Anda di halaman 1dari 13

Data Pasien

Nama
: Tn. IS
Usia
: 62 tahun
Jenis Kelamin
: Laki - laki
Pekerjaan : Buruh
Alamat
: Sindangkasih, Purwakarta
Tgl Masuk RS
: 7 September 2016
Tgl Keluar RS
:
Gambaran Klinis
Anamnesis
Keluhan Utama :
Tidak dapat berkemih
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan tidak dapat berkemih sejak 5 hari sebelum
masuk rumah sakit. Pasien mulai merasakan sulit berkemih sejak kurang
lebih 6 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku harus
mengedan saat hendak memulai berkemih, selain itu pasien juga
mengeluh pancaran air kencing menjadi lebih lemah. Setelah berkemih
pasien mengaku terkadang air kencing masih menetes, dan terasa kurang
puas. Pasien juga mengeluh menjadi sulit menahan kencing, bahkan
sampai terbangun 2 - 3 x pada malam hari untuk berkemih. Pasien juga
mengeluh nyeri di daerah perut bagian bawah.
Keluhan seperti nyeri saat berkemih, kencing berdarah, keluar batu saat
kencing, dan nyeri di ujung kemaluan disangkal. Pasien juga mengaku
tidak pernah merasakan nyeri pinggang.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku belum pernah terkena batu ginjal sebelumnya.
Riwayat kencing manis disangkal.
Riwayat darah tinggi disangkal.
Riwayat Pengobatan
Pasien sudah pernah berobat ke rumah sakit sebelumnya, dan meminum
obat untuk pembesaran prostat selama 3 bulan terakhir, namun tidak ada
perbaikan.
4 hari sebelum masuk rumah sakit pasien sempat berobat ke poliklinik
urologi rumah sakit lain dan dilakukan pemasangan kateter. Kateter masih
terpasang hingga sekarang.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan
pasien.
Riwayat Pekerjaan
Dahulu pasien bekerja sebagai buruh, namun sekarang telah pensiun.

Pemeriksaan FIsik
Keadaan Umum : Kesan sakit sedang
Kesadaran
: Compos menits
Status ANtropometri
: BB : Kg
TB :
BMI :
Tanda VItal
:T
: 130/90 mmHg
N
: 84x/menit ( regular, equal, isi cukup)
R
: 20x/menit
S
: 36.8oC
Kepala
: Kulit
: Teraba hangat, tidak pucat, tidak
ikterik, tidak sianosis
Kepala
: Mesocephal, rambut hitam, tidak mudah
dicabut
Mata
: Konjungtiva Anemis -/-, Skelra Ikterik
-/-, Kelopak
mata cekung -/-, Pupil isokor,
diameter 3mm, refleks
cahaya +/+ normal
Hidung
: Pernafasan Cuping Hidung -, Rinorrhea Mulut
: Sianosis perioral -, mukosa mulut dan
bibir basah,
Tonsil T1/T1, tidak
hiperemis, kripta tidak melebar
Leher
: KGB tidak teraba membesar, Retraksi
Suprasternal JVP tidak meningkat
Thorax
: Bentuk dan pergerakan simetris
Retraksi Intercostal Cor
: Ictus cordis tampak di ICS V LMCS, kuat angkat dalam
batas normal
Batas Kanan
: LSD
Batas Kiri : ICS V, 2 cm LMCS
Bunyi jantung murni, S1=S2, murmur -, regular
Pulmo
: VBS +/+, Ronchi -/-, Wheezing -/Abdomen
: Inspeksi : Retraksi Epigastrium -, datar
Auskultasi : Bising Usus + Normal
Palpasi
: Lembut, soepel, nyeri tekan Hepar dan Lien tidak teraba membesar
Perkusi
: Timpani, ruang traube kosong
Ekstremitas
: Akrosianosis -, Edema pretibial -/Akral hangat, CRT <2 detik
Status Lokalis
Regio Supra Pubis
Vesica Urinaria
: Teraba
Nyeri Tekan
:Regio Genitalia Eksterna : Terpasang kateter urin, jumlah urin kurang lebih
250 cc, warna kuning agak keruh
Rectal Touche : Tidak dilakukan

Pemeriksaan Laboratorium (1 September 2016)


