Anda di halaman 1dari 6

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03 Tahun 2013 tentang

Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah


Tangga dan Sampah sejenis Sampah Rumah Tangga yang menjelaskan Sapah Rumah Tangga
adalah samoah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, yang tidak
termasuk tinja dan sampah spesfik. Dalam melaksanakan pengelolaan dilakukan
penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan atau yang disingkat dengan PSP, hal ini
dilakukan untuk merencanakan, membangun, mengoperasikan dan memelihara serta
memantau dan mengevaluasi penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah
tangga yang pengumpulannya menggunakan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) yang
dilakukan dari sumber sampai ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan
sampah. Peraturan tentang sampah ini bertujuan untuk :
1. Meningkatkan cakupan pelayanan sampah;
2. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan;
3. Menjadikan sampah sebagai sumber daya.
Berdasarkan PERMEN PU No. 03 Tahun 2013 ini Pemerintah kabupaten/kota selain
menetapkan kebijakan dan strategi juga menyusun dokumen rencana induk dan studi
kelayakan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.
Acuan rencana induk ini ditetapkan untuk jangka waktu paling sedikit 10 (sepuluh) tahun.
Rencana induk ini paling sedikit memuat:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Pembatasan timbulan sampah;


Pendauran ulang sampah;
Pemanfaatan kembali sampah;
Pemilahan sampah;
Pengumpulan sampah;
Pengangkutan sampah;
Pengolahan sampah;
Pemrosesan akhir sampah.

Berdasarkan PERMEN PU No. 03 Tahun 2013 Penanganan Sampah meliputi:


a)
b)
c)
d)
e)
1)

Pemilahan;
Pengumpulan;
Pengangkutan;
Pengolahan; dan
Pemrosesan akhir sampah.
Pemilahan berdasarkan PERMEN PU No. 03 Tahun 2013 dalam pasal 14 huruf a
dilakukan melalui kegiatan pengelompoan sampah paling sedikit 5 (lima) jenis
sampah, yang antara lain :
a. Sampah yang dapat digunakan kembali; dan
b. Sampah yang dapat didaur ulang.

Sampah yang dapat digunakan kembali maksudnya adalah sampah yang dpaat
dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yaitu kertas, kardus, botol dan

kaleng.
Sampah daur ulang menurut peraturan ini adalah sampah yang dapat dimanfaatkan
kembali setelah proses pengolahan yaitu sisa kain, plastik, kertas, dan kaca.

Pemilahan sampah menurut peraturan ini dilakukan oleh:


a. Setiap orang pada sumbernya;
b. Pengelola kawasan permukiman, komersial, industri, kawasan khusus, fasilitas
umum, fasilitas sosial, fasilitas lainnya; dan
c. Pemerintah kabupaten/kota.
2) Pengumpulan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b tidak boleh
dicampur kembali setelah dilakukan pemilahan dan pewadahan. Pada peraturan ini
(Pasal 20 ayat 2) pengelola kawasan dan pemerintah kabupaten/kota wajib
menyediakan TPS, TPS 3R atau alat pengumpul untuk sampah terpilah dan pada Pasal
20 ayat 4 TPS harus menyediakan sarana untuk mengelompokan sampah menjadi
paling sedikit 5 (lima) jenis sampah, dan lokasinya mudah diakses, hal ini agar
memudahkan masyarakat atau pengelolan untuk menjangkau lokasi dan pemilahan
bisa di lakukan di TPS dengan memberdayakan masyarakat.
3) Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf d meliputi kegiatan,
antara lain:
a. Pengomposan;
b. Daur ulang materi; dan
c. Mengubah sampah menjadi sumber energi.
Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan :
a.
b.
c.
d.

Karakteristik sampah;
Teknologi pengolahan yang ramah lingkungan;
Keselamatan kerja;
Kondisi sosial masyarakat.

Penerapan teknologi sebagaimana dimaksud ayat (3) dilakukan setelah melalui tahap
studi kelayakan dan dioperasikan secara profesional.
Pada Pasal 56 ayat (1), (2), dan (3) masing masing menjelaskan bahwa pemantauan
bertujuan untuk mendapatkan data dan/atau informasi kinerja teknis dan non teknis
penyelenggaraan PSP. Lalu Kinerja teknis yang dimaksud adalah: kondisi dan fungsi,
operasional, dan kualitas lingkungan. Kemudian kinerja non teknis meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.

