Anda di halaman 1dari 53

KLIPING

JURNAL PROTOZOA AIR SEBAGAI INDIKATOR LINGKUNGAN


Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Avertebrata Air

DISUSUN OLEH :
PEFI FIRMAN NURLAILUDIN

( 230110110030 )

RIANDI SAPUTRO

( 230110110042 )

FIQI MUHAMMAD SEPTIAN

( 230210110023 )

KELAS : FPIK I A

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
2011

DAFTAR ISI
Resume Jurnal 1
1.

Luli Gustiantini dan Ediar Usman : Distribusi Foraminifera Bentik Sebagai


Indikator Kondisi Lingkungan di Perairan Sekitar Pulau Batam Riau
Kepulauan ... 2

2.

Suhartati M. Natsir dan Rubiman : Distribusi Foraminifera Bentik Resen


di Laut Arafura.. 12

3.

Suhartati M. Natsir : Kelimpahan Foraminifera Resen Pada Sedimen


Permukaan di Teluk Ambon...... 21

4.

Effendi Parlindungan Sagala : Potensi Komunitas Plankton dalam


Mendukung Kehidupan Komunitas Nekton di Perairan Rawa Gambut,
Lebak Jungkal di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir
(OKI), Propinsi Sumatera
Selatan 31

5.

Ainin Niswati, Dermiyati, dan Mas Achmad Syamsul Arif : Perubahan


Populasi Protozoa dan Alga Dominan pada Air Genangan Tanah Padi
Sawah yang Diberi Bokashi Berkelanjutan ... 37

6.

Rosmimik Emerde Palar : Peranan Mikroba dan Protozoa Dalam


Penanggulangan Limbah Cair Industri Kertas.. 44

Daftar Pustaka.............. 51

RESUME JURNAL
Protozoa termasuk golongan protista eukariotik yang berada dalam
keadaan sel tunggal dan berkoloni. Protozoa hidup bebas tergantung adanya air,
pada bahan organik yang membusuk, dalam tanah dan pasir, hidupnya
dipengaruhi kelembaban, suhu, cahaya, nutrien dan kondisi fisik dan kimia.
Pertumbuhanannya dapat bertahan dalam air pada suhu 560 C, tetapi suhu
optimumnya adalah antara 36 s/d 400C, keasaman berkisar antara pH 6.0 dan pH
8.0. Protozoa memiliki 4 kelas yang dibedakan berdasarkan alat geraknya, yaitu
Rhizopoda, Flagellata (Mastigophora), Ciliata (Ciliophora), dan Apicomplexa
(Sporozoa).
Dalam Kliping Jurnal Protozoa Air Sebagai Indikator Lingkungan, dibahas
beberapa protozoa air sebagai indikator lingkungan antara lain :
1. Kandungan Foraminifera (Kelas Rhizopoda) di dalam sedimen permukaan
perairan sekitar Pulau Batam Kepulauan Riau sangat berlimpah dan beraneka
ragam. Kumpulan Foraminifera yang ditemukan menunjukkan kondisi
lingkungan laut dangkal dengan energi arus relatif tinggi, dengan material
sedimen yang kasar sampai lumpuran.
2. Chlorophyceae, Diatomae (Bacillariophyceae) dan Flagellata merupakan
takson yang dominan yang dijumpai pada ekosistem perairan Danau Lebak
Jungkal. Dengan demikian spesies-spesies yang termasuk ketiga taksa tersebut
merupakan yang paling adaptif dan dapat dikembangkan untuk pakan alami
dalam budidaya ikan di wilayah Danau Lebak Jungkal.
3. Protozoa dan alga yang mendominasi pada air genangan tanah sawah pada
penelitian ini adalah dari genus Euglena, Pleodorina, Volvox, dan Diatom.
Pemberian bokashi terus menerus selama 4 tahun meningkatkan secara
siginifikan jumlah populasi protozoa dan algae secara keseluruhan, tetapi
hanya alga genus Volvox yang jumlahnya secara signifikan dipengaruhi oleh
pemberian bokashi terus menerus.
4. Protozoa aerob yang berfungsi mendegradasi limbah mentah yang ada dalam
tangki dan menghasilkan produk samping berupa amoniak, methan, hidrogen
sulfida. Protozoa yang digunakan adalah kelas Ciliata yaitu Metapus sp,
Saprodinium sp, Epulxis sp.
Dari pembahasan sekilas di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat
protozoa yang dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan antara lain
Foraminifera (kelas Rhizopoda), Metapus sp, Saprodinium sp, Epulxis sp (kelas
Ciliata).
Dengan demikian protozoa dapat bermanfaat bagi manusia salah satunya
adalah untuk menentukan indikator suatu lingkungan yang mana apakah
lingkungan tersebut baik atau buruk bagi kelangsungan hidup manusia.

DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK SEBAGAI INDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN DI


PERAIRAN SEKITAR PULAU BATAM RIAU KEPULAUAN
Oleh :
Luli Gustiantini dan Ediar Usman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174

SARI
Hasil analisis foraminifera bentik dari 42 percontoh sedimen dasar laut yang diambil dari Perairan
Batam menunjukkan kelimpahan yang sangat tinggi, terdiri dari 123 spesies, yang terbagi menjadi 72
spesies dari Grup Rotaliina, 28 spesies Miliolina, dan 23 spesies Textulariina. Berdasarkan analisis
cluster, lokasi penelitian terbagi menjadi 5 cluster, yang masing-masing didominasi oleh Asterorotalia
trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, dan
Operculina ammonoides. Kelima spesies tersebut merupakan penciri lingkungan laut dangkal, sedimen
kasar, dan berasosiasi dengan lingkungan berenergi tinggi dan terumbu karang.
Penyebaran foraminifera bentik di lokasi penelitian dipengaruhi oleh pola arus, distribusi sedimen,
dan terumbu karang. Ada perbedaan distribusi foraminifera bentik yang cukup signifikan antara
wilayah sebelah barat dengan di sebelah utara dan timur penelitian. Ketiga area tersebut memiliki pola
arus, tingkat energi dan distribusi sedimen yang cukup berbeda. Wilayah Perairan Batam dinilai masih
memiliki kondisi lingkungan yang bagus, dilihat dari kelimpahan foraminifera bentik, serta dari nilai
tingginya index diversitas yaitu >3.
Kata kunci : foraminifera bentik; analisis cluster; indikator lingkungan; Perairan Batam - Riau

ABSTRACT
Analysis of benthic foraminifera from 42 seafloor sediment samples from Batam Waters, shows very
high abundance, consists of 123 species, which are 72 species belong to Rotaliina, 28 species of Miliolina,
and 23 species of Textulariina. Based on cluster analysis, the study area is divided into 5 groups, each
cluster is dominated by Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata,
Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, and Operculina ammonoides. These five species of benthic
foraminifera are indicators for shallow marine water environment, with coarse sediment fraction and
associated with high energy environment and coral reef.
The benthic foraminiferal distribution is influenced by current pattern, sediment distribution, and
coral reef. There is a significant difference between benthic foraminiferal distribution in the western part
with the northern and the eastern parts. These three parts of the study area have different current pattern,
energy, and sediment distribution. Batam Waters is assumed still in good environment, derived from both
high abundance of benthic foraminifera and the high value of diversity index (>3).
Key words : benthic foraminifera; cluster analysis; environmental indicator; Batam Waters

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

43

PENDAHULUAN
Perairan di sebelah utara P. Batam
merupakan bagian dari jalur lalu lintas
internasional, dan merupakan batas antara
Indonesia Malaysia, dan Indonesia
Singapura. Perairan ini mempunyai karakteristik
arus yang relatif kuat, bergerak pada umumnya
dari baratlaut ke tenggara sejajar dengan arah
perairan Selat Malaka. Kedalaman rata-rata
daerah penelitian 10-20 m, sedangkan
kedalaman maksimal 65m terdapat di bagian
tengah penelitian (Usman, drr., 2005).
Seiring
dengan
perkembangan
pembangunan, Perairan Batam sebagai kawasan
pesisir akan menjadi tujuan pengembangan
sarana teknologi pelayaran, pelabuhan, industri,
pemukiman, dan perikanan. Akibatnya akan
timbul permasalahan baru antara lain persoalan
pencemaran lingkungan, abrasi pantai, banjir,
erosi permukaan tanah, amblasan, kelangkaan
air bersih, dll. (Usman, drr., 2005). Sehingga
perlu adanya monitoring terhadap berbagai
perubahan lingkungan yang terjadi. Oleh karena
itu selain bertujuan untuk mengetahui
kandungan dan penyebaran foraminifera bentik
di lokasi penelitian dan faktor-faktor lingkungan
yang mempengaruhinya, penelitian ini juga
dimaksudkan sebagai monitoring terhadap
kondisi lingkungan perairan sekitar Pulau
Batam.
Foraminifera merupakan salah satu partikel
dalam sedimen dasar laut yang keberadaannya
dapat menunjukkan lingkungan tempat dia
hidup. Cara hidupnya adalah menempelkan diri
pada sedimen, batuan, tumbuh-tumbuhan laut
dan karang yang berada di dasar perairan.
Akibatnya foraminifera bentik sangat sensitif
terhadap berbagai perubahan lingkungan seperti
temperatur, salinitas, cahaya, kedalaman,
kandungan oksigen, dll. (Boltovskoy dan Wright,
1976), sehingga merupakan
indikator
lingkungan yang sangat potensial.
Daerah penelitian adalah perairan Pulau
Batam dan sekitarnya, yang terletak pada
koordinat 103030 BT 1050 BT, 1000 LU2000LU (Gambar 1), termasuk ke dalam lembar
peta no. 1017. Sedimen dasar laut Perairan
Batam didominasi oleh pasir kuarsa dan
campuran kerikil, serta cangkang dan
batulempung kaolin, terutama di bagian timur
daerah pemetaan. Sementara di bagian barat

44

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

lebih didominasi oleh sedimen fraksi yang lebih


halus dan tebal (Usman, drr., 2005).
METODE PENELITIAN
Pelaksanaan survei lapangan dilakukan oleh
Tim Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi Kelautan (PPPGL) pada 1 Juni s/d 5 Juli
2005, menggunakan kapal Geomarin I. Dalam
kegiatan tersebut telah dikoleksi sebanyak 80
per contoh sedimen dasar laut dengan alat grab
sampler, lalu dipilih sebanyak 42 sampel yang
dianggap
mewakili
daerah
penelitian.
Selanjutnya 300 individu diambil dari percontoh
hasil cucian masing-masing dari contoh fraksi
ukuran terbesar, bila masih kurang diambil dari
fraksi yang lebih kecil. Cangkang foraminifera
tersebut akan dideterminasi mengacu pada
Barker (1960), Albani & Yassini (1993),
Loeblich&Tappan (1994), dan Yassini & Jones
(1995).
Tahap selanjutnya adalah analisis kuantitatif
dilakukan untuk mengetahui kelimpahan dan
keanekaragamannya, serta pengelompokkan
berdasarkan
metode
cluster.
Untuk
pengelompokkan ini, dipilih 19 spesies yang
paling melimpah di lokasi penelitian, dan
kemudian diproses dalam program komputer
STATISTICA : cluster analysis, yang telah
banyak dilakukan antara lain oleh Jorissen
(1986), dan Yassini & Jones (1991).
Pengelompokkan
dilakukan
berdasarkan
kemiripan pola sebaran masing-masing spesies.
Untuk
menghitung
tingkat
keanekaragaman, digunakan rumus ShannonWeaver yang dikembangkan dalam program
komputer oleh Bakus (1990), yaitu:

H = - pi log pi
Keterangan :
pi = ni / N
= jumlah
ni = jumlah individu dari setiap spesies pada
tiap contoh (I1, I2, . .., in)
N = jumlah total individu
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Foraminifera bentik ditemukan cukup
melimpah, terdiri dari 123 spesies, terbagi
menjadi 72 dari grup Rotaliina, 28 spesies dari

Volume 6, No. 1, April 2008

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Gambar 1. Lokasi penelitian dan batimetrinya (Modifikasi dari Usman, drr., 2005)

45

Gambar 2.

Foraminifera bentik yang dominan di lokasi penelitian (cluster 1: 1. Asterorotalia


trispinosa, 2. Textularia agglutinans, 3. Textularia cf. T. semialata, 4. Textularia conica;
Cluster 2 : 5 - 7. Pseudorotalia annectens, 8, 9. Eponides cibrorepondus, 10, 11.
Pseudorotalia conoides, 12, 13. Pseudorotalia sp. 2; Cluster 3: 14. Amphistegina radiata,
15. Elphidium cf. E. discoidalis multiloculum; Cluster 4 : 16. Quinqueloculina cf. Q.
philippinensis, 17. Heterolepa subhaidingeri; 18, 19. Asterorotalia inflata, 20.
Spiroloculina subimpresa; Cluster 5 : 21. Operculina ammonoides, 22. Agglutinella
agglutinans, 23. Siphotextularia sp.3, 24. Siphotextularia sp. 2, 25. Ammobaculites
agglutinans

grup Miliolina, dan 23 spesies dari grup


Textulariina. Komposisi ini sangat ideal bagi
lingkungan
laut
dangkal/zona
paparan
(Boltovskoy & Wright, 1976), di mana jenis
Rotaliina lebih dominan dibandingkan dengan
jenis lainnya.
Berdasarkan analisis cluster, yang dilakukan
terhadap 19 jenis foraminifera paling dominan
(Gambar 2), lokasi penelitian terbagi menjadi 5
cluster, di mana tiap cluster dicirikan oleh
beberapa spesies yang pola penyebarannya
hampir sama.
Cluster
1
dicirikan
oleh
spesies
Asterorotalia trispinosa yang paling dominan,
Textularia agglutinans, Textularia cf. T.semialata,
dan Textularia conica, yang menunjukkan
karakteristik lingkungan perairan terbuka
dengan arus menengah - kuat, serta sedimen

46

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

penyusun lumpuran dan pasir (Boltovskoy &


Wright, 1976; Yassini & Jones, 1995, dan
Rositasari & Rahayuningsih, 2000). Sedangkan
keberadaan
spesies
Textularia
conica
menunjukkan energi tingkat menengah (Biswas,
1976). Penyebarannya terutama pada area di
sebelah baratlaut (lokasi 49), serta di sebelah
timurlaut penelitian sekitar lokasi 21 dan 81
(Gambar 3).
Cluster 2 dicirikan oleh Pseudorotalia
annectens, Eponides cibrorepondus, Pseudorotalia
conoides, dan Pseudorotalia sp.2, yang
menunjukkan lingkungan perairan dangkal,
terbuka, dengan tingkat energi menengah, serta
sedimen pasir lebih halus (Biswas, 1976).
Penyebarannya terutama di sebelah utara P.
Bintan (Gambar 4).

Gambar 3. Distribusi Cluster 1

Gambar 4. Distribusi Cluster 2

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

47

Tabel 1. Nilai indeks diversitas foraminifera bentik


No contoh
sedimen
1
2
4
5
7
8
9
12
13
17
18
21
23
24
28
30
31
32
33
35
36

Jumlah
spesies
32
45
24
28
30
33
39
36
37
27
28
22
37
40
20
30
40
29
36
39
36

nilai indeks
diversitas
3.47
3.99
3.14
3.50
3.40
3.81
3.66
3.58
3.83
3.50
3.33
3.09
3.87
3.69
3.40
3.37
4.01
3.56
3.93
3.66
3.58

Cluster 3 dicirikan oleh Amphistegina


radiata dan Elphidium cf. E. discoidalis
multiloculum, menunjukkan kondisi lingkungan
perairan dangkal dengan energi arus yang relatif
tinggi. Seperti diketahui, pada Perairan Batam,
terutama di sekitar Pulau Batam dan Bintan,
terdapat populasi terumbu karang, yang
biasanya berasosiasi dengan kondisi turbulen
dan temperatur hangat (Boltovskoy & Wright,
1976). Jenis-jenis foraminifera yang biasanya
berasosiasi dengan terumbu karang antara lain
Amphistegina, Calcarina, serta Elphidium.
Keterkaitan dengan terumbu karang inilah yang
mempengaruhi penyebaran cluster 3, sehingga
cenderung memiliki konsentrasi yang tinggi di
sekitar Pulau Bintan, yaitu lokasi 4, 5, dan 7
(Gambar 5).
Cluster 4 dicirikan oleh Quinqueloculina cf.
Q.
philippinensis, Heterolepa subhaidingeri,
Asterorotalia
inflata,
dan
Spiroloculina
subimpresa. Penyebarannya terutama di bagian
timurlaut penelitian, yaitu di sekitar lokasi no
24, 28, 32, dan 33 (Gambar 6). Spesies
Quinqueloculina cf. Q. philippinensis yang
sangat dominan menunjukkan (indikator)

48

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

No contoh
sedimen
38
39
40
45
47
49
51
55
56
58
60
63
65
66
71
73
74
75
76
80
81

Jumlah
spesies
32
42
42
50
40
17
27
21
32
35
51
34
26
46
30
37
28
39
28
43
37

nilai indeks
diversitas
3.47
3.74
3.95
4.28
4.20
2.77
3.30
3.04
3.66
3.81
4.11
3.61
3.26
3.83
3.40
3.91
3.33
4.01
3.47
4.03
3.78

kondisi lingkungan laut terbuka, dangkal,


dengan komposisi sedimen pasir halus sampai
lempung, dan fragmen cangkang (Biswas, 1976).
Foraminifera yang ditemukan pada cluster 5
dicirikan
oleh
Operculina
ammonoides,
Agglutinella agglutinans, Siphotextularia sp. 3,
Siphotextularia sp. 2, dan Ammobaculites
agglutinans. Penyebarannya adalah di sebelah
timur daerah penelitian, terutama di wilayah
paling timurlaut, yaitu di sekitar lokasi 28, 30,
31, 38, dan 39 (Gambar 7). Dominasi dari
Operculina ammonoides menunjukkan kondisi
lingkungan laut dangkal terbuka, turbidit,
terumbu karang, dan sedimen pasir yang lebih
halus, sampai lumpur dengan fragmen cangkang
dan kaya akan zat organik (Biswas, 1976;
Murray, 1991; dan Yassini & Jones, 1991).
Berdasarkan distribusi kelima cluster
tersebut, hanya cluster 1 yang penyebarannya
mendominasi daerah bagian barat. Wilayah
bagian barat ini memiliki karakteristik sedimen
fraksi kasar, kecuali pada beberapa lokasi
memiliki kandungan sedimen lumpur. Daerah ini
didominasi oleh Asterorotalia trispinosa, yaitu
jenis foraminifera bentik yang mampu bertahan

Gambar 5. Distribusi Cluster 3

Gambar 6. Distribusi Cluster 4

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

49

Gambar 7. Distribusi Cluster 5

Gambar 8.

50

Kumpulan cangkang pecah dari lokasi 49 di sebelah barat penelitian (1.


