Anda di halaman 1dari 24

Nyeri Punggung Bawah pada Perawat Usia 50 Tahun

Stacia Cicilia
102012132/B4
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
staciabeep@yahoo.com

Pendahuluan
Latar Belakang
Low back pain (LBP) merupakan permasalah yang sering muncul dalam suatu asuhan
fisioterapy dengan gejala umum yang terasa pada bagian lumbo-sacral, otot gluteal, paha dan
sering kali pada ekstremitas bawah. Ketika karakteristik gejala low back pain muncul maka
diperlukan pengangkatan suatu diagnosa dan bagaimana penanganannya yang tepat. Hampir
dari 90 % penduduk pernah mengalami LBP dalam siklus kehidupannya dan LBP merupakan
keluhan nomor dua yang sering muncul setelah keluhan pada gangguan system pernafasan.
Terdapat hasil penelitian yang menyebutkan bahwa hampir 48% klien dengan LBP
tidak diketemukan penyebabnya yang jelas. Croft juga menyebutkan bahwa 90 % klien
dengan LBP menghentikan pengobatannya setelah 3 bulan pengobatan walaupun nyerinya
masih terasa.
Low back pain dikatagorikan sebagai akut (kurang dari 12 minggu), sub akut (6-12
minggu) dan kronik (lebih dari 12 minggu). Umumnya LBP berhubungan dengan peregangan
ligament dan otot yang diakibatkan dari mekanik tubuh yang salah saat mengangkat sesuatu.
Faktor resiko untuk mengalami LBP adalah berat badan berlebih, memiliki postur dan
memiliki kekuatan otot perut yang buruk.
Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui diagnosis kerja kasus tersebut
melalui 7 langkah diagnosis okupasi, menentukan penatalaksanaan yang tepat serta
pencegahan.

Kasus
Seorang perempuan, usia 50 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan paha kanan sampai
kaki kanan terasa nyeri, sejak 3 tahun terakhir. Sudah 5 kali berobat ke dokter dan minum
obat-obatan secara teratur, tetapi keluhan tetap ada.

Pembahasan (7 Langkah Diagnosis)


Diagnosa Klinis
Low back pain (LBP) adalah rasa sakit yang terjadi didaerah lumbal atau lumbalsakral
secara akut, menahun, atau intermiten dan umumnya tanpa kelainan radiologik maupun
neurologik. Dapat juga disertai penyebaran nyeri anggota gerak bawah. Low back pain yang
disertai kelainan neurologik, misalnya dislokasi diskus invertebralis hanya 0,1% dari semua
kasus. Low back pain (LBP) dapat terjadi pada semua usia, tetapi pada umumnya keluhan
pertama tejadi pada usia 35 40 tahun, dan 10 % dari tenaga kerja setiap tahun pernah
mengalaminya.
Low back pain (LBP) dapat mengganggu daya kerja, produktivitas; dapat
menyebabkan absenteisme dan memerlukan pengobatan. Dengan pengobatan, umumnya
keluhan akan hilang dalam 3-7 hari, tetapi bila sampai 14 hari keluhan tidak berkurang,
diperlukan pemeriksaan lebih lanjut baik radiologik maupun neurologik.1
Anamnesis
Anamnesa merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan
memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien.
Dengan dilakukanya anamnesis maka 70% diagnosis dapat ditegakkan. Anamnesis
merupakan langkah penting dalam evaluasi penderita nyeri pinggang. Penderita dibiarkan
menuturkan riwayat penyakitnya dengan kata-katanya sendiri sambil dipandu ke arah yang
memungkinkan munculnya informasi penting yang diperlukan untuk diagnosis.
1) Keluhan Utama1
Pada anamnesis awal kita tanyakan pada pasien keluhan utamanya. Pada kasus kita
ketahui pasien mengeluh nyeri pada paha kanan sampai kaki kanan terasa nyeri. Identitas
pasien berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan juga patut dipertanyakan. Usia penderita
dapat membantu dalam menentukan penyebab potensial nyeri pinggang mereka.
Beberapa penyebab timbul lebih sering pada usia muda (spondilitis ankilosa, sindrom
Reiter), sedangkan yang lain pada usia lebih tua (stenosis spinal, polimialgia reumatika).
2

Jenis kelamin juga dapat membantu. Beberapa penyakit lebih sering ditemukan pada pria
(spondiloartropati), yang lain lebih sering pada wanita (fibromialgia, osteoporosis). Ada
pula yang kekerapannya sama pada kedua jenis kelamin (inflammatory bowel disease).
2) Riwayat Penyakit Sekarang1,2
Sebagian besar anamnesis
mempengaruhi

nyeri.

digunakan

Anamnesis

untuk

diarahkan

mencari
kepada

faktor-faktor
pemahaman

yang
tentang

perkembangan kronologis nyeri pinggang, karakteristik dan responnya terhadap


pengobatan. Di samping menilai nyeri, menemukan faktor-faktor yang memperberat

atau memperingan nyeri sangat membantu menentukan sumber keluhan.


Awalnya tanyakan kapan muncul nyeri ? apakah saat bekerja atau dalam kondisi

lain ?
Tanyakan hubungan nyeri dengan posisi tubuh dan kegiatan fisik ; misal nya nyeri
rupture diskus intervertebralis lebih bertambah bila penderita membungkuk, bersin,
atau batuk, atau lebih nyeri pada posisi duduk bila dibandingkan dengan berdiri ;
sedangkan nyeri dari tumor spinal cord lebih nyeri pada saat berbaring daripada

duduk.
Yang bersifat khas, gangguan mekanik bertambah berat bila melakukan aktifitas,

termasuk duduk atau berdiri dalam jangka waktu lama, serta membaik jika berbaring
Peninggian tekanan cairan serebrospinal akibat batuk atau bersin mengakibatkan
eksaserbasi nyeri radikuler pada penderita dengan HNP. Gerakan yang tiba-tiba
dapat menyebabkan kontraksi refleks otot paraspinal tanpa penjalaran nyeri ke

tungkai bawah.
Beratnya nyeri dapat diukur dengan berbagai cara. Penderita mungkin menceritakan
bagaimana rasa nyerinya telah mempengaruhi aktifitasnya sehari-hari. Contoh lain
ialah dengan rnenggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Ada yang rnenggunakan
diagram nyeri; penderita diminta mengisi diagram yang menggambarkan tempat,
kualitas dan beratnya yang menggambarkan tempat, kualitas dan beratnya nyeri.
Diagram nyeri ini membantu pencatatan luas daerah nyeri dan respon terhadap
pengobatan. Bila nyeri muncul saat istirahat, pikirkan kemungkinan tumor di daerah

vertebra.
Lokasi dan lamanya nyeri membantu menentukan pertanyaan berikutnya. Nyeri
pinggang mekanik mempunyai onset yang berhubungan dengan aktifitas fisik dan
biasanya berlangsung singkat (beberapa hari sampai beberapa minggu) sedangkan
nyeri pinggang medik onsetnya lambat tanpa faktor presipitasi yang jelas dan sering
berlangsung lama (beberapa minggu sampai beberapa bulan).
3

Kebanyakan nyeri pinggang terbatas pada daerah lumbosakral.


