Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH FARMAKOLOGI

OBAT IMUNOMODULATOR, SERA, VAKSIN


DAN
HIV ANTI AIDS
OLEH :
AFINA RAZANA / XII D / 1

YAYASAN PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN JEMBER


SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN FARMASI JEMBER
Jl. PANGANDARAN NO. 42 TELP & FAX (0331) 321495
ANTIROGO JEMBER
TAHUN AJARAN 2015/2016
1

DAFTAR ISI
Halaman Judul .......................................................................................................................... 1
Daftar Isi ................................................................................................................................... 2
BAB I : Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................... 3
1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................................................ 3
BAB II : Pembahasan
2.1 Pengertian Imunomodulator .............................................................................................. 4
2.2 Pengelompokan Imunomodulator ..................................................................................... 4
2.3 Metode Uji Aktivitas Imunomodulator ............................................................................. 9
2.4 Pengertian Vaksin ........................................................................................................... 10
2.5 Jenis Jenis Vaksin ........................................................................................................ 12
2.6 Pengertian Sera atau Serum ............................................................................................ 14
2.7 Jenis Jenis Sera atau Serum ......................................................................................... 15
2.8 Pengertian Virus ............................................................................................................. 15
2.9 Pengertian HIV/AIDS .................................................................................................... 16
2.10 Penularan HIV/AIDS .................................................................................................... 17
2.11 Perjalanan Penyakit HIV/AIDS .................................................................................... 17
2.12 Gejala Gejala HIV/AIDS ............................................................................................ 18
2.13 Alur HIV Menyerang Sistem Kekebalan Tubuh .......................................................... 18
2.14 Cara Pencegahan Penularan HIV/AIDS ....................................................................... 19
2.15 Pengobatan HIV/AIDS ................................................................................................. 20
BAB III : Penutup
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................................... 21
3.2 Saran ............................................................................................................................... 21
Daftar Pustaka ...................................................................................................................... 22

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Imunomodulator adalah senyawa tertentu yang dapat menigkatkan mekanisme
pertahanan tubuh baik secara spesifisik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik
baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap
antigen ini disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut
paraimunitas.
Vaksin sendiri adalah sediaan yang menagndung antigen dapat berupa kuman mati,
kuman inaktif atau kuman hidup yang dilumpuhkan virulensinya tanpa merusak antigennya,
dimaksudkan digunakan untuk menimbulkan kekebalan aktif dan khas terhadap infeksi
kuman atau toksinnya.
Sera atau Serum adalah produk biologik yang berfungsi untuk memberikan kekebalan
terhadap infeksi tertentu untuk jangka waktu yang pendek, dan diberikan kepada yang diduga
terpapar/ beresiko. Sehingga obat obat imunomodulator dan vaksin dapat dianggap sama
yaitu itu pertahanan utama supaya tidak terserang suatu penyakit. Sedangkan sera ditujukan
untuk memberi penangkal pada individu yang dikira terkena penyakit tersebut.
Ada penyakit yang masih belum ada vaksin nya sampai saat ini, yaitu virus
HIV/AIDS. Sehingga penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi
kehidupan manusia baik sekarang ataupun waktu yang akan datang. AIDS dapat
menimbulkan penderitaan, baik segi fisik maupun mental. Adapaun faktor yang mendukung
penyebaran HIV/AIDS, antara lain perjalanan internasional, industri darah, dan
penyebarluasan pemakaian narkotika.

1.2Tujuan Penulisan
Adapaun tujuan penulisan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui pengertian Imunomodulator
2. Mengetahui pengelompokan imunomodulator
3. Mengetahui metode uji aktivitas Imunomodulator
4. Mengetahui pengertian Vaksin
5. Mengetahui jenis-jenis Vaksin
6. Mengetahui pengertian Sera atau Serum dan Jenis-jenis Sera
7. Mengetahui pengertian Virus
8. Mengetahui tentang HIV dan AIDS
9. Mengetahui penularan HIV/AIDS
10. Mengetahui perjalanan penyakit HIV/AIDS
11. Mengetahui gejala-gejala HIV/AIDS
12. Mengetahui Alur HIV menyerang sistem kekebalan tubuh
13. Mengetahui cara pencegahan penularan HIV/AIDS
14. Mengetahui pengobatan HIV/AIDS
3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Imunomodulator
Imunomodulator merupakan senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme
pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik
baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap
antigen ini disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut
paraimunitas. Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan
tetapi sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang
berperan pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena
induktor paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini
dapat bekerja langsung maupun tak langsung misalnya melalui sistem komplemen atau
limfosit, melalui produksi interferon atau enzim lisosomal untuk meningkatkan fagositosis
mikro dan makro . Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling
berpengaruh. Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi,
hingga mempersulit penggunaan imunomodulator.
Terdapat 2 jenis Imunomodulator yaitu Imunomodulator sintesis dan imunomodulator
alam. Imunomodulator sintesis adalah seperti Isoprinosin, Levamisol, Vaksin BCG dan
banyak lagi. Penggunaan imunomodulator sintetik ini mempunyai beberapa kekurangan
seperti mengakibatkan reaksi alergi dan hipersensitivitas pada sesetengah orang. Ia juga dapat
mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan. Dengan ini, adalah lebih aman jika
digunakan imunomodulator alami karena efek samping darinya juga lebih ringan dibanding
dengan imunomodulator sintetik.
Penggunaan tanaman sebagai obat setelah diketahui mengandung antioksidan alami
serta dapat meningkatkan aktivitas sistem imun. Terjadi peningkatan dalam dekade terakhir
pada manusia karena penggunaan tanaman sebagai obat merupakan suatu pendekatan yang
aman dan alami untuk mengobati penyakit. Menurut WHO, imunomodulator haruslah
memenuhi persyaratan berikut: secara kimiawi murni atau dapat didefinisikan secara kimia,
secara biologik dapat diuraikan dengan cepat, tidak bersifat kanserogenik atau kokanserogenik, baik secara akut maupun kronis tidak toksik dan tidak mempunyai efek
samping farmakologi yang merugikan serta tidak menyebabkan stimulasi yang terlalu kecil
ataupun terlalu besar. Hal ini sesuai dengan Imunomodulator alami, yang tidak bersifat
toksik, tidak memilii efek samping farmakoogi yang merugikan .Berbagai tanaman diketahui
memiliki aktivitas sebagai imunomodulator di antaranya adalah Kaempferia Galanga L.

