Anda di halaman 1dari 18

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN INTELIGENSI PADA

ANAK DAN REMAJA


Diajukan untuk memenuhi tugas Psikologi anak dan remaja

Disusun:
Besha Sri Sumardi
Farhan Faturachman
Fatma Ayu Suherman
Harun Jafar Sidiq
Karmila Nurlestari
Meilanita Azhari Fauzi

1506592
1505464
1501070
1507378
1506394
1501276

DEPARTEMEN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan masalah...........................................................................................1
1.3 Tujuan.............................................................................................................1
1.4 Manfaat...........................................................................................................1
BAB II LANDASAN TEORI................................................................................2
2.1 Kognitif..........................................................................................................2
2.1.1 Ide-ide dasar teori piaget........................................................................2
2.1.2 Perkembangan kognitif menurut Piaget...................................................3
2.1.3 Tahap Perkembangan Kognitf Piaget......................................................3
2.1.4 karakteristik perkembangan kognitif.......................................................4
2.1.4.1 Anak..................................................................................................4
2.1.4.2 remaja................................................................................................6
2.1.5 Ketidak dewasaan pemikiran remaja : kritik terhadap teori piaget.........6
2.2 Inteligensi.......................................................................................................8
2.2.1 Pengertian kecerdasan inteligensi............................................................8
2.2.2 Teori-teori inteligensi...............................................................................9
2.2.3 Faktor yang mempengaruhi inteligensi sehingga terdapat perbedaan...10
inteligensi........................................................................................................10
2.2.4 Tes inteligensi........................................................................................11
2.2.5 Macam-Macam Inteligensi....................................................................12
BAB III PENUTUP..............................................................................................15
3.1 Kesimpulan...................................................................................................15
1

3.2 Saran.............................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap anak memiliki ciri khas masing masing dalam berfikirnya yang melalui
tahapan tahapan dalam perkembangan kognitif. Setiap tahapan setiap fase-fase
tersebut saling berkaitan erat antara tahapan pertama dan yang kedua, yang kedua
dan yang ketiga, dan seterusnya.
Seseorang juga memiliki inteligensi yang berbeda-beda. Inteligesi itupun
merupakan salah satu kemampuan mental, pikiran atau intelektual dan merupakan
bagian dari proses-proses kognitif pada anak. Oleh karena itu dalam makalah ini
akan dibahas mengenai perkembangan kognitif dan inteligensi pada anak dan
remaja.
1.2 Rumusan masalah
Apa perkembangan kognitif itu?
Bagaimana tahapan perkembangan anak dan remaja menurut piaget?
Apa itu inteligensi?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui perkembangan inteligensi dan kognitif pada anak dan remaja.
1.4 Manfaat
Sehingga menjadi tau perkembangan anak dan remaja itu bagaimana
dilihat dari sisi kognitif dan inteligensi. Dan menjadi tau cara memperlakukan
anak sesui dengan umurnya.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kognitif
Kognitif merupakan suatu proses berfikir, yaitu kemampuan individu
untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau
peristiwa. Semua proses sikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu
mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
2.1.1 Ide-ide dasar teori piaget
Piaget menemukan beberapa konsep dan prinsip tentang sifat-sifat
perkembangan kognitif anak diantaranya:
a. Anak adalah pembelajar yang aktif, mereka secara natural memiliki rasa
ingin tahu tentang dunia mereka dan secara aktif berusaha mencari
informasi untuk membantu pemahan dan kesadarannya tentang realotas
dunia yang mereka hadapi itu. Dalam memahami dunia mereka secara
aktif anak anak menggunakan apa yang disebut oleh piaget schema yaitu
konsep atau kerangka yang ada dalam fikiran anak yang digunakan untuk
mengorganisasikan dan menginterprestasikan onformasi.
b. Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya,
anak-anak secara gradual membangun suatu pandangan menyeluruh
tentang bagaimana dunia bergerak. Misalnya dengan mengamati bahwa
makanan, mainan, atau objek-objek lain yang selalu jatuh ketika ia
lepaskan, dari hal tersebut anak mulai membangun pemahaman awal
tentang gravitasi.
c. anak menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan
akomodasi.