Nyeri radikuler ke paha atau lutut biasanya berhubungan dengan nyeri referral dari
unsur-unsur tulang belakang (otot ligamen atau sendi apofiseal). Nyeri yang
menjalar dari pinggang sampai ke bawah lutut biasanya neurogenik dan
menunjukkan kemungkinan adanya proses patologik yang mengenai radiks saraf

spinal.
Nyeri rujukkan adalah nyeri yang diproyeksikan ke organ lain, misalnya nyeri pada
sendi posterior dirasakan penderita di daerah bokong, paha bagian belakang, lutut,
sering sampai tungkai bawah tetapi jarang sampai telapak kaki. Nyeri ini bertambah
kalau tulang belakang digerakkan, tetapi bisa juga terus menerus, adakalanya hanya

dalam posisi tertentu nyeri bertmabha hebat.


Nyeri radikuler terjaid karena tekanan pada satu canag saraf yang ditandai dengan
penurunan sensibilitas motorik dan reflex. Kedua nyeri tadi sangat mudah dibedakan
dengan melakukan bloking pada faset dimana spasme otot segmen didapat. Bila
nyeri hilang berarti kita berhadapan dengan nyeri rujukkan dan sebaliknya.

3) Riwayat Penyakit Dahulu1


Riwayat penyakit dahulu dan anamnesis sistem perlu ditinjau secara singkat. Biasanya
tidak banyak informasi yang dapat membantu. Meskipun demikian, pada penderita nyeri
pinggang medik dapat diperoleh data yang berharga. Riwayat penyakit dahulu seperti
keganasan, artritis atau penyakit tulang metabolik sangat membantu. Data dari anamnesis
sistem dapat mengidentifikasi penderita yang mempunyai penyakit sistemik yang
menyebabkan nyeri pinggang sekarang, tetapi tidak menyadari hubungan antara
keduanya (misalnya ruam kulit dengan spondiloartropati).
4) Riwayat Keluarga Dan Sosial1
Sebagai tambahan terhadap riwayat penyakit sekarang, riwayat keluarga dan riwayat
sosial dapat membantu mengungkapkan kelainan yang merupakan dasar nyeri
pinggang yang diderita sekarang; mungkin terdapat faktor predisposisi familial.
Salah satu contoh penting ialah sekelompok penyakit yang menyebabkan
spondiloartropati. Faktor etnispun dapat merupakan predisposisi terhadap penyakit
tertentu, misalnya wanita kulit putih dari Eropa Utara mempunyai risiko besar
menderita osteoporosis. Kelainan mekanik seperti HNP dan stenosis spinal mungkin
mempunyai predileksi keluarga.

Pekerjaan dan riwayat sosial penting untuk mengidentifikasi penderita-penderita


yang mempunyai risiko mengalami nyeri pinggang mekanik. Hubungan kerja

dengan onset nyeri penting dalam menentukan ganti rugi.


Kebiasaan sosial juga perlu diketahui, terutama yang berkaitan dengan rokok,
alkohol dan penggunaan obat-obat tertentu/terlarang. Merokok merupakan faktor
risiko yang independen pada nyeri pinggang. Penggunaan alkohol yang berlebihan
berkaitan dengan osteoporosis, sedangkan obat-obat tertentu dapat menyebabkan
imunosupresi dan predisposisi terhadap infeksi.

5) Riwayat pekerjaan3
Perlu ditanyakan pekerjaan pasien. Apakah ada hubungan gejala dengan pekerjaan
nya sekarang Pekerjaan yang paling sering menimbulkan keluhan Low Back Pain :
1. Mengangkat dan atau memutar sambil memegang benda berat (misalnya, kotak,
anak, penduduk panti jompo
2. Operasi mesin yang bergetar
3. Duduk lama (misalnya, mengemudi truk jarak jauh , patroli polisi)
4. Keterlibatan dalam tabrakan kendaraan bermotor
5. Riwayat jatuh
6. Waktu bekerja sehari
7. APD yang dipakai
8. Pekerja lain yang mengalami hal sama
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
Pada saat pasien datang kita melihat bagaimana keadaan umum dan kesadaran pasien,
berikut merupakan tingkatan kesadaran pasien:4
1) Compos Mentis : Sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun terhadap
lingkungannya. Pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik.
2) Apatis : kurang memberikan respon terhadap sekelilingnya atau bersifat acuh tak acuh
terhadap sekelilingnya.
3) Delirium: penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus tidur bangun
yang terganggu. Pasien tampak gaduh, gelisah, kacau, disorientasi dan meronta-ronta.
4) Somnolen : keadaan mengantuk yang masih dapat pulih penuh bila dirangsang, tetapi
bila rangsang berhenti, pasien akan tertidur kembali.
5) Sopor : keadaan mengantuk yang dalam. Pasien masih dapat dibangunkan dengan
rangsang yang kuat, misalnya rangsang nyeri, tetapi pasien tidak terbangun sempurna
dan tidak dapat membrikan jawaban verbal yang baik.

6) Semi koma: penurunan ranagsangan yang tidak memberikan respon terhadap


rangsangan verbal, dan tidak dapat dibangunkan sama sekali, tetapi refleks pupil dan
kornea masih baik.
7) Coma : tidak sadar, dan tidak ada reaksi terhadap rangsangan apapun juga.
Setelah itu kita mengukur antopometri (berat dan tinggi badan pasien, serta lingkar lengan
atas karena pasien > 2 tahun), pemeriksaan TTV, dan pemeriksaan tanda rangsang meningeal
o Berat dan tinggi badan
o Lingkar lengan atas
o Tanda-tanda vital (TTV) :

Suhu (oral, rektal, axila atau telinga)


Tekanan darah
Tekanan nadi
Frekuensi pernafasan

Pemeriksaan Terstruktur2,5
Inspeksi
Perhatikan ekspresi wajah penderita apakah menderita karena penyakitnya, adanya
penurunan gerak, adanya gerak yang abnormal, adanya otot yang spasme, adanya kelainan
bentuk tulang belakang, adanya tanda-tanda radang, adanya atropi anggota gerak bawah, dll.

Palpasi dan Perkusi


Pada palpasi diperhatikan mobilitas tulang belakang, spasme otot, nyeri ketok di
daerah tertentu dan lain-lain. Juga diperiksa reflex normal dan abnormal dan kekuatan
tungkai.
Di daerah lumbal bawah lakukan pemeriksaan yang cermat untuk mengecek setiap
garis vertebra yang tidak rata atau terputus (step offs) guna menentukan apakah terdapat salah
satu prosesus spinosus yang bergeser maju (atau mundur) secara abnormal terhadap tulang
vertebra di atasnya. Garis vertebra yang terputus( step off ) ditemukan pada spondilostesis
atau pergeseran salah satu vertebra ke depan yang dapat menekan medulla spinalis. Nyeri
tekan pada vertebra merupakan tanda kea rah kecurigaan fraktur atau infeksi.
Lakukan palpasi pada artikulasio sakroiliaka yang sering dikenali melalui lekukan
yang di atas SIPS ( spina iliaka posterior superior ). Nyeri tekan pada artikulasio sakroiliaka
menunjukkan penyebab nyeri punggung bawah yang sering ditemukan. Spondilitis ankilosing
dapat menimbulkan nyeri tekan sakroiliaka.
6

Lakukan perkusi pada vertebra untuk menemukan nyeri tekan dengan cara
mengetuknya. Nyeri pada perkusi dapat terjadi karena osteoporosis, infeksi, atau malignasi.
Lakukan inspeksi dan palpasi pada otot paravertebralis untuk menemukan nyeri tekan
dan spasme. Otot yang spasme akan teraba keras serta seperti menyimpul dan mungkin dapat
dilihat. Spasme terjadi pada proses degenerative dan inflamatorik otot.