Hb
: 14.4 g/dL
Ht
: 43 %
Leukosit
: 4000 /mm3
Eritrosit
: 4.84 juta /mm3
Trombosit : 184.000 /mm3
GDS
: 97 mg/dL
Ureum
: 29 mg/dL
Creatinin : 1.14 mg/dL
Urinalisis Rutin (7 September 2016)
Urine Makroskopis
Warna
: Kuning
Kekeruhan : Agak keruh
pH
: 5.0
Berat Jenis : 1.010
Protein
: Negatif
Reduksi
: Negatif
Bilirubin
: Negatif
Urobilin
: Negatif
Nitrit
: Negatif
KEton
: Negatif
Blood
: Positif 3
Leukosit
: Positif 1
Urine

Mirksokopis
Leukosit
:
Eritrosit
:
Silinder
:
Sel Epitel :
Krsistal
Bakteri
Sel Ragi
:
Parasit

5 - 7 / LPB
30 - 40 / LPB
0 / LPK
Gepeng Positif 1
: Negatif
: Positif 1
Negatif
: Negatif

Diagnosis Banding :
Bening Prostatic Hyperplasia (BPH)
Carcinoma Prostat
Vesicolithiasis
Pemeriksaan Penunjang
USG Prostat
Prostate Spesific Antigen
Diagnosis
Bening Prostatic Hyperplasia (BPH)

Penatalaksanaan
IVFD RL 20 tetes per menit
Ceftriaxon 2x1 gram IV
Ranitidin 2x1 amp IV
Harnal 0.2 mg 1x1 PO
Rencana tindakan : TURP
Follow Up
8 September 2016
S:
Pasien mengeluh sedikit nyeri pada saluran kencingnya
nyeri pinggang disangkal
O:
Tensi : 130/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
Respirasi :20x/menit
Suhu : 36,6 oC
Nyeri tekan suprapubis bising usus + normal
Kateter : Urin +, 300cc, warna kuning, tidak keruh
A : Benign Prostatic Hyperplasia
P:
Rencana TURP Hari ini
Instruksi Post OP
IVFD NaCl 20 tetes per menit
Ceftriaxone 2x1 gram IV
Ketorolac 2 x 30 gram IV
Kalnex 3x1 ampul Injeksi
3 way Catheter untuk drainase : Infus Guyur
9 September 2017
S : Keluhan Bekas operasi masih terasa sedikit nyeri
O:
Tensi : 140/80 mmHg
Nadi : 88x/menit
Respirasi : 22x/menit
Suhu : 36.8 oC
Nyeri tekan suprapubis bising usus + normal
Kateter : Darah A : Benign Prostatic Hyperplasia Post Op TURP Hari 1
P:
IVFD NaCl 20 tetes per menit
Ceftriaxone 1x1 gram IV
Ketorolac 2 x 30 gram IV
3 way Catheter untuk drainase : Infus 60 tetes per menit
Mulai mobilisasi duduk hari ini

10 September 2017
S : Keluhan O:
Tensi : 130/90 mmHg
Nadi : 88x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.8 oC
Nyeri tekan suprapubis bising usus + normal
Kateter : Darah A : Benign Prostatic Hyperplasia Post Op TURP Hari 1
P:
Boleh pulang hari ini
Obat pulang :
Na Diklofenak 3 x 25 mg PO
Harnal 0.2 mg 1x1 PO
Antibiotik ?
Prognosis :
Quo ad Vitam
Quo ad Functionam
Quo ad Sanationam

