Anda di halaman 1dari 35

BAB II

LANDASAN TEORI
A. Auditing
Auditing adalah proses sistematis yang dilakukan oleh orang yang
memiliki kompetensi dan independen dengan mengumpulkan dan
mengevaluasi bahan bukti dengan tujuan memberikan opini ( pendapat)
mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
Ada beberapa pengertian yang diberikan oleh pakar auditing, antara lain:
Pengertian Auditing adalah jasa yang diberikan oleh auditor
dalam memeriksa dan mengevaluasi laporan keuangan yang disajikan
perusahaan. (Sukrisno, 2012 : 41)
Pengertian auditing menurut Siti dan Ely (2010:1) adalah sebagai
berikut :
Auditing adalah suatu proses yang sistematis untuk memperoleh
dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai informasi tingkat
kesesuaian antara tindakan atau peristiwa ekonomi dengan kriteria
yang telah ditetapkan, serta melaporkan hasilnya kepada pihak
yang membutuhkan, dimana auditing harus dilakukan oleh orang
yang kompeten dan independen.

Menurut

Arens et al, (2011) yang diterjemahkan oleh Desti

Fitriani adalah sebagai berikut:


Audit adalah pengumpulan dan evaluasi bukti mengenai informasi
untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara
informasi tersebut dengan kinerja yang telah ditetapkan.Audit harus
dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen.
Sedangkan menurut Amin (2012 : 1) adalah sebagai berikut:
Auditing

merupakan suatu proses

yang sistematis.

Auditing

merupakan pendekatan yang logis, mempunyai maksud dan terstruktur


untuk pengambilan keputusan.

B. Definisi Auditor
Auditor adalah seorang akuntan publik yang memiliki kualifikasi
tertentu dalam melakukan audit atas laporan keuangan dan kegiatan suatu
entitas atau organisasi.
Definisi Auditor menurut Sri dan Aiman (1999) adalah, sebagai
berikut:
Auditor adalah orang-orang yang menjalani pelatihan tehnis yang
cukup dan mempunyai keahlian sebagai akuntan, serta senantiasa
dapat mempertahankan kebebasan dalam menjalankan profesinya
sebagai akuntan.

10

C. Kualitas Auditor
Kualitas auditor menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan
Negara No.Per/05/M.Pan/03/2008 tanggal 31 Maret 2008 adalah auditor
yang melaksanakan tupoksi dengan efektif, dengan cara mempersiapkan
kertas kerja pemeriksaan, melaksanakan pencatatan, koordinasi, dan
penilaian efektifitas tindak lanjut audit, serta konsistensi laporan audit.
Menurut Arens et al., (2011) yang diterjemahkan oleh Desti
Fitriani faktor-faktor yang mendorong akuntan publik berkualitas tinggi
adalah:
a. Ujian Sertifikasi Akuntan Publik
Pemakaian gelar akuntan certified public accountant (CPA) di atur oleh
Menteri Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 17/2008
mengatur persyaratan untuk memperoleh dan mempertahankan izin
berpraktik, baik untuk akuntan publik maupun Kantor Akuntan Publik
(KAP).
Bila seseorang berencana menjadi akuntan publik (CPA), dia harus
memahami persyaratan persyaratan yang dikeluarkan Ikatan Akuntan
Publik Indonesia (IAPI) dan Menteri Keuangan. Sejalan dengan PMK
17/2008, IAPI diberi tanggung jawab untuk melaksanakan ujian CPA
dan memberikan sertifikat CPA.

11

b. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)


Standar auditing merupakan pedoman resmi yang memberikan arahan
dalam memenuhi tanggung jawab bagi para praktisi. Standar yang saat
ini sedang di bahas dan akan digunakan adalah International Standards
on auditing (ISA)
c. Kode Etik Profesi
Akuntan publik juga memiliki kode etik yang digunakan sebagai
pedoman dalam menentukan sikap dalam menjalankan kewajibannya.
d. Kantor Akuntan Publik
Ukuran Kantor Akuntan Publik juga menjadi menjadi salah satu faktor
yang dapat mendorong akuntan publik berkualitas tinggi.
e. Pendidikan Berkelanjutan
Seorang praktisi walaupun sudah memiliki sertifikat akuntan publik
(CPA / BAP) tetap harus mengikuti pendidikan atau pelatihan baik
teknis maupun secara periodik
f. Badan Pengawas Pasar Modal ( BAPEPAM )
Bapepam , yang di Amerika Serikat atau Securitas and Exchange
Commision ( SEC ) merupakan suatu badan pemerintah yang
menangani pasar modal yang dibentuk guna membantu para calon
investor untuk mendapatkan informasi andal untuk membuat keputusan

12

investasi. Untuk itu, Undang undang No. 15/1952 tentang bursa yang
dijabarkan lebih lanjut olehj Keppres Np. 53/1990 tentang pasar modal
dan Kepmen Keuangan No. 1548/1990 tentang pasar modal,
mewajibkan perusahaan yang bermaksud menerbitkan efek efek ke
masyarakat untuk mengajukan permohonan kepada BAPEPAM untuk
memperoleh persetujuan, Perusahaan

diwajibkan menyampaikan

laporan laporan tahunan rinci kepada BAPEPAM.


g. Pengendalian Mutu
Dewan Standar Auditing menetapkan enam lima pengendalian Mutu .
Kelima elemen tersebut adalah (1)Independensi, intregritas, dan
objektivitas,

(2)Manajemen

Kepegawaian,

(3)Penerimaan

kelanjutan klien serta penugasan, (4)Kriteria

dan

penugasan, dan

(5)Pemantauan. Prosedur tersebut dibuat untuk membantu praktik untuk


memenuhI standar profesi akuntan publik.
h. Review Sejawat ( peer review )
Peer review atau review mutu merupakan tinjauan yang dilakukan
akuntan publik terhadap sistem pengendalian mutu kantor akuntan
publik lainnya, Tujuannya adalah untuk menilai apakah elemen
elemen pengendalian telah dilakukan dengan baik. Dan untuk
menentukan apakah suatu KAP memenuhi standar pengendalian mutu.