Pemeriksaan Fisik Khusus2,5

Tanda Laseque
Tanda Laseque menunjukkan adanya ketegangan pada saraf spinal khususnya L5 atau
S1. Secara klinis tanda Laseque dilakukan dengan fleksi pada lutut terlebih dahulu, lalu
di panggul sampai 900 lalu dengan perlahan-lahan dan graduil dilakukan ekstensi lutut
dan gerakan ini akan menghasilkan nyeri pada tungkai pasien terutama di betis (tes yang
positif) dan nyeri akan berkurang bila lutut dalam keadaan fleksi. Terdapat modifikasi tes
ini dengan mengangkat tungkai dengan lutut dalam keadaan ekstensi (stright leg rising).
Modifikasi-modifikasi tanda laseque yang lain semua dianggap positif bila menyebabkan
suatu nyeri radikuler. Cara laseque yang menimbulkan nyeri pada tungkai kontra lateral
merupakan tanda kemungkinan herniasi diskus.
Pada tanda laseque, makin kecil sudut yang dibuat untuk menimbulkan nyeri makin
besar kemungkinan kompresi radiks sebagai penyebabnya. Demikian juga dengan tanda
laseque kontralateral. Tanda Laseque adalah tanda pre-operatif yang terbaik untuk suatu
HNP, yang terlihat pada 96,8% dari 2157 pasien yang secara operatif terbukti menderita
HNP dan pada hernia yang besar dan lengkap tanda ini malahan positif pada 96,8%
pasien. Harus diketahui bahwa tanda Laseque berhubungan dengan usia dan tidak begitu
sering dijumpai pada penderita yang tua dibandingkan dengan yang muda (<30 tahun).
Tanda Laseque kontralateral (contralateral Laseque sign) dilakukan dengan cara yang
sama, namun bila tungkai yang tidak nyeri diangkat akan menimbulkan suatu respons
yang positif pada tungkai kontralateral yang sakit dan menunjukkan adanya suatu HNP.
Tanda Kernig
Pada pemeriksaan ini , pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggul sampai membuat sudut 90. Setelah itu tungkai bawah diekstensikan
pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135 terhadap paha. Bila
teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut 135, maka dikatakan
Kernig sign positif.
7

Pemeriksaan Radiologi dan Laboratorium1-4,6


Walaupun rontgen vertebra lumbosakral biasanya dilakukan pada nyeri punggung bawah, ditemukan hasil normal pada sebagian besar kasus. Dilaporkan bahwa
abnormalitas struktur hanya terjadi pada 3% pasien dan angka maksimum
ditemukannya kelainan pada pemeriksaan radiologis berkaitan dengan nyeri
punggung adalah 10%.
Pemeriksaan rontgen yang segera dilakukan pada pasien dengan nyeri
punggung akut biasanya tidak menolong dan tentunya membuang uang. Sebagian
besar nyeri punggung sembuh dalam waktu singkat dan rontgen dibuat jika gejala
menetap atau bila ditemukan kelainan fisik abnormal. Bukti radiologis adanya
penyakit degeneratif lebih banyak ditemukan pada orang yang lebih tua. Perlu
ditekankan bahwa degenerasi diskus dapat timbul tanpa menimbulkan gejala
bermakna.
Rontgen vertebra potongan lateral dalam posisi fleksi dan ekstensi dapat
menunjukkan mobilitas segmen tulang belakang yang tidak biasa yang berhubungan
dengan ketidakstabilan. Selain itu, rontgen potongan miring membantu menunjukkan
dan mengonfirmasi adanya spondilosis. Cara pencitraan yang lebih baru seperti
magnetic resonance imaging menambah dimensi baru diagnosis lesi tulang belakang,
khususnya penyakit diskus degenerative. Namun, biaya pemeriksaan ini tinggi dan
penggunaan secara rutin untuk menilai nyeri punggung bagian bawah dan cedera
pada saat sekarang membuang uang.
1. Foto polos :
Dengan pemeriksaan radiologic daerah lumbosakral biasa posisi anteroposterior (AP), lateral,
dan oblik kita banyak mendapatkan informasi antara lain : radang tulang, keganasan,
skoliosis, spondilosis (posisi oblik), spondilosistesis, fraktur dislokasi, dan lain-lain.
Pemeriksaan rontgen pada pasien dengan nyeri punggung akut biasanya tidak menolong dan
tentu membuang uang. Rontgen biasa dibuat bila gejala menetap atau kelainan fisik yang
abnormal.
2. Mielografi :
Dengan pemeriksaan ini terlihat desakan pada mielum berupa tumor ekstradural, HNP,
pembesaran faset, stenosis sentralis satu segmen, atau beberapa segmen. Kontras yang
dipakai sebaiknya water soluble kontras sebab bisa diikuti sampai radiks LBP mekanik
yang persisten mungkin memerlukan studi pencitraan tambahan, termasuk CT scan, dan
8

diskografi. Sensitivitas mengacu pada kemampuan tes atau studi untuk menunjukkan adanya
gangguan. Spesifisitas mengacu pada kemampuan tes atau studi untuk + dalam gangguan
tertentu. Semakin tinggi angka [0 ke 1], tes yang lebih sensitif atau spesifik atau belajar.
3. CT Scan :
Secara luas metode ini digunakan untuk pemeriksaan lesi lumbal. Pada sentral dan lateral
kanal stenosis bisa diketahui dan diukur besarnya foramen. Untuk pemeriksaan HNP, metode
ini mencapai ketepatan kurang lebih 90 %.
4. MRI :
Dengan alat ini bisa dilihat seluruh struktur yang ada dalam tubuh secara terpisah ; sebab
prinsip perekaman gambar berdasarkan ionisasi sel-sel jaringan tubuh, dimana satu jaringan
dengan jaringan yang lain sangat berbeda. MRI lebih unggul daripada CT scan untuk
mendeteksi banyak kelainan karena menyajikan secara rinci jaringan lunak dan titik pandang
beberapa planar, melainkan harus digunakan jika infeksi, kanker, atau defisit neurologis
persisten sangat disarankan.
Penelitian lain seperti hitung darah lengkap, termasuk laju endapan darah dan
pemindaian tulang sesuai petunjuk evaluasi klinis, atau bila ada kebutuhan
menyisihkan peradangan, infeksi atau neoplastik sebagai penyebab nyeri punggung.
Nilai normal LED :
Cara Westergren : 0-15 mm / jam ( pria < 50 tahun ) dan 0-20 mm / jam ( wanita < 50 tahun )
Cara Wintrobe : 0-9 mm /jam ( pria ) dan 0-15 mm / jam (wanita)
Working Diagnosis
Low Back Pain5,6
Low Back Pain adalah sensasi pada punggung bawah mengacu pada rasa nyeri atau
sakit di mana pun di daerah antara tulang rusuk bawah dan di atas kaki. Rasa nyeri pada
punggung bawah akibat dari cedera atau ketegangan otot, atau bisa juga disebabkan oleh
kondisi yang lebih spesifik seperti herniated disc.
Low Back Pain, juga disebut sebagai sakit pinggang, dapat mengakibatkan rasa nyeri
atau sakit di mana pun di daerah antara tulang rusuk bawah dan di atas kaki. Low Back Pain
dapat terjadi pada kedua jenis kelamin di segala usia, tetapi individu dalam kelompok umur
35 -55 tahun pengalaman itu lebih umum. Perkiraan tujuh dari setiap sepuluh orang
mengalami Low Back Pain, yang dapat membatasi kerja, kegiatan sehari-hari, atau rekreasi.
9