: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


Subjektif
Gejala dari Benign prostatic hyperplasia dapat berupa retensio
urine, atau gejala Lower urinary Tract Symptoms (LUTS), atau campuran
keduanya. Pasien datang dengan keluhan tidak dapat berkemih dan
kateter sudah terpasang sejak 5 hari yang lalu. Dengan kata lain pasien
mengalami retensio urin. Pada kasus ini pasien juga mengeluh harus
mengedan saat hendak mulai berkemih, selain itu pancaran air kencing
terasa lemah, setelah berkemih air kencing masih menetes, dan rasa tidak
puas setelah berkemih, gejala gejala tersebut merupakan gejala obstruktif
dari Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS). Pasien juga mengeluhkan
menjadi lebih sulit menahan kencing, dan sering terbangun pada malah
hari untuk berkemih, gejala ini merupakan gejala iritatif dari Lower
Urinary Tract Symptoms (LUTS). Gejala gejala tersebut mengarahkan
diagnosis ke Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).
Terdapat anamnesis yang dapat menyingkirkan diagnosis banding,
yaitu tidak adanya kencing berdarah, dan keluar batu saat kencing
menyingkirkan diagnosis banding batu salurah kemih. Tidak adanya nyeri
saat berkemih, dan nyeri di ujung kemaluan menyingkirkan diagnosis
banding Infeksi Saluran Kemih (ISK). Tidak adanya nyeri pinggang
mengarahkan bahwa kemungkinan besar tidak ada metastasis tersering
dari carcinoma prostat yaitu ke vertebra.
Obyektif

Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang (terutama USG Prostat) sangat


mendukung diagnosis Benign prostatic hyperplasia (BPH). Pada kasus ini
diagnosis Benign Prostatic Hyperplasia dapat ditegakkan berdasarkan :
Anamnesis, Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium yaitu USG
Prostat dan Urinalisis Rutin
Assessment : Benign Prostatic Hyperplasia
Definisi :
Benign Prostatic Hyperplasia adalah suatu keadaan dimana terjadi
pembesaran kelenjar prostat akibat dari hiperplasia yang mengakibatkan
timbulnya gangguan pada aliran urine saat melewati urethra, sehinga
mengakibatkan gangguan berkemih.

Kelenjar
prostat
merupakan
bagian dari
sistem
reproduksi
pria.
Kelenjar ini
mengelilingi
urethra pars
prostatica. Prostat berbentuk seperti buah kenari dan berukuran 4 x 3 x
2.5 cm, dengan berat 20 gram pada keadaan normal. Prostat terdiri dari
komponen kelenjar dan stroma. Komponen stroma sendiri terdiri dari
jaringan otot polos fibroblast,dan pembuluhdarah. Prostat dibagi menjadi
3 zona oleh McNeal, yaitu zona sentral, zona perifer, dan zona transitional.
Pada Benign prostatic hyperplasia terjadi pembesaran pada zona
transitional yang tepat mengelilingi urethra pars prostatica sehingga
menimbulkan gangguan aliran urin melewati urethra pars prostatica.
Berbeda dengan Benign prostatic hyperplasia, sebagian besar carcinoma
prostat timbul dari zona perifer, sehingga gejala obstruksi saluran kemih
pada carcinoma prostat pada umumnya tidak seberat pada benign
prostatic hyperplasia.
Etiologi
Penyebab benign prostatic hyperplasia belum diketahu secara pasti
hingga saat ini, namun beberapa teori menyebutkan bahwa pembesaran

