Anda di halaman 1dari 3

Bisnis Sesuai syariah Tanpa Riba

Browse Home Bisnis sesuai syariah tanpa riba Bisnis Sesuai syariah Tanpa
Riba
Di akhir
zaman ini,
praktik riba
telah nampak
di mana-mana.
Dalam lingkup
masyarakat
terkecil
hingga tataran
negara praktik
ini begitu
merebak, baik
di perbankan,
transaksi
bisnis,
lembaga perkreditan, bahkan sampai arisan warga. Entah karena kaum muslimin bisa jadi tidak
mengetahui hukum, bentuk dan bahaya riba, atau pun bisa jadi karena mereka sudah tahu, tetapi
tetap juga dilanggar. Penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) telah menyebabkan manusia
akhir zaman ini menghalalkan segala macam cara untuk meraih kekayaan sebanyak-banyaknya,
termasuk dengan cara riba.

Sungguh, benarlah sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallama,


Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan
harta, apakah dari usaha yang halal atau haram. (HR. Bukhari).
Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya mereka memakan riba.
Ketika beliau Saw ditanya, Apakah semua orang (melakukannya)? Maka beliau Saw
menjawab, Barangsiapa yang tidak memakannya dari kalangan mereka maka ia tetap terkena
getahnya. (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasai & Ibnu Majah).
Oleh karena itu, sangat penting materi tentang riba disampaikan kepada kaum muslimin agar tidak
terjebak pada transaksi ribawi dengan segala bentuknya, apalagi bagi para pengusaha yang akrab
melakukan transaksi bisnis dan mainstreamnya sangat lekat dengan transaksi ribawi. Hal ini
penting dipahami agar bisnis yang dilakukan penuh dengan keberkahan dan diridhai Allah SWT.
Riba dalam dunia bisnis biasanya banyak terkait dengan masalah permodalan dan model transaksi
jual-beli. Beberapa contoh riba yang sering terjadi dalam transaksi bisnis :
Pinjaman dengan bunga dan denda. Misalnya: Seorang pengusaha berhutang kepada bank
atau pribadi sebesar Rp 10.000.000 dalam tempo 1 bulan dengan bunga 10% sehingga
pembayaran hutangnya menjadi Rp 11.000.000. Bila terjadi keterlambatan pembayaran

maka akan dikenai denda Rp 1.000.000 per bulan. Ini termasukriba dain (riba hutangpiutang). Menurut sebagian ulama riba dain adalah bagian dari riba nasiah.
Pinjaman tanpa bunga tetapi ada denda. Misalnya: Seorang pengusaha berhutang kepada
yayasan sebesar Rp 10.000.000 dengan bunga 0% dalam tempo 1 tahun. Namun pihak
yayasan akan memberikan denda (misal 5% per bulan) bila terjadi keterlambatan
pembayaran. Ini termasuk riba dain.
Bank meminjamkan uang kepada pengusaha tanpa bunga sebagai modal usaha dengan
syarat pihak bank mendapat prosentase keuntungan yang ditetapkan di awal (tidak peduli
apakah usaha untung atau rugi) dan nominal hutang tetap dikembalikan secara utuh. Ini
termasuk riba dain.
Bank memberikan modal kepada pengusaha dengan akad bagi hasil. Rincian
ketentuannya pihak pengusaha harus mengembalikan modalnya kepada bank per bulan
ditambah dengan prosentase keuntungan yang telah ditetapkan di awal (tidak peduli
apakah usaha untung atau rugi). Ini termasuk riba dain.
Transaksi jual-beli emas dan perak dengan uang secara tidak kontan (dikreditkan). Ini
termasuk riba nasiah.
Menjual barang secara tempo atau kredit, tetapi ketika terjadi penundaan atau
keterlambatan pembayaran dikenai denda. Ini termasuk riba nasiah.
Dan masih banyak transaksi bisnis ribawi lainnya yang detailnya tidak bisa disampaikan
dalam tulisan singkat ini.

Dalam konteks bisnis, selain hukum tentang riba maka harus diperhatikan juga aturan syariah
Islam terkait lainnya. Kapitalisme sangat kental aspek ekonominya dan pengaruhnya sudah
berurat-akar di tengah masyarakat. Ketika kita berniat menekuni dunia bisnis, kita harus benarbenar teliti pada seluruh aspeknya agar tidak menyalahi aturan Allah SWT. Misalnya, bagaimana
hukum tentang perseroan terbatas? Bagaimana akad pemasaran dengan pola leasing atau akad
sewa-beli? Bagaimana hukum pemasaran dengan pola multi level marketing? Bagaimana dengan
dua akad dalam satu transaksi? Bagaimana transaksi dengan menempatkan agunan pada barang
yang diperjualbelikan? Dan masih banyak lagi yang perlu didetailkan. Tentunya tulisan ini terlalu
sempit untuk menjelaskan itu semua.
Lalu bagaimana solusi praktis untuk mengatasi permasalahan permodalan dalam dunia bisnis agar
tidak terjebak riba? Pola yang ditawarkan Islam adalah dengan model syirkah. Salah satunya
dengan syirkah mudharabah (kerjasama bagi hasil). Syirkah mudharabah adalah kerja sama antara
dua pihak, yaitu pemodal (shohibul maal) dan pengelola (mudharib). Shohibul maal akan
memasukkan modalnya pada suatu usaha yang dikelola oleh mudharib.
kemudian mudharibmengelola usaha secara profesional dengan target menghasilkan keuntungan.
Dalam syirkah mudharabah tidak hanya bagi untung, tetapi juga bagi rugi apabila dalam
perjalanan usahanya mengalami kerugian.
Dalam sebuah pertemuan training kewirausahaan yang saya kelola, peserta memunculkan
pertanyaan, mudharabah-nya sih sudah paham, tetapi pemodalnya siapa dong? Nah, di sinilah
perlu kerja cerdas dan kerja keras. Masih banyak peluang yang bisa kita optimalkan. Kita bisa

memakai modal pribadi atau kita bisa menawarkan proposal bisnis kepada keluarga dan teman
yang percaya kepada kita. Di samping itu, bisa juga ditawarkan kepada pihak lain (pribadi maupun
lembaga) yang memiliki uang, tetapi bingung mau digunakan untuk apa uangnya tersebut. Orang
seperti ini insya Allah berpeluang besar menerima proposal usaha yang kita tawarkan. Atau bisa
juga kita tawarkan kepada investor profesional yang tentunya tantangannya lebih tinggi dibanding
yang lainnya. Kalau dengan cara-cara tadi juga belum berhasil, bersabarlah dan jangan sekali-kali
balik lagi menceburkan diri dalam kubangan riba. Allah SWT akan selalu bersama orang-orang
yang sabar. Teruslah kerja cerdas dan kerja keras, atau kita mati karena mengusahakan yang
benar. Man jadda wa jada.
Demikianlah, penjelasan singkat mengenai riba. Cukuplah hadits dari Sahabat Jabir menjadi
peringatan bagi kita, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallama melaknat pemakan
riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya. dan Beliau Shallallahu alaihi
wasallamabersabda, Mereka semua sama. (HR. Muslim).
Begitu pula hadits dari Ibnu Masud radhiallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi
wasallama bersabda, Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya)
seperti seorang anak menyetubuhi ibunya. (HR Thabrani).
Wallahu alamu.