Anda di halaman 1dari 34

PEMBERIAN TEKNIK MOBILIZATION WITH MOVEMENT DAN KINESIOTAPPING UNTUK PENINGKATAN AKTIVITAS FUNGSIONAL PENDERITA PATELLOFEMORAL PAIN SYNDROME PADA USIA DEWASA

PEMBERIAN TEKNIK MOBILIZATION WITH MOVEMENT DAN KINESIOTAPPING UNTUK PENINGKATAN AKTIVITAS FUNGSIONAL PENDERITA PATELLOFEMORAL PAIN SYNDROME PADA

Desak Made Wahyu Ariningsih

1302305027

Program Studi Fisioterapi

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

2016

Daftar Isi

Cover ...................................................................................................................

i

Daftar isi ..............................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang ..............................................................................................

2

  • 1.2 Rumusan Masalah .........................................................................................

3

  • 1.3 Tujuan Penulisan ...........................................................................................

3

  • 1.4 Manfaat Penulisan .........................................................................................

3

  • 1.5 Ruang Lingkup Penulisan .............................................................................

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  • 2.1 Patellofemoral Pain Syndrome .....................................................................

5

  • 2.2 Mobilization with Movement .......................................................................

6

  • 2.3 Kinesiotapping ..............................................................................................

10

  • 2.4 Pemeriksaan Khusus .....................................................................................

12

  • 2.5 Lower Extremity Functional Scale ...............................................................

14

BAB III METODOLOGI PENULISAN

  • 3.1 Sumber dan Jenis Data ..................................................................................

16

  • 3.2 Pengumpulan Data ........................................................................................

16

  • 3.3 Analisis Data .................................................................................................

16

  • 3.4 Penarikan Simpulan ......................................................................................

16

  • 3.5 Kerangka Berpikir .........................................................................................

17

BAB IV PEMBAHASAN

  • 4.1 Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa ......................................................................

..................................................................................................................18

  • 4.2 Mekanisme Kerja Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita

Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa .....................................

..................................................................................................................26

BAB V PENUTUP

  • 5.1 Simpulan .......................................................................................................

28

  • 5.2 Penutup .........................................................................................................

28

Daftar Pustaka .....................................................................................................

29

Lampiran .............................................................................................................

30

1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN

Sendi tungkai bawah memiliki peranan penting untuk menopang beban yang sangat besar, perendian pada tungkai bawah salah satunya adalah sendi lutut. Hampir semua aktivitas yang dilakukan secara weight bearing pada tungkai bawah dan kaki akan melibatkan persendian di lutut, sehingga sendi lutut sering mengalami cedera karena over use. Keluhan nyeri pada lutut merupakan keluhan terbesar kedua yang sering dikeluhkan di dunia medis, dan penderita merupakan kalangan usia dewasa muda. Salah satu gangguan pada lutut adalah patella femoral pain syndrome (PFPS). Patellofemoral pain syndrome adalah gangguan artikular yang diwujudkan oleh nyeri pada bagian anterior lutut dan penurunan fungsional dalam kegiatan sehari-hari (Alaca, 2002). Nyeri pada bagian anterior lutut merupakan 25% dari cedera pada lutut dan 5% dari setiap cedera olahraga, yang mewakili keluhan 20% dari populasi, patellofemoral pain syndrome terjadi terutama pada perempuan muda usia 15-25 tahun (Belchior, 2006). Patellofemoral pain syndromeatau yang sering disebut sindroma lutut pelari (runner’s knee), adalah nyeri lutut yang paling sering terjadi dari semua penyebab nyeri lutut yang dialami kebanyakan orang, sindroma ini ditandai dengan adanya nyeri yang dirasakan disekitar tempurung lutut. Hampir semua orang pernah mengalaminya, terutama pelari, pengendara sepeda, pejalan kaki, pekerja kantoran khususnya yang sebagian besar aktivitasnya dalam keadaan duduk, dan juga sering terjadi pada remaja. Hampir 40% sindroma ini diderita oleh para pengendara sepeda motor yang setiap tahunnya mengeluh nyeri disekitar anterior lututnya, namun korban sindroma ini yang paling banyak adalah para pelari jarak jauh (Ingraham,

2012).

Adanya spasme dari jaringan lunak di sekitar sendi lutut dan ketidakseimbangan otot paha depan sering digambarkan sebagai faktor timbulnya nyeri pada sendi patelofemoral. Ketidakseimbangan antara otot vastus medialis obliquus dengan otot vastus lateralis dapat mengubah dinamika dari sendi patellofemoral. Ketidakseimbangan ini menyebabkan bergesernya patella ke lateral dikarenkan pergerakan otot vastus lateralis selama ekstensi lutut. Secara klinis, rehabilitasi untuk pasien dengan sindroma nyeri sendi patellofemoral sering dilakukan penguatan otot vastus medialis obliquus dengan tujuan untuk menstabilisasi otot. Metode Kinesiotapping diaplikasikan pada otot untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan, mengendurkan otot yang spasme, dan untuk mensupport otot-otot ketika bergerak secara 24 jam per harinya. Kinesiotapping adalah jenis perekat non-restriktif yang memungkinkan untuk tetap bergerak maximal. Berbeda dengan taping (kovensional) untuk para atlet olahraga direkatkan di sekitar sendi untuk stabilisasi dan support selama acara olahraga dengan menghalangi aliran cairan tubuh sebagai efek samping yang diinginkan (Kase et al. 2003). Taping pada patella sekarang ini dipercaya sebagai pilihan pengobatan yang tepat untuk pasien dengan sindroma nyeri sendi patellofemoral dan instabil pada patella. Taping pada patella ini di desain khusus untuk mengatasi abnormalisasi posisi pada patella (Pergeseran, perputaran, penekanan) dan untuk menjaga agar patella tetap berada ditempat yang benar (di dalam troklea femoralis) selama pergerakan lutut maksimal. Patella secara aktif ke arah medial di dalam troklea femur dan prosedur penanganan patella ke posisi yang normal ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan misalnya seperti terapi latihan, taping, dan bracing (Hains & Hains, 2010). Dari beberapa sumber seperti jurnal, skripsi, dan thesis yang didapat, maka penulis ingin menguraiakan mengenai “Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa

1.2 Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dikaji dalam karya tulis ini adalah:

  • 1. Bagaimana Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa?

  • 2. Bagaimana mekanisme kerja pada Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa?

  • 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan karya tulis ini adalah:

    • 3. Mengetahui Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa.

    • 4. Mengetahui mekanisme kerja pada Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa.

  • 1.4 Manfaat Penulisan

  • Adapun manfaat yang diharapkan dari karya tulis ini adalah:

    • 1. Bagi mahasiswa Dapat mengembangkan pola pikir ilmiah dan menambah wawasan keilmuan mahasiswa di bidang fisioterapi.

    • 2. Bagi masyarakat Memberikan informasi mengenai potensi Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa.

    • 3. Bagi praktisi medis Kepada fisioterapis karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam pemberian intervensi ke depannya.

    1.5 Ruang Lingkup Penulisan

    Ruang lingkung penulisan karya tulis ilmiah ini mencakup pemberian intervensi pada usia dewasa.

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Patellofemoral Pain Syndrome Sindroma nyeri sendi patellofemoral dapat didefinisikan sebagai nyeri retropatellar atau peripatellar dikarenakan perubahan fisik dan biokimia pada sendi patellofemoral. Ini yang membedakan dengan chondromalacia, di mana pada dasarnya keluhan dan kerusakan ada pada tulan rawan patella. Pasien dengan patellofemoral pain syndrome mengalami nyeri pada daerah lutut anterior yang biasanya nyeri timbul ketika sedang beraktivitas dan semakin parah ketika aktivitas turun tangga (Jhun, 1999). Gejala yang ditimbulkan dari penderita patellofemoral pain adalah nyeri di bawah atau di sekitar tempurung lutut. Nyeri bertambah pada saat sedang beraktivitas atau berdiri setelah duduk pada waktu yang lama. Nyeri dapat terjadi pada satu lutut atau ke duanya. Menurut Jhun (1999), pasien dengan patellofemoral pain syndromemenggambarkan rasa nyerinya di bagian lutut terutama di bagian lutut depan. Penderita menggambarkan rasa sakit bertambah ketika aktivitas naik tangga terutama saat turun tangga, duduk lama, jongkok dan berlutut, sebagian besar menggambarkan rasa nyeri, tetapi sensasi bisa berubah menjadi nyeri yang tajam bahkan dapat digambarkan seperti nyeri terbakar. Secara palpasi didapatkan kelunakan di area tempurung, pembengkakan terjadi setelah melakukan aktivitas, kadang kadang terdapat suara krepitasi bila sendi lutut digerakkan, sudut q-angel lebih besar dari 18 sampai 20 derajat, spasme otot termasuk, hamstring, vastus lateralis, illiotibial band dan bila sakit sudah berlanjut didapatkan atrofi di sepanjang otot paha depan (Bolgla, et.al, 2011). Sudut Quadriceps atau Q-angle adalah sudut yang dibentuk dari dua garis sudut lancip antara segmen (1)Tuberositas Tibia dengan mid patella, (2) mid patella dengan SIAS, pada orang dewasa sudut normal sudut quadriceps terbentuk sekitar 15 derajat,

    besar kecilnya sudut tersebut sangat terpengaruh kedua garis segmen tersebut. Pada sudut 15 derajat inilah resultan beban tubuh terletak tepat disentral patella. Penelitian menunjukkan pada penderita obesitas, terjadi penambahan sudut beberapa derajat,

    dampaknya adalah resultan beban akan berpindah dari sentral patela bergeser ke sisi medial (Lippert, 2006). Semakin tinggi nilai sudut q-angle, maka membuktikan semakin besar pula tarikan pada otot quadriceps femoris kearah lateral dan menjadi factor terjadinya maltracking patella pada alurnya yang mempotensi terjadinya gangguan pada Patellofemoral pain syndrome, chondromalacia patellae, dan subluxasi patella lateralis berulang. Patellofemoral pain syndrome merupakan gangguan fungsi dari patela yang mengalami maltracking dari tempatnya (trochlea femoralis), dan di antara penyebabnya antara lain :

    • a. Kelemahan otot quadricep Femoris

    • b. Ketidak seimbangan kerja otot quadriceps femoris

    • c. Spasme pada jaringan lunak sendi lutut (otot)

    • d. Kelemahan otot otot pada sendi panggul

    • e. Perubahan bentuk kaki/kinematik kaki

    • f. Overuse dan overload

      • g. Problematika biomekanika sendi lutut

      • h. Penurunan fungsi otot (pes planus, pes cavus, q-angle,)

      • i. Distrofi otot vastus medialis obliquus (Bolgla et al. 2011 ; Juhn, 1999 ; Jensen, 2008)

    2.2 Mobilization with Movement

    2.2.1 Konsep Teknik Mobilization with Movement Teknik mobilization with movement sudah berkembang sejak tiga dekade terakhir dan evidence based dari teknik ini juga semakin bertambah. Konsep Brian Mulligan (1999) tentang mobilization with movement (MWM) adalah kelanjutan alami dari evolusi manual terapi dari dasar-dasar latihan perbaikan dan latihan aktif dari praktisi diterapkan gerakan fisiologis pasif dan ke teknik

    aksesori mobilisasi pasif. Mobilisasi dengan gerakan fisiologis aktif dan atau

    pasif. Pasif akhir - range overpressure sekarang dapat diterapkan tanpa rasa sakit sebagai penghalang. Teknik mulligan dapat diaplikasikan jika :

    • 1. Tidak ada kontaindikasi untuk dilakukan manual terapi

    • 2. Pemeriksaan klinis sudah dilakukan secara lengkap untuk mengetahui patologi mekanik musculoskeletal

    • 3. Adanya analisis spesifik biomekanik yang menunjukan hilangnya mobilitas lokal atau didapat rasa nyeri terkait dengan fungsi .

    • 4. Tidak menimbulkan nyeri selama latihan dan setelah latihan mulligan

    Keberhasilan dari tehnik ini ditandai dengan tidak ditemukannya rasa nyeri selama praktisi melakukan teknik dalam menggerakkan dan meningkatkan fungsi. Setelah fungsi sendi kembali, program selanjutnya adalah pemulihan kekuatan otot, daya tahan, dan pengembangan neuro control motor. Patokan mulligan adalah mengendalikan dari posisi yang salah untuk dijadikan konsep, satu per satu mekanisme penelusuran gerak dan fungsi sendi dirotasikan dengan mempertimbangkan respon neurofisiologisnya (Mulligan, 1999).

    2.2.2 Dasar dasar mobilisasi sendi

    Konsep Mulligan menggunakan mobilisasi sendi berupa teknik oscillasi dan roll glide. Kedua teknik tersebut menggunakan gerak fisiologis atau gerak asesoris (Kisner and Colby, 2007). a. Gerak fisiologis ; gerak fisiologis adalah gerakan yang dirasakan secara volunter oleh pasien. Dalam gerak fisiologis dikenal istilah osteokinematika yang menggambarkan gerakan antara kedua tulang melalui axis sendi. Sebagai contoh, gerak fleksi, abduksi dan rotasi. b. Gerak asesoris ; gerak asesoris adalah gerakan yang terjadi didalam sendi dan jaringan disekitarnya, yang diperlukan untuk mencapai LGS normal tetapi tidak dapat dilakukan secara aktif oleh pasien. Istilah yang berkaitan dengan gerak asesoris adalah :

    1) Komponen gerakan yaitu gerakan-gerakan yang menyertai gerak aktif

    tetapi tidak dibawah kontrol volunter. Istilah ini seringkali digunakan dalam gerak asesoris. Sebagai contoh, gerakan upward rotasi scapula dan clavicula yang terjadi pada gerakan fleksi shoulder, kemudian gerak rotasi fibula yang terjadi pada gerakan ankle. 2) Joint play menggambarkan gerakan-gerakan yang terjadi antara permukaan sendi yang melibatkan elastisitas kapsul sendi, sehingga dapat menghasilkan gerakan pada tulang. Gerakan-gerakan yang diperlukan untuk fungsi sendi normal dengan LGS penuh hanya dapat dilakukan secara pasif tetapi tidak dapat dilakukan secara aktif oleh pasien. Gerakan- gerakan tersebut mencakup traksi, slide (translasi), kompresi, rolling dan spin yang terjadi pada permukaan sendi. Gerakan-gerakan tersebut termasuk kedalam arthrokinematika.

    • 2.2.3 Prinsip mobilisasi mulligan

    Dalam penerapan teknik manual terapi, terapis harus mempertimbangkan adanya kontraindikasi terhadap pengobatan dan harus dihargai setiap saat. Meskipun selalu berpedoman pada aturan (tanpa rasa sakit), terapis sendiri yang memilih prosedur yang dikembangkan oleh brian mulligan, masih harus memahami dan mematuhi aturan aturan dasar penerapan teknik manual terapi. Khususnya untuk penerapan konsep Mulligan (1999) dalam praktek klinis, prinsip prinsip berikut telah dikembangkan :

    • c. Selama pemeriksaan terapis megidentifikasi satu atau lebih tanda tanda yang sebanding seperti antara lain ; hilangnya pergerakan sendi, rasa nyeri yang terkait dengan gerakan, atau nyeri dengan aktivitas fungsional tertentu (contoh ; nyeri siku lateral dengan ekstensi, ketegangan saraf yang merugikan, dll)

    • d. Mobilisasi pasif gerak asesoris diterapkan mengikuti prinsip prinsip kaltenborn, yaitu paralel atau tegak lurus terhadap bidang sendi sehingga glide asesoris harus bebas dari nyeri.

    • e. Terapis harus memantau reaksi pasien untuk memastikan tidak ada rasa sakit yang muncul. Memanfaatkan pengetahuan klien tentang arthologi sendi, kembangkan dengan baik (sense) dari ketegangan jaringan dan alasam klinis, sehingga terapis dapat menyelidiki berbagai kombinasi dari gliding yang sejajar (paralel) atau tegak lurus (perpendicular) untuk menemukan treatment yang tepat pada bidang gerak dan tingkatan dari gerakan aksesori.

    • f. Selama mempertahankan gliding, pasien diminta untuk membandingkan apa yang dirasakan (comparable sign). Comparable sign seharusnya menunjukan perbaikan yang signifikan (peningkatan lingkup gerak sendi) dan berkurang/hilangnya nyeri asal dari keluhan.

      • g. Kegagalan untuk meningkatkan perbaikan terhadap tanda/gejala comparable sign akan menunjukan bahwa praktisi belum menemukan treatment yang tepat dari bidang gerak tersebut, tingkatkan atau arahkan mobilisasi, segmen spinal, atau ditemukan bahwa teknik ini tidak di indiksi.

      • h. Gerakan sebelumnya yang terbatas dan/atau gerak atau aktivitas yang menyakitkan diulang oleh pasien sementara praktisi terus mempertahankan gliding (gerakan) yang tepat. Kemajuan lebih lanjut diharapkan dengan dilakukannya pengulangan selama sesi treatment, biasanya sepuluh repetisi dengan empat set

      • i. Penguatan lebih lanjut dapat dilakukan dengan mandiri dengan mengaplikasikan overpressure yang bebas nyeri pada akhir gerakan yang dilakukan. Hal ini diharapkan lagi overpressure ini bebas dari rasa nyeri. Manfaat anatomi dan neurofisiologis dari artikular pada pembebanan akhir gerakan mungkin dapat dicapai tanpa rasa sakit sebagai batasannya. Treatment dengan pinsip mobilisasi dengan gerak ini sering kali dilakukan dengan menggunakan pita perekat (taping adhesive sport) atau pasien melakukan usaha sendiri untuk menghasilkan komponen gliding beserta gerak aktif fisiologis. Selalu

    diingat, nyeri sebagai patokan. Berhasilnya teknik konsep mulligan harus membuat comparable sign tanpa rasa nyeri, sementara peningkatan fungsi berlangsung dalam teknik ini. Diharapkan adanya peningkatan/perbaikan agar dapat mengetahui tepat tidaknya pemberian intervensi yang sedang berlangsung.

    2.2.4 Peripheral mobilization with movement

    Mobilisasi dengan gerakan pada sendi perifer juga merupakan kombinasi simultan dari pengaplikasian terapis pada teknik gliding dan pasien melakukan gerakan fisiologis. Mobilisasi dengan gerakan paling sering digunakan untuk sendi ekstremitas dah hasilnya dapat segera dirasakan dengan meningkatnya fungsi dan mobilitas.

    2.3 Kinesiotapping

    Kinesiotaping adalah modalitas treatmen yang didasarkan pada proses penyembuhan alami pada tubuh. Kinesio tape (kinesio tapping) dikembangan pertama kali di Tokyo pada awal 1970. Keberhasilan metode kinesiotaping ditunjukkan melalui aktivasi neurological dan circulatory system. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep Medical-Taping telah menjadi sebuah terapi yang sangat berguna dalam konsep penanganan pasien secara holistik. Hingga saat ini, metode taping telah diaplikasikan hampir diseluruh cabang olah raga dan banyak digunakan oleh tenaga medis dalam upaya rehabilitasi pasien.

    Beberapa efek utama dalam penggunaan kinesio tape adalah : 1) meningkatkan dan memperbaiki sirkulasi melalui mekanisme pengangkatan kulit, 2) mengurangi nyeri melalui aktivasi serabut bermyelin tebal Aß, 3) meningkatkan dan memperbaiki fungsi otot melalui fasilitasi dan inhibisi, 4) sebagai stabilitas dan mengoreksi sendi, serta 5) meningkatkan stimulasi mekanoreseptor yang terdapat pada kulit. Kinesio tape (KT) dapat menyediakan peregangan sebesar 130 – 140% dari panjang aslinya dan memiliki berat dan ketebalan yang hampir sama dengan

    kulit. Secara teori, KT dapat digunakan pada seluruh otot dan sendi yang ada pada tubuh, dan dapat dipakai hingga 4 hari tanpa mengganggu personal hygiene dan tanpa menghilangkan atau mengurangi komponen pelekatnya.

    kulit. Secara teori, KT dapat digunakan pada seluruh otot dan sendi yang ada pada tubuh, dan

    Gambar 2.1 Bagan mekanisme kerja dari Kinesiotapping Sumber : Illustrated Kinesiotaping Fouth Edition by Kenzo Kase, D.C. 2003 Kinesio tape dibentuk oleh polymer elastic yang dibalut oleh 100% serat cotton. Serat cotton menyediakan tempat untuk evaporasi kelembaban kulit. Teksturnya yang bergelombang menyediakan gaya tarikan terhadap kulit sehingga menciptakan lebih banyak ruang dengan mengangkat fascia dan jaringan lunak pada area pemasangan Kinesio Tape dimana hal ini akan berkontribusi terhadap penurunan nyeri dan peningkatan sirkulasi dan drainase limfa. Metode kinesio tape dapat digunakan dalam berbagai bentuk yaitu Y, I, X, Fan, Web, dan Donut. Teknik Y merupakan metode aplikasi yang umum digunakan. Digunakan untuk memfasilitasi ataupun menginhibisi stimulasi otot. Teknik I dapat digunakan bersamaan dengan teknik Y untuk injuri otot akut. Tujuan utama penggunaannya adalah untuk mengambat nyeri dan mengurangi edema. Teknik X digunakan saat origo dan insersio otot bisa berubah bergantung pada pergerakan yang

    terjadi pada sendi (seperti pada otot Rhomboid). Teknik Fan (kipas) dan Web (jaring) digunakan untuk drainase limfa. Dan teknik Donut digunakan untuk edema focal atau pada area injuri yang spesifik. Terdapat dua teknik dasar dalam mengaplikasikan KT. Untuk kondisi over-use dan strain otot akut, tape digunakan dalam arah insersio menuju origo untuk menginhibisi kontraksi otot. Peregangan tape yang digunakan juga sangat ringan yaitu sekitar 15-25% dari stretch yang tersedia. Untuk kondisi kronis dan kelemahan otot atau kondisi dimana diinginkan peningkatan kontraksi otot, tape digunakan dalam arah Origo menuju Insersio untuk memfasilitasi kontraksi otot. Peregangan tape yang digunakan sedang yaitu 25-50% dari total stretch yang tersedia.

    • 2.4 Pemeriksaan Khusus a. Patellar Apreheshion Test

    Patellar apreheshion test disebut juga tes koordinasi Fairbanks, aplikasi tes

    dilakukan dengan posisi pasien berbaring terlentang dan relaks (Reider, 1999).

    Pemeriksaan ini menggunakan satu tangan untuk mendorong patela pasien ke arah

    lateral, dimaksud untuk mendapatkan pergeseran patella kearah lateral. Dimulai

    dengan lutut di fleksikan di 30 derajat, tangan terapis yang satunya memegang

    tumit dan dengan pelan mendorong, fleksi gabungan di lutut dan pinggul (Reider,

    1999;. Malanga, et al, 2003). Pergeseran arah patella ke lateral dipertahankan

    sepanjang pengujian. Tes dianggap positif ketika pasien nyeri atau ketika adanya

    rasa takut dari pasien. Kekhawatiran tersebut dapat memanifestasikan dirinya

    dalam berbagai cara, mulai dari ekspresi verbal kecemasan pasien dengan

    mengkontraksikan otot paha depan (Reider, 1999; Malanga, et al. 2003).

    Gambar 2.2 Pattelar Aprehension Test b. Eccentric Step Test Untuk eccentric step test , pasien mengenakan

    Gambar 2.2 Pattelar Aprehension Test

    b. Eccentric Step Test

    Untuk eccentric step test, pasien mengenakan celana pendek dan melakukan

    pengujian tanpa menggunakan alas kaki. Siapkan stool atau bangku yang memiliki

    tinggi 50% dari panjang tibia (Selfe et al, 2001). Bangku yang digunakan berbahan

    kayu, dan lapisan non-slip (karet) pada bagian atas kayu untuk mencegah pasien

    tergelincir saat melakukan tes. Berikan aba aba pada pasien: berdiri di banggu,

    letakkan tangan di pinggul, dan mundur dari bangku secara perlahan-lahan dan

    lakukan semampu yang bisa dilakukan. Pasien diminta untuk menjaga tetap

    meletakkan tangganya di pinggul mereka selama latihan. Setelah setiap pasien

    dilakukan tes dengan satu kaki, prosedur itu diulang dengan menggunakan kaki

    yang lain. Pasien tidak diperbolehkan untuk istirahat selama tes. Tes ini dianggap

    positif ketika pasien mengalami nyeri lutut selama tes dilakukan.

    Gambar 2.3 Eccentric Step Test 2.5 Lower Extremity Functional Scale Lower extremity functional scale atau skala

    Gambar 2.3 Eccentric Step Test

    • 2.5 Lower Extremity Functional Scale Lower extremity functional scale atau skala fungsional ekstremitas bawah adalah

    kuisioner yang berisi 20 pertanyaan tentang kemampuan seseorang untuk melakukan

    tugas sehari hari. Kuisioner ini dapat digunakan sebagai ukuran aktivitas fungsional

    dari awal, kemajuan yang sedang berlangsung, dan hasil, serta untuk menetapkan

    tujuan fungsional. Skala fungsional ekstremitas bawah dapat digunakan untuk

    memantau pasien dari waktu ke waktu dan untuk mengevaluasi efektifitas intervensi

    dari sebuah perlakuan. Kolom pada skala dijumlahkan untuk mendapatkan nilai total.

    Nilai maksimum pada skala ini adalah 80.

    Intepretasi penilaian :

    • 1. Semakin rendah total nilai, semakin besar tingkat disability (semakin rendah nilai fungsi/semakin jelek)

    • 2. Perubahan yang terdeteksi pada skala minimal 9 point

    • 3. Perbedaan klinis minimal 9 point

    • 4. Persen dari fungsi maksimal = nilai skor keseluruhan skala dibagi 80

    dikali 100

    Performa / Kinerja : Nilai Skor Skala

    x 100

    Nilai

    80

    • 1. Potensial error yang diberikan pada titik waktu tertentu adalah poin skala

    +/- 5,3

    • 2. Nilai tes – Retest reabilitas adalah 0,94

    • 3. Menentukan reabilitas ditentukan oleh perbandingan dengan SF -36.

    Skala ini dapat diandalkan dengan sensitivitas untuk mengubah nilai atas menjadi SF -36

    Instruksi

    Kami ingin mengetahui apakah anda mengalami beberapa kesulitan dengan

    kegiatan yang tercantum di bawah ini dikarenakan masalah pada

    ekstremitas bawah yang anda keluhkan. Mohon berikan jawaban untuk

    setiap kegiatan

    BAB III METODE PENULISAN

    • 3.1 Sumber dan Jenis Data

    Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sumber pustaka yang relevan dengan topik permasalahan yang dibahas. Jenis data yang diperoleh berupa data sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.

    • 3.2 Pengumpulan Data

    Pengumpulan data digunakan metode telaah pustaka yang didasarkan atas hasil pengkajian terhadap berbagai sumber data yang telah teruji validitasnya, berhubungan satu sama lain, relevan dengan kajian tulisan, serta mendukung uraian atau analisis pembahasan.

    • 3.3 Analisis Data

    Setelah data yang diperlukan terkumpul, dilakukan pengolahan data dengan menyusun secara sistematis dan logis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif argumentatif.

    • 3.4 Penarikan Simpulan

    Setelah proses analisis, dilakukan proses sintesis dengan menghimpun dan menghubungkan rumusan masalah, tujuan penulisan, serta pembahasan. Berikutnya ditarik kesimpulan yang bersifat umum kemudian direkomendasikan beberapa hal sebagai upaya transfer gagasan.

    3.5 Kerangka Berpikir

    Patellofemoral Pain Syndrome

     
    3.5 Kerangka Berpikir Patellofemoral Pain Syndrome Kelemahan otot vastus medialis obliquus Maltracking patella dari throchlea femoris

    Kelemahan otot vastus medialis obliquus

    Maltracking patella dari throchlea femoris

     
    3.5 Kerangka Berpikir Patellofemoral Pain Syndrome Kelemahan otot vastus medialis obliquus Maltracking patella dari throchlea femoris

    Nyeri pada daerah anterior knee

    Penurunan Aktivitas Fungsional

    3.5 Kerangka Berpikir Patellofemoral Pain Syndrome Kelemahan otot vastus medialis obliquus Maltracking patella dari throchlea femoris
    3.5 Kerangka Berpikir Patellofemoral Pain Syndrome Kelemahan otot vastus medialis obliquus Maltracking patella dari throchlea femoris
    Teknik Mulligan Kinesiotapping
    Teknik Mulligan
    Kinesiotapping
    3.5 Kerangka Berpikir Patellofemoral Pain Syndrome Kelemahan otot vastus medialis obliquus Maltracking patella dari throchlea femoris

    Peningkatan Aktivitas Fungsional

    BAB IV

    PEMBAHASAN

    4.1 Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa. Tujuan penanganan konservatif berupa pengembalian fungsi dari otot VMO dan mengontrol postur anggota gerak bawah menjadi prioritas utama. Program konservatif tersebut dengan menggunakan terapi latihan yaitu teknik mulligan mobilization with movement dan menggunakan kinesiotaping sebagai koreksi dari posisi patella dan untuk memfasilitasi kinerja otot vastus medialis oblique untuk menstabilkan posisi patella ke posisi normal, serta menginhibisi vastus lateral oblique dan vastus lateralis longus juga sangat efektif untuk mengurangi tarikan

    patela ke lateral dan nyeri saat dilakukannya program terapi latihan (Slupik et al, 2007; Chi-Chen et al, 2007).

    • 4.1.1 Teknik Mobilization with movement

    Penelitian yang dilakukan Chan-Woo Man et al (2013) mengenai “Effects of the MWM Technique Accompanied by Trunk Stabilization Exercises on Pain and Physical Dysfunctions Caused by Degenerative Osteoarthritis” yang menggunakan 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok control sebanyak 15 sampel diberikan Trunk Stabilization Exercises dan kelompok perlakuan sebanyak 15 sampel diberikan Trunk Stabilization Exercises dan MWM Technique. Hasil dari penelitian tersebut adalah perbedaan yang signifikan setelah dilakukan intervensi pada kelompok perlakuan pada skor visual analog scale, Western Ontario dan McMaster Universities osteoarthritis index pain, stiffening, and physical function. Sehingga pemberian teknik Mulligan mobilization with movement sangat dianjurkan pada penderita osteoarthritis untuk menurunkan nyeri dan meningkatkan aktivitas fungsinal pada sendi lutut. Dalam Penelitian yang dilakukan Atika Yulianti (2013) mengenai “Kombinasi Teknik Mulligan dan Fasilitasi Vastus Medialis Obliquus Lebih Efektif Meningkatkan

    Aktivitas Fungsional daripada Aplikasi Kinesiotapping pada Penderita Sindroma Nyeri Patellofemoral” dijabarkan mengenai teknik mulligan yang dilakukan pada pasien patellofemoral pain syndrome. Teknik mulligan adalah evolusi dari manual terapi dengan konsep mobilisasi dengan gerak yang dilakukan secara bersamaan tanpa menimbulkan rasa sakit selama teknik ini diterapkan yang berfungsi untuk rehabilitasi dan pemulihan kekuatan otot, daya tahan, dan pengembangan yang konsisten pada neuro kontrol motor. Teknik ini dikombinasikan dengan fasilitasi vastus medialis obliquus setiap 3 kali seminggu dengan sekali treatme ±1 jam selama 5 minggu.Teknik mulligan mobilisasi untuk patellofemoral pain syndrome antara lain :

    1. Patellofemoral gliding

    Posisi pasien supine lying, dengan lutut disangga bantal kecil dan terapis berada di samping lutut. Fiksasi tepat di patella. Berikan penekanan tepat pada patella kearah posterior dengan lingkup pergerakan yang kecil dari arah cranial ke caudal, dan dari arah medial ke lateral.

    Aktivitas Fungsional daripada Aplikasi Kinesiotapping pada Penderita Sindroma Nyeri Patellofemoral” dijabarkan mengenai teknik mulligan yang dilakukan

    Gambar 4.1 Patellofemoral Gliding

    • a. Patellofemoral Mobs (Caudal dan chephalad) Posisi pasien terlentang dengan lutut semi fleksi (sedikit menekuk), dengan posisi terapis disamping lutut pasien. Fiksasikan tangan terapis pada inferior atau superior patella dengan penahanan posisi pada patella medial dan lateral dengan jempol dan telunjuk tangan yang memfiksasi, kemudian tangan terapis yang satunya mendorong dengan pangkal telapak tangan yang membentuk posisi mangkok

    kearah inferior atau superior. Teknik mobilisasi dengan posisi tangan yang berbeda untuk mengaplikasikan gliding mobilisasi kearah caudal atau cephalad. Tangan bagian bawah dapat digunakan untuk dekompresi patellofemoral joint atau menambah kompresi selama treatment berlangsung.

    kearah inferior atau superior. Teknik mobilisasi dengan posisi tangan yang berbeda untuk mengaplikasikan gliding mobilisasi kearah

    Gambar 4.2 Patellofemoral mobs (caudal dan chepalad)

    • b. Patellofemoral Mobs (Caudal dengan fleksi) Posisi pasien duduk dengan diberi alas pada posisi lutut fleksi dengan tumit disangga dengan kursi atau fisioterapis. Posisi terapis tepat didepan pasien dengan tangan fiksasi pada medial dan lateral patella melalui ibu jari dan telunjuk sebagai tahanan. Pangkal tangan (tangan yang memobilisasi) dengan membentuk posisi mangkuk dengan pemberian gliding melalu pangkal tangan. Teknik mobilisasi dengan gliding patella melalui superior patella dengan pangkal telapak tangan, variasikan derajat lengkungan lutut untuk mendapatkan progress pada setiap latihan. Tangan bagian bawah dapat digunakan untuk dekompresi pada patellofeoral joint atau menambah kompresi selama latihan.

    Gambar 4.3 Patellofemoral Mob (caudal dengan fleksi) c. Patellofemoral Mobs (medial dan lateral) Posisi pasien terlentang

    Gambar 4.3 Patellofemoral Mob (caudal dengan fleksi)

    • c. Patellofemoral Mobs (medial dan lateral) Posisi pasien terlentang dengan lutut pasien sedikit menekuk dengan sanggahan lutut terapis. Posisi terapis tepat berada disamping pasie, untuk gliding kearah medial kedua jempol pada jari tangan terapis berada pada lateral patella dan kedua jari lainnya memfiksasi patella bagian inferior dan superior, jari jari disekitar medial patella. Lateral glide dilakukan dengan posisikedua jari telunjuk tepat pada medial patella dengan jedua jempol di lateral patella. Teknik mobilisasi pada gliding medial dengan melakukan dorongan patella kearah medial dengan ibu jari terapis sedangkan untuk gliding kearah lateral mobilisasi dilakuakan dengan tarikan kearah lateral dengan jari telunjuk terapis.

    Gambar 4.3 Patellofemoral Mob (caudal dengan fleksi) c. Patellofemoral Mobs (medial dan lateral) Posisi pasien terlentang

    Gambar 4.4 Patellofemoral Mobs (lateral dan medial)

    2.

    Mobilization and Movement Patella Inferior

    Mobilisasi dan gerak pada patella merupakan treatment dimana patella digerakkan normal secara normal pada alur gerak arthokinematicnya (inferior dan sedikit ke medial) selama fleksi assisted knee (pasif dengan bantuan thera band) (Joseph, 2011).

    2. Mobilization and Movement Patella Inferior Mobilisasi dan gerak pada patella merupakan treatment dimana patella digerakkan

    Gambar 4.5 Mobilization and Movement Patella Inferior

    • 3. Mobilization and Movement Patella Superior Mobilisasi dinamis pada patella dirancang untuk memperpanjang jaringan lunak (infra patella) dengan membeti penekanan pada patella agar tidak bergerak kearah inferior selama fleksi lutut. Teknik ini memberikan peregangan langsung antara pangkal/ujung patela dan tuberositas tibialis (Joseph, 2011)

    2. Mobilization and Movement Patella Inferior Mobilisasi dan gerak pada patella merupakan treatment dimana patella digerakkan

    Gambar 4.6 Mobilization and Movement Patella Superior

    Aplikasi Mobilization with movement dilakukan 3 hari sekali dalam jangka

    waktu tiga minggu

    • 4.1.2 Teknik Kinesiotapping

    Penelitian yang dilakukan oleh Evangelous A. Christou (2003) mengenai “Patellar Taping Increase Vastus Medialis Oblique in the Presence of Patellofemoral Pain” dengan hasil yang didapatkan adalah penggunaan taping pada daerah patellar dapat menurunkan nyeri saat pergerakan sendi lutut, meningkatkan aktivitas otot vastus medialis obliquus, dan menurunkan kerja otot vastus lateralis pada pasien patellofemoral pain syndrome. Penelitian yang dilakukan oleh Wen Dien Chang et al (2015) mengenai “Effects of Kinesiotapping versus McConnell Taping for Patellofemoral pain syndrome: A Systematic Review and Meta-Analysis” menunjukkan hasil Kinesiotaping dan McConnell taping adalah dua tipe patellar taping yang digunakan untuk intervensi pada pasien patellofemoral pain syndrome. Kinesiotaping digunakan untuk mengurangi nyeri otot namun sedikit penelitian yang menunjukan efek kinesiotaping terhadap koreksi alignment pada patella. McConnell taping dapat digunakan untuk koreksi patella namun tidak dapat meningkatkan propioseptif dan function motor pasien patellofemoral pain syndrome. Pada kasus patellofemoral pain syndrome ini, Kinesiotapping diaplikasikan pada otot vastus medialis obliquus dan quadriceps femoris untuk memberikan rangsangan propioseptik untuk kelemahan otot ini (dari origo ke insersio) dan untuk memungkinkan pergerakan patella secara normal pada alur femoralis/trochlea. Aplikasi Kinesiotapping diberikan selama 3 hari. 1. Pertama pengaplikasian Kinesiotapping difasilitasi pada otot vastus

    medialis obliquus, potong taping hingga panjangnya kurang lebih 20 cm, pototng bangian tengah pada 1 sisi hingga membentuk “Y”, potong bagian tengah dan sisakan 5 cm pada sisi yang tidak dipotong tengahnya. Posisi pasien liying dengan fleksi lutut 30 derajat. Tentukan

    origo otot vastus medialis obliquus dan tempelkan bagian yang tiding dipotong, 2 cabang yang telah dipotong ditarik kira kira 25% dan ditempelkan melingkari otot vastus medialis obliquus dengan akhir di insersio otot.