13

i. Kewajiban Hukum
Kegagalan atau pelanggaran dalam menjalankan perturan ( Kode etik )
Dapat membuat praktisi dibekukan izin prakteknya bahkan jika
melakukan pelanggaran berat selain dicabut izin prakteknya juga sangat
memungkinkan dijatuhkan hukuman pidana dalam hal ini berkaitan
dengan kejahatan yangberubungan dengan pajak.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa auditor berkualitas
tinggi adalah seorang auditor yang memiliki pengetahuan yang baik dalam
audit, memiliki pengalaman kerja yang banyak dalam audit, kompeten atau
mampu menemukan pelanggaran dan berani untuk mengungkapkan
pelanggaran tersebut, independensi dalam menjalankan tugas audit,
melaksanakan audit sesuai standar audit, Mematuhi kode etik yang
berlaku, serta memiliki pendidikan yang berkelanjutan dan memiliki
sertifikasi sebagai akuntan publik.

D. Pengalaman Auditor
Pengalaman adalah keterampilan dan pengetahuan yang di peroleh
seseorang setelah mengerjakan sesuatu hal. Kebanyakan
memahami bahwa semakin banyak

orang

jumlah jam terbang seorang

auditor, tentunya dapat memberikan kualitas audit yang lebih baik dari
pada seorang auditor yang baru memulai kariernya. Selain itu dengan
berpengalamannya seorang auditor akan dapat memunculkan dugaan

14

dugaan yang lebih banyak atas hasil temuan dan itu akan memberikan
kualitas audit yang baik. Atau dengan kata lain auditor yang
berpengalaman diasumsikan dapat memberikan kualitas audit yang lebih
baik dibandingkan dengan auditor yang belum berpengalaman.
Secara teknis, semakin banyak tugas yang dia kerjakan, akan
semakin mengasah keahliannya dalam mendeteksi suatu hal yang
memerlukan treatment atau perlakuan khusus yang banyak dijumpai dalam
pekerjaannya dan sangat bervariasi karakteristiknya (Aji, 2009 : 5). Jadi
dapat disimpulkan bahwa seseorang yang melakukan pekerjaan yang sama
secara terus menerus, maka akan menjadi lebih mudah, cepat, tepat dan
lebih baik dalam menyelesaikannya. Hal ini dikarenakan telah benarbenar memahami teknik atau cara menyelesaikannya, serta telah banyak
mengalami berbagai hambatan-hambatan atau kesalahan-kesalahan dalam
pekerjaannya tersebut, sehingga dapat lebih cermat dan berhati-hati
menyelesaikannya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan
bahwa penggunaan pengalaman didasarkan pada asumsi bahwa tugas yang
dilakukan secara berulang-ulang memberikan peluang untuk belajar
melakukannya dengan yang terbaik.
Secara psikis, pengalaman akan membentuk pribadi seseorang,
yaitu akan membuat seseorang lebih bijaksana baik dalam berpikir
maupun bertindak, karena pengalaman seseorang akan merasakan
posisinya saat dia dalam keadaan baik dan saat dia dalam keadaan buruk.
Seseorang akan semakin berhati-hati dalam bertindak ketika ia merasakan

15

fatalnya melakukan kesalahan. Dia akan merasa senang ketika berhasil


menemukan pemecahan masalah dan akan melakukan hal serupa ketika
terjadi permasalahan yang sama. Dia akan puas ketika memenangkan
argumentasi dan akan merasa bangga ketika memperoleh imbalan hasil
pekerjaannya (Elisha, 2010)
Knoers dan Haditono (1999) dalam Asih (2006 : 12) mengatakan
bahwa

pengalaman

merupakan

suatu

proses

pembelajaran

dan

penambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan


formal maupun non formal atau bisa juga diartikan sebagai suatu proses
yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih
tinggi. Variabel pengalaman akan diukur dengan menggunakan indicator.
lamanya bekerja, frekuensi pekerjaan pemeriksaan yang telah dilakukan,
dan banyaknya pelatihan yang telah diikutinya.
Dian indri purnamasari (2005) memberikan kesimpulan bahwa
seorang karyawan yang memiliki pengalaman kerja yang tinggi akan
memiliki keunggulan dalam beberapa hal diantaranya : mendeteksi
kesalahan, memahami kesalahan, dan mencari penyebab munculnya
kesalahan (dalam Asih, 2006 : 12). Jadi pengalaman merupakan elemen
yang

sangat

profesionalisme

penting

bagi

sebuah

profesi

yang

membutuhkan

yang sangat tinggi seperti akuntan publik, karena

pengalaman dapat mempengaruhi kualitas pekerjaan seorang auditor.

