Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN TETAP BIOKIMIA 1

REAKSI UJI PROTEIN ( UJI PENGENDAPAN LOGAM)

Kelompok : 3 (Tiga)
Nama

: Tiara Septia Nengsih

Nim

: 06101281419060

Dosen Pengampuh

:1. Drs. Made Sukaryawan, M.Si.


2. Desi, S.Pd., M.T.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan


Jurusan Pendidikan Kimia
Universitas Sriwijaya
2016

I.
II.

PERTEMUAN
JUDUL

: 4 (Empat)
: Reaksi Uji terhadap prottein (Uji Pengendapan Logam)
III. TUJUAN
: Untuk menguji kandungan yang
terdapat dalam protein.
IV. DASAR TEORI

Protein alamiah memiliki 20 jenis asam amino. Berat molekul


protein

sangatlah

besar,

ribuan

sampai

jutaan

sehingga

merupakan suatu makromolekul. Protein dapat dihidroisis oleh


asam, basa atau enzim dan menghasilkan campuran asam-asam
amino. Pada umumnya protein sangat peka terhadap pengaruhpengaruh

fisik

dan

kimia.

Sehingga

mudah

mengalami

perubahan bentuk. Perubahan atau modifikasi pada struktur


protein tersebur disebut denturasi. Hal-hal yang menyebabkan
terjadinya denaturasi adalah panas, pH, tekanan, aliran listrik
dan adanya bahan kimia seperti urea, alkohol atau sabun. Proses
denaturasi protein dapat berlangsung secara balik (reversible)
dan juga tidak balik (rireversible).
Protein sangatlah dibutuhkan oleh tubuh manusia, karena
protein berfungsi sebagai salah satu sumber energi yang dibutuh
kan tubuh. Protein juga berperan dalam sintesis hormon dan
pembentukan enzim dan antibodi. Protein juga dibutuhkan bagi
tubuh dalam jumlah yang besar. Protein merupakan komponen
utama dalam semua sel hidup, baik tumbuhan maupun hewan.
Pada

sebagian

besar

bagian

tubuh,

protein

merupakan

komponen terbesar setelah air. Kira-kira lebih dari 50% berat


kering tubuh terdiri dari protein. Protein adalah senyawa organik
kompleks

yang

terdiri

dari

unsur-unsur

karbon

(50-55%),

hidrogen ( 7%), oksigen ( 13%) dan nitrogen (1-2%). Ada


beberapa jenis protein lainnya yang mengandung unsur logam
seperti besi dan tembaga.
Ketika protein dicerna, asam amino yang tersisa. Tubuh manusia
membutuhkan sejumlah asam amino untuk memecah makanan. Asam amino harus
dimakan dalam jumlah cukup besar untuk kesehatan yang optimal. Asam amino

yang ditemukan dalam sumber-sumber hewani seperti daging, susu, ikan, dan
telur, serta sumber tanaman seperti kedelai, kacang-kacangan, kacang-kacangan,
selai kacang, dan beberapa biji-bijian, seperti gandum. Jika protein dididihkan
dengan asam kuat atau basa kuat yang pekat, molekulnya akan terhidrolisis
menjadi asam amino. Protein terbentuk dengan adanya ikatan peptida antar asam
amino.
V.

ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Tabung reaksi
2. Pipet tetes
3. Rak tabung reaksi
4. Gelas ukur
5. Gelas kimia
Bahan
1. Larutan albumin 1 5 %
2. Larutan HgCl2 0,2 M
3. Larutan Pb-asetat 0,2 M
4. Larutan susu 1 5 %

VI.

PROSEDUR PERCOBAAN

1.

Siapkan 10 tabung reaksi dimana setiap sampel memerlukan 2 tabung reaksi


yang berbeda.

2.

Masukkan masing-masing sampel sebanyak 3 ml ke dalam setiap tabung


reaksi.

3.

Pada tabung reaksi yang pertama, tambahkan HgCl2 0,2 M sebanyak 5 tetes.

4.

Pada tabung reaksi yang kedua, tambahkan timbal asetat 0,2 M sebanyak 5
tetes.

5.

Amati perubahan yang terjadi, catat pada tabel hasil pengamatan.

6.

Ulangi langkah 2-6 untuk sampel dengan konsentrasi yang berbeda.

VIII.

