalah. Banyak kelompok, termasuk U.S.
Department State, menuduh SLORC melakukan berbagai pelanggaran HAM. Akan
tetapi, pihak manajemen PepsiCo tertarik dengan undangan pemerintah untuk
melakukan investasi di Burma. Pada tahun 1991, PepsiCo memutuskan untuk
menjalin kerjasama dengan Myanmar Goldden Star Co., sebuah perusahaan Burma
yang dimiliki oleh pengusaha Burma bernama Thein Tun. Perusahaan ini memiliki
60% saham, sementara PepsiCo 40% lainnya. Kerjasama ini ditujukan untuk
membangun sebuah pabrik botol dengan lisensi 10 tahun untuk mendistribusikan
produk-produk PepsiCo di Burma, termasuk Pepsi Cola, 7 up, dan Miranda.
Kerja sama ini berjalan dengan baik, PepsiCo melaporkannjumlah
penghasilannya sebesar $8 juta. Pada tahun 1996 penghasilan di Burma meningkat 25
persen dan pepsi menjadi sumber penghasilan utama bagi Thein Tun, yang saat itu
berteman baik dengan jendral di SLORC, dan ha itu menjadi factor yang mendorong
PepsiCo memilih sebagai rekanan
Di Amerika produk produk Pepsi diboikot oleh 100 kampus. Mahasiswa
Harvard mendesak pihak universitas untuk menolak kontrak dengan PepsiCo ( senilai
$1 juta) untuk menjual produk pepsi di kampus. Para pemegang saham mendesak
manajemen PepsiCo untuk keluar dari Burma. Dan perusahaan menerima ratusan
surat yang isinya meminta mereka untuk pergi dari Burma.
Para kritikus mengklaim bahwa dengan melaksanakan bisnis di Burma artinya
mereka juga membantu pemerintah militer yang kejam melalui pajak dan cara lain.
Jika perusahaan meninggalkan Burma pemerintah militer akan gagal menciptakan
ekonomi pasar yang bergairah dan penurunan ekonomi akan menekan pihak militer
untuk melakukan reformasi demokrasi untuk menarik investasi asing kembali ke
Burma.

Banyak perusahaan amerika di Burma yang terlibat dalam apa yang disebut
sebagai Countertrade [ system perdagangan internasional dimana Negara-negara
bertukar barang atau jasa ketimbang membayar impor dengan mata uang], yang
menurut beberapa kritikus berkaitan dengan penggunaan tenaga kerja paksa yang
banyak terjadi diwilayah-wilayah pedesaan. Untuk mentransfer keuntungan
Perusahaan amerika yang berada di Burma mengekspor komoditas pertanian untuk
dijual diluar Burma karena mata uang Burma tidak ada nilainya diluar Negara
tersebut, dan PepsiCo juga mengakui keterlibatannya. Masalah ini menurut kritikus
adalah tenaga kerja paksa yang dipekerjakan di sector pertanian, khususnya
diperkebunan milik kalangan militer.
PepsiCo dan perusahaan lain menyampaikan tentang kebijakan yang mereka
sebut keterlibatan konstruktif. Cara terbaik agar pihak militer melakukan reformasi
adalah dengan tetap berada di Burma dan menekan pihak militer untuk mengubah
kebijakan mereka. Kondisi ekonomi yang membaik akan membentuk kelas menengah
yang mampu memperjuangkan demokrasi.
Pada tahun 1992 Levi Strauss menarik diri dari Burma, pada tahun 1994
Reebok dan Liz Claiborne melakukan hal yang sama dan pada tahun 1995 Eddi Baeur
dan Amoco juga keluar.
Pada tahun 1996 PepsiCo melakukan divestasi atas saham dipabrik botol
Burma. 1997 PepsiCo menjua saham mereka kepada Thein Tun, namun PepsiCo
memutuskan untuk mematuhi perjanjian dan memberikan lisensi 10 tahun pada
perusahaan tersebut untuk menjual pepsi di Burma .

