Anda di halaman 1dari 11

Gangguan Ekstrapiramidal

STRUKTUR PENYUSUN SISTEM EKSTRAPIRAMIDAL


Gerakan volunter dipengaruhi oleh interaksi sistem piramidal, ekstrapiramidal, dan
serebelum. Sistem ekstrapiramidal meliputi :

Basal ganglia : nucleus caudatus, putamen, globus pallidus.

Substansia nigra

Nucleus rubra

NEUROFARMAKOLOGI
Pada penelitian telah dibuktikan bahwa obat obatan seperti reserpin dan fenotiazin
dapat menimbulkan sindrom ekstrapiramidal yang dapat dijelaskan berdasarkan adanya
neurotransmiter.
Neurotransmiter merupakan zat yang disintesis dan disimpan di presinaptik dan dapat
dilepaskan ke dalam sinaptik gap bila mendapatkan stimulus yang adekuat. Pada saat dilepaskan
neurotransmiter tersebut dapat bereaksi dengan reseptor khususnya yang berada pada neuron
postsinaps. Beberapa neurotransmiter tersebut antara lain : acetylcholine, dopamine, gamma
aminobutyric acid, serotonin, dan glutamate.
Asetilkolin disintesis oleh small striatal cells yang mempunyai konsentrasi
tertinggi di striatum dan mempunyai efek eksitasi. Sedangkan dopamin dihasilkan di substansia
nigra pars kompakta dimana konsentrasi tertinggi terdapat di substansia nigra dan memiliki efek
inhibisi.
Pada keadaan normal, kedua neurotransmiter tersebut berada dalam keadaan yang
seimbang jumlahnya antara asetilkolin dan dopamin. Namun, dalam keadaan ketidakseimbangan
kedua neurotransmiter tersebut mengakibatkan berbagai kelainan. Pada keadaan dimana dopamin
berlebih akan menimbulkan gangguan gerakan yang disebut dengan chorea. Pada keadaan
dimana dopamin berkurang dapat menimbulkan gangguan gerakan yang disebut parkinsonisme.
GABA disintesis di striatum dan globus palidus, memiliki efek inhibisi, kekurangan
GABA berhubungan dengan chorea huntington. Obat obatan dapat mempengaruhi gangguan
berjalan melalui berbagai cara seperti : mengurangi pembentukan transmiter pada ujung serabut
syaraf seperti : tetrabenazine, ataupun dengan menghambat reseptor post sinaps seperti :
fenotiazin. Kedua obat tersebut pada akhirnya akan menyebabkan berkurangnya efektifitas
dopamin sehingga akan menimbulkan kelebihan asetilkolin relatif dan menimbulkan
parkinsonisme.

GAMBARAN KLINIS
Akibat gangguan sistem ekstrapiramidal pada pergerakan dapat dianggap terdiri dari
defisit fungsional primer ( gejala negatif ) yang ditimbulkan oleh tidak berfungsinya sistem dan
efek sekunder ( gejala positif ) yang timbul akibat hilangnya pengaruh sistem itu terhadap bagian
lain. Pada gangguan dalam fungsi traktus ekstrapiramidal gejala positif dan negatif itu
menimbulkan dua jenis sindrom, yaitu :
1. Sindrom hiperkinetik hipotonik : asetilkolin , dopamin

Tonus otot menurun

Gerak involunter / ireguler


Pada : chorea, atetosis, distonia, ballismus

2. Sindrom hipokinetik hipertonik : asetilkolin , dopamin

Tonus otot meningkat

Gerak spontan / asosiatif

Gerak involunter spontan


Pada : parkinson

I.Gejala negatif
Gejala negatif terjadi akibat kekurangn jumlah dopamin karena produksinya yang berkurang.
Gejala negatif, terdiri dari :
1. Bradikinesia
Gerakan volunter yang bertambah lambat atau menghilang sama sekali. Gejala ini merupakan
gejala utama yang didapatkan pada penyakit parkinson sehingga menimbulkan berkurangnya
ekspresi wajah, berkurangnya kedipan mata dan mengurangi perubahan postur pada saat duduk.
2. Gangguan postural
Merupakan hilangnya refleks postural normal. Paling sering ditemukan pada penyakit parkinson.
Terjadi fleksi pada tungkai dan badan karena penderita tidak dapat mempertahankan
keseimbangan secara cepat. Penderita akan terjatuh bila berputar dan didorong.