Asterorotalia trispinosa (lebih dominan); 2. Operculina; 3. Pseudorotalia)

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

pada lingkungan dengan kondisi arus relatif kuat,


terutama sangat berlimpah pada lokasi 49, yang
mencapai 211 individu, atau 72,01 % dari
seluruh individu yang ada. Lokasi ini merupakan
lokasi paling ujung baratlaut, di mana seperti
telah diungkapkan sebelumnya bahwa arus
berarah
baratlaut-tenggara,
sehingga
diasumsikan daerah ini memiliki arus yang
sangat kuat. Asterorotalia trispinosa yang
ditemukan menunjukkan variasi dari bentuk dan
jumlah duri, gejala tersebut disebut ekofenotip,
yaitu variasi morfologi cangkang sebagai salah
satu cara beradaptasi terhadap lingkungan.
Gejala ini berasosiasi dengan lingkungan daerah
pesisir, dan lingkungan dengan variabel tinggi
(Walton & Sloan, dalam Rositasari, 1997).
Tingginya energi arus di bagian barat ini
(lokasi 49) juga terlihat dari ditemukannya
cangkang-cangkang foraminifera dalam kondisi
pecah (tidak utuh), terutama jenis Asterorotalia,
Pseudorotalia, dan Operculina (Gambar 8).
Kondisi ini menunjukkan adanya transportasi
cangkang akibat pergerakan arus.
Sementara 4 cluster lainnya lebih
terkonsentrasi di bagian utara sampai timur laut
lokasi penelitian. Daerah ini dicirikan dengan
kandungan sedimen yang relatif lebih halus
dengan energi arus yang relatif lebih rendah.
Pada daerah bagian utara dan sebelah timur
penelitian ini, keberadaan terumbu karang juga
sangat
berperan
terhadap
distribusi
foraminifera, terutama karena habitatnya selalu
berasosiasi dengan kondisi yang cukup
mendapat sinar matahari, yang berarti
kandungan oksigen yang mencukupi, serta
pasokan nutrisi yang tinggi, maka kondisi ini
sangat
menguntungkan
bagi
populasi
foraminifera, sehingga daerah ini cenderung
lebih berlimpah dan beraneka ragam dibanding
dengan bagian barat.
Nilai indeks diversitas lokasi penelitian
relatif tinggi (> 3), dengan nilai rata-rata 3,72
(Tabel 1). Hal tersebut menunjukkan bahwa
wilayah Perairan Pulau Batam dan sekitarnya
masih memiliki kondisi lingkungan yang masih
bagus dan cocok bagi perkembangan fauna
(Darsono, 1996).

foraminifera di dalam sedimen permukaan


perairan sekitar P Batam Kepulauan Riau
sangat berlimpah dan beraneka ragam.
Kumpulan foraminifera yang ditemukan
menunjukkan kondisi lingkungan laut dangkal
dengan energi arus relatif tinggi, dengan
material sedimen yang kasar sampai lumpuran.
Ada perbedaan nyata antara penyebaran
foraminifera di sebelah barat dengan di sebelah
utara dan timur penelitian, menunjukkan adanya
pengaruh dari faktor arus, jenis sedimen, dan
terumbu karang yang terkonsentrasi di sekitar P.
Batam dan P. Bintan.
Karena memiliki kelimpahan foraminifera
bentik tinggi (nilai indeks diversitas > 3),
Perairan di sekitar P. Batam dan P. Bintan ini
dianggap masih bagus dan cocok untuk
pertumbuhan mikrofauna.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan pembahasan di
atas, dapat disimpulkan bahwa kandungan

Boltovskoy, E., & Wright, R., 1976. Recent


foraminifera, Dr. W. Junk Publishers, The
Netherlands, 414h.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis berterima kasih kepada rekan-rekan
PPPGL yang merupakan anggota tim penelitian
di Perairan Batam Riau Kepulauan (LP 1017),
K. T. Dewi, A. Fauzi, dan Y. Permanawati atas
dukungan, bantuan, dan diskusi selama proses
penyusunan makalah ini.
ACUAN
Albani, A.D., & Yassini, I. 1993. Taxonomy and
distribution of the Family Elphididae
(foraminiferida) from shallow Australian
Waters, Centre for Marine Science,
University of New South Wales, Australia.
51h.
Bakus, G.J. 1990. Quantitative ecology and
marine biology, A.A. Balkema, Rotterdam.
157h.
Barker, W. R., 1960. Taxonomic notes, soxy of
economic paleontologists and mineralogist,
Shelf Development Company, Houston,
Texas, 238h.
Biswas, B., 1976. Bathymetry of Holocene
foraminifera and Quaternary sea level
changes on the Sunda Shelf. Dalam :
Journal of Foraminiferal Research, v. 6 (2) :
107 133.

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

51

Darsono, P. 1996. Analisis Infaunal benthos


untuk pemantauan pencemaran, studi
kasus di Fiji. Oseana. Vol. 21(2) : 45-63.
Loeblich, JR., A.R., & Tappan, H. 1994.
Foraminifera of the Sahul Shelf and Timor
Sea, Cushman Foundation Special
Publication no.31. Dalam: Stephen J.
Culvier (Edt). Cushman Foundation for
Foraminiferal
Research,
Cambridge,
U.S.A. 661h.
Murray, J.W. 1991. Ecology and distribution of
benthic foraminifera. Dalam : Biology of
foraminifera, J.J. Lee & O.R. Anderson
(Editor),
Academic
Press,
United
Kingdom : 221 - 253.
Rositasari, R. 1997. Variasi morfologi pada
marga Ammonia. Dalam : Oseana. Majalah
Ilmiah Semi Populer. Badan Penelitian dan
Pengembangan
Oseanografi,
Pusat
Penelitian dan Pengembangan Oseanologi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Jakarta, Volume XXII, no.3 : 1 - 15.

52

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 6, No. 1, April 2008

Rositasari, R., dan Rahayuningsih, S. K., 2000.


Foraminifera bentik. Dalam Foraminifera
sebagai bioindikator pencemaran, hasil
studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap,
Tangerang,
Pusat
Penelitian
dan
Pengembangan
Oseanografi, Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia : 3 26.
Usman, E., Setyanto, A., Gustiantini, L.,
Permanawati, Y., Aryawan, I. K. G.,
Laputua, G., Novi., Subarsah, Sahudin, dan
Hartono, 2005. Pemetaan geologi dan
potensi energi dan sumber daya mineral
bersistem (LP 1017) Batam Riau
Kepulauan. Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Geologi Kelautan,
Bandung,
Laporan
Intern,
Tidak
diterbitkan. 120h.
Yassini, I. dan Jones, B.G. 1995. Foraminiferida
and Ostracoda from estuarine and shelf
environments on The South Eastern Coast
of
Australia,
University
press.,
Wollonggong, 270h.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Hal. 74-82, Desember 2010

DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK RESEN DI LAUT ARAFURA


THE DISTRIBUTION OF RECENT BENTHIC FORAMINIFERA
IN THE ARAFURA SEA
Suhartati M. Natsir dan Rubiman
Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI
Email: suhartatinatsir@yahoo.com

ABSTRACT
Arafura Sea consists of shallow waters and located in the Southern of Papua to the north coast of
Australia. The waters is vegetated by shallow-water ecosytems such as mangrove, seagrass bed, and
coral reefs. The Arafura continental shelf is predominated by sediment from late Paleozoic,
Mesozoic to Cenozoic and underlain by granitic basement. Foraminifera is a single cell
microorgainsm, has pseudopodia with high level of diversity. Foraminifera dwells in every level of
sea depth, from estuary to the deep sea. However, a certain species commonly dwells in the specific
profundity. The aim of the study was to recognize the distribution of benthic foraminifera in the
waters of Arafura Sea and it relation with the environmental characteristics. As many as 11
sediment samples was collected in May 2010 from the water of Arafura Sea using a box core with
capcity of 0,3 m3. Laboratory analyses on the colleted samples were performed to determine the type
of sediments and identify the benthic foraminifera, and to determine the abundance of each samples.
The number of species found from the collected sediments were 37 species consisting of 29 genera of
which most of them were member of Suborder Rotaliina and many of them belong to Suborder
Miliolina and Textulariina. The most common species of the sampling sites were Ammonia beccarii
and Pseudorotalia schroeteriana. The Arafura Sea commonly recognized as shallow waters, open
seas, with current speed of midium to high. The predominant sediment type of the waters is sandy
mud and little of clay.
Keywords: distribution, benthic foraminifera, sediment and Arafura

ABSTRAK
Laut Arafura merupakan perairan dangkal yang terletak di wilayah Papua bagian Selatan sampai
bagian utara pantai Australia. Ekosistem yang terdapat pada perairan tersebut merupakan ekosistem
penciri perairan dangkal seperti hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Sedimen yang
mendominasi landas kontinen perairan Arafura berasal dari masa Paleozoikum akhir, Mesozoikum
sampai Kenozoikum yang dilandasi oleh lapisan granit pada bagian bawah. Foraminifera merupakan
mikroorganisme bersel tunggal dan berkaki semu yang mempunyai keragaman sangat tinggi. Habitat
foraminifera terdiri dari semua kedalaman laut dari tepi pantai sampai pada laut dalam. Secara
umum, suatu spesies bentik hidup pada kedalaman tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui distribusi foraminifera bentik yang terdapat pada sedimen di perairan Laut Arafura dan
kaitannya dengan karakteristik perairan tersebut. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Mei
2010 di Peraiaran Laut Arafura. Sebanyak 11 sampel sedimen diambil dari dasar perairan
menggunakan box core. Kemudian sampel yang diperoleh dianalisis jenis sedimennya dan
kandungan foraminifera bentik didalamnya. Jumlah spesies yang ditemukan mencapai 37 spesies
yang termasuk dalam 29 genus yang sebagian besar merupakan anggota dari subordo Rotaliina dan
beberapa spesies merupakan anggota Miliolina dan Textulariina. Spesies yang ditemukan merata
hampir di semua stasiun adalah Ammonia beccarii dan Pseudorotalia schroeteriana. Karakeristik
sebagian besar perairan Laut Arafura merupakan perairan dangkal, terbuka dengan tingkat energi
arus menengah sampai kuat. Jenis sedimen yang mendominasi perairan Laut Arafura adalah Lumpur
pasiran dengan sedikit lempung.
Kata Kunci: distribusi, foraminifera bentik, Sedimen, Arafura

74

Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan


Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB

Natsir dan Rubiman

I. PENDAHULUAN
Laut Arafura merupakan perairan
yang meliputi landas kontinen Arafura
Sahul dan terletak di wilayah Papua
bagian Selatan sampai perbatasan Benua
Australia. Batas bagian Utara perairan
tersebut merupakan Laut Seram dan
Pulau Irian Jaya (Papua), sedangkan
Pantai Utara Australia dari Semenanjung
York
sampai
Semenanjung
Don
merupakan batas di bagian Selatan. Di
bagian Barat, perairan tersebut dibatasi
oleh Laut Banda dan Laut Timor yang
melewati Kepulauan Aru dan Tanimbar.
Sedangkan di bagian Timur terdapat
Pulau Dolak dan Semenajung Don yang
membatasi perairan tersebut. Brdasarkan
tingkat kedalamannya, Laut Arafura
termasuk perairan dangkal dengan
kisaran kedalaman antara 30-90 m.
Ekosistem yang terdapat pada perairan
tersebut merupakan ekosistem penciri
perairan dangkal seperti hutan mangrove,
padang lamun dan terumbu karang
(Wagey dan Arifin, 2008). Menurut
Katili
(1986),
sedimen
yang
mendominasi landas kontinen perairan
Arafura berasal dari masa Paleozoikum
akhir, Mesozoikum sampai Kenozoikum
yang dilandasi oleh lapisan granit pada
bagian bawah.
Foraminifera merupakan mikroorganisme bersel tunggal dan berkaki semu
yang mempunyai keragaman sangat
tinggi dan menempati hampir 2,5% dari
seluruh hewan yang dikenal sejak zaman
kambrium hingga resen. Sebanyak
38.000 spesies berupa fosil dan 10.000
12.000 spesies foraminifera resen
ditemukan
di
seluruh
lauatan
(Boltovskoy and Wright, 1976). Menurut
Murray (1973), distribusi dan kelimpahan
spesies mendapat perhatian yang cukup
besar, baik spesies yang masih hidup
maupun yang sudah mati. Foraminifera
merupakan kelompok hewan yang
sebagian besar hidup di laut.

Program pemantauan lingkungan


perairan dapat dilakukan berdasarkan
distribusi foraminifera karena beberapa
keunggulannya antara lain ukurannya
yang relatif kecil, hidup pada lingkungan
tertentu, jumlahnya melimpah, mudah
dikoleksi, ekonomis dan secara signifikan
dapat diolah secara statistik. Habitat
foraminifera
terdiri
dari
semua
kedalaman laut dari tepi pantai sampai
pada laut dalam. Secara umum, suatu
spesies bentik hidup pada kedalaman
tertentu. Kedalaman merupakan faktor
ekologi yang mempengaruhi distribusinya (Boltovskoy and Wright, 1976).
Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk
mengetahui distribusi foraminifera bentik
yang terdapat pada sedimen di perairan
Laut Arafura dan kaitannya dengan
karakteristik perairan tersebut.
II. METODE PENELITIAN
Secara umum, metode yang
digunakan dalam penelitian dilapangan
adalah metode survey, sedangkan
observasi dan analisis dilakukan di dalam
laboratorium.
Pengambilan
sampel
dilakukan pada bulan Mei 2010 di Laut
Arafura dari bagian tenggara Kepulauan
Tanimbar ke arah bagian selatan dan
timur Kepulauan Aru sampai sekitar
Pulau Dolak dan Pulau Irian Jaya (Papua)
(Gambar 1). Sedimen dasar laut diambil
dengan menggunakan box core yang
berkapasitas 0,3 m3 untuk memperoleh
sampel foraminifera bentik dari 11 lokasi
yang telah ditentukan. Sampel yang
diperoleh dimasukkan ke dalam kantong
plastik yang telah diberi label untuk
dianalisa lebih lanjut di laboratorium.
Proses preparasi, observasi dan analisis
terhadap
sampel
dilakukan
di
laboratorium Geologi Laut, Pusat
Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010

75

Distribusi Foraminifera Bentik Resen di Laut Arafura

Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel di perairan Laut Arafura


Sampel yang diperoleh merupakan
material dari dasar laut secara
keseluruhan yang meliputi material
sedimen,
serasah
dan
organisme
termasuk foraminifera bentik. Tahap
preparasi diperlukan untuk memisahkan
foraminifera bentik yang terdapat pada
sampel tersebut dari bahan-bahan dan
organisme
lain
sehingga
dapat
diidentifikasi dengan mudah. Preparasi
sampel dilakukan dengan beberapa tahap,
antara lain pencucian sampel, picking,
deskripsi dan identifikasi serta sticking
dan dokumentasi.
Pencucian
sampel
dilakukan
dengan menggunakan air mengalir diatas
saringan dengan diameter berturut-turut
1.0, 0.5, 0.250, 0.125, 0.063 mm. Setelah
pencucian, sampel tersebut dikeringkan
menggunakan oven pada suhu 30C
sampai kering (selama 30 menit).
Sampel yang telah kering dimasukkan ke
dalam kantong plastik yang telah diberi
label untuk analisis lebih lanjut. Setelah
76

pencucian dan pengeringan, saringan


harus direndam dalam larutan methiline
blue untuk mencegah kontaminasi oleh
sampel berikutnya dan dicuci. Tahap
selanjutnya
adalah
picking
yang
dilakukan dengan menyebarkan sampel
yang telah dicuci pada extraction tray
dibawah mikroskop secara merata.
Foraminifera yang terdapat dalam sampel
tersebut diambil dan disimpan pada
foraminiferal slide.
Kemudian
dilakukan
proses
deskripsi dan identifikasi terhadap
spesimen yang didapatkan. Spesimen
yang telah dipisahkan diklasifikasikan
berdasarkan morfologinya seperti bentuk
cangkang, bentuk kamar, formasi kamar,
jumlah kamar, ornamentasi cangkang,
kemiringan apertura, posisi apertura dan
kamar tambahan. Sedangkan proses
identifikasi
dilakukan
berdasarkan
berbagai referensi tentang foraminifera
bentik. Tahap selanjutnya merupakan
kajian sistemik dan analisis kuantitatif

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22

Natsir dan Rubiman

untuk mendapatkan data kelimpahan.


Proses sticking dan
dokumentasi
dilakukan dengan meletakkan spesimen
yang terpilih pada foraminiferal slide
dengan posisi tampak apertura, tampak
dorsal, tampak ventral dan tampak
samping yang kemudian didokumentasikan dibawah mikroskop.
Pengelompokan kelimpahan foraminifera
bentik
yang
ditemukan
berdasarkan jumlah spesimen yang
ditemukan. kelimpahan foraminifera
bentik dikelompokkan kedalam 3
kategori yaitu tinggi (melimpah), sedang
dan rendah (jarang). Spesies yang
tergolong dalam kelimpahan tinggi
merupakan spesies yang ditemukan
sebanyak lebih dari 50 spesimen,
sedangkan kelimpahan sedang dan
rendah masing-masing diwakili oleh
jumlah spsies yang ditemukan sebanyak
11 50 spesimen dan kurang dari 11
spesimen.
Penentuan jenis sedimen dari
sampel yang diambil dilakukan dengan
analisis granulometri
menggunakan
ayakan berukuran 0,063 4 mm.
Pengelompokan butir sedimen dilakukan
berdasarkan skala Wenworth (1922) dan
penamaannya berdasarkan klasifikasi
Shepard (1960).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Laut Arafura terletak di wilayah
Papua bagian Selatan sampai perbatasan
Benua Australia. Menurut Wagey dan
Arifin (2008), perairan Laut Arafura
merupakan perairan dangkal dengan
kisaran kedalaman antara 30-90 m
dengan Ekosistem yang terdapat pada
perairan tersebut merupakan ekosistem
penciri perairan dangkal seperti hutan
mangrove, padang lamun dan terumbu
karang. Namun, pada penelitian ini
ditemukan bahwa terdapat perairan yang
mempunyai kedalaman lebih dari 300 m.

Stasiun 13 yang terletak di bagian


Selatan Kepulauan Tanimbar tercatat
mempunyai kedalaman yang mencapai
341 m. Lokasi tersebut diduga
merupakan titik pertemuan antara Busur
Banda dan lempeng Benua Australia
seperti yang dinyatakan oleh Katili
(1986) bahwa terdapat lengkungan
kebawah pada sedimen di perairan
Arafura yang berbatasan dengan Busur
Banda. Pola tektonik dari deformasi
tersebut terjadi karena dorongan Busur
Banda ke arah Benua Australia dan
semakin meningkat ke arah Utara.
Sedangkan kedalaman di stasiun lainnya
tercatat tidak lebih dari 60 m dan perairan
paling dangkal ditemukan di dekat Pulau
Dolak (stasiun 14).
Secara keseluruhan, hasil analisis
terhadap sampel sedimen yang diperoleh
dari 10 lokasi di perairan Laut Arafura
diperoleh foraminifera bentik resen
sebanyak 1593 individu. Jumlah tersebut
terdiri dari 37 spesies yang termasuk
dalam 29 genus (Tabel 1). Sebagian besar
spesies yang ditemukan merupakan
anggota dari subordo Rotaliina, namun
juga ditemukan beberapa spesies yang
merupakan anggota Milioliina dan
Textulariina. Kelimpahan dan jenis
foraminifera bentik yang ditemukan pada
masing-masing stasiun berbeda-beda
seiring dengan komposisi atau jenis
sedimennya.
Setiap stasiun mempunyai komposisi kelimpahan foraminifera bentik yang
berbeda. Jumlah foraminifera terbanyak
diperoleh dari stasiun 22 dengan
kedalaman 38 m yang terletak di sebelah
tenggara Kepulauan Aru. Sedimen yang
mendominasi stasiun tersebut adalah
jenis lumpur pasiran dan sedikit lempung
(Tabel 2). Spesies yang ditemukan
melimpah pada stasiun tersebut adalah
Ammonia beccarii dan Pseudorotalia
schroeteriana
yang
masing-masing
mencapai 111 dan 64 individu (Tabel 1).