16

E. Independensi
Menurut Theodorus M. Tuanakotta (2013 : xvi) adalah sebagai
berikut :
1. Independence of mind
Hal-hal yang ada dalam benak (the state of mind) auditor yang
memungkinkannya memberikan pendapat (opinion) tanpa
dipengaruhi hal-hal yang mengkompromikan (compromise)
kearifan profesional atau profesional judgment, dan dengan
demikian orang dapat bertindak dengan integritas penuh, tidak
berpihak,

dan

melaksanakan

skeptisisme

profesional

(profesional skepticism).
2. Independence in appearance
Penghindaran fakta dan keadaan yang begitu signifikan yang
bagi pihak ketiga yang layak dan mempunyai cukup informasi
(reasonable and informed third party) akan menyimpulkan
bahwa integrity, objectivity, atau professional skepticism dari
anggota tim (assurance team) diragukan atau tercemar.
Code of Ethics for Profesional Accountants, terbitan IESBA.
Dalam tahun 2009, Code of Ethics for Professional Accountants yang
telah direvisi. Code of Ethics ini (efektif 1 Januari 2011) mengklarifikasi
beberapa ketentuan, kewajiban, dan persyaratan, dan secara signifikan
memperketat ketentuan mengenai independensi,sebagai berikut :

17

1. Memperluas ketentuan mengenai independensi untuk audit


listed entities (perusahaan yang terdaftar di pasar modal) ke
semua PIE ( public-interest entities atau entitas dengan
kepentingan umum ).
2. Mengharuskan adanya periode pembekuan (colling-off
period) sebelum orang tertentu dalam KAP bergabung
dengan public-interest audit clients dalam posisi tertentu.
3. Memperluas kewajiban partner-rotation untuk semua key audit
partners.
4. Memperketat ketentuan mengenai pemberian jasa non-asurans
kepada audit clients, seperti tax planning dan jasa konsultasi
lain. Beberapa larangan berlaku untuk kasus-kasus non-public
interest entities audits ( audit untuk entitas dengan yang tidak
ada kepentingan umum ) untuk tax planning dan jasa konsultasi
lain, maupun bantuan dalam penyelesaiian masalah perpajakan
(assistance in resolution of tax services).
5. Mewajibkan pre-or-post-issuance review jika total fees dari
public-interest audit clients melampaui 15% total fees dari
KAP tersebut untuk dua tahun berturut-turut.
6. Melarang key audit partners dievaluasi kinerjanya terhadap
(atau menerima imbalan untuk) menjual jasa non-asurans
kepada audit clients.

18

Independensi menurut Islahuzzaman (2012 : 179) adalah sebagai


berikut:
Independensi didefinisikan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan
oleh pihak lain, tidak bergantung pada pihak lain. Auditor yang
independen adalah auditor yang tidak dipengaruhi oleh berbagai
kekuatan

yang

berasal

mempertimbangkan

fakta

dari

luar
yang

diri

auditor

dijumpainya

dalam
dalam

audit.Independensi lebih banyak ditentukan oleh faktor diluar diri


auditor.
Independensi menurut Siti dan Ely (2010: 58-59) adalah sebagai
berikut :
Independen artinya tidak mudah dipengaruhi, netral, karena auditor
melaksanakan

pekerjaannya untuk kepentingan umum Auditor

tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun. Auditor


juga harus mempertahankan objektivitas, agar tidak berbenturan
dengan kepentingan lain, sehingga independensi merupakan
landasan pokok bagi profesi akuntan publik.
Standar Umum kedua dalam SA seksi 220 (SPAP, 2011)
menyatakan :
Dalam

semua

hal

yang

berhubungan

dengan

perikatan,

independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh


auditor. Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen,

19

artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan


perkerjaannya untuk kepentingan umum.
Adapun dalam penelitian ini menurut Adi (2007), independensi
auditor diukur melalui :
a. Lama hubungan dengan klien (audit tenure)
lamanya hubungan antara auditor dengan klien menjadikan
auditor puas pada apa yang telah dilakukan, melakukan prosedur audit
yang kurang tegas dan selalu tergantung pada pernyataan manajemen.
Terkait dengan lama waktu masa kerja, Deis dan Giroux dalam Adi
(2007) menemukan bahwa semakin lama audit yenure, kualitas audit
akan semakin menurun.
b. Tekanan dari klien
Goldman dan Barley dalam Christina (2007) berpendapat
bahwa usaha untuk mempengaruhi auditor melakukan tindakan yang
melanggar standar profesi kemungkinan berhasil karena pada kondisi
konflik ada kekuatan yang tidak seimbang antara auditor dengan
kliennya.
c. Telaah dari rekan auditor (peer review)
Peer review sebagai mekanisme monitoring dipersiapkan oleh
auditor untuk meningkatkan kualitas jasa akuntansi dan audit. Peer

20

review dirasakan memberikan manfaat bagi klien, kantor akuntan


publik yang direview dan auditor yang terlibat dalam peer review.
d. Jasa non audit
Jasa yang diberikan oleh KAP bukan hanya jasa atestasi
melainkan juga jasa non atestasi yang berupa jasa konsultasi
manajemen dan perpajakan serta jasa akuntansi seperti jasa
penyusunan laporan keuangan.
Selain itu AICPA juga memberikan prinsip-prinsip sebagai
panduan yang berhubungan dengan independensi, yaitu :
a. Auditor dan perusahaan tidak boleh bergantung dalam hal keuangan
terhadap klien.
b. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak terlibat dalam konflik
kepentingan yang akan menggngu objektifitas mereka berkenaan
dengan cara-cara yang mempengaruhi laporan keuangan.
c. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak memiliki hubungan dengan
klien yang akan mengganggu objektifitasnya auditor.
Menurut Alvin A. Arens dan James K. Loebbacke dikutip oleh
Amir Abadi Jusuf (2005 : 84) independensi ada dua macam:
1) Independensi dalam kenyataan.
Independensi ini akan ada apabila dalam kenyataannya. Auditor
mampu mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang
pelaksanaan auditnya,

21

a) Seorang

akuntan

publik

tetap

mengungkapkan

penyelewengan yang terjadi di perusahaan klien walaupun


ia beresiko kehilangan kliennya.
b) Seorang akuntan publik memberikan pendapat sesuai
dengan bukti bukti yang ia temukan pada perusahaan klien
bukan berdasarkan besanya fee yang ia terima dan
perusahaan kilen tersebut.
2) Independensi dalam penampilan.
Independensi ini ditentukan oleh kesan masyarakat terhadap
independensi akuntan publik secara individu maupun secara
keseluruhan.