2.2Pengelompokan Imunomodulator
Imunomodulator adalah obat yang dapat mengembalikan dan memperbaiki sistem imun
yang fungsinya terganggu atau untuk menekan yang fungsinya berlebihan.Obat golongan
imunomodulator bekerja menurut 3 cara, yaitu melalui:Imunorestorasi, Imunostimulasi,

Imunosupresi. Imunorestorasi dan imunostimulasi disebut imunopotensiasi atau up


regulation, sedangkan imunosupresi disebut down regulation.

1. Imunostimulasi dan Imunorestorasi


Imunostimulasi dan Imunorestorasi yang disebut juga imunopotensiasi adalah cara
memperbaiki fungsi sistem imun dengan menggunakan bahan yang merangsang sistem
tersebut.
Imunostimulan adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan
tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik baik
mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap antigen ini
disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut paraimunitas.
Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan tetapi
sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang berperan
pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena induktor
paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat
bekerja langsung maupun tak langsung (misalnya melalui sistem komplemen atau limfosit,
melalui produksi interferon atau enzim lisosomal) untuk meningkatkan fagositosis mikro dan
makro. Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling berpengaruh.
Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi, hingga
mempersulit penggunaan imunomodulator, dalam praktek.
Mekanisme Kerja :
Imunostimulator secara tidak langsung berkhasiat mereaktivasi system imun yang rendah
dengan meningkatkan respon imun tak spesifik antara lain perbanyakan limfo T4, NK-cell
dan magrofag distimulasi olehnya, juga pelepasan interferon dan interleukin. Sebagai efek
akhir dari reaksi kompleks itu, zat asing dapat dikenali dan dimusnahkan. Pada sel sel tumor
ekspresi antigen transplantasi diperkuat olehnya sehingga lebih dikenali oleh TNF dan sel
sel sytotoksis. Zat imunostimulator yang kini digunakan adalah vaksin BCG, limfokin
(interveron , interleukin) dan levamisol.
Biological Response Modifier (BRM) adalah bahan-bahan yang dapat merubah respons
imun, biasanya meningkatkan. Bahan yang disebut imunostimulator itu dapat dibagi sebagai
berikut:
A. Biologik
a.

Hormon timus

Sel epitel timus memproduksi beberapa jenis homon yang berfungsi dalam
pematangan sel T dan modulasi fungsi sel T yang sudah matang. Ada 4 jenis hormon timus,
yaitu timosin alfa, timolin, timopoietin dan faktor humoral timus. Semuanya berfungsi untuk
memperbaiki gangguan fungsi imun (imunostimulasi non-spesifik) pada usia lanjut, kanker,
autoimunitas dan pada defek sistem imun(imunostimulasi non-spesifik) pada usia lanjut,
kanker, autoimunitas dan pada defek sistem imun (imunosupresi) akibat pengobatan.
Pemberian bahan-bahan tersebut jelas menunjukkan peningkatan jumlah, fungsi dan reseptor
sel T dan beberapa aspek imunitas seluler. Efek sampingnya berupa reaksi alergi lokal atau
sistemik.
5

b.

Limfokin

Disebut juga interleukin atau sitokin yang diproduksi oleh limfosit yang diaktifkan.
Contohnya ialah Macrophage Activating Factor (MAF), Macrophage Growth Factor (MGF),
T-cell Growth Factor atau Interleukin-2 (IL-2), Colony Stimulating Factor (CSF) dan
interferon gama (IFN-.). Gangguan sintetis IL-2 ditemukan pada kanker, penderita AIDS, usia
lanjut dan autoimunitas.
c.

Interferon

Ada tiga jenis interferon yaitu alfa, beta dan gama. INF-a dibentuk oleh leukosit, INF dibentuk oleh sel fibroblas yang bukan limfosit dan IFN-. dibentuk oleh sel T yang
diaktifkan. Semua interferon dapat menghambat replikasi virus DNA dan RNA, sel normal
dan sel ganas serta memodulasi sistem imun. Interferon dalam dosis tinggi menghambat
penggandaan sel B dan sel T sehingga menurunkan respons imun selular dan humoral, dan
dalam dosis rendah mengatur produksi antibodi serta merangsang sistem imun yaitu
meningkatkan aktivitas membunuh sel NK, makrofag dan sel T. Dalam klinik, IFN digunakan
pada berbagai kanker seperti melanoma, karsinoma sel ginjal, leukimia mielositik kronik,
hairy cell leukimia, dan kapossis sarkoma.Efek sampingnya adalah demam, malaise, mialgia,
mual, muntah, mencret, leukopenia, trombositopenia, dan aritmia.
d.

Antibodi monoclonal

Diperoleh dari fusi dua sel yaitu sel yang dapat membentuk antibodi dan sel yang
dapat hidup terus menerus dalam biakan sehingga antibodi tersebut dapat dihasilkan dalam
jumlah yang besar. Antibodi tersebut dapat mengikat komplemen, membunuh sel tumor
manusia dan tikus in vivo.
e.

Transfer factor / ekstrak leukosit

Ekstrak leukosit seperti Dialysed Leucocyte Extract dan Transfer Factor (TF) telah
digunakan dalam imunoterapi. Imunostimulasi yang diperlihatkan oleh TF yang spesifik asal
leukosit terlihat pada penyakit seperti candidiasis mukokutan kronik, koksidiomikosis, lepra
lepromatosa, tuberkulosis, dan vaksinia gangrenosa.
f.