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010

77

Distribusi Foraminifera Bentik Resen di Laut Arafura

Tabel 1. Jumlah foraminifera bentik yang ditemukan pada sampel yang berasal dari
perairan Laut Arafura
Sampel

Foraminifera Benthic

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

Ammonia beccarii (Linnaeus)

104

21

46

121

69

14

116

131

111

14

Amphistegina lessonii

Anomalina rostrata (Bradyi)

21

Asterorotalia trispinosa

Astocolus reniformis (d'Orbigny)

Bolivina earlandi (Parr)

82

Bolivina spathulata (Williamson)

26

16

41

Bolivina subspinecens (Cushman)

12

Cancris oblongus (Cushman)

40

48

18

Cibicides berthelotianus (d'Orbigny)

Cibicides molis

14

Discorbinella biconcavus (Parker & Jones)

Elphidium craticulatum

41

Elphidium crispum

29

Eponides berthelotianus (d'Orbigny)

12

Fissurina exsculpra (Brady)

Guttulina dawsoni (Chusman and Ozawa)

Gyroidina neosoldanii

Hoglundina elegans (d'Orbigny)

Lagena gracillisima (Sguenza)

Nonion sp.

12

24

Oolina apiculata (Reuss)

Operculina ammonoides

12

12

Planispinoides bucculantus (Brady)

Planorbulina sp. (d'Orbigny)

Pseudopolymorphina ligua (Rosmer)

Pseudorotalia schroeteriana

40

28

30

24

21

64

Quinqueloculina cultrate

Quinqueloculina granulocostata

Quinqueloculina parkery

Quinqueloculina seminulum

Quinqueloculina sp.
Rosalina sp.
Spiroloculina communis

1
-

4
-

2
3

Textularia pseudogramen

Triloculina tricarinata

Young miliolidae

78

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22

Natsir dan Rubiman

Tabel 2. Kedalaman dan jenis sedimen pada masing-masing stasiun pengambilan


sampel di perairan Laut Arafura
Stasiun

Kedalaman (m)

Jenis sedimen

13

341

Lempung

14

19

Lempung

15

35

lumpur pasiran - pasir sedang

16

29

lanau lempung

17

35

Lumpur - pasir sedang lempung

18

38

Lumpur pasiran lempung

19

48

Lumpur pasiran lempung

20

60

Lumpur pasiran

21

35

Lumpur pasiran lempung

22

38

Lumpur pasiran Lempung

23

59

Pasir (sedang-kasar) lumpuran

Boltovskoy and Wright (1976)


menyatakan
bahwa
Asterorotalia
trispinosa dan Ammonia beccarii banyak
dijumpai pada sedimen pasir dan lumpur
pasiran. Namun A. Trispinosa hanya
ditemukan dalam jumlah yang sangat
sedikit. Spesies yang ditemukan dengan
tingkat kelimpahan sedang pada stasiun
tersebut adalah Cancris oblongus,
Cibicides molis dan dua spesies dari
genus Elphidium. Spesies yang terdapat
melimpah
dan
sedang
tersebut
merupakan anggota dari Subordo
Rotaliina.
Selain itu, pada stasiun 22 juga
ditemukan beberapa spesies yang
termasuk dalam Subordo Miliolina,
namun dalam jumlah yang sedikit atau
termasuk dalam kelimpahan rendah.
Spesies-spesies tersebut diwakili oleh
merupakan
anggota
dari
genus
Quinqueloculina yang diwakili oleh
Quinqueloculina sp., Q. granulocostata,
Q. parkery dan Q. seminulum. Spesiesspesies yang bercangkang hialin tersebut
masing-masing ditemukan tidak lebih
dari 10 individu.
Spesies yang bersimbiosis dengan
terumbu karang, berdasarkan klasifikasi
yang dilakukan oleh Hallock et al. (2003)
hanya ditemukan pada stasiun 23 dengan

jumlah yang sangat sedikit. Hal ini dapat


mengindikasikan bahwa perairan tersebut
bukan termasuk lingkungan yang
kondusif untuk pertumbuhan terumbu
karang.
Spesies
tersebut
adalah
Amphistegina lessonii yang ditemukan
dengan kondisi cangkang yang sudah
rusak. Demikian pula dengan beberapa
spesies yang ditemukan pada stasiun 17
dan 19 juga ditemukan dengan kondisi
cangkang yang rusak. Hal tersebut dapat
dimungkinkan akibat hempasan arus
sehingga dapat menghancurkan cangkang
foraminifera bentik yang terdapat di
perairan tersebut.
Beberapa spesies yang ditemukan
di lokasi ini merupakan penciri perairan
dangkal dan terbuka dengan kecepatan
arus menengah sampai tinggi. Menurut
Gustiantini dan Usman (2008), beberapa
spesies dari genus Elphidium merupakan
penciri perairan dangkal dengan energi
arus yang relatif tinggi. Sedangkan
spesies dari genus Quinqueloculina
merupakan penghuni lingkungan perairan
terbuka dengan kecepatan arus sedang
sampai tinggi, serta sedimen lumpur dan
pasir (Boltovskoy and Wright, 1976;
Yassini and Jones, 1995; dan Rositasari
dan Rahayuningsih, 2000). Suhartati
(1994 dan 2010) juga menemukan

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010

79

Distribusi Foraminifera Bentik Resen di Laut Arafura

Quinqueloculina melimpah di Pulau Pari


dan Pulau Belanda, Kepulauan Seribu
pada kedalaman 26-32 m, sedangkan
Barker (1960) menemukannya di bagian
selatan Papua pada kedalaman 37 m.
Graham dan Milante (1959) menemukan
spesies-spesies tersebut sangat melimpah
pada beberapa stasiun di Teluk Puerto
Galera, Philipina dan termasuk spesies
kosmopolitan.
Spesies yang ditemukan hampir di
seluruh stasiun adalah Ammonia beccarii
dan Pseudorotalia schroeteriana. A.
beccarii ditemukan sangat melimpah
pada semua stasiun kecuali stasiun 13
dengan kedalaman yang mencapai 341
m. Menurut Hallock et. al. (2003), A.
beccarii tergolong dalam spesies yang
oportunis sehingga dapat ditemukan di
berbagai lokasi yang berbeda. Walaupun
demikian, terdapat spesies oportunis lain
yang ditemukan dalam jumlah melimpah
dan dominan pada stasiun 13, yaitu dari
genus
Bolivina.
Genus
tersebut
didominasi oleh spesies Bolivina erlandi
yang ditemukan mencapai 82 individu,
sedangkan B. spathulata dan B.
subspinecens masing hanya mencapai 26
dan 12 individu.
Sebagai spesies penciri perairan
dangkal,
P.
schroeteriana
juga
ditemukan hampir di semua stasiun
kecuali stasiun 13 dan 15. Spesies
tersebut ditemukan dengan kelimpahan
rendah sampai tinggi. Menurut Biswas
(1976), P. schroeteriana merupakan
penciri perairan dangkal, terbuka dengan
tingkat energi arus menengah dengan
sedimen pasir halus. Oleh karena itu
karakeristik sebagian besar perairan Laut
Arafura merupakan perairan dangkal,
terbuka dengan tingkat energi arus
menengah sampai kuat karena juga
ditemukan Elphidium sebagai penciri
perairan berarus kuat.
Selain itu, spesies dari genus
Elphidium juga termasuk dalam genus
oportunis sesuai dengan pernyataan

80

Hallock et al. (2003), terbukti dengan


ditemukannya spesies tersebut pada 6
stasiun dari 11 stasiun yang diteliti.
Namun, genus yang diwakili oleh E.
craticulatum dan E. crispum tersebut
hanya ditemukan dengan kelimpahan
rendah sampai sedang (tidak lebih dari 50
individu).
Spesies-spesies
tersebut
ditemukan pada stasiun yang memiliki
kisaran kedalaman antara 35-60 m. Hal
ini sesuai dengan hasil peneletian yang
dilakukan oleh Murray (1973) dan
Boltovskoy dan Wright (1976) yang
menyatakan bahwa E. craticulatum dan
E. crispum memiliki penyebaran yang
luas dari daerah pantai hingga neritik
tengah.
Menurut Katili (1986), sedimen
yang mendominasi landas kontinen
perairan Arafura berasal dari masa
Paleozoikum akhir, Mesozoikum sampai
Kenozoikum yang dilandasi oleh lapisan
granit pada bagian bawahnya. Hasil
analisis sedimen yang diperoleh pada
lokasi penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar sedimen di perairan Laut
Arafura adalah lumpur pasiran. Sedimen
berupa lempung ditemukan disekitar
Kepulauan Tanimbar dengan kedalaman
341 m (stasiun 13) dan di sekitar Pulau
Dolak (stasiun 14). Sedangkan sedimen
pasir sedang sampai kasar yang
bercampur dengan fragmen karang dan
moluska ditemukan pada stasiun 23 yang
terletak di bagian selatan Kepulauan Aru
(Tabel 2 dan 3). Jenis spesies yang
ditemukan
pada
stasiun
tersebut
sebanyak 13 spesies. Jumlah tersebut
relatif lebih banyak dibandingkan dengan
stasiun lainnya, namun kelimpahan
masing-masing spesies tergolong sangat
rendah. Kelimpahan tertinggi hanya
mencapai 14 individu, yaitu pada spesies
Ammonia beccarii. Secara keseluruhan
jumlah
foraminifera
bentik
yang
ditemukan di stasiun 23 hanya mencapai
48 individu.

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22

Natsir dan Rubiman

Selain foraminifera bentik, juga


ditemukan foraminifera planktonik yang
menyebar hampir di semua stasiun
kecuali stasiun 16, 17 dan 22. Begitu pula
dengan fragmen moluska yang juga
terdapat di hampir semua stasiun (Tabel
3). Hal ini diduga karena karakteristik
perairan Laut Rafura yang terbuka
dengan
arus
yang
relatif
kuat
memungkinkan distribusi foraminifera
planktonik dan fragmen moluska tersebut
ke beberapa staiun disekitarnya, termasuk
perairan dalam (stasiun 23).
IV. KESIMPULAN
Jumlah spesies yang ditemukan di
perairan Laut Arafura dari sekitar
Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru
hingga Pulau Dolak adalah 37 spesies
yang termasuk dalam 29 genus. Sebagian
besar spesies yang ditemukan merupakan
anggota dari subordo Rotaliina dan
beberapa spesies yang merupakan

anggota Milioliina dan Textulariina.


Spesies yang ditemukan merata hampir di
semua stasiun adalah Ammonia beccarii
dan
Pseudorotalia
schroeteriana.
Berdasarkan
distribusi
foraminifera
bentik yang ditemukan, karakeristik
sebagian besar perairan Laut Arafura
merupakan perairan dangkal, terbuka
dengan tingkat energi arus menengah
sampai kuat. Selain P. schroeteriana,
juga ditemukan spesies penciri lainnya
seperti dari genus Elphidium dan
Quinqueloculina. Selain itu, pada
perairan terbuka tersebut juga ditemukan
foraminifera planktonik yang dtersebar
merata hampir di setiap stasiun. Jenis
sedimen yang mendominasi perairan
Laut Arafura adalah Lumpur pasiran
dengan sedikit lempung. Jumlah individu
terbanyak diperoleh dari stasiun dengan
sedimen lumpur pasiran, sedangkan
jumlah spesies terbanyak diperoleh dari
sedimen pasir lumpuran dengan butiran
pasir sedang sampai kasar.

Tabel 3. Organisme selain foraminifera bentik yang ditemukan dari sampel yang
berasal dari perairan Laut Arafura
Keterangan

Stasiun
13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

Foraminifera planktonik

Moluska

Bryozoa

Gastropoda

Ostracoda

Fragmen karang

Fragmen moluska

Keterangan:

= terdapat dalam jumlah banyak; = terdapat dalam jumlah sedang; = terdapat dalam jumlah sedikit;
= tidak ada

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010

81

Distribusi Foraminifera Bentik Resen di Laut Arafura

DAFTAR PUSTAKA
Barker, R.W. 1960. Taxonomic Notes.
Society of Economic Paleontologist
and
Mineralogist.
Special
Publication
No.
9.
Tulsa.
Oklahoma, USA. 238 pp.
Boltovskoy, E. and R. Wright. 1976.
Recent Foraminifera. Dr. W. June,
B. V. Publisher, The Haque,
Netherland.
Graham, J.J. and Militante. 1959. Recent
Foraminifera from The Puerto
Galera Area Northern Mindoro,
Philippines. Stanford University,
California.
Hallock, P., B.H. Lidz, E.M. CockeyBurkhard, and K.B. Donnelly.
2003.
Foraminifera
as
bioindicators
in
coral
reef
assessment and monitoring: the
FORAM Index. Environmental
Monitoring and Assessment, 81(13):221-238.
Katili, J.A. 1986. Geology and
hydrocarbon potential of the
Arafura Sea. In: Future Petroleum
Provinces of the World. AAPG
Memoir 40, M.T. Halbouty (editor)
487-501.
Murray, J. W. 1973. Distribution and
Ecology of Living Foraminifera.
The
John
Hopkins
Press.
Baltimore.
Rositasari R. dan S. K. Rahayuningsih.
2000. Foraminifera Bentik: Dalam
Foraminifera sebagai bioindikator
pencemaran, hasil studi di perairan
estuarin
Sungai
Dadap,
Tangerang. Pusat Penelitian dan
Pengembangan
Oseanografi.
Lembaga
Ilmu
Pengetahuan
Indonesia: 3-26.
Shepard, F. P. 1954, Nomenclature based
on sand-silt-clay ratios: Journal of
Sedimentari Petrology, 24:151-158.

82

Suhartati, M.N. 1994. Benthic Foraminifera In The Seagrass Beds of Pari


Island, Seribu Islands, Jakarta.
Proceedings.
Third
ASEANAustralia Symposium on Living
Coastal Resources. Volume 2:
Research Papers. Chulalongkorn
University Bangkok, Thailand.
323p.
________. 2010. Sebaran Foraminifera
Bentik
di
Pulau
Belanda,
Kepulauan Seribu pada Musim
Barat. Ilmu Kelautan, Edisi khusus,
2:381387.
Wagey, T., Arifin, Z. 2008. Marine
Biodiversity Review of The
Arafura and Timor Seas. Ministry
of Marine Affairs and Fisheries,
Indonesian Institute of Sciences,
United
Nation
Development
Program, and Cencus of Marine
Life. Jakarta. 136 pp.
Wentworth, C. K. 1922, A scale of grade
and class term for clastic sediment.
Jour. Geol. 30:337-392
Yassini, I. and B.G. Jones. 1995.
Foraminiferida and Ostracoda from
estuarne and shelf environments on
The South Eastern Coast of
Australia.
University
press.,
Wollonggong. 270 pp.

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22

E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 1, Hal. 9-18, Juni 2010

KELIMPAHAN FORAMINIFERA RESEN PADA SEDIMEN PERMUKAAN


DI TELUK AMBON
THE ABUNDANCE OF RECENT FORAMINIFERA IN SURFACE SEDIMENT
OF AMBON BAY
Suhartati M. Natsir
Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Jl. Pasir Putih 1, Ancol Timur, Jakarta, Indonesia (14430)
suhartatinatsir@yahoo.com
1TU

U1T

ABSTRACT
Foraminifera are generally live in sea water with various sizes. These organisms consist of
planktonic and benthic foraminifera. Geological activity on plutonic and volcanic with vomiting
magma is transpiring on, and then affects sedimentation and foraminiferal abundance of Ambon
Bay. The study was determined to study the abundance and distribution of foraminifera based
on the sediment characteristic of Ambon Bay. Sample collected in 2007 of Ambon Bay showed
that only 29 samples of 50 samples containing foraminifera. The collected sediments have 86
species of foraminifera, consisting 61 species of benthic foraminifera and 25 species of
planktonic foraminifera. The dominant benthic foraminifera in the surface sediment of Ambon
bay were Amphistegina lessonii, Ammonia beccarii, Elphidium craticulatum, Operculina
ammonoides and Quinqueloculina parkery. The planktonic foraminifera that were frequently
collected from the bay were Globorotalia tumida, Globoquadrina pseudofoliata,
Globigerinoides pseudofoliata, Globigerinoides cyclostomus dan Pulleniatina finalis.
Generally, the species dwelled as abundant on substrate sand, whereas the areas within
substrate mud have no foraminifera lie on them.
Keywords: Foraminifera, Abundance, Sediment, Ambon Bay

ABSTRAK
Mayoritas anggota foraminifera hidup pada lingkungan laut dan mempunyai ukuran yang
beragam. Menurut habitatnya, foraminifera dibagi menjadi foraminifera planktonik dan
foraminifera bentik. Sedimen permukaan Teluk Ambon merupakan salah satu lokasi
ditemukannya foramifera bentik maupun planktonik. Teluk Ambon bagian dalam memiliki
bentuk membulat. Kegiatan geologi berupa plutonik dan vulkanik yang diikuti oleh naiknya
magma granetik pada fase pengangkatan geoantiklin di teluk tersebut masih aktif sehingga dapat
mempengaruhi pembentukan sedimen serta kondisi foraminifera di Teluk Ambon. Penelitian ini
dilakukan untuk mengkaji kelimpahan dan penyebaran foraminifera berdasarkan karakteristik
sedimen permukaan di perairan Teluk. Hasil identifikasi dari 50 sampel sedimen yang diambil
dari Teluk ambon pada tahun 2007 menunjukkan bahwa hanya terdapat 29 sampel yang
mengandung foraminifera. Foraminifera yang ditemukan pada sedimen permukaan di Teluk
Ambon mencapai 86 spesies yang terdiri dari 61 spesies foraminifera bentik dan 25 spesies
foraminifera planktonik. Spesies foraminifera bentik yang mendominasi sedimen permukaan
perairan Teluk Ambon adalah Amphistegina lessonii, Ammonia beccarii, Elphidium
craticulatum, Operculina ammonoides dan Quinqueloculina parkery. Foraminifera planktonik
yang sering dijumpai adalah Globorotalia tumida, Globoquadrina pseudofoliata,
Globigerinoides pseudofoliata, Globigerinoides cyclostomus dan Pulleniatina finalis. Pada
umumnya spesies tersebut ditemukan melimpah pada sedimen pasir, sedangkan pada sedimen
lumpur tidak ditemukan baik foraminifera bentik maupun planktonik.
Kata kunci: Foraminifera, kelimpahan, Sedimen, Teluk Ambon

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB

Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...