F. Tenure Audit
Flint (1998) dalam Daud (2012) berpendapat bahwa independensi
akan hilang jika auditor terlibat dalam hubungan pribadi dengan klien,
karena hal ini dapat mempengaruhi sikap mental dan opini mereka. Salah
satu ancaman yang berpengaruh adalah audit tenure yang panjang. Audit
tenure yang panjang juga menimbulkan rasa kekeluargaan yang lebih dan
akibatnya, kualitas dan kompetensi kerja auditor dapat menurun ketika
mereka mulai untuk membuat asumsi-asumsi yang tidak tepat dan bukan
evaluasi yang objektif dari bukti terkini.

22

Tenure audit adalah lamanya waktu auditor tersebut secara


berturut-turut telah melakukan pekerjaan audit terhadap suatu perusahaan.
Dalam terminologi Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008
auditor tenure identik dengan masa pemberian jasa bagi akuntan publik.
Menteri Keuangan RI pada tanggal 5 Pebruari 2008 menerbitkan
Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan
Publik yang merupakan penyempurnaan Keputusan Menteri Keuangan
No. 423/KMK.06/2002 dan No. 359/KMK.06/2003 yang dianggap sudah
tidak memadai.
Dalam UU No.5 Tahun 2011 terdapat pokok pokok
penyempurnaan peraturan mengenai pembatasan masa pemberian jasa bagi
akuntan, laporan kegiatan, dan asosiasi profesi akuntan publik. Dalam UU
No.5 Tahun 2011 menyatakan KAP dapat memberikan jasa audit umum
paling lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang
akuntan publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut.
Isu mengenai Audit tenure biasanya dikaitkan dengan pengaruhnya
terhadap independensi auditor. Al-Thuneibat et al. (2011) dalam
penelitiannya menyimpulkan bahwa hubungan yang lama antara auditor
dan kliennya berpotensi untuk menciptakan kedekatan antara mereka,
cukup untuk menghalangi independensi auditor dan mengurangi kualitas
audit. Namun, Jackson et al. (2008) memiliki pandangan yang berbeda
dari hasil penelitian yang dilakukan Al-Thuneibat et al. (2011). Mereka

23

menyimpulkan bahwa kualitas audit akan meningkat dengan adanya


hubungan antara auditor dan klien.
Dalam investigasi yang dilakukan oleh American Institute of
Certified Accountants (AICPA) dalam Al-Thuneibat et al., 2011,
ditemukan bahwa kegagalan audit tiga kali lebih mungkin pada dua tahun
pertama dari ikatan yang dibuat dibandingkan dengan tahun-tahun
berikutnya. Penelitian tersebut melakukan survei terhadap 406 kasus
kegagalan audit. Dua penelitian yang memeriksa gugatan yang melibatkan
auditor (St Pierre dan Anderson, 1984; Stice,1991 dalam Al-Thuneibat et
al., 2011) menemukan bahwa kegagalan audit lebih umum terjadi pada
tiga tahun atau kurang dalam hubungan auditor-klien. Auditor dengan
perikatan yang panjang, dibandingkan dengan auditor dengan perikatan
yang pendek, lebih mungkin untuk mengeluarkan opini going concern
untuk klien yang kemudian menyatakan kebangkrutan (Geiger dan
Raghunandan, 2002 dalam Al-Thuneibat et al., 2011).

G. Etika Auditor
Menurut Suseno Magnis (1989) dan Sony Keraf (1991) bahwa
untuk memahami etika perlu dibedakan dengan moralitas. Moralitas
adalah suatu sistem nilai tentang bagaimana seseorang harus hidup sebagai
manusia. Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran - ajaran, moralitas
memberi manusia aturan atau petunjuk konkrit tentang bagaimana harus
hidup, bagaimana harus bertindak dalam hidup ini sebagai manusia yang

24

baik dan bagaimana menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik.


Sedangkan etika berbicara mengenai nilai dan norma moral yang
menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
Pengertian etika menurut Islahuzzaman (2012 : 139)
seperangkat

adalah

prinsip atau nilai-nilai moral yang mengindikasikan

bagaimana seseorang harus bertingkah laku. Etika professional adalah


sekumpulan prinsip atau nilai moral yang dikeluarkan oleh organisasi
untuk mengatur perilaku anggotanya dalam menjalankan praktik
profesinya bagi masyarakat. Standar auditing merupakan pedoman audit
atas laporan keuangan historis agar hasil audit yang dilakukan oleh auditor
berkualitas.
Menurut Arens et a.l., (2011:62) yang diterjemahkan oleh Desti
Fitriani terdapat enam prinsip utama terkait dengan perilaku etis:
1. Dapat

dipercaya termasuk kejujuran,

integritas, keandalan,dan

kesetiaan. Kejujuran memerlukan suatu keyakinan yang baik untuk


menyatakan kebenaran. Integeritas berarti seseorang bertindak
berdasarkan kesadaran dalam situasi apa pun. Keandalan berarti
melakukan segala usaha yang memungkinkan untuk memenuhi
komitmen. Kesetiaan merupakan tanggung jawab untuk mendukung
dan melindungi kepentingan orang-orang tertentu dan organisasi.
2. Rasa