II.Gejala Positif
Gejala positif timbul oleh karena terjadi perubahan pelepasan ataupun disinhibisi dari dopamin,
tetapi tidak ditemukan kerusakan struktur. Gejala positif, terdiri dari :
1. Gerakan involunter

Tremor

Athetosis

Chorea

Distonia

Hemiballismus

1. Rigiditas
Kekakuan yang dirasakan oleh pemeriksa ketika menggerakkan ekstremitas secara pasif.
Tahanan ini timbul di sepanjang gerakan pasif tersebut, dan mengenai gerakan fleksi maupun
ekstensi sering disebut sebagai plastic atau lead pipe rigidity. Bila disertai dengan tremor maka
disebut dengan tanda Cogwheel. Pada penyakit parkinson terdapat gejala positif dan gejala
negatif seperti tremor dan bradikinesia. Sedangkan pada Chorea huntington lebih didominasi
oleh gejala positif, yaitu : Chorea.
I.PENYAKIT PARKINSON
Definisi
Gangguan gerakan yang kronis progresif yang ditandai oleh adanya tremor, bradikinesia,
rigiditas, dan ketidakstabilan postural.
Etiologi
Penyebab penyakit ini masih belum diketahui. Terdapat pengaruh genetik dan keadaan
lingkungan dapat mempengaruhi. Pendapat lain menyatakan bahwa penyakit ini dipengaruhi
oleh penggunaan obat obatan, penuaan yang cepat, toksin seperti : logam berat, MPTP; stres
oksidatif / peroksidasi oleh radikal bebas.
Oleh karena etiologi yang tidak jelas, penyakit parkinson kemudian digolongkan ke dalam
penyakit parkinson yang idiopatik untuk membedakan dengan gejala parkinsonisme yang timbul
oleh penyebab yang diketahui seperti obat obatan seperti : fenotiazin, reserpin, dan haloperidol
ataupun trauma pada kepala.
Patologi

Substansia nigra adalah sekumpulan sel yang mengandung sel berpigmen ( neuromelanin ) yang
memberikan gambaran khas berwarna hitam secara makroskopik. Pada penyakit parkinson, sel
tersebut menghilang mengalami degenerasi dan kematian sehingga substansia nigra berubah
menjadi berwarna pucat. Sel yang tersisa pada daerah tersebut mengandung badan inklusi
eosinofilik atipikal di dalam sitoplasmanya yang disebut dengan Lewy bodies ( yang tidak
spesifik dalam penyakit parkinson ). Lesi seperti ini juga dapat dijumpai dalam jumlah kecil di
striatum dan globus palidus. Kekurangan dopamin dalam inti inti striatum ( nukleus kaudatus
dan putamen) yang berkaitan erat dengan gangguan motorik pada penyakit ini.
Gambaran Klinis
Didahului dengan keluhan : rasa cepat lelah, rasa lemah, sukar berdiri dari kursi, sukar
berbalik pada waktu rebahan, perasaan kaku, nyeri otot, gangguan bicara, suara menjadi perlahan
dan monoton. Terdapat trias parkinson, yaitu :
1. Tremor : terutama saat istirahat, bertambah bila emosi, hilang pada waktu tidur.
2. Rigitas : cogwheel ( roda gigi ), disebabkan meningkatnya aktivitas motor neuron alfa.
Hilang gerak asosiatif lengan bila berjalan.
3. Bradikinesia / akinesia : gerakan volunter menjadi lambat, memulai suatu gerakan
menjadi sulit. Sulit bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lamban mengenakan
pakaian. Ekspresi muka / gerak mimik wajah berkurang ( muka topeng ), bicara menjadi
lambat dan monoton dan volume suara berkurang ( hypophonia ).
Gejala lain :

Instabilitas postural

Sikap parkinsonisme yang khas : berjalan dengan langkah langkah kecil ( festination )

Disartria

Mikrografia

Gangguan saraf otonom : kulit muka berminyak, air liur berlebihan, gangguan
vasomotorik ( hipotensi ), gangguan miksi dan defekasi.