Asimilasi

terjadi

ketika

seorang

anak

memasukan

pengetahuan baru kedalam pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi


terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru.
d. Proses ekuilibrasi menunjukan adanya peningkatan kearah bentuk-bentuk
pemikiran yang lebih komplek, yakni keadaan seimbang antara struktuk
kongnisinyanya dan pengalamannya dilingkungan. Seseorang akan selalu
berupaya agar kedaan seimbang antara asimilasi dan akomodasi, namun

keadaan seimbang ini tidak dapat bertahan hingga batas waktu yang tidak
ditentukan. Kadang-kadang mereka berhadapan dengan situasi yang tidak
dapat menjelaskan secara memuaskan tentang dunia dalam termominologi
yang dipahaminya saat ini. Hal ini menimbulkan konflik kognitif yakni
semacam ketidak nyamanan mental yang mendorongnya untuk mencoba
membuat pemahaman tentang apa yang mereka saksikan, anak-anak
akhirnya mampu memecahkan konflik, mampu memahami kejadiankejadian yang sebelumnya membingungkan, serta kembali mendapatkan
keseimbangan pemikiran. Pergerakan ini membuat suatu proses yang
meningkatkan perkembangan pemikiran dan pengetahuan anak dari satu
tahap ketahap yang lebih kompleks.
2.1.2 Perkembangan kognitif menurut Piaget
Anak-anak secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan
melalui empat tahap perkemangan kognitif yaitu sensorimotor, praoperasi,
operasi kongkret, dan operasi formal.
2.1.3 Tahap Perkembangan Kognitf Piaget
a. Tahap sensorimotor
Tahap ini berlangsung dari lahir hingga usia sekitar 2 tahun. Bayi
membangun pemahaman mengenai dunianya dengan mengoordinasikan
pengalaman-pengalaman sensoris (contohnya melihat dan mendengar)
dengan tindakan-tindakan fisik dan motorik
b. Tahap praoperasi
Berlangsung pada usia 2 tahun hingga 7 tahun. Anak-anak mulai
melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar,melampaui
hubungan sederhana antara informasi sensoris dan tindakan fisik
c. Tahap operasi konkret
Berlangsung kurang lebih dari usia 7 hingga 11 tahun. Anak-anak
dapat melakukan operasi yang melibatkan objek-objek dan juga dapat
bernalar secara logis, sejauh hal itu diterapkan dengan contoh-contoh
spesifik atau konkret
d. Tahap operasi formal
Berlangsung antara usia 11 hingga masa dewasa. Individu
melampaui pengalaman-pengalam konkret dan berfikir secara abstrak dan
3

lebih logis, remaja mengembangkan gambaran mengenai keadaan yang


ideal. Mereka dapat berfikir mengenai konsep orangtua yang ideal dan
membandingkan orangtua mereka dengan standar ideal ini.
2.1.4 karakteristik perkembangan kognitif
2.1.4.1 Anak
Pemikiran anak-anak usia sekolah dasar masuk dalam tahapan
pemikirsn konkret-operasional yaitu masa dimana aktifitas mental anak
terfokus pada objek-objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang
pernah dialaminya.
Menurut piaget, anak-anak pada konkret operasional ini telah mampu
menyadari konsevasi, yakni kemampuan anak untuk berhubungan dengan
sejumlah aspek yang berbeda secara serempak. Hal ini adalah karena pada
masa anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan
operasi-operasi,yaiu negasi,resiprokasi,dan identitas
-

Negasi
Pada masa praoperasional anak hanya melihat keadaan permulaan dan
akhir dari deretan benda, yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada
akhirnya keadaan menjadi tidak sama anak tidak melihat apa yang
terjadi diantaranya tetapi, pada masa konkret operasional anak
memahami proses apa yang terjadi diantara kegiatan itu dan memahami

hubungan-hubungan antara keduanya.


Hubungan timbal baik (resiprokasi)
Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu diubah
anak mengetahui bahwa deretan benda-benda bertambah panjang, tetapi
tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan lain. Karena anak
mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan kurang rapat atau
sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat maka anak tahu pula bahwa

jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama


Identitas

Setelah

mampu

mengonversi

angka

maka

anak

bisa

mengkonsevasikan dimensi-dimensi lain, seperti isi dan panjang


kerterbatasan.
Keterbatasan lain yang terjadi dalam kemampuan berfikir konkret
anak ialah egosentrisme. Artinya, anak belum mampu membedakan
antara perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang secara langsung
dialami dengan perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang hanya ada
dalam pikirannya. Misalnya, ketika kepada anak diberikan soal untuk
dipecahkan ia tidak akan mulai dari sudut objeknya, melainkan ia akan
mulai dari dirinya sendiri.
Egosentrisme pada anak terlihat dari ketikmampuan anak untuk
melihat pikiran dan pengalaman sebagai dua gejala yang masing-masing
berdiri sendiri.
Pada masa akhir usia sekolah 10-12 tahun atau pra remaja,anakanak terlihat semakin mahir menggunakan logikanya contohnya dari
kemahiran dalam masalah hitung menghitung yang bisa diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari perkembangan kognitif anak juga ditandai
dengan terjadinya transpormasi dalam kemampuan kognitif mereka yang
terlihat dengan semakin mampunya anak melakukan generalisasi
terhadap