hormat

termasuk

nilai-nilai

kesopanan,

kepatuhan,

penghormatan, toleransi dan penerimaan. Orang yang penuh rasa

25

hormat akan memperlakukan orang lain dengan hormat dan menerima


perbedaan individu dan perbedaan keyakinan tanpa prasangka buruk.
3. Tanggung jawab berarti bertangggung jawab terhadap tindakan yang
dilakukannya dan memberi batasan. Tanggung jawab juga berari
melakukan yang terbaik dan memimpin dengan memberikan teladan,
serta kesungguhan dan melakukan perbaikan secara terus menerus.
4. Kewajaran dan keadilan termasuk masalah-masalah kesetaraan,
objektivitas, proporsinalitas, keterbukaan dan ketepatan.
5. Kepedulian berarti secara tulus memperhatikan kesejahteraan orang
lain, termasuk berlaku empati dan menunjukkan kasih sayang.
6. Kewarganeraaraan termasuk memenuhi hukum dan menjalankan
kewajiban sebagai bagian dari masyarakat seperti memilih dalam
pemilu dan menjaga kelestarian sumber daya.
Indonesia

sendiri

melalui

organisasi

profesi

IAI

telah

mencanangkan tekadnya untuk mengadopsi standar teknis dan kode etik


yang ditetapkan IFAC selambat-lambatnya tahun 2012. Untuk lebih
memahami kode etik yang ditetapkan oleh IFAC ini, maka Brooks (2007)
memberikan pendekatan cara memahami filosofi Kode Etik IFAC sebagai
berikut:

26

1. Memahami Struktur Kode Etik


2. Memahami Kerangka Dasar Kode Etik untuk melakukan penilaian yang
bijak
3. Proses Menjamin Independensi Pikiran (independece in mind) dan
Independensi Penampilan (indepencence in appearance)
4. Pengamanan untuk mengurangi Risiko Situasi Konflik Kepentingan.
Kerangka dasar Kode etik IFAC dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Ciri yang membedakan profesi akuntaN (atasan), yaitu kesadaran
bahwa kewajiban akuntan yaitu untuk melayani kepentingan publik.
2. Harus dipahami bahwa tanggung jawab akuntan tidak secara ekslusif
hanya melayani klien (dari sudut pandang akuntan publik), atu hanya
melayani atasan (dari sudut pandang akuntan bisnis), melainkan
melayani kepentingan publik dalam arti luas. Pengertian publik bagi
akuntan terdiri dari atas klien, manajemen (atasan), kreditur, investor,
pemerintah, karyawan, masyarakat bisnis, dan keuangan, media masa,
para pemerhati bisnis dan ekonomi, para aktivis, dan sebagainya.
3. Tujuan (objective) dari profesi akuntan adalah memenuhi harapan
profesionalisme, kinerja, dan kepentingan publik.

27

4. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan empat kebutuhan dasar,


yaitu kredibilitas, profesionalisme, kualitas jasa tertinggi, dan
kerahasiaan.
5. Keseluruhan hal tersebut hanya dapat dicapai bila profesi akuntan
dilandasi oleh prinsip-prinsip parilaku fundamental, yang terdiri atas:
integritas, objektivitas, kompetensi profesional dan kehati-hatian,
kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis.
6. Namun, prinsip-prinsip fundamental pada butir (5) hanya dapat
diterapkan jika akuntan mempunyai sikap independen, baik independen
dalam pikiran (independence in mind) maupun independen dalam
penampilan (independence in appearance).
Prinsip-prinsip Fundamental Etika IFAC :
a. Integritas
Seorang akuntan profesiona harus bertindak tegas dan jujur
dalam semua hubungan bisnis dan profesionalnya.
b. Objektivitas
Seorag

akuntan

profesional

seharusnya

tidak

boleh

membiarkan terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah


penguruh orang lain sehingga mengesampingkan pertimbangan bisnis
dan profesional.

28

c. Kompetensi profesional dan kehati-hatian


Seorang akuntan profesional mempunyai kewajiban untuk
memelihara pengetahuan dan keterampilan profesional secara
berkelanjutan pada tingkat yang dipelukan untuk menjamin seorang
klien atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yang
didasarkan atas perkembangan praktik, legislasi, dan teknik.
d. Kerahasiaan
Seorang akuntan profesional harus menghormati kerhasiaan
informasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional
dan bisnis serta tidak boleh mengungapkan informasi apa pun kepada
pihak ketiga tanpa izin yang benar dan spesifik, kecuali terdapat
kewajiban

hukum

atau

terdapat

hak

profesional

untuk

mengungkapkannya.
e. Perilaku Profesional
Seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan
perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari tindakan
yang dapatmendiskreditkan profesi.
Independensi
Ada dua jenis independensi yamg dikenal, yaitu independensi
dalam fakta (independence in fact) dan independensi dalam penampilan
(independence in appearance). Untuk independensi dalam fakta, IFAC

29

menggunakan

istilah

lain,

yaitu

independensi

dalam

pikiran

(independece in mind).
Independensi dalam pikiran adalah suatu keadaan pikiran yang
memungkinkan pengungkapan suatu kesimpulan tanpa terkena pengaruh
yang dapat mengompromosikan penilaian profesional, memungkinkan
seorang individu bertindak berdasarkan integritas, serta menerapkan
objektivitas dan skeptisme profesional.
Independensi dalam penampilan adalah penghidaran fakta dan
kondisi yang sedemikian segnifikan sehingga pihak ketiga yang paham
dan berfikir rasional-dengan memiliki pengetahuan akan semua
informasi yang relevan, termasuk pencegahan yang diterapkan-akan
tetap dapat

menarik kesimpulan

bahwa skeptisme profesional,

objektivitas, dan integritas anggota firma, atu tim penjaminan (assurance


team) telah dikompromikan. Prinsip-prinsip fundamental etika tidak
dapat dinegosiasikan atau dikompromikan bila seorang akuntan ingin
menjaga citra frofesinya yang luhur.
Ancaman Terhadap Independensi
Ancaman dalan independensi dapat berbentuk:
a)