prostat berhubungan dengan kadar Dihidrotestosteron (DHT) dan proses


aging.
Faktor risiko utama untuk terjadinya BPH adalah bertambahnya usia pada
pria, dan adanya hormon testosteron (Androgen)
Insidensi
BPH merupakan tumor jinak tersering yang dapat ditemukan pada pria.
Pada usia 50 tahun diperkirakan 50% pria telah memiliki BPH. Insidensi
tersebut meningkat seiring dengan bertambahnya umur, dimana pada
usia 90 tahun 90% pria memiliki BPH. BPH merupakan penyebab LUTS
tersering pada pria.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang paling penting pada BPH adalah
pemeriksaan colok dubur (Rectal Touche). Pada pemeriksaan ini
pemeriksa mencoba meraba kelenjar prostat penderita. Selain memeriksa
ada atau tidaknya pembesaran prostat, pemeriksan juga harus memeriksa
apakah terdapat asimetris pada kelenjar prostat, apakah terdapat nodul
pada prostat, apakah polus superior dapat teraba, apakah sulcus
medianus dapat teraba, dan apakah terdapat krepitasi. Pada BPH
umumnya konsistensi kenyal, bentuknya simetris dan tidak terdapat
nodul, sedangkan pada carcinoma prostat biasanya konsistensinya keras,
berbentuk asimetris, dan terdapat nodul.
Jika BPH telah menyebabkan retensio urin, makan vesica urinaria
dapat teraba membesar. Selain itu BPH juga dapat menyebabkan
terjadinya hernia pada orang tua, oleh karena itu daerah inguinal juga
harus diperiksa. BPH juga dapat menyebabkan komplikasi batu saluran
kemih, atau infeksi saluran kemih, dimana pada pemeriksaan fisik dapat
ditemukan nyeri suprapubis, ginjal teraba membesar, dan nyeri tekan
pada daerah CVA.
Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis dilakukan untuk melihat apakah terdapat darah, leukosit,
bakteri, maupun batu pada urin. Bila ditemukan adanya bakteri dan
leukosit, perlu dipikirkan kemungkinan adanya infeksi saluran kemih. Bila
terdapat hematuria, perlu dipikirkan adanya keganasan, batu saluran
kemih, dan infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ureum dan kreatinin juga
penting dilakukan untuk menilai fungsi ginjal pasien.
Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan pada penderita BPH
antara lain BNO, BNO IVP, Urethrocystografi, dan USG. Pemeriksan BNO
dan BNO IVUP dilakukan untuk melihat apakah ada bayangan batu pada
saluran kemih. BNO IVP dapat dilakukan untuk melihat apakah ada batu
pada saluran kemih, dan melihat apakah ada hidronefrosis ataupun
hidroureter, serta faktor faktor penyulit yang ada di vesica urinaria. Pada
penderita BPH foto BNO IVP post miksi akan menunjukan gambaran residu
urin.
Pemeriksaan USG merupakan salah satu pemeriksaan yang paling
sering dilakukan untuk menegakkan diagnosis BPH. Pemeriksaan USG
dapat dilakukan secara Trans Abdominal ultrasound, ataupun Trans Rectal

Ultrasound. Trauns Abdominal Ultrasound digunakan untuk menilai volume


buli, volumi sisa urin, dan apakah ada divertikulum, tumor, ataupun batu
pada vesika urinaria. Trans Rectal Ultrasound digunakan untuk mengukur
volume prostat. Diagnosis BPH ditegakkan bila volume prostat diatas 60
gram. Pemeriksaan Trans Rectal Ultrasound dapat juga digunakan untuk
guiding biopsi prostat apabila dicurigai adanya keganasan prostat.
Pemeriksaan Uroflowmetri dapat dilakukan untuk menilai kekuatan
tekanan pancaran urin saat pasien berkemih. Pemeriksaan ini bersifat
noninfasif dan dapat membantu penilaian fungsi vesica urinaria dan
sfingter, serta melihat apakah ada obstruksi pada urethra.
Bila terdapat kecurigaan adanya keganasan prostat dapat dilakukan
pemeriksaan Prostate Specific Antigen (PSA) sebagai bio marker
keganasan pada prostat. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sebagai uji
saring untuk deteksi dini adanya keganasan prostat. Bila nilai PSA <4
ng/mL maka biopsi tidak perlu dilakukan. Bila nilai PSA 4 - 10 ng/mL, maka
disarankan untuk melakukan penghitungan prostate specific antigen
density (PSAD) yaitu dengan cara membagi PSA serum dengan volume
prostat, bila PSAD 0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsi prostat. Bila PSA >10 ng/mL
maka biopsi sangat disarankan untuk dilakukan.
Indikasi biopsi prostat
1. Bila pada RT dicurigai adanya keganasan
2. Nilai PSA > 10 ng/ml atau PSA 4 10 ng/ml dengan PSAD > 0,15
(Standar internasional)
3. Nilai PSA > 30 ng/ml atau PSA 8 30 ng/ml dengan PSAD > 0,22
(Standar Jakarta)
Diagnosis
Bengin Prostatic Hyperplasia
BPH merupakan penyakit yang sangat sering ditemukan pada pria
dengan usia diatas 50%. Diperikirakan sebanyak 50% pria diatas usia 50
tahun telah mengalami BPH, dan separuhnya memiliki keluhan. Faktor
risiko utama terjadinya BPH adalah peningkatan Usia pada pria.
Pada BPH terjadi peningkatan proliferasi dari jaringan prostat yang
berada disekitar urethra sehingga urethra terdesak dan terjadi gangguan
berkemih. Secara histologis pada prostat yang mengalami BPH terjadi
peningkatan jumlah sel epitelial dan sel stromal pada daerah periuretral
dari prostat. Peningkatan jumlah sel epitelial dan sel stromal ini terjadi
akibat adanya peningkatan proliferasi sel dan melambatnya proses
apoptosis, sehingga terjadi akumulasi selular pada kelenjar prostat.
Terdapat beberapa teori yang menjelaskan terjadinya pembesaran
prostat, antara lain :
1. Teori Stem Cell
Teori ini menyatakan bahwa pada BPH terjadi ketidak tepatan aktivitas
stem cell pada prostat sehingga terjadi produksi yang berlebihan dari sel
epitelial dan sel stroma pada prostat.