Gejala utama nyeri punggung bawah adalah nyeri di manapun di antara tulang rusuk
dan paha atas Anda. Nyeri dapat terlokalisasi pada satu daerah kecil atau menjadi lebih umum
sakit di punggung bawah. Intensitas rasa sakit dapat bervariasi dengan waktu, meningkat
dengan gerakan, atau menyebar dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam kebanyakan kasus Low Back Pain hanya berlangsung selama seminggu atau
lebih, tetapi banyak orang menemukan masalahnya berulang, kecuali jika mereka mengubah
gaya hidup mereka dan cara di mana mereka melakukan aktivitas sehari-hari.Dalam minoritas
orang, terus-menerus rendah kembali sakit kronis dapat menyebabkan kecacatan.
Low Back Pain tidak tiba-tiba terjadi begitu saja, selalu diikuti dengan gejala-gejala.
Nyeri punggung bawah typcially jatuh ke dalam salah satu dari dua kategori. Mendadak
(akut); Terus-menerus (kronis). Gejala serupa dan tumpang tindih antara keduanya.
Low Back Pain akut berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa
minggu.Sebagian besar kasus nyeri punggung akut mempunyai asal-usul mekanik seperti
akibat cedera pada punggung bawah atau kondisi medis seperti arthritis. Punggung bawah
adalah sangat rentan terhadap cedera selama olahraga, tiba-tiba goncangan yang disebabkan
oleh kecelakaan mobil, atau tekanan pada tulang dan sendi tulang belakang. Gejala dapat
bervariasi dari rasa nyeri untuk sakit yang lebih parah, membatasi fleksibilitas dan berbagai
gerakan.
Low Back Pain kronis berkembang secara bertahap, biasanya memburuk dari waktu
ke waktu, dan berlangsung selama lebih dari tiga bulan.Ini mungkin berkaitan dengan
kesehatan jangka panjang masalah dan penyebab pasti mungkin sulit untuk ditentukan.

Gejala klinik2,6
Berbagai gejala dapat hadir pada pasien dengan sakit pinggang:

Rasa sakit dapat dimulai secara bertahap dengan peningkatan intensitas dari waktu ke

waktu, atau mengembangkan tiba-tiba.


Rasa sakit dapat bervariasi dalam intensitas dari nyeri yang lebih parah dan rasa
sakit tak tertahankan, kadang-kadang menjalar ke pantat, bagian belakang paha, atau

pangkal paha.
Sakit pinggang biasanya memburuk pada bergerak, dan dapat mengakibatkan kejang

otot-otot punggung, sehingga mengubah postur.


Gerakan mungkin menjadi terbatas, dengan fleksibilitas yang terbatas. Low Back
juga mungkin berhubungan dengan nyeri, mati rasa, atau

kesemutan

sering kali memperpanjang bawah lutut. Gejala-gejala ini

biasanya

dari

kaki,

akibat

dari

kompresi saraf.
10

Nyeri punggung secara khas muncul saat seseorang duduk atau berdiri selama
beberapa waktu, saat ia mengangkat atau menarik, atau pada saat mengambil posisi
tertentu yang tidak lazim pada pekerjaan nya, misal nya membungkukkan badan dan
berjongkok

Etiologi dan Karakteristik LBP6,10


I.

LBP viserogenik
Disebabkan oleh adanya proses patologik di ginjal atau visera didaerah pelvis, serta tumor

retroperitoneal. Nyeri yang dirasakan tidak bertambah berat dengan aktivitas tubuh, juga
tidak berkurang dengan istirahat. Penderita LBP viserogenik yang mengalami nyeri hebat
akan selalu menggeliat untuk mengurangi nyeri, sedang penderita LBP spondilogenik akan
lebih memilih berbaring diam dalam posisi tertentu untuk menghilangkan nyerinya.
II.

LBP vaskulogenik
Aneurisma atau penyakit vaskuler perifer dapat menimbulkan nyeri punggung atau nyeri

menyerupai iskialgia. Insufisiensi arteria glutealis superior dapat menimbulkan nyeri di


daerah bokong, yang makin memberat saat jalan dan mereda saat berdiri. Nyeri dapat
menjalar ke bawah sehingga sangat mirip dengan iskialgia, tetapi rasa nyeri ini tidak
terpengaruh oleh presipitasi tertentu misalnya: membungkuk, mengangkat benda berat yang
mana dapat menimbulkan tekanan sepanjang columna vertebralis. Klaudikatio intermitten
nyerinya menyerupai iskialgia yang disebabkan oleh iritasi radiks.
III.

LBP neurogenik

Keadaan neurogenik pada saraf yang dapatmenyebabkan nyeri punggung bawah pada:
a) Neoplasma:
Rasa nyeri timbul lebih awal dibanding gangguan motorik, sensibilitas dan vegetatif.
Rasa nyeri sering timbul pada waktu sedang tidur sehingga membangunkan penderita.
Rasa nyeri berkurang bilampenderita berjalan.
b) Araknoiditis:
Pada keadaan ini terjadi perlengketan perlengketan. Nyeri timbul bila terjadi
penjepitan terhadap radiks oleh perlengketan tersebut
c) Stenosis canalis spinalis:
Penyempitan canalis spinalis disebabkan oleh

proses

degenerasi

discus

intervertebralis dan biasanya disertai ligamentum flavum. Gejala klinis timbulnya

11

gejala claudicatio intermitten disertai rasa kesemutan dan nyeri tetap ada walaupun
penderita istirahat.
IV.

LBP spondilogenik
Nyeri yang disebabkan oleh berbagai proses patologik di columna vertebralis yang

terdiri dari osteogenik, diskogenik, dan proses patologik di artikulatio sacro iliaka.
a. LBP osteogenik
Sering disebabkan radang atau infeksi misalnya osteomielitis vertebral dan
spondilitis tuberculosa. Trauma yang dapat mengakibatkan fraktur maupun
spondilolistesis. Keganasan, kongenital misalnya scoliosis lumbal, nyeri yang timbul
disebabkan oleh iritasi dan peradangan selaput artikulasi posterior satu sisi. Metabolik
misalnya osteoporosis, osteofibrosis, alkaptonuria, hipofosfatemia familial.
b. LBP diskogenik
Disebabkan oleh : Spondilosis, disebabkan oleh proses degenerasi yang
progresif pada discus intervertebralis, sehingga jarak antar vertebra menyempit,
menyebabkan timbulnya osteofit, penyempitan canalis spinalis dan foramen
intervertebrale dan iritasi persendian posterior. Rasa nyeri disebabkan oleh terjadinya
osteoarthritis dan tertekannya radiks oleh kantong duramater yang mengakibatkan
iskemi dan radang. Gejala neurologik timbul karena gangguan pada radiks yaitu:
gangguan sensibilitas dan motorik (paresis, fasikulasi dan atrofi otot). Nyeri akan
bertambah apabila tekanan LCS dinaikkan dengan cara penderita disuruh mengejan
(percobaan valsava) atau dengan menekan kedua vena jugularis (percobaan
Naffziger).
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah keadaan dimana nucleus pulposus
keluar menonjol untuk kemudian menekan kearah canalis spinalis melalui annulus
fibrosus yang robek. Dasar terjadinya HNP yaitu degenerasi discus intervertebralis.
Pada umumnya HNP didahului oleh aktivitas yang berlebihan misalnya mengangkat
benda berat, mendorong barang berat. HNP lebih banyak dialami oleh laki laki
dibanding wanita. Gejala pertama yang timbul yaitu rasa nyeri di punggung bawah
disertai nyeri di otot otot sekitar lesi dan nyeri tekan ditempat tersebut. Hal ini
disebabkan oleh spasme otot otot tersebut dan spasme ini menyebabkan
berkurangnya lordosis lumbal dan terjadi scoliosis. HNP sentral menimbulkan
paraparesis flaksid, parestesia dan retensi urin. HNP lateral kebanyakan terjadi pada
Lumbal 5 - Sakral 1 dan Lumbal 4 Lumbal 5 pada HNP lateral Lumbal 5 Sakral 1
rasa nyeri terdapat dipunggung bawah, ditengah tengah antara kedua bokong dan
12