Kepentingan diri (self-interest)

b)

Review diri (self-review)

c)

Advokasi (advocacy)

30

d)

Kekerabatan (familiarity)

e)

Intimidasi (intimidation)

Ancaman Independensi Akuntan Publik


a)

Kepentingan diri (self-interest)


Kepentingan Diri adalah wujud sifat yang lebih mengutamakan

kepentingan pribadi atau keluarga dibandingkan dengan kepentingan


publik yang lebih luas.
Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan publik,
antara lain:
1. Kepentingan keuangan dalam perusaahan klien, atau kepentingan
keuangan bersama pada suatu perusaah klien.
2. Kekhawatiran berlebiahan bila kehilangan suatu klien.
Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan bisnis,
antara lain:
1. Perjanjian kompensasi insentif.
2. Penggunaan harta perusahaan yang tidak tepat.
3. Tekanan komersial dari pihak di luar perusahaan.

31

b)

Review diri (self-review)

Contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan publik antara lain:


1. Temuan kesalahan material saat dilakukan evaluasi ulang.
2. Pelaporan operasi sistem keuangan setelah terlibat dalam
perancangan dan implementasi sistem tersebut.
Salah contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan bisnis, yaitu
keputusan bisnis atau data yang sedang ditinjau oleh akuntan frofesional
yang sama yang membuat keputusan bisnis atau penyiapan data tersebut.
c)

Advokasi (advocacy)
Ancaman Advokasi dapat timbul bila akuntan profesional

endukung suatu posisi atau pendapat sampai titik dimana objektivitas


dapat dikompromikan.
Contoh langsung ancaman untuk akuntan publik antara lain :
1. Mempromosikan saham perusahaan publik dari klien, dimana
perusahaan tersebut merupakan klien audit.
2. Bertindak

sebagai pengacara

(penasihat

hukum)

untuk

klien

penjaminan dalam suatu litigasi atau perkara perselisihan dengan pihak


ketiga.

32

d)

Kekerabatan (familiarity)
Ancaman kekerabatan timbul dari kedekatan hubungan sehingga

akuntan profesional menjadi terlalu bersimpati terhadap kepentingan


orang lain yang mempunyai hubungan dekat dengan akuntan tersebut.
Contoh langsung Ancaman Kekerabatan untuk akuntan publik, antara
lain:
1. Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang
direktur atau pejabat perusahaan klien.
2. Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang
karyawan klien yang memiliki jabatan yang berpengaruh langsung dan
segnifikan terhadap pokok dari penugasan.
Contoh langsung Ancaman Kekerabatan untuk akuntan bisnis, antara
lain:
1. Hubungan yang lama dengan rekan bisnis yang mempunyai
pengaruh pada keputusan bisnis.
2. Penerimaan hadiah atau perlakuan khusus, kecuali nilainya tidak
segnifikan.
e) Intimidasi (intimidation)
Ancaman Intimidasi dapat timbul jika akuntan profesional
dihalang untuk bertindak objektif,

baik secara nyata maupun

33

dipersepsikan. Contoh Ancaman Intimidasi untuk Akuntan Publik,


antara lain:
1. Diancam dipecat atau diganti dalam hubungannya dengan
penugasan klien.
2. Diancam dengan tuntutan hukum.
3. Ditekan secara tidak wajar untuk mengurangi ruang lingkup
pekerjaan dengan maksud untuk mengurangi fee.
Contoh Ancaman Intimidasi untuk Akuntan Bisnis, antara lain:
1. Ancaman pemecatan akuntan profesional dalam bisnis atau
anggota keluarga dekat atas ketidaksetujuan penerapan prinsip
akuntansi atau cara penerapannya.
2. Seseorang yang mempunyai kepribadian yang dominan berusaha
memengaruhi proses pengambilan keputusan.
Secara garis besar etika dapat didefinisikan sebagai serangkaian
prinsip atau nilai moral yang dimiliki oleh setiap orang. Dalam hal ini
kebutuhan etika dalam masyarakat sangat mendesak sehingga sangatlah
lazim untuk memasukkan nilai-nilai etika ini ke dalam undang-undang
atau peraturan yang berlaku di negara kita. Banyaknya nilai etika yang ada
tidak dapat dijadikan undang-undang atau peraturan karena sifat nilai-nilai
etika sangat tergantung pada pertimbangan seseorang.

34

Etika auditor merupakan ilmu tentang penilaian hal yang baik dan
hal yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Guna
meningkatkan kinerja auditor, maka auditor dituntut untuk selalu menjaga
standar perilaku etis. Kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis
berhubungan dengan adanya tuntutan masyarakat terhadap peran profesi
akuntan, khususnya atas kinerja akuntan publik. Masyarakat sebagai
pengguna jasa profesi membutuhkan akuntan professional. Label
profesional disini mengisyaratkan suatu kebanggaan, komitmen pada
kualitas, kredibilitas, dedikasi pada kepentingan klien dan keinginan tulus
dalam membantu permasalahan yang dihadapi klien sehingga profesi
tersebut dapat menjadi kepercayaan masyarakat.

H. Kualitas Audit
Istilah kualitas audit dapat memiliki makna yang berbeda
tergantung dari sudut pandang penerima atau pemberi jasa audit. Entitas
pemilik maupun pihak pengguna laporan keuangan berpendapat bahwa
kualitas audit terjadi jika auditor dapat memberikan jaminan bahwa tidak
ada salah saji material atau kecurangan (fraud) dalam laporan keuangan
auditan. Sedangkan para auditor memandang kualitas audit terjadi apabila
mereka berkerja sesuai standar profesional yang ada, dapat menilai resiko
bisnis audit dengan tujuan untuk meminimalisasi resiko litigasi dan
meghindari kajatuhan reputasi auditor (Harom, 2012).