I. PENDAHULUAN
Foraminifera termasuk dalam Filum
Protozoa yang mulai berkembang pada
jaman
Kambrium
sampai
Resen.
Mayoritas anggotanya hidup pada
lingkungan laut dan mempunyai ukuran

yang beragam mulai dari 3 m sampai 3 mm


(Haq and Boersma, 1983). Menurut

habitatnya, foraminifera dibagi menjadi


foraminifera planktonik dan foraminifera
bentik.
Foraminifera
merupakan
organisme
bersel
tunggal
yang
mempunyai kemampuan membentuk
cangkang dari zat-zat yang berasal dari
dirinya sendiri atau dari benda asing di
sekelilingnya. Dinding cangkang tersebut
mempunyai komponen dan struktur yang
bervariasi.
Sedimen permukaan Teluk Ambon
merupakan
lokasi
ditemukannya
foramifera bentik maupun planktonik.
Kondisi sedimen ini sangat dipengaruhi
oleh mineral penyusun dan sifat fisiknya.
Menurut Ongkosongo et al. (1978),
mineral kuarsa dan fragmen batuan beku
mendominasi Teluk Ambon merupakan
pembatas populasi foraminifera, yang
ditunjukkan dari seringnya sampel
sedimen tidak mengandung foraminifera.
Teluk Ambon terletak pada busur
Banda dalam sistem Banda dan terletak
pada koordinat geografi 128415
1281425 BT dan 33755 LS
34735 LS. Menurut Van Bemelen
(1949 ) dan Dwiyanto et al. (1988),
stratigrafi yang melatarbelakangi Teluk
Ambon adalah batuan sedimen berumur
Trias Atas sampai Ultra Basa. Kegiatan
geologi selanjutnya adalah plutonik dan
vulkanik yang diikuti oleh naiknya
magma granetik pada fase pengangkatan
geoantiklin (Lubis et al., 1988).
Kegiatan-kegiatan geologi ini masih aktif
sehingga dapat berpengaruh terhadap
pembentukan sedimen serta kondisi
foraminifera di Teluk Ambon. Pada
umumnya foraminifera hidup pada dasar

10

perairan
dengan
substrat
pasir.
Boltovskoy and Wright (1976), Dewi
(1984) dan Dewi (2010) menyatakan
bahwa beberapa spesies foraminifera
bentik banyak dijumpai pada sedimen
pasir dan lumpur pasiran. Begitu pula
hasil studi yang dilakukan oleh Renema
(2008) yang menemukan beberapa
spesies yang melimpah pada substrat
karang bercampur pasir di Kepulauan
Seribu.
Menurut King (1974), pembentukan
sedimen pada perairan tertutup sangat
dipengaruhi
oleh
daratan
yang
berdekatan, seperti halnya Teluk Ambon
yang di apit oleh daratan Laihitu dan
Laitimur. Proses pencucian yang
ditimbulkan oleh energi gelombang dan
arus serta tekanan aliran muara sungai
menyebabkan agregat sedimen dari darat
dapat diuraikan menjadi partikel sedimen
berbagai ukuran. Dinyatakan oleh Davies
(1980), bahwa energi kinetik di setiap
tempat berbeda-beda sehingga ukuran
partikel sedimen bervariasi sesuai dengan
besar energi kinetik yang terjadi.
Berdasarkan variasi sedimen tersebut,
diduga mengakibatkan adanya perbedaan
jenis foraminifera yang terdapat di daerah
tersebut. Oleh karena itu diperlukan
penelitian untuk mengetahui jenis
foraminifera berdasarkan perbedaan jenis
sedimen permukaan yang terdapat di
suatau perairan. Penelitian ini dilakukan
untuk
mengkaji
kelimpahan
dan
penyebaran foraminifera berdasarkan
karakteristik sedimen permukaan di
perairan Teluk .
II. BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilakukan di perairan
Teluk Ambon pada tahun 2007 dengan
lokasi pengambilan sampel sebanyak 50
stasiun (Gambar 1). Sampel sedimen
diambil dengan menggunakan Van Veen
Grab dan dimasukkan ke dalam kantong
plastik. Penentuan jenis sedimen dari

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21

Natsir

sampel yang diambil dilakukan dengan


analisis granulometri
menggunakan
ayakan berukuran 0,063 4 mm.
Pengelompokan butir sedimen dilakukan
berdasarkan skala Wenworth (1922) dan
penamaannya berdasarkan klasifikasi
Shepard (1960) Preparasi sampel untuk
identifikasi
foraminifera
dilakukan
dengan beberapa tahap, antara lain
pencucian, picking, deskripsi dan
identifikasi
serta
sticking
dan
dokumentasi. Sebelumnya, masingmasing sampel ditimbang sebanyak 50
gram, ditambahkan 10% formaldehide,
dibiarkan selama 24 jam dan disaring.
Hasil saringan tersebut direndam dengan
rose bengal 50% selama 24 jam, dan
dicuci lagi dengan air bersih. Pencucian
sampel dilakukan dengan air mengalir
diatas
saringan
dan
dikeringkan
menggunakan oven pada suhu 30C
selama 2 jam. Setelah pencucian dan
pengeringan, saringan harus direndam
dalam larutan methylene blue untuk
mencegah kontaminasi oleh sampel
berikutnya dan dicuci. Tahap selanjutnya
adalah picking yang dilakukan dengan
menyebarkan 25 gram sampel yang telah
kering pada extraction tray dibawah

mikroskop secara merata. Foraminifera


yang terdapat dalam sampel tersebut
diambil dan disimpan pada foraminiferal
slide.
Kemudian
dilakukan
proses
deskripsi dan identifikasi terhadap
spesimen yang didapatkan. Spesimen
yang telah dipisahkan diklasifikasikan
berdasarkan morfologinya seperti bentuk
cangkang, bentuk kamar, formasi kamar,
jumlah kamar, ornamentasi cangkang,
kemiringan apertura, posisi apertura dan
kamar tambahan. Sedangkan proses
identifikasi
dilakukan
berdasarkan
berbagai referensi tentang foraminifera.
Tahap selanjutnya merupakan kajian
sistemik dan analisis kuantitatif untuk
mendapatkan
data
kelimpahan.
Foraminifera bentik yang ditemukan
diklasifikasikan dalam foraminifera
bentik dan foraminifera planktonik.
Proses sticking dan
dokumentasi
dilakukan dengan meletakkan spesimen
yang terpilih pada foraminiferal slide
dengan posisi tampak apertura, tampak
dorsal, tampak ventral dan tampak
samping
yang
kemudian
didokumentasikan dibawah mikroskop.

Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel di Teluk Ambon

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21

11

Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil identifikasi dari 50 sampel
sedimen yang diambil menunjukkan
bahwa hanya terdapat 29 sampel yang
mengandung foraminifera. Hal ini
menunjukkan
kemungkinan
faktor
ekologis yang menyebabkan 21 lokasi
lainnya tidak menunjang kehidupan
foraminifera terutama jenis substrat yang
lebih
didominasi
oleh
lumpur.
Boltovskoy and Wright (1976) dan Dewi
(1984) menyatakan bahwa Asterorotalia
trispinosa dan Ammonia beccarii banyak
dijumpai pada sedimen pasir dan lumpur
pasiran dengan turbiditas yang rendah.
Turbiditas dapat mempengaruhi penetrasi
cahaya matahari di perairan, sehingga
akan
mempengaruhi
fotosintesis.
Akibatnya
jumlah
oksigen
akan
berkurang pada turbiditas tinggi. Secara
umum di perairan dengan turbitas tinggi,
popolasi foraminifera bentik akan
berkurang.
Berdasarkan jenisnya, foraminifera
yang terdapat di Teluk Ambon cukup
heterogen, yaitu terdapat 86 spesies.
Secara keseluruhan, foraminifera bentik
yang ditemukan pada stasiun pengamatan
mencapai 61 spesies. Jumlah tersebut
relatif lebih banyak dibandingkan dengan
foraminifera planktonik yang hanya
mencapai 25 spesies (Tabel 1). Hal ini
berkaitan dengan sampel yang diambil,
yaitu sedimen permukaan sebagai habitat
yang
sesuai
untuk
kehidupan
foraminifera bentik. Secara tekstural,
sedimen permukaan yang terdapat di
perairan Teluk Ambon terdiri dari 7 jenis,
yaitu lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir
lumpuran, pasir krakalan, krakal pasiran
dan krakal (Tabel 2).
Keberadaan foraminifera bentik
mendominasi setiap stasiun yang
mengandung foraminifera. Bahkan pada
beberapa stasiun sama sekali tidak
ditemukan foraminifera planktonik, yaitu
stasiun 8, 22, 25, 35, 36, 39, 45 serta 46.

12

Secara umum, foraminifera bentik lebih


banyak dijumpai pada sedimen yang
didominasi oleh pasir. Foraminifera
bentik ditemukan melimpah pada stasiun
4, yaitu sebanyak 129 individu. Begitu
pula dengan kelimpahannya di stasiun 2,
18, 38 dan 43 yang masing-masing
mencapai 113, 9l, 88 dan 83 individu
(Gambar 2).
Hasil analisis yang didapatkan di
Teluk Ambon menunjukkan bahwa
foraminifera pada umumnya ditemukan
pada sedimen pasir dengan ukuran
partikel 60,063 0,500 mm. Jumlah
spesies semakin banyak pada daerahdaerah yang semakin dalam dan pada
sedimen yang memiliki kadar pasir yang
cukup tinggi. Hal ini sama dengan yang
ditemukan oleh Mintoba (1970) di Teluk
Miyogi, Jepang dan Susmiati (1981) di
Teluk
Jakarta.
Suhartati
(1994)
menyatakan bahwa Ammonia beccarii
ditemukan dalam jumlah yang melimpah
di Delta Mahakam dan Citarum pada
kedalaman antara 1,5 10 m yang
didominasi oleh sedimen pasir dan
lumpur.
Banyak
faktor
yang
mempengaruhi kehidupan foraminifera,
terutama foraminifera bentik yang hidup
di dasar laut. Uchio (1966) dalam
penelitiannya di San Diego, California,
menyatakan
bahwa
tipe
sedimen
menentukan
populasi
foraminifera.
Boltovskoy and Wright (1976), Dewi
(1984) menyatakan bahwa foraminifera
bentik banyak dijumpai pada sedimen
pasir dan lumpur pasiran terutama dari
spesies Asterorotalia trispinosa dan
Ammonia beccarii. Beberapa spesies
foraminifera bentik yang ditemukan
hampir di semua lokasi adalah
Amphistegina
lessonii,
Ammonia
beccarii,
Elphidium craticulatum,
Operculina
ammonoides
dan
Quinqueloculina parkery. Kelima spesies
tersebut ditemukan mendo-minasi hampir
di semua lokasi yang ditemukan
foraminifera.

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21

Natsir

Tabel 1. Spesies foraminifera yang ditemukan di Teluk Ambon


No
Spesies
a. Foraminifera Bentik
1. Ammonia beccarii
2. Ammonia umbonata
3. Amphistegina lessonii
4. Amphistegina quoyii
5. Anomalinella rostata
6. Baculogypsina sphaerulata
7. Bolivina earlandi
8. Bolivina schwagerina
9. Calcarina calcar
10. Cancris oblongus
11. Cibicides praecinctus
12. Discorbina mira
13. Discorbina sp.
14. Elphidium advenum
15. Elphidium craticulatum
16. Elphidium crispum
17. Elphidium macellum
18. Eponide umbonatus
19. Eponides repandus
20. Heterostegina depressa
21. Hoglundina elegans
22. Lecticulina cultrate
23. Lecticulina elegans
24. Lecticulina sp.
25. Loxostomum amygdalaeformis
26. Marginophora vertebralis
27. Massilina crenata
28. Massilina milleti
29. Miliolinella oblonga
30. Miliolinella sublineata
31. Neocorbina terquemi
b. Foraminifera Planktonik
1. Globigerina bulloides
2. Globigerina falconensis
3. Globigerinella callida
4. Globigerinoides conglobatus
5. Globigerinoides cyclostomus
6. Globigerinoides fistulosus
7. Globigerinoides ruber
8. Globigerinoides sacculifer
9. Globoquadrina pseudofoliata
10. Globorotalia bermudezi
11. Globorotalia menardii
12. Globorotalia pseudopumilio
13. Globorotalia puncticulata

No

Spesies

32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.

Nodosari sp.
Nonion depressulum
Operculina ammonoides
Peneroplis pertusus
Peneroplis planatus
Piliolina papelliformis
Planorbulina larvata
Pleurostomella sp.
Pseudomassilina macilenta
Pseudorotalia schroeteriana
Pyrgo depressa
Pyrulina angusta
Quinqueloculina auberiana
Quinqueloculina granulocostata
Quinqueloculina lamarckiana
Quinqueloculina parkery
Quinqueloculina pulchella
Quinqueloculina seminula
Quinqueloculina seminulum
Quinqueloculina sp.
Quinqueloculina tropicalis
Reusella simlex
Reusella sp.
Siphogenerina alveolifrmis
Siphogenerina raphanus
Spiroloculina angulata
Spiroloculina communis
Spiroloculina sp.
Textularia agglutinans
Triloculina tricarinata

14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

Globorotalia seiglei
Globorotalia trucatulinoides
Globorotalia tumida
Globorotalia ungulata
Neogloboquadrina blowi
Neogloboquadrina humerosa
Orbulina universa
Pulleniatina finalis
Pulleniatina obliqueloculata
Pulleniatina praecursor
Pulleniatina primalis
Spheroidinella dehiscens

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21

13

Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...

Gambar 2. Kelimpahan foraminifera pada sedimen permukaan di Teluk Ambon


Hasil analisis yang didapatkan di
Teluk Ambon menunjukkan bahwa
foraminifera pada umumnya ditemukan
pada sedimen pasir dengan ukuran
partikel 60,063 0,500 mm. Jumlah
spesies semakin banyak pada daerahdaerah yang semakin dalam dan pada
sedimen yang memiliki kadar pasir yang
cukup tinggi. Hal ini sama dengan yang
ditemukan oleh Mintoba (1970) di Teluk
Miyogi, Jepang dan Susmiati (1981) di
Teluk
Jakarta.
Suhartati
(1994)
menyatakan bahwa Ammonia beccarii
ditemukan dalam jumlah yang melimpah
di Delta Mahakam dan Citarum pada
kedalaman antara 1,5 10 m yang
didominasi oleh sedimen pasir dan
lumpur.
Banyak
faktor
yang
mempengaruhi kehidupan foraminifera,
terutama foraminifera bentik yang hidup
di dasar laut. Uchio (1966) dalam
penelitiannya di San Diego, California,
menyatakan
bahwa
tipe
sedimen
menentukan
populasi
foraminifera.
Boltovskoy and Wright (1976), Dewi
(1984) menyatakan bahwa foraminifera
bentik banyak dijumpai pada sedimen

14

pasir dan lumpur pasiran terutama dari


spesies Asterorotalia trispinosa dan
Ammonia beccarii. Beberapa spesies
foraminifera bentik yang ditemukan
hampir di semua lokasi adalah
Amphistegina
lessonii,
Ammonia
beccarii,
Elphidium
craticulatum,
Operculina
ammonoides
dan
Quinqueloculina parkery. Kelima spesies
tersebut ditemukan mendominasi hampir
di semua lokasi yang ditemukan
foraminifera.
Kelimpahan foraminifera bentik
yang ditemukan di Teluk ambon tidak
selalu diikuti oleh kelimpahan spesies.
Jumlah spesies foraminifera bentik pada
stasiun yang mempunyai kelimpahan
tertinggi (stasiun 4) mencapai 20 spesies,
sedangkan pada stasiun 21 memiliki
jumlah spesies yang lebih banyak, yaitu
23 spesies (Gambar 3). Foraminifera
planktonik yang sering dijumpai adalah
Globorotalia tumida, Globoquadrina
pseudofoliata, Globigerinoides pseudofoliata, Globigerinoides cyclostomus dan
Pulleniatina finalis.

E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010

Natsir

Gambar 3. Kelimpahan spesies pada sedimen permukaan di Teluk Ambon


Pada perairan dangkal, seperti pada
Stasiun 22, dijumpai spesies penciri laut
dangkal seperti Ammonia beccarii,
Quinqueloculina,
Elphidium
dan
Amphistegina. Hallock dalam Buzas and
Gupta (1982) menyatakan bahwa
beberapa
spesies
dari
genus
Amphistegina hidup, tumbuh dan
bereproduksi dengan baik pada perairan
dangkal (kurang dari 3 meter) dengan
intensitas cahaya yang tinggi. Albani
(1979) menyatakan bahwa spesies dari
Subordo
Milioliina
(Spiroloculina
communis,
Quinqueloculina
granulocostata, Q. parkery) merupakan
spesies perairan dangkal. Pada lokasilokasi yang lebih dalam, yaitu Stasiun l8
(15 m), ditemukan 5 spesies foraminifera
planktonik dan 9 spesies foraminifera
bentik yang semuanya berasal dari laut
dangkal. Pada kedalaman lebih dari 35 m
banyak dijumpai foraminifera planktonik,
bahkan terkadang baik jumlah spesies
maupun individu lebih banyak ditemukan
daripada jenis foraminifera bentik. Hal
ini membuktikan bahwa pengaruh arus
dari Laut Banda cukup besar terhadap
Teluk Ambon sehingga dapat membawa
foraminifera bentik menyebar ke daerah
lain.

Lapisan lumpur hanya didapatkan


pada bagian dalam teluk yaitu pada
stasiun 44 dan 47 (kedalaman 20 30 m)
dengan kadar lumpur 75% sampai 90%.
Menurut Suwartana (1986), Teluk
Ambon bagian dalam memiliki bentuk
membulat. Morfologi seperti ini dapat
berpengaruh terhadap kondisi daerah
tersebut. Massa air yang berasal dari
Teluk Ambon bagian luar akan menyebar
ke segala penjuru teluk dalam dan
semakin jauh ke tengah energi yang
ditimbulkan
semakin
melemah.
Gelombang yang ditimbulkan oleh angin
jarang terjadi di tempat ini, kecuali di
musim timur dengan frekuensi rendah.
Kondisi oseanografi semacam ini
mengakibatkan daerah Teluk Ambon
bagian dalam relatif tenang sehingga
mudah terjadi proses sedimentasi
(Stoddart and Steers, 1977; Kennet,
l982). Hal ini berkaitan dengan
kelimpahan foraminifera yang terdapat
pada perairan bagian dalam teluk. Ratarata kelimpahan foraminifera maupun
jumlah spesies yang ditemukan pada
bagian dalam teluk relatif lebih rendah
dibandingkan pada bagian luar teluk.
Kondisi substrat dasar yang didominasi
oleh lumpur tersebut kurang sesuai untuk
kehidupan foraminifera.

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21

15

Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...

