Anda di halaman 1dari 6

1

BAB 9 KODE ETIK PROFESI LAINNYA


KEBERADAAN BERBAGAI PROFESI
Tujuan khusus dari setiap organisasi profesi adalah untuk mengembangkan
kompetensi para anggota secara berkelanjutan sekaligus untuk melakukan
pengendalian perilaku para anggotanya dengan berpedoman pada kode etik
yang telah disepakati bersama. Kelompok

kelompok organisasi profesi seperti ini tidak membeda

bedakan latar belakang status para anggota mereka, baik dari sector swasta
atau sector public (pegawai negeri). Setiap organisasi profesi mempunyai
pedoman kode etik untuk menjadi standar/acuan perilaku bagi para anggotanya.
Karena banyaknya organisasi profesi yang ada, maka pada kesempatan ini
hanya akan dibahas beberapa contoh kode etik dari beberapa organisasi profesi,
yaitu Profesi Badan Pemerintahan Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI),
Perhimpunan Auditor Internal Indonesia (PAII), Himpunan Psikologi Indonesia, dan
Advokat Indonesia.
KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA (BPK-RI)
Kode Etik BPK dituangkan dalam Peraturan Badan Pemriksa Keuangan Republik
Indonesia Nomor 2 Tahun 2007, serta telah diumumkan dalam Lembaga Berita
Negara Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 2007. Kode Etik ini berlaku untuk
Anggota dan Pemeriksa BPK. Kedua istilah ini Anggota BPK dan Pemeriksa BPK
mempunyai pengertian yang berbeda menurut Pasal 1 ayat 2 dan 3 Peraturan
Badan Pemriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007, yaitu : a.

Anggota BPK adalah pejabat Negara pada BPK yang dipilih oleh DPR dan
diresmikan berdasarkan Keputusan Presiden. b.

Pemriksaan BPK adalah orang yang melaksanakan tugas pemeriksaan


pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara untuk dan atas nama BPK.
Pasal 2 Kode etik BPK mengatur tentang nilai nilai dasar yang wajib dimiliki oleh
anggota dan pemeriksa BPK. Nilai

nilai dasar ini terdiri atas : a.

Mematuhi peraturan perundang

undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. b.

Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.


c.

Menjunjung tinggi independensi, integritas, dan profesionalitas. d.

Menjunjung tinggi martabat, kehormatan, citra dan kredibilitas BPK.

2
KODE ETIK PERHIMPUNAN AUDITOR INTERNAL INDONESIA (PAII)
Kode etik PAII ini dikutip dari buku Standar Profesional Audit Internal karangan
Hiro Tugiman (1997). Kode etik PAII secara lengkap diberikan pada Lampiran 6 di
bagian akhir buku ini. Ada dua kategori kode etik yang ditetapkan oleh PAII, yaitu
kode etik PAII dan kode etik Qualified Internal Auditor (QIA). Kode etik PAII berlagi
bagi organisasi profesi dan semua anggota PAII yang bekerja pada
departemen/bagian audit internal suatu organisasi/perusahaan. Kode etik QIA
adalah kode etik bagi anggota yang telah memperoleh kualifikasi/sertifikasi QIA
melalui suatu pendidikan formal yang ditetapkan oleh PAII. Kode etik PAII terlihat
sangat singkat dan sederhana. Karena terlalu singkat dan sederhana, ada
beberapa hal yang pengaturannya tidak jelas dan/atau tidak lengkap, yaitu : 1.

Kompetensi yang menyangkut persyaratan pengetahuan minimal yang


diperlukan melalui pendidikan formal tidak diatur secara eksplisit. 2.

Tanggung jawab profesi auditor internal hanya disebutkan kepada pemberi tugas
(manajemen), tidak ada pernyataan yang menyebutkan hubungannya dengan
atau dampaknya bagi kepentingan umum yang lebih luas. 3.

Tidak ada pasal yang mengatur hubungan dengan rekan sejawat dan hubungan
lainnya. 4.