35

Kualitas audit merupakan segala kemungkinan dimana auditor


pada saat melakukan audit laporan keuangan klien dapat menemukan
pelanggaran yang terjadi pada sistem akuntansi klien dan melaporkannya
dalam laporan keuangan auditan, dimana dalam melaksanakan tugasnya
tersebut auditor berpedoman pada standar auditing dan kode etik akuntan
publik yang relevan (Eunike,2007).
Kualitas audit terdiri atas kualitas sebenarnya (actual) dan
dirasakan (perceived). Actual Quality adalah tingkat dimana resiko dari
pelaporan salah saji material dalam rekening keuangan berkurang,
sementara Perceived Quality adalah seberapa efektif pengguna laporan
keuangan percaya bahwa auditor telah mengurangi salah saji material.
Perceived

audit

quality

yang

lebih

tinggi

dapat

membantu

mempromosikan investasi pada klien yang diaduit (Taylor, 2005 dalam


Jackson et al., 2008).
Meningkatkan kualitas dari pelaporan keuangan menambah nilai
bagi

laporan-laporan

yang

diajdikan

alat

bagi

investor

untuk

memperkirakan nilai dari perdagangan saham. Peningkatan kualitas adalah


sebuah fungsi tidak hanya deteksi auditor atas salah saji material, tetapi
juga perilaku auditor terhadap deteksi ini. Maka dari itu, jika auditor
memperbaiki salah saji material yang ditemukan, kualitas audit yang lebih
tinggi dihasilkan, sementara itu kegagalan untuk memperbaiki salah saji
material dan belum mampu mengeluarkan laporan audit yang bersih,

36

menghalangi peningkatan kualitas audit (Johnson et al., 2002 dalam AlThuneibat et al., 2011).
Dari pengertian tentang kualitas audit tersebut, maka dapat
didefinisikan secara garis besar bahwa kualitas audit merupakan segala
kemungkinan dimana auditor pada saat melakukan audit laporan keuangan
klien dapat menemukan pelanggaran yang terjadi dalam sistem akuntansi
klien dan melaporkannya dalam laporan keuangan auditan, dimana dalam
melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman pada standar auditing
dan kode etik akuntan publik yang relevan.

I. Peneliti terdahulu
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menguji pengaruh
variabel- variabel yang mempengaruhi kualitas audit.
Penelitian yang dilakukan oleh Widagdo et al. (2002) tentang
atribut - atribut kualitas audit oleh kantor akuntan publik yang mempunyai
pengaruh terhadap kepuasan klien. Terdapat 12 atribut yang digunakan
dalam penelitian ini, yaitu (1) pengalaman melakukan audit, (2)
memahami industri klien, (3) responsif atas kebutuhan klien, (4) taat pada
standar umum, (5) independensi, (6) sikap hati-hati, (7) komitmen
terhadap kualitas audit, (8) keterlibatan pimpinan KAP, (9) melakukan
pekerjaan lapangan dengan tepat, (10) keterlibatan komite audit, (11)
standar etika yang tinggi, dan (12) tidak mudah percaya.

37

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 7 atribut kualitas audit


yang berpengaruh terhadap kepuasan klien, antara lain pengalaman
melakukan audit, memahami industri klien, responsif atas kebutuhan klien,
taat pada standar umum, komitmen terhadap kualitas audit dan keterlibatan
komite audit. Sedangkan 5 atribut lainnya yaitu independensi, sikap hatihati, melakukan pekerjaan lapangan dengan tepat, standar etika yang tinggi
dan tidak mudah percaya, tidak berpengaruh terhadap kepuasan klien.
Penelitian yang dilakukan oleh nungky nurmalita sari (2011)
tentang pengaruh pengalaman kerja, independensi, objektivitas, Integritas,
kompetensi dan etika terhadap kualitas audit. Dalam penelitian tersebut
yang menjadi variabel bebas adalah

pengalaman kerja, independensi,

objektivitas, Integritas, kompetensi, etika sedangkan variabel terikatnya


adalah kualitas audit. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
pengalaman kerja, independensi, objektivitas, integritas, kompetensi dan
etik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit. Secara
simultan seluruh variabel independen tersebut berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kualitas audit.
Penelitian yang dilakukan oleh elisha muliani singgih dan icuk
rangga bawono (2010) tentang pengaruh independensi, pengalaman, due
professional care dan akuntabilitas terhadap kualitas audit. Dalam
penelitian tersebut yang menjadi variabel bebas adalah independensi,
pengalaman, due professional care, akuntabilitas sedangkan variabel
terikatnya adalah kualitas audit. Hasil dari penelitian ini menunjukkan

38

bahwa independensi, pengalaman, due professional care dan akuntabilitas


berpengaruh secara simultan terhadap kualitas audit.
Penelitian yang dilakukan oleh Daud M.T sinaga (2012) tentang
pengaruh audit tenure, ukuran KAP, ukuran perusahaan klien terhadap
kualitas audit. Dalam penelitian tersebut yang menjadi variabel bebas
adalah audit tenur, ukuran KAP, ukuran perusahaan sedangkan variabel
terikatnya adalah kualitas audit. Hasil penelitian adalah sebagai berikut :
(1) Audit Tenure tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas
audit, (2) Ukuran KAP berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas
audit, (3) Ukuran Perusahaan Klien berpengaruh secara signifikan
terhadap kualitas audit.
Penelitian yang dilakukan oleh Goodman hutabarat (2011) tentang
pengaruh pengalaman, time budget pressure dan etika terhadap kualitas
audit. Dalam penelitian tersebut yang menjadi variabel bebas adalah
pengalaman, time budget pressure, etika sedangkan variabel terikatnya
adalah kualitas audit. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1)
Pengalaman audit, time budget pressure dan etika auditor secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. (2) Pengalaman audit, time
budget pressure dan etika auditor secara parsial berpengaruh

terhadap

kualitas audit. Pengalaman audit memberikan pengaruh positif yang


signifikan terhadap kualitas audit.