Nukleotida

Nukleotida terdapat pada air susu ibu. Akhir-akhir ini banyak susu formula yang
diberi suplementasi nukleotida. Pada penelitian uji banding kasus yang dilakukan pada bayi,
satu kelompok diberikan susu ibu atau susu formula yang disuplementasi nukleotida,
dibandingkan dengan kelompok yang diberikan susu formula tanpa nukleotida, ternyata
terdapat peningkatan aktifitas sel NK pada bayi-bayi yang diberi susu ibu dan formula
dengan nukleotida dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula tanpa nukleotida.
Peneliti yang sama mendapatkan peningkatan produksi IL-2 oleh sel monosit pada kelompok
yang diberi susu formula dengan nukleotida. Nukleotida juga mengaktifkan sel T dan sel B.
g.

Lymphokin-Activated Killer (LAK) cells

Adalah sel T sitotoksik singeneik yang ditimbulkan in vitro dengan menambahkan


sitokin seperti IL-2 ke sel-sel seseorang yag kemudian diinfuskan kembali. Prosedur ini
merupakan imunoterapi terhadap keganasan.
h.

Bahan asal bakteri

BCG (Bacillus Calmette Guerin), memperbaiki produksi limfokin dan mengaktifkan


sel NK dan telah dicoba pada penanggulangan keganasan (imuno-stimulan non-spesifik).

Corynebacterium parvum (C. parvum), digunakan sebagai imunostimulasi nonspesifik pada keganasan.

Klebsiella dan Brucella, diduga memiliki efek yang sama dengan BCG.

Bordetella pertusis, memproduksi Lymphocytosis Promoting Factor (LPF) yang


merupakan mitogen untuk sel T dan imunostimulan.

Endotoksin, dapat merangsang proliferasi sel B dan sel T serta mengaktifkan


makrofag.
i.

Bahan asal jamur

Berbagai bahan telah dihasilkan dari jamur seperti lentinan, krestin dan schizophyllan.
Bahan-bahan tersebut merupakan polisakarida dalam bentuk beta-glukan yang dapat
meningkatkan fungsi makrofag dan telah banyak digunakan dalam pengobatan kanker
sebagai imunostimulan non-spesifik.5 Penelitian terbaru menemukan jamur Maitake (Grifola
frondosa) yang mengandung beta-glukan yang lebih poten sebagai imunostimulan pada
pasien dengan HIV-AIDS, keganasan, hipertensi dan kerusakan hati (liver ailments).
B. Sintetik
1.

Levamisol

Merupakan derivat tetramizol, Dalam klinik lazim dipakai sebagai obat cacing, dan
sebagai imunostimulan levamisol berkhasiat untuk meningkatkan penggandaan sel T,
menghambat sitotoksisitas sel T, mengembalikan anergi pada beberapa kanker (bersifat
stimulasi nonspesifik), meningkatkan efek antigen, mitogen, limfokin dan faktor kemotaktik
terhadap limfosit, granulosit dan makrofag. Selain untuk penyakit hodgkin, penggunaan
klinisnya untuk mengobati artritis reumatoid, penyakit virus, lupus eritematosus sistemik,
sindrom nefrotik. Diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgBB per oral selama 2 minggu, kemudian
dosis pemeliharaan beberapa hari per minggu. Efek samping yang harus diperhatikan adalah
mual, muntah, urtikaria, dan agranulositosis. Obat i9ni diabsorpsi dnegan cepat dengan kadar
puncak 1-2 jam. Obat ini didistribusikan luas ke berbagai jaringan dan dimetabolisme di hati.
Tersedia dalam bentuk tablet 25,40,50mg.
2.

Isoprinosin

Disebut juga isosiplex (ISO), adalah bahan sintetis yang mempunyai sifat antivirus
dan meningkatkan proliferasi dan toksisitas sel T. Sebagai imunostimulator isoprinosin
berkhasiat meningkatkan penggandaan sel T, meningkatkan toksisitas sel T, membantu
produksi IL-2(LIMFOKIN) yang berperan dalam diferensiasi limfosit dan makrofag, serta
meningkatkan fungsi sel NK. Diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB. Perlu pemantauan kadar
7

asam urat darah karena pemberian isoprinosin dapat meningkatkan kadar asam urat. Berbagai
derivat sintetiknya sedang dalam penyelidikan untuk AIDS dan berbagai neoplasma. Obat ini
dilaporkan mengurangi risiko infeksi terhadap HIV pada tahap lanjut.
3.

Muramil Dipeptida (MDP)

Merupakan komponen aktif terkecil dari dinding sel mycobacterium. Sebagai


imunostimulan berkhasiat meningkatkan sekresi enzim dan monokin, serta bersama minyak
dan antigen dapat meningkatkan respons selular maupun humoral. Dalam klinik telah banyak
digunakan untuk pencegahan tumor dan infeksi sebagai ajuvan vaksin.
4.

Vaksin BCG

BCG dan komponen aktifnya merupakan produk bakteri yang emmeiliki efek
imunostimulan. Penggunaan BCG dalam imunopotensiasi bermula dari pengamatan bahwa
penderita tuberkulosis kelihatan lebih kebal terhadap infeksi oleh jasad renik lain. Dalam
imunomodulasi BCG digunakan untuk mengaktifkan sel T, memperbaiki produksi limfokin,
dan mengaktifkan sel NK. Walaupun sudah dicoba untuk berbagai neoplasma, efek yang
cukup nyata terlihat pada kanker kandung kemih dengan pemberian intravesika. Efek
samping meliputi reaksi hipersensitivitas, syok, menggigil, lesu, dan penyakit kompleks
imun.

