Anda di halaman 1dari 7

1.

Kepribadian
Definisi
Kepribadian merupakan pola khas seseorang dalam berpikir, merasakan dan
berperilaku yang relatif stabil dan dapat diperkirakan (Dorland, 2002). Kepribadian
juga merupakan jumlah total kecenderungan bawaan atau herediter dengan berbagai
pengaruh dari lingkungan serta pendidikan, yang membentuk kondisi kejiwaan
seseorang dan mempengaruhi sikapnya terhadap kehidupan (Weller, 2005).
Menurut Florence Littauer dalam bukunya yang berjudul Personality Plus,
kepribadian

adalah

keseluruhan

perilaku

seorang

individu

dengan

sistem

kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Maka dari itulah
situasi diciptakan dalam pembelajaran harus diseimbangkan dengan kebiasaan dan
tindakan seorang anak, sehingga terdapat perasaan yang memaksa atau tertekan dalam
diri anak.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepribadian meliputi
segala corak perilaku dan sifat yang khas dan dapat diperkirakan pada diri seseorang,
yang digunakan untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap rangsangan, sehingga
corak tingkah lakunya itu merupakan satu kesatuan fungsional yang khas bagi
individu itu.
2. Pendekatan Trait and Factor
Trait and Factor Approach menurut kamus istilah konseling dan terapi, merupakan
suatu ancangan konseling dari Minnesota, dikenal pula sebagai directive counseling
atau counselor centered, memiliki pandangan dasar bahwa kepribadian manusia
merupakan suatu sistem sifat dan faktor yang saling bergantung. Misalnya abilitas,
minat, sikap dan temperamen; konseling bertujuan memfasilitasi perkembangan
sempurna semua aspek melalui memajukan pemahaman diri dan pemahaman
lingkungan, sehingga individu dapat mengelola diri dan lingkungan secara optimal.
Konseling dengan pendekatan Trait and Factor, digolongkan ke dalam kelompok
pendekatan pada dimensi kognitif atau rational. Dalam proses penanganan kasus
konseling menggunakan metode rational. Teori atau pendekatan ini secara intelektual,
logis dan rasional menerangkan, memecahkan kesulitan-kesulitan klient dalam suatu
proses konseling.
Perkembangan kemajuan individu mulai dari masa bayi sampai dewasa diperkuat oleh
interaksi sifat dan faktor. Telah banyak dilakukan usaha untuk menyusun kategori
individu atas dasar dimensi sifat dan faktor. Manusia berusaha untuk menggunakan
pemahaman

diri

dan pengetahuan kecakapan dirinya

sebagai dasar bagi

pengembangan potensinya, dimana manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik


atau buruk.
Menurut Williamson dalam Fauzan (2004:79) Konseling Trait and Faktor memandang
manusia sebagai berikut, diantaranya:
a.
Manusa dilahirkan dengan membawa potensi baik dan buruk.
b.
Manusia bersifat bergantung dan hanya berkembang secara optimal di tengahc.
d.

tengah masyarakatnya.
Manusia selalu ingin mencapai hidup yang baik (good life).
Manusia banyak berhadapan dengan banyak pilihan-pilihan yang diintrodusir

e.
f.
g.
h.

oleh berbagai pihak.


Hubungan manusia berkaitan erat dengan konsep alam semesta.
Manusia merupakan individu yang unik.
Manusia memiliki ciri-ciri yang bersifat umum.
Manusia bukan penerima pasif atas pembawaan dan lingkungannya.

Teknik-teknik utama yang digunakan dalam konseling Ciri dan faktor (Trait and
Factor), adalah:
a.

b.

Memperkuat kesesuaian antara konselor dengan klien (forcing conformity).


Dalam teknik ini konselor senantiasa berusaha menjaga atau memelihara
bahkan memperkuat adanya kesesuaian antara dirinya dengan klien.
Mengubah lingkungan klien (changing environment).
Dalam teknik ini konselor menciptakan lingkungan yang kondusif bagi klien
dengan cara

c.

mengubah lingkungan klien sedemikian rupa sehingga klien

menjadi lebih cocok dan merasa enjoy berada di lingkungan tersebut.


Memilihkan atau menempatkan klien pada lingkungan yang sesuai (selecting
appropriate environment).
Dalam teknik ini konselor tidak menyarankan klien untuk bertahan di
lingkungan klien yang sekarang, melainkan menyarankan pindah tempat atau

d.

lingkungan yang kondusif.


Mendorong klien belajar keterampilan-keterampilan yang diperlukan (learning
needed skills).
Dalam teknik ini, konselor mendorong klien untuk lebih proaktif belajar
keterampilan yang sesuai untuk pemecahan masalahnya maupun keterampilan

e.

hidup lainnya.
Mengubah sikap klien (changing attitudes).
Dalam teknik ini, atas pertimbangan yang tepat konselor bukannya mengubah
lingkungan klien ataupun memindahkan klien ke lingkungan yang lain,
melainkan justru mengubah sikap-sikap klien yang tidak tepat agar terjadi
perubahan sedemikian rupa sehingga selanjutnya klien merasakan
kebahagiaan (happiness).