2. Teori Reawakening
Pada teori ini dkatakan bahwa lesi palinga wal dari BPH adalah berupa
proliferasi dari sel epitel yang diduga terjadi karena pengaruh DHT pada
jaringan stroma dan epitelial prostat yang potensi untuk dapat terinduksi
seperti pada fase embrilogik nya ter aktivasi kembali pada usia tua
(reawakening).
3. Teori Ketidakseimbangan Androgen dan Estrogen
Pada teori ini dinyatakan bahwa hiperplasia kelenjar prostat disebabkan
karena ketidakseimbangan antara kadar testosteron dan estrogen.
Testosteron dalam bentuk aktifnya yaitu dihidrotestosteron (DHT) akan
berikatan dengan reseptor DHT di sel prostat dan menyebabkan
terjadinya proliferasi sel prostat. Seiring dengan bertambahnya usia
produksi testosteron akan berkurang, sedangkan produksi estrogen di
jaringan adiposa oleh enzim aromatase akan meningkatkan peningkatan
kadar estrogen. Ketidakseimbangan kadar testosteron dan estrogen ini
yang menyebabkan terjadinya hiperplasia pada kelenjar prostat.
4. Teori DHT
Pada penderita BPH kadar DHT tidak jauh berbeda dengan nilai
normalnya, tetapi pada penderita BPH aktivitas enzim 5-reduktase
meningkat, dan selainitu terjadi juga peningkatan reseptor androgen pada
prostat. Hal ini menyebabkan jaringan prostat pada penderita BPH
menjadi lebih sensitif terhadap DHT.
5. Teori apoptosis
Pada teori ini diperkirakan pada penderita BPH terjadi gangguan apoptosis
pada sel prostat, sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan sel sel
prostat yang tua, dan selularitas prostat secara umum meningkat,
sehingga massa prostat juga mengalami peningkatan. Faktor faktor yang
menyebabkan gangguan apoptosis belum diketahui secara jelas hingga
sekarang.
Anamnesis
Secara umum gejala dari BPH terdiri dari retensio urin dan LUTS.
Gejala LUTS dapat dibagi menjadi gejala obstruktif dan gejala iritatif.
Gejala obstruktif disebabkan karena adanya penyempitan urethra pars
prostatica karena adanya pendesakan oleh jaringan prostat yang
membesar, dan juga disebabkan oleh kegagalan otot detrusor untuk
berkontraksi cukup kuat atau cukup lama untuk mengeluarkan urin.
Manifestasi klinis gejala obstruksi pada penderita BPH dipengaruhi
oleh volume kelenjar prostat, elastisitas leher vesica urinaria, otot polos
prostat dan kapsul prostat, dan kekuatan otot detrusor. Apabila otot
detrusor masih dapat megimbangi tahanan yang diberikan oleh prostat
maka gejala obstruktif dapat tidak dirasakan oleh pasien. Gejala
Obstruktif antara lain :
Hesitancy
: Harus menunggu sebelum air kencing mulai
mengalir
Intermittency
: Miksi terputus
Terminal Dribbling
: Air kencing masih menetes setelah
berkemih
Poor stream
: Pancaran air kencing lemah

Perasaan tidak puas setelah berkemih.