betis, belakang tumit dan telapak kaki. Kekuatan ekstensi jari V kaki juga berkurang
dan reaksi achilles negative. Pada HNP lateral Lumbal 4 Lumbal 5 rasa nyeri dan
nyeri tekan didapatkan di punggung bawah, bagian lateral bokong, tungkai bawah
bagian lateral, dan di dorsum pedis. Kekuatan ekstensi ibu jari kaki berkurang dan
refleks patella negative. Sensibilitas pada dermatom yang sesuai dengan radiks yang
terkena, menurun. Pada tes lasegue akan dirasakan nyeri di sepanjang bagian
belakang. Percobaan valsava dan naffziger akan memberikan hasil positif.
c. Spondilitis ankilosa
Proses ini mulai dari sendi sakroiliaka yang kemudian menjalar keatas, ke
daerah leher. Gejala permulaan berupa rasa kaku dipunggung bawah waktu bangun
tidur dan hilang setelah mengadakan gerakan. Pada foto roentgen terlihat gambaran
V.

yang mirip dengan ruas ruas bamboo sehingga disebut bamboo spine.
LBP psikogenik
Biasanya disebabkan oleh ketegangan jiwa atau kecemasan dan depresi atau
campuran keduanya. Pada anamnesis akan terungkap bahwa penderita mudah
tersinggung, sulit tidur atau mudah terbangun di malam hari tetapi akan sulit untuk
tidur kembali, kurang tenang atau mudah terburu buru tanpa alasan yang jelas,
mudah terkejut dengan suara yang cukup lirih, selalu merasa cemas atau khawatir, dan
sebagainya. Untuk dapat melakukan anamnesis ke arah psikogenik ini, di perlukan
kesebaran dan ketekunan, serta sikap serius diseling sedikit bercanda, dengan tujuan
agar penderita secara tidak disadari akan mau mengungkapkan segala permasalahan
yang sedang dihadapi.

VI.

LBP miogenik
1. Ketegangan otot
Sikap tegang yang berulang ulang pada posisi yang sama akan memendekkan otot
yang akhirnya akan menimbulkan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul karena iskemia ringan
pada jaringan otot, regangan yang berlebihan pada perlekatan miofasial terhadap
tulang, serta regangan pada kapsula.
2. Spasme otot atau kejang otot
Disebabkan oleh gerakan yang tiba tiba dimana jaringan otot sebelumnya dalam
kondisi yang tegang atau kaku atau kurang pemanasan. Gejalanya yaitu adanya
kontraksi otot yang disertai dengan nyeri yang hebat. Setiap gerakan akan
memperberat rasa nyeri sekaligus menambah kontraksi.
3. Defisiensi otot
Dapat disebabkan oleh kurang latihan sebagai akibat dari mekanisasi yang berlebihan,
tirah baring yang terlalu lama maupun karena imobilisasi.
13

4. Otot yang hipersensitif


Dapat menciptakan suatu daerah yang apabila dirangsang akan menimbulkan rasa
nyeri dan menjalar ke daerah tertentu.
Epidemiologi9
Frekuensi NPB tertinggi terjadi dalam kurun usia 35-55 tahun, dan akan semakin
meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Sebuah penelitian epidemiologi di Kanada
melaporkan masalah punggung berada pada urutan tertinggi ke-tiga yang menjadi penyebab
kronis masalah kesehatan pada umur 65 tahun untuk wanita dan berada pada urutan keempat tertinggi pada laki-laki untuk kategori yang sama.
Di Inggris dilaporkan prevalensi NBP pada populasi lebih kurang 16.500.000 per
tahun, yang melakukan konsultasi ke dokter umum lebih kurang antara 37 juta orang.
Penderita NPB yang berobat jalan berkisar 1.600.000 orang dan yang dirawat di Rumah Sakit
lebih kurang 100.000 orang. Dari keseluruhan NPB, yang mendapat tindakan operasi
berjumlah 24.000 orang per tahunnya. Di Amerika Serikat dilaporkan 60-80% orang dewasa
pernah mengalami NPB, keadaan ini akan menimbulkan kerugian yang cukup banyak untuk
biaya pengobatan dan kehilangan jam kerja. Sekitar 5% dari populasi di Amerika Serikat
mengalami serangan NPB akut, dan menduduki urutan ke empat untuk diagnosis rawat inap.
Di rawat jalan unit penyakit saraf RSUP Dr. Sardjito, penderita NPB meliputi 5,5% dari
jumlah pengunjung, sementara itu proporsi penderita NPB yang dirawat inap antara 8%-9%.
Persentase tersebut memang kecil, tetapi di praktek dokter sehari-hari keluhan NPB ini sering
dijumpai. Mereka yang meminta pertolongan ke rumah sakit pada umumnya sudah menahun,
tidak kunjung sembuh, atau rasa nyerinya tidak tertahan lagi.

Pajanan yang di Alami6


Jenis Pekerjaan
Bertambahnya jumlah absen karena nyeri akibat gejala punggung bagian
bawah ditemukan pada pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi, pekerjaan dengan
sikap badan statis dalam waktu lama, pekerjaan yang terutama membutuhkan posisi
sikap badan bungkuk, dan pekerjaan mendadak tak terduga menerima beban kerja
fisik berat. Pekerjaan tertentu, terutama sopir truk, perawat, dan pekerjaan yang
menangani material menunjukkan adanya tingkat ketidakmampuan yang tinggi.
Pekerja yang bekerja pada pemerintah dan bagian finansial memiliki kemungkinan
terkecil untuk terpengaruh.
14