Kebanyakan foraminifera hidup


dan tumbuh secara optimal pada daerah
yang memiliki sedimen dasar pasir
maupun lumpur pasiran Boltovskoy and
Wright
(1976).
Renema
(2008)
menemukan dua spesies dari marga
Amphistegina di lereng terumbu (reef
slope) pada pecahan karang (rubble) atau
pecahan
karang
bercampur
pasir
bersama-sama dengan beberapa spesies
dari marga Calcarina di Kepulauan
Seribu. Beberapa spesies Calcarina yang
ditemukan melimpah di paparan terumbu
(reef flat) dan puncak terumbu (reef
crest), atau yang berasosiasi dengan alga
dan makroalga seperti Sargassum,

Galaxaura dan Chelidiopsis. Sifat fisik


sedimen di Teluk Ambon berkaitan
dengan keberadaan foraminifera yang
umunnya menempati sedimen yang
memiliki kandungan pasir, sedangkan
pada sedimen lumpur dan lanau tidak
ditemukan foraminifera. Pada tempattempat tertentu, seperti stasiun 4 dan 2
terjadi akumulasi sedimen pasir dan di
sini
paling
banyak
ditemukan
foraminifera. Namun, pada stasiun 6, 10,
dan 11 sama sekali tidak dijumpai
foraminifera, Pada lokasi ini mungkin
foraminifera mengalami pencucian dan
bergerak ke lokasi lain.

Tabel 2. Jenis sedimen permukaan di Teluk Ambon


Stasiun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

16

Sedimen
Pasir
Pasir
Pasir
Pasir
Pasir lumpuran
Pasir krakalan
Pasir krakalan
Pasir lumpuran
Krakal
Krakal pasiran
Krakal pasiran
Pasir krakalan
Pasir lumpuran
Pasir lumpuran
Krakal pasiran
Pasir
Pasir krakalan
Pasir krakalan
Pasir krakalan
Pasir krakalan
Pasir krakalan
Pasir krakalan
Lumpur pasiran
Pasir krakalan
Krakal

Stasiun
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

Sedimen
Krakal pasiran
Krakal
Pasir
Pasir lumpuran
Pasir lumpuran
Pasir lumpuran
Pasir lumpuran
Pasir
Pasir
Pasir
Pasir
Pasir
Pasir
Lumpur pasiran
Lumpur
Pasir
Pasir
Pasir
Lumpur
Pasir
Pasir
Lumpur
Lumpur pasiran
Pasir
Pasir

E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010

Natsir

IV. KESIMPULAN
Foraminifera yang ditemukan pada
sedimen permukaan di Teluk Ambon
mencapai 86 spesies yang terdiri dari 61
spesies foraminifera bentik dan 25
spesies foraminifera planktonik. Spesies
foraminifera bentik yang
ditemukan
hampir di semua lokasi adalah
Amphistegina
lessonii,
Ammonia
beccarii,
Elphidium
craticulatum,
Operculina
ammonoides
dan
Quinqueloculina parkery. Kelima spesies
tersebut ditemukan mendominasi hampir
di semua sedimen permukaan perairan
Teluk Ambon. Foraminifera planktonik
yang
sering
dijumpai
adalah
Globorotalia tumida, Globoquadrina
pseudofoliata,
Globigerinoides
pseudofoliata,
Globigerinoides
cyclostomus dan Pulleniatina finalis.
Foraminifera pada umumnya ditemukan
melimpah pada daerah yang memiliki
sedimen pasir, sedangkan pada sedimen
lumpur sama sekali tidak ditemukan baik
foraminifera bentik maupun planktonik .
DAFTAR PUSTAKA
Albani, R. D. 1979. Recent Shallow
Water Foraminifera From New
South Wales. AMS Handbook
No. 3. The Australian Marine
Assosiation, Australia.
Van Bemelen, R.W. 1949. The gology of
Indonesia, V.IA, Government
Printing Office, The Hague: 640
p.
Boltovskoy, E. and R. Wright. 1976.
Recent Foraminifera. Dr. W.
June, B. V. Publisher, The Haque,
Netherland.
Buzas, M. A. and B. K. Gupta. 1982.
Foraminifera. Notes for a Short
Course. University of Tennessee.
Department
of
Geological
Science, Louisiana.

Davies, J.L. 1980. Geographical variation


in coastal development. Lowe &
Brydone
Printers
limited.
Thetford, Nortfolk. 212p.
Dewis, K.T., Suhartati, M.N. dan Y.
Siswantoro. 2010. Mikrofauna
(Foraminifera) Terumbu Karang
Sebagai Indikator Perairan Sekitar
Pulau-Pulau
Kecil.
Ilmu
Kelautan, Edisi khusus, 1:162
170.
Dewi, T. 1984. Ecology of Recent
Benthic Foraminifera from the
North Java Central Zones. Gadjah
Mada
University
Press,
Yogyakarta.
Dwiyanto, B., T.A. Soeprapto, dan M.
Hanafi. 1988. Laporan geology
dan fisika kelautan di perairan
Teluk Ambon, Maluku. Dep.
Pertambangan dan Energi, PPGL,
Bandung. 155hal.
Haq, B.U. and Boersma. 1983.
Introduction
to
Marine
Micropaleontology.
Elsevier
Biomedical.
New
York,
Amsterdam, Oxford. Hedley, R.H
and C.G. Adams.
Kennet, J.P. 1982. Marine geology.
Prentice Hal, Inc. Englewood
Cliffs, 822p.
King, C.A.M. 1974. Techniques to
marine geology. Edward Arnold
(Publishers) Ltd. 41 London,
309p.
Lubis, S., M. Widjajanegara, Wahyudi, I
Wayan Lugra, dan A. Wahib
1988.
Laporan
penyelidikan
geofisika marine di Teluk Ambon
Maluku. Dep. Pertambangan dan
Energi, PPGL, Bandung: 62hal.
Mintoba, Y. 1970. Distribution of recent
shallow water Foraminifera in
Matshima
Bay,
Miyogi
Prefecture, Northeast Japan:
Tohuku Univ, Sci. Rep., 2nd Ser.
(Geol), 42(1):187.

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21

17

Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...

Ongkosongo, O.S.R., Soemoenar, dan


Susmiati. 1978. Foraminifera
resen dari daerah kehidupan hutan
bakau di Teluk Ambon. Prosiding
Seminar
Ekosistem
Hutan
Mangrove. Jakarta, 129-138.
Renema, W., 2008. Habitat Selective
Factors uencing
In
the
Distribution of Larger Benthic
Foraminiferal Assemblages Over
the Kepulauan Seribu. Marine
Micropaleontology, 68:286298.
Shepard, F.E. 1960. Nomenclature Based
on Sand-Silt-Clay Ratios. Journ.
Sed. Petrology, 24:151158.
Stoddart, D.R. dan J.A. Streers. 1977.
The natural and origin of coral
reef islands. Dalam Biology and
Geology of Coral Reef' (O.
Ajones dan R. Endean, eds).
Academic Press, New York, San
Francisco, London: 60102.

18

Susmiati. 1981. Ekologi foraminifera


bentonik resen di Teluk Jakarta.
Skripsi Sarjana. Fak. Teknik, Jur.
Geologi UGM, Yogyakarta.
Suhartati. 1994. The Distribution of
Benthic Foraminifera in Citarum
and Mahakam Delta, Indonesia.
Symposium on Living Coastal
Resources,
Chulalongkorn
University Bangkok, Thailand.
Suwartana, A. 1986. Analisa parameter
morfometri
perairan
Teluk
Ambon bagian dalam. Oseanologi
di Indonesia, 2l:3752.
Uchio, T. 1966. Ecology of living
benthonic fomraminifera from the
San Diego, California area.
Cushman
foundation
for
Foraminifera Research, Special
Publication No.5.
Wenworth, C.K. 1922. A Scale of grade
class term for clastic sediments.
Journ. Geology, 30:337392.

E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010

Jurnal Penelitian Sains

Edisi Khusus Desember 2009 (D) 09:12-11

Potensi Komunitas Plankton dalam Mendukung Kehidupan


Komunitas Nekton di Perairan Rawa Gambut, Lebak Jungkal di
Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI),
Propinsi Sumatera Selatan
Effendi Parlindungan Sagala
Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia

Intisari: Analisis plankton telah dilakukan di laboratorium terhadap contoh air yang diambil dari perairan Danau
Lebak Jungkal, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan
jenis-jenis plankton, September, 2009. Dari pengamatan tersebut diperoleh 38 spesies plankton yang terbagi menjadi 26
jenis termasuk fitoplankton dan 12 spesies zooplankton. Secara keseluruhan termasuk ke dalam 7 kategori taksonomi
(Cyanophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae, Diatomae/Bacillariophyceae, Flagellata, Rhizopoda dan Rotifera). Kelimpahan komunitas plankton berkisar dari 49 individu/liter (Lebak Bahanan) hingga 79 individu/liter (Lebak Betung).
Dari hasil studi yang dilakukan ternyata, keanekaragaman yang tertinggi adalah fitoplankton dari kelompok takson
Chlorophyceae, yaitu terdiri dari 11 spesies dengan penyebaran 2 spesies yang hanya dijumpai di Lebak Bahanan dan 6
spesies hanya terdapat di Lebak Betung serta 3 spesies dijumpai pada Lebak Bahanan dan Lebak Betung. Keanekaragaman tertinggi kedua adalah fitoplankton dari kelompok takson Diatomae atau Bacillariophyceae, yaitu terdiri dari sekitar
10 spesies dengan penyebaran 1 spesies yang hanya dijumpai di Lebak Bahanan dan 2 spesies yang hanya dijumpai di
Lebak Betung serta 7 spesies dijumpai pada Lebadan Bahanan dan Lebak Betung. Dengan demikian, ganggang hijau
(Chlorophyceae) dan ganggang kersik (Diatomae) ini berperanan penting dalam menopang produktivitas primer ekosistem di perairan Danau Lebak Jungkal. Potensi komunitas plankton diperlihatkan taksa Chlorophyceae, Diatomae dan
Flagellata. Berdasarkan data yang diperoleh, maka perairan Danau Lebak Jungkal yang diambil pada September, 2009
adalah tergolong perairan dengan kesuburan rendah. Kondisi ini ditandai tidak hanya kelimpahan plankton yang rendah
tetapi juga dari beberapa parameter fisika kimia yang juga tidak menguntungkan. Kandungan C-organik yang tinggi
(505,6 mg/l), kandungan fosfat yang rendah (0,38 mg/l) dan juga kandungan NH4 yang rendah (3,15 mg/l) juga rendah
akan menghambat pertumbuhan phytoplankton dan pada gilirannya zooplankton.
Kata kunci: Potensi, Komposisi, kelimpahan, plankton, phytoplankton, zooplankton, takson, taksa
Abstract: Analysis plankton had be done in laboratorium for water sample from Danau Lebak Jungkal waters,
subregion Pampangan, Region Ogan Komering Ilir to know the composition and abundance of plankton species,
September, 2009. From the observation can find 38 species plankton consists 26 species phytoplankton and 12 species
zooplankton. All of plankton consists of 7 category taxonomy (Cyanophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae, Diatomae/Bacillariophyceae, Flagellata, Rhizopoda dan Rotifera). The abundance of plankton in Danau Lebak Jungkal
waters was 49 inviduals/liter (Lebak Bahanan) upto 79 inviduals/liter (Lebak Betung). Base to results of studies, in fact
that highest diversity was phytoplankton from Chlorophyceae, namely 11 species with 2 species only in Lebak Bahanan
and 6 spesies only in Lebak Betung and 3 species only in Lebak Bahanan and Lebak Betung. And the second highest
diversity was phytoplankton from Diatomae (Bacillariophyceae), namely 10 species with 1 species only in Lebak Bahanan and 2 spesies only in Lebak Betung and 7 species only in Lebak Bahanan and Lebak Betung. And than, the green
algae (Chlorophyceae) and diatoms algae (Bacillariophyceae) are very importance to support the primary productivity
in ecosystem of Danau Lebak Jungkal waters. The potency of plankton community showed by Chlorophyceae, Diatomae
and Flagellata. From results of these research, can be said that Danau Lebak Jungkal waters at September 2009 was
oligotrophic waters or the low fertility. This condition showed by low plankton populations and the low of organic
matters (505,6 mg/l), phosphates (0,38 mg/l) and NH4 (3,15 mg/l) also so low and all of these can to limite the growth
of phytoplankton and than to stop zooplankton.

Keywords: Composition, abundance, plankton, phytoplankton, zooplankton, category, taxonomy.


Desember 2009
c 2010 FMIPA Universitas Sriwijaya

0912-11-53

E.P. Sagala/Potensi Komunitas Plankton . . .


1

PENDAHULUAN

erairan rawa gambut Lebak Jungkal merupakan


P
bagian dari perairan rawa lebak yang terletak
pada wilayah pantai timur Pulau Sumatera di Daerah
Kabupaten Ogan Komering Ilir, Propinsi Sumatera
Selatan. Danau Lebak Jungkal cukup luas, diperkirakan ratusan hektar. Dengan luasan seperti itu,
potensi perikanan rawa lebak di perairan ini menjadi cukup penting. Hal ini terlihat dari banyaknya
nelayan yang mencari ikan di areal Danau Lebak
Jungkal tersebut. Danau Lebak Jungkal ini memiliki
kedalaman air sekitar 2 - 3 meter di waktu kemarau
dan mencapai 4 - 5 meter pada musim hujan. Pada
waktu kemarau panjang seperti terjadi tahun 1997,
danau rawa gambut ini sebagian besar mengalami kekeringan, sehingga berpotensi terjadinya kebakaran.
Bila dilihat dari sisa vegetasi strata pohon yang
masih ada, maka wilayah Danau Lebak Jungkal ini
diperkirakan sebelumnya merupakan hutan rawa yang
didominasi berbagai jenis vegetasi rawa seperti gelam
rawa, kayu gabus, perepat darat, serdang, palas,
pandan rawa dan sebagainya. Namun kondisi saat
ini, hutan rawa seperti disebutkan di atas hampir
tidak dijumpai lagi dan diganti dengan vegetasi herba
rawa. Vegetasi herba rawa ini didominasi oleh rumput
kumpai (Panicum stagininum, Panicum colonum dan
Panicum reptans). Vegetasi lainnya yang tidak dominan adalah: eceng gondok (Eichhornia crassipes),
purun (Lepironia mucronata), telipuk (Nymphoides
indica), ketanan (Polygonum pulchrum), belidang
(Fimbristylis annua), petai air (Neptunia prostrata),
kangkung (Ipomoea aquatica) dan rumput ganggang
(Hydrilla verticillata).
Dari segi ekologi, hutan rawa gambut Danau Lebak
Jungkal ini telah membentuk kondisi alami sesuai dengan kemampuan ekologis habitat yang ada, yaitu vegetasi herba dari jenis kumpai sebagaimana disebutkan
beserta seluruh perakarannya, sehingga membentuk
microhabitat. Kondisi vegetasi kumpai itu merupakan
microhabitat penting untuk pembiakan berbagai jenis nekton (ikan-ikan) yang beradaptasi di rawa lebak.
Ikan-ikan yang beradaptasi di rawa lebak adalah ikanikan yang memiliki warna kulit atau sisik yang hitam atau gelap, sehingga dikenal dengan nama black
fishes atau ikan-ikan hitam. Hal ini disebabkan kondisi air memang hitam karena pengaruh tanah gambut
serta permukaan air yang sebagian besar tertutup vegetasi, sehingga sinar matahari tidak menembus hingga
ke dasar perairan.
Dari segi perikanan perairan Danau Lebak Jungkal
ini sangat penting, karena sistem perakaran rumput
kumpai yang mengantung atau terapung serta produksi bahan organik yang dihasilkannya sangat mendukung kestabilan sifat fisik-kimia kualitas air untuk
menopang sebagian fase daur hidup berbagai jenis

JPS Edisi Khusus (D) 09:12-11


ikan rawa lebak. Kemerosotan fungsi ekologis hutan
rawa karena pada musim kemarau berpeluang terbakar, akan berdampak penurunan produksi perikanan tangkap di rawa gambut, bukan saja di lokasi
tersebut tetapi juga memungkinkan ke lokasi lainnya. Hal ini berdasarkan sifat ekologi rawa lebak
yang merupakan bagian dari ekosistem air tawar, antara lain berfungsi menyediakan nutrisi untuk organisme akuatik, terutaka kelompok nekton (ikan-ikan).
Nutrisi yang tersedia dalam badan air tersebut sangat menentukan produksi primer dalam badan air,
dalam hal ini adalah komunitas plankton. Hal ini
dipertegas oleh Barnes dan Mann [1] yang menyatakan
bahwa produksi primer pada bagian tepi ekosistem
akuatik dalam hal ini mikrohabitat rumput kumpai
adalah tergolong tinggi dan sering sangat tinggi yang
biasanya berupa algae planktonik. Dengan kondisi
seperti itu, daur hidup ikan-ikan yang dimulai dengan
larva ikan akan menggantungkan hidupnya dari pakan
alami yang ada berupa komunitas plankton yang ada.
Sebagaimana ditegaskan oleh Effendie [2] bahwa
pergerakan migrasi atau ruaya ikan ke daerah pemijahan mengandung tujuan penyesuaian dan peyakinan
tempat yang paling menguntungkan untuk perkembangan telur dan larva. Demikian hal nya ikan-ikan
yang beruaya dari sungai-sungai ke daerah rawa lebak
atau rawa gambut adalah bertujuan untuk mendapatkan tempat spesifik yang aman dan mampu memberiken nutrisi dan kebutuhan ekologis lainnya untuk
perkembangan telur dan larvanya.
Kesuburan suatu perairan antara lain dapat dilihat dari keberadaan organisme planktonnya, karena
plankton dalam suatu perairan dapat menggambarkan
tingkat produktivitas perairan tersebut [3] . Dalam sistem trofik ekosistem perairan, termasuk ekosistem
rawa gambut, organisme plankton sangat berperan
sebagai produsen dan berada pada tingkat dasar,
yaitu menentukan keberadaan organisme pada jenjang berikutnya berupa berbagai jenis ikan-ikan. Oleh
karena itu, keberadaan plankton di suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikanikan di perairan tersebut, terutam bagi ikan-ikan pemakan plankton atau ikan-ikan yang berada pada taraf
perkembangan awal.
Kerusakan vegetasi yang terjadi pada daerah areal
rawa gambut di sekitar Danau Lebak Jungkal diperkirakan akan mengganggu kehidupan berbagai jenis
plankton. Mengingat pentingnya diketahui potensi
dan peranan plankton sebagai jasad alami dan produsen ekosistem akuatik, maka perlu dilakukan penelitian tentang komposisi dan kelimpahan plankton di
perairan Danau Lebak Jungkal, di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Propinsi Sumatera Selatan. Hal ini dilakukan, karena merupakan
langkah penting untuk mengetahui keanekaragaman
dan kelimpahan komunitas plankton sebagai indikator

0912-11-54

E.P. Sagala/Potensi Komunitas Plankton . . .

JPS Edisi Khusus (D) 09:12-11

kesuburan terhadap potensi perikananan dan sebagai


dasar untuk meningkatkan keberhasilan usaha konservasi perikanan di perairan rawa gambut.