Gangguan sensibilitas : nyeri, parestesia

Okular : blepharospasme

Gangguan mental / emosional : depresi, ansietas, agitasi, halusinasi, demensia.

Stadium Klinis

1. Stadium 1
Unilateral, ekspresi wajah berkurang, lengan yang terkena dalam posisi fleksi dengan tremor dan
ayunan agak berkurang atau normal.
2. Stadium 2
Bilateral, postur bungkuk ke depan, gaya berjalan lambat dan langkah kecil, sukar membalikkan
badan.
3. Stadium 3
Gangguan gaya berjalan menonjol, timbul ketidakstabilan postural, jarang terjatuh
4. Stadium 4
Disabilitas yang jelas, berjalan terbatas tanpa bantuan, sulit berdiri, kecenderungan untuk terjatuh
meningkat.
5. Stadium 5
Hanya berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda, tidak mampu berdiri / berjalan, bicara
tidak jelas, wajah tanpa ekspresi, jarang berkedip.
Penatalaksanaan
Terapi bersifat simtomatis dan tidak mempengaruhi perjalanan patologinya. Prinsip
pengobatan dalah dengan mempertahankan keseimbangan antara asetilkolin dan dopamin
dengan cara menurunkan kadar asetilkolin dan meningkatkan dopamin.

Golongan antikolinergik

Menekan gejala tremor dan rigiditas.


Benztropine mesylate, biperidine, trihexyl phenidil, orphanodrine, procyclidine.

L-DOPA

Gold stndar
Sinemet : L-dopa + carbidopa
Madopar : L-dopa + benserazide

Dopamin agonis

Bromokriptin, pergolide, lisuride, piriberdil, apomorfin

Penghambat MAO-B

Selegilin

Penghambat COMT

Entacapone, tolcapone

Neuroprotektor

Selegilin, antioksidan ( vit E, vit. C, beta karoten ), glutamat antagonis.


II.CHOREA
A.CHOREA HUNTINGTON = CHOREA MAYOR
Merupakan gangguan herediter yang bersifat autosomal dominan, onset pada usia
pertengahan dan berjalan progresif hingga menyebabkan kematian dalam waktu 10 12 tahun.
Dapat terjadi pada usia muda ( tipe juvenile ) dimana gejalanya kurang tampak dan didominasi
oleh gejala negatif ( rigiditas )
Patologi
Kehilangan neuron pada striatum berhubungan dengan berkurangnya hubungan dengan
struktur ganglia basalis lainnya. Selain itu juga, ditemukan hilangnya sel pada korteks frontal dan
temporal. Dasar neurokimia dari penyakit ini adalah defisiensi GABA dan asetilkolin sebagai
neuromodulator enkephalin dan substansi P.
Gejala