Mengangkat dan memutar adalah gerakan spesifik yang paling berhubungan


dengan nyeri punggung. Bigos dkk., menemukan penanganan material dengan cara
yang paling umum dan cara mengangkat yang tidak tepat merupakan penyebab
cedera tersering di perusahaan Boeing. Terjatuh hanya meliputi 10% cedera
punggung dalam penelitian ini dan pembagiannya mencerminkan dasar manufaktur
perusahaan. Dengan menggunakan data kompensasi pekerja menemukan bahwa
"penggunaan tenaga yang berlebihan" termasuk mengangkat barang, menarik, dan
melempar menghasilkan 72% klaim kompensasi. Sering mengangkat benda dengan
berat lebih dari 10 kg, mengerahkan tenaga maksimal secara mendadak dan tidak
terduga, mengangkat benda berat jauh di atas badan, dan gagal membengkokkan
lutut sewaktu mengangkat benda adalah gerakan spesifik lain yang dihubungkan
dengan bertambahnya risiko nyeri punggung bawah.
Faktor pekerjaan selain beban mekanis tulang belakang juga penting.
Ketegangan fisik yang lebih ringan tapi membosankan dan repetitif (pekerjaan ban
berjalan) dan pekerjaan yang melibatkan getaran (mengendarai kendaraan dan
mengoperasikan alat bertenaga) dikaitkan dengan meningkatnya pelaporan nyeri
punggung. Suatu penelitian terhadap 672 pekeria operator wanita penuh waktu pada
tiga organisasi besar di Singapura menunjukkan 54% pekerja mengalami nyeri
punggung bawah dan 60% mengalami kekakuan dan rasa tidak enak pada leher.
Bertumpuknya pajanan pengangkatan berulang-ulang. Pemakaian alat pelubang
beton, gergaji rantai, atau mesin pengolah tanah berputar juga dilaporkan
berhubungan dengan angka kejadian nyeri punggung bawah yang lebih tinggi.
Kepuasan Kerja
Pekerja yang tidak puas dengan pekerjaan sekarang, tempat bekerja, atau
situasi sosial mempunyai angka kejadian nyeri punggung bawah yang lebih tinggi
Pada penelitian prospektif longitudinal terhadap 3.020 pegawai pesawat terbang,
faktor yang paling dapat diramalkan yang didapatkan dari laporan mengenai masalah
punggung adalah pemahaman pekerjaan, reaksi psikososial tertentu yang ditemukan
pada MMPI. Pekerja yang menyatakan bahwa mereka "nyaris tidak pernah" menikmati
tugas pekerjaan mereka 2/5 kali lebih mungkin melaporkan cedera punggung daripada
pekerja yang "hampir selalu" menikmati tugas pekerjaan mereka. Satu korelasi yang
menarik antara cedera punggung dan pemberian nilai pengkajian pegawai setiap enam
bulan sekali. Pegawai dengan hasil evaluasi buruk dari atasan langsung tampak
15

mempunyai risiko lebih besar terhadap cedera punggung dengan biaya tinggi.

Hubungan Pajanan dengan Gejala Klinis


Berdasarkan teori di atas dan kondisi pasien sekarang yang bekerja sebagai perawat dan
bertugas memandikan pasien dan mengangkat pasien, maka dapat disimpulkan adanya
pajanan berupa :
1. Kerja yang monoton dan pada posisi yang sama terus menerus. Misal saat
memandikan pasien.
2. Sikap badan waktu kerja yang salah seperti mengangkat pasien dalam posisi yang
tidak bertumpu pada lutut melainkan pada pinggang.
3. Ukuran barang, tempat pegangan dan titik berat barang waktu diangkat Kemungkinan
karena berat pasien yang diangkat yang terlalu besar.

Pajanan Cukup Besar7


Patofisiologi
Bangunan peka nyeri mengandung reseptor nosiseptif (nyeri) yang terangsang oleh
berbagai stimulus lokal (mekanis, termal, kimiawi). Stimulus ini akan direspon dengan
pengeluaran berbagai mediator inflamasi yang akan menimbulkan persepsi nyeri. Mekanisme
nyeri merupakan proteksi yang bertujuan untuk mencegah pergerakan sehingga proses
penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk proteksi adalah spasme otot, yang
selanjutnya dapat menimbulkan iskemia.
Nyeri yang timbul dapat berupa nyeri inflamasi pada jaringan dengan terlibatnya
berbagai mediator inflamasi; atau nyeri neuropatik yang diakibatkan lesi primer pada sistem
saraf.
Iritasi neuropatik pada serabut saraf dapat menyebabkan 2 kemungkinan. Pertama,
penekanan hanya terjadi pada selaput pembungkus saraf yang kaya nosiseptor dari nervi
nevorum yang menimbulkan nyeri inflamasi. Nyeri dirasakan sepanjang serabut saraf dan
bertambah dengan peregangan serabut saraf misalnya karena pergerakan. Kemungkinan
kedua, penekanan mengenai serabut saraf. Pada kondisi ini terjadi perubahan biomolekuler di
mana terjadi akumulasi saluran ion Na dan ion lainnya. Penumpukan ini menyebabkan

16

timbulnya mechano-hot spot yang sangat peka terhadap rangsang mekanikal dan termal. Hal
ini merupakan dasar pemeriksaan Laseque.

Faktor Individu6
Usia
Terdapat kenaikan angka kejadian dan prevalensi nyeri punggung dengan
bertambahnya usia yang tidak dipengaruhi kondisi kerja. Namun, masalah punggung
mungkin secara tidak langsung berhubungan dengan proses menua vertebra lumbal.
Dalam suatu penelitian yang dilakukan di satu pabrik industri yang besar di Amerika
menemukan risiko cedera punggung yang lebih tinggi secara bermakna pada pegawai
yang berusia kurang dari 25 tahun. Hal ini mencerminkan waktu dan pengalaman yang
diperlukan untuk mempelajari metode penggunaan punggung yang aman dan efisien.
Walaupun angka cedera lebih tinggi pada kelompok usia muda, biaya klaim cenderung
lebih rendah yang mungkin mencerminkan potensi pegawai usia muda untuk
mengalami pemulihan gejala yang lebih cepat. Data mereka juga menunjukkan bahwa
kelompok yang rentan terhadap cedera punggung dengan biaya tinggi cenderung pada
kelompok usia 31-40, penemuan yang sarna pada penelitian nyeri punggung bawah
lain.
Jenis Kelamin
Masalah punggung dilaporkan mengenai baik pria maupun wanita dalam
perbandingan yang sama banyak. Berdasarkan data kompensasi pekerja, pria
dilaporkan melakukan 76% dan 80% semua klaim kompensasi punggung. Secara
keseluruhan, wanita lebih sedikit mengalami cedera dibandingkan pria tapi wanita
cenderung mempunyai peluang yang bertambah untuk mengajukan klaim dan menjadi
penagih kompensasi cedera yang mahal
Status Antopometri
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri pinggang
lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat, sehingga dapat
memungkinkan terjadinya nyeri pinggang. Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu
tubuh sebagai lengan beban anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban
tubuh.

17

Abnormalitas Struktur
Ketidaknormalan struktur tulang belakang seperti pada skoliosis, lorodosis, maupun kifosis,
merupakan faktor risiko untuk terjadinya NPB. Kondisi menjadikan beban yang ditumpu oleh
tulang belakang jatuh tidak pada tempatnya, sehingga memudahkan timbulnya berbagai
gangguan pada struktur tulang belakang.
Faktor Psikososial
Berbagai penelitian menunjukkan pentingnya tingkat pendidikan sebagai faktor prognostik
nyeri punggung dan penyakit muskuloskeletal lain. Korelasi ini kuat hanya untuk kaum pria.
Penjelasan yang diberikan mengenai hal ioni adalah pria yang memiliki tingkat pendidikan
yang terbatas dan pekerjaan dengan bayaran yang rendah lebih memungkinkan melakukan
pekerjaan berat atau pekerjaan yang melibatkan getaran atau beban lain terhadap tulang
belakang.faktor psikologi lain yang ditemukan pada pasien dengan nyeri punggung meliputi
depresi,

kecanduan

alkohol,

perceraian,

ketidakpuasan

melakukan

pekerjaan,

ketidakmampuan membangun kontak emosi, masalah keluarga, dan riwayat operasi


punggung.
Kebugaran Jasmani
Pekerja dengan kebugaran jasmani yang lemah mungkin berisiko mengalami
cedera punggung. Dalarn sebuah penelitian prospektif terhadap 1.652 pemadam
kebakaran melaporkan frekuensi cedera yang dialami kelompok pekerja yang kurang
bugar sebanyak sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerja yang
sebagian paling bugar. Mereka mengambil kesimpulan bahwa kebugaran jasmani dan
penyesuaian berperan dalam mencegah terjadinya cedera punggung. Tinggi dan
berat badan mungkin tidak penting walaupun ada laporan penelitian yang
menyatakan bahwa bertambahnya tinggi badan dan berat badan yang berlebih
membuat seseorang menjadi lebih rentan pada gejala punggung.

