Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang
Acinetobacter baumannii merupakan golongan bakteri nonfermenter

berbentuk batang atau kokobasil Gram-negatif yang secara alamiah dapat


dijumpai di lingkungan, tanah, air dan kotoran.1 Acinetobacter baumannii juga
merupakan salah satu bakteri patogen oportunistik yang menjadi masalah utama
pada kasus-kasus infeksi yang didapat di rumah sakit.2 Bakteri ini

banyak

ditemukan sebagai bakteri penyebab infeksi nosokomial pada saluran kemih,


infeksi luka operasi, infeksi pembuluh darah, ventilator-associated pneumonia
(VAP) dan meningitis khususnya pasien dengan sistem imun rendah yang berada
di Intensive Care Unit (ICU).3 Penelitian tentang angka kejadian infeksi oleh
A. baumannii sudah banyak dilakukan di luar negeri. Hosoglu dkk. melaporkan

kejadian luar biasa di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) Diyarbakir
Childrens Hospitals (Turki) selama bulan November 2006 hingga Agustus 2007,
terdapat 64 bayi menderita sepsis karena A. baumannii.4 Data dari National
Nosocomial Infections Surveillance (NNIS) telah mengungkapkan peningkatan
jumlah kasus VAP di Amerika Serikat dengan 5 - 10% dari kasus yang terjadi di
ruangan ICU disebabkan oleh A. baumanii.5
Di Indonesia, Gustawan IW dkk. mendapatkan 47 isolat yang mengandung
A. baumanii dari seluruh isolat spesimen darah pasien ruang anak (ruang NICU,
Pediatric Intensive Care Unit (PICU), bangsal perawatan) Rumah Sakit Umum

Pusat Nasional (RSUPN) dr Cipto Mangunkusumo dari Januari - Desember 2012.2


Berdasarkan laporan dari Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Arifin Achmad pada Juni hingga Desember 2013 didapatkan bahwa A.
baumannii merupakan organisme terbanyak yang ditemukan pada semua jenis
sampel, yaitu 18,2%.6
Multidrug-resistant (MDR) merupakan suatu keadaan emergensi dalam
penanganan infeksi A. baumannii. Peningkatan insiden infeksi oleh bakteri
tersebut pada pasien di rumah sakit ternyata juga diikuti oleh peningkatan
kejadian resistensi terhadap berbagai antibiotik.2 Anunnatsiri dkk. mendapatkan
insiden MDR A. baumannii adalah 3,6 episode per 10.000 episode masuk rumah
sakit.7 Abbo dkk. melakukan penelitian antara Januari hingga Juni 2001
menemukan 133 pasien terinfeksi MDR A. baumannii.8 Di Indonesia, gambaran
mekanisme resistensi yang dimiliki oleh A. baumannii di ICU Rumah Sakit
Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi menunjukkan gambaran yang bersifat
multiresisten.9
Karbapenem (terutama imipenem dan meropenem) merupakan terapi lini
utama yang dipakai untuk mengobati pasien yang terinfeksi oleh Acinetobacter
sehingga menyebabkan bakteri ini banyak mengalami resistensi terhadap
karbapenem.2

Terjadinya

resistensi

Acinetobacter

terhadap

karbapenem

memberikan masalah yang cukup besar dalam dunia kesehatan dan insiden
resistensi A. baumannii terhadap golongan antibiotik tersebut telah banyak
dilaporkan. Menurut laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC),
resistensi A. baumanii terhadap karbapenem meningkat dari 9% pada tahun 1995
menjadi 40% pada tahun 2004.10 National Hospital Infections Surveillance

Network (NHISN) pada tahun 2011 melaporkan bahwa 57-83% resistensi


karbapenem dilaporkan pada infeksi A. baumannii yang diisolasi di rumah sakit.11
Data pada tahun 2006 oleh Meropenem Yearly Susceptibility Test Information
Collection (MYSTIC) menyatakan bahwa terjadi peningkatan dalam angka
resistensi untuk A. baumanii terhadap meropenem sebesar 43,4% dan imipenem
42,5%.12
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Indonesia, laporan dari
Laboratorium

Mikrobiologi

Klinik

Departemen

Mikrobiologi

Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 2011 didapatkan nilai sensitivitas


meropenem terhadap A. baumanii hanya 21%. Nilai sensitivitas tertinggi untuk
A. baumanii adalah tigesiklin sebesar 61,3%. Nilai sensitivitas terendah yakni
sefotaksim, seftriakson, dan amoksisilin masing-masing 1,6%, 4,8%, dan 8,1%.13
Berdasarkan laporan dari Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Arifin Achmad pada Juni hingga Desember 2013 didapatkan nilai
sensitivitas tertinggi untuk A. baumanii adalah tigesiklin sebesar 96,7%, amikasin
89,7%, dan meropenem 83,9%, sedangkan seftriakson sebesar 0%, siprofloksasin
dan levofloksasin masing-masing 23,3%.7
Adanya peningkatan insiden infeksi A. baumanii yang disertai dengan
peningkatan kejadian resistensi terhadap antibiotik, khususnya meropenem dan
belum adanya laporan kejadian infeksi bakteri yang harus diikuti setiap tahunnya
menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian tentang gambaran infeksi
oleh Acinetobacter baumannii resisten meropenem di RSUD Arifin Achmad
Provinsi Riau periode 01 Januari 31 Desember 2014.

1.2

Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah

pada penelitian ini adalah bagaimana gambaran infeksi oleh Acinetobacter


baumannii resisten meropenem di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau periode 01
Januari 31 Desember 2014?
1.3

Tujuan penelitian

1.3.1

Tujuan umum
Mengetahui gambaran infeksi oleh Acinetobacter baumannii resisten

meropenem di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau periode 01 Januari 31


Desember 2014.
1.3.2

Tujuan khusus

1. Mengetahui persentase A. baumannii resisten meropenem di RSUD Arifin


2. Achmad Provinsi Riau.Mengetahui persentase A. baumannii resisten
meropenem berdasarkan jenis spesimen di RSUD Arifin Achmad Provinsi
Riau.
3. Mengetahui persentase A. baumannii resisten meropenem berdasarkan ruang
perawatan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau.
4. Mengetahui pola sensitifitas A. baumannii di RSUD Arifin Achmad Provinsi
Riau.
1.4

Manfaat penelitian

a. Bagi peneliti
Peneliti akan mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai
gambaran infeksi oleh Acinetobacter baumannii resisten meropenem di RSUD

Arifin Achmad Provinsi Riau periode 01 Januari 31 Desember 2014. Selain itu,
peneliti juga akan mendapat kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar
dalam membuat sebuah penelitian.
b. Bagi peneliti lain
Sebagai bahan referensi, informasi dan pengetahuan bagi peneliti lain yang
akan melakukan penelitian lanjutan.
c. Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Riau
Sebagai informasi dan literatur tambahan tentang resistensi antibiotik serta
dapat digunakan sebagai data awal bagi mahasiswa kedokteran untuk melakukan
penelitian bersifat deskriptif retrospektif.
d. Bagi RSUD
Penelitian ini akan menyediakan data pola bakteri A. baumannii di RSUD
Arifin Achmad terhadap beberapa antibiotik sehingga dapat digunakan sebagai
acuan untuk pemberian antibiotik pada pasien secara empirik, serta dapat
mengendalikan terjadinya peningkatan kejadian resistensi.
a. Bagi pasien
Pasien dengan infeksi A. baumannii di RSUD Arifin Achmad Provinsi
Riau akan mendapatkan antibiotik yang lebih tepat dan efektif.