39

Penelitian yang dilakukan oleh anggi okta setiawan (2011) tentang


pengaruh kompetensi dan independensi terhadap kualitas audit. Dalam
penelitian tersebut yang menjadi variabel bebas adalah kompetensi dan
independensi sedangkan variabel terikatnya adalah kualitas audit. Hasil
dari penelitian ini berdasarkan uji regresi kompetensi dan independensi
berpengaruh singnifikan terhadap kualitas audit.
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu

No Peneliti
dan tahun
penelitian

Judul penelitian

Variabel penelitian

1.

Atribut-atribut
kualitas audit
oleh kantor
akuntan publik
yang
mempunyai
pengaruh
terhadap
kepuasan klien

Dependen :
Kualitas audit
Independen :

Widagdo
et al.
(2002)

Hasil penelitian

Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ada
7 atribut kualitas audit
yang berpengaruh
1. pengalaman
terhadap kepuasan klien,
melakukan audit,
antara lain pengalaman
(2) memahami
melakukan audit,
industri klien, (3)
memahami industri
responsif atas
klien, responsif atas
kebutuhan klien,
kebutuhan klien, taat
(4) taat pada
standar umum, (5) pada standar umum,
komitmen terhadap
independensi, (6)
sikap hati-hati, (7) kualitas audit dan
keterlibatan komite
komitmen
audit. Sedangkan 5
terhadap kualitas
atribut lainnya yaitu
audit, (8)
independensi, sikap hatiketerlibatan
pimpinan KAP, (9) hati, melakukan
pekerjaan lapangan
melakukan
dengan tepat, standar
pekerjaan
etika yang tinggi dan
lapangan dengan
tidak mudah percaya,
tepat, (10)
tidak berpengaruh
keterlibatan
komite audit, (11) terhadap kepuasan klien.
standar etika yang

40

tinggi, dan (12)


tidak mudah
percaya.
2.

Daud M.T
sinaga
(2012)

Analisis
pengaruh audit
tenur, ukuran
KAP, ukuran
perusahaan klien
terhadap kualitas
audit

Dependen :
Kualitas Audit
Independen : audit
tenur, ukuran KAP,
ukuran perusahaan
klien

3.

Nungky
nurmalita
sari
(2011)

Dependen :
Kualitas Audit
Independen :
pengalaman kerja,
independensi,
objektivitas,
Integritas, kompetensi
dan etika

4.

Elisha
muliani
singgih
dan icuk
rangga
bawono
(2010)

Pengaruh
pengalaman
kerja,
independensi,
objektivitas,
Integritas,
kompetensi dan
etika terhadap
kualitas audit
Pengaruh
independensi,
pengalaman, due
professional
care dan
akuntabilitas
terhadap kualitas
audit.

5.

Goodman
hutabarat
(2012)

Pengaruh
pengalaman,time
budget pressure,
etika auditor

Audit Tenure tidak


berpengaruh secara
signifikan terhadap
kualitas audit, Ukuran
KAP , Ukuran
Perusahaan Klien
berpengaruh secara
signifikan terhadap
kualitas audit.
Secara simulta seluruh
variabel independen
tersebut berpengaruh
positif dan signifikan
terhadap kualitas audit.

Dependen :
Kualitas Audit
Independen :
Pengalaman, due
professional care dan
akuntabilitas

independensi,
pengalaman, due
professional care dan
akuntabilitas
berpengaruh secara
simultan terhadap
kualitas audit.

Dependen :
Kualitas Audit
Independen :
Pengalaman, time
budget pressure, etika
auditor

Secara simultan dan


parsial pengalaman, time
budget pressure, etika
auditor berpengaruh
terhadap kualitas audit

Sumber : Olahan Penulis

41

J. Kerangka Pemikiran
Dalam menunjang kualitas audit yang baik, terdapat faktor-faktor
pemicunya yaitu diantaranya kualitas audit, pengalaman, independensi,
tenure audit, etika auditor. Keberhasilan dalam

mengaudit laporan

keuangan tidak lepas dari faktor-faktor tersebut, sehingga

auditor

mendapatkan hasil yang baik dalam menjalankan tugasnya. Kualitas


auditor menunjukkan tingkat pengetahuan, pemahaman, kompetensi,
pendidikan auditor, sertifikasi akuntan publik, dan ukuran Kantor akuntan
Publik. Pengalaman menunjukkan kurun waktu dan banyaknya laporan
keuangan yang diperiksa

berdasarkan pengetahuan. Independensi

menunjukkan auditor tidak membela

salah satu pihak.

Tenure audit

menunjukkan lamanya hubungan auditor dengan klien. Etika auditor


menunjukkan kode etik profesi yang mengatur perilaku akuntan publik
dalam menjalankan praktik profesinya.
Untuk memudahkan analisis dan menguji hipotesis, maka dapat
digambarkan dalam suatu bagan kerangka berfikir yang disajikan sebagai
berikut :

42

Kerangka Pemikiran
Variabel Independen

Variabel Dependen

Kualitas Auditor
(X1)

Pengalaman Auditor
(X2)

Independensi
(X3)

Kualitas Audit (Y)

Tenure Audit
(X4)

Etika Auditor
(X5)

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran