Anda di halaman 1dari 3

PENARIKAN BATAS SATUAN BATUAN

HUKUM V
Terkadang, pada suatu daerah dengan topografi yang komplek, akan memberikan pola
penyebaran singkapan yang komplek pula. Penyebaran singkapan batuan dapat diperkirakan
dari hubungan antara kedudukan lapisan batuan tersebut dengan kontur topografinya.Hukum
V (V rule) adalah hukum yang menjelaskan hubungan antara lapisan yang mempunyai
kemiringan dengan bentuk topografi berelif yang menghasilkan suatu pola singkapan yang
beraturan,dimana aturan tersebut di kenal dengan hukum V.
Syarat memakai Hukum V:

Adanya Kontur topografi


Terdapat nilai Strike/dip
Skala (skala peta = skala proyeksi)

Aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut:


A. Lapisan horizontal akan membentuk pola singkapan yang mengikuti pola garis kontur
B. Lapisan dengan kemiringan yang berlawanan dengan arah kemiringan lereng maka
kenampakan lapisan ankan memotong lembah dengan pola singkapan membentuk huruf
V yang berlawanan dengan arah kemiringan lembah
C. Pada lapisan tegak akan membentuk pola singkapan berupa garis lurus dimana pola
singkapan ini tidak di pengaruhi oleh keadaan topografi
D. Lapisanan yang miring sarah dengan kemiringan lereng dimana kemungkinan lapisan
lebih besar dari pada kemiringan lereng akan membentuk pola singkapanakan dengan
huruf V mengarah sama atau searah dengan kemiringan lereng
E. Lapisan dengan kemiringan yang searah dengan kemiringan lereng dimana besar
kemiringan lapisan lebih kecil dari kemiringan lereng,maka pola singkapannya akan
membentuk huruf V yang berlawanan dengan arah kemiringan lereng atau lembah
F. Lapisan yang keiringannya searah dengan kemiringan lembah dan besarnya kemiringan
G. Lapisan sama dengan kemiringan lering atau lembah maka pola singkapan tampak.

Langkah Kerja dalam Metode Hukum V :


1
2

Buat perpanjangan garis strike dari stasiun lokasi


Buat / gambarkan proyeksi garis horizontal dari titik elevasi sesuai dengan ukuran

interval kontur skala peta.


Buat/gambarkan garis dengan mencerminkan atau merepresentatifkan nilai dip

Titik-titik dimana garis dip yang melewati elevasi pada peta yang diproyeksikan kembali

ke peta
Setiap pertemuan dari garis kontur struktur dengan kontur topografi mencerminkan

penerusan perssebaran kontak litologi yang kemudian diberi tanda dengan jelas.
Ulangi langkah-langkah tersebut dengan nilai-nilai elevasi yang berbeda.

Pembuatan Pola Penyebaran Singkapan


Untuk membuat pola penyebaran singkapan, dilakukan kombinasi antara data kedudukan
lapisan batuan dan data topografi untuk dapat mengetahui penyebaran singkapan batuan
tersebut. Pola penyebaran singkapan tergantung pada :
1.

Tebal lapisan

2.

Topografi

3.

Besar kemiringan lapisan batuan

4.

Bentuk struktur lipatan

Sedangkan topografi dikontrol oleh batuan penyusun, struktur geologi, dan proses geomorfik.
Bila setiap singkapan batuan yang sama dihubungkan satu sama lain dan batas satuan batuan
tersebut digambarkan pada peta topografi, maka akan tampak suatu pola penyebaran
singkapan. Hubungan antara kedudukan lapisan, penyebaran singkapan, dan topografi
dirumuskan ke dalam suatu aturan tertentu yang disebut dengan Hukum V.
Pola penyebaran singkapan dapat digambarkan pada peta topografi apabila :
1. Letak titik singkapan pada peta topografi diketahui
2.

Strike dan kemiringan lapisan batuan diketahui

3.

Terdapat garis ketinggian pada peta topografi

4.

Singkapan batuan yang akan dibuat polanya belum terganggu oleh struktur.

Contoh Gambar Singkapan

1. Untuk Gambar A
Perlapisan horizontal, pola penyebaran lapisan akan condong kea rah hulu
2. Untuk Gambar B
Perlapisan yang miring ke hulu bentuk perlapisan akan condong ke arah hulu juga,
yang membedakannya adalah pola penyebaran singkapan di bawah permukaannya .
terlihat dari gambar singkapan arah perlapisan kea rah hulu dengan dip 30
3. Untuk Gambar C
Perlapisan tegak yang berarti pada penyebaran singkapannya akan tegak vertical ke
atas, penggambaran di peta cukup dengan menarik garis lurus memotong kontur, yang
menandakan bahwa penyebaran lapisannya menerus kea rah dalam atau ke luar peta
topografi
4. Untuk Gambar D
Dimana lapisannya miring ke hilir, yang berarti arah penyebaran lapisan batuannya
bertolak belakang dengan gambar B dan penggambarannya pada peta kontur
berlawanan dengan garis kontur membentuk huruf v seperti pada gambar D
5. Untuk Gambar E
Perlapisan dengan kemiringan sama dengan arah lereng
6. Untuk Gambar F
Perlapisan miring ke hilir dengan sudut lebih kecil dari arah lereng.