Gejala iritatif disebabkan karena pengosongan vesica urinaria yang
tidak sempurna atau juga disebabkan oleh karena hipersensitifitas otot
detrusor karena regangan pada vesica urinaria, yang mengakibatkan
vesica sering berkontraksi walaupun belum penuh. Gejala iritatif antara
lain :
Frequency
Urgency
Nocturia
Dysuria
Gejala obstruktif dan iritatif pada BPH1
Obstruktif
Menunggu pada permulaan miksi (hesitancy)
Miksi terputus (intermittency)
Urin menetes pada akhir miksi (terminal
dribbling)
Pancaran miksi lemah
Rasa tidak puas setelah miksi (tidak lampias)

Iritatif
Peningkatan frekuensi miksi (frequency)
Peningkatan frekuensi miksi malam hari
(nocturia)
Miksi sulit ditahan (urgency)
Nyeri pada waktu miksi (dysuria)

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan colok dubur dilakukan penilaian terhadap tonus
sfingter ani, mukosa rektum, dan prostat. Jika batas atas prostat masih
teraba, diperkirakan berat prostat kurang dari 60 gram. Pemeriksaan
colok dubur pada penderita BPH biasanya didapatkan prostat membesar,
polus superior tidak teraba, simetris, tidak terdapat nodul, konsistensi
kenyal. Pada pemeriksaan colok dubur harus dibedakan gambaran BPH
dan adenokarsinoma prostat.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis
BPH, dan untuk mendeteksi apakah ada komplikasi dan faktor komorbid
pada penderita BPH seperti infeksi saluran kemh, penurunan fungsi ginjal,
batu saluran kemih, dan diabetes melitus. Oleh karena itu harus dilakukan
pemeriksaan laboratorium seperti urinalisis rutun, ureum, creatinin, dan
gula darah puasa.
Pemeriksaan pencitraan yang penting dilakukan adalah
pemeriksaan USG prostat. Dengan pemeriksaan USG prostat dapat
diperkirakan berapa besar volume prostat, selain itu pemeriksaan ini juga
dapat melihat apakah ada kecurigaan keganasan prostat. Jika volume
prostat diatas 60 gram maka prostat dianggap membesar.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada penderita BPH bertujuan untuk memperbaiki
keluhan berkemih, meningkatkan kualitas hidup, mengurangi obstruksi,

mempertahankan fungsi ginjal jika terjadi komplikasi, mengurangi volume


residual urine setelah miksi, dan mencegah progesifitas penyakit.
Tidak semua penderita BPH memerlukan tindakan infasif seperti
operasi. Pengunaan sistem scoring IPSS dapat membantu dokter untuk
menentukan pilihan terapi mana yang paling sesuai dengan kondisi
pasien.
Skor

Kategor
i
0-7
Ringan
8-18 Sedang
19-35 Berat

Tatalaksana
Watchful waiting
Medikamentosa
Operasi

Watchful Waiting
Pilihan rencana penatalaksanaan ini cocok pada pasien dengan
gejala yang tidak terlalu menganggu, dan memiliki skor IPSS dibawah 8.
Pada kategori ini risiko komplikasi yang mungkin ditimbulkan dari tindakan
invasif melebihi gejala yang dikeluhkan pasien. Pada golongan ini 25%
pasien mengalami perbaikan gejala, 50% gejala tidak berubah, dan 25%
mengalami perburukan dan membutuhkan terapi. Besarnya prostat tidak
berbanding lurus dengan gejala yang dikeluhkan pasien.
Pada umumnya pasien hanya diberikan edukasi mengenai
penyakitnya. Selain itu pasien perlu diminta untuk kontrol secara rutin
untuk dilakukan penilaian ulang terhadap gejala pasien. Disarankan untuk
menilai ulang skor IPSS setiap 3 bulan. Pasien sebaiknya diedukasi agar
mengurangi intake cairan pada malam hari, mengurangi konsumsi alkohol
dan kopi, serta mempunyai jadwal berkemih yang teratur.
Terapi Medikamentosa (Medical Treatment)
Pilihan rencana penatalaksanaan ini diberikan pada pasien dengan
gejala LUTS yang cukup menganggu, dengan skor IPSS diatas 7, namun <
19. Apabila hendak memberikan terapi medikamentosa pada pasien
dengan BPH harus dipastikan diagnosis adenokarsinoma prostat telah
disingkirkan. Terapi medikamentosa yang diberikan pasien antara lain :