Tidak ada pasal yang mengatur tentang pengawasan dalam hal timbulnya
penyimpangan terhadap kode etik yang dilakukan oleh anggotanya.
KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA
Kode etik ini berlaku bagi ilmuwan psikologi dan psikolog. Kedua profesi ini
dibedakan berdasarkan latar belakang pendidikan mereka, di mana latar
belakang pendidikan ini menentukan boleh atau tidaknya seseorang melakukan
praktik psikologi. Para ilmuwan psikologi dalam batas

batas tertentu dapat memberikan jasa psikologi, tetapi tidak boleh menjalankan
praktik psikologi. Praktik psikologi hanya boleh dilakukan oleh para psikolog.
KODE ETIK PROFESI ADVOKAT
Advokat merupakan salah satu subprovesi di bidang hokum. Sebagaimana
dikatakan oleh Abdulkadir Muhammad (2006), peraturan hokum mengatur dan
menjelaskan bagaimana serharusnya : a.

Legislator menciptakan hokum b.

Pejabat melaksanakan administrasi Negara c.

Notaris merumuskan kontrak-kontrak harta kekayaan d.

Polisi dan jaksa menegakkan ketertiban hokum e.

Pengacara membela kliennya dalam menginterpretasikan hokum f.

Hakim menerapkan bukum dan menetapkan keputusannya g.

Pengusaha menjalankan kegiatan bisnisnya h.

Konslutan hukum memberikan nasihat hukum kepada kliennya

3
i.

Pendidik hukum menghasilkan ahli hukum Selanjutnya dikatakan bahwa


pekerjaan yang ditangani oleh para professional hukum tersebut merupakan
bidang-bidang profesi hukum, jika dirinci adalah sebagai berikut : a)

Profesi legislator b)

Profesi administrator hukum c)

Profesi notaries d)

Profesi polisi e)

Profesi jaksa f)

Profesi advokat (pengacara) g)

Profesi hakim h)

Profesi hukum bisnis i)

Profesi konsultan hukum j)

Profesi dosen hukum Menurut Notohamidjojo, seorang professional di bidang


hukum perlu memiliki : 1.

Sikap manusiawi, artinya tidak hanya menghadapi hukum secara formal,


melainkan kebenaran yang sesuai dengan hati nurani. 2.

Sikap adil, artinya mencari kelayakan yang sesuai dengan perasaan masyarakat.
3.

Sikap patut, artinya mencari pertimbangan untuk menentukan keadilan dalam


suatu perkara konkret. 4.

Sikap jujur, artinya menyatakan suatu hal benar menurut apa adanya, serta
menjauhi yang tidak benar dan tidak patut.
PERBANDINGAN KODE ETIK
1)

Semua profesi berdampak atau bermanfaat bagi kepentingan umum, meskipun


arti umum mempunyai tingkat keluasan yang berbeda. Contoh pengertian umum
untuk :

BPK adalah kepentingan Negara.

Auditor Internal adalah manajemen suatu entitas (suatu bisnis).

Psikologi adalah klien (individu, kelompok, istitusi).

Advokat adalah klien dan demi penegakan hukum dan keadilan. 2)

Untuk menjaga kepercayaan public, dalam setiap kode etik profesi pada
umumnya ditekankan pentingnya memelihara kompetensi tinggi secara
berkelanjutan. 3)

Kompetensi mencakup pengetahuan melalui pendidikan formal sesuai dengan


latar belakang profesinya, keterampilan teknis, dan sikap perilaku. Meskipun
kompetensi yang menyangkut pengetahuan ada yang secara eksplisit diatur
dalam kode etik (misalnya, kode etik psikologi), ada juga yang tidak diatur
dalam kode etik karena sudah diatur dalam peraturan/perundangan (misalnya,
kode etik advokat dan BPK), atau tidak diatur dalam kode etik tetapi diserahkan
pada kebijakan/peraturan perusahaan (misalnya, kode etik auditor internal).