Hasil analisis plankton menunjukkan bahwa kelimpahan plankton berkisar dari 49 individu/liter
(Lebak Bahanan) hingga 79 individu/liter (Lebak Betung). Rendahnya kelimpahan plankton pada kedua lokasi di Danau Lebak Jungkal tersebut sangat
berkaitan dengan rendahnya kandungan oksigen terlarut (3,70 mg/l) dan rendahnya kesuburan perairan
yang ditunjukkan oleh kandungan NH4 sebesar 3,15
mg/l dan kandungan fosfat (PO4 ) sebesar 0,38 mg/l.
Meskipun kelimpahan plankton tergolong rendah, namun secara ekologis kondisi ekosistem tergolong masih
baik. Hal ini ditunjukkan dengan cukup tingginya
nilai indeks keanekaragaman plankton yang berkisar
3,02 (Lebak Betung) hingga 3,06 (Lebak Bahanan).
Dengan demikian rata-rata indeks keanekaragaman
plankton di Danau Lebak Jungkal pada penelitian ini
> 3, 00 bermakna bahwa kondisi komunitas plankton
adalah sangat stabil atau sangat mantap. Menurut
Dresscher dan Mark [9] bahwa indeks keanekaragaman
> 2, 0 menunjukkan kondisi perairan tidak tercemar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi komunitas
plankton pada Danau Lebak Jungkal tergolong masih
alami (tidak tercemar).
Potensi Fitoplankton di Danau Lebak Jungkal sangat ditentukan oleh komposisi dari masing-masing
taksa Fitoplanktonnya. Taksa fitoplankton yang teramati seperti terlihat dalam Tabel 1 meliputi taksa
Cyanophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae dan Diatomae. Cyanophyceae merupakan kelompok ganggang biru yang sangat berperan dalam memfiksasi nitrogen udara yang bersentuhan dalam air, sehingga
menambah penyediaan nitrogen dalam air dalam bentuk NH4 [10] . Taksa Cyanophyceae terdiri dari 4 spesies (Lyngbya birgei, Lyngbya limnetica, Nodularia
spumigena dan Oscillatoria splendida) yang penyebarannya tidak merata untuk tiga spesies dan dengan
penyebaran merata untuk 1 spesies. Taksa Chlorophyceae terdiri dari 11 spesies, dimana hanya 3 spesies yang penyebarannya merata (Chaetophora elegans, Chlorella vulgaris dan Scenedesmus bijuga) dan
8 spesies dengan penyebaran tidak merata, yaitu 2 spesies hanya pada Lebak Bahanan (Chladophora glomerata dan Scenedesmus ellipsoideus) dan 6 spesies hanya
ada pada Lebak Betung (Ankistrodesmus spiralis,
Chaetophora incrassata, Chlorella ellipsoidea, Oedogonium varians, Quadrigula chodatii dan Quadrigula
recustris).Taksa Desmidiaceae terdiri hanya 1 spesies
(Pleurotaenium trabecula) dengan penyebaran tidak
merata, yakni hanya terdapat pada Lebak Bahanan,
Jungkal. Taksa Diatomae terdiri dari 10 spesies dan
diantaranya ada 7 spesies yang penyebarannya merata (Asterionella gracillima, Diatoma elongatum, Diatoma vulgare, Eunotia arcus, Eunotia gracilis, Eunotia lunaris dan Nitzschia linearis).
Potensi Zooplankton di Lebak Jungkal sangat ditentukan oleh komposisi taksa zooplanktonya. Taksa

BAHAN DAN METODE

Pengambilan contoh plankton dilakukan pada bulan


September, 2009. Lokasi atau stasiun pengambilan contoh ditentukan secara purposive pada 2 stasiun pengamatan yaitu: 1) Lebak Bahanan dan 2)
Lebak Betung, keduanya dalam wilayah Danau Lebak
Jungkal.
Pengumpulan organisme plankton dilakukan dengan cara menyaring air contoh sebanyak 50 liter ke
dalam net plankton nomor 25 yang ditampung dalam
botol flakon bervolume 25 ml., selanjutnya diawetkan
dengan larutan formalin 4%. Analisis plankton dilakukan di laboratorium Ekologi Jurusan Biologi F.
MIPA UNSRI dengan menggunakan buku petunjuk
APHA [4] ; Mizuno [5] ; Edmondson [6] ; Needham and
Needham [7] dan Pennak [8] . Kelimpahan plankton
diukur secara lintasan berdasarkan metode Sedwick
Rafter Counting Cell [4] yaitu:
C 1000mm3
LDW S
dengan C, L, D, W , dan S berturut-turut adalah jumlah organisme yang dihitung, panjang setiap lintasan
(50 mm), kedalaman Sedwick-Rafter (1mm), lebar lintasan (1 mm), dan jumlah lintasan yang dihitung (4
lintas).
Untuk mengukur indeks keanekaragaman
digunakan
P
indeks: Shannon - Wiener: H = Pi ln Pi dengan
Pi = ni /N , ni = nilai penting setiap spesies, dan N =
total nilai penting; sedangkan untuk mengukur indeks
kemerataan digunakan rumus:
No./ml =

E=

H
log S

dengan E = Indeks kemerataan, H = Indeks Keanekaragaman, dan S = Jumlah spesies.


Untuk data pendukung dilakukan pula pengukuran kualitas air yang terdiri dari pH, oksigen terlarut
(DO), kedalaman, kecerahan, temperatur, kandungan
lumpur, zat padat terlarut, zat padat tersuspensi, kandungan fosfat (PO4) dan kandungan NH4.
3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil tabulasi data pengamatan mikroskopis komposisi plankton di perairan perairan rawa gambut di
Lebak Bahanan dan Lebak Betung perairan Danau
Lebak Jungkal disajikan pada Tabel 1. Dari hasil
tersebut didapatkan 38 spesies plankton dari 7 kategori takson (Cyanophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae, Bacillariophyceae, Flagellata, Rhizopoda dan
Rotifera).

0912-11-55

E.P. Sagala/Potensi Komunitas Plankton . . .

JPS Edisi Khusus (D) 09:12-11

Zooplankton yang teramati terdiri dari 3 taksa yaitu


Flagellata, Rhizopoda dan Rotifera. Dari 10 spesies
yang terdapat pada Flagellata, ternyata hanya ada 4
spesies (Carteria crucifera, Carteria globosa, Chlamydomonas cingulata dan Trachelomonas curta). yang
penyebarannya merata pada Danau Lebak Jungkal, sementara 3 spesies (Lepocinclis ovum, Trachelomonas
abrupta dan Trachelomonas cervicula) hanya terdapat
pada Lebak Bahanan dan juga 3 spesies hanya terdapat pada Lebak Betung.
Berdasarkan hasil analisis plankton yang telah dilakukan seperti disajikan pada Tabel 1 berikut ini,
maka dapat dinyatakan bahwa peranan komunitas
plankton di Lebak Jungkal didominasi oleh Fitoplankton sebagai produsen primer dari taksa Chlorophyceae dan Diatomae. Produsen primer sebagaimana
disebutkan di atas sangat berperan dalam menjamin
pakan alami bagi konsumen primer berupa larva ikanikan dan zooplankton lainnya yang hidup di ekosistem perairan Danau Lebak Jungkal. Berikut ini pada
Tabel 1 disajikan hasil analisis plankton pada dua
lokasi di Danau Lebak Jungkal, yaitu: Lebak bahanan
(P1) dan Lebak Betung (P2).
Berdasarkan hasil rangking prosentase individual
pada masing-masing takson, seperti disajikan pada
Tabel 2 berikut ini, ternyata potensi plankton
pada Lebak Bahanan didominasi oleh Diatomae
(34,69%), Flagellata (34,69%) dan Chlorophyceae
(18,37%). Sementara potensi plankton pada Lebak
Betung didominasi oleh Chlorophyceae (39,24%), Diatomae (27,84%) dan Flagellata (25,32%). Dengan
demikian pada Danau Lebak Jungkal, potensi komunitas plankton diperlihatkan oleh taksa: Chlorophyceae, Diatomae dan Flagellata. Untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas plankton dalam
upaya meningkatkan produksi perikanan di Danau
Lebak Jungkal, maka perlu dilakukan studi untuk meningkatkan kelimpahan ketiga taksa: Chlorophyceae, Diatomae dan Flagellata sebagai mana disebutkan di atas.
Untuk meningkatkan budidaya
ikan rawa lebak yang adaptif pada kondisi ekosistem rawa gambut Danau Lebak Jungkal, maka upaya
pengkayaan plankton dapat dikembangkan dari jenisjenis plankton seperti yang disajikan pada Tabel 1 di
atas.
Bila dilihat dari Pada Tabel 3 berikut, terlihat
bahwa pH air Danau Lebak Jungkal sebesar 6,66, menunjukkan kondisi pH mendekati normal (mendekati
nilai 7,00). Kondisi cukup mendukung kehidupan komunitas plankton yang ada dalam badan air. Kandungan oksigen terlarut (DO, Dissolved Oxygen) sebesar 3,70 adalah tergolong rendah, dimana batas baku
mutu lingkungan (BML) sebesar 3,00. kandungan
oksigen yang rendah ini berkaitan dengan laju konsumsi oksigen yang rendah oleh banyaknya komunitas
biota air yang mengkonsumsinya. Sementara itu, sum-

ber oksigen terlarut dalam badan air Danau Lebak


Jungkal terutama dari hasil fotosintesis fitoplankton
yang ada dalam badan air. Tingkat kecerahan air yang
diukur dengan lempeng seki (Secchi Disk) memperlihatkan tingkat kecerahan yang rendah yaitu sekitar
30 cm, menunjukkan zona fotosintesis yang tipis, sehingga produksi oksigen dalam badan air menjadi rendah.
4

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil studi yang dilakukan di perairan Danau


Lebak Jungkal, September, 2009, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Dapat ditemukan 38 spesies plankton dari 7
kategori takson (Cyanophyceae, Chlorophyceae,
Desmidiaceae, Bacillariophyceae, Flagellata, Rhizopoda dan Rotifera).
2. Berdasarkan kandungan fosfat (PO4 ) sekitar 0,38
mg/l dan kandungan NH4 sekitar 3,15 mg/l,
maka perairan studi Danau Lebak Jungkal adalah
tergolong perairan yang kurang sumbur yang
didukung dengan kepadatan plankton rendah
hingga sedang (49 - 79 individu/liter air atau
49.000 - 79.000 individu/m3 air).
3. Chlorophyceae, Diatomae (Bacillariophyceae)
dan Flagellata merupakan takson yang dominan
yang dijumpai pada ekosistem perairan Danau
Lebak Jungkal. Dengan demikian spesies-spesies
yang termasuk ketiga taksa tersebut merupakan
yang paling adaptif dan dapat dikembangkan untuk pakan alami dalam budidaya ikan di wilayah
Danau Lebak Jungkal.
Berdasarkan hasil pembahasan dan studi yang dilakukan ini, maka disarankan:
1. Perlu dikaji bagaimana sistem pengembangan
dan peningkatan kelimpahan komunitas plankton
di Danau Lebak Jungkal untuk memacu produksi
optimal perikanan rawa lebak gambut.
2. Perlu dilakukan aplikasi pengembangan perikanan rawa lebak dengan pengembangan kultur
plankton dari jenis-jenis yang diidentifikasi dalam
penelitian ini.

0912-11-56

E.P. Sagala/Potensi Komunitas Plankton . . .

JPS Edisi Khusus (D) 09:12-11

Tabel 1: Komposisi dan kelimpahan plankton di perairan Danau Lebak Jungkal, Kabupaten OKI, September, 2009.
Jml Indv/ltr
No Nama Kelompok dan Spesies P1
I.

P2

Jml Indv/ltr
No Nama Kelompok dan Spesies

PHYTOPLANKTON:

P1

P2

II. ZOOPLANKTON:
A. Flagellata:

A. Cyanophyceae:
1.

Lyngbya birgei

1.

Anisonema ovale

2.

Lyngbya limnetica

3.

Nodularia spumigena

2.

Carteria crucifera

3.

Carteria globosa

4.

Oscillatoria splendida

4.

Chlamydomonas cingulata

5.

Lepocinclis ovum

6.

Trachelomonas abrupta

B. Chlorophyceae:
1.

Ankistrodesmus spiralis

2.

Chaetophopra elegans

7.

Trachelomonas cervicula

3.

Chaetophora incrassata

12

8.

Trachelomonas curta

4.

Chlorella ellipsoidea

9.

Trachelomonas oblonga

5.

Chlorella vulgaris

10. Trachelomonas volvocina

6.

Chladophora glomerata

B. Rhizopoda:

7.

Oedogonium varians

1.

8.

Quadrigula chodatii

C. Rotifera:

9.

Astramoeba radiosa

Quadrigula recustris

1.

Philodina roseola

10. Scenedesmus bijuga

2.

Populasi plankton per liter:

11. Scenedesmus ellipsoideus

3.

Populasi phytoplankton per liter:

31

58

4.

Populasi zooplankton per liter:

18

21

5.

Keanekaan spesies plankton:

24

28

C. Desmidiaceae:
1.

Pleurotaenium trabecula

D. Diatomae:

49

79

6.

Keanekaan spesies fitoplankton:

16

21

1.

Asterionella gracillima

7.

Keanekaan spesies zooplankton:

2.

Diatoma elongatum

8.

Indeks Kemerataan (Shannon): E

2,22

2,09

3.

Diatoma vulgare

9.

Indeks Keanekaragaman Plankton (H): 3,06

3,02

4.

Eunotia arcus

5.

Eunotia gracilis

6.

Eunotia lunaris

7.

Navicula hasta

8.

Navicula minima

9.

Navicula spicula

10. Nitzschia linearis

Tabel 2: Proporsi masing-masing kategori takson di perairan Danau Lebak Jungkal, September, 2009
No

Proporsi (%) Individu


pada Dua Stasiun Pengamatan

Katagori Takson

Lebak Bahanan Lebak Betung


1.

Cyanophyceae

6,12

6,33

2.

Chlorophyceae

18,37

39,24

3.

Desmidiaceae

4,08

4.

Diatomae/Bacillariophyceae

34,69

27,84

5.

Flagellata

34,69

25,32

6.

Rhizopoda

2,05

7.

Rotifera

1,27

Jumlah

100,00

100,00

0912-11-57

E.P. Sagala/Potensi Komunitas Plankton . . .


Tabel 3: Kisaran parameter kualitas perairan Lebak
Jungkal, September 2009.
No

Parameter

Hasil Pengukuran

1.

pH

6,66

2.

Oksigen terlarut (DO)

3,70

3.

Kedalaman (m)

2-5

4.

Kecerahan (cm)

30

5.

Temperatur ( C)

29

6.

TSS (mg/l)

14,6

7.

NH4 (mg/l)

3,15

8.

PO4 (mg/l)

0,38

9.

C- Organik

505,6

10. Besi (Fe) terlarut (mg/l)

1.8491

11. Sulfat (mg/l)

8.3136

DAFTAR PUSTAKA
[1]

[2]

[3]

[4]

[5]

[6]

[7]

[8]

[9]

[10]

Barnes, R.S.K. and K.H. Mann, 1980, Fundamentals of


Aquatic Ecosystems, Blackwell Scientific Publications,
Oxford London Edinburgh Boston Melbourne, 229 p.
Effendi, H.M.I., 2002, Biologi Perikanan, Yayasan Pustaka
Nusantara, 163 hal.
Sachlan, M., 1980, Planktonologi, Fakultas Peternakan dan
Perikanan, UNDIP Semarang, 103 hal.
APHA, 1980, Standard Methods for The Examination of
Water and Wastewater, 15th Ed., APHA Inc., New York,
1134 p.
Mizuno, T., 1979, Illustrations of The Freshwater
Plankton of Japan, Hoikusha Publishing Co., Ltd., 353 p.
Edmondson, W.T., 1959, Fresh-Water Biology, University
of Washington, Seattle, Printed in the University States of
America, 1248 p.
Needham, J.G. and D.R. Needham, 1963, A guide to study
of freshwater biology, 15th Ed., Holden Day Inc., San
Fransisco, 108 p.
Pennak, R.W., 1978, Freshwater invertebrates of the
united states, Jhon Wiley and Sons, New York, 803 p.
Dresscher, T.G.N. and H. van der Mark, 1976, A Simplified
method for the assessment of quality of fresh & Slightly
Brakish Water, Hydrobiologia, Vol. 48, 3, pp. 199-201
Marschner, 1986, Mineral Nutrition of Higher Plants,
Academic Press, Harcourt Brace Javanovic, Publishers,
London

0912-11-58

JPS Edisi Khusus (D) 09:12-11

J. Tanah Trop., Vol. 13, No.3, 2008: 225-231

Perubahan Populasi Protozoa dan Alga Dominan pada Air Genangan


Tanah Padi Sawah yang Diberi Bokashi Berkelanjutan
Ainin Niswati, Dermiyati, dan Mas Achmad Syamsul Arif1
Makalah diterima 26 Juni 2008 /disetujui 12 September 2008

ABSTRACT
Changes of the Dominant Population of Protozoa and Algae Inhabited the Floodwater of Paddy Fields Subjected
by Continued Bokashi Applications (A. Niswati, Dermiyati, and M.A.S. Arif): Protozoa and alga play important
roles in biogeochemical nutrient cycles in freshwater environment, especially in the paddy fields. The changes from
the conventional technologies to organic technologies will change the communities structures of organisms lived in
the paddy fields environment. The fields experiment was conducted to study the population dynamic of protozoa
and algae dominant inhabited in the floodwater of the paddy fields subjected by continues bokashi application.
The results showed that protozoa and algae inhabited in the paddy fields in present study were dominated by Euglena,
Pleodorina, Volvox, and Diatom. The continued application of bokashi for 4 years significantly increased the total
population of protozoa and algae, however, the significantly effect was obtained in the population of Volvox only.
The population of protozoa and algae were affected by the time of flooding of paddy fields where it increases
exponentially at the 20 and 30 days after flooding and stable after that, ecxept for Euglena where it increases sligthly
by flooding time.
Keywords: Bokashi, days after flooding, paddy fields. population of protozoa and algae

PENDAHULUAN
Lahan padi sawah merupakan tanah tergenang
buatan manusia yang bersifat unik dan berbeda
dengan lahan basah alami. Penggenangan hanya
dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan keperluan
dengan tinggi genangan sekitar 5-10 cm.
Kedangkalan genangan air tersebut menyebabkan
keadaan air sangat dipengaruhi oleh radiasi matahari,
angin, suhu udara, dan curah hujan (Bambaradeniya
dan Amarasinghe, 2004) yang akan mempengaruhi
juga organisme yang hidup di dalamnya. Di
Indonesia, agroekosistem padi sawah dikelola dengan
berbagai cara, antara lain dengan cara konvensional
dan organik. Pengelolaan secara konvensional
dilakukan dengan mengaplikasikan berbagai macam
bahan kimia pertanian seperti pupuk dan pestisida
kimia. Akhir-akhir ini pengelolaan secara organik
atau semi organik terus disosialisasikan ke masyarakat
tani. Beberapa kelompok tani di Indonesia telah mulai
melaksanakannya. Per ubahan dari pertanian
konvensional ke organik tersebut akan mempengaruhi

lingkungan biotik pertanaman padi sawah.