Alpha Blocker : obat golongan ini dapat menyebabkan relaksasi dari


leher vesica urinaria, dan relaksasi otot polos pada jaringan
prostat.sehingga menyebabkan berkurangnya tahanan terhadap
aliran kencing (dynamic obstruction),. Contoh obat golongan ini
adalah tamsulosin, terrazosin, doxazosin.Efek samping obat
golongan ini adalah hipotensi ortostatik, dan gangguan ejakulasi.
5- alpha reductase inhibitor : obat golongan ini dapat mengurangi
kadar hormon DHT dengan cara menginhibisi enzim 5 alpha
reductase. Penurunan kadar DHT akan menyebabkan berkurangnya
ukuran prostat, sehingga mengurangi tahanan terhadap aliran
kencing (static obstruction). Contoh obat golongan ini adalah
finasteride, dann dutasteride. Efek samping obat golongan ini
adalah penurunan libido dan gangguan ejakulasi pada tahun
pertama penggunaan obat.

Fitoterapi : biasanya berasal dari berbagai ekstrak tumbuhan.


Secara ilmiah banyak yang belum terbukti, namun fitoterapi dapat
menurunkan gejala penderita dan memperbaiki skor IPSS. Contoh
fitoterapi adalah saw palmetto extract.

Pembedahan
Terapi pembedahan diberikan pada penderita yang telah memiliki
komplikasi seperti batu vesica urinaria, dan hidronefrosis. Penderita yang
diberikan terapi pembedahan biasa memiliki skor IPSS >19. Pembedahan
dapat dilakukan secara invasif maupun teknik minimally invasive.
Teknik minimally invasive contohnya adalah :
TURP (Transurethral Resection of Prostate)
TURP adalah baku emas tindakan pembedahan untuk BPH. TURP
dilakukan dengan cara melakukan reseksi terhadap prostat melalui
urethra dengan menggunakan urethroscopy. TURP cocok untuk pasien
dengan gejala sedang sampai berat dengan volume prostat <90 gram.
TURP memiliki nyeri pasca operasi yang rendah, serta mobilisasi pasien
cepat, dan waktu singgah dirumah sakit yang singkat. Komplikasi jangka
pendek tindakan ini adalah perdarahan, infeksi, hiponatremia, retensi
urine karena bekuan darah. Komplikasi jangka panjangnya adalah striktur
urethrae, ejakulasi retrograd dan impotensi. Setelah tindakan biasanya
dipasang 3 way catheter untuk irigasi selama 48 jam.
TUIP (Transurethral Incision of Prostat)
Lebih cocok untuk pasien dengan prostat yang berukuran lebih keci
(<30 gram)l, dengan leher vesika urinaria yang sempit, dan tidak ada
pembesaran lobus medius prostat. Insisi dilakukan dengan menggunakan
Collin's knife, dan dilakukan tepat dibawah orificium urethra di satu sisi
atau kedua sisi nya. Tindakan ini memiliki kemungkinan komplikasi yang
rendah, namun sekitar 10% penderita akan mengalami relaps dan
membutuhkan TURP.
Prostatektomi dengan laser (Green Laser)
Teknik prostatektomi antara lain :
Prostatektomi supra pubis
Pada metode ini kelenjar prostat diangkat melalui insisi abdomen. Insisi
dibuat kedalam kandung kemih, dan kelenjar prostat diangkat dari atas.
Prostatektomi Perineal
Pada metode ini insisi dilakukan dari dalam perineum, cara ini lebih
praktis, dan berguna untuk biopsi terbuka. Tindakan ini ideal untuk pasien
dengan prostat yang besar. Perlu diperhatikan luka pasca operasi karena
mudah terkontaminasi akibat letaknya yang berdekatan dengan rektum.
Terkadang dapat terjadi komplikasi berupa inkontinensia alvi dan
impotensi.
Prostatektomi Retropubik
Pada metode ini dilakukan insisi abdomen di lokasi yang lebih rendah dan
lebih dekat ke kelenjar prostat. Insisi dilakukan di antara arkus pubis dan
kandung kemih, dan tanpa memasuki kandung kemih. Prosedur ini cocok
untuk penderita dengan prostat yang besar dan letaknya tinggi didalam

pubis. Kelemahan metode ini adalah tidak dapat mengobati penyakit


kandung kemih yang terjadi bersamaan dengan BPH.