2. Imunosupresi
Pertahanan tubuh merupakan fungsi fisiologis yang amat penting bagi mahluk hidup.
Dengan pertahanan tubuh berjalan optimal, mahluk hidup dapat tumbuh berkembang,
bereproduksi dengan optimal. Bila berbicara mengenai pertahanan tubuh, perlu diketahui pula
ancaman-ancaman penyakit yang dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh sehingga
perkembangan tubuh dan produksi menjadi terganggu.
Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat
kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah
antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dan menginfeksi
bagian tubuh. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi.
Jadi, sangatlah penting untuk mengenali dan mengetahui imunosupresi.
Mekanisme Kerja:
Terjadinya imunosupresi akan ditunjukkan dengan adanya hambatan atau gangguan pada
satu atau lebih komponen sistem kekebalan tubuh. Mekanisme terjadinya imunosupresi
biasanya terjadi melalui 3 mekanisme yaitu :
1.
Secara langsung mengganggu fungsi sistem kekebalan atau merusak organ dan
kelenjar limfoid primer (bursa Fabricius dan thymus) sekaligus organ/kelenjar limfoid
sekunder (limfa, proventrikulus, seka tonsil dll). Mekanisme ini biasanya disebabkan
serangan Gumboro, Mareks, reovirus, limfoid leukosis dan aspergilosis.
2.
Merusak atau mengganggu fungsi dan sistem pertahanan yang bersifat sekunder
(limfa, proventrikulus, seka tonsil, sel harderian) karena serangan penyakit swolen head
syndrome, kolera, ILT dan snot (korisa)
8

3.
Menguras zat kebal (antibodi) tubuh yang telah terbentuk dari hasil vaksinasi, yang
disebabkan serangan koksidiosis

Secara umum adanya imunosupresi ditunjukkan dari adanya :

1. Gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti adanya kegagalan vaksinasi (meskipun vaksin
yang digunakan berkualitas dan tata laksana vaksinasi telah dilakukan dengan tepat), reaksi
post vaksinasi, turun atau hilangnya keampuhan pengobatan bahkan meningkatnya kasus
penyakit yang tidak umum, seperti gangrenous dermatitis, aplastic anemia atau inclusion
body hepatitis.
2. Meningkatnya penyakit yang menyerang saluran/sistem pernapasan yang diikuti infeksi
sekunder oleh bakteri.

Terapi Imunosupresi

Miastenia gravis adalah penyakit autoimun, di mana kekebalan tubuh balik


menyerang diri sendiri. Dengan dasar tersebut digunakan obat-obatan imunosupresi (penekan
kekebalan tubuh). Penggunaan obat imunosupresi efektif pada hampir seluruh pasien
miastenia gravis. Beberapa obat yang biasa digunakan adalah glukokortikoid, azathioprine,
siklosporin, takrolimus, dan lain-lain. Pemilihan obat yang digunakan didasarkan pada
keuntungan dan kerugian pada masing-masing pasien.

2.3Metode Uji Aktivitas Imunomodulator


Metode uji aktivitas imunomoduator yang dapat digunakan,yaitu:
1. Metode bersihan karbon (Carbon-Clearance)
Pengukuran secara spektrofluorometrik laju eliminasi partikel karbon dari daerah hewan.
Ini merupakan ukuran aktivitas fagositosis.
2. Uji granulosit
Percobaan in vitro dengan mengukur jumlah sel ragi atau bakteri yang difagositir oleh
fraksi granulosit yang diperoleh dari serum manusia. Percobaan ini dilakukan di bawah
mikroskop.
3. Bioluminisensi radikal
Jumlah radikal 02 yang dibebaskan akibat kontak mitogen dengan granulosit atau
makrofag, merupakan ukuran besarnya stimulasi yang dicapai.
4. Uji transformasi limfosit T

Suatu populasi limfosit T diinkubasi dengan suatu mitogen. Timidin bertanda ( 3 H) akan
masuk ke dalam asam nukleat limfosit 1. Dengan mengukur laju permbentukan dapat
ditentukan besarnya stimulasi dibandingkan dengan fitohemaglutinin A (PHA) atau
konkanavalin A (Con A).

2.4Pengertian Vaksin
Vaksin berasal dari bahasa latin vacca (sapi) dan vaccinia (cacar sapi). Vaksin adalah
bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit
sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau
liar.
Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak
menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil
pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan
sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu,
terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk
melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk
antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah
dengan vaksin. Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu
menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit
Vaksin: Substansi yg bersifat antigen:-mikro-organisme:-bakteri- virus- adjuvanSera:
Substansi yang bersifat sebagai antibodi:-protein:-Imunoglobulin (serum imun)- monoklonal
antibodi.
Vaksin mengandung sejumlah kecil agen yg menyerupaimikroorganisme tertentu-Agen
akan menstimulir sistem imun tubuh untk mengenal agen asing tersebut , membunuhnya , dan
mengingatnya, Sehingga bila ada agen yg sama tersebut masuk kedalamtubuh dengan
mudah akan dibunuhnya
Vaksinasi adalah imunisasi aktif secara buatan dengan pemberian dalam jumlah kecil
mikroba yang sudah di-inaktivasi atau dilemahkan kepada orang sehat dengan tujuan untuk
merangsang tubuh orang tersebut membentuk antibodi (kekebalan) terhadap mikroba
tersebut.
Bio Farma memproduksi vaksin dan anti sera bagi manusia, yang terbagi ke dalam 5
kategori vaksin, anti sera dan diagnostika yaitu :
1. VAKSIN VIRUS
Vaksin Oral Polio, untuk pencegahan terhadap penyakit poliomyelitis
Vaksin Campak Kering, untuk pencegahan terhadap penyakit Campak
Vaksin Hepatitis B Rekombinan, untuk pencegahan terhadap penyakit Hepatitis B
2. VAKSIN BAKTERI

10

Vaksin TT, untuk pencegahan terhadap penyakit Tetanus dan Tetanus Neonatal (Tetanus
pada bayi baru lahir)

Jerap Tetanus Toxoid

Deskripsi :
Berupa suspensi koloidal berwarna putih susu;
Mengandung Tetanus toxoid - Clostridium tetanistrain Masachusset

DOSIS :
Intramuskuler 0,5 ml
Terdiri dari 2 dosis primer (interval 4minggu) + dosis-3 (6 12 blnsetelah dosis-2). Dosis 4
(1 th set. Dosis-3) dan Dosis 5 (1 th set. Dosis-4)
Penyimpanan :
Pada suhu +2 - +8OC