Kelembagaan;
Manajemen;
Keuangan;
Peran masyarakat; dan
Hukum.

Lalu pada pasal 58 kegiatan evaluasi bertujuan mengukur keberhasilan dan


mengidentifikasi hambatan pelaksanaan penyelenggaraan dan kegiatan evaluasi
membandingkan dengan hasil pemantauan dengan standar, pedoman, manual serta SNI, baik
teknis maupun non teknis.
Peran serta masyarakat dan swasta diatur dalam Pasal 75 menerangkan bahwa:
1) Masyarakat berperan dalam proses pengambilan keputusan, penyelenggaraan dan
pengawasan yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
2) Peran serta yang dimaksud pada Pasal 75 ini adalah:
a. Pemberian laporan, usul, pertimbangan dan/atau saran kepada Pemerintah dan/atau
Pemerintah daerah;
b. Pemberian saran dan pendapat dalam perumusan kebijakan dan strategi;
c. Pelaksanaan kegiatan penanganan sampah yang dilakukan secara mandirimaupun
bermitra dengan pemerintah kabupaten/kota;
d. Pemberian pendudukan dan pelatihan, kampanye, dan pendampingan oleh kelompok
masyarakat kepada anggota masyarakat dalam penanganan sampah untuk mengubah
perilaku anggota masyarakat.
Peran swasta yang diatur dalam Pasal 76 menerangkan bawha pemerintah kabupaten/kota
secara sendirisendiri aatu bersama-sama dapat bermitra dengan swasta/badan usaha dalam
penyelenggaraan PSP.
Pembinaan dan pengawasan juga diatur melalui Pasal 77 yang menerangkan bahwa:
1) Menteri melakukan pembinaan kepada pemerintah daerah dalam menyelenggarakan
2)
a.
b.
c.

PSP.
Pembinaan yang dimaksud antara lain adalah:
Pendidikan dan pelatihan di bidang penyelenggaraan PSP;
Fasilitasi penyelesaian perselisihan antar daerah;
Fasilitasi kerja sama pemerintah daerah, badan usaha dan asyarakat dalam

penyelenggaraan PSP;
d. Fasilitas bantuan teknis.
3) Gubernur melakukan pembinaan kepada pemerintah kabupaten/kota dalam
a.
b.
c.
d.
e.

menyelenggarakan PSP melalui:


Bantuan teknis;
Bimbingan teknis;
Diseminasi peraturan daerah;
Pendidikan dan pelatihan;
Fasilitasi penyelesaian perselisihan.

LAMPIRAN

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 03 TAHUN 2013


TENTANG PENYELENGGARAAN PRASARANA DAN SARANA PERSAMPAHAN
DALAM PENANGANAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS
SAMPAH RUMAH TANGGA

1) Peran serta masyarakat dan swasta


- Tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat;
- Program kampanye dan edukasi yang ada;
- Peran swasta yang ada;
- Kemitraan dengan swasta.
2) Pola Pelayanan
TIMBULAN SAMPAH

PEMILAHAN,
PEWADAHAN,
PENGOLAHAN

PENGUMPULAN

PEMINDAHAN

PEMILAHAN DAN
PENGOLAHAN

PENGANGKUTAN

PEMROSESAN
AKHIR
Gambar 1 Pola pelayanan
3) Dalam perencanaan induk kota. Untuk mendapat suatu perencanaan yang
optimum maka strategi pemenuhan PSP adalah sebagai berikut:
a. Pemafaatan prasarana dan sarana secara optimal;
b. Meningkatkan kegiatan 3R secara bertahap dengan program
kampanye dan edukasi dan pendampingan;
c. Mengurangi sampah yang dibuang ke TPA secara bertahap.

4) Rencana sumber sampah:

a. Proyeksi penduduk harus dilakukan interval 5 tahun;


b. Identifikasi sumber sampah;
c. Identifikasi daerah berdasarkan kepadatan penduduk.

LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 03 TAHUN 2013


TENTANG PENYELENGGARAAN PRASARANA DAN SARANA PERSAMPAHAN
DALAM PENANGANAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS
SAMPAH RUMAH TANGGA