HASIL PENGAMATAN
Penambahan

No

Sampel
HgCl2

Pb-Asetat

Albumin 1%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

Albumin 2%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

Albumin 3%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

Albumin 4%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

Albumin 5%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

Susu 1%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

Susu 2%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

Susu 3%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

Susu 4%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

10

Susu 5%

Larutan keruh + endapan

Larutan keruh + endapan

IX. PERSAMAAN REAKSI

Pengendapan dengan HgCl2

Pengendapan dengan Pb-Asetat

X. ANALISIS DATA
Ksp HgCl2 = 1,2 x 10-18

HgCl2 Hg2+ + 2ClS

2S

Ksp

= S x (2S)2

1,2 x 10-18

= 4S3

= 0,67 x 10-6

Ksp Pb(CH3COO)2 = 2,43 x 10-18


Pb(CH3COO)2 Pb2+ + 2CH3COOS

Ksp

= S x (2S)2

2,43 x 10-18

= 4S3

2S

= 0,85 x 10-6

XI. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini mengenai uji reaksi terhadap protein, yaitu uji dengan
pengendapan logam. Sampel yang digunakan adalah larutan susu dan albumin
maisng-maisng dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu 1% sampai 5%. Pereaksi
yang digunakan adalah HgCl2 dan Pb-asetat. Kedua pereaksi ini merupakan logam
berat.
Sampel albumin 1-5% memberikan hasil warna larutan keruh dengan
endapan berwarna putih setelah ditetesi larutan HgCl2. Penambahan beberapa tetes
larutan timbal asetat pada larutan albumin dengan konsentrasi 1-5% juga
memberikan warna larutan keruh dan terdapat endapan putih. Perlakuan yang
sama juga dilakukan terhadap larutan susu 1-5% setelah penambahan HgCl 2
maupun timbal asetat juga terbentuk endapan berwarna putih dengan larutan
keruh. Hal ini terjadi karena adanya proses denaturasi protein.
Penambahan beberapa tetes larutan HgCl2 atau timbal asetat pada albumin
maupun susu, Hg atau Pb menyebabkan putusnya jembatan disulfida dan ikatan
kovalen S-S pada protein yang mengandung gugus sulfuhidril. Logam Hg atau Pb
tadi selanjutnya berikatan dengan protein dari susu maupun albumin. Logam berat

yang berikatan dengan protein tadi akan membentuk endapan proteinat yang tidak
larut. Logam berat dapat dengan mudah berikatan dengan protein karena protein
memiliki gugus COOH dan gugus NH2 sehingga membentuk senyawa kelat.
Jumlah endapan pada sampel albumin 1-5% tidaklah sama. Endapan larutan
albumin 1% paling sedikit dibandingkan dengan yang lainnya dan larutan albumin
5% memiliki endapan yang paling banyak daripada konsentrasi lainnya. Hal ini
juga terjadi pada sampel susu. Konsentrasi dari sampel memiliki hubungan
berbanding lurus dengan endapan yang akan terbentuk. Semakin besar konsentrasi
sampel tersebut, semakin banyak endapan yang terbentuk.
Kereaktifan dari logam berat terhadap sampel juga mempengaruhi
banyaknya endapan yang terbentuk. Logam Hg bersifat lebih reaktif dibandingkan
dengan logam Pb karena Hg merupakan logam transisi. Hg juga mempunyai
kelarutan lebih kecil dibandingkan logam Pb. Larutan susu atau labumin yang
ditetesi dengan HgCl2 tentu memiliki endapan yang lebih bnayak dibandingkan
dengan larutan susu atau albumin yang ditetesi dengan timbal asetat.
XI. KESIMPULAN
1. Pengendapan protein oleh logam berat menghasilkan warna larutan keruh
dengan endapan berwarna putih.
2. Penambahan logam berat Pb atau Hg menimbulkan adanya denaturasi protein
susu maupun albumin.
3. Sampel yang ditetesi HgCl2 memiliki endapan yang lebih banyak dibandingkan
sampel yang ditetesi Pb-asetat.
4. Semakin besar konsentrasi sampel, semakin banyak endapan yang terbentuk.

VII.

DAFTAR PUSTAKA

Poedjiadi, Anna dan Titin Supriyanti. 2009. Dasardasar Biokimia. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia (UI-Press).
Savitri, Indri dkk. 2013. Laporan Uji Pengendapan Logam (Online). http://docu
ments.tips_laporan-7-biokimia-indri-uji-pengendapan-dg-logam. (Diakses pada
tanggal 28 September 2016).

Thenawidjaja, Maggy. 1982. Dasardasar Biokimia Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

VIII. LAMPIRAN

Gambar 1. Pengambilan sampel

Gambar 2. Albumin 1-5% yang


telah ditetesi HgCl2.

Gambar 3. Albumin 1-5% yang


telah ditetesi Pb-asetat.

Gambar 6. Susu membentuk


endapan putih setelah ditambah
larutan HgCl2.

PERTANYAAN :

Mengapa perubahan sampel albumin ditambah Pb(CH3COO)2 mirip dengan sampel susu
ditambah HgCl2 ?
Jawab :
Hal ini dikarenakan Hg memiliki sifat lebih reaktif dari Pb dan juga memiliki sifat
mengikat protein sehingga Hg mudah mengikat protein pada susu. Meskipun Pb kurang

reaktif dari Hg, Pb dapat dengan mudah mengikat albumin karena albumin merupakan
protein murni. Sehingga kedua sampel tersebut dapat mudah mengendap dan terlihat
mirip satu sama lain.