Vaksin Jerap DT, untuk pencegahan terhadap penyakit Diphtheria (difteri) dan
Tetanus

Deskripsi :
Berupa Suspensi berwarna putih keruh.
Mengandung Clostridium tetani strainMassachusset danCorynebacterium diphtheriae PW
8 CN 2000
Untuk pencegahan terhadapinfeksi diphtheria dantetanus,
Direkomendasikan untuk anakusia < 8 th.
Dan apabila terjadi kontraindikasiterhadap komponenpertussis pada imunisasiDTP-1
DOSIS :
Intramuskuler 0,5 ml
PENYIMPANAN :
Pada suhu +2 - +8OC

Vaksin DTP, untuk pencegahan terhadap penyakit Diphtheria, Tetanus dan Pertusis

Deskripsi
Berupa suspensi berwarna putih keruh.Mengandung :
Clostridium tetani strain Massahusset,
11

Corynebacterium diphtheriae PW 8 CN 2000. dan


Bordetella pertussis strain Pelita III

Untuk imunisasi aktif terhadapinfeksi diphtheri, tetanus danpertusis

Direkomendasikan untuk anakmulai usia 2 bulan

VAKSIN BCG

Dosis intrakutan di insertio M. deltoideus

Bayi ( s/d. 1 th) : 0,05 ml

Anak ( lebih dari 1 th) : 0,1 ml

PENYIMPANAN :
Pada suhu +2 - +8OC
Vaksin yang telah dibuka dan dilarutkan hanya dapat dipakais/d. 3 jam
Vaksin Td, untuk pencegahan terhadap penyakit Tetanus dan Difteri untuk anak usia 7 tahun
ke atas

3. VAKSIN KOMBINASI
Vaksin DTP-HB, untuk pencegahan terhadap penyakit Diphtheria,Tetanus, Pertussis
(batuk rejan) dan Hepatitis B
4. ANTI SERA
Serum Anti Tetanus, untuk pengobatan terhadap penyakit tetanus
Serum Anti Difteri untuk pengobatan terhadap penyakit diphtheria
Serum Anti Bisa Ular, untuk pengobatan terhadap gigitan ular berbisa yang
mengandung efek neurotoksik (Naja sputratix / ular kobra dan Bungarus fasciatus /
ular belang) dan efek hemotoksis (Ankystrodon rhodostoma / ular tanah)
Serum Anti Rabies, untuk pengobatan terhadap penyakit rabies

5. DIAGNOSTIKA
PPD RT 23 (Purified Protein Derivative), untuk pengujian kepekaan seseorang terhadap
infeksi tuberkulosis.
Serum Golongan Darah, untuk penentuan golongan darah, untuk mengidentifikasi bakteri
dari golongan Salmonella, Shigella, dan Escherichia coli yang berhasil diisolasi dari bahan
pemeriksaan

2.5Jenis Jenis Vaksin


12

1. Live attenuated vaccine


Vaksin hidup yang dibuat dari bakteri/virus yang sudah dilemahkan daya virulensinya
dengan cara kultur dan perlakuan yang berulang-ulang, namun masih mampu menimbulkan
reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi alamiah. Sifat vaksin live attenuated
vaccine,yaitu:
Vaksin dapat tumbuh dan berkembang biak sampai menimbulkan respon imun sehingga
diberikan dalam bentuk dosis kecil antigen
Respon imun yang diberikan mirip dengan infeksi alamiah, tidak perlu dosis berganda
Dipengaruhi oleh circulating antibody sehingga ada efek netralisasi jika waktu
pemberiannya tidak tepat.
Vaksin virus hidup dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik
Dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah
Mempunyai kemampuan proteksi jangka panjang dengan keefektifan mencapai 95%
Virus yang telah dilemahkan dapat bereplikasi di dalam tubuh, meningkatkan dosisi asli
dan berperan sebagai imunisasi ulangan
Contoh : vaksin polio (Sabin), vaksin MMR, vaksin TBC, vaksin demam tifoid, vaksin
campak, gondongan, dan cacar air (varisela)

2. Inactivated vaccine (Killed vaccine)


Vaksin dibuat dari bakteri atau virus yang dimatikan dengan zat kimia (formaldehid) atau
dengan pemanasan, dapat berupa seluruh bagian dari bakteri atau virus, atau bagian dari
bakteri atau virus atau toksoidnya saja. Sifat vaksin inactivated vaccine, yaitu :
Vaksin tidak dapat hidup sehingga seluruh dosis antigen dapat dimasukkan dalam bentuk
antigen
Respon imun yang timbul sebagian besar adalah humoral dan hanya sedikit atau tidak
menimbulkan imunitas seluler
Titer antibodi dapat menurun setelah beberapa waktu sehingga diperlukan dosis ulangan,
dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif tetapi hanya memacu dan
menyiapkan system imun, respon imunprotektif baru barumuncul setelah dosis kedua dan
ketiga
Tidak dipengaruhi oleh circulating antibody
Vaksin tidak dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik
Tidak dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah
Contoh : vaksin rabies, vaksin influenza, vaksin polio (Salk), vaksin pneumonia
pneumokokal, vaksin kolera, vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid.

3. Vaksin Toksoid
Vaksin yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan
memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah. Bahan bersifat imunogenik yang
13

dibuat dari toksin kuman. Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural
fluid plain toxoid yang mampu merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi
bakteri toksoid efektif selama satu tahun. Bahan ajuvan digunakan untuk memperlama
rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya. Contoh : Vaksin Difteri dan
Tetanus

4. Vaksin Acellular dan Subunit


Vaksin yang dibuat dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan
kloning dari gen virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin
antiidiotipe. Contoh vaksin hepatitis B, Vaksin hemofilus influenza tipe b (Hib) dan vaksin
Influenza.

5. Vaksin Idiotipe
Vaksin yang dibuat berdasarkan sifat bahwa Fab (fragment antigen binding) dari
antibodi yang dihasilkan oleh tiap klon sel B mengandung asam amino yang disebut sebagai
idiotipe atau determinan idiotipe yang dapat bertindak sebagai antigen. Vaksin ini dapat
menghambat pertumbuhan virus melalui netralisasai dan pemblokiran terhadap reseptor pre
sel B.

