Anda di halaman 1dari 5

JURNAL GELOMBANG (2016) NRP: 1114-038

Polarimeter
Dita Maulinda Andya Ningrum, Nur Khoirotul Yusro, Seni Ramadhanti, Drs. Hasto Sunarno, M.Sc
Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: ditanyaningrum@gmail.com

Abstrak Telah dilakukan percobaan polarimeter dengan


tujuan untuk mempelajari prinsip polarimeter, mengukur sudut
putar jenis larutan gula sebagai fungsi konsentrasi dan untuk
menentukan konsentrasi larutan gula dengan polarimeter. Dalam
percobaan ini menggunakan prinsip polarisasi cahaya. Alat dan
bahan yang digunakan adalah polarimeter untuk mengetahui
sudut dari puter jenis dari larutan zat optik aktif, larutan gula
sebagai larutan zat optik aktif, gelas ukur, pipet dan pengaduk
untuk mengaduk larutan gula. Dalam percobaan ini prinsip
kerja alat polarimeter adalah sebagai berikut, sinar yang datang
dari sumber cahaya akan dilewatkan melalui prisma
terpolarisasi, kemudian diteruskan ke sel yang berisi zat optic
aktif, dan akhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua
(analizer). Polarizer tidak dapat diputar-putar sedangkan
analizer dapat diatur atau di putar sesuai keinginan. Dengan
variasi larutan gula 5 gram gula yang dilarutkan dalan pelarut
aquades sebanyak 50 ml. Larutan unknown juga dilarutkan
dalam pelarut sebanyak 50 ml. Dengan lima kali pengambilan
pola gelap terang dan pola terang-terang. Dari hasil percobaan

yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa


besar sudut putar jenis dari larutan gula adalah 19.52
. Sedangkan konsentrasi larutan gula yang
digunakan pada percobaan kedua adalah 0.096 gr/mol.
Sedangkan peristiwa polarisasi dapat diputar sudut
polarisasinya menggunakan zat optic aktif.
Kata Kunci Analisator,cahaya, larutan, polarisasi .

I. PENDAHULUAN

alam kehidupan sehari-hari, manusia tidak lepas dari


keberadaan cahay. Apabila dipelajari lebih lanjut
mengenai cahaya, salah satunya akan kita temukan
mengenai sifat cahaya, yaitu dapat mengalami refleksi,
refraksi, polarisasi, dan interferensi dan beberapa sifat
gelombang lainnya. Cahaya merupakan sebagaian dari
spectrum gelombang elektromagnetik dan termasuk
gelombang transversal. Kita mengenal gelombang transversal
sebagai salah satu jenis gelombang yang arah rambatnya tegak
lurusterhadap arah getarannya.
Polarisasi merupakan salah satu sifat cahaya. Polarisai
menggunakan istilah pole yang berarti kutub, dengan
demikian polarisasi dapat diartikan sebagai roses pegutuban.
Maksudnya adalah medan listrik dan magnet sebagai
komponen getarnya ada pada arah tertentu. Arah itu sesuai
denga arah medan listrik sebagai komponen getar dari cahaya.
Arah polarisasi bergantung pada arah gerakan muatan yang
dipercepat, dan yang berperan sebagai sumber gelombng
elektromagnetik, termasuk cahaya. Sebagai contoh, antenna
dalam
keadaan
tegak
menghasilkan
gelombang