    origo otot vastus medialis obliquus dan tempelkan bagian yang tiding dipotong, 2 cabang yang telah dipotong

    Gambar 4.7 Pemakaian konesiotapping untuk fasilitasi otot vastus medialis obliquss

    • 2. Kedua Kinesiotapping diberikan disepanjang otot quadriceps femoris dan lateral medial patella, gunakan taping dengan panjang kira kira 50 cm, potong bagian tengah salah satu sisi kira kira 10 cm. Posisi pasien tidur terlentang dengan fleksi knee. Kemudian rekatkan percabangan Kinesiotapping di upper knee kemudian bagian yang tidak dipotong ditempelkan sepanjang otot rekrtus femoris, posisikan kaki klien diatas bed dengan posisi knee fleksi disamping bed. Rekatkan Kinesiotapping dari upper quadriceps menyusuri inferior dan percabangan berhenti di upper knee. Kemudian posisikan lutut ekstensi 90 derajat diatas bed dan rekatkan percabangan taping yang sudah dipotong kearah epicondilus lateral dan medial dan melingkari patella medial dan lateral.

    Gambar 4.8 Pemakaian konesiotapping untuk fasilitasi otot rectus femoris 3. Ketiga Kinesiotapping diaplikasikan di patella, dengan

    Gambar 4.8 Pemakaian konesiotapping untuk fasilitasi otot rectus femoris

    • 3. Ketiga Kinesiotapping diaplikasikan di patella, dengan tujuan untuk mengorekci patella agar tetap berada dijalurnya, posisi lutut pasien fleksi dibed kira kira 30 derajat dengan Kinesiotapping yang kira kira 20 cm, potong salah satu sisi hingga menyisakan 5 cm dan membentuk “Y. Tempelkan bagian yang tidak tepotong di epicondilus medial pada femur, kemudian tarik kira kira 25 cm dengan melingkari patella melewati patella atas dan yang satunya melewati bagian bawah patela dengan cabang yang sudah dipotong tadi hingga membentuk lingkaran dan patella tepat ditengah lingkaran Kinesiotapping tersebut.

    Gambar 4.8 Pemakaian konesiotapping untuk fasilitasi otot rectus femoris 3. Ketiga Kinesiotapping diaplikasikan di patella, dengan

    Gambar 4.9 Pemakaian konesiotapping untuk patella

    4.2 Mekanisme Kerja Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa. Intervensi dengan teknik Mulligan merupakan terapi yang menggunakan gerakan aktif co-contraction yang dikombinasi dengan kontrol gerakan dari terapis dengan prinsip tanpa nyeri saat metode diaplikasikan, sehingga memberikan suatu bentuk latihan aktif dengan perbaikan keseimbangan otot dan merangsang reedukasi propriosepsi gerak dan memberikan peregangan kapsul sendi sekaligus memberikan pumping reaksi untuk sirkulasi kapiler dan cairan persendian sehingga terjadi perpindahan atau sirkulasi sisa metabolism penyebab nyeri, saat pemberian latihan akan diperoleh pengaruh terhadap peningkatan kadar air dan matrix sekaligus memberikan kestabilan gerak persendian dan mengurangi resiko terjadinya cedera berulang pada jaringan (Mulligan, 2004). Sedangkan efek neurofisiologi berkaitan dengan mekanoreseptor dan receptor nyeri didalam sendi. Fasilitasi impuls saraf afferent dari receptor sendi merupakan respon terhadap gerakan sendi yang akan ditransmisikan informasi tersebut ke sistem saraf pusat, dan oleh karena itu akan memberikan kesadaran posisi sendi dan gerak sendi. Penurunan nyeri terjadi melalui neuromodulasi pada innervasi sensorik mekanoreseptor sendi sehingga pintu gerbang nyeri tertutup oleh inhibisi transmisi stimulus nosiseptive pada spinal cord dan level batang otak (Mulligan, 2001). Tujuan aplikasi Kinesiotapping pada penderita patellofemoral pain syndromeadalah untuk memperbaiki tempurung lutut kearah yang normal dan menurunkan ketegangan struktur jaringan di sekitar sendi patellofemoral yang berlebihan. Selain penguatan otot quadriceps secara keseluruhan dan peningkatan vastus medialis obliquus. Kinesiotapping juga mempertahankan letak patella tetap pada tempatnya, sementara terjadi microkontraksi pada otot vastus medialis obliquus (Bolgla et al. 2008). Selain itu, penderita nyeri sendi patellofemoral mengalami ketidakseimbangan otot quadriceps dan menyebabkan terjadinya tracking abnormal pada patella sehingga akan menyebabkan banyaknya struktur jaringan lunak yang menegang di sekitar sendi patellofemoral yang pada akhirnya menyebabkan nyeri. Di

    sinilah peran Kinesiotapping sebagai fasilitas aktivasi keseimbangan otot quadriceps sehingga terjadi koreksi dari ketidakseimbangan dan dengan Kinesiotapping menurukan gejala dari penderita patellofemoral pain syndrome. Dalam sebuah penelitian, Kinesiotapping secara klinis akan meningkatkan kemampuan bioelektrik otot dengan menggunakan electromyogaphy (EMG) setelah 24 jam pemasangan Kinesiotapping dan akan menurun fungsinya setelah empat hari pemakaian. Hal tersebut dapat menjelaskan bahwa pemberian Kinesiotapping cukup sampai dengan tiga hari karena puncak pengaruh dari Kinesiotapping setelah 24 jam akan memfasilitasi motor unit untuk dapat melakukan kontraksi dan setelah 72 jam tonus otot menurun, sehingga untuk mengurangi dari tonus otot yang berlebih disarankan pemasangan cukup sampai dengan 3 hari (Slupik, et al. 2007). Dalam kasus patellofemoral pain syndrome, kinesiotapping berfungsi untuk memfasilitasi otot vastus medialis obliquus dan menginhibisi otot vastus lateralis agar mengkoreksi posisi dari patella dan mengurangi ketegangan struktur jaringan sekitar sendi lutut. Pemberian Kinesiotapping dan Teknik Mobilization with movement dapat dikombinasikan untuk peningkatan aktivitas fungsional pada penderita patellofemoral pain syndrome berdasarkan efek dari masing – masing teknik.