6. Vaksin Rekombinan
Vaksin rekombinan memungkinkan produksi protein virus dalam jumlah besar. Gen
virus yang diinginkan diekspresikan dalam sel prokariot atau eukariot. Sistem ekspresi
eukariot meliputi sel bakteri E.coli, yeast, dan baculovirus. Dengan teknologi DNA
rekombinan selain dihasilkan vaksin protein juga dihasilkan vaksin DNA. Penggunaan virus
sebagai vektor untuk membawa gen sebagai antigen pelindung dari virus lainnya, misalnya
gen untuk antigen dari berbagai virus disatukan ke dalam genom dari virus vaksinia dan
imunisasi hewan dengan vaksin bervektor ini menghasilkan respon antibodi yang baik.
Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme yang patogen. Sintesis
dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan penentuan kode gen epitop bagi sel penerima
vaksin.

7. Vaksin DNA (Plasmid DNA Vaccines)


Vaksin dengan pendekatan baru dalam teknologi vaksin yang memiliki potensi dalam
menginduksi imunitas seluler. Dalam vaksin DNA gen tertentu dari mikroba diklon ke dalam
suatu plasmid bakteri yang direkayasa untuk meningkatkan ekspresi gen yang diinsersikan ke
dalam sel mamalia. Setelah disuntikkan DNA plasmid akan menetap dalam nukleus sebagai
episom, tidak berintegrasi kedalam DNA sel (kromosom), selanjutnya mensintesis antigen
yang dikodenya.

14

Selain itu vektor plasmid mengandung sekuens nukleotida yang bersifat imunostimulan
yang akan menginduksi imunitas seluler. Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang
mengandung kode antigenyang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian.
Hasil akhir penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan
bakteri) merangsang respon humoral dan selular yang cukup kuat,sedangkan penelitian klinis
pada manusia saat ini sedang dilakukan

2.6Pengertian Serum
Serum adalah bagian dari plasma yang di dalamnya terlarut berbagai macam protein,
diantaranya gamaglobulin yang berupa zat anti bodi dan berfungsi untuk mengebalkan
seseorang dari gangguan penyakit. Gamaglobulin telah dipakai untuk memberikan kekebalan
atau imunisasi berbagai penyakit seperti cacar air, campak, hepatitis B, dan polio.

2.7 Jenis Jenis Serum


Serum karena jumlahnya tidak terlalu banyak seperti vaksin, maka tidak perlu kita
kelompokkan. Contoh serum yang sudah dapat dibuat di Indonesia adalah serum anti tetanus,
serum anti difteri, serum anti bisa ular, dan serum anti rabies.
Fungsi-fungsi dari beberapa serum yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut :
1. Serum Anti Tetanus
Berfungsi untuk pengobatan terhadap penyakit tetanus.
2. Serum Anti Difteri
Berfungsi untuk pengobatan terhadap penyakit difteri.
3. Serum Anti Bisa Ular
Berfungsi untuk pengobatan terhadap gigitan ular berbisa yang mengandung efek neurotoksik
(Naja sputatrix / ular Kobra, Bungarus fasciatus / ular Belang) dan efek hemotoksis
(Ankystrodon rhodostoma / ular Tanah).
4. Serum Anti Rabies
Berfungsi untuk pengobatan terhadap gigitan hewan yang sakit atau diduga rabies.
Konon sekarang ini para peneliti di seluruh dunia sedang berupaya agar imunisasi
dapat dilakukan secara lebih menyenangkan, yaitu dengan edible vaccine (vaksin yang dapat
dimakan), vaksin yang hanya ditempel seperti plester, dan lainnya.

15

2.8Pengertian Virus
Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis.
Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi
di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena
virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus
mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya)
yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein atau
kombinasi ketiganya. Genom virus akan diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan
untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel
eukariotia(organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah
bakteriofage atau fage digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel
prokariota(bakteridan organisme lain yang tidak berinti sel).Virus sering diperdebatkan
statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara
bebas jika tidak berada dalam sel inang. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu
terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV),
hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus mozaik tembakau/TMV).
Struktur Virus
Struktur virus di bagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. Kapsid
Kapsid merupakan lapisan pembungkus DNA atau RNA, kapsid dapat berbentuk heliks
(batang), misalnya pada virus mozaik, ada yang berbentuk polihedral pada virus adenovirus,
ataupun bentuk yang lebih kompleks lainnya. Kapsid yang paling kompleks ditemukan pada
virus Bbakteriofaga (faga). Faga yang pertama kali dipelajari mencakup tujuh faga yang
menginfeksi bakteri Escherichia coli, ketujuh faga ini diberi nama tipe 1 (T1), tipe 2 (T2),
tipe 3 (T3) dan seterusnya sesuai dengan urutan ditemukannya.
2. Kapsomer
Kapsomer adalah subunit-subunit protein dengan jumlah jenis protein yang biasanya
sedikit, kapsomer akan bergabung membentuk kapsid, misalnya virus mozaik tembakau yang
memiliki kapsid heliks (batang) yang kaku dan tersusun dari seribu kapsomer, namun dari
satu jenis protein saja.
3. Struktur tambahan lainnya
Struktur tambahan lainnya, yaitu selubung virus yang menyelubungi kapsid dan berfungsi
untuk menginfeksi inangnya. Selubung ini terbentuk dari fosfolipid dan protein sel inang
serta protein dan glikoprotein yang berasal dari virus itu sendiri. Tidak semua virus memliki
struktur tambahan ini, ada beberapa yang memilikinya, misalnya virus influenza. Secara
kebetulan faga tipe genap yang diketemukan (T2, T4 dan T6) memiliki kemiripan dalam
struktur, yaitu kapsidnya memiliki kepala iksohedral memanjang yang menyelubungi DNA

16

dan struktur tambahan lainnya, yaitu pada kepala iksohedral tersebut melekat ekor protein
dengan serabut-serabut ekor yang digunakan untuk menempel pada suatu bakteri.