elektromagnetik yang menjalar ke kanan dengan polarisasi


arahvertikal. Peristiwa polarisasi tidak dapat diamati secara
langsung oleh mata manusia, sehingga diperlukan suatu alat
yang dapat membantu untuk menunjukkan gejala polarisasi
tersebut. Melalui polarimeter gejala polarisasi dapat
ditunjukkan selain itu melalui alat ini dapat dilihat pula
bagaimana larutan optik aktif seperti larutan gula dapat
membelokkan cahaya yang telah terpolarisasi.[2]
Cahaya natural atau disebut dengan cahaya yang
tidak terpolarisasi merupakan cahaya yang arah polarisasinya
acak, hal tersebut dapatterjadi akibat cahaya tersebut
dihasilkan dari gerakan muatan yang dipercepat dan periodic
dengan arah acak. Misalnya cahaya matahari bersifat tidak
terpolarisasi sehingga disebut cahaya alami. Untuk menjadi
terpolarisasi cahaya itu harus diletakkan pada medium filter
pemolarisasi yang disebut polarisator. Polarisator itu bersifat
menyerap medan listrik dalam arah tertentu sedangkan yang
lain diteruskan. Polarisator paling sederhana adalah polaroid
yang terbuat dari molekul-molekul organik, misalnya polyvinil
alkohol, yang memiliki kutub listrik sejajar dengan kutub
listrik yang lain disetiap molekul penyusunnya. Medan listrik
oleh cahaya yang berarah tegak lurus terhadap kutub itu,
bersifat diteruskan. Adapun polarisator mikrogelombang
dibuat dengan menempatkan kawat-kawat konduktor halus
yang sejajar, sehingga komponen medan listrik oleh
mikrogelombang yang dapat lolos hanyalah komponen
mikrogelombang yang berarah tegak lurus terhadap arah
kawat polarisator. Komponen medan listrik yang sejajar
dengan arah memanjang kawat polarisator diserap oleh kawat
yang digunakan untuk menggerakkan elektron bebas didalam
kawat itu. Ini berakibat medan listrik tidak dapat menerobos
kawat sebab energi yang dibawahnya telah terserap habis oleh
kawat.[1]
Polarimeter adalah suatu alat yang tersusun atas
polarisator dan analisator. Alat ini digunakan untuk mengukur
dan menginterpretasi garis gelombang polarisasi terutama
gelombang elektromagnetik, salah satunya adalah gelmbang
cahaya.. Polarimeter adalah polaroid yang dapat menganalisis
dan mempolarisasi cahaya. Peristiwa polarisasi merupakan
suatu peristiwa penyerahan arah getar suatu gelombang
menjadi sama dengan arah getar polaroid dengan cara
menyerap gelombang yang memiliki arah getar yang berbeda
dan meneruskan gelombang sama dengan polaroid.
Polarimeter juga dapat digunakan untuk mengukur besar sudut
putar jenis suatu larutan optik aktif. Apabila cahaya melalui
polarisator maka bidang getar polarisator akan diserap atau
dipadamkan sehingga cahaya yang dapat melalui polarisator
adalah cahaya yang mempunyai bidang getar polarimeter.
Sebaliknya cahya yang melalui analisator maka bidang getar

JURNAL GELOMBANG (2016) NRP: 1114-038

polarisator akan dipadamkan dan yang tinggal hanyalah


cahaya yang mempunyai bidang getar analisator.[1]
Gelombang electromagnet memiliki suatu rentang tertentu.
Hal ini biasanya disebut sebagai spectrum gelombang
elektromagnetik. Salah satu dari spectrum gelombang
elektromagnetik adalah cahaya tampak. Cahaya tampak
merupakan gelombang elektromagnetik yang paling familiar.
Selain itu merupakan spektrum gelombang elektromagnetik
yang dapat ditangkap oleh mata. Sesuai dengan gambar 1,
cahaya tersusun dari beberapa panjang gelombang. Cahaya
merah merupakan cahaya dengan panjang gelombang
terpanjang (
) dan cahaya ungu memiliki
panjang gelombang terpendek (

)[3].