Chorea

Demensia

Gangguan mental : perubahan kepribadian, gangguan afektif, psikhosis

Hipotonus

Refleks primitif

Diagnosis

Pada pasien dengan gejala chorea dan didapatkan riwayat keluarga, singkirkan dari penyakit
benign hereditary chorea dimana terdapat intelektual pada penyakit tersebut. Pada Huntingtons
chorea biasanya intelektual terganggu. Bedakan dengan chorea senilis dimana terjadi biasanya
pada usia yang lebih tua dan terdapat demensia. Singkirkan juga berbagai penyebab chorea yang
lain seperti chorea sydenham, chorea gravidarum, dan chorea akibat obat obatan.
Pengobatan
Pada stadium awal dapat digunakan fenotiazin, haloperidol atau tetrabenazin.
B.CHOREA SYDENHAM = CHOREA MINOR
Onset akut, berhubungan dengan infeksi Streptokokus. Lebih sering terdapat pada anak
anak. Terdapat gejala rheumatoid lain ( jantung )
C.CHOREA GRAVIDARUM
Onset saat kehamilan, merupakan reaktivasi chorea sydenham.
III.DYSTONIA
Manifestasinya sebagai postur tubuh yang abnormal untuk waktu yang lama yang
diakibatkan oleh spasme otot otot besar yang terdapat di badan dan ekstremitas, misalnya :
retraksi pada kepala. Distonia dapat terjadi umum pada dystonia musculorum deformans atau
fokal pada torticolis.
DYSTONIA MUSCULORUM DEFORMANS
Onset terjadi pada masa anak anak dan diturunkan secara autosomal resesif. Pada
awalnya terjadi deformitas pada kaki berupa fleksi ketika berjalan. Lalu kelainan ini bertambah
menjadi generalisata dengan postur kepala, badan, dan ekstremitas yang abnormal.
Diagnosis ditegakkan jika pada pasien memiliki riwayat perinatal normal dan tidak
terdapat bukti laboratorium adanya penyakit Wilson.
Pengobatan penyakit ini dapat dengan levodopa atau karbamazepin. Namun, pada beberapa
pasien tidak memberikan peningkatan yang berarti sehingga dapat diganti dengan antikolinergik
SPASMODIC TORTICOLIS
Deviasi kepala unilateral. Etiologinya belum diketahui. Pada pemeriksaan didapatkan
kelainan vestibular, namun hal ini tidak jelas apakah disebabkan oleh tortikolis atau postur
kepala yang tidak normal. Kontraksi distonik dari M. Sternokleidomastoideus kiri bermanifestasi
sebagai deviasi kepala ke arah kanan. Penekanan oleh jari telunjuk pada dagu kanan dapat
mengembalikan posisi kepala pada posisi netral. Patologi penyakit ini masih belum diketahui dan
diagnosis didasarkan pada penemuan klinis.

Pengobatan dengan fenotiazin dan antikolinergik. Dapat juga dilakukan tindakan operatif,
yaitu dengan miotomi dan pemotongan N. aksessorius dan radiks anterior servikal atas.
Prognosis biasanya remisi pada 20 % pasien. Distonia dapat menyebar pada kelompok
otot lainnya, dan untuk jangka waktu lama mungkin dapat mempengaruhi keadaan psikologis
pasien.
About these ads

Share this:

Twitter

Facebook

Related

TRAKTUS KORTIKOBULBAR
In "Ilmu saraf"

BERBAGAI PENYAKIT KULIT YANG TERJADI AKIBAT REAKSI OBAT DENGAN


MANIFESTASI BERUPA ERITEMA, EDEMA & KRUSTA DAN
PENATALAKSANAANNYA
In "ilmu penyakit kulit"
STRUMA TIROID
PENDAHULUAN Sistem endokrin merupakan sistem dan organ yang memproduksi hormone,
suatu mediator kimia yang bekerja jauh dari system atau organ asalnya. Sistem endokrin adalah
system kelenjar yang menghasilkan suatu mediator kimia yang disebut hormon. Berbeda dengan
system eksokrin, secret dari system ini dicurahkan langsung ke peredaran darah tanpa melalui
saluran
In "Ilmu Bedah"
Leave a comment
Filed under Ilmu saraf
Tagged as bradikinesia, distonia, DOPA, ekstrapiramidal, parkinson, torticolis, tremor

Leave a Reply

Search for:

Blog Stats
o 163,683 hits

Categories
o akupunktur (1)

o Ilmu Bedah (6)


o Ilmu Kesehatan Anak (15)
o Ilmu Penyakit Dalam (5)
o ilmu penyakit kulit (6)
o Ilmu Penyakit Mata (6)
o ilmu penyakit THT (2)
o Ilmu saraf (14)
o Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (10)
o Obstetri Ginekologi (29)
o Request order (2)
o tropikal infeksi (7)

Author
dr. sisca - Jakarta
Jasa Pembuatan Referat Kedokteran / Makalah / Artikel / Case Jurnal / Bahan Presentasi

Recent Posts
o Penilaian awal dan Pengelolaan Trauma
o Prinsip prinsip Resusitasi Neonatus
o TRAKTUS KORTIKOBULBAR
o Laporan Kasus Parkinson
o Tuberkulosis Kutis
o LAPORAN KASUS KOMPLIKASI CEDERA KEPALA BERAT

o Perlengkapan Instrumen Bedah


kuliah kedokteran Jasa Pembuatan Referat kedokteran / Makalah / Artikel / Case Jurnal / Bahan
Presentasi
Create a free website or blog at WordPress.com. The Pilcrow Theme.
Follow

Follow kuliah kedokteran


Get every new post delivered to your Inbox.
Build a website with WordPress.com