2.9Pengertian HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah nama untuk virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia virus ini terus bertambah banyak hingga
menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak sanggup lagi melawan virus yang masuk.
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan berbagai gejala
penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi virus HIV tersebut.
Infeksi virus HIV secara perlahan menyebabkan tubuh kehilangan kekebalannya oleh
karenanya berbagai penyakit akan mudah masuk ke dalam tubuh. Akibatnya penyakitpenyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi bahaya bagi tubuh.

2.10

Penularan HIV/AIDS

HIV hidup disemua cairan tubuh tetapi hanya bisa menular melalui cairan tubuh tertentu,
yaitu:
1.

Darah

2.

Air Mani

3.

Cairan vagina

4.

Air susu Ibu (ASI)

Selain itu, AIDS dapat menular dengan cara sebagai berikut:


1. Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV
2. Transfusi darah yang mengandung virus HIV
3. Melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang sudah di pakai orang yang
mengidap virus AIDS
4. Hubungan pranatal, yaitu pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus AIDS
kepada janin yang dikandungnya
HIV Tidak Menular dalam :

Bersentuhan
Berciuman, bersalaman dan berpelukan
Penggunaan peralatan makan dan minum yang sama
Penggunaan kamar mandi atau jamban yang sama
Kolam renang
Gigitan nyamuk
Tinggal semuah
17

Duduk bersama dalam ruangan tertutup

2.11

Perjalanan Penyakit HIV/AIDS

Fase Pertama
Fase dimana tubuh sudah terinfeksi HIV, gejala dan tanda belum terluhat jelas, kadang kala
timbul dalam bentuk influenza, tetapi sudah dapat menulari orang lain. Fase ini dikeal dengan
periode jendela (window period)
Fase Kedua
Berlangsung sampai 2-10 tahun setelah terinfeksi HIV. Hasil tes darah terhadap HIV sudah
positif tetapi belum menunjukkan gejala-gejala sakit. Orang ini dapat menularkan HIV
kepada orang lain.
Fase Ketiga
Mulai muncul gejala-gejala penyakit terkait dengan HIV seperti, Keringat dingin berlebihan
pada waktu malam, Diare terus menerus, Perkembangan kelenjar getah bening, Flu tidak
sembuh-sembuh , Nafsu makan berkurang, Berat badan terus menurun , yaitu 100% dari berat
badan awal waktu 1 bulan
Fase Keempat
Pada fase ini kekebalan tubuh berkurang dan timbul penyakit tertentu yang disebut infeksi
oportunistik sepeti:
o
o
o
o
o

Kanker kulit yang disebut dengan sarcoma kaporsi


Infeksi paru-paru (TBC)
Infeksi usus yang menyebabkan diare terus-menerus
Infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental, sakit kepala, dan sariawan.
Penurunan berat badan lebih dari 100%

Fase ketiga dan keempat disebut dengan fase AIDS

2.12 Gejala-Gejala HIV/AIDS


Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup dalam
tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit namun terlihat betapa
sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala AIDS tampak setelah + 3 bulan.
Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah :
-Berat badan turun dengan drastis.
-Demam yang berkepanjangan(lebih dari 38 0C)
-Pembesaran kelenjar (dileher), diketiak, dan lipatan paha)yang timbul tanpa sebab.

18

-Mencret atau diare yang berkepanjangan.


-Timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit (Kanker kulit atau KAPOSI
SARKOM).
-Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan.
-Sariawan yang tidak sembuh-sembuh.
-Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS, yang lamakelamaan akan berakhir dengan kematian.

2.13Alur HIV Menyerang Sistem Kekebalan Tubuh


Tubuh mempunyai system kekebalan yang bertugas untuk melindungi kita dari penyakit
apapun yang menyerang kita dari luar. Anti bodi adalah protein yang dibuat oleh sisitem
kekebalan tubuh ketika banda asing masuk ke tubuh manusia. Bersama dengan bagian system
kekebalan tubuh yang lain, antibody bekerja untuk menghancurkan berbagai penyebab
penyakit, yaitu bakteri, jamur, virus dan sebagainya.
Sistem kekebalan tubuh kita membuat antibody yang berbeda-beda sesuai dengan kuman
yang dilawannya. Ada antibody khusus untuk semua penyakit, termaksud HIV. Anti body
khusus HIV inilah yang terdeteksi keberadaanya ketika hasil tes HIV kita dinyatakan reaktif
(positif).
Salah satu jenis antibody yang berbeda pada sel darah putih adalah CD4. Fungsinya
seperti saklar yang menghidupkan dan memadamkan kegiatan system kekebalan tubuh,
tergantung ada tidaknya kuman yang dilawan.
HIV yang masuk kedalam tubuh menularkan sel CD4, membajak sel tersebut, dan
kemudia menjadikannya pabrik yang membuat miliaran virus baru. Ketika proses tersebut
selesai, partikel HIV yang baru meninggalkan sel dan masuk ke sel CD4 yang lain. Sel yang
ditinggalkan menjadikannya rusak dan mati. Jika sel-sel ini hancur atau jumlahnya
berkurang, maka system kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk melindungi tubuh
kita dari serangan penyakit. Keadaan ini membut kita mudah terserang berbagai penyakit.
Jumlah sel CD4 dapat dihitung melalui tes darah khusus. Jumlah normal pada orang sehat
berkisar antara 500 sampai 1000. Setelah kita terinfeksi HIV, jumlah ini biasanya turun terus.
Jadi kadar ini mencerminkan kesehatan system kekebalan tubuh kita, semakin rendah,
semakin rendah system kekebalan tubuh. Jika jumlah CD4 turun di bawah 200, ini
menunjukkan bahwa system kekebalah tubuh kita sudah cukup rusak sehingga infeksi
oportunistik dapat menyerang tubuh kita. Ini berarti kita sudah sampia pada fase AIDS. Kita
dapat mempertahankan system kekebalan tubuh kita agar tetap baik dengan memakai obat
antiretroviral.
Untuk sementara ini, sarana tes CD4 tidak tersedia luas di Indonesia, dan biaya tesnya
mahal. Karena sel CD4 adalah anggota golongan sel darah putih yang disebut limfosit,
jumlah limfosit total juga dapat memeberi gambaran tentang kesehatan system kekebalan
tubuh. Tes ini, yang biasa disebut sebagai total lymphocyte atau TLC, harganya lebih murah
dan dapat dilaksanakan hamper disemua laboratorium.
19

Seperti jumlah CD4 , semakin rusak system kekebalan, semakin rendah TLC. Pada orang
sehat, TLC normal adalah kurang-lebih 2000. Jumlah TLC 1200, ada fase dimana gejalagejala penyakit muncul dapat dikatakan dengan CD4 sejumlah 200.