Biodiversitas ekosistem padi sawah tersebut berubah
karena masukan yang diberikan berbeda dengan
sebelumnya. Tetapi sejauh mana perubahan tersebut
perlu diklarifikasi lebih lanjut.
Seperti dilaporkan oleh banyak peneliti bahwa
pada air genangan tanah padi sawah dihuni oleh
berbagai populasi organisme yang saling berinteraksi
satu sama lain membentuk suatu rantai dan jaringjaring makanan yang khas (Kuwabara, 1999; Roger
et al., 1993; Ali, 1990). Pengaruh langsung dan tidak
langsung dari salah satu organisme air dapat
mempengaruhi struktur komunitas organisme dalam
lingkungan tanah sawah yang antara lain terdiri dari
protozoa, alga, larva serangga, moluska, oligocaheta,
nematoda, dan mikrokrustacea (Mogi, 1993; Adrian
dan Schneider-Olt, 1999). Selain berinteraksi antara
sesama organisme, populasi mereka juga dipengaruhi
oleh faktor lingkungan seperti penggunaan pupuk
kimia dan organik, pestisida, penggenangan, pengelolaan air, varietas tanaman, lama penggenangan dan
sebagainya (Simpson et al., 1994; Ferrari et al., 1991).

Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Jl. Sumantri Brojonegoro No. 1
Bandarlampung 35145. e-mail: niswati@unila.ac.id
J. Tanah Trop., Vol. 13, No. 3, 2008: 225-231
ISSN0852-257X

225

A. Niswati et al.: Protozoa dan Alga pada Padi Sawah yang Diaplikasi Bokashi

Di antara berbagai organisme yang mendiami


air genangan tanah sawah adalah protozoa dan alga.
Mereka berperanan penting dalam siklus unsur hara
di lingkungan air tawar, khususnya pada pertanaman
padi sawah. Beberapa alga pada genangan tanah
sawah dilaporkan dapat memfiksasi nitrogen (Grant
et al., 1983a) yang kuantitasnya sangat dipengaruhi
oleh aktivitas organisme lain yang mendiami air
genangan tanah sawah tersebut (Kivi et al., 1996;
Grant et al., 1983b ). Selain itu secara langsung
protozoa dan alga juga sebagai penyumbang
biomassa tanah pada pertanaman padi sawah.
Peranan penting lain dari protozoa and algae adalah
sebagai bioindikator perubahan lingkungan (Dawah,
2006). Oleh karena itu perubahan dan dinamika
populasi alga dan protozoa dominan yang menghuni
padi sawah kemungkinan akan terpengaruh oleh
aplikasi bokashi yang diberikan terus menerus.
Alga hijau biru mempunyai arti penting dalam
mempertahankan kesuburan tanah sawah karena
fungsinya dalam fiksasi nitrogen (Banerjee, 1991).
Aplikasi bahan organik ke tanah akan merubah
lingkungan tanah sedemikian sehingga sumber bahan
organik bagi bakteri, fungi, dan organisme lainnya
akan berubah. Keberadaan alga di dalam tanah akan
menyetabilkan dan memperbaiki sifat-sifat fisika
tanah dengan mengagregasi partikel-partikel dan
menambahkan bahan organik. Beberapa alga
beradaptasi pada tanah lembab, bahkan permukaan
batuan, alga tersebut mendegradasi mineral yang
belum terhancurkan sehingga menjadikan produkproduk dekomposisinya tersedia untuk membangun
dan memperkaya tanah (Pelczar dan Chan, 1986).
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari
perubahan populasi protozoa dan alga dominan yang
mendiami air genangan tanah sawah akibat pemberian
pupuk bokashi berkelanjutan selama pertanaman padi
sawah.
BAHAN DAN METODE
Desain Percobaan dan Analisis Data
Penelitian ini dilakukan di lahan padi sawah di
Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Tanggamus yang
dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2006.
Pengamatan jumlah dan keanekaragaman protozoa
dan alga dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah,
Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas
Lampung. Penelitian dilakukan dalam Rancangan
Acak Kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Perlakuan

226

yang digunakan yaitu tanpa aplikasi bokashi kontrol


(B0 ), aplikasi bokashi selama 2 tahun (B 1 ), dan
aplikasi bokashi selama 4 tahun (B2). Data dianalisis
dengan sidik ragam dan perbedaan nilai tengah diuji
dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Keanekaragaman protozoa dan alga dinyatakan
dengan menggunakan indeks keanekaragaman
Shanon-Wiener (Krebs, 1985).
Pelaksanaan Penelitian
Pengambilan contoh air genangan dilakukan
pada lahan pertanaman padi sawah yang menerapkan
sistem pertanian organik selama 5 tahun dimulai dari
tahun 2000. Petani yang termasuk dalam kelompok
pertanian organik, memberikan input kompos bokashi
sebanyak 4 ton/ha sebagai pengganti pupuk anorganik
serta tanpa menggunakan pestisida sintesis. Bokashi
dibuat dengan memfermentasikan jerami padi,
kotoran ternak dan mikroorganisme lokal yang berasal
dari fermentasi buah-buahan matang yang
dihancurkan, air kelapa, dan gula merah.
Titik contoh air ditentukan secara acak pada
lahan sawah dengan masing-masing perlakuan pada
setiap ulangan sehingga didapat 12 titik pengamatan.
Pada masing-masing titik diambil contoh air dengan
menggunakan gayung sebanyak 250 ml dan
dimasukkan ke dalam botol plastik. Pengambilan
sampel dilakukan setiap 10 hari selama pertanaman
padi sawah. Sebelum pengambilan sampel terlebih
dahulu dilakukan pengukuran ketinggian muka air
genangan sawah dengan menggunakan penggaris
panjang. Sampel tersebut kemudian dimasukkan ke
dalam termos es yang telah diberi es batu hingga
pengamatan dilakukan. Penyimpanan dalam termos
es bertujuan untuk menghambat berkembangbiaknya
protozoa dan alga serta menghambat aktivitas
protozoa dan alga selama dalam perjalanan dari
lapangan ke laboratorium lebih kurang 1,5 jam.
Pengamatan
Pengamatan protozoa dan alga pada setiap
sampel dilakukan dengan mengambil sebanyak 1050 ml sampel air dituangkan ke dalam cawan petri
lalu diamati dengan menggunakan mikroskop stereo
dengan perbesaran 20 40 x, kemudian digambar,
difoto dan jumlah protozoa dan alga dihitung. Hal
ini dilakukan hingga seluruh sampel air habis.
Protozoa dan alga hasil tangkapan diidentifikasi
jenisnya. Protozoa yang berhasil dilihat dihitung
jumlahnya kemudian diidentifikasi secara manual,

J. Tanah Trop., Vol. 13, No.3, 2008: 225-231

dengan melihat flagel serta bentuk tubuh protozoa dan


alga. Jumlah protozoa dan alga yang didapat
dikonversi ke dalam jumlah protozoa dan alga
genangan air per dm3. Variabel pendukung yang
diamati adalah pH air, C-organik tanah, dan
ketinggian genangan air.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kepadatan Populasi Protozoa dan Alga
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat
2 genus protozoa dan 2 genus alga dominan yang
dapat diamati pada lahan sawah yang diberi bokashi
berkelanjutan (Gambar 1) yang lebih tinggi jumlahnya
dibandingkan dengan tanah sawah yang tidak diberi
bokashi. Dua genus protozoa tersebut yaitu Euglena
sp., Pleodorina sp., dan 2 genus alga adalah Volvox
sp., dan Diatom (Gambar 1).

Fluktuasi protozoa dan alga


Fluktuasi jumlah protozoa dan alga total pada
tanah yang tidak diberi bokashi pada waktu 10 hst
sampai 80 hst lebih rendah dibandingkan dengan
jumlah protozoa pada tanah yang diberi bokashi
selama 2 tahun dan 4 tahun berturut-turut.
Hasil Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5
% menunjukkan bahwa total protozoa dan alga pada
air genangan padi sawah tertinggi diperoleh pada
perlakuan aplikasi bokashi berkelanjutan selama 4
tahun (Tabel 1). Populasi protozoa dan alga mulai
meningkat tajam sejak 30 hst dan cenderung stabil
jumlahnya sampai akhir masa panen. Hal ini
disebabkan karena penambahan kompos (bokashi)
berkelanjutan ke dalam tanah, akan meningkatkan
populasi bakteri dan fungi dalam tanah (Labidi et al.,
2007) yang menjadi sumber makanan bagi protozoa.

Kepadatan Populasi Protozoa dan Alga (Propagul dm-1 air)

Euglena sp.

P leo d o ri n a s p .

1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0

100 0
90 0
80 0
70 0
60 0
50 0
40 0
30 0
20 0
10 0
0

kontrol

2 tahun

ko n tro l

4 tahun

2 t ah u n

4 ta h u n

Diatom

Vo lvo x s p .

1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0

1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
kontrol

2 tahun

4 tahun

kontrol

2 tahun

4 tahun

Lama aplikasi bokashi


Gambar 1. Kepadatan Populasi protozoa dan alga dominan yang terdapat di air genangan padi sawah
yang diberi bokashi berkelanjutan. Bar menunjukkan standar eror (P = 0,95 %).

227

A. Niswati et al.: Protozoa dan Alga pada Padi Sawah yang Diaplikasi Bokashi

Kepadatan populasi protozoa


dan alga (propagul dm-1)

2 00 0
1 80 0
1 60 0
1 40 0
1 20 0
1 00 0

kontrol

8 00

2 tahun

6 00

4 tahun

4 00
2 00
0
10

20

30

40

50

60

70

80

Waktu (hari setelah tanam)

Gambar 2. Fluktuasi populasi protozoa dan alga dalam air genangan padi sawah selama
pertanaman padi yang diberi bokashi berkelanjutan.

Lama aplikasi bokashi


Kontrol
2 tahun
4 tahun

Kepadatan populasi protozoa


dan alga (propagul dm-3)
7.406 40,92 a
8.600 76,35 b
9.044 27,78 c

BNJ 5% = 90

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama


tidak berbeda nyata pada uji BNJ 5%.
Di samping itu pemberian kompos ke dalam tanah
akan menambah biomassa C, N, P dan S (Perucci,
1990) yang diperlukan oleh protozoa dan alga.
Penambahan bokashi akan digunakan protozoa dan
alga sebagai sumber makanan selain bakteri dan fungi.
Semakin banyak bokashi yang diberikan ke dalam
tanah maka semakin banyak pula aktivitas biota tanah.
Dengan demikian semakin banyak pula protozoa dan
alga yang akan hidup. Hal ini diduga disebabkan oleh
mulai termineralisasinya nitrogen dan hara lain
sehingga dapat digunaan oleh mereka. Selain sifat
kimia tanah yang diperbaiki (Zhang et al., 2006) oleh
pemberian kompos ke tanah, sifat fisik tanah juga
menjadi lebih baik.
Penurunan jumlah populasi
protozoa dan alga terjadi pada 30 dan 60 hari setelah
tanam, disebabkan dilakukannya manajemen
pengelolaan padi sawah organik oleh para petani yaitu
dengan melakukan penyiangan gulma, pergiliran air
irigasi, dan pengeringan air genangan padi sawah.

228

Perubahan Kepadatan Populasi Masing-masing


Protozoa
Populasi Euglena sp. Secara deskriptif, jumlah
Euglena sp. di genangan air padi sawah pada
perlakuan kontrol lebih rendah dibandingkan dengan
perlakuan yang diberi bokashi berkelanjutan (Gambar
3) seiring dengan pertumbuhan padi jumlah Euglena
sp. yang diberi pupuk bokashi berkelanjutan
meningkat sampai 80 hst. Namun secara statistika
lama aplikasi bokashi tidak mempengaruhi populasi
Euglena sp.
Populasi Pleodorina sp. Secara deskriptif,
jumlah populasi Pleodorina sp. di air genangan padi
sawah pada kontrol atau pertanian padi sawah secara
konvensional memiliki jumlah lebih rendah
dibandingkan dengan perlakuan yang diberi bokashi
Kepadatan populasi Euglena sp.
(propagul dm-1)

Tabel 1. Pengaruh pemberian bokashi berkelanjutan


terhadap kepadatan populasi protozoa dan
alga air genangan padi sawah.

500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0

kontrol
2tahun
4tahun
10

20

30

40

50

60

70

80

Waktu (hari setelah tanam)

Gambar 3. Fluktuasi populasi Euglena sp. dalam air


genangan padi sawah selama pertanaman
padi sawah yang diberi bokashi
berkelanjutan.

800
700
600
500
400
300
200
100
0

kontrol
2tahun
4tahun

10

20

30

40

50

60

70

Kepadatan populasi Volvox sp.


(propagul dm-1)

( p r o p a g u l

d m

Kepadatan populasi Pleidorina sp.


-1
)

J. Tanah Trop., Vol. 13, No.3, 2008: 225-231

800
700
600
500
400
300
200
100
0

80

kontrol
2tahun
4tahun
10

Waktu (hari setelah tanam)

20

30

40

50

60

70

80

Waktu (hari setelah tanam)

Gambar 4. Fluktuasi populasi Pleidorina sp. dalam


air genangan padi sawah selama
pertanaman padi sawah yang diberi
bokashi berkelanjutan.

Gambar 5. Fluktuasi populasi Volvox sp. dalam air


genangan padi sawah selama pertanaman
padi sawah yang diberi bokashi
berkelanjutan.

berkelanjutan (Gambar 4) selain itu seiring dengan


waktu pertumbuhan tanaman padi jumlah Pleodorina
sp. meningkat tajam sejak 20 hst dan kemudian stabil
sejak 40 hst. Namun secara statistika lama aplikasi
bokashi tidak mempengaruhi populasi Pleodorina sp.
Pada penelitian ini diperoleh bahwa protozoa
dominan yang mendiami air genangan tanah sawah
adalah dua protozoa seperti disebutkan di atas. Sampai
saat ini alasan mengapa didominasi oleh kedua
organisme tersebut belum dapat dijelaskan pada studi
saat ini.

Tabel 2. Pengaruh pemberian bokashi berkelanjutan

Perubahan Kepadatan Populasi Masing-masing


Alga
Populasi Volvox sp. Secara deskriptif, jumlah
populasi Volvox sp. yang menghuni genangan air padi
sawah pada perlakuan kontrol lebih rendah
dibandingkan dengan perlakuan yang diberi bokashi
berkelanjutan (Gambar 5). Populasi volvox sp.
meningkat seiring dengan pertumbuhan tanaman padi
kecuali pada 30 hst, yang disebabkan dilakukannya
manajemen pengelolaan padi sawah organik oleh para
petani yaitu dengan melakukan penyiangan gulma,
dan pergiliran air irigasi.
Hasil Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5
% menunjukkan bahwa total Volvox sp. air genangan
padi sawah tertinggi diperoleh pada perlakuan
aplikasi bokashi berkelanjutan selama 4 tahun (Tabel
2).
Populasi Diatom. Secara deskriptif, kepadatan
populasi Diatom di air genangan padi sawah pada
perlakuan kontrol lebih rendah dibandingkan dengan

terhadap kepadatan populasi Volvox sp.


pada air genangan padi sawah.
Lama aplikasi bokashi

Kepadatan populasi
Volvox sp. (propagul dm-3)

Kontrol
2 tahun
4 tahun

734 43,02a
814 55,95b
896 50,17c

BNJ 5% = 80

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama


tidak berbeda nyata pada uji BNJ 5%.
perlakuan yang diberi bokashi berkelanjutan (Gambar
6). Populasi Diatom menurun pada perlakuan aplikasi
bokashi selama 2 tahun pada 70 hst yang disebabkan
dilakukannya pengeringan air genangan padi sawah.
Populasi Diatom ternyata juga banyak ditemui pada
sawah-sawah di Australia (Grant et al., 2006).
Peningkatan jumlah alga pada padi sawah
kemungkinan akan mempengaruhi ketersediaan
nitrogen bagi tanaman padi, namun hal ini perlu studi
lebih lanjut. Roger et al. (1987) melaporkan bahwa
alga hijau biru sangat berpotensi untuk dijadikan
inokulum penambatan nitrogen secara biologi pada
pertanaman padi sawah.
Kepadatan Populasi Protozoa dan Alga lainnya
Secara deskriptif, protozoa dan alga lainnya
(antara lain: Chlococcum, Archipora, Bdelloida,
Spirogyra, Ploimida) di air genangan padi sawah pada
pertanaman konvensional (kontrol) memiliki jumlah

229

Kepadatan populasi Diatom


(propagul dm-1)

A. Niswati et al.: Protozoa dan Alga pada Padi Sawah yang Diaplikasi Bokashi
25
20
15
kontrol

10

2tahun

4tahun

0
10 20 30 40 50 60 70 80

selama 2 tahun, dan 3,89 untuk lahan yang diaplikasi


bokashi selama 4 tahun. Hal ini diduga sebabkan
aplikasi bokashi mempengaruhi keselur uhan
organisme yang mendiami air genangan tanah sawah
sehingga rantai dan jaring-jaring makanan belum
terganggu. Protozoa dan algae pada ekosistem air
dimangsa oleh makrozooplankton seperti Cladocera,
dan Copepoda (Yoshida et al., 2001).
KESIMPULAN

Waktu (hari setelah tanam)

Kepadatan populasi protozoa dan


alga lainnya (propagul dm-1)

Gambar 6. Fluktuasi populasi Diatom dalam air


genangan padi sawah selama
pertanaman padi sawah yang diberi
bokashi berkelanjutan.
30
25
20
15
10
5
0

kontrol
2tahun
4tahun

10 20 30 40 50 60 70 80
Waktu (hari setelah tanam)

Gambar 7. Fluktuasi populasi protozoa dan alga


lainnya dalam air genangan padi sawah
selama pertanaman padi sawah yang
diberi bokashi berkelanjutan.
populasi yang lebih rendah dibandingkan dengan
perlakuan bokashi berkelanjutan (Gambar 7).
Populasi protozoa dan alga lainnya meningkat seiring
dengan pertumbuhan tanaman padi meskipun
kepadatan populasinya lebih rendah dibandingkan
dengan protozoa dan alga dominan.
Indeks Keanekaragaman Protozoa dan Alga
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa
pemberian bokashi berkelanjutan tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap indeks keanekaragaman
populasi protozoa dan alga air genangan padi sawah.
Hasil perhitungan indeks keanekaragaman protozoa
dan alga air genangan padi sawah, memiliki nilai ratarata indeks keanekaragaman sebesar 3,93 untuk lahan
kontrol, 3,95 untuk lahan yang diaplikasi bokashi

230

Protozoa dan alga yang mendominasi pada air


genangan tanah sawah pada penelitian ini adalah dari
genus Euglena, Pleodorina, Volvox, dan Diatom.
Pemberian bokashi terus menerus selama 4 tahun
meningkatkan secara siginifikan jumlah populasi
protozoa dan algae secara keseluruhan, tetapi hanya
alga genus Volvox yang jumlahnya secara signifikan
dipengaruhi oleh pemberian bokashi terus menerus.
Populasi protozoa dan alga dipengaruhi oleh
waktu penggenangan tanah sawah, dimana
populasinya cenderung meningkat sejak 20 sampai
30 hari setelah penggenangan dan kemudian stabil
sampai akhir penggenangan, kecuali protozoa genus
Euglena yang populasinya terus meningkat sampai
akhir penggenangan.
Indeks keanekaragaman spesies protozoa dan

algae tidak dipengaruhi oleh aplikasi bokashi


secara berkelanjutan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih Bapak
Widodo, Kepala Kelompok Tani Organik Kecamatan
Pagelaran, Kabupaten Tanggamus yang telah
menyediakan lahan sawahnya untuk penelitian ini dan
kepada Saudara Akbar Hariyadi, S.P. yang telah
membantu pengambilan sampel di lapangan dan
enumerasi di laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Adrian, R and B. Schneider-Olt. 1999. Top-down effects
of crustacean zooplankton on pelagic microorganisms
in a mesotrophic lake. J. Plankton Res. 21: 2175-2190.
Ali, A.B. 1990. Seasonal dynamics of microcrustacean and
rotifer communities in Malaysian rice fields used for
rice-fish farming. Hydrobiologia 206: 139-148.
Bambaradeniya, C.N.B and P. Amarasinghe. 2004.
Biodiversity Associated with the Rice Field AgroEcosystem in Asian Countries: A Brief Review.