hal-hal

mengemukakan

yang

konkret,

pemikiran

yang

memecahkan
ditandai

masalah,

dengan

dan

kemampuan

mengemukakan dugaan. Selain itu anak mampu merencanakan perilaku


yang terorganisasi termasuk menerima rencana atau tujuan beraktifitas
serta menghubungkan pengetahuan dan tindakan dalam rencana
tersebut.

2.1.4.2 remaja
Remaja pada tahap operasional formal ini adalah diperolehnya
kemampuan untuk berfikir secara abstrak,menalar secara logis,dan menarik
kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Remaja ditahap operasi formal dapat mengintegrasikan apa yang
mereka pelajari dengan tantangan dimasa mendatang dan membuat rencana
dimasa depan. Mereka juga sudah mampu berpikir secara sistematik untuk
memecahkan

permasalahan.

Contoh

sebuah

mobil

yang

tiba-tiba

mogok,bagi anak yang berada pada tahap konkret operasional segera


diambil kesimpulan bahwa bensinnya habis,lain halnya dengan remaja ia
bisa memikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan mobil tersebut
mogok

seperti

mungkin

businya

mati,mungkin

platinanya,atau

kemungkinan lain yang memberikan dasar bagi pemikirannya.


2.1.5 Ketidak dewasaan pemikiran remaja : kritik terhadap teori piaget
Teori-teori tentang perkembangan kognitif memberikan pengaruh luar
biasa dan bertahan hingga saat ini. Berkat jasa Piaget dunia menerima
pandangan bahwa anak dan remaja adalah pemikir aktif dan konstruktif yang
melalui interaksi melalui lingkungannya dan membentuk perkembangan
mereka sendiri. Meskipun demikian tidak berarti bahwa ide-ide piaget luput
kelemahan dan kritik. Beberapa ide piaget tentang pemikiran operasional
formal

mulai

mendeskripsikan

dipandang
urutan

memilki

kelemahan.

perkembangan

kognitif

Misalnya

dalam

piaget

kurang

mempertimbangkan variasi individual, variasi kinerja anak dalam beberapa


jenis tugas. Padhal sejumlah penelitian menemukan terdapat lebih banyak
variasi individual pada pemikiran operasional formal dari pada yang
dibayangkan piaget hanya kira-kira satu dari remaja muda yang menggunakan
pemikiran operasional formal. Disamping itu piaget juga tampaknya gagal
mempertimbangkan secara layak akumulasi gradual pengetahuan dan
keterampilan dalam bidang tertentu dan peran metakognisi, keadaran, dan
monitoring proses mental sera strategi yang digunakan seseorang dalam

mengaplikasikan pemikiran operasional formal. Oleh karena itu remaja


mungkin mampu mengguanakan pemikiran formal operasional dalam satu
mata pelajaran tetapi tidak pada mata pelajaran lain akan tetapi remaja yang
lebih dewasa memiliki lebih banyak pengalaman dengan sekolah, hubungan
personal dan kehidupan umumnya, maka akan memungkinkan untuk
mengaplikasikan pemikiran formal operasional pada wilayah yang lebih luas
dari kehidupannya.
Demikian juga menurut David Elkind memperlihakan bahwa pemikiran
remaja telah jauh berkembang dibandingkan pemikiran anak usia sekolah,
tetapi dalam beberapa hal pemikiran remaja terlihat kurang matang yang
dimanifestasikan setidaknya dalam enam karakteristik yaitu:
a. Idealisme dan kekeritisan
Ketika remaja memimpikan dunia yang ideal mereka menyadari
betapa jauhnya mereka dengan dunia nyata dimana mereka memegang
tanggung jawab orang dewasa mereka menjadi sangat sadar akan
kemunafikan, sehingga mereka sering kali mengkritik orang tua mereka.
b. Argumentativitas
Para remaja senantisa mencari kesempatan untuk mencoba atau
menunjukan kemampuan penalaran formal baru mereka, mereka menajdi
argumentatif ketika mereka menyusun fakta dan logika untuk mencari
alasan misalnya bergadang.
c. Ragu-ragu
Remaja dapat menyimapn berbagai alternatif dalam fikiran mereka
pada waktu yang sama tetapi karena kurangnya pengalaman mereka
kekurangan strategi efektif untuk memilih.
d. Menunjukan hipocrisy
Remaja sering tidak menyadari perbedaan antara mengekspresikan
sesuatu yang ideal dan membuat pengorbanan yang dibutuhkan unuk
mewujudkannya.
e. Kesadaran diri
Remaja dapat berfikir tentang pemikiran-pemikiran mereka sendiri
dan pemikiran orang lain tetapi dalam kondisi mental mereka para remaja
berasumsi bahwa apa yang difikirkan orang lain sama dengan apa yan
mereka fikirkan.
f. Kekhususan dan ketangguhan