Besarnya polarisasi pada berkas pantulan bergantung


pada sudut, bervariasi dari yang tidak ada polarisasi dengan
sudut jatuh normal sampai polaroisasi 100% pada sudut yang
dikenal dengan nama sudut polarisasi ( p). Sudut ini
berhubungan dengan indeks bias kedua materi ditiap sisi
perbatasan dengan persamaan
(1.1)

Untuk = 0, 2 ,4 ,..., komponen ini memiliki fase yang sama


dan gelombang yang polarisasi linear.[3]
E(z,t) =

ex+ y ey) cos(kz-

(1.4)

Gelombang terpolarisasi elips dapat diartikan sebagai


gelombang yang terdiri dari dua gelombang linear atau dua
komponen gelombang terpolarisasi linear. Untuk = ,3
,...,bergerak menjauhi fase dan dalam bentuk umum adalah
adalah berbentuk elips untuk
E(z,t) =

ex cos (kz-

ey sin(kz-

(1.5)

Dari persamaan 2.3 medan amplitudo dapat dituliskan dalam


bentuk
E(z,t) = cos (aex+aey

(kz-

) sin
(1.6)

Dengan a2+b2 =1, yang dimana dapat disamakan dengan elips,


rotasi dengan sudut . Dengan perbandingan koefisien (kz,

dengan n1 adalah indeks bias materi dimana berkas melintas,


dan n2 adalah medium diluar batas pantulan. Jika berjalan
diudara n1 = 1.

(1.7)

(1.2)
II. METODOLOGI
Sudut polarisasi p juga disebut sudut Brewster, dan dari
persamaan 1.2 disebut hukum Brewster, dari fisikawan
Skotlandia David Brewster (1781-1868), yang menemukannya
secara eksperimental pada tahun 1812. Adalah menarik bahwa
pada sudut Brewster, berkas terpantul dan tertransmisi
membuat sudut 90 satu sama lain, yaitu p + r = 90[1].
Polarisasi harus terletak dalam bidang x dan y (unit e x
dan ey) dan harus mempertimbangkan dua komponen yang
mungkin memiliki perbedaan fase waktu yang berbeda[3].
E(z,t) =

ex cos (kz-

ey cos(kz-

(1.3)

Gelombang terpolarisasi linear dinamakan juga


gelombang terpolarisasi bidang. Gelombang ini terbagi
menjadi dua bagian yaitu terpolarisasi vertikal dan horizontal.
Terpolarisasi vertikal apabila E bergerak periodik arah z pada
suatu bidang vertikal tertentu. Gelombang terpolarisasi
horizontal apabila medan E bergerak periodik arah x pada
suatu bidang horizontal tertentu. Bila permukaan tanah
dianggap datar, bidang horizontal dianggap bidang yang
sejajar dengan permukaan tanah dan bidang vertikal adalah
bidang yang tegak lurus dengan permukaan tanah. Gelombang
terpolarisai linear arah x dan merambat arah sumbu y negatif,
maka medan E bergerak periodik pada bidang XOZ,
sedangkan medan H bergerak periodik pada bidang YOZ.

Pada percobaan ini, digunakan alat dan bahan adalah


polarimeter terdiri dari lensa polarizer untuk mempolarisasi
cahaya awal yang belum terpolarisasi, lensa analizer yang
merupakan lensa polarisasi dengan bidang polarisasi yang
sama namun hanya sebesar setengah lingkaran, tabung tempat
meletakan zat optis aktif, serta skala vernier digital untuk
menunjukan sudut putar dari zat optis aktif. Sedangkan
perangkat lain berupa gelas ukur 50 ml untuk mengukur
banyak air untuk melarutkan gula, beaker glass untuk
mencampurkan gula dengan air, pipet tetes, pengaduk, mistar
untuk mengukur panjang kolom, serta timbangan untuk
menimbang banyak gula yang digunakan. Sedangkan bahan
yang digunakan adalah gula dan air.