J. Tanah Trop., Vol. 13, No.3, 2008: 225-231


Working Paper 63. International Water Management
Institute, Srilanka, 24 pp.
Banerjee, M. 1991. Blue green algal ecology of paddy
fields. Bionatures 11: 45-49
Dawah, A.M.A. 2006. Influence of saturn herbicide on a
natural phytoplankton community of rice fields.
Egypt J. Agric. Res., 84: 587-594.
Ferrari, I., A. Bachiorri, F.G. Margaritora, and V. Rossi.
1991. Succession of cladocerans in a northern Italian
ricefield. Hydrobiologia 225: 309-318.
Grant, A.J., M. Pavlova, L. Wilkinson-White, A.
Haythornthwaite, I. Grant, D. Ko, B. Sutton, and R.
Hinde. 2006. Ecology and biology of nuisance algae
in rice fields. A report for the Rural Industries
Research and Development Corporation. University
of Sydney, NSW: 38 p.
Grant, I.F., A.C. Tirol, T. Aziz, and I. Watanabe. 1983a.
Regulation of invertebrate grazers as a means to
enhance biomass and nitrogen fixation of
Chyanophyceace in wetland rice field. Soil Sci. Soc.
Am. J. 47: 669-675.
Grant, I.F., E.A. Egan, and M. Alexander. 1983 b.
Measurement of rates of grazing of the ostracod
Cyprinotus carolinensis on blue green algae.
Hydrobiologia 106: 199-208.
Kivi, K., H. Kuosa, and S. Tanskanen. 1996. An
experimental study on the role of crustacean and
microzooplankton grazers in the planktonic food web.
Marine Ecol. Prog. Ser. 136: 59-68.
Krebs, J.K. 1985. Ecology. The Experimental Analysis of
Distribution and Abundance.Third Edition Harper &
Row, Publisher. New York. Pp. 521-522.
Kuwabara, R. 1999. Dynamic of water quality and
planktonic community in a paddy of northeastern
Hokkaido along with the growth of rice plant. Proc.
of Int. Seminar on Development of Agribusiness and
its Impact on Agricultural Production in Southeast
Asia. 14-19 November 1998, Tokyo, p. 434-442.
Labidi, S., H. Nasr, M. Zouaghi, and H. Wallander. 2007.
Effects of compost addition on extra-radical growth

of arbuscular mycorrhizal fungi in Acacia tortilis ssp.


raddiana savanna in a pre-Saharan area. Appl. Soil
Ecol. 35 184-192.
Mogi, M. 1993. Effect of intermittent irrigation on
mosquitoes (Diptera: Culicidae) and larviviorous
predators in rice fields. J. Med. Entomol. 30: 309319.
Pelczar Jr., M.J. dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-dasar
mikrobiologi. Penerjemah: R.S. Hadioetomo, T.
Imas, S.S. Tjitrosomo, dan S.L. Angka. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta. 443 hlm.
Perucci, P., 1990. Effect of the addition of municipal soildwaste compost on microbial biomass and enzyme
activities in soil. Biol. Fertil. Soils 10: 221-226.
Roger, P.A., S. Santiago-Ardales, and I. Watanabe. 1987.
The abundance of heterocystous blue-green algae in
rice soils and inocula used for application in rice
fields. Biol. Fertil. Soils 5: 96-105.
Roger, P.A., W.J. Zimmerman and T.A. Lumpkin. 1993.
Microbiological management of wetland rice fields.
In F.B. Metting Jr. ed. Soil Microbial Ecology,
Applications in Agricultural and Environmental
Management. pp. 417-455 Mercell Dekker, Inc.
Simpson, I.C., P.A. Roger, R. Oficial, and I.F. Grant. 1994.
Effects of nitrogen fertilizer and pesticide
management of floodwater ecology in a wetland tice
field II. Dynamics of microcrustaceans and dipteran
larvae. Biol. Fertil. Soils. 17:138-146.
Yoshida, T., T.B Gurung, M. Kagami and J. Urabe. 2001.
Contrasting effects of a cladoceran (Daphnia galeata)
and a calanoid copepod (Eodiaptomus japonicus) on
algal and microbial plankton in a Japanese lake, Lake
Biwa. Oecologia 129: 602-610.
Zhang, M., D. Heaney, B. Henriquez, E. Solberg, and E.
Bittner. 2006. A four year study on influence of
biosolids/MSW cocompost application in less
productive soils in Alberta: nutrient dynamics.
Compost Sci. Util. 14: 68-80.

231

PERANAN MIKROBA DAN PROTOZOA DALAM PENANGGULANGAN


LIMBAH CAIR INDUSTRI KERTAS
Dra. Rosmimik Emerde Palar, M.Si.
Latar Belakang
Kertas merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat
dipisahkan. Disadari atau tidak, permintaan kertas dari tahun ketahun terus
meningkat. Seiring dengan hal tsb dibutuhkan bahan baku pembuatan
pulp,khususnya kayu sebagai sumber selulosa. Pulp merupakan bahan berbentuk serat
hasil pengolahan bahan berlignoselulosa dengan proses mekanis. Umumnya bahan
baku yang digunakan untuk hal ini adalah kayu dari jenis Acacia sp , kayu ini
termasuk pohon berbuah polong, keras, yang tumbuh cepat dan menghasilkan kayu
padat bewarna coklat muda sampai coklat tua. Tanaman acacia sp ini mengandung
selulosa tinggi, lignin, abu sedang, serta kadar pentosa yang rendah, keadaan
demikian diharapkan dapat menghasilkan pulp dengan rendemen yang cukup tinggi
dan berkualitas baik.
Kesulitan utama dalam analisis kayu secara umum bukanlah karena jumlah
komponen kayu yang kadang-kadang sangat berbeda komposisi dan sifat-sifatnya,
melain karena eratnya asosiasi ultra struktur dan kimia yang ada diantara
makromolekul dinding sel.
Pembuatan pulp secara kimia mekanis merupakan gabungan antara perlakuan
kimia dan mekanis. Perlakuan kimi merupakan tahap penambahan bahan kimia
pemasak pulp, sebelum pulp diberikan perlakuan mekanis. Bahan kimia yang biasa
digunakan adalah natrium karbonat, sulfit, atau sulfat, bisulfit pada air pengasahan
untuk penghematan energi dan menaikan derajad putih pulp yang dihasilkan.Selain
pereaksi tsb pereaksi lain jang digunkan yaitu Na 2SO3, Na2 S, NaHCO3, Na2SO4.
Bahan bahan ini berfungsi sebagai larutan penyanggah untuk mencegah terjadinya
korosi dan hidrolisis jang berkelanjutan dari Na2SO3, sehingga kandungan selulosa
tetap tinggi.
Warna pulp terutama disebabkan oleh adanya lignin dan zat ekstrak serta
perubahan-perubahan kimia yang terjadi pada zat-zat tersebut. Pemutih merupakan
proses penghilangan lignin dan bahan-bahan lain dari serat untuk meningkatkan
kecerahan warna pulp. Limbah dari pulp memberikan warna gelap dan keruh yang
mengakibatkan air buangannya sangat mencemari perairan dilingkungan
pabrik,sehingga mengakibatkan
syarat COD dan BOD yang ditetapkan oleh
AMDAL tidak terpenuhi. Untukmengatasi haltsb diatas maka limbah tersebut harus
kita perlakukan secara biologi jangan secara kimia karena cara kimia tetap

meninggalkan residu terhadap lingkungan. Cara biologi yang paling tepat adalah
dengan memanfaatkan jasa Mikroba dan Protozoa .
MIKROBA

Mikroba milik CV.MARROS LESTARI

Segala jasad hidup yang berukuran kecil disebut mikroba / mikroorganisme /


jasad renik. Disebut jasad renik karena ukurannya yang kecil (kurang dari 0,1 mm),
sehingga sukar dilihat dengan mata biasa, umumnya hanya dapat dilihat dengan alat
pembesar atau mikroskop, ada mikroba yang berukuran besar sehingga dapat dilihat
tanpa alat pembesar, pengaturan kehidupannya yang lebih sederhana dibandingkan
dengan jasad tingkat tinggi.
Mikroba di alam secara umum berperanan sebagai produsen, konsumen, maupun
redusen.
a) Jasad Produsen
Menghasilkan bahan organik dari bahan anorganik dengan energi sinar
matahari. Mikroba yang berperanan sebagai produsen adalah algae dan bakteri
fotosintetik.
b) Jasad Konsumen
Menggunakan bahan organik yang dihasilkan oleh produsen. Contoh:
protozoa
c) Jasad Redusen
Menguraikan bahan organik dan sisa-sisa jasad hidup yang mati menjadi
unsur-unsur kimia (mineralisasi bahan organik), sehingga di alam terjadi
siklus unsur-unsur kimia. Contoh: bakteri dan jamur (fungi).
Mikroba-mikroba ini sangat bermanfaat untuk pertanian, dan juga pengolahan
limbah, terutama yang mengandung bahan organik.

PROTOZOA

Protozoa : Spirostomu ambiguum


Protozoa termasuk golongan protista eukariotik yang berada dalam keadaan
sel tunggal dan berkoloni. Protozoa hidup bebas tergantung adanya air, pada bahan
organik yang membusuk, dalam tanah dan pasir, hidupnya dipengaruhi kelembaban,
suhu, cahaya, nutrien dan kondisi fisik dan kimia. Pertumbuhanannya dapat bertahan
dalam air pada suhu 560 C, tetapi suhu optimumnya adalah antara 36 s/d
400C,keasaman berkisar antara pH 6.0 dan pH 8.0. Protozoa ini mempunyai banyak
jenis, bentuk, ukuran dan kebanyakkan mikroskopis, tetapi ada beberapa yang bisa
dilihat dengan mata seperti Klas Ciliata tepatnya Stentor polimorfis ukuran 1 2
mm, Spirostomu ambiguum dapat berkembang sampai dengan 3 mm. Reproduksinya
dengan cara sexual dengan cara konjugasi dan singami, dan asexual dengan cara
binari yaitu proses pembelah, budding yaitu bagian dari induk yang berdifrensiasi
dan berkembang menjadi individu baru, exogeneas budding dimana tunas amuba
yang muda dari induk lepas sendiri membentuk individu yang baru.
Protozoa digunakan sebagai indikator kualitas air, materi limbah mentah dapat
dikatagorikan kedalam tiga golongan.
1. Kotoran cara domestik
2. Limbah industri senyawa pengdegradasi senyawa kimia anorganik.
3. Stromwater yang mengandung polutan ( air mengalir yang membawa kotoran
permukaan

Peranan mikroba dan protozoa dalam penanggulangan limbah cair kertas


secara aerobik.

Limbah yang berisikan kotoran mentah yang bersifat semi solid dilewatkan
kedalam tanki aerobik , dalam tanki tsb masukakan mikroba dan protozoa aerob
yang berfungsi mendegradasi limbah mentah yang ada dalam tangki dan
menghasilkan produk samping berupa amoniak, methan, hidrogen sulfida . Dalam
tangki aerob terdapat tiga lapisan, dimana lapisan pertama berisikan hasil samping
dari degradasi limbah cair kertas oleh mikroba aerob dan protozoa, lapisan kedua
berisi cairan yang masih mengandung limbah cair kertas dan lapisan ketiga berupa
sludge yang dapat dipergunakan untuk pupuk.. Protozoa yang digunakan adalah klas
Ciliata yaitu Metapus sp, Saprodinium sp, Epulxis sp. Cairan yang berada pada
lapisan ke dua dialirkan kedalam trickling filter yang dilapisi batuan dan lapisan
yang berisikan mikroba dan protozoa aerobik pada proses ini terjadi oksidasi yang
berkelanjutan dengan kehadiran microorganisme tsb sampai terjadi dekomposisi yang
sempurna. Hasil samping dari proses ini berupa CO 2dan H2O. Kemudian cairan
dilewatkan kedalam setting tank agar detrius settle out. Sebelum air dialirkan ke
pembuangan dilperlakukan terlebih dahulu dengan klorin guna untuk
menghancurkan pathogen yang ada.

Teknik Penyamplingan,
Sampel di ambil sampel secara aseptik masukkan kedalan botol steril untuk
sampel yang berupa cairan dan masukkan kedalam kantong plastik untuk sampel
yang berupa sedimen atau tanah dll. Untuk botol jar, isi botol sampai 1/3 bagian
dengan sampel (vegetasi tanaman), daun mengenbang, dan parutan batu.
Isolasi mikroba erobik termofilik dari sampel cairan dan Padat
Siapkan air aquadest steril 9 ml didalam test tube sesuai keperluan.
1. Contoh tanah/ air sebanyak (5 g/ 5 ml) dilarutkan dalam 45 mlair steril,kocok
30menit dalam inkubator goyang pada .
2. Pipet I ml cairan nomor diatas masukkan kedalam test tube yang berisi air
steril 9 ml vortex (10 -2 ). Lakukan seterusnya sampai diperoleh pengenceran
10-4.
3. Ambil 100 mikro pengenceran 10-3. 10-4 masing-masing tabung sebarkan
kedalam media Nutrien agar dalam petridish untuk bakteri, media Rose bengal
agar untuk jamur, media selulolitik untuk selulase dan media lignolitik
untuklignase.
4. Inkubasi pada suhu kamar 2-3 hari dan dalam inkubator pada suhu kamar
untuk bakteri dan jamur umum mesofilik dan inkubasi pada suhu 60 0 C,
untuk bakteri dan jamur termopilik.
5. Inkubasi pada suhu kamar 3 5 hari dan dalam inkubator pada suhu kamar
untuk selulolitik dan lignolitik mesofilik dan inkubasi pada suhu 60 0 C,
untuk termopilik.
6. Koloni yang tumbuh diamati dan siap untuk diperbanyak, dalam media
kultivasi untuk bakteri dan jamur umum
7. Reaksi pewarnaan untuk selulolitik dan lignolitik dengan menggunakan
pewarna Congo Red 1%.
8. Timbulnya zona bening disekeliling isolat menunjukkan positip adanya
selulase.
9. Timbulnya warna merah kecoklatan disekeliling isolat menunjukkan positip
adanya lignolitik.
Pemurnian isolat
Dilakukan dengan mengambil koloni dari hasil diatas disebar kembali kedalam media
spesifik dengan sistim kwadran, timbulnya koloni disepanjang garis goresen yang
tumbuh tunggal disimpan sebagai isolat yang sudah murni.

Kultivasi
Isolat yang sudah murni (bakteri, jamur, selulolitik dan lignolitik) ambil
dengan menggunakan ose,masukkan kedalam media NA cair untuk bakteri umum ,
media PDA cair untuk jamur umum, Inkubasi pada suhu kamar 2-3 hari untuk
mesofilik dan 60 0 C, untuk bakteri dan jamur termopilik, media selulolitik cair untuk
selulase dan media lignolitik cair untuk lignase inkubasi 3 5 hari pada suhu kamar
untuk mesofilik dan suhu 600 C untuk termopilik.
HASIL
Dari

proses

pengolahan

limbah

cair

industri

kertas

ini

didapatkan

1. Pupuk Mikroba Fungsi Ganda


Keunggulannya :
1. Efisiensi pemakaian pupuk nitrogen dan pupuk fosfat karena mengandung
bakteri penambat nitrogen dan bakteri pelarut fosfat.
2. Meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mengandung hormon tumbuh
IAA.
3. Meningkatkan produktivitas tanaman dan meningkatkan pembentukkan zat
hijau daun (klorofil) karenamengandung bakteri diazotrof endofitik.
4. Tidak merusak tanah atau lahan karena tidak meninggalkan residu terhadap
tanah.
5. Aman dan ramah lingkungan.
2. Bioaktivator Perombak Bahan Organik
Suatu bahan aktivator yang berisikan mikroba perombak bahan organik yang bekerja
merombak limbah organik seperti, sampah pasar, sampah rumah tanggga dan limbah
pertanian seperti jerami dll.
Keunggulannya :
1. Inokulan mengandung mikroba perombak yang akan merubah sampah dan
limbah menjadi kompos plus multiguna karena mengandung unsur-unsur hara
esensial yang dibutuhkan oleh tanaman.
2. Aktivitas inokulan dalam merombak bahan organik, tidak meninggalkan bau
dan aroma lainnya.
3. Penggerjaannya sangat mudah hanya dengan menaburkan inokulan kepada
limbah atau sampah.
4. Aman dan ramah lingkungan.

3. Blok Pembibitan
Keunggulannya :
1. Mengandung bahan organik siap pakai, karena dibuat dari bahan-bahan
organik yang telah didekomposisi oleh mikroba dekomposer.
2. Meningkatkan ketersedian fosfat tanah, karena asam-asam organik yang
dihasilkan selama proses dekomposisi.
3. Efisiensi pemakaian pupuk Kalium.
4. Bentuk blok praktis bisa langsung ditanam ditanah.
5. Tidak meninggalkan residu pada tanah dan ramah lingkungan.
Catatan :
Proyek pengolahan limbah pabrik kertas, oleh Tenaga Ahli CV. MARROS
LESTARI, 2005

DAFTAR PUSTAKA

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/61084352.pdf.
Diakses 23 Oktober 2011. Pukul 19.47 WIB.
http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22/jurnal/ML_185_final%20(74-82).pdf.
Diakses 23 Oktober 2011. Pukul 19.49 WIB.
http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itk21/jurnal/2_foraminifera.pdf.
Diakses 23 Oktober 2011. Pukul 19.53 WIB.
http://jpsmipaunsri.files.wordpress.com/2010/08/1153-58-d-sagala
ganjil.pdf. Diakses 23 Oktober 2011. Pukul 21.59 WIB.
http://marrosorganoferti.blogspot.com/2011/05/peranan-mikroba-danprotozoa-dalam.html . Diakses 23 Oktober 2011. Pukul 22.05 WIB
http://journal.unila.ac.id/index.php/tropicalsoil/article/download/63/315 .
Diakses 23 Oktober 2011. Pukul 22.09 WIB.