Keyakinan remaja dirinya yang spesial, unik, dan tidak tunduk


pada peraturan yang mengatur dunia. Ini merupakan suatu bentuk
egosentrisme remaja, dimana ia merasa bahwa tidak seorang pun yang
dapat memahami bagaimana isi hatinya. Sebagai bagian dari upaya
mempertahankan perasaan ini, remaja sering mengarang cerita tentang
dirinya yang dipenuhi fantasi, yang menceburkan diri mereka ke dalam
suatu dunia yang jauh terpencil dari realitas.
2.2 Inteligensi
2.2.1 Pengertian kecerdasan inteligensi
Menurut para ahli arti inteligensi yaitu :
a. C. P. Chaplin (1975), mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan
menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat
dan efektif.
b. Anita E. Woolfolk (1995), mengemukakan bahwa teori-teori lama,
inteligensi itu meliputi tiga pengertian, yaitu (1) Kemampuan untuk
belajar, (2) Keseluruhan pengetahuan yang diperoleh, dan (3)
Kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau
lingkungan pada umumnya. Selanjutnya, Woolfolk mengemukakan
inteligensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk
memperoleh

dan

menggunakan

pengetahuan

dalam

rangka

memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.


c. Raymon Cattel dkk. (Kimble dkk., 1980) mengklasifikasikan
inteligensi ke dalam dua kategori, yaitu (a) Fluid Inteligence, yaitu
tipe kemampuan analisis kognitif yang relatif tidak dipengarhui oleh
pengalaman belajar sebelumnya, (b) Crystalized Inteligence, yaitu
keterampilan-keterampilan atau kemampuan nalar (berpikir) yang
dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya.
Jadi, Inteligensi adalah tindakan yang terarah pada penyesuaian
diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul
daripadanya.

2.2.2 Teori-teori inteligensi


a. Teori two factors
Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman (1904). Dia
berpendapat bahwa inteligensi itu meliputi kemampuan umum ytang
diberi kode g (general factor). Dan kemampuan khusus yang diberi
kode s (specific factor). Setiap individu memiliki kedua kemampuan
ini yang keduanya menentukan penampilan atau prilaku mentalnya.
b. Teori Primary mental Abilities
Teori ini dikemukakan oleh Thurstone (1938). Dia berpendapat
bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer,
yaitu (a) kemampuan berbahasa

: verbal konprehension; (b)

kemampuan mengingat : memory; (c) kemampuan bernalar atau


berpikir logis : reasoning; (d) kemampuan tilikan ruang : spatial
factor; (e) kemampuan bilangan : numerical ability; (f) kemampuan
menggunakan kata-kata : word fluency; dan (g) kemampuan
mengamati dengan cepat dan cermat : perceptual speed.
c. Teori Multiple Inteligence
Teori ini dikemukakan oleh J. P. Guilford dan Howard Gardner.
Guilford berpendapat bahwa inteligensi itu dapat dilihat dari tiga
kategori dasar atau faces of intellect, yaitu sebagai berikut.
1) Operasi Mental (Proses Berpikir)
- Kognisi (menyimpan informasi lama dan menemukan
-

informasi yang baru).


Memory retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan

sehari-hari).
Memory recording (ingatan yang segera).
Divergent production (berpikir yang melebar = banyak

kemungkinan jawaban).
Convergent production (berpikir yang memusat = hanya satu

jawaban/alternatif).
Evaluasi (mengambil keputusan tentang apakah sesuatu itu

baik, akurat, atau memadai).