Gambar 1. Rangkaian percobaan polarimeter

JURNAL GELOMBANG (2016) NRP: 1114-038

Cara kerja pada percobaan polarimeter, Untuk menentukan

(2.1)

langkah pertama yang dilakukan adalah alat dan bahan


diperiapkan terlebih dahulu. Kemudian tabung diisi dengan
aquades hingga penuh,alu dimasukkan ke dalam plarimeter.
Titik nol ditentukan dengan teropong sambil alat putar diatur.
Pengamatan dilakukansebanyak dua kali. Berikutnya air
tersebut diganti dengan larutan gula 3 gram dalam 50 ml
aquades, lalu dicatat posisi skala analisator pada saat keadaan
tiga didapat. Percobaan diulang dengan menggunakan larutan
5 gram gula dalam 50 ml aquades, temperature ruang dan
panjang tabung larutan dicatat. Percobaan kedua untuk
menentukan konsentrasi gula. Berikut langkah kerjanya yang
pertama, disediakan gula yang akan dihitung konsentrasinya.
Setelah itu percobaan dilakukan seperti percobaan pertama.

Sedangkan untuk menentukan besar sudut putar jenis


larutan optik aktif
(2.2)
Pada percobaan ini, sudut putar jenis pada temperature 20 oC
adalah
(2.3)
Untuk menghitung error perhitungan, digunakan rumus:

Setelah mendapatkan nilai

3.1. Analisa Data


Dalam Praktikum ini, berikut data yang telah didapatkan
adalah

pada percobaan pertama, dan

nilai ini digunakan untuk menghitung konsentrasi gula.


Berikut flowchart pada percobaan ini,

(2.4)

III. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Hasil pengukuran pada percobaan polarimeter


Pengulan Massa
Sudut
Suhu (C)
Sudut
gan
(gr)
Pola
Pola
Pola
Terang
Terang
Gelap
Terang
Terang
Terang
1
Air
36
30
0.3
2
Air
36.4
30.1
0.2
3
Air
36.4
30.1
0.2
1
3
6.31
32.5
0.5
2
3
69.6
35
0.4
3
3
65.7
33.5
0.4

125,7

35

1.5

3.2. Contoh Perhitungan


Contoh perhitungan percobaan pertama
Diketahui:
Mgula : 3 gram
V air : 50 mL
Sudut putar polarisasi gelap terang : 140.3
Sudut putar polarisasi terang-terang : 197.2
Ltabung = 19.5 cm
Ditanya: Sudut putar jenis polarisasi ?
Jawab:

62.6

Gambar 2. Flowchart percobaan polarimeter

untuk mengetahui konsentrasi dari larutan gula yang


digunakan persamaan berikut ini.

Contoh perhitungan percobaan kedua


Vair : 50 mL
Ltabung = 19.5 cm
C cm2/gram
Sudut putar polarisasi gelap terang : 1.5
Sudut putar polarisasi terang-terang : 125.7
Ditanya: Konsentrasi larutan gula ?
Jawab:

Suhu (C)
Pola Gelap
Terang
30.1
30.2
30.2
33
33.5
34

36

JURNAL GELOMBANG (2016) NRP: 1114-038

Dari perhitungan diatas, data yang diperoleh dari percobaan


berikut dan telah melaluhi proses perhitungan adalah
Tabel 1 Hasil Perhitungan Sudut Putar Jenis