3. Pendekatan Psikoanalisis.
Aliran psikoanalisis dipelopori oleh seorang dokter psikiatri yaitu Sigmund Freud
pada tahun 1896. Ia mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia
sebagian besar terdiri dari alam kataksadaran. Sedangkan alam kesadarannya dapat
diumpamakan puncak gunung es yang muncul di tengah laut. Sebagian besar gunung
es yang terbenam itu diibaratkan alam ketaksadaran manusia.
Dalam buku lain Sigmund Freud mengatakan psikoanalisis yang memberikan
kontribusinya pada formulasi kepribadian yang menekankan pada formulasi
kepribadian yang menekankan pada karakter yang bermotif dari tingkah laku.
Psikoanalisis menembus seluruh psikologi yang menjadi dasar pendidikan konselor.
Di samping itu psikoanalisis memberikan kontribusi dalam analisis dan teknik-teknik
terapi yang digunakan dalam konseling.
Struktur kepribadian yang terdiri dari tiga sistem: id, ego, superego. Id adalah
komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego adalah
komponen sosial. Menurut Freud manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan
irasioanl, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan oleh peristiwaperistiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan
pandangan Freudian tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic,
mekanistik, dan reduksionalistik
Konsep-konsep utama dalam pendekatan psikoanalisis yaitu:
1. Dinamika kepribadian / struktur kepribadian,
2. Pandangan tentang sifat manusia,
3. Insting,
4. Kesadaran dan ketaksadaran,
5. Kecemasan,
6. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego,
7. Perkembangan kepribadian.
Dalam proses konseling yang sesuai dengan alirannya, maka setiap kegiatan konseling
diwarnai oleh filsafat dan teori yang dianut oleh kegiatan konseling itu. Demikian
pula dengan psikoanalisis, mempunyai cara tersendiri dalam kegiatan konseling atau
terapinya. Secara garis besar proses konseling psikoanalisis dengan jabaran pada
tujuan konseling, fungsi, dan peranan konselor, hubungan konselor dengan klien
teknik-teknik dan proses konseling.
4. Pendekatan Behavioristik
Pendekatan behavioristik mulai dikenal semenjak Skinner mencetuskannya pada
tahun 1957. Pendekatan ini menekankan bahwa dalam sebuah proses belajar bahasa

dikendalikan dari luar, stimulus-respon. B.F. Skinner pada tahun 1953 menulis buku
Science and Human Behavior, menjelaskan tentang peranan dari teori operant
conditioning di dalam perilaku manusia. Pendekatan behavior merupakan pendekatan
yang berkembang secara logis dari keseluruhan sejarah psikologi eksperimental.
Steven Jay Lynn dan John P. Garske (1985) menyebutkan bahwa di kalangan
konselor/psikolog, teori dan pendekatan behavior sering disebut sebagai modifikasi
perilaku (behavior modification) dan terapi perilaku (behavior therapy), sedangkan
menurut Carlton E. Beck (1971) istilah ini dikenal dengan behavior therapy, behavior
counseling, reinforcement therapy, behavior modification, contingency management.
Istilah pendekatan behavior pertama kali digunakan oleh Lindzey pada tahun 1954
dan kemudian lebih dikenalkan oleh Lazarus pada tahun 1958. Istilah pendekatan
tingkah laku lebih dikenal di Inggris sedangkan di Amerika Serikat lebih terkenal
dengan istilah behavior modification. Di kedua negara tersebut pendekatan tingkah
laku terjadi secara bersamaan.
Behavioristik merupakan salah satu pendekatan teoritis dan praktis mengenai model
pengubahan perilaku konseli dalam proses konseling dan psikoterapi. Pendekatan
behavioristik yang memiliki ciri khas pada makna belajar, conditioning yang
dirangkai dengan reinforcement menjadi pola efektif dalam mengubah perilaku
konseli. Pandangan deterministik behavioristik merupakan elemen yang tidak dapat di
hilangkan. Namun pada perkembangan behavioristik kontemporer, pengakuan pada
manusia berada pada tingkat yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan awal-awal
munculnya teori ini. Pendekatan behavioristik menekankan pentingnya lingkungan
dalam proses pembentukan perilaku. Pendekatan ini bertujuan untuk menghilangkan
tingkah laku salah suai, tidak sekedar mengganti simptom yang dimanifestasikan
dalam tingkah laku tertentu. Dengan pendekatan behavior, diharapkan konseli
memiliki tingkah laku baru yang terbentuk melalui proses conditioning, hilangnya
simptom dan mampu merespon terhadap stimulus yang dihadapi tanpa menimbulkan
masalah baru.
5. Eksistensial Humanistik
Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada
tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang
berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi,
seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah
asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan

manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta,
kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan
psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah
membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang
merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Menurut Maslow, yang
terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih
melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada
ketidaknormalan atau sakit.
Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini
terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih
alih suatu system teknik teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.
Pendekatan terapi eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan
suatu pendekatan yang mencakup terapi terapi yang berlainan yang kesemuanya
berlandaskan konsep konsep dan asumsi asumsi tentang manusia.
Teori dan Pendekatan Konseling Eksistensial-humanistik berfokus pada diri
manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih untuk
menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu
unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada
sendiri dan berada dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian,
dan kecenderungan mengaktualkan diri. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap
yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Terapi eksistensial berpijak
pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan
dan

tanggung

konseling

jawab berkaitan. Pendekatan

menggunakan

sistem

Eksisteneial-Humanistik

tehnik-tehnik

yang

bertujuan

dalam
untuk

mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan


terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang
berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi
tentang manusia.
Menurut Gerald Corey, (1988:54-55) ada beberapa konsep utama dari pendekatan
eksistensial yaitu :
a) Kesadaran diri,
b) Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan,
c) Penciptaan Makna.

Daftar Pustaka:
Sigit Sanyata. 2012. Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling.
Jurnal Paradigma, No. 14 Th. VII, Juli 2012. ISSN 1907-297X
Latipun. 2001. Psikologi konseling. Malang: UMM Press
Rosjidan. 2003. Konseling Trait & Faktor: Teori dan praktik Penggunaan Tes.