    • 5.1 Simpulan

    BAB V

    PENUTUP

    Dari pembahasan adapun yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

    • 1. Pemberian teknik mobilization with movement memberikan suatu bentuk latihan aktif dengan perbaikan keseimbangan otot dan merangsang reedukasi propriosepsi gerak dan memberikan peregangan kapsul sendi sekaligus memberikan pumping reaksi untuk sirkulasi kapiler dan cairan persendian

    • 2. Pemberian Kinesiotapping berfungsi untuk memfasilitasi otot vastus medialis obliquus dan menginhibisi otot vastus lateralis agar patella dalam posisi yang normal dan mengurangi ketegangan struktur jaringan sekitar sendi lutut.

    • 3. Kombinasi dari Teknik mobilization with movement dan Kinesiotapping bertujuan mengurangi meningkatkan aktivitas fungsional dari sendi patellofemoral dan mengurangi resiko terjadinya cedera berulang pada jaringan.

    • 5.2 Saran

    Adapun saran yang dapat diberikan melalui penulisan karya tulis ini yaitu :

    • 1. Gagasan karya tulis ini memiliki potensi untuk diterapkan lebih lanjut dalam penatalaksanaan kasus patellofemoral pain syndrome, sehingga diperlukan kajian yang lebih mendalam terkait strategi terapi penatalaksanaan kasus patellofemoral pain syndrome pada usia dewasa

    2.

    Perlu

    dilakukan

    penelitian

    lebih

    lanjut

    untuk

    mengetahui

    efektivitas

    Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa

    DAFTAR PUSTAKA

    Abudurrasyid.2013. Penggunaan Kinesiotape Selama Tiga Hari Tidak Berbeda Dengan Perekat Plasebo Dalam Mengurangi Resiko Cedera Berulang dan Derajat Q-Angle pada Penderita Patellofemoral pain syndrome. Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2. Astari, Putri Nadia.2012. Perbedaan Efek Antara Intervensi Traksi Osilasi MLPP dan Cryotherapy Dengan Teknik Mulligan’s Mobilization with movement dan Cryotherapy Terhadap Peningkatan Kemampuan Fungsional Akibat Osteoartritis Lutut. Fakultas Fisioterapi Universitas Esa Unggul. Jakarta. Callaghan, Michael J and Selfe, James.2012. Patellar taping for patellofemoral pain syndrome in adults. The Cochrane Library, 2012 (4). pp. 1-41. ISSN 1469-493X Christou, Evangelos A.2003. Patellar taping increases vastus medialis oblique activity in the presence of patellofemoral pain. Department of Integrative Physiology, University of Colorado, Boulder. Journal of Electromyography and Kinesiology 14 (2004) 495–504. Binkley JM, Stratford PW, Lott SA, Riddle DL. The Lower Extremity Functional Scale (LEFS): scale development, measurement properties, and clinical application. North American Orthopaedic Rehabilitation Research Network. Phys Ther. 1999

    Apr;79(4):371-83.

    Kase, K. Wallis, J. Kase, T. 2003. Clinical therapeutic applications of the

    kinesiotaping method 2 nd edition. Jepang. Ken Ikai Co.

    Kisner C. Colby L,A. 2007. Therapeutic Exercise : Foundation and Techniques fourth edition. Philadelphia. F A Davis Company.

    Mulligan, B R. 1999. Ebook ; Manual Therapy “Nags”, Snags”, “MWMs”, etc., 4 th Edn. New Zealand. Yulianti, Atika.2013. Kombinasi Teknik Mulligan dan Fasilitasi Vastus Medialis Obliquus Lebih Efektif Meningkatkan Aktivitas Fungsional daripada Aplikasi Kinesiotapping pada Penderita Sindroma Nyeri Patellofemoral. Program Magister, Program Studi Fisiologi Olahraga – Fisioterapi Pascasarjana Universitas Udayana.

    Lampiran 1

     

    LOWER EXTREMITAS FUNGTIONAL SCALE

    Nama

    :

    Kode

    :

    Pre Test / Post Test

       

    Kesulitan

           

    NO

    Aktivitas

    Ekstrim /

    Tidak Dapat

    Melakukan

    Kesulitan

    yang cukup

    Kesulitan

    sedang

    Sedikit

    Kesulitan

    Tidak

    mengalami

    Kesulitan

    1

    Setiap Pekerjaan yang dilakukan, pekerjaan kantor,

    0

    1

    2

    3

    4

    pekerjaan rumah, sekolah

    2

    Hobi anda, rekreasi atau

    0

    1

    2

    3

    4

    olahraga

     

    Masuk atau keluar dari bak

    3

    mandi

    0

    1

    2

    3

    4

    4

    Berjalan antar ruangan

    0

    1

    2

    3

    4

    5

    Memakai sepatu dan Kaos

    0

    1

    2

    3

    4

    kaki

    6

    Jongkok

    0

    1

    2

    3

    4

    7

    Mengangkat benda dari

    0

    1

    2

    3

    4

    lantai,seperti tas belanja

    8

    Melakukan aktivitas ringan

    0

    1

    2

    3

    4

    disekitar rumah

    9

    Melakukan kegiatan yang

    0

    1

    2

    3

    4

    berat di rumah

    • 10 Keluar masuk mobil

    0

    1

    2

    3

    4

    • 11 Berjalan 2 blok

    0

    1

    2

    3

    4

    • 12 Berjalan 1 Mill

    0

    1

    2

    3

    4

    Naik turun tangga

    • 13 (keseluruhan tangga)

    0

    1

    2

    3

    4

    • 14 Berdiri selama 1 jam

    0

    1

    2

    3

    4

    • 15 Duduk selama 1 jam

    0

    1

    2

    3

    4

    • 16 Berjalan di tanah

    0

    1

    2

    3

    4

    • 17 Berjalan di tanah yang tidak

    0

    1

    2

    3

    4

     

    rata

    • 18 Membuat tikungan tajam dan

    berlari cepat

    0

    1

    2

    3

    4

    • 19 Melompat

    0

    1

    2

    3

    4

    • 20 Berguling di tempat tidur

    0

    1

    2

    3

    4

     

    Kolom Total