2.14

Cara Pencegahan Penularan HIV/AIDS

Ada beberapa poin penting untuk pencegahan penyebaran dan penularan HIV/AIDS
tersebut, diantaranya yaitu:
a. Pencegahan yang utama adalah melalui pendidikan Agama dan pendidikan seks yang
benar
b. Menghindari perilaku seks bebas dan penyimpangan seksual
c. Tidak mengkonsumsi narkoba
d. penggunaan jarum suntik yang steril
e. pemantauan kaum lelaki di lingkungan kerja serta perlindungan terhadap perempuan
dan remaja putri
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk mencegah
penularan AIDS yaitu, misalnya : memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi kepada
seluruh masyarakat tentang segala sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, yaitu melalui
seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang berhubungan
dengan AIDS, ataupun melalui iklan diberbagai media massa baik media cetak maupun
media elektronik.penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan
berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat, agar seluarh masyarakat dapat
mengetahui bahaya AIDS, sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang
bisa menimbulkan virus AIDS.

2.15Pengobatan HIV/AIDS
AIDS tidak ada obatnya! Ini salah! Saat ini sudah ada obat yang dapat menekan jumlah
HIV, virus penyebab aids,di tubuh kita. Dengan penggunaan obat ini, diharapkan jumlah virus
HIV akan sangat berkurang di dalam tubuh kita. Supaya obat itu dapat bekerja secara aktif,
kita harus memakai sedikitnya kombinasi tiga obat sekaligus. Kombinasi obat ini dikenal
sebagai terapi antiretroviral atau ART. Apabila seseorang sudang menggunakan ART , maka
orang tersebut harus menggunakan ART terus menerus seumur hidup agar tetap aktif. ART
tidak dapat memberantas HIV dari seluruh tubuh kita, jadi tidak dapat menyembuhkan dari
infeksi HIV.
Terapi Itu bekerja
Obat Antiretroviral (ART) membantu kita dengan menghambar proses pembuatan
HIV dalam sel CD4, dengan demikian mengurangai jumlah virus yang tersedia untuk
menularkan ke sel CD4 yang lain. Akibatnya system kekebalan tubuh kita dilindungi dari
kerusakan dan mulai pulih kembali, seperti ditunjukkan oleh peningkatan jumlah sel CD4.
Manfaat ART :
20

Menghambat perjalanan penyakit HIV


Meningkatkan jumlah sel CD4
Mengurangi jumlah virus dalam darah
Merasa lebih baik.

BAB III
PENUTUP
3.1Kesimpulan
Imunomodulator merupakan senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme
pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non
spesifik baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral.
Terdapat 2 jenis Imunomodulator yaitu Imunomodulator sintesis dan imunomodulator
alam. Imunomodulator sintesis adalah seperti Isoprinosin, Levamisol.
Metode uji aktivitas imunomoduator yang dapat digunakan, yaitu : Metode bersihan
karbon (Carbon-Clearance), Uji granulosit, Bioluminisensi radikal, Uji transformasi
limfosit T.
Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat
kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid.
Virus AIDS ditemukan dalam cairan sperma, cairan vagina dan pada darah, serta
penularannya terjadi melalui hubungan seksual, alat suntik narkotika, transfusi darah dan
ASI. AIDS dapat menyerang siapa saja yang melakukan perilaku yang menyebabkan
AIDS (hubungan seksual berganti-ganti, pemakai narkotika suntik, transfusi darah yang
tercemar).

3.2Saran
21

Dengan adanya makalah sederhana ini, penulis mengharapkan agar para pembaca
dapat memahami materi Imunologi , sera, vaksin, dan penyakit HIV AIDS ini dengan
mudah. Saran dari penulis agar para pembaca dapat menguasai materi singkat dalam
makalah ini dengan baik, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan soal dan mencari
literatur lain yang berhubungan agar semakin menguasai materi.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI, 2009. Pusat Promosi Kesehatan (Sehat dan Positif Untuk ODHA .
Jakarta
ghie.wordpress.com/2007/02/01/asal-usul-hivaids
Mansjoer, Arif.dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran
Allifudin, M.2002. Imunostimulasi pada hewan akuatik
Handayani, Gemi.2010 Imunomodulator
http://info.medion.co.id/index.php/artikel/broiler/penyakit/gumboro-menghadang-tak-perlukhawatir
http://obatindonesia.com/2013/11/10/imunomodulator-obat-kekebalan-tubuh-waspadaibukan-sekedar-vitamin-biasa/
Alamgir, M., and Uddin, SJ., 2010, Recent advances on the ethnomedicinal plants as
immunomodulatory agents, in Ethnomedicine: A Source of Complementary Therapeutics:
227-244 ISBN: 978-81-308-0390-6 Editor: Debprasad Chattopadhyay
Djajakusumah, S.2010. The Role Of Immunomodulator In The Treatment Of Sexuelly
Transmitted Infections
Anderson WL. 1999. Introduction to the Immune System: Innate and Acquired Immunity.
Dalam: Immunology. Fence Creek Publishing. Madison.: 7-22.
Baratawidjaja K. 2006. Sistem Imun. Dalam: Imunologi Dasar, Balai Penerbit FKUI, Jakarta,
Edisi 7.

22

23