PERTANYAAN:
1. Menurut penilaian kelompok anda, apakah PepsiCo memiliki kewajiban moral
untuk melakukan divestasi atas semua asetnya di Burma? Jelaskan jawaban
kelompok anda! Pendakatan etika mana (utilitarian, hak, keadilan, perhatian,

ataau kebaikan) yang paling tepat digunakan dalam menganalisis peistiwaperistiwa yang terjadi dlam kasus ini?
Jawab :
PepsiCo memiliki kewajiban moral untuk melakukan disvetasi atas
semua asetnya di Burma. Hal ini dikarenakan Pepsico memiliki 40% saham
yang ditanamkan di Myanmar Golden Star Co,yang merupakan sebuah
perusahaan milik perusahaan Burma untuk menjalin kerjasama membuat
sebuah pabrik botol dengan lisensi 10 tahun untuk mendistribusikan produkproduk PepsiCo di Burma.
Alasan PepsiCo melakukan disvetasi antara lain
System pemerintahan Burma yang buruk,dimana pemerintahan militer
di

Burma

melakukan

pelanggaran-pelanggaran

HAM

kepada

rakyatnya.
System perdagangan yang terlibat dalam countertrade dimana Negaranegara bertukar barang atau jasa daripada membayar impor dengan
mata uang. Ditinjau dari system pemerintahan yang melanggar HAM
dan kondisi Burma yang termasuk negara miskin maka pembayaran
yang menggunakan barang/jasa di Burma menggunakan tenaga kerja
paksa yang nyatanya banyak terjadi di pedesaan.
Dalam menganalisis peristiwa dalam kasus ini, pendekatan yang tepat

adalah pendekatan hak (right) dan pendekatan keadilan (justice).

Pendekatan hak (right)


Peran perusahaan multinasional seperti PepsiCo akan bekerja sama
dengan pemerintah dimana perusahaan itu bkerja sama perusahaan
akan memberikan keuntungan baik moral maupun materil yang
digunakan pemerintah Burma melancakan juna militernya yang diduga
melanggar HAM masyarakat Burma. Warga Burma mendapat
perlakuan sewenang-wenang dari pemerintah, dimana mereka harus
menyetujui politik pemerintah , kebebasan untuk berkumpul,

berorganisasi dan berpendapat dibatasi, perlakuan brutal jika mereka

menolak politik pemerintahanya.


Pendekatan keadilan (justice)
Pemerintah Burma memaksa masyarakat untuk bekerja termasuk
wanita dan anak-anak dengan kondisi kerja yang memprihatinkan
untuk proyek-proyek kontribusi di seluruh wilayah. Sedangkan
diketahui baahwa Negara ini memiliki tingkat gaji tenaga kerja yang
sangat murah namun dengan pekerjaan yang berat dan hukumankasar
bahkan kematian bagi yang menolak.

2. Menurut penilaian kelompok anda, apakah PepsiCo memilki kewajiban moral


untuk menarik semua produk dan merek dagangnya di Burma? Jelaskan
jawaban kelompok anda.
Jawab :
Menurut kelompok kami, PepsiCo memiliki kewajiban moral untuk
menarik semua produk dan merek dagangnya di Burma. Hal itu dikarenakan
adanya laporan yang dating dari Britania Raya (Inggris), Kanada dan Australia
serta mengenai anti Pepsi keputusan bisnis oleh pelanggan dan/ atau
pemerintah.
Pergerkana anti Pepsi ini terjadi karena PepsiCo menjalin kerjasama
dengan Myanmar Golden Star Co. yaitu sebuah perusahaan Burma yang
dimiliki oleh pengusaha Burma bernma Thein Tun yang sat itu berteman baik
dengan para jenderal di SLORC. Sedangkan SLORC sendiri merupakan
sekelompok pejabat militer yang mengambil alih kekuasaan dan secara brutal
diperkirakan membunuh ribuan mahasiswa dan masyarakat sipil.