Faktor Lain di Luar Pekerjaan6,7


18

Berbagai penelitian menunjukkan pentingnya tingkat pendidikan sebagai faktor


prognostik nyeri punggung dan penyakit muskuloskeletal lain. Korelasi ini kuat hanya untuk
kaum pria. Penjelasan yang diberikan mengenai hal ini adalah pria yang memiliki tingkat
pendidikan yang terbatas dan pekerjaan dengan bayaran yang rendah lebih mungkin
melakukan pekerjaan berat atau pekerjaan yang melibatkan getaran atau beban lain terhadap
tulang belakang. Dalam satu penelitian mengenai prevalensi nyeri punggung terhadap 575
sampel penduduk di Malmo berusia paruh baya, individu dengan nyeri punggung kurang
berhasil saat melakukan tes inteligensia pada masa kanak-kanak, memiliki jangka waktu
pendidikan lebih pendek, dan mengerjakan pekerjaan fisik yang berat. Faktor psikososial lain
yang ditemukan pada pasien dengan nyeri punggung meliputi depresi, kecanduan alkohol,
perceraian, ketidakpuasan melakukan pekerjaan, ketidakmampuan membangun kontak emosi,
masalah keluarga, riwayat operasi punggung, dan angka Minnesota Multi-phasic
Personality Inventory (MMPI) tidak normal. Namun, hal yang tetap ditanyakan apakah faktor
psikososial ini dapat meramalkan timbulnya cedera dalam industri atau apakah faktor ini justru
muncul akibat cedera yang terjadi.6

Diagnosis Okupasi8
Nyeri punggung bawah adalah salah satu penyakit berhubungan kerja, yang utama
berhubungan dengan kerja fisik dan problema ergonomik, selain faktor-faktor lain yang juga
berhubungan, seperti psikososial (multi factorial condition). Pada pasien, yang merupakan
perawat, sering kerja berat secara fisik yaitu harus mengangkat dan memindahkan pasien.
Dikemukakan bahwa dalam hubungan dengan berat ringannya kerja secara fisik ternyata 64%
dari pekerja yang bekerja berat pernah atau sering mengeluh nyeri punggung bawah,
sedangkan diantara karyawan yang kerja ringan hanya 53%. Hal ini terjadi karena nyeri
punggung bawah tidak hanya disebabkan oleh masalah beratnya pekerjaan secara fisik, tetapi
juga oleh masalah ergonomi, meliputi rancangan sistem kerja, keadaan tempat kerja dan sikap
badan waktu kerja. Selain itu, stres psikososial di pekerjaan yang dialami setiap pekerja,
dapat mempengaruhi tonus otot dan dapat menyebabkan keluhan muskuloskeletal. Hal lain
yang mungkin mempengaruhi adalah aktivitas pribadi karyawan di luar jam kerja.
Dikarenakan LBP disebabkan oleh berbagai faktor sehingga dapat didiagnosa bahwa pasien
tersebut menderita LBP yang diperberat oleh kerja.

Penatalaksanaan10

19

Nyeri dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan, istirahat dan modalitas. Penjelasan
singkat penatalaksanaan perlu diberikan dan hindari penggunaan istilah yang tidak banyak
dimengerti oleh awam atau dapat menimbulkan rasa takut seperti kata nyeri skiatik, artritis,
spasme, penyakit diskogenik dan sebagainya.
Pemberian obat anti radang nonsteroid (OAINS) diperlukan untuk jangka waktu
pendek disertai dengan penjelasan kemungkinan efek samping dan interaksi obat. Tidak
dianjurkan penggunaan muscle relaxant karena memiliki efek depresan. Pada tahap awal,
apabila didapati pasien dengan depresi premorbid atau timbul depresi akibat rasa nyeri,
pemberian anti depresan dianjurkan.
Istirahat secara umum atau lokal banyak memberikan manfaat. Tirah baring pada alas
yang keras dimaksudkan untuk mencegah melengkungnya tulang punggung. Pada episode
akut ini diperlukan 3-5 hari tirah baring, kecuali pada keadaan skoliosis disertai nyeri
radikular hebat atau hemiasi diskus akut yang memerlukan istirahat lebih lama lagi sampai 5
minggu. Posisi tidur disesuaikan terhadap rasa nyaman yang dirasakan pasien. Beberapa
pasien merasa lebih enak pada posisi terlentang dengan ekstensi penuh, beberapa dengan
posisi semi Fowler atau bahkan dalam curled up fetal position. Istirahat pada nyeri pinggang
bawah ini tidak hanya diartikan tidur, tetapi perlu dijelaskan lebih rinci pada pasien antara
lain posisi istirahat tidak dengan duduk tegak lurus, mengubah posisi tidur miring ke arah
berlawanan dikerjakan dengan panggul dan lutut dalam fleksi, pinggang harus dalam posisi
sedikit fleksi pada keseluruhan pergerakan tersebut, tidak membuat lordosis berlebihan
selama berdiri dan menjaga berat tubuh berada di tengah kedua kaki.
Latihan mulai diberikan pada hari ketiga, keempat, dengan memberikan fleksi ringan.
Dilanjutkan dengan pemberian modalitas lainnya. Modalitas yang diberikan sangat beragam.
Bila disertai suatu protective spasm pemberian kompres es atau semprotan etil klorida,
fluorimetan dapat membantu mengatasi nyeri. Latihan dengan memberikan tarikan (stretching) dapat dilakukan melalui beberapa cam antara lain dengan latihan posisi knee chest dan
fleksi lateral. Traksi dianjurkan bila terdapat hemiasi diskus lumbal. Tarikan ini lebih
ditujukan untuk mengurangi lordosis dan menjauhkan facet joint serta membuka foramen.
Nyeri tidak selalu dapat diatasi dengan cara-cara di atas. Terkadang diperlukan
tindakan injeksi anestetik atau anti inflamasi steroid pada tempat-tempat tertentu seperti
injeksi pada facet, sekitar radiks saraf, epidural, intradural. Keterampilan sangat menentukan
dalam tindakan penyuntikan tersebut, karena sangat bergantung dari lokasi jaringan sebagai
sumber nyeri.