2) Content (Isi yang Dipikirkan)
- Visual (bentuk konkret atau gambaran).
- Auditory.
- Word meaning (semantic).

Symbolic (informasi dalam betuk lambang, kata-kata, angka

dan not musik).


Behavioral (interaksi non-verbal yang diperoleh melalui

penginderaan, ekspresi muka atau suara).


3) Product (Hasil Berpikir)
- Unit ( item tunggal informasi).
- Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
- Relasi (keterkaitan antarinformasi).
- Sistem (kompleksitas bagian yang saling berhubungan).
- Transformasi (perubahan, modifikasi atau redefinisi
-

informasi).
Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi
item lain).
Ketiga aspek tersebut saling berhubungan satu sama lainnya.

Contoh, untuk melakukan evaluasi (mengambil keputusan tentang


apakah sesuatu itu baik, akurat, atau memadai), diperlukan
Behavioral

(interaksi

non-verbal

yang

diperoleh

melalui

penginderaan, ekspresi muka atau suara), untuk membuat sebuah


relasi (keterkaitan antarinformasi).
2.2.3 Faktor yang mempengaruhi inteligensi sehingga terdapat perbedaan
inteligensi
a. Pembawaan, yaitu sifat-sifaat yang dibawa sejak lahir.
b. Kematangan, yaitu kematangan yang berupa fisik maupun psikis.
c. Pembentukan, yaitu segala keadaan yang diluar dari siswa yang
mempengaruhi perkembangan inteligensinya.
d. Minat dan pembawaan yang leka, yaitu dorongan-dorongan yang
menuntun manusia untuk berinteraksi dengandunia luar.
e. Kebebasan, yaitu manusia bebas memilih metode sesuai dengan
kebutuhannya.
Kelima faktor diatas saling mempengaruhi dan saling terkait satu
dengan yang lainnya. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak
dapat hanya berpedoman atau berpatok kepada salah satu faktor saja.

10

2.2.4 Tes inteligensi


Tes inteligensi deitemukan oleh Alfred Binet dan asistennya simon.
Pada tahu 1908-1911 tes ini dinamakan sebagai Chelle Matrique De
Intellegence atau skala pengukuran kecerdasan. Tes ini terdiri dari
sekumpulan pertanyaan yang telah dikelompokan menurut umur (menurut
anak umur 3-15), seperti:
a. Mengulang kalimat pendek atau panjang,
b. Mengulang deretan angka-angka,
c. Memperbandingkan berat timbangan,
d. Menceritakan isi gambar-gambar,
e. Menyebut nama bermacam-macam warna,
f. Menyebut harga mata uang,
g. Dan lain sebagainya.
Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang
mencakup general (Information and verbal analogies, Jones and Conrad
Loree, 1970 : 78) telah mengembangkan sebuah kurva perkembangan
inteligensi, yang dapat di taksirkan antara lain :
Laju perkembangan inteligensi pada masa anak-anak berlangsung
sangat pesat, terdapat variasi dalam saatnya dan laju kecepatan deklinnasi
menurut jenis-jenis kecakapan khusus tertentu (Juntika N, 137-138).
Bloom (1964) melukiskan berdasarkan hasil studi longitudinal,
bahwa dengan berpatokan kepada hasil test IQ dari masa-masa
sebelumnya yang ditempuh oleh subyek yang sama, kita akan dapat
melihat perkembangan prosentase taraf kematangan dan kemampuannya
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Usia 1 tahun berkembang sampai sekitar 20%nya


Usia 5 tahun sekitar 50%nya
Usia 8 tahun sekitar 808%nya
Usia 13 tahun sekitar 92%nya
Hasil studi bloom ini tampaknya (1952; 150 dan loree 91970) : 79)

juga menugaskan bahwa laju perkembangan IQ itu bersifat proposional.