Jenis

Laruta
n
Gula

Aquad
es

Sudut
Pola
Gelap
Teran
g
0.5

Sudut
Pola
Terang
Terang

Sudut
Putar
Jenis

63.1

18.34

0.4

69,6

0.4

65.7

0.3

36

0.2

36.4

0.2

36.4

62.
6
69.
2
65.
3
35.
7
36.
2
36.
2

Sudu
t
Putar
Ratarata
19.2
5

20.28
19.14
35.7

32.9
9

33.15
33.15

cembung untuk difokuskan. Kemudian diperoleh data


percobaan dan dihitung sehingga diperoleh sudut putar dan
konsentrasi larutan gula unkown.
Pada percobaan ini dapat dilihat menurut peristiwa
polarisasi, bahwa setengah dari cahaya yang telah terpolarisasi
akan diserap oleh analisator yang setengah gelap. Sedangkan
pola terang-terang terjadi terlihat perbedaan sudut antar
pengulangan tidaklah berbeda, namun dengan konsentrasi
yang berbeda, hasil yang didapatkan akan berbeda pula. Zat
optik aktif yang digunakan adalah larutan gula. Terlihat sudut
putar jenis yang didapat antara 18.34 hingga 20.28. menurut
teorinya, sudut putar akan semakin membesar. Hal ini
diakibatkan lebih banyaknya molekul yang dapat memutar
dari zat tersebut. Sedangkan hubungan antara sudut putar jenis
dengan konsentrasi apabila konsentrasi dinaikan maka sudut
putar jenisnya akan cenderung semakin bertambah pula. Tetapi
teori tersebut tidak berlaku jika zat optik aktif yang digunakan
memiliki molekul pengotor yang banyak.
Dari data yang dihasilkan,kita dapat mengetahu bahwa
besar sudut putar jenis dari larutan gula adalah 19.52
. Sedangkan konsentrasi larutan gula yang
digunakan pada percobaan kedua adalah 0.096 gr/mol.
Sedangkan peristiwa polarisasi dapat diputar sudut
polarisasinya menggunakan zat optic aktif.
IV. KESIMPULAN

Tabel 3.2 tabel hasil perhitungan percobaan 1

No.
1
2
3

jenis 103
tali (Kg/m)
Woll
0.16
Woll
0.16
Woll
0.16
Boll
0.53
Boll
0.53
Boll
0.53
Nilon 0.29
Nilon 0.29
Nilon 0.29

F
(N)
1.64
2.26
2.93
1.64
2.26
2.93
1.64
2.26
2.93

v ukur
(m/s)
101.24228
118.84864
135.32369
55.626789
65.300467
74.352551
75.20088
88.278556
100.51591

v(m/s) frekuensi
teori (f)
55
50
64
50
75
50
30.5
50
34
50
38.5
50
40
50
49.5
50
52
50

3.4. Pembahasan
Percobaan polarimeter dilakukan untuk mempeajari prinsip
kerja polarimeter, mengukur sudut putar jenis larutan gula
sebagai fungsi konsentrasi, dan menentukan konsentrasi
larutan gula dengan polarimeter. Adapun alat dan bahan yang
digunakan untuk melakukan percobaan ini, yaitu
polarimeter,berfungsi untuk mempolarisasikan cahaya.
Kemudian tabung yang berfungsi untuk menampung zat optic
aktif, dimana zat optic yang kami gunakan adalah gula 3 gram
dalam 50 ml aquades dan 5 gram gula dalam 50 ml aquades.
Zat optic aktif berperan dalam pembelokan cahaya. Pada
polarimeter terdapat analisator yang berfungsi untuk
mengamati hasil dari pembelokan cahaya oleh polarisator.
Cahaya yang masuk pada polarisator memiliki arah getar
yang tegak lurus dengan arah rambatnya, sehingga perlu untuk
menyearahkan getaran tersebut sehingga menjadi sejajar
dengan arah rambatnya dengan menggunakan lensa kemudian
menuju polarisator. Kemudian cahaya tersebut akan melalui
zat optik aktif, setelah itu menuju analisator dan lensa

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan maka dapat


disimpulkan bahwa besar sudut putar jenis dari larutan gula
adalah 19.52
. Sedangkan konsentrasi larutan
gula yang digunakan pada percobaan kedua adalah 0.096
gr/mol. Sedangkan peristiwa polarisasi dapat diputar sudut
polarisasinya menggunakan zat optic aktif.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
Gelombang dan Optik dan asisten praktikum Fisika Madya
Gelombang yang telah memberikan ilmunya sehingga
praktikum ini berjalan dengan baik, serta mengucapkan terima
kasih kepada teman-teman kelompok praktikum atas kerja
sama yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]

Beisser, Arthur.1990. Konsep Fisika Modern. Erlangga. Indonesia


Giancolli, Duglas. 1998. Physics Principles with Application Pearson
Education, Inc. New Jersey
Zemansy. 2007.Fisika Universitas.Erangga. Indonesia

JURNAL GELOMBANG (2016) NRP: 1114-038