20

Preventif11
Strategi pencegahan yang umumnya digunakan dalam kelainan punggung akibat kerja
meliputi seleksi pegawai baru yang tepat, pelatihan teknik penanganan secara manual dan
modifikasi ergonomi pada tempat kerja dan melakukan tugas. Pelamar pekerjaan disaring
dengan harapan untuk dapat mengidentifikasi dan menghindari pekerja yang mungkin
mempunyai resiko mangalami nyeri punggung bawah. Prosedur yang biasanya dipakai ialah
riwayat sebeluam bekerja dan pemeriksaan fisik.
Tes kekuatan sebelum diterima kerja digunakan dengan harapan mengurangi resiko
cedera punggung dengan mencocokan kekuatan pekerja terhadap tuntutan pekerjaan.
Pendidikan dan latihan metode pengangkatan telah dipakai untuk mengurangi kejadian nyeri
punggung dan cedera. Pengetahuan ergonomi penting untuk mengurangi kadar ketegangan
tulang belakang sehingga suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan aman tanpa memicu atau
menyebabkan gejala punggung. Hal ini juga memungkinkan pekerjaan diteruskan atau
langsung kembali bekerja bagi mereka yang mengalami gejala punggung.
Bila mungkin, tempat kerja harus diubah untuk menyesuaikan kemampuan para
pekerja. Merubah tinggi bangku kerja, mengurangi berat dan ukuran benda, serta merubah
posisi dan mekanisme mesin atau alat adalah beberapa tindakan untuk menghasilkan tempat
kerja yang lebih ramah punggung. Pendekatan lain yang mungkin dilakukan meliputi
eliminasi tugas penanganan secara manual., pemakaian alat pembantu mekanis, dan
reorganisasi jadwal kerja untuk menjamin pembagian kegiatan berbahaya yang lebih merata
di antara para pegawai.
Adapun cara lain yang cukup efektif untuk mencegah nyeri punggung bawah adalah
olahraga dengan teratur. Dua jenis olahraga-olahraga aerobic dan olahraga meregangkan dan
mengencangkan otot-sangat membantu. Olahraga aerobik, seperti berenang dan berjalan,
memperbaiki kesehatan umum, mengurangi kegemukan, dan umumnya menguatkan otot.
Olahraga khusus untuk menguatkan dan meregangkan otot pada perut, bokong, dan
punggung bisa menyeimbangkan tulang belakang dan mengurangi ketegangan pada piringan
yang melindungi tulang belakang dan ligamen yang menopang nya pada tempatnya.Olahraga
bisa juga membantu orang memelihara kepadatan tulang dan berat yang diinginkan. Dengan
demikian, olahraga bisa mengurangi resiko berkembangnya dua kondisi yang bisa
menyebabkan nyeri punggung bawah-tulang keropos dan kegemukan.
Menjaga sikap tubuh yang baik ketika berdiri dan duduk mengurangi tekanan pada
punggung; bermalas-malasan harus dihindari. Tempat duduk kursi bisa disesuaikan yang
21

membuat kaki datar diatas lantai, dengan lutut sedikit ditekuk dan punggung bawah datar
berlawanan dengan belakang bangku. Jika kursi tidak mendukung punggung bawah, bantal
bisa digunakan dibelakang punggung bawah. Duduk dengan kaki pada lantai dibandingkan
dengan kaki melintang dianjurkan. Orang harus menghindari berdiri atau duduk untuk waktu
yang lama. Jika berdiri lama atau duduk tidak bisa dihindari, merubah posisi dengan sering
bisa mengurangi tekanan pada punggung.
Tidur dalam posisi yang nyaman pada kasur yang keras dianjurkan. Bantal dibawah
pinggang dan kepala bisa digunakan untuk menahan orang yang tidur pada sisi mereka, dan
bantal dibawah lutut bisa digunakan oleh mereka yang tidur pada punggung mereka. Bantal
dibawah kepala harus tidak menekan lehek untuk menekuk terlalu banyak.
Belajar untuk mengangkat dengan semestinya membantu mencegah luka kembali.
Lutut harus cukup ditekuk dimana lengan setingkat dengan benda yang diangkat. Kaki, bukan
punggung, harus digunakan untuk mengangkat. Mengangkat benda melebihi kepala
meningkatkan resiko luka kembali. Menggunakan ganjalan yang kuat membuat beberapa
angkatan tidak diperlukan. Benda berat harus dibawa dekat dengan tubuh. berhenti merokok
juga dianjurkan.

Gambar 1. Cara Mengakat Beban yang Salah (Kiri) dan yang Benar(Kanan)

Prognosis 9,10
Kelainan nyeri punggung bawah ini prognosisnya baik, umumnya sembuh dalam
beberapa minggu jika dilakukan tindakan terapi secara dini. Strain otot membaik dengan
mengendalikan aktifitas fisik. Tirah Baring sedikitnya 2 hari menunjukkan efektifitas dalam
mengurangi nyeri punggung. Ketika nyeri berkurang, pasien dianjurkan untuk melakukan

22

aktifitas fisik ringan, dan aktifitas mulai ditingkatkan setelah beberapa hari selama nyeri tidak
bertambah.

Penutup
Kesimpulan
Low Back Pain (LBP) banyak menyerang sekelomok orang usia 30-50 tahun. LBP
merupakan penyakit multifaktorial, dengan salah satu faktor khusus yang berhubungan
dengan pekerjaan, seperti pada kasus yaitu perawat. Selain karena faktor pekerjaan, penyebab
LBP pada pasien mungkin juga dikarenakan BB yang berlebih sehingga punggung akan lebih
berat dalam menahan beban tubuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut
menderita LBP yang diperberat oleh kerja.
Daftar Pustaka
1. Suwando Sri, dkk. Kumpulan Naskah Ilmiah Penanganan Low Back Pain. Jakarta: Dwi Windu
R.S. Pusat Pertamina. 2005. hal: 11-37
2. Beberapa Tindakan Operatif Orthopedi Pada Low Back Pain. Oleh : Sri Suwondo. Dalam :
Kumpulan Naskah Ilmiah Penanganan Low Back Pain. Jakarta : RSPP. 2005. p. 120-2
3. Mechanical Low Back Pain. Oleh : Everett C Hills. 12 May 2011. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/310353-clinical. . Diunduh tanggal 18 Oktober 2015
4. Santoso Mardi. Pemeriksaan fisik diagnosis. Jakarta: Bidang penerbit yayasan diabetes Indonesia.
2004. h. 80-1
5. Pemeriksaan Fisik Tulang Belakang. Dalam : Bickley, Lynn. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik
& Riwayat Kesehatan. Edisi 8. Jakarta : EGC ; 2009. h. 511-6
6. Jeyaratnam, J. Buku praktik kedokteran kerja / J. Jeyaratnam, David Koh ; alih bahasa, Suryadi ;
editor edisi bahasa Indonesia, Retna Neary Elseria Sihombing, Palupi Widyastuti. Jakarta : EGC,
2009. 206 14
7. Brunner & Suddarth, Alih Bahasa Monica Ester, SKP ; Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Edisi 8, Volume 1. Jakarta: EGC. 2005. h.56-9
8. Harjono. Nyeri punggung bawah di kalangan karyawan dalam kumpulan naskah ilmiah
penanganan nyeri punggung bawah dwi windu RS Pertamina. Jakarta: Simposium dan pameran
ilmiah RS Pertamina; 2006. h. 11
9. Hubungan
Pajanan

dengan

NBP.

Diunduh

dari

indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/.../630/622. Diunduh pada tanggal 19


Oktober 2015.

23

10. Kasjmir YI. Nyeri spinal dalam Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid II. Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. h.
1306-7

11. Jeyaratnam, J. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. Jakarta: EGC; 2010. hal: 206-215

24