11

2.2.5 Macam-Macam Inteligensi


Gardner mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk
memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang
bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (1983;1993). Dari
pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa inteligensi bukanlah hanya
tingkat IQ seseorang saja, tapi juga membuktikan bahwa inteligensi juga
adalah kecerdasan untuk yang dimiliki oleh seseorang untuk memecahkan
masalah yang ada di sekitarnya. Berikut adalah macam-macam inteligensi
menurut Gardner.
a. Inteligensi Matematis-logis
Menurut Gardner, inteligensi matematis-logis adalah kemampuan
yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara
efektif, seperti dipunyai seorang matematikus, saintis, programmer,
dan logikus.
b. Inteligensi Ruang Visual
Menurut Gardner, inteligensi ruang (spatial intelligence) atau
kadang disebut inteligensi ruang-visual adalah kemampuan untuk
menangkap dunia ruang-visual secara tepat, seperti dipunyai para
pemburu, arsitek, navigator, dan dekorator.
c. Inteligensi Kinestik-Badani
Inteligensi kinestik-badani, menurut Gardner, adalah kemampuan
menggunakan tubuh atau gerak tubuk untuk mengekspresikan gagasan
dan perasaan seperti ada pada aktor, atlet, penari, pemahat, dan ahli
bedah.
d. Inteligensi Musikal
Gardner menjelaskan inteligensi musikal sebagai kemampuan
untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikamati bentukbentuk musik dan suara. Di dalamnya termasuk kepekaan akan ritme,
melodi dan intonasi: kemampuan memainkan alat musik, kemampuan
menyanyi, kemampuan untuk mencipta lagu, kemampuan untuk
menikmati lagu, musik dan nyanyian.
e. Intelegensi Interpersonal
Inteligensi interpersonal adalah kemampuan untuk mengerti dan
menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, temperamen
12

orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara, isyarat dari orang
lain juga termasuk dalam inteligensi ini. Secara umum inteligensi
interpersonal berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin
relasi dan komunikasi dengan berbagai orang. Inteligensi ini banyak
dipunyai oleh para komunikator, fasilitator, dan penggerak massa.
f. Intelegensi Intrapersonal
Inteligensi intrapersonal adalah kemampuan yang berkaitan dengan
pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara
adaptif berdasarkan pengenalan diri itu. Termasuk dalam inteligensi ini
adalah kemampuan berefleksi dan keseimbangan diri. Orang ini punya
kesadaran

tingi

akan

gagasan-gagasannya,

dan

mempunyai

kemampuan untuk mengambil keputusan pribadi. Ia sadar akan tujuan


hidupnya. Ia dapat mengatur perasaan dan emosinya sehingga
kelihatan sangat tenang.
g. Inteligensi Lingkungan
Gardner menjelaskan inteligensi lingkungan sebagai kemampuan
seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat
membuat distingsi konsekuensi lain dalam alam natural; kemampuan
untuk

memahami

dan

menikmati

alam;

dan

menggunakan

kemampuannya secara produktif dalam berburu, bertani, dan


mengembangkan pengetahuan akan alam. Dalam pembicaraan dengan
Durie, Gardner menjelaskan bahwa inteligensi lingkungan adalah
kemampuan manusiawi untuk mengenal tanaman, binatang dan
bagian-bagian lain dari lingkungan alam seperti awan atau batu-batuan.
h. Inteligensi Eksistensial
Gardner menyatakan, inteligensi eksistensial. Inteligensi ini lebih
menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab
persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia.
Orang tidak puas hanya menerima keadaannya, keberadaanya secara
otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang
terdalam. Pertanyaan itu antara lain: mengapa aku ada, mengapa aku
mati, apa makna dari hidup ini, bagaimana kita sampai ke tujuan hidup.

13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan materi yang telah disampaikan dalam makalah ini dapat di
simpulkan bahwa kognitif itu adalah proses berfikir dimana individu menilai dan
mempertimbangkan suatu peristiwa atau kejadian seseorang. Dan menurut Piaget
ada beberapa tahapan perkembangan yaitu tahap sensorimotor, praoperasi, operasi
konkret, dan operasi normal. Sedangkan inteligensi adalah kemampuan untuk
beradaptasi dengan situasi yang baru secara cepat dan efektif, kemampuan untuk
memahami hubungan dan mempelajarinya dengan cepat.
Kognitif dan inteligensi itu saling berkaitan karena inteligensi itu
merupakan proses-proses kognitif pada tingkatan yang lebih tinggi.
3.2 Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan Penulis banyak berharap para
pembaca yang sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis
demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis dan khususnya juga para
pembaca pada umumnya.

14

DAFTAR PUSTAKA
Santrock, J.W. (2012). Perkembangan masa hidup. Edisi ketigabelas jilid 1,
Erlangga
Sutanto, A. (2011). Perkembangan anak usia dini. Edisi pertama, Jakarta: Predana
Media Group
Desmita. (2012). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Dahlan, M.D. (2011